0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
734 tayangan26 halaman

Makalah Kelompok 1 Ctl.

Pendekatan CTL adalah konsep pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam kehidupan sehari-hari. CTL menekankan berpikir kreatif dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna.

Diunggah oleh

Adhe syahrul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
734 tayangan26 halaman

Makalah Kelompok 1 Ctl.

Pendekatan CTL adalah konsep pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam kehidupan sehari-hari. CTL menekankan berpikir kreatif dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna.

Diunggah oleh

Adhe syahrul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

“ Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) ”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Pembelajaran Matematika SD


Yang dibimbing oleh Ibu Dyah Triwahyuningtyas, S.Si, M.Pd

Disusun Oleh :

1. Agum Wahyu Prasetyaji (190401140030)


2. Abdas Mardi (190401140031)
3. Vidya Cahya ( 200401140063)
4. Asa Mufngidatul Ilmiyah (200401140064)
5. Desvia Melati Oktaviani (200401140074)
6. Adhe Syahrul Yanuar.S (200401140081)
7. Erinna Sofi Indrawati (200401140092)
8. Endah Wulan Astrini (200401140094)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI KANJURUHAN MALANG
2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik meskipun jauh dari
kesempurnaan. Tujuan dalam penulisan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas
kelompok pada mata kuliah Pengembangan Pembelajaran Matematika SD yang dibimbing oleh
Ibu Dyah Tru Wahyuningtyas, S.Si., M.Pd. Serta membantu teman-teman mahasiswa ataupun
pembaca untuk menambah wawasan tentang Model Pembelajaran Contextual Teaching And
Learning (CTL).

Akhir kata, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Namun,
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan dalam
pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii


DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii
BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................................................. 2
BAB 2 PEMBAHASAN ............................................................................................................ 3
A. Pengertian Dari Pembelajaran CTL ................................................................................ 3
B. Dasar Pemikiran Pembelajaran CTL .............................................................................. 4
C. Prinsip Pembelajaran CTL .............................................................................................. 5
D. Komponen Dalam Pembelajaran CTL ............................................................................ 7
E. Karakteristik Pembelajaran CTL .................................................................................... 8
F. Kelebihan Dan Kekurangan Dari Pembelajaran CTL .................................................... 9
G. Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran CTL ..................................................... 10
H. Penerapan Pembelajaran CTL Dalam Matematika ....................................................... 11
BAB 3 PENUTUP ................................................................................................................... 13
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 13
B. Saran ............................................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 25

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan paradigma dalam dunia pendidikan pada saat ini menuntut kerja
keras dan tanggung jawab guru untuk lebih professional. Guru harus dapat mengubah
paradigma mengajar dari teaching ke learning. Perubahan ini tidak semata-mata hanya
untuk mengikuti trend jaman, tetapi lebih kepada tuntutan dan situasi nyata yang
dibutuhkan dunia dan kehidupan manusia. Permasalahan dunia yang semakin
kompleks seperti krisis global dan iklim global menuntut kerja keras dunia pendidikan
agar mampu menghasilkan siswa menjadi seorang problem solver di masa yang akan
datang, dan tidak hanya menjadi tenaga terampil saja.
Paradigma baru pendidikan lebih menekankan pada peserta didik sebagai
manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif
dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak terbatas pada
apa yang disampaikan oleh guru. Guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai
pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner. tetapi menjadi fasilitator yang
membimbing siswa ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri.
Melalui paradigma baru tersebut diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif
berdiskusi, berani menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, dan
memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Menjadikan siswa aktif, kreatif dan menjadi
seorang problem solver yang baik tentunya bukan hal yang mudah, anak harus
mempunyai kemampuan berpikir yang baik dapat tercipta dari penerapan Contextual
Teaching and Learning (CTL).
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan fakta dalam
kehidupan siswa. CTL lebih menekankan pada rencana kegiatan kelas yang dirancang
guru. Rencana kegiatan tersebut berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang
akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajari.
Pembelajaran kontekstual lebih mementingkan strategi belajar bukan hasil belajar.
Pembelajaran kontekstual mengharapkan siswa untuk memperoleh materi pelajaran
meskipun sedikit tetapi mendalam bukan banyak tetapi dangkal. Pembelajaran

2
kontekstual mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki
dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari pembelajaran CTL?
2. Apa dasar pemikiran pembelajaran CTL ?
3. Apa saja prinsip pembelajaran CTL?
4. Apa saja komponen dalam pembelajaran CTL?
5. Apa saja karakteristik pembelajaran CTL ?
6. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran CTL?
7. Apa saja langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran CTL ?
8. Bagaimana penerapan pembelajaran CTL dalam matematika ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari pembelajaran CTL.
2. Untuk mengetahui dasar pemikiran pembelajaran CTLl.
3. Untuk mengetahui apa saja prinsip pembelajaran CTL.
4. Untuk mengetahui apa saja komponen dalam pembelajaran CTL.
5. Untuk mengetahui apa saja karakteristik pembelajaran CTLl.
6. Untuk mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran CTL.
7. Untuk mengetahui apa saja langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran CTL.
8. Untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran CTL dalam matematika.

2
2
BAB 2

PEMBAHASAN

A. Pengertian Dari Pembelajaran CTL


Pendekatan CTL atau kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Proses pembelajaran kontekstual berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan
siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pembelajaran kontekstual menekankan pada tingkat berpikir yang tinggi, yaitu berpikir
divergen (kreatif). Pembelajaran dengan model kontekstual merupakan model yang
sifatnya membantu guru dalam menghubungkan mata pelajaran dengan keadaan yang
nyata, serta siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam masalah yang diberikan
oleh guru dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran lebih bermakna karena siswa
mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Hosnan (2014: 279) mengungkapkan
kelebihan model kontekstual adalah pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil.
Artinya, siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antar pengalaman belajar di
sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat
mengorelasikan materi yang ditemukan dikehidupan nyata, bukan saja bagi siswa
materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak akan mudah dilupakan. Selain itu
Sanjaya (2011: 253) menyatakan bahwa model pembelajaran kontekstual adalah suatu
strategi pembelajaran yang menekankan kepada prospek keterlibatan siswa secara
penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan
situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam
kehidupan mereka. Berdasarkan pernyataan di atas, model Contextual Teaching and
Learning (CTL) merupakan model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan pada
pembelajaran matematika. Karena dalam pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL) yang dikenal dengan pembelajaran kontekstual yaitu suatu model
pembelajaran yang memiliki prinsip bahwa dalam proses pembelajaran harus dimulai
dari hal yang bersifat kontekstual, siswa akan lebih mudah memahami materi, sehingga

3
siswa tidak akan mengalami kesulitan memahami materi yang bersifat abstrak. Selain
itu model Contextual Teaching and Learning (CTL) menerapkan prinsip belajar
bermakna yang mengutamakan proses berlajar, sehingga siswa dimotivasi untuk
menemukan pengetahuan sendiri dan bukan hanya transfer pengetahuan dari guru. Hal
ini akan membuat pembelajaran menjadi lebih efektif, dan hasil belajar siswa dapat
ditingkatkan.

B. Dasar Pemikiran Pembelajaran CTL


Pembelajaran kontekstual/ CTL adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan
pada filosofis paham konstruktivisme yang mana siswa ditekankan mampu menyerap
pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka
terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa
mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka
miliki sebelumnya. (Eliane B. Johnson, 2007 : 4)
Selain itu pembelajaran kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan
pemikiran tentang belajar, yakni sebagai berikut:
1. Proses belajar
a) Anak belajar dari pengalaman. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari
pengetahuan baru yang diperolehnya, dan bukan begitu saja diberi oleh
guru yang mengajarkannya.
b) Pengetahuan yang dimiliki sesorang adalah terorganisasi dan mencerminkan
pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan. Hal ini merupakan
pemikiran yang telah disepakati oleh para ahli.
c) Pengetahuan bukan merupakan fakta-fakta atau proposisi yang dapat dipisah-
pisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
d) Manusia dalam menyikapi situasi baru mempunyai tingkatan yang berbeda.
e) Perlunya pembiasaan pada siswa untuk memecahkan masalah, menemukan
sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
f) Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan itu berjalan terus
seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan
sesorang.

3
2. Transfer belajar
a) Siswa belajar dari apa yang mereka alami sendiri, bukan dari pemberian orang
lain.
b) Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit
demi sedikit)
c) Penting bagi siswa tahu tujuan mereka belajar dan bagaimana ia menggunakan
pengetahuan dan keterampilan itu.

3. Siswa sebagai pembelajar


a) Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu. Dan
seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat dengan hal-hal
baru.
b) Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang
baru. Namun pada hal-hal yang sulit, akan menjadi mudah jika
menggunakan strategi belajar.
c) Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang
sudah diketahui.
d) Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan
kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan
menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
4. Pentingnya lingkungan belajar
a) Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa.
b) Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton. Saat siswa akting bekerja dan
berkarya, guru mengarahkan.
c) Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan
baru mereka.
d) Pentingnya strategi belajar jika dibandingkan dengan hasilnya.
e) Pentingnya umpan balik bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar.
f) Pentingnya menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok.

7
C. Prinsip Pembelajaran CTL
Prinsip-pronsip pembelajaran kontekstual, antara lain:

1. Keterkaitan, relevansi (relation).


Keterkaitan, relevansi merupakan proses belajar yang hendaknya ada
keterkaitan dengan bekal pengetahuan yang telah ada pada diri siswa.
2. Pengalaman langsung (experiencing).
Pengalaman langsung dapat diperoleh melalui kegiatan eksplorasi,
penemuan (discovery), inventory, investigasi, penelitian dan sebagainya.
Experiencing dipandang sebagai jantung pembelajaran kontekstual. Proses
pembelajaran akan berlangsung cepat jika siswa diberi kesempatan untuk
memanipulasi peralatan, memanfaatkan sumber belajar. dan melakukan bentuk-
bentuk kegiatan penelitian yang lain secara aktif.
3. Aplikasi (applying).
Menerapkan fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang dipelajari dengan
guru yaitu antara siswa dengan narasumber. Memecahkan masalah dan
mengerjakan tugas bersama merupakan strategi pembelajaran pokok dalam
pembelajaran kontekstual.
4. Alih pengetahuan (transferring).
Pembelajaran kontekstual menekankan pada kemampuan siswa untuk
mentransfer situasi dan konteks yang lain merupakan pembelajaran tingkat
tinggi, lebih dari pada sekedar hafal.
5. Kerja sama (cooperating)
.Kerjasama dalam konteks saling tukar pikiran, mengajukan dan
menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa.
6. Pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang telah dimiliki pada situasi lain.
Berdasarkan uraian diatas, prinsip-prinsip tersebut merupakan bahan acuan
untuk menerapkan metode kontekstual dalam pembelajaran. Implementasi
metode kontekstual lebih mengutamakan strategi pembelajaran dari pada hasil
belajar, yakni proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk
kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru
ke siswa.

