Laporan Praktikum Farmasi: Salep & Krim
Laporan Praktikum Farmasi: Salep & Krim
Disusun oleh :
Nim : 222001
1.Sediaan Salep
Salep adalah sediaan setengah padat yang dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat
harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemerian tidak boleh tengik. Kadar
kecuali dikatakan lain dan untuk salep yang menggunakan obat keras atau obat narkotik, kadar baha nobat
adalah 10 %.
1. Dasar SalepHidrokarbon
Bersifat lemak (bebas air), preparat yang berair mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah
sedikit saja. Dasar Hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien.
RESEP Salep
1,ResepSalep A
dr. SetiabudiHarahap
Jl. Teuku Umar 99X Denpasar
SIP : 5625/DKK-DU/III/2015
Telp : (0361) 2422256
R/ As. Salisilat 1%
Diphenhydramin HCL 1%
Adeps lanae qs
m.f. ungt 15 g
S.u.e
Alat :
Mortil dan stemper
Timbangan
Gelas ukur
Gelas beker
Cawan porselen
Pipet tetes
A. Perhitungan bahan
As. Salisilat : 1% x 15 gram = 0,15 gram =150 mg + 10 % = 165 mg
Diphenhydramin hcl : 1% x 15 gram = 150 mg +10% = 165 mg
Cera flava : 15% x 15 gram = 2,25 mg + 10% = 2,475 mg
Adeps lanae : 15 – ( 0,15 +0,15 + 2,25 ) = 15 – 2,55= 12,45 gram
B. Langkah kerja/prosedur pengerjaan
Hitung berapa jumlah adeps lanae yang diperlukan
Dalam cawan porselen, lelehkan cera flava dan adeps lanae.
Dalam mortir, masukkan asam salisilat dan tetesi dengan alcohol, gerus hingga halus.
Masukkan no (2) ke no (3) aduk hingga homogen dan dingin
Tambahkan diphenhidramin, aduh ad homogen.
Masukkan wadah dan beri etiket
Etiket sediaan
Copy resep
APOTEK MAHAGANESA FARMA
JL. Tukadbaritotimur 60 Renon Denpasar
(0361) 4749310
SIA :503.445/SIA/436.6.3/514/IX/2017.
APA :Indah Pertiwi S.Farm., Apt.
SIPA :19981111/SIP A-35.78.
APOGRAPH
NO RESEP: 01
Khasiat obat
Khasiat obat tersebut adalah untuk mengatasi masalah kulit yang diakibatkan penebalan/pengerasan kulit
Pembahasan
Pada praktikum sediaan semi solid adalah membuat dua buah sediaan yaitu salep dan krim. Tujuan dari
percobaan ini adalah memformulasikan salep dan mengetahuai cara pembuatan salep sesuai aturan. Salep
digunakan untuk pemakaian luar yang memiliki karakter tidak berbau, lunak dan mudah dipakai. Pada
percobaan ini membuat sediaan salep dengan berat 15g dengan resep yang sudah diberikan. Dalam
pembuatan salep ini menggunakan metode pencampuran, dalam metode pencampuran komponen dari
salep dicampur bersama sama dengan segala cara sampai sediaan tercampur rata dam menjadi sediaan
salep.
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam pembuatan salep melakukan penimbangan bahan sesuai
perhitungan, bahan yang digunakan yaitu asam salisilat sebanyak 165 mg, diphenhydramin sebanyak 165
mg, cera flava sebanyak 2,475 mg dan adeps lanae 12,45g.
Pada hasil akhir pembuatan salep yang diminta adalah 15g, tetapi hasil pembuatan tidak sesuai dengan yg
diminta yaitu 15,0g. Tapi berat tersebut berat salep dan pot salep dimana pot salep memiliki berat 6,0g.
Jadi saya kekurangan salep seberat 6,0g itu disebabkan saat memasukan salep ke dalam pot salep sisanya
masih menempel di mortil dan stemper.
Cara mengatasinya adalah dengan menambahkan 20% bahan dan saat pemindahan pastikan semua
sediaan terangkat semua/ tidak menempel pada mortil dan stemper
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas mengenai praktikum pembuatan salep dapat disimpulkan bahwa :
1. Formula salep yg dibuat dengan bahan asam salisilat, diphenhydramin,cera flava, dan adeps lanae
2. Salep adalah bentuk sediaan setengan padat atau semi solid yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar
3. Bentuk sediaan salep lunak dan mudah dipakai
4. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diminta
Daftar pustaka
1. https://www.academia.edu/7348764/144580033_laporan_salep
2. https://www.academia.edu/41233679/
LAPORAN_PRAKTIKUM_TEKNOLOGI_SEDIAAN_SEMI_SOLID_DAN_LIQUID
PRAKTIKUM X
SEDIAAN KRIM
TUJUAN
Mahasiswa dapat memahami dan mampu menyiapkan sediaan krim dan memahami inkompatibilitas
bahan dalam peracikan sediaan.
