Anda di halaman 1dari 82

PERBEDAAN VOLUME SALIVA SEBELUM DAN SESUDAH MEMINUM YOGURT PROBIOTIK YANG MENGANDUNG Bifidobacterium animalis PADA MAHASISWA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN

SKRIPSI

RAHAJENG WULAN ASTITI 160110060128

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2010

PERBEDAAN VOLUME SALIVA SEBELUM DAN SESUDAH MEMINUM YOGURT PROBIOTIK YANG MENGANDUNG Bifidobacterium animalis PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN

SKRIPSI Diajukan untuk Menempuh Ujian Sarjana pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

RAHAJENG WULAN ASTITI 160110060128

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2010

JUDUL

: PERBEDAAN VOLUME SALIVA SEBELUM DAN SESUDAH MEMINUM YOGURT PROBIOTIK YANG MENGANDUNG Bifidobacterium animalis PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN

PENYUSUN NPM

: RAHAJENG WULAN ASTITI : 160110060128

Bandung, Juli 2010

Menyetujui, Pembimbing Utama

Prof. Dr. Hj. Edeh Roletta Haroen, drg., MS. AIFM. NIP. 130 519 216

Pembimbing Pendamping

Hj. Murnisari Dardjan, drg., MS. NIP. 19551106 198303 2 001

Dan sungguh, Kam b nar i e

b nar akan mnguji kam se e e u hingga Kam mnge i e tahui o rang

o rang yang

berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan kami uji perihal kamu. (Muhammad 47, 31) Dan janganlah e ngkau b rjalan di b i de e um ngan so b ng, kare se mo na sungguhnya e ngkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjylang setinggi gunung. (Al I sra 1 37) 7,

Atas berkah dan rahmat Allah S.W.T. Kupersembahkan skripsi ini untuk orang orang yang sangat kucintai Mam Mam dan m a a, a, am se papa, kakak kakakku Oi, Nuniek, dan Juna rta

Perbedaan volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis Rahajeng Wulan Astiti 160110060128

ABSTRAK

Yogurt Probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis merupakan minuman yang bersifat asam yang dapat mempengaruhi sekresi saliva. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data perbedaan volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. Penelitian dilakukan pada 100 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Kelompok usia dewasa muda 18 23 tahun dengan kondisi

umum baik. Penelitian ini bersifat eksperimental semu laboratoris dengan menggunakan analisis uji t untuk data berpasangan dengan saliva. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata rata volume saliva sebelum = 0,05 pada data volume

meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis adalah 2,62 mL. Setelah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis 4,22 mL. Kesimpulan penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara volume sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

Kata kunci : volume saliva, minuman probiotik, Bifidobacterium animalis.

iii

The difference of salivary volume before and after drinking probiotic yogurt containing Bifidobacterium animalis Rahajeng Wulan Astiti 160110060128.

ABSTRACT

Probiotic yogurt containing Bifidobacterium animalis is one of the sour beverages which can affect the volume of saliva. The purpose of this study is to obtain the exact data about differences of salivary volume before and after drink probiotic yogurt containing Bifidobacterium animalis. This study was conducted on 100 students of Faculty of Dentistry, University Padjadajaran, aged 18-23 years with good general and oral health conditions. This study is a quasi-experimental in vitro reasearch using the paired test analysis with = 0.05 of the data collected from salivary volume.

The result of the study indicates that the average of salivary volume before drink probiotic yogurt containing Bifidobacterium animalis is 2,62 ml. After drink probiotic yogurt containing Bifidobacterium animalis is 4,22 ml. The result of the study is indicates that there is a significant difference of salivary volume before and after drinking probiotic yogurt containing

Bifidobacterium animalis.

Keywords : salivary volume, probiotic yogurt, Bifidobacterium animalis.

iv

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena dengan karunia, izin, dan pertolonganNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi persyaratan program studi mencapai gelar sarjana kedokteran gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mengalami kesulitan dan hambatan, antara lain dalam mencari bahan - bahan pustaka yang diperlukan, pada waktu melakukan penelitian, serta kurangnya pengalaman dan terbatasnya kemampuan penulis dalam menyusun suatu karangan ilmiah. Namun berkat bimbingan, dorongan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada: 1. Prof. Dr. H. Eky S. Soeria Soemantri, drg., Sp. Ort.., sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. 2. Prof. Dr. Hj. Edeh Roletta Haroen, drg.,MS., AIFM., sebagai pembimbing utama yang telah memberikan bantuan, bimbingan, pengarahan, dan dorongan dalam penyusunan skripsi ini. 3. Murnisari Dardjan, drg., MS., sebagai pembimbing pendamping yang telah banyak memberikan motivasi, bimbingan, dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. 4. Elin Karlina, drg., M. Kes., sebagai dosen wali yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penulis mengikuti kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. 5. Seluruh staf pengajar, administrasi, perpustakaan dan karyawan FKG Unpad yang telah membantu penulis selama penyusunan skripsi ini.

vi

6. Perpustakaan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang telah membantu dalam penyediaan bahan skripsi. 7. Mama, Papa, kakakku serta keluarga tercinta yang selalu memberikan motivasi, doa, dan bantuan kepada penulis selama ini 8. Teman SMA Negeri 31 Jakarta Angkatan 2006, teman Wisma Nur, teman Angkatan 2006, seluruh civitas akademika FKG Unpad, dan sahabat sahabat

terbaikku Vini, Yenita, Tika, Qq, Kyky, Nina, Dinda, Raisa, dan Riry yang turut memberikan doa, dorongan, saran, dan bantuan selama penyusunan skripsi ini. 9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu kelancaran penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia Nya

kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu Kedokteran Gigi khususnya dan pembaca umumnya.

Bandung, April 2010

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman ABSTRAK ABSTRACT PRAKATA DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR GRAFIK DAFTAR LAMPIRAN .. . . iv v vi viii xi xii xiii xiv

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian 1.2 Identifikasi Masalah Penelitian 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.4 Manfaat Penelitian 1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian 1.6 Metodologi Penelitian 1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian . .. .. 1 3 3 3 4 7 7

vii

viii

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Histologi, Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Saliva 2.1.1 Histologi Kelenjar Saliva 2.1.2 Anatomi Kelenjar Saliva 2.1.3 Fisiologi Kelenjar Saliva 2.1.3.1 Pengaturan Sekresi Saliva 2.1.3.2 Mekanisme Sekresi Saliva 2.1.3.3 Komposisi Saliva 2.1.3.4 Fungsi Saliva 2.1.3.5 Faktor yang Mempengaruhi Saliva 2.1.3.6 Metode Pengumpulan Saliva .. .. . . . . 8 8 9 14 16 18 19 23 26 29

2.2 Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium Animalis .. ..

30

2.2.1 Sejarah Singkat Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis . 33

2.2.2 Komposisi dan Kandungan Gizi Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis ..

34

2.2.3 Efek Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis Terhadap Kesehatan dan Sekresi Saliva

36

BAB III

ALAT, BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian 39

viii

ix

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3 Definisi Operasional 3.4 Variabel Penelitian 3.5 Alat dan Bahan Penelitian 3.6 Prosedur Penelitian 3.7 Analisis Data

..

39 40

.. ... . ..

40 41 42 44

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.2 Pengujian Hipotesis 4.3 Pembahasan . . 45 48 49

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan 5.2 Saran .. 51 51

DAFTAR PUSTAKA RIWAYAT PENDIDIKAN PENULIS LAMPIRAN

. .

52 56 57

ix

DAFTAR TABEL

No.

Teks

Halaman

2.1 2.2

Fungsi Saliva dan Komponen Saliva yang Mendukung Kandungan Gizi Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis ... Jenis Kelamin Subjek Penelitian

26

. .

36 45

4.1. 4.2

Hasil Uji t-Berpasangan Volume Saliva Sebelum dan Sesudah Meminum Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis .. .

48

DAFTAR GAMBAR

No.

Teks

Halaman

2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 3.1

Histologi Kelenjar Saliva Anatomi Kelenjar Parotis Anatomi Kelenjar Submandibular Anatomi Kelenjar Sublingual Pengaturan Sekresi Saliva Melalui Saraf Bakteri Bifidobacterium animalis Alat dan Bahan Penelitian

. .

9 11 12

... . .

13 17 35 42

xi

DAFTAR GRAFIK

No.

Teks

Halaman

4.1 4.2

Jenis Kelamin

..

45

Perbandingan Nilai Rata Rata Volume saliva Sebelum dan Sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis .. ..

47

xii

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Teks

Halaman

1 2 3 4 5

Surat Permohonan Izin Penelitian Surat Persetujuan Peserta Penelitian Lembar Hasil Penelitian Kuesioner Penelitian

.. .. . ..

57 58 59 60

Tabel Hasil Penelitian Sebelum dan Sesudah Meminum Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis ..

61

Grafik Volume Saliva Sebelum dan Sesudah Meminum Yogurt Probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis pada 100 naracoba . 64 Perhitungan Uji t Berpasangan Surat Penugasan Bimbingan Skripsi 65 67

7 8

xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian Yogurt Probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis sangat bermanfaat dan banyak ditemukan di pasaran. Bifidobacterium animalis merupakan bakteri komensal dalam saluran pencernaan dan telah banyak dimanfaatkan baik dalam makanan maupun dalam minuman (Sanders, 2007). Masanobu Nanno, peneliti mikrobiologi di Pusat Penelitian Mikrobiologi perusahaan minuman probiotik di Jepang, mengatakan struktur pencernaan manusia mengalami banyak perubahan sejak dalam kandungan, lahir, hingga dewasa, termasuk juga mikroflora dalam tubuh (Tan, 2009). Menurut Todar (2008), ada beberapa jenis bakteri yang jumlahnya menurun semenjak bayi sampai dewasa yaitu Bifidobacterium dan Lactobacillus. Perubahan mikroflora pencernaan terjadi dikarenakan pola makan, penggunaan antibiotik, dan proses penuaan. Menurut Hidayat (2006), probiotik adalah pangan yang mengandung mikroorganisme hidup, secara aktif meningkatkan kesehatan dengan cara memperbaiki keseimbangan flora usus jika dikonsumsi dalam jumlah yang memadai. Bifidobacterium animalis termasuk ke dalam golongan bakteri asam laktat yang berpotensi sebagai agen probiotik. Bakteri ini memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, baik melalui keterlibatannya pada fermentasi makanan dan minuman, maupun kemampuannya tumbuh pada saluran cerna (Harmayani, dkk.,

2001). Pada fermentasi makanan dan minuman, umumnya Bifidobacterium animalis digunakan pada produk yang mengandung laktosa, seperti yogurt (NCCAM, 2008). Aktivitas fermentasi Bifidobacterium animalis dalam yogurt mampu mengubah laktosa menjadi asam laktat (Indratiningsih, 2004). Asam organik seperti asam laktat, pada produk fermentasi merupakan hasil hidrolisis asam lemak dan juga sebagai hasil aktivitas pertumbuhan bakteri. Asam organik juga sering digunakan sebagai acidulants (bahan pengasam) yang dapat menurunkan pH produk fermentasi (Nur, 2005). Rasa asam yang diakibatkan oleh fermentasi merupakan salah satu rangsang kimawi yang akan merangsang sekresi saliva. Peningkatan sekresi saliva melalui kecepatan aliran, volume, pH, dan viskositas dapat membuat fungsi saliva di dalam rongga mulut ikut meningkat (Amerongen, 1991). Fungsi saliva dalam rongga mulut adalah membantu proses pencernaan, anti bakteri, lubrikasi, menjaga keseimbangan cairan, pengatur suhu rongga mulut dan remineralisasi (Grant, et al., 1988) Selain itu, saliva mengandung komponen antimikroba dan mempertahankan konsentrasi fosfat dan kalsium yang tinggi yang terkandung dalam cairan (Edgar dan O Mullane, 1996). Berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan dalam latar belakang penelitian, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbedaan volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

1.2 Identifikasi Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan identifikasi masalah sebagai berikut: Apakah terdapat perbedaan volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud penelitian adalah untuk mengukur volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data perbedaan volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat: 1. Memberikan informasi mengenai perubahan volume saliva akibat meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. 2. Memberikan informasi kepada mahasiswa fakultas kedokteran gigi dan masyarakat sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan minuman yang bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut.

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian Saliva adalah cairan yang terdapat di dalam rongga mulut, terdiri dari sekret yang diproduksi oleh kelenjar saliva baik kelenjar mayor maupun kelenjar minor (Roth dan Calmes, 1981). Berdasarkan ukurannya, kelenjar saliva terdiri dari dua golongan, yaitu kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor terdiri atas kelenjar parotis, kelenjar submandibular dan kelenjar sublingual yang masing masing berjumlah sepasang, sedangkan kelenjar saliva minor terdiri

dari kelenjar von Ebner yang duktusnya bermuara di sulkus papila valata lidah, kelenjar yang terdapat di bawah mukosa bukal, labial dan palatal rongga mulut. Tiap kelenjar saliva dibangun dari lobus yang terdiri atas kompartemen berikut: asinus, duktus interkalata dan duktus striata (Amerongen, 1991). Sel asinus pada kelenjar parotis berupa serosa, pada kelenjar sublingual berupa mukosa dan pada kelenjar submandibular berupa seromukosa (Ganong, 1999). Fungsi saliva penting bagi kesehatan gigi dan mulut karena melindungi rongga mulut dengan cara lubrikasi jaringan pada rongga mulut, mempertahankan konsentrasi fosfat dan kalsium yang tinggi yang terkandung dalam cairan dan kekuatan buffer asam, dapat membantu proses awal pencernaan, self cleansing rongga mulut, aglutinasi, pembentukan pellicle, serta menyeimbangkan cairan dalam tubuh. Selain itu, saliva mengandung komponen antimikroba (Amerongen, 1991; Edgar dan O Mullane, 1996; Ferguson, 1999). Jumlah volume total saliva setiap 24 jam 500-600 ml dan kecepatan aliran saliva 0,35-0,42 ml/menit. Sekitar sebagian dihasilkan pada keadaan istirahat atau

tanpa stimulasi, sebagian lainnya disekresi di bawah pengaruh rangsangan. Pada malam hari sekresi saliva hampir berhenti atau kurang lebih 10 ml/8 jam (Amerogen, 1991). Pada keadaan normal, kecepatan aliran saliva tanpa stimulasi yaitu 0,25 ml/menit, sedangkan pada stimulasi maksimal sebesar 3-4 ml/menit (Brobeck, 1981; Amerongen, 1991). Sekresi saliva yang menurun akan menyebabkan kesulitan berbicara, mengunyah, dan menelan (Amerongen, 1991). Sekresi saliva dapat diamati melalui kecepatan aliran, volume, pH, serta viskositas saliva (Roth & Calmes, 1981). Kecepatan saliva tertinggi terjadi pada siang hari, sehingga siang hari menjadi waktu standar untuk pengukuran aliran saliva. Posisi tubuh dapat mempengaruhi sekresi saliva. Pada posisi berdiri sekresi saliva dapat mencapai 100% (Brobeck, 1981). Pengumpulan saliva dilakukan satu jam sesudah makan untuk menghilangkan pengaruh stimulus makanan. Metode yang digunakan untuk pengumpulan saliva adalah dengan spitting method atau metode peludahan (Dawes, 1987). Sekresi saliva dapat dipengaruhi oleh berbagai rangsangan, yaitu rangsang mekanis, rangsang kimia, dan rangsang neuronal. Rangsang mekanis dihasilkan dari aktivitas pengunyahan. Rangsang neuronal dihantarkan oleh sistem saraf otonom, baik simpatis maupun parasimpatis. Rangsang kimia diperoleh dari rangsangan rasa seperti manis, asin, asam, pedas, dan pahit (Amerongen 1991). Rasa asam merupakan salah satu rangsang kimawi yang akan merangsang sekresi saliva (Amerongen, 1991). Rasa asam dapat di temukan pada minuman dan makanan, salah satunya yaitu yogurt probiotik. Fermentasi yang terjadi pada proses

pembuatan yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis akan menghasilkan rasa asam. Probiotik yang merupakan bahasa Yunani yg berarti for life dan dikenalkan pertama kali oleh Metchnikoff; didefinisikan sebagai mikrobia hidup yang secara aktif meningkatkan kesehatan konsumen dengan menyeimbangkan mikroflora dalam saluran pencernaan jika dikonsumsi pada kondisi hidup dalam jumlah yang cukup (Fuller, 1989). Yogurt Probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis sama dengan minuman yogurt pada umumnya yaitu susu yang mengalami fermentasi. pH susu pada umumnya adalah 6,6 6,7 dapat mengalami fermentasi disebabkan oleh bakteri

sehingga pH susu turun hingga 5,5 sehingga menjadi asam (Sulistiyani dan Pradopo, 2003). Bakteri yang digunakan pada Yogurt Probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis mengandung bakteri probiotik yang dapat bertahan hidup di dalam saluran pencernaan selama proses pencernaan berlangsung sehingga mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan fungsi dinding saluran cerna, dengan dosis yang diharapkan cukup adalah 5 x Unit) setiap harinya (Anonim, 2009). Hipotesis penelitian adalah sebagai berikut: Terdapat perbedaan volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. CFU (Colony Forming

1.6 Metodologi Penelitian Metodologi penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental semu dengan sampel saliva 100 orang mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran yang diambil berdasarkan Purposive sampling (Sudjana, 1996). Analisis statistik yaang digunakan adalah uji t student untuk data berpasangan

1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Oral Biologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Jatinangor pada bulan Februari 2010.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Histologi, Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Saliva Sekresi kelenjar saliva merupakan bagian terpenting dalam pembentukan cairan rongga mulut yang mengandung sekret dari kelenjar mayor dan minor, bakteri oral, cairan sulkus gingival dan kotoran makanan (Roth and Calmes, 1981; Berkovitz, et al, 2002). Kelenjar saliva mensekresi 1 1,5 L saliva setiap 24 jam yang jumlah dan

susunannya sangat menentukan bagi kesehatan rongga mulut, terutama bila ditinjau dari segi patologi sangat berkaitan dengan proses patologis sangat berkaitan dengan proses biologis yang terjadi dalam rongga mulut (Brobeck, 1981; Amerongen, 1991).

2.1.1. Histologi Kelenjar Saliva Struktur kelenjar saliva mirip dengan kelenjar eksokrin (Lavelle, 1988). Tiap kelenjar saliva dibangun dari lobus yang terdiri atas kompartemen berikut: asinus, duktus interkalata dan duktus striata. Asinus glandula submandibular dan sublingual manusia di sekitar sel asinar mukus masih memiliki sel sekresi serus yang disebut sel bulan sabit. Asinus dan sel duktus pada bagian basal dapat dikelilingi oleh sel mioepitel (Amerongen, 1991). Sel asinus pada kelenjar parotis berupa serosa, pada kelenjar sublingual berupa mukosa dan pada kelenjar submandibular berupa seromukosa (Ganong, 1999).

Dari berbagai lobus kelenjar, saluran

saluran pembuangan berkumpul di

dalam muara pembuangan interlobular dan berakhir pada muara pembuangan besar. Muara pembuangan besar pada kelenjar parotis disebut duktus Stensen dan masuk pada mukosa bukal setinggi gigi molar kedua rahang atas. Pada kelenjar submandibular disebut duktus Wharton yang berjalan sepanjang dasar mulut hingga ke frenulum lingualis. Duktus utama pada kelenjar sublingual berhubungan dengan duktus Wharton dan sekresinya tidak dapat dipisahkan (Amerongen, 1991).

Gambar 2.1 Histologi Kelenjar Saliva (Copper, 1998)

10

2.1.2. Anatomi Kelenjar Saliva Kelenjar saliva diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan sifat sekresinya (Rensburg, 1995). Berdasarkan ukurannya, kelenjar saliva terdiri dari dua golongan, yaitu kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor terdiri atas kelenjar parotis, kelenjar submandibular dan kelenjar sublingual yang masing masing berjumlah sepasang, sedangkan kelenjar saliva minor terdiri dari kelenjar von Ebner yang duktusnya bermuara di sulkus papila valata lidah, kelenjar yang terdapat di bawah mukosa bukal, labial dan palatal rongga mulut (Amerongen, 1991). Diperkirakan kelenjar parotis, submandibular dan sublingual menghasilkan 90% dari total volume saliva (Bradley, 1995). Kelenjar saliva berdasarkan lokasinya terdiri dari: 1. Kelenjar parotis adalah kelenjar terbesar dengan berat 20 30 gram pada dewasa

(Brobeck, 1981). Kelenjar parotis terletak pada bagian samping wajah atau pada bagian bawah dan bagian depan telinga. Duktus ekskretorinya yang disebut duktus Stensen berjalan ke depan menyilang pada otot maseter kemudian berbelok tajam melewati otot businator dan bermuara pada vestibulum di daerah molar kedua permanen rahang atas. Kelenjar ini bersifat serosa pada orang dewasa walaupun terkadang terdapat sel asinar mukus pada kelenjar saat masih anak - anak (Rensburg, 1995).

11

Gambar 2.2 Anatomi Kelenjar Parotis (Putz dan Pabst, 2006)

2. Kelenjar submandibular adalah kelenjar dengan berat 8

10 gram, terletak pada

dasar mulut di bawah korpus mandibula dan meluas ke sisi leher melalui bagian tepi bawah mandibula (Brobeck,1981; Amerongen, 1991). Duktus ekskretorinya disebut duktus Wharton yang bermuara pada sebelah lateral frenulum lingualis. Kelenjar ini bersifat campuran dan yang paling dominan bersifat serosa (Rensburg, 1995).

12

Gambar 2.3 Anatomi Kelenjar Submandibular (Putz dan Pabst, 2006)

3. Kelenjar sublingual adalah sepasang kelenjar dengan berat 2

3 gram, terletak

pada otot mylohyoid meluas ke lateral terhadap mandibula dan ke medial terhadap otot geniolosus (Brobeck, 1981; Amerongen, 1991). Kelenjar ini memiliki 10 20 duktus kecil yang menembus membran mukosa dan bermuara

pada dasar mulut atau pada saluran kelenjar submandibular. Kelenjar ini bersifat campuran dengan sifat mukus yang paling dominan (Rensburg, 1995).

13

Gambar 2.4 Anatomi Kelenjar Sublingual (Putz dan Pabst, 2006)

4. Kelenjar asesori terdiri dari: 1) Kelenjar lingualis, ditemukan bilateral dan terdiri dari dua bagian, yaitu kelenjar lingualis anterior yang terletak di permukaan inferior lidah dekat apeks. Kelenjar lingualis posterior bergabung dengan tonsil lidah di sepanjang permukaan lateral lidah. 2) Kelenjar bukalis dan labialis, terletak di mukosa pipi dan mukosa bibir. 3) Kelenjar palatinal terletak di mukosa langit posterolateral dari langit langit keras. langit lunak, uvula dan bagian

14

4) Kelenjar glossopalatinal, terletak di lipatan glossopalatina (Rensburg, 1995). Kelenjar saliva dipersarafi oleh sistem otonom, baik saraf simpatis maupun saraf parasimpatis, terutama dipersarafi oleh saraf parasimpatis. Sinyal parasimpatis dihantarkan oleh saraf fasial dan saraf glosofaringeal (Amerongen, 1991). Sinyal parasimpatis bersifat sekremotor dan vasodilator (Edgar, 1992). Jalur pernafasan parasimpatis sebagai jalur sekremotor berujung pada kelenjar saliva menuju nukleus salivarius di medula. Nukleus salivarius terdiri dari nukleus salivarius superior dan nukleus salivarius infeior. Nukleus salivarius superior mengatur kelenjar

submandibular dan kelenjar sublingual, sedangkan nukleus salivarius inferior mengatur kelenjar parotis dan kelenjar von Ebner (Guyton dan Hall, 1996). Sirkulasi darah ke kelenjar saliva sangat penting dalam proses sekresi saliva. Rangsang parasimpatis pada kelenjar saliva menyebabkan peningkatan aliran darah (Ferguson, 1999). Vaskularisasi kelenjar parotis didapat dari arteri fasialis dan arteri karotis eksterna. Vaskularisasi kelenjar submandibular didapat dari arteri fasialis dan arteri lingualis, sedangkan untuk kelenjar sublingual, vaskularisasi didapat dari arteri sublingual dan arteri submental. Secara anatomis, distribusi vaskularisasi di duktus lebih kaya daripada vaskularisasi di asinus (Lavelle, 1988).

2.1.3. Fisiologi Kelenjar Saliva Kelenjar saliva mayor yang terdiri dari kelenjar parotis, kelenjar sublingual dan kelenjar submandibular menghasilkan 95% total volume saliva, sedangkan sebagian kecil dihasilkan oleh kelenjar saliva minor yang terdiri dari kelenjar von

15

Ebner, dan kelenjar yang terletak di bawah mukosa bibir bawah, lidah, palatum, bukal dan faring (Lavelle, 1988; Amerongen, 1991; Ferguson, 1999). Sumbangan berbagai kelenjar saliva kepada produksi total saliva sangat tergantung pada sifat dan tingkat rangsang (Roth and Calmes, 1981; Houwink dkk., 1993). Sifat rangsang dapat merupakan rangsang mekanis misalnya mengunyah makanan; kimiawi yaitu asam, manis, pahit, asin dan pedas; neuronal yaitu sistem saraf otonom baik simpatis maupun parasimpatis; psikis atau stress; protesa; rangsangan karena sakit (Amerongen,1991; Houwink dkk., 1993). Tingkat sekresi saliva dipengaruhi oleh posisi tubuh, sekresi terbanyak ditemuka pada posisi berdiri sekitar 100%, pada posisi duduk sekitar 69%, dan pada posisi berbaring 25%. Pada perokok ditemukan sekresi saliva yang lebih banyak daripada yang tidak merokok, sedangkan di ruangan gelap sekresi kelenjar parotis menurun dibandingkan dengan ruang yang terang (Roth and Calmes, 1981). Tipe kelenjar, makanan, usia, dan jenis kelamin juga termasuk faktor yang mempengaruhi sekresi saliva (Roth and Calmes, 1981). Beberapa obat seperti antikolinergik, analgesik, antipsikotik, antihistamin, obatan

antidepresan,

antihipertensi, amfetamin, antiparkinson, dan atropin memiliki efek samping yang dapat menyebabkan berkurangnya kecepatan aliran saliva (Edgar, 1996). Jumlah total saliva setiap 24 jam bekisar 500 600 ml atau sekresinya 0,35

0,42 ml. Pada malam hari sekresi saliva hampir terhenti (+ 10 ml/8 jam). Kelenjar parotis pada malam hari sama sekali tidak menghasilkan saliva. Sumbangan relatif

16

kelenjar submandibular pada malam hari adalah 70%, sedangkan kelenjar sublingual dan kelenjar saliva tambahan sekitar 30% (Amerongen, 1991). Berbagai faktor dapat menyebabkan berkurangnya sekresi saliva yaitu efek radiasi, perubahan hormonal pada wanita menopause dan faktor psikologis seperti rasa takut, cemas dan stres, atau penyakit pada kelenjar saliva seperti Sindroma Sjorgen (Roth and Calmes, 1981).

2.1.3.1 Pengaturan Sekresi Saliva Sekresi saliva sebagian besar berada di bawah kontrol sistem saraf, sebagian kecil lain berada di dalam kontrol humoral. Kecepatan aliran sekresi saliva diatur oleh sistem saraf otonom (Bradley, 1995). Kelenjar saliva dipersarafi oleh sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Pengaturan sekresi saliva lebih banyak dilakukan oleh saraf parasimpatis, namun sebagian dilakukan oleh saraf simpatis (Rensburg, 1995). Kelenjar sublingual dan submandibular menerima impuls saraf parasimpatis yang berasal dari nukleus salivarius superior yang berada pada medulla sedangkan Kelenjar parotis menerima impuls saraf yang berasal dari nukleus salivarius inferior yang berada pada medulla. Kelenjar saliva minor dipersarafi oleh serabut saraf parasimpatis yang berasal dari saraf fasial yang mencapai kelenjar melalui cabang saraf lingual dan palatinal (Roth dan Calmes, 1981). Rangsang saraf parasimpatis yang disertai vasodilatasi pada kelenjar menyebabkan sekresi saliva yang banyak dan encer dengan zat zat organik yang

17

relatif sedikit. Rangsang saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi sehingga sekresi saliva yang sedikit tetapi kaya akan zat organik (Ganong, 1995). Sekresi saliva terjadi akibat respon refleks, baik refleks tidak bersyarat maupun refleks bersyarat. Aliran saliva sebagian besar dikontrol oleh refleks tidak bersyarat dapat meningkatkan dan menurunkan. Yang dapat meningkatkan sekresi saliva misalnya rasa makanan, bau, stimulasi mekanik dari mukosa oral, iritasi mekanik pada gingival, pengunyahan makanan, iritasi pada esofagus, gastritis dan kehamilan. Refleks bersyarat yaitu emosi dan faktor psikis dapat meningkatkan dan menurunkan sekresi saliva pula (Rensburg, 1995).

Gambar 2.5 Pengaturan Sekresi Saliva Melalui Saraf (Guyton dan Hall, 2006)

18

2.1.3.2 Mekanisme Sekresi Saliva Sekresi saliva sebagian besar merupakan proses aktif yang menunjukan bahwa proses tersebut memerlukan energi. Proses ini dibedakan menjadi dua fase (Lavelle, 1988; Amerongen, 1991): 1. Sintesis dan sekresi cairan asinar oleh sel sekretori. Sifat rangsang yang menstimulasi kelenjar saliva dapat berupa rangsang adrenergik ( dan ) maupun kolinergik, karena sel diinervasi baik simpatis adrenergik menghasilkan saliva yang pekat,

maupun parasimpatis. Rangsang

kaya protein, kaya kandungan musin dan berbuih. Pada rangsang kolinergik, neurotransmitter asetilkolin menghasilkan sekresi cairan yang kuat dengan kadar protein yang rendah. Akibat rangsangan, melalui eksositosis sel menghasilkan cairan sekresinya kepada lumen. Rangsang tersebut menyebabkan aliran darah ke asinus meningkat sehingga mempermudah pembentukan cairan asinar. Cairan asinar ini disebut juga saliva primer. 2. Perubahan yang terjadi pada duktus striata. Saliva diangkut dari lumen melalui duktus yang melibatkan kontraksi sel mioepitel. Selama pengankutan ke rongga mulut, susunan saliva diubah dari cairan isotonik dengan konsentrasi ion yang hampir sama dengan plasma menjadi hipotonik dengan konsentrasi ion natrium dan klorida yang rendah. Perubahan initerjadi karena di dalam duktus, air dan elektrolit disekresi dan atau diabsorbsi oleh sel epitel, terutama pada duktus striata.

19

Sifat rangsang menentukan kepekatan produk akhir yang bervariasi dari encer sampai pekat. Kepekatan saliva ditentukan oleh sekresi air dan sekresi musin yang diatur oleh saraf kolinergik dan adrenergik. Neurotransmitter asetilkolin dan parasimpatetikomimetika merangsang sekresi air, sedangkan obat seperti atropine sulfat menghambat sekresi air dan menyebabkan keringnya mulut.

2.1.3.3 Komposisi Saliva Komposisi saliva bervariasi tergantung pada waktu siang dan malam hari, sifat dan besar stimulus, keadaan psikis orang yang diteliti, diet, kadar hormon, gerak badan dan obat. Komponen saliva, yang dalam keadaan larut disekresi oleh kelenjar saliva, dapat dibedakan dalam komponen anorganik dan (bio)organik (Amerongen, 1991). Komposisi yang terkandung dalam saliva adalah: 1. Komponen Organik Saliva terdiri dari banyak komponen organik dengan fungsi berbeda, seperti reaksi enzimatis, pelapisan permukaan jaringan, perlindungan terhadap jaringan gigi dan kontrol pertumbuhan jaringan (Bradley, 1995). Komponen saliva yang paling utama adalah protein. Selain itu, terdapat komponen lain seperti asam lemak, lipid, glukosa, asam amino, ureum dan amoniak. Protein yang secara kuantitatif penting adalah amilase, protein kaya prolin, musin dan imunoglobulin (Amerongen, 1991).

20

Komponen organik saliva adalah: 1) Amilase Amilase merupakan protein saliva konsentrasi tinggi. Amilase adalah enzim pencernaan yang terutama diproduksi oleh kelenjar parotis dan

submandibular. Amilase mengubah tepung kanji dari glikogen menjadi kesatuan karbohidrat yang lebih kecil dan akibat pengaruh amilase, polisakarida dapat dicerna dengan mudah (Amerongen, 1991). 2) Immunoglobulin Immunoglobulin terlibat pada sistem penolakan fisik dan agen antibakteri. Immunoglobulin terdiri dari sebagian besar IgA sekretorik (SIgA) dan sebagian kecil IgM dan IgG. Aktivitas antibakteri SIgA yang terdapat dalam mukosa mulut bersifat mukus dan bersifat melekat dengan kuat, sehingga antigen dalam bentuk bakteri dan virus akan melekat erat dalam mukosa mulut yang kemudian dilumpuhkan oleh SIgA. Bakteri mulut yang diselubungi oleh SIgA lebih mudah difagositosis oleh leukosit (Amerongen, 1991; Rensburg, 1995). 3) Protein Kaya Prolin Protein kaya prolin membentuk suatu kelas protein dengan berbagai fungsi penting yaitu mempertahankan konsentrasi kalsium di dalam saliva agar tetap konstan yang menghambat demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi (Amerongen, 1991).

21

4) Mukus Glikoprotein Mukus glikoprotein merupakan lapisan pada rongga mulut yang berfungsi dalam lubrikasi jaringan rongga mulut, pengatur interaksi antara epitel permukaan dengan lingkungan luar dan perangkap bakteri. 5) Lisozim Lisozim mempunyai fungsi proteksi terhadap bakteri yaitu berperan aktif menghancurkan dinding sel bakteri Gram positif dan sangat efektif dalam melisiskan bakteri. Pada saliva, lisozim berasal dari kelenjar parotis, kelenjar submandibular dan kelenjar sublingual (Bradley.1995). 6) Sistem Peroksidase Peroksida berperan sebagai sistem antibakteri yang banyak hadir pada kelenjar parotis, terdiri dari hidrogen peroksida, tiosanat dan laktoproksidase (Rensburg, 1995). Sistem ini menghambat produksi asam dan pertumbuhan bakteri streptokokus dan laktobasilus yang ikut menjaga pH rongga mulut sekaligus mengurangi terjadinya karies akibat asam yang dihasilkan oleh bakteri (Grant, et al., 1988). 7) Laktoferin Laktoferin merupakan hasil produksi sel epitel kelenjar dan leukosit PMN yang mempunyai efek bakterisid yang merupakan salah satu fungsi proteksi terhadap infeksi mikroorganisme ke dalam tubuh manusia (Roth dan Calmes, 1981). Laktoferin juga mengikat ion pertumbuhann bakteri (Amerongen, 1991). ion Fe+, yang diperlukan bagi

22

8) Laktoperoksidase Laktoperoksidase menkatalisis oksidasi tiosanat menjadi hipotiosianat yang mampu menghambat pertumbuhan dan pertukaran zat bakteri (Amerongen, 1991). 9) Gustin Gustin berfungsi dalam proses kesadaran pegecap (Amerongen, 1991).

2. Komponen Anorganik Komponen anorganik yang terdapat di dalam saliva berupa ion kalsium, magnesium, fluorida, HCO3, kalium, natrium, klorida, NH4. Selain itu terdapat gas seperti karbondioksida, nitrogen dan oksigen (Rensburg, 1995). Dari kation yang terdapat di dalam saliva, natrium dan kalium memiliki konsentrasi tertinggi. Klorida sangat penting untuk aktivitas enzimatik amilase. Kalium dan fosfat yang terkandung dalam saliva sangat penting untuk remineralisasi email. Kadar fluorida di dalam saliva dipengaruhi oleh konsentrasi fluorida di dalam air minum dan makanan. Tiosianat merupakan suatu gen antibakteri yang bekerja sama dengan sistem laktoperoksidase. Bikarbonat adalah ion bufer terpenting dalam saliva. Dalam saliva yang dirangsang, ion ini menghasilkan 85% dari kapasitas bufer dalam sistem fosfat 14%. Konsentrasi bikarbonat pada kelenjar parotis dan kelenjar submandibular meningkat dengan meningkatnya aliran saliva

(Amerongen, 1991).

23

2.1.3.4 Fungsi Saliva Saliva memiliki fungsi yang penting untuk membantu efisiensi kerja tubuh dan kesehatan secara umum. Fungsi saliva terdiri dari: 1. Fungsi Digesti Enzim amilase yang terdapat di dalam saliva (Ptyalin) memecah molekul glukosa menjadi molekul yang lebih kecil (Rensburg, 1995). 2. Fungsi Antibakteri Fungsi antibakteri yang terkandung dalam saliva, yaitu: 1) IgA Sekretorik (SIgA) Sekitar 90% terdapat pada saliva yang dihasilkan oleh kelenjar parotis dan 85% dari keseluruhan saliva di dalam rongga mulut adalah SIgA. Aktivitas antibakteri SIgA yang utama adalah mencegah kolonisasi bakteri dengan mengikat antigen spesifik yang adhesif. Selain itu, kolonisasi juga dapat dihindarkan dengan aglutinasi bakteri yang akan dihancurkan saat melewati esofagus atau mempengaruhi enzim spesifik yang penting untuk metabolisme bakteri. Bakteri pada rongga mulut mudah difagosit setelah dilapisi SIgA (Rensburg, 1995). 2) Peroksidase Sistem antibakteri peroksidase terutama didapatkan pada saliva yang dihasilkan dari kelenjar parotis. Sistem antibakteri ini menghambat produksi asam dan pertumbuhan banyak mikroorganisme termasuk di dalamnya laktobasilus, streptokokus dan fungi (Rensburg, 1995).

24

3) Lisozim Lisozim saliva aktif menghancurkan dinding sel mikroorganisme gram positif namun aktivitas lisozim harus dikombinasikan dengan tiosianat agar efektif dalam melisiskan bakteri (Rensburg, 1995). 3. Lubrikasi Kandungan glikoprotein dalam saliva bertanggungjawab dalam proses pengunyahan, pembentukan bolus makanan, penelanan, bicara dan melindungi permukaan mukosa dari iritasi (Rensburg, 1995). 4. Pengecapan Saliva memiliki komponen gustin yang berperan dalam pertumbuhan dan pergantian sel tunas pengecap (Amerongen, 1991). Makanan tidak dapat dirasakan pada mulut kering tanpa saliva (Rensburg, 1995). 5. Aksi Bufer Saliva berperan menekan perubahan derajat asam (pH) di dalam rongga mulut, baik oleh makanan asam maupun asam yang dikeluarkan oleh mikroorganisme (Amerongen, 1991). Derajat asam dan kapasitas bufer saliva sangat bergantung pada kandungan bikarbonat dan juga kandungan fosfat anorganik dalam saliva. Pada aliran saliva yang tinggi, bikarbonat merupakan buffer yang efektif melawan asam dengan membentuk asam bikarbonat yang lemah yang akan terurai menjadi air dan karbondioksida (Rensburg, 1995).

25

6. Pembersihan Mekanis Adanya aliran saliva dapat mengurangi akumulasi plak, mikroorganisme tidak mempunyai kesempatan untuk berkolonisasi pada gigi karena tidak ada makanan yang menempel, dan pembasahan elemen gigi akan mengurangi keausan oklusal yang disebabkan oleh daya pengunyahan (Amerongen, 1991). Koloni mikroorganisme dan sisa makanan terlepas karena aksi pembersihan dari saliva dan kemudian tertelan (Rensburg, 1995). 7. Pembekuan Darah Waktu pembekuan darah akan berkurang dengan keberadaan protein saliva yang mirip faktor pembekuan VII, IX dan platelet. Pembekuan darah yang terjadi ketika darah bercampur dengan saliva walaupun bekuan darah yang terbentuk kurang padat bila dibandingkan dengan pembekuan darah normal. Telah dilakukan percobaan yang menunjukan bahwa saliva, khususnya saliva yang berasal dari kelenjar submandibular dapat meningkatkan penyembuhan luka dikarenakan adanya factor pertumbuhan epidermal pada saliva (Rensburg, 1995). 8. Keseimbangan Air Pada keadaan dehidrasi, volume saliva menurun untuk menjaga keseimbangan air, yang akan menimbulkan rasa haus. Setelah minum, cairan tubuh akan kembali normal dan keseimbangan cairan terjaga kembali sehingga volume saliva kembali seperti semula (Rensburg, 1995).

26

Tabel 2.1 Fungsi Saliva dan Komponen Saliva yang Mendukung (Puy, 2006) Fungsi Komponen Lubrikasi Musin, glikoprotein kaya prolin, air

Antimikroba

Menjaga kelembaban mukosa Pembersihan Kapasitas buffer dan remineralisasi Pencernaan Pengecapan Fonasi

Lisozim, laktoferin, laktoperoksida, musin, cistin, histatin, immunoglobulin, glikoprotrin kaya prolin, IgA Musin, elektrolit, air Air Bikarbonat, fosfat, kalsium, staterin, prolinerich anionic protein, fluoride Amilase, lipase, ribonuclease, protease, air, musin Air, gustin Air, musin

2.1.3.5 Faktor yang Mempengaruhi Sekresi Saliva Sekresi saliva pada keadaan tanpa rangsang dapat disebabkan oleh faktor berikut: 1. Derajat Hidrasi Pada keadaan dehidrasi, saliva menurun hingga mencapai nol (Rensburg, 1995). Derajat hidrasi atau cairan tubuh merupakan faktor yang paling penting karena apabila cairan tubuh berkurang 8% maka kecepatan aliran saliva berkurang hingga mencapai nol. Sebaliknya kecepatan aliran saliva yang meningkat akan mengakibatkan

hiperhidrasi (Edgar and O Mullane, 1996).

27

2.Posisi Tubuh Posisi tubuh dalam keadaan berdiri merupakan posisi dengan kecepatan aliran saliva tertinggi bila dibandingkan dengan posisi duduk dan berbaring. Pada posisi berdiri, kecepatan aliran saliva mencapai 100%, pada posisi duduk 69% dan pada posisi berbaring 25% (Roth dan Calmes, 1981). 3.Paparan Cahaya Dalam keadaan gelap, kecepatan aliran saliva mengalami penurunan sebanyak 30 40% (Edgar and O Mullane, 1996).

4.Irama Siang dan Malam Kecepatan saliva memperlihatkan irama siang dan malam yang dapat mencapai puncaknya pada siang hari dan menurun saat tidur (Edgar and O Mullane, 1996). 5.Irama Sirkanual Pada musim panas, kecepatan aliran saliva mengalami penurunan yang disebabkan oleh dehidrasi tubuh. Pada musim dingin, kecepatan saliva pada kelenjar parotis mengalami peningkatan (Edgar and O Mullane, 1996). 6.Obat Atropin dan obat kolinergik lainnya menurunkan sekresi saliva (Ganong, 1996).

28

7.Usia Kecepatan aliran saliva pada usia lebih tua mengalami penurunan, sedangkan pada anak dan dewasa kecepatan aliran saliva meningkat (Roth dan Calmes, 1981). 8.Efek psikis Efek psikis seperti mendengar bunyi makanan disisapkan, berbicara tentang makanan dan melihat makanan dapat meningkatkan aliran saliva. Sebaliknya berfikir makanan yang tidak disukai dapat menurunkan sekresi saliva (Rensburg, 1995). Menurut Amerongen (1991), terdapat berbagai jenis rangsangan yang dapat mempengaruhi sumbangan kelenjar saliva terhadap volume saliva yang terdiri dari: 1. Rangsang Kimiawi Oleh berbagai rasa asam, manis, asin, pahit dan pedas. 2. Rangsang Mekanis Sekresi saliva meningkat dengan pengunyahan makanan. 3. Rangsang Sakit Rasa sakit pada keadaan inflamasi, gingivitis dan protesa yang salah dapat meningkatkan sekresi saliva. 4. Rangsang Neuronal Melalui sistem saraf otonom baik simpatis maupun parasimpatis.

29

5. Rangsang Psikis Stres dapat menghambat sekresi saliva, tetapi kemarahan dapat bekerja sebagai stimulasi sekresi saliva.

2.1.3.5. Metode Pengumpulan Saliva Menurut Dawes (1987), terdapat beberapa cara untuk mengumpulkan keseluruhan saliva yang disekresi oleh kelenjar saliva, baik saliva tanpa rangsangan maupun saliva dengan rangsangan. Saliva tanpa rangsangan dapat dikumpulkan dengan beberapa metode. Naracoba diminta tidak melakukan pergerakan selama 5 menit (Navazesh and Christensen, 1982). Subjek harus dalam keadaan nyaman, mata terbuka dan melakukan salah satu dari metode berikut: 1. Draining Method (Metode Drainase) Pada metode drainase, subjek menundukan kepalanya dalam dalam dan

melakukan satu kali gerakan penelanan untuk menghilangkan saliva yang terkumpul sebelum waktu penghitungan. Subjek membiarkan saliva yang ada dalam mulutnya mengalir melalui bibir bawah ke dalam tabung ukur dan pada akhir waktu pengumpulan subjek meludahkan sisa saliva yang tidak mengalir ke dalam tabung (Dawes, 1987).

30

2. Spitting Method (Metode Peludahan) Metode Peludahan dilakukan hampir sama dengan metode drainase, hanya setiap satu menit subjek harus meludahkan saliva yang terkumpul di dalam mulut (Dawes, 1987). 3. Suction Method (Metode Pengisapan) Pada metode pengisapan, saliva dihisap dari dasar mulut dengan menggunakan pipa pengisap secara terus menerus (Dawes, 1987). 4. Swab Method (Metode Absorbsi) Metode absorbs dilakukan dengan mengumpulkan saliva menggunakan kain penghisap yang ditimbang lebih dahulu dan dimasukkan ke dalam mulut. Setelah waktu pengumpulan saliva berakhir, kain pengisap diangkat dan ditimbang (Dawes, 1987). Navazesh dan Christensen (1982) menyatakan bahwa metode peludahan (spitting method) adalah metode sederhana yang paling banyak menghasilkan saliva dibandingkan dengan metode lainnya. Metode pengumpulan saliva dengan rangsang dilakukan dengan menggunakan bahan yang dapat merangsang kelenjar. Bahan yang digunakan untuk rangsang pengecapan adalah rasa asam. Rangsang lain yang biasa digunakan berupa rangsang mekanik, yaitu dengan cara mengunyah karet atau lilin paraffin (Dawes, 1987).

31

2.2. Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis Probiotik yang berasal dari kata probios yang berarti kehidupan adalah pangan yang mengandung mikroorganisme hidup yang secara aktif meningkatkan kesehatan dengan cara memperbaiki keseimbangan flora khusus jika dikonsumsi dalam keadaan hidup dalam jumlah yang memadai (Hidayat, 2006). Menurut Hidayat (2006) ada beberapa syarat yang harus terdapat pada bakteri probiotik adalah: 1. Memberikan manfaat yang menguntungkan bagi manusia. 2. Tidak patogenik dan tidak toksik. 3. Mengandung sejumlah sel besar hidup. 4. Mampu bertahan dan melakukan kegiatan metabolisme dalam usus. 5. Mempunyai sifat sensori yang baik. 6. Diisolasi dari manusia. Tujuan menambahkan bakteri probiotik ke dalam makanan adalah untuk meningkatkan kesehatan manusia dengan mengurangi bakteri patogen dalam usus serta untuk menstimulasi kekebalan tubuh (Hidayat, 2006). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih materi probiotik yaitu: 1. Asal strain bakteri. Asal strain bakteri sebaiknya sesuai dengan fungsinya. Bila minuman probiotik untuk dikonsumsi manusia, maka sebaiknya strain berasal dari manusia. Namun, saat ini isolat bifidobacteria asal hewan banyak digunakan secara komersial pada probiotik produk untuk manusia. Strain ini mungkin

32

tidak cukup efektif sebagai probiotik untuk manusia, tetapi dapat saja mempunyai beberapa manfaat selama melintasi saluran pencernaan dalam jumlah sel yang banyak. 2. Tahan terhadap kondisi asam lambung. Strain harus tahan terhadap kondisi asam lambung yang sangat rendah dengan pH sekitar 3. Bifidobacterium animalis sudah teruji secara klinis tahan terhadap kondisi asam yang rendah. 3. Tahan terhadap asam empedu. Strain probiotik harus tahan terhadap asam empedu sehingga dapat mencapai organ target. Cara pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan media yangmengandung garam empedu. 4. Menempel pada usus. Bakteri yang menempel pada usus akan membentuk koloni yang dapat memberikan respon imun, mengurangi bakteri patogen dan toksin. 5. Bakteri dapat mencapai usus dalam keadaan hidup. Bakteri yang dapat mencapai usus dalam keadaan hidup adalah bakteri yang tahan terhadap lisozim, enzim saliva, pemecah dinding sel bakteri dan asam. 6. Bermanfaat bagi kesehatan manusia. Tidak semua bakteri asam laktat bersifat probiotik. Hanya bakteri tertentu yang dapat menempati saluran pencernaan. Bifidobacterium animalis telah teruji secara klinis bermanfaat bagi kesehatan manusia.

33

2.2.1 Sejarah Singkat Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis Susu fermentasi diperkirakan sudah dikenal sejak 6.600 SM oleh masyarakat Timur Tengah yang hidup secara nomaden atau berpindah. Sebagian besar mereka hidup dengan beternak, mengambil susu dan daging sebagai sumber makanan. Susu yang dihasilkan oleh ternak kemudian dikumpulkan ke dalam kantong yang terbuat dari kulit kambing atau bagian perut hewan ruminansia. Selama melakukan perjalanan di bawah terik matahari, aktivitas

mikroorganisme yang ada pada kulit atau dinding perut bahan kantong membuat susu fermentasi menjadi gumpalan, yang kemudian dikonsumsi secara berlangsung dan ternyata tercatat memberikan dampak kesehatan yang baik bagi masyarakat saat itu. Sejalan dengan kemajuan peradaban di setiap negara, susu fermentasi selanjutnya mengalami banyak variasi yang tidak terlepas dari nilai budaya masyarakatnya (Bahar, 2008) Sejarah penggunaan mikroorganisme hidup di Indonesia dalam makanan dan minuman bersamaan sejak Belanda mulai masuk ke Indonesia. Pada tahun 1965, Lilley dan Stillwell adalah orang pertama yang menggunakan istilah probiotik. Mereka menyatakan bahwa probiotik adalah sebuah substansi yang dihasilkan oleh satu mikroorganisme yang menstimulasi pertumbuhan mikroorganisme lain. Pada 1989, Fuller mendefinisikan probiotik sebagai suplemen makanan dalam bentuk mikroba hidup yang bermanfaat bagi manusia dengan cara

34

meningkatkan keseimbangan mikroba dalam sistem pencernaan (Manglayang Farm, 2005). Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang biasa ditemukan pada usus manusia, dapat juga ditemukan pada kulit. Probiotik juga disebut friendly bacteria atau good bacteria. Istilah probiotik diartikan sebagau konsumsi mikroba hidup sebagai aditif makanan untuk meningkatkan kesehatan (Harmayani dkk, 2001; NCCAM, 2006). Strain Bifidobacterium sering dimanfaatkan oleh manusia karena aktivitas bakteri ini menunjukkan kecenderungan menghalangi pertumbuhan bakteri berbahaya seperti Salmonella. Selain itu, strain bakteri ini dijadikan sebagai probiotik. Efek aktivitas yang bisa dirasakan secara nyata dari Bifidobacterium yaitu merangsang sistem kekebalan, membantu pencernaan dan membantu penyerapan gizi makanan. Spesies Bifidobacterium yang telah dimanfaatkan oleh manusia adalah B. bifidum, B. adolecentis, B. infantis, B. animalis dan B. longum (Andrianto, 2008).

2.2.2 Komposisi dan Kandungan Gizi Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis Yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis dibuat dengan cara memfermentasi campuran susu dan gula. Komposisi yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis pada penelitian ini adalah:

35

1. Bifidobacterium animalis Bifidobacterium animalis adalah bakteri asam laktat yang bersifat gram positif anaerob dan sering dimanfaatkan oleh manusia dikarenakan bakteri ini mampu merangsang kekebalan, membantu pencernaan dan membantu penyerapan gizi makanan. Selain itu bakteri ini mampu mensintesis beberapa vitamin. Bakteri ini juga bersifat antimikroba sehingga mampu menurunkan pengaruh bakteri negatif (Andrianto, 2008).

Gambar 2.6 Bifidobacterium animalis (Danone, 2008).

2. Susu Susu yang digunakan adalah susu sapi segar.

36

3. Perasa Perasa makanan alami untuk memberikan rasa pada yogurt yang mengandung Bifidobacterium animalis. 4. Air

Kandungan gizi yang terkandung di dalam yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis adalah:

Tabel 2.2 Kandungan Gizi Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis (Danone, 2008). Kalori Protein Lemak Karbohidrat Kolesterol Kalsium Natrium 70 Kkal 3g 2g 9g Tidak terdeteksi 15 mg 10 mg

2.2.3 Efek Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis Terhadap Kesehatan dan Sekresi Saliva Dengan cukup mengonsumsi yogurt probiotik, maka keseimbangan flora usus akan terpelihara, serta akan diperoleh manfaat antara lain (Hidayat, 2006):

37

1. Membantu membersihkan saluran pencernaan dan memproduksi vitamin seperti vitamin B. 2. Bakteri probiotik dapat menjaga fungsi hati sebagai penyerap racun dan toksin yang dihasilkan oleh bakteri patogen. 3. Bakteri probiotik dapat mengontrol jumlah kolesterol dalam darah yang dapat menyebabkan serangan jantung dan gangguan pembuluh darah. 4. Bakteri probiotik dapat menyehatkan usus dengan menjaga pH agar tetap stabil 4,5 5,5 sehingga bisa menjaga agar tidak terjadinya infeksi yang

dapat menyebabkan sembelit dan diare. 5. Bakteri probiotik dapat mengaktifkan sel darah putih serta limpa yang bertanggung jawab terhadap sistem kekebalan tubuh. Fermentasi yang terjadi pada proses pembuatan yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis akan menghasilkan rasa asam. Rasa asam merupakan rangsang kimiawi yang akan merangsang sekresi saliva. Sekresi saliva penting bagi kesehatan gigi dan mulut, serta berperan dalam fungsi perlindungan (Amerongen, 1991). Saliva melindungi rongga mulut dengan cara membasahi jaringan pada rongga mulut, mempertahankan konsentrasi fosfat dan kalsium yang tinggi yang terkandung dalam cairan dan kekuatan bufer asam, serta saliva dapat membantu proses awal pencernaan. Saliva juga mengandung komponen antimikroba (Ferguson, 1999). Fungsi perlindungan dilakukan dengan cara meningkatkan sekresi saliva melalui kecepatan aliran, volume, pH, dan viskositas. Sekresi saliva penting bagi

38

kesehatan gigi dan mulut serta berperan dalam fungsi perlindungan (Amerongen, 1991). Yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis yang bersifat asam dapat meningkatkan sekresi saliva sehingga fungsi perlindungan kesehatan gigi dan mulut diharapkan dapat berjalan baik.

BAB III ALAT, BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen semu (quasi experiment), yaitu metode penelitian yang belum atau tidak memiliki ciri rancangan eksperimen yang sebenarnya, karena variabel yang seharusnya dikontrol atau dimanipulasi (Notoatmodjo, 2002). Penelitian dilakukan dengan mengukur volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran yang mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mahasiswa berusia 18-23 tahun. Keadaan umum dan keadaan oral relatif baik. Tidak merokok. Tidak menggunakan alat protesa atau ortodontik. Tidak mengonsumsi obat-obatan. Tidak mengonsumsi alkohol. Bersedia menjadi naracoba penelitian.

39

40

Sampel penelitian yaitu saliva dari 100 orang mahasiswa sebagai naracoba yang ditentukan dengan menggunakan metode penarikan sampel purposive sampling. Metode purposive sampling adalah suatu metode penarikan sampel dari populasi sedemikian rupa yang ditentukan berdasarkan tujuan tertentu serta memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh orang yang ahli (Rasyid, 1993; Arikunto, 1998).

3.3 Definisi Operasional Definisi operasional dari variabel penelitian yaitu: 1. Volume saliva adalah jumlah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar saliva dalam satuan ml. 2. Yogurt probiotik adalah minuman susu fermentasi yang mengandung bakteri probiotik. 3. Bifidobacterium animalis adalah bakteri probiotik yang menghasilkan asam laktat dan bersifat tahan terhadap cairan pencernaan.

3.4 Variabel Penelitian Variabel Penelitian terdiri atas: 1. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah volume saliva.

41

2. Variabel Bebas Variabel bebas pada penelitian adalah yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. 3. Variabel Kendali Variabel kendali dalam penelitian adalah posisi tubuh, waktu, dan tempat pengumpulah saliva. 4. Variabel Penganggu Variabel penganggu dalam penelitian ini adalah jenis kelamin.

3.5 Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian adalah: 1. Alat diagnostik, yaitu: kaca mulut, sonde dan pinset. 2. Gelas ukur. 3. Wadah untuk berkumur. 4. Stopwatch atau jam tangan. 5. Kertas tisu. 6. Alat tulis. 7. Sarung tangan. 8. Masker. 9. Lembar penelitian. 10. Informed consent. 11. Alkohol.

42

12. Kapas. Bahan penelitian terdiri dari: 1. Yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis kemasan botol. 2. Saliva sebagai bahan pemeriksaan. 3. Akuades sebagai bahan untuk pencuci.

Gambar 3.1 Alat dan Bahan Penelitian

3.6 Prosedur Penelitian Prosedur penelitian adalah: 1. Sampel Penelitian sebagai naracoba diberi penjelasan terlebih dahulu tentang tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian yang akan dilakukan dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian dengan menandatangani informed consent.

43

2. Naracoba diinstruksikan untuk tidak makan atau minum dan tidak menyikat gigi minimal 1 jam sebelum penelitian. 3. Operator dan naracoba memusatkan perhatian pada penelitian. 4. Posisi naracoba berdiri, tubuh naracoba tegak lurus lantai menghadap ke arah cahaya. 5. Naracoba diminta berkumur dengan akuades untuk menghilangkan sisa makanan. 6. Naracoba dalam keadaan istirahat dengan kepala menunduk, tidak menggerakan lidah dan menjaga bibirnya supaya tetap tertutup, serta tidak melakukan penelanan selama 5 menit. 7. Setelah 5 menit, naracoba diminta meludahkan saliva yang telah tekumpul dengan posisi kepala menunduk dan ditampung dengan gelas ukur. Kemudian volume diukur sebagai volume saliva sebelum meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. 8. Kemudian naracoba diinstruksikan untuk berkumur dengan satu botol yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis kemasan 80 g selama 15 detik lalu ditelan. 9. Setelah itu naracoba kembali diinstruksikan untuk mengumpulkan saliva dengan menjaga lidah tidak bergerak, bibir tertutup, dan tidak melakukan penelanan selama 5 menit. 10. Setelah 5 menit saliva ditampung dan diukur sebagai volume saliva setelah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

44

3.7 Analisis Data Pengukuran data berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan melalui pencatatan bentuk tabel. Analisis data penelitian menggunakan uji t student berpasangan. Rumus yang digunakan untuk statistik uji t berpasangan adalah (Sudjana, 1996) :

t= Keterangan: B = rata rata beda atau selisih tiap pasangan (xi yi) SB = simpangan baku beda atau selisih tiap pasangan (xi yi)

SB =

X2

nn 1 n = jumlah sampel

Dari data yang diperoleh dilakukan pangujian hipotesis: H0: tidak terdapat pengaruh meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis terhadap volume saliva. H1: terdapat pengaruh meminum yogurt probiotik yang mengandung

Bifidobacterium animalis terhadap volume saliva. Hipotesis kerja atau hipotesis uji: H0 ditolak jika t hitung < - t(1H0 diterima jika - t(1/2)(n-1) < /2)(n-1) atau

t hitung > t(1/2)(n-1).

/2)(n-1)

t hitung < t(1-

Derajat bebasnya (dk) adalah n-1.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian Penelitian dilakukan terhadap 100 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran yang terdiri dari 20 orang perempuan. Masing laki laki dan 80 orang

masing naracoba tersebut diminta meludahkan saliva yang

telah terkumpul dengan posisi kepala menunduk dan ditampung dengan gelas ukur.