7
Beberapa prinsip yang harus dipegang oleh guru dalam menerapkan pembelajaran
kontekstual, antara lain:

a) Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajiban perkembangan mental siswa.


b) Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung
c) Saling ketergantungan mewujudkan diri
Misalnya ketika para siswa bergabung untuk memecahkan masalah dan ketika
para guru mengadakan pertemuan dengan rekannya. Hal ini tampak jelas ketika subjek
yang berbeda dihubungkan, dan ketika kemitraan menggabungkan sekolah dengan
dunia bisnis dan kornunitas (Sugiyanto: 2009: 15).
d) Menyediakan lingkungan yang mendukung.
Hal ini membangun minat individual siswa untuk bekerja sendiri ataupun
kelompok dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna dengan mengaitkan antara
materi ajar dan konteks kehidupan sehari hari (Sugiyanto: 2009: 15).
e) Mempertimbangkan keragaman siswa
Keragaman atau differensiasi menjadi nyata ketika CTL menantang para siswa
untuk saling menghormati keunikan masing-masing, untuk menghormati perbedaan-
perbedaan, untuk menjadi kreatif, untuk bekerjasama, untuk menghasilkan gagasan dan
hasil baru yang berbeda, dan untuk menyadari bahwa keragaman adalah tanda
kemantapan dan kekuatan (Sugiyanto: 2009: 15).
f) Memperhatikan multi-intelegensi
g) Menggunakan teknik-teknik bertanya
h) Menerapkan penilai autentik

D. Komponen Dalam Pembelajaran CTL


Terdapat tujuh komponen dalam pendekatan pembelajaran Kontekstual yaitu :

a. Kontruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan filosofis pendekatan pembelajaran
kontekstual, bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit
melalui sebuah proses. Menurut pandangan konstruktivisme, tugas guru adalah
memfasilitasi proses tersebut dengan cara:
(a) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa;
(b) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan
(c) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

7
b. Inkuiri (Inquiry)
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.
Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan
melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi
hasil dari menemukan sendiri. Secara umum inquiry dapat dilakukan melalui
beberapa langkah yaitu : merumuskan masalah, mengajukan
hipotesa,mengumpulkan data, menguji hiotesis, dan membuat kesimpulan
c. Bertanya (Questioning)
Bertanya adalah cerminan dalam kondisi berpikir. Bertanya dalam pembelajaran
dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai
kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya dimaksudkan untuk
menggali informasi, mengkomunikasikan apa yang sudah diketahui, dan
mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Ketika menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual di dalam kelas, guru
disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar.
Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen.
e. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu contoh yang
dapat ditiru oleh setiap siswa. Cara pembelajaran seperti ini akan lebih cepat
dipahami siswa daripada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepadasiswa
tanpa ditunjukkan model atau contohnya.
f. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir
kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan ketika pembelajaran. Nilai hakiki
dari komponen ini adalah semangat instropeksi untuk perbaikan pada kegiatan
pembelajaran berikutnya.
g. Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Penilaian autentik adalah upaya pengumpulan berbagai data yang dapat
memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data dikumpulkan dari
kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran.

7
E. Karakteristik Pembelajaran CTL
Karakteristik Pembelajaran Kontekstual sebagai berikut:

a. Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang


diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau
pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life
setting).
b. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa, untuk mengerjakan tugas-tugas
yang bermakna (meaningful learning).
c. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa
(learning by doing).
d. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi
antarteman (learning in a group).
e. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja
sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning
to know each other deeply).
f. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja
sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
g. Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy
activity).

h. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja


sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
i. Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy
activity).

Adapun dalam sosialisasi oleh Depdiknas, karakteristik pembelajaran berbasis


kontekstual, yaitu:Kerjasama

a. Saling menunjang
b. Menyenangkan
c. Tidak membosankan
d. Belajar dengan bergairah
e. Pembelajaran terintegrasi
f. Menggunakan berbagai sumber
g. Siswa aktif.

8
F. Kelebihan Dan Kekurangan Dari Pembelajaran CTL
Ada beberapa kelebihan dari pendekatan kontekstual , antara lain:

1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Siswa dituntut untuk dapat
menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata.
Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan
dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori
siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan;
2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada
siswa karena pendekatan kontekstual menganut aliran konstruktivisme, dimana
seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan
filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan
“menghafal”.
3) Pendekatan pembelajaran kontekstual, pada hakikatnya merupakan belajar yang
membantu guru dengan cara mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi nyata
siswa.
4) Mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh
komponen utama pendekatan pembelajaran kontekstual.
5) Mengutamakan pengalaman nyata (real word learning), berpikir tingkat tinggi,
berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, dan kreatif, pengetahuan bermakna, dan
kegiatannya bukan mengajar tetapi belajar.
6) Kegiatannya lebih kepada pendidikan bukan pembelajaran, sebagai pembentukan
manusia, memecahkan masalah, siswa acting dan guru mengarahkan, dan hasil
belajar diukur dengan berbagai alat ukur tidak hanya tes saja.
7) Informasi, sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan.
8) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil, artinya siswa dituntut untuk dapat
menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan
nyata.
9) Kontekstual adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa
secara penuh, baik fisik maupun mental.
10) Kelas dalam pembelajaran kontekstual bukan sebagai tempat untuk
memperoleh pengetahuan.

8
Beberapa kelemahan yang ada pada pendekatan pembelajaran kontekstual adalah sebagai
berikut:
1) Guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam dan
komprehensif tentang konsep pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
pembelajaran kontekstual itu sendir.
2) Potensi perbedaan individual siswa di kelas.
3) Beberapa pendekatan dalam pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas siswa.
4) Sarana, media, alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas
siswa dalam belajar.
5) Kemampuan siswa yang berbeda dalam inisiatif dan kreativitas,wawasan pengetahuan
yang memadai dari setiap mata pelajaran, perubahan sikap dalam menghadapi
persoalan, dan perbedaan tanggung jawab pribadi yang tinggi dalam menyelesaikan
tugas-tugas tanggung jawab guru menjadi lebih berat, yaitu bertanggung jawab untuk
memahami siswa sesuai dengan proses belajar dan tingkat perkembangannya
6) Serta mengarahkan proses pembelajaran agar tidak keluar dari indikator hasil belajar
yang telah ditentukan

G. Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran CTL


Trianto (2007:106) mengemukakan langkah penerapan CTL dalam kelas sebagai
berikut :

1. Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara
bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya.
2. Melaksanakan kegiatan inkuiri sejauh mungkin untuk semua topik.
3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Menciptakan masyarakat belajar (mengelompokan siswa dalamkelompok-kelompok
belajar).
5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6) Melakukan refleksi diakhir
pertemuan.

8
H. Penerapan Pembelajaran CTL Dalam Matematika
Penerapan model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) dalam
pembelajaran matematika akan mampu menarik perhatian siswa untuk berpartisipasi aktif
dalam belajar. CTL mengapresiasikan mata pelajaran dengan realita-realita yang telah
diketahui siswa dalam kehidupan sehari-hari. CTL akan menuntun siswa untuk memperoleh
pengetahuan yang bermakna sehingga siswa merasa akrab dengan matematika dan
menimbulkan minat serta motivasi dalam penguasaan materi.

Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,
bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Berdasarkan uraian diatas, maka Penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and
Learning (CTL) dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu solusi untuk
menjadikan mata pelajaran matematika lebih menarik.

Agar pembelajaran kontekstual berhasil dalam pelaksanaan proses belajar matematika, seorang
guru tentunya tidak boleh melupakan tujuh komponen yang harus ada dalam menerapkan
pembelajaran kontekstual dalam kegiatan pembelajaran matematatika yaitu kontruktivisme,
inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian nyata yang dilakukan
melalui pembelajaran materi bangun ruang, yakni sebagai berikut:

• Kontruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru


dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalamannya
Inkuiri : Guru meminta murid untuk memberikan contoh-contoh benda yang
mirip dengan macam-macam bangun ruang yang ada disekitar lingkungan
sekolah, dan guru meminta peserta didik untuk mencari unsur-unsur, rumus dan
sifat yang ada pada benda berbentuk bangun ruang tersebut.
• Bertanya, guru memberikan kesempatan muridnya untuk bertanya seputar
materi bangun ruang
• Masyarakat belajar, Guru memberikan muridnya kesempatan untuk berdiskusi
dengan temannya atau bertanya dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
• Kemudian pemodelan, Guru memberikan suatu alat peraga untuk membangun
pemahaman konsep materi bangun ruang, dan memotivasi siswa untuk
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.

11
• Refleksi, guru mejelaskan kembali dan memberikan kesimpulan atas apa saja
yang telah dipelajari pada materi bangun ruang.
• Penilaian nyata, guru mengumpulkan berbagai informasi dan data tentang
perkembangan belajar yang dilakukan peserta didik.

Pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran contextual


teaching and learning (CTL) akan dapat memberikan konstribusi dan sebagai salah satu strategi
yang tepat dalam penyampaian materi yang melibatkan siswa secara aktif tanpa kesan bahwa
matematika itu sulit dan kaku.

11
BAB 3

PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran kontekstual/ CTL adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada
filosofis paham konstruktivisme yang mana siswa ditekankan mampu menyerap pelajaran
apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka
menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru
dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya. Prinsip-
pronsip pembelajaran kontekstual, antara yaitu keterkaitan, relevansi (relation),
pengalaman langsung (experiencing), aplikasi (applying), alih pengetahuan (transferring),
kerja sama (cooperating), pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang telah dimiliki
pada situasi lain sedangakan dalam komponen pendekatan pembelajaran kontekstual
terdapat tujuh komponen yaitu kontruktivisme, inkuiri (Inquiry), bertanya (Questioning),
masyarakat Belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection),
penilaian Autentik (Authentic Assessment). Agar pembelajaran kontekstual berhasil dalam
pelaksanaan proses belajar matematika, seorang guru tentunya tidak boleh melupakan tujuh
komponen yang harus ada dalam menerapkan pembelajaran kontekstual dalam kegiatan
pembelajaran matematatika yaitu kontruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar,
pemodelan, refleksi, dan penilaian nyata yang dilakukan melalui pembelajaran materi
bangun ruang. Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
kontekstual yaitu siswa dilatih untuk belajar bekerja, menemukan, mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan barunya, siswa diarahkan untuk melaksanakan kegiatan
inquiry dan kembangkan rasa ingin tahu siswa dengan bertanya

B. Saran
Pada saat pembuatan makalah penulis menyadari bahwa banyak sekali kesalahan dan
jauh dari kesempurnaan. Dengan sebuah pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan dari
banyaknya sumber penulis akan memperbaiki makalah tersebut. Oleh sebab itu penulis
harapkan kritik serta sarannya mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.

1
DAFTAR PUSTAKA

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor:
Ghalia Indonesia

Ade, Sanjaya. 2011. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Karim, A. (2017). Analisis Pendekatan Pembelajaran CTL (Contextual Teaching And


Learning) Di SMPN 2 Teluk Jambe Timur, Karawang. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan
MIPA, 7(2).

Hamruni, Hamruni. "Konsep Dasar Dan Implementasi Pembelajaran Kontekstual." Jurnal


Pendidikan Agama Islam 12.2 (2015): 177-187.

Trianto, (2007), Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Prestasi


Pustaka Publisher, Jakarta.

Ardha. P. (2013). Peningkatan Aktivitas Belajar Melalui Model Pembelajaran Improve

http://ardhaphys.blogspot.co.id/2013/05/model-pembelajaran-kontekstual.htmldiakses pada
15 Oktober 2022

Putri, Y. (2017). Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika

https://www.kompasiana.com/ayuputri0214/5985bc9576698f330118c4f2/penerapan-
pendekatan-kontekstual-dalam-pembelajaran-matematika?page=all#section2 diakses pada 15
Oktober 2022

1
4
5
6
9
12
13
14

Anda mungkin juga menyukai