Nama : Veronica Dara C.
/ 1864190107
B. THE PYRAMID MODEL OF PR RESEARCH
Model ini dibangun dengan rujukan Model PII yang membagi tahapan-tahapan pengukuran
komunikasi dari sisi inputs, outputs, dan outcomes serta merekomendasikan evaluasi atas -masing
tahapan tersebut. The Pyramid Model of PR Research, yang merupakan versi dari Model Makro Evaluasi
PR, sebaiknya dibaca dari bawah ke atas. Dimulai dari proses perencanaan strategis, sampai pada
pencapaian outcomes (sikap dan perilaku). Metafora piramida berguna untuk menjelaskan bahwa pada
tahap awal -ketika perencanaan komunikasi dimulai-- praktisi memiliki banyak sekali informasi untuk
dirakit' serta serangkaian pilihan dari segi media dan aktivitas. Pemilihan dibuat untuk mengarahkan
pesan-pesan tertentu pada target audiens tertentu melalui media tertentu dan, pada akhirnya,
mencapai sasaran yang didefinisikan secara spesifik (puncak dari program atau proyek). The Pyramid
Model of PR Research berusaha keras untuk menjadi instruktif dan praktis dengan menyajikan daftar
metodologi riset yang disarankan untuk tiap-tiap tahapan.
Di dalam piramida, langkah-langkah kunci dalam proses komunikasi ditunjukkan oleh metodologi riset
yang diselaraskan dengan tujuan-tujuannya, sehingga memberikan arah bagi para praktisi tentang
metodologi apa yang cocok dan kapan digunakan. Pemilihan metodologi yang tepat merupakan unsur
yang penting dalam implementasi. Misalnya, sebuah metode untuk mengukur jumlah pesan yang dikirim
ti dak bisa digunakan untuk menarik kesimpulan tentang jumlah pesan yang diterima, dipertimbangkan,
dipertahankan atau dipahami oleh khalayak sasaran. Tidak setiap langkah dan metode diperlihatkan.
Tetapi, model ini menyajikan detail yang sangat banyak serta gambaran praktis dari riset terapan bagi
public relations.
Model ini menggabungkan riset formatif dan riset evaluatif dengan asumsi bahwa kedua jenis
riset harus diintegrasikan dan berjalan sebagai suatu kontinum dari pengumpulan informasi dan umpan
balik dalam proses komunikasi. Model ini menyarankan agar riset dilakukan sebelum, selama, dan
setelah kegiatan komunikasi sehingga dapat mengidentifikasi, memahami dan mengakomodasi
kebutuhan, minat dan sikap khalayak; dan supaya kita dapat melakukan benchmark (tolok ukur)
terhadap ukuran-ukuran kunci sebelum dan setelah implementasi.
Dalam model ini serangkaian metodologi riset dan tersedia bagi para praktisi. Biaya yang diperlukan
untuk riset ini sangat rendah, bahkan beberapa di antaranya tidak memerlukan biaya sama sekali, yaitu:
1. Secondary data (riset terhadap data sekunder yang dapat diakses dalam organisasi misalnya riset
pemasaran) atau dari web, media, jasa-jasa riset, jurnal-jurnal akademik atau organisasi-organisasi
profesi)
2. Database (misalnya keluhan pelanggan)
3. Advisory or Consultative
4. Online 'chart-rooms' dan mekanisme-mekanisme umpan balik lainnya;
5. Wawancara tidak terstruktur dan semi terstruktur
6. Readability tests on copy (misalnya Fog Index Dale chall, Flesch Formula)
7. Pre-testing (misalnya publikasi dalam bentuk PDF files)
8. Data tabulasi distribusi dan sirkulasi; dan
9. Mekanisme respons (kupon, fax-backs, 0800 toll free numbers, survei melalui web dan feedback
forms).
Metodologi evaluasi yang objektif dan teliti sangat dasikan untuk evaluasi. Perlu diketahui
bahwa beberapa metode yang bersifat mendasar, tidak mampu menyajikan evaluasi yang handal
(reliable). Tetapi, suatu kombinasi dari sejumlah metode evaluasi dasar pada level inputs dan outputs
dapat meningkatkan kemungkinan outputs mencapai outcomes yang diinginkan.
The Pyramid Model of PR Research menerapkan baik evaluasi sistem tertutup (closed system
evaluation) maupun evaluasi sistem terbuka (open system evaluation). Sistem evaluasi tertutup terfokus
pada pesan-pesan dan events yang terencana dalam suatu kampanye serta pengaruhnya terhadap
publik yang diinginkan. Sistem evaluasi tertutup menyandarkan diri pada pesan-pesan prauji (pre-test)
dan media serta kemudian membandingkannya dengan hasil-hasil pascauji (post-test) untuk melihat
apakah aktivitas-aktivitas tersebut mempunyai pengaruh sebagaimana yang direncanakan atau tidak.
Sistem evaluasi terbuka memperhitungkan adanya faktor lain di luar kontrol program komunikasi.
Metode ini mempertimbangkan komunikasi terhadap efektivitas organisasi secara keseluruhan.
Kombinasi evaluasi sistem tertutup dan terbuka sangatlah dikehendaki dalam kebanyakan situasi.