Tabel 4.1 Jenis Kelamin Subjek Penelitian Jenis Kelamin Laki - Laki Perempuan Total F 20 80 100 % 20.0 80.0 100.0

Grafik 4.1 Jenis Kelamin

45

46

Dari data penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis pada 100 naracoba seperti pada Lampiran 5. Berdasarkan Lampiran 8 terlihat bahwa volume saliva pada ke 100 naracoba

sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. Pada saat sebelum meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis, volume saliva memiliki nilai terendah 0,5 mL dan nilai tertinggi sebesar 8 mL, sedangkan pada saat sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis volume saliva memiliki nilai terendah 2,25 mL dan nilai tertinggi sebesar 8,5 mL. Selanjutnya, untuk melihat perbedaan secara umum dari volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis, dihitung nilai rata rata volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt

probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis tersebut. Berikut ini peneliti gambarkan grafik batang yang menunjukkan rata rata volume saliva sebelum dan

sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

47

Grafik 4.2 Perbandingan Nilai Rata Rata Volume saliva Sebelum dan Sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis

Berdasarkan Grafik 4.2 diperoleh informasi bahwa nilai rata

rata volume

saliva sebelum meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis adalah sebesar 2,62 mL. Namun, sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis, nilai rata rata volume saliva meningkat rata volume

sampai dengan 4,22 mL sehingga dapat diketahui penigkatan rata

saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis tersebut hampir dua kali lipat dari sebelum meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. Namun, untuk mengetahui apakah perbedaan volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis tersebut signifikan atau tidak, peneliti melakukan uji statistik t student untuk data berpasangan.

48

4.2. Pengujian Hipotesis Untuk menguji perbedaan saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis, maka kita perlu menguji hipotesis statistik yang diajukan sebagai berikut: H 0: =0 tidak terdapat perbedaan signifikan antara volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. H 1: =0 terdapat perbedaan signifikan antara volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis. Tingkat kekeliruan ( ) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5 %. Berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan perhitungan secara manual, berikut ini diperoleh hasil uji statistik t berpasangan seperti yang terlihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Hasil Uji t-Berpasangan Volume Saliva Sebelum dan Sesudah Meminum Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis Volume Volume Sebelum Volume Sesudah Rata-rata Simpangan baku 1.21 T hitung df P-value

1.60

13.28

99

0.000

49

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dengan taraf kepercayaan 95%, terdapat perbedaan yang signifikan antara volume sebelum dan volume sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis pada populasi yang lebih besar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis merupakan yogurt probiotik yang mampu meningkatkan volume saliva bagi orang yang meminumnya.

4.3. Pembahasan Yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis sangat berguna bagi tubuh dikarenakan yogurt yang mengandung bakteri ini mampu merangsang kekebalan, membantu pencernaan, membantu penyerapan gizi makanan, dan mampu mensisntesis beberapa vitamin. Bakteri ini juga bersifat anti-mikrobial sehingga mampu menurunkan pengaruh bakteri negative (Andrianto, 2008). Fermentasi yang terjadi pada proses pembuatan yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis akan menghasilkan rasa asam. Meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis yang bersifat asam merupakan rangsang kimiawi yang dapat meningkatkan volume saliva. Dengan meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis dapat menjaga kesehatan gigi dan mulut, karena jika volume saliva meningkat maka fungsi saliva akan berjalan lebih baik (Guyton and Hall, 1996). Metode yang digunakan untuk pengumpulan saliva adalah dengan spitting method atau metode peludahan (Dawes, 1987). Kecepatan saliva tertinggi terjadi pada

50

siang hari, sehingga siang hari menjadi waktu standar untuk pengukuran aliran saliva. Posisi tubuh dapat mempengaruhi sekresi saliva. Pada posisi berdiri, sekresi saliva dapat mencapai 100 % (Brobeck, 1981). Grafik 4.2 menunjukkan bahwa nilai rata rata volume saliva sebelum meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis adalah sebesar 2,62 mL dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium rata volume saliva meningkat sampai dengan 4,22 mL. Data rata volume saliva sebelum meminum

animalis, nilai rata

hasil penelitian menunjukkan bahwa rata

yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis lebih kecil daripada rata rata volume saliva sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung

Bifidobacterium animalis, setelah pengujian statistik, tampak bahwa nilai thitung ini lebih besar daripada nilai ttabel (1,98) dan nilai P-value juga lebih kecil dari 0,05, maka keputusan pengujiannya adalah menolak H0. Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut: Terdapat perbedaan antara volume saliva sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

5.2.

Saran Saran yang dapat diberikan penulis yaitu:

1. Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menguji sekresi saliva dengan stimulus dari yogurt probiotik yang mengandung bakteri jenis lain seperti Acidophilus digestive, dan Casei immunita. 2. Hasil penelitian disosialisasikan kepada masyarakat bahwa selain bermanfaat bagi kesehatan usus, yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis juga bermanfaat meningkatkan volume saliva yang berguna bagi kesehatan rongga mulut.

51

DAFTAR PUSTAKA

Amerongen , A. Van Nieuw. 1991. Ludah dan Kelenjar Ludah : Arti Bagi Kesehatan Gigi (Penerjemah : Prof.drg Rafiah Abyono). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1 41. Anonim. 2009. Cermin Dunia Kedokteran 170/ vol.36 no. 34. [online]. Available at: http://www.kalbe.co.id/cdk. (diakses 18 Maret 2010). Andrianto, T. T. 2008. Susu Fermentasi Untuk Kebugaran & Pengobatan. Yogyakarta : Universitas Atma Jaya. 38 45. Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian. Edisi ke-5. Jakarta Rineka Cipta. 109. Bahar, B. 2008. Kefir Minuman Susu Fermentasi dengan Segudang Khasiat untuk Kesehatan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 12 24. Berkovitz, B. K. B.; G. R. Holland; B. J. Moxham. 2002. Oral Anatomy, Embryology and Histology. 3rd Edition. London: Mosby, Inc. Bradley, R. M. 1995. Essential of Oral Physiology. St. Louis: Mosby, Inc. 163 Brobeck, J. R. 1981. Best Taylor s : Physiology Basis of Medical Practice. 10th ed. Baltimore-London : William and Walkins Co. 24-37. Copper, D. 1998. Glands associated with the digestive tract: liver, pancreas, and salivary glands. [online]. Available at: http://www.sacs.ucsf.edu/home/co oper/Anat118 /GI-Glands/lvrpancsaliv.htm. (diakses 18 Maret 2010). Danone. 2008. Monograph for Health Care Professional. [online]. Available at: http://www.activia.ca/en/documents/Monographie_En.pdf. (diakses pada 18 Maret 2010). Dawes, C. 1987. Physiological Factors Affecting Salivary Flow Rate, Oral Sugar Clearance, and The Sensation of Dry Mouth in Man. J Dent Rest 66, 648 653. Edgar, W. M. 1992. Saliva : It s Secretion, Composition and Function. Brit Dent J. 305 312. Edgar, W. M.; D. M. O Mullane. 1996. Saliva and Oral Health. London: British Dental Association. 2

52

53

Eroschenko, V. P. 2000. Atlas Histologi di Fiore dengan Korelasi Fungsional. Edisi ke 9. Terj. J. Tambayong. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 167 172. Ferguson, D. B. 1999. Oral Bioscience. China : Churchill Livingston. Fuller R. 1985. A Review : Probiotics in man and animals. J Appl Bacteriol GG : 365 378. Ganong, W. F. 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke 17. Diterjemahkan dari : Review of medical Physiology. Oleh M. D. Widjajakusumah, et al. Jakarta : CV. EGC. 477. Guyton, A. C.; J. E. Hall. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke 9. Terj. I. Setiawan, Ken A. T. dan A. Santoso. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 1016 1018. Guyton, A. C.; J. E. Hall. 2006. Textbook of Medical Physiology 11th ed. China : Elsevier. 794 - 795. Grant, D. A. ; B. S. Irving. ; G. E. Frank. 1988. Orbans Periodontics a Concept Theory and Pratice. 4th ed. St. Louis : The C. V. Mosby Co. 99 101. Harmayani, dkk. 2001. Ketahanan dan Viabilitas Probiotik Bakteri Asam Laktat Selama Proses Pembuatan Kultur Kering dengan Metode Freeze dan Spray Drying. [online]. Available at: http://jurnal.teknol.industripangan.pdf (diakses 16 November 2009). Hidayat, N.; I. Nurika; Wike A. P. Dania. 2006. Membuat Minuman Prebiotik dan Probiotik. Surabaya : Trubus Agrisarana. 13 18. Houwink, B., J. H. I. Veld, PA. Roukema, et al. 1993. Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan. Diterjemahkan dari : Preventive Thandheelkunde. Amsterdam. Stafleu and Tholen B. V. Oleh S. Suryo. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. 105 124. Indratiningsih, dkk. 2004. Produksi Yogurt Shintake (Yoshintake) sebagai Pangan Kesehatan Berbasis Susu. Yogyakarta. Lavelle, C. L. B. 1988. Applied Physiology of The Mouth. 2nd ed. Bristol : John Wright & Sons Limited. 128 133.

54

Manglayang Farm. 2005. Serba-serbi Pengolahan Susu: Mengenal Yogurt. [online]. Available at: http://picasaweb.google.com/manglayang (Diakses 13 Desember 2009). Navazesh, M. ; C. M. Christensen. 1982. A Comparison of Whole Mouth Resting and Stimulated Salivary Measurement Procedures. J. Dent Rest 61, 1158 1162. NCCAM. 2008. An Introduction to Probiotics. [online]. Available at: http://nccam.nih.gov/health/probiotics/ (diakses 17 November 2009). Notoamodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi (Cetakan ke-2). Jakarta Pusat: Rineka Cipta. 167. Nur, H. S. 2005. Pembentukan Asam Organik oleh Isolat Bakteri Asam Laktat pada Media Ekstrak Daging Buah Durian (Durio zibethinus Murr.). [online]. Available at: http://bioscientiae.tripod.com. (diakses 12 Februari 2010). Putz, R. L.; E. Pabst. 2006. Sobotta: Atlas Anatomi Manusia Jilid 1. Jakarta: EGC. Puy, C. L. 2006. The role of saliva in maintaining oral health and as an aid to diagnosis. [online]. Available at: http://scielo.isciii.es/pdf/medicorpa/v11 n5/en_15.pdf Rasyid, H. A. 1993. Teknik Penarikan Sampel dan Penyusunan Skala. Bandung: Program Studi Ilmu Sosial. 17 Rensburg, B. G. J. V. 1995. Oral Biology. Chicago: Quintessenc Publishing Co. Inc. 469. Roth, G. I. ; R. Calmes. 1981. Oral Biology. St. Louis : The C. V. Mosby Co. 8 : 196 232. Sanders, M. E. 2007. Probiotic Application in Gastrointestinal Health and Disease. [online]. Available at : http://www.usprobiotics.org/docs/ACGproceedings.pdf. (diakses pada 12 Februari 2010). Sudjana. 1996. Metode Statistika. Edisi ke-6. Bandung : Penerbit Tarsito. 233 243. Sujaya, dkk. 2008. Isolasi dan Karakteristik Bakteri Asam Laktat dari Susu Kuda Sumbawa. [online]. Available at: http://jurnalveteriner/download.pdf (diakses 17 November 2009).

55

Sulistyani; Seno Pradopo. 2003. Rata-rata pH saliva setelah minum susu sapi, susu kental manis, dan susu kedelai. [online]. Available at: http://MKG3612003;Sulistiyani;Rata-rata2pradopo.pdf. (diakses 12 Februari 2010). Tan, 2009. Probiotik, Sumber Imun Tubuh. [online]. Available at: http://www. jurnalnet.com (diakses 16 November 2009). Todar, K. 2008. The Normal Bacterial Flora of Humans. [online]. Available at: http://www.textbookofbacteriology.net/ (diakses 19 Februari 2010).

RIWAYAT PENDIDIKAN PENULIS

Penulis lahir di Jakarta pada tanggal 23 Januari 1989. Tahun 1993-1994, penulis mengikuti pendidikan di Taman Kanak-Kanak Mutiara Indah Jakarta. Tahun 1994-2000, penulis mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar Swasta Perguruan Rakyat 3 Jakarta. Tahun 2000-2003, penulis mengikuti pendidikan di Sekolah Lanjutan Tengah Pertama Negeri 7 Jakarta. Tahun 2003-2006, penulis mengikuti pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 31 Jakarta. Tahun 2006 hingga saat ini penulis mengikuti pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung.

56

Lampiran 1 Surat Permohonan Izin Penelitian

57

Lampiran 2 FORMULIR PERSETUJUAN (INFORMED CONSENT) Nama Instansi / RS : Laboratorium Oral Biologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Jatinangor

Surat Persetujuan Peserta Penelitian

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NPM Umur : : :

Jenis Kelamin : Alamat :

Setelah mendapat keterangan secukupnya serta menyadari manfaat dan resiko penelitian tersebut di bawah ini yang berjudul PERBEDAAN VOLUME SALIVA SEBELUM DAN SESUDAH MEMINUM YOGURT PROBIOTIK YANG MENGANDUNG Bifidobacterium animalis . Dengan sukarela menyetujui diikutsertakan dalam penelitian tersebut di atas sebagai naracoba. Apabila suatu waktu nanti merasa dirugikan dalam bentuk apapun, berhak membatalkan perjanjian ini. Jatinangor, Februari 2010 Peneliti Yang menyetujui

( Rahajeng Wulan Astiti)

58

Lampiran 3 DATA PRIBADI NARACOBA Nama : NPM : Jenis Kelamin : Umur : Alamat : No. Telp./HP :

TABEL HASIL PEMERIKSAAN Sebelum Meminum Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis Volume Saliva (ml/cc) Variabel Setelah Meminum Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis

59

Lampiran 4 KUESIONER

Lingkarilah jawaban yang sesuai dengan kondisi anda saat ini !

1. Apakah

anda

pernah

meminum

yogurt

probiotik

yang

mengandung

Bifidobacterium animalis? a. Pernah b. Tidak Pernah

2. Bila pernah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis, berapa kali frekuensi meminumnya? a. Sering/rutin b. Kadang kadang/jarang

3. Apakah anda mengetahui bahwa yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis adalah salah satu produk minuman Probiotik? a. Ya b. Tidak

4. Apakah saat ini anda sedang menderita penyakit? a. Ya, . b. Tidak

5. Apakah anda saat ini sedang menjalani terapi obat obatan? a. Ya, b. Tidak

6. Apakah saat ini anda sedang mengalami gangguan emosional? a. Ya, 7. Apakah anda merokok? a. Ya b. Tidak b. Tidak

8. Apakah saat ini anda memakai gigi tiruan (protesa)? a. Ya b. Tidak

9. Apakah saat ini anda memakai kawat gigi (alat ortodonti)? a. Ya b. Tidak

60

Lampiran 5

Tabel Hasil Penelitian Sebelum dan Sesudah Meminum Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis Naracoba 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. Sebelum 2,5 2,5 2,0 1,0 2,0 2,5 2,5 2,5 1,5 2,5 1,0 1,0 1,5 2,0 2,5 2,5 1,0 2,0 2,5 2,5 2,5 2,0 2,0 2,5 4,0 2,5 2,0 2,5 4,5 3,0 2,5 2,5 2,0 2,5 Sesudah 3,0 5,0 4,0 3,25 3,5 6,0 4,0 5,0 5,0 6,5 3,5 3,0 4,0 2,3 3,25 6,0 3,0 2,5 4,5 3,0 8,0 3,0 3,5 3,0 5,5 4,0 2,5 3,5 5,75 4,0 6,25 3,5 2,5 4,5 Selisih Sebelum dan Sesudah 0,5 2,5 2 2.25 1,5 3,5 1,5 2,5 3,5 4 2,5 2 2,5 0,3 0,75 3,5 2 0,5 2 0,5 5,5 1 1,5 0,5 1,5 1,5 0,5 1 1,25 1 3,75 1 0,5 2

61

62

Tabel Hasil Penelitian Sebelum dan Sesudah Meminum Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis (lanjutan) 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 2,5 2,5 1,0 2,5 2,0 2,0 2,5 3,5 1,5 1,5 3,0 2,0 2,5 2,0 1,25 1,25 3,0 2,5 1,0 2,0 4,0 2,0 5,0 4,0 2,0 3,0 2,0 2,5 1,0 4,0 3,0 2,5 2,5 2,5 2,5 2,0 7,5 6,0 3,0 3,0 3,0 3,0 4,0 5,0 3,75 3,0 2,5 4,5 2,5 3,0 3,5 2,0 3,0 3,5 4,0 3,0 5,0 5,0 3,5 7,0 6,5 2,0 6,0 3,5 3,0 2,0 8,0 7,5 3,5 3,0 3,0 3,5 2,5 8,5 3,5 0,5 2 0,5 1 2 2,5 0,25 1,5 1 1,5 0,5 0,5 1,5 0,75 1,75 0,5 1,5 2 3 1 1,5 2 2,5 0 3 1,5 0,5 1 4 4,5 1 0,5 0,5 1 0,5 1

62

63

Tabel Hasil Penelitian Sebelum dan Sesudah Meminum Yogurt Probiotik yang Mengandung Bifidobacterium animalis (lanjutan) 72. 5,5 5,0 -0,5 73. 2,0 2,5 0,5 74. 4,0 4,0 0 75. 2,0 5,0 3 76. 3,5 4,0 0,5 77. 3,5 3,5 0 78. 2,5 3,0 0,5 79. 2,5 6,0 3,5 80. 1,0 3,0 2 81. 2,5 2,0 -0,5 82. 2,5 2,5 0 83. 2,5 6,0 3,5 84. 8,0 8,0 0 85. 3,0 4,0 1 86. 7,5 7,5 0 87. 5,0 6,0 1 88. 2,5 4,0 1,5 89. 2,0 5,0 3 90. 0,5 2,5 2 91. 2,0 4,0 2 92. 2,5 4,0 1,5 93. 2,5 5,5 3 94. 3,5 7,0 3,5 95. 2,5 4,0 1,5 96. 4,0 8,0 4 97. 2,0 4,0 2 98. 4,0 5,5 1,5 99. 2,0 3,5 1,5 100. 3,5 5,0 1,5 Jumlah 262 422,05 160,05 N 100 100 0 Rata - rata 2,62 4,22 1,6

63

Lampiran 6 Grafik Volume Saliva Sebelum dan Sesudah Meminum Yogurt Probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis pada 100 naracoba

64

Lampiran 7
Pengujian Hipotesis Untuk menguji perbandingan volume sebelum dan volume sesudah maka kita perlu menguji hipotesis statistik yang diajukan sebagai berikut : Hipotesis uji: H0 : B

Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara volume sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

H1 : B

Terdapat perbedaan yang signifikan antara volume sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis.

Toleransi kekeliruan analisis penelitian: = 5% Tingkat kekeliruan ( ) yang ditolerir dalam penelitian ini adalah sebesar 5 %. Berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan perhitungan secara manual, berikut ini diperoleh hasil uji statistik t berpasangan seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2 Hasil Uji t-Berpasangan


Volume Volume Sebelum Volume Sesudah Kriteria uji: Rata-rata Simpangan baku T hitung df P-value

1.60

1.21

13.28

99

0.000

Tolak Ho jika thitung > ttabel ( thitung =

;n-1)

terima dalam hal lainnya. Ternyata pada Tabel 4.3 terlihat bahwa nilai

> 1,98 = ttabel (0,05; 99) sehingga Ho ditolak. Uji hipotesis dilakukan dua uji untuk

mengetahui rata-rata volume sebelum dan volume sesudah, seperti terlihat pada Gambar 4.1 di bawah ini:

65

66

H0 Diterima

- 1,98 Keterangan: : daerah penolakan H0 Keputusan analisis: Terlihat bahwa nilai thitung sebesar

1,98

13,28

dengan probabilitas (p-value) sebesar 0,000. Thitung

berada pada daerah penolakan H0 dengan p-value < 0,05. Artinya dengan taraf kepercayaan 95%, terdapat perbedaan volume yang signifikan antara sebelum dan sesudah meminum yogurt probiotik yang mengandung Bifidobacterium animalis pada populasi yang lebih besar.

Lampiran 8 Surat Penugasan Bimbingan Skripsi

67