DASAR TEORI
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Kualitas dasar krim, yaitu stabil, selama masih dipakai
mengobati. Maka krim harus bebas dari inkopatibilitas, stabil pada suhu kamar, dan kelembaban yang ada
dalam kamar. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan
homogen
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol
berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetika
dan estetika.
1. Tipe a/m, yaitu air terdispersi dalam minyak Contoh : cold cream Cold cream adalah sediaan kosmetika
yang digunakan untuk maksud memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih,
berwarna putih dan bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar.
2. Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi dalam air Contoh: vanishing cream Vanishing cream adalah sediaan
kosmetika yang digunakan untuk maksud membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing
cream sebagai pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film pada kulit
RESEP Krim
1,Resep Krim A
dr. SetiabudiHarahap
Jl. Teuku Umar 99X
Denpasar SIP : 5625/DKK
-DU/III/2015Telp : (0361) 2422256
Cetasium 12,0%
S.u.e
Alat
1. Gelas beker
2. Cawan porselen
3. Mortil & stemper
Bahan
1. Cera alba
2. Tetracycline HCL
3. Cetasium
4. Paraffin liquid
5. Natrium tetraboras
6. Aquades
Perhitungan bahan
Tetracycline hcl : 1,0% x 15 gram =0,15 gram = 150 mg
Cera alba :12,5%x 15 gram =1,875 gram +10% = 2,0625 gram
Cetasium :12,0% x 15 gram = 1,8 gram +10% = 1,98 gram
Natrii tetraboras : 0,50% x15 gram= 0,075 gram =75 mg
Paraffin liguidum : 56,0 % x 15 gram = 8,4 gram + 10% = 9,24 gram
Aqua destilata : 15- (0,15 +1,875 + 8,4 +0,075 ) = 15-12,3= 2,7 gram
Etiket resep
3 x 1 sehari
Dioleskan pada kulit setelah mandi
COPY RESEP
KHASIAT OBAT
Khasiat obat tersebut adalah untuk mengobati infeksi pada kulit yang disebabkan oleh bakteri. Yang berisi
antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri. Dan antiseptikum ekstern untuk mengurangi infeksi pada kulit
bagian luar
Pembahasan
krim adalah Krim merupakan bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut dalam bahan dasar yang sesuai ( mengandung air tidak kurang dari 60%). Dalam pembuatan
krim ini dilakukan metode seperti pembuatan emulsi. Fase minyak dengan air yg dilebur kemudian
digerus dan ditambahkan zat aktif sampai homogen.
Pada saat pembuatan krim saya belum selesai karena terkendala saat penimbangan bahan, dan saya
terhenti di saat melelekan bahan. Karena waktu saya terpakai saat pembuatan salep.
Kesimpulan
Dari pembahasan diatas mengenai praktikum pembuatan salep dapat disimpulkan bahwa :
1. Krim merupakan bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut
dalam bahan dasar yang sesuai ( mengandung air tidak kurang dari 60%)
2. Formula salep yg dibuat dengan bahan tetracycline HCL, cera alba, cetasium, paraffin liquidum,
natrii tetraboras dan aqua destilata
Daftar pustaka
1. https://www.academia.edu/23066532/laporan_semsol_krim
LAPORAN RESMI
Disusun oleh :
Nama : Putu Sari Ardhyanti Utami
Nim : 222001
Praktikum XI
SEDIAAN PASTA
A. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat memahami dan mampu menyiapkan sediaan pasta dan memahami inkompatibilitas
bahan dalam peracikan sediaan
B. Dasar Teori
Pasta adalah sediaan semipadat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang
ditujukan untuk pemakaian topikal. Kelompok pertama dibuat dari gel fase tunggal
mengandung air, misalnya pasta Natrium Karbometilselulosa. Kelompok lain adalah pasta
berlemak misalnya pasta Zink Oksida merupakan salep yang padat, kaku yang tidak meleleh
pada suhu tubuh dan berfungsi sebagai lapisan pelindung pada bagian yang diolesi.
Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih menyerap dibandingkan dengan salep
karena tingginya kadar obat yang mempunyai afinitas terhadap air. Pasta ini cenderung untuk
menyerap sekresi seperti serum dan mempunyai daya penetrasi dan daya maserasi lebih
rendah dari salep. Oleh karena itu pasta digunakan untuk lesi akut yang cenderung
membentuk kerak, menggelembung atau mengeluarkan cairan (Anonim, 1995).
R/ Calamin 20%
Camphora 0,5%
Glycerol 10%
S.u.e
6. Copy Resep
APOTEK MAHAGANESA FARMA
JL. Tukadbaritotimur 60 Renon Denpasar
(0361) 4749310
SIA :503.445/SIA/436.6.3/514/IX/2017.
APA :Indah Pertiwi S.Farm., Apt.
SIPA :19981111/SIP A-35.78.
APOGRAPH
NO RESEP: 01
Pada hasil akhir pembuatan pasta yang diminta adalah 10g, tetapi hasil pembuatan tidak sesuai dengan yg
diminta yaitu 15g. Tapi berat tersebut berat salep dan pot salep, dimana pot salep memiliki berat 5,93g.
Jadi berat pasta yang saya peroleh adalah 13,55g Jadi saya kekurangan pasta seberat 1,45g itu disebabkan
saat memasukan pasta ke dalam potnya sisanya masih menempel di mortil dan stemper. Cara
mengatasinya adalah dengan menambahkan 20% bahan dan saat pemindahan pastikan semua sediaan
terangkat semua/ tidak menempel pada mortil dan stemper.
Kesimpulan
Saat pencampuran bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar
dengan vaselin atau bahan dasar yang tidak berlemak
Sediaan pasta yang saya buat kurang, tapi kurangnya tersebut seberat
1,45g
Pasta ini memiliki khasiat untuk mengurangi rasa sakit atau gatal pada
kulit
E. Daftar Pustaka
1) https://id.scribd.com/document/438968144/LAPORAN-PRAKTIKUM-PASTA
2) https://www.academia.edu/37869254/Kegunaan_dalam_formula
Praktikum XIII
SEDIAAN GEL
A. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat memahami dan mampu menyiapkan sediaan gel serta memahami inkompatibilitas
bahan dalam peracikan sediaan
B. Dasar Teori
Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. gel
kadang – kadang disebut jeli (Anonim, 1994).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV penggolongan sediaan gel dibagi menjadi dua
yaitu:
1. Gel sistem dua fase
Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar , massa gel
kadang-kadang dinyatakan sebagai magma misalnya magma bentonit. Baik gel maupun
magma dapat berupa tiksotropik, membentuk semipadat jika dibiarkan dan menjadi cair pada
pengocokan.Sediaan harus dikocok dahulu sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas.
2. Gel sistem fase tunggal
Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar sama dalam suatu
cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi
dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik misalnya karboner atau
dari gom alam misanya tragakan.
Menurut Lachman, dkk. 1994 sediaan gel memiliki sifat sebagai berikut:
1. Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert, aman
dan tidak bereaksi dengan komponen lain.
2. Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang
baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau
daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol, pemerasan tube, atau selama
penggunaan topical.
3. Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang
diharapkan.
4. Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM
besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau digunakan.
5. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga
pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh
polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut hanya pada air yang dingin yang
akan membentuk larutan yang kental dan pada peningkatan suhu larutan
tersebut akan membentuk gel.
6. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan
oleh pemanasan disebut thermogelation.
C. Kegiatan Praktikum
1. Dituliskan resep yang bersangkutan dan resep standar
dr. SetiabudiHarahap
Jl. Teuku Umar 99X Denpasar
SIP : 5625/DKK-DU/III/2015
Telp : (0361) 2422256
R/ piroxikan 0,5%
CMC Na 1%
Tween 80 5%
m.f. gel 20 g
S.u.e
Pro : rendy (17 tahun)
6. Copy Resep
APOTEK MAHAGANESA FARMA
JL. Tukadbaritotimur 60 Renon Denpasar
(0361) 4749310
SIA :503.445/SIA/436.6.3/514/IX/2017.
APA :Indah Pertiwi S.Farm., Apt.
SIPA :19981111/SIP A-35.78.
APOGRAPH
NO RESEP: 01
D. Pembahasan
Pada praktikum membuat sediaan semi solid adalah membuat dua buah sediaan yaitu pasta
dan gel. Pada percobaan ini membuat sediaan gel dengan berat 20g dengan resep yang
sudah diberikan. Pada pembuatan sediaan gel ini menggunakan bahan aktif piroxikam yang
merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivat enolat. Bentuk jel
lebih acceptable karena mempunyai efek dingin ketika digunakan. Gel kadang kadang
disebut jeli dan merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari
partikel organik yang kecil atau molekul organik yang besar terpenetrasi oleh suatu cairan.
Pada hasil akhir pembuatan gel yang diminta adalah 20g, tetapi hasil pembuatan tidak
sesuai dengan yg diminta. Tapi berat tersebut berat gel dan pot dimana potnya memiliki
berat 6,50g. berat pot dan gel adalah 14,0 Jadi saya kekurangan gel seberat 12,5g itu
disebabkan saat memasukan gel ke dalam pot sisanya masih menempel di mortil dan
stemper.karena kurang bersih saat memasukkanya ke dalam pot. Cara mengatasinya adalah
dengan menambahkan 20% bahan dan saat pemindahan pastikan semua sediaan terangkat
semua/ tidak menempel pada mortil dan stemper.
E. Kesimpulan
Bobot gel yang diminta 20g tapi gel yang saya buat kurang
Gel merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat
dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar
terpenetrasi oleh suatu cairan
Pada praktikum ini digunakan piroksikam sebagai bahan aktif karena
piroxicam berfungsi sebagai analgesik antiinflamasi untuk sediaan
topikal
F. Daftar Pustaka
1) https://id.scribd.com/doc/249335526/laporan-praktikum-gel-piroxicam
https://www.academia.edu/23022285/laporan_semsol_sediaan_gel
LAPORAN RESMI
Disusun oleh :
Nim : 222001
PRAKTIKUM VIII
SEDIAAN SUSPENSI
F. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat memahami dan mampu membuat sediaan suspensi dari resep
dokter dan memahami inkompatibilitas bahan dalam peracikan sediaan.
G. Dasar Teori
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak
larut yang terdispersi dalam fase cair. Beberapa suspensi dapat langsung
digunakan, sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus
dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum
digunakan. Suspensi harus dikocok baik sebelum digunakan untuk menjamin
distribusi bahan padat yang merata dalam pembawa, hingga menjamin
keseragaman dosis yang tepat. Suspensi harus disimpan dalam wadah tertutup
rapat.
Macam – macam suspensi :
a) Suspensi Oral
Sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam
pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai, dan ditujukan untuk
penggunaaan oral.
b) Suspensi Topikal
Sediaan cair mengandung partikel padat yang terdirpersi dalam
pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan kulit.
c) Suspensi Tetes Telinga
Sediaan cair mengandung partikel – partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada
telinga bagian luar (Anonim, 1995)
H. Kegiatan Praktikum
1. Resep Obat A
Dr. Candra W
SIP : 325/DKK-DU/III/2012
Telp : (0361)229988
PGA 1%
Sirup simplex 20%
Aquades q.s ad 5 ml
S.t.dd cth II
4. Cara kerja
Timbang seluruh bahan yang diperlukan
Buat mucilago dengan cara mencampurkan PGA dan sebagian aquadest
Tambahkan sirupus simplek aduk ad homogeny
Tambahkan sisa aquadest, aduk ad homogen
Masukkan wadah dan beri etiket
5. Etiket sediaan
Etiket putih
Ando (5 TAHUN)
6. Copy Resep
I. Pembahasan
Suspensi adalah sediaan air yang mengandung partikel padat tidak larut yang
terdispersi dalam fase cair. Partikel yang terdapat dalam suspensi dapat
mengendap pada dasar wadah bila didiamkan. Bahan aktif yang kami gunakan
dalam pembuatan suspensi adalah Choramphenicol palmitat. Pembuatan
choramphenicol menjadi sediaan suspensi bertujuan untuk menutupi rasa pahit
dari zat aktif dan sediaan ini banyak digunakan untuk pasien anak anak.
Choramphenicol merupakan antibiotik spektrum luas dan untuk mengobati
infeksi yg disebabkan oleh mikroorganisme. Choramphenicol bekerja dengan
cara menghambat pertumbuhan bakteri dalam tubuh.
Langkah pertama dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan lalu ditimbang
sesuai resep. Dan buatlah mucilago dengan mencampurkan PGA dan sebagian
aquades. Hasil praktikum saya membuat sediaan suspensi melebihi resep.
Disuruh membuat suspensi 60ml tetapi saya 65 ml disebabkan karena ukuran
botol
J. Kesimpulan
1. Suspensi merupakan sediaan air yang mengandung partikel padat tidak larut
yang terdispersi dalam fase cair.
2. Praktikum kali ini membuat sediaan suspensi choramphenicol yang merupakan
antibiotik
3. Hasil praktikum kali ini adalah melebih dari resep yaitu lebih 5ml
4. Suspending agent yang digunakan adalah PGA
K. Daftar Pustaka (5)
1. https://www.academia.edu/36125713/laporan_suspensi
2. https://www.studocu.com/id/dokument/universitas-muhammadiyah-malang/
farmasetika-sediaan-liquida/laporan-suspensi
3. https://www.academia.edu/43107653/jurnal_praktikum_suspensi_choramphenicol
PRAKTIKUM IX
SEDIAAN EMULSI
A. Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat memahami dan mampu membuat sediaan emulsi dari resep dokter dan
memahami inkompatibilitas bahan dalam peracikan sediaan
B. Dasar Teori
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi
dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang
merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa, sistem
ini disebut emulsi minyak dalam air. Sebaliknya jika air atau larutan air yang
merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti minyak merupakan
fase pembawa, sistem ini disebut emulsi air dalam minyak. Emulsi dapat
distabilkan dengan penambahan pengemulsi (surfaktan).
Konsistensi emulsi sangat beragam, mulai dari cairan yang mudah
dituang, hingga krim setengah padat. Semua emulsi memerlukan bahan
antimikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme
(Anonim, 1995)
Bahan-bahan yang diperlukan ditambahkan dalam pembuatan emulsi,
antara lain : (Ansel, 1989)
a. Bahan pengemulsi sebagai emulgator
Untuk mencegah koalesansi sehingga tetesan besar menjadi tetesan kecil.
b. Bahan pengemulsi sebagai surfaktan
Untuk mengurangi tegangan permukaan antara fase eksternal sehingga
proses emulsifikasi dapat ditingkatkan.
c. Pengental
Untuk mempengaruhi kestabilan emulsi.
d. Pengawat
Ditambahkan untuk semua jenis emulsi terutama emulsi minyak
dalam air karena kontaminan fase dan air mudah terjadi.
e. Zat-zat tambahan
Pemanis, pewarna, dan pewangi
C. Kegiatan Praktikum
Resep obat A
dr. Candra W
Jl. Diponegoro 111 Denpasar
SIP : 325/DKK-DU/III/2012
Telp : (0361) 229988
PGA q.s
Gicerin 20%
Aquades q.s ad 50 ml
S. t. Dd C I
Citra (8 TAHUN)
5. Copy Resep
APOTEK MAHAGANESA FARMA
JL. Tukadbaritotimur 60 Renon Denpasar
(0361) 4749310
SIA :503.445/SIA/436.6.3/514/IX/2017.
APA :Indah Pertiwi S.Farm., Apt.
SIPA :19981111/SIP A-35.78.
APOGRAPH
NO RESEP: 01
D. Pembahasan
Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain
dalam bentuk tetesan kecil. Dalam pembuatan emulsi pemilihan suatu emuglator
merupakan faktor yang penting karena dapat mempengaruhi hasil. Emulsi terdiri dari 2 fase
yaitu : fase minyak dalam air, dan fase air dalam minyak
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan emulsi dengan menggunakan zat aktif Oleum ricini
atau Minyak Jarak. Emuglator yang digunakan adalah emuglator alam (PGA). PGA
merupakan emuglator yang mudah larut dalam air. Maka dari itu digunakan lah pembuatan
emulsi dengan metode basah.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahannyang digunakan, lalu
timbang sesuai perhitungan. Dengan menggunakan metode basah terlebih dahulu membuat
mucilago yang kental dengan sedikit air.
Hasil praktikum saya membuat sediaan emulsi sebanyak 50 ml, hasil yg sy buat kurang dari
yg disruh dalam resep karena ukuran botol saya miliki ukuran kesamping dan menjadi hasil
praktikum saya kurang yaitu 45 ml.
E. Kesimpulan
1. Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan
yang lain dalam bentuk tetesan kecil
2. Untuk menstabilkan emulsi dibutuhkan suatu zat yang bernama Emuglator
3. Hasil praktikum saya
F. Daftar Pustaka
1. https://www.academia.edu/7613639/Laporan_emulsi
2. https://www.academia.edu/4833730/
laporan_praktikum_farmasetika_emulsi