0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
363 tayangan14 halaman

Berat Jenis Beton

Dokumen tersebut membahas tentang pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar yang dilakukan di Laboratorium Pengujian Beton Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang. Tujuan pengujian ini adalah untuk menentukan berat jenis agregat kasar dalam keadaan jenuh air kering permukaan dan mengetahui persentase berat air yang dapat diserap. Hasil pengujian menunjukkan bahwa berat jenis dan penyer

Diunggah oleh

Bintang Pratama
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
363 tayangan14 halaman

Berat Jenis Beton

Dokumen tersebut membahas tentang pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar yang dilakukan di Laboratorium Pengujian Beton Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang. Tujuan pengujian ini adalah untuk menentukan berat jenis agregat kasar dalam keadaan jenuh air kering permukaan dan mengetahui persentase berat air yang dapat diserap. Hasil pengujian menunjukkan bahwa berat jenis dan penyer

Diunggah oleh

Bintang Pratama
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LABORATORIUM PENGUJIAN BETON

JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

JOB II
BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR
A. TUJUAN

Untuk menentukan berat jenis agregat dalam keadaan jenuh air kering
permukaan (SSD) serta dapat mengetahui presentase berat air yang dapat diserap oleh
agregat kasar yang dihitung terhadap berat keringnya.

B. DASAR TEORI

Berat jenis kering (bulk specific gravity) adalah perbandingan antara berat
agregat kering dan berat air yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh
pada suhu tertentu. Berat isi permukaan (SSD) yaitu perbandingan antara berat
agregat kering permukaan jenuh dengan berat isi suling yang beratnya sama dengan
berat agregat dalam keadaan jenuh pada suhu 25ºC.

Penyerapan adalah presentase berat air yang diserap pori-pori terhadap berat
agregat kering, besar penyerapan ini tergantung porositas yaitu berupa volume pori-
pori yang dapat menyerap air. Adapun berat jenis yang disyaratkan untuk agregat
halus yaitu 1,6 – 3,2 dan penyerapan 0,2 – 2 %.

Rumus :

Bk
Berat Jenis Kering Oven =
( Bj−Ba)

Bj
Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh (SSD) =
( Bj−Ba)

Bk
Berat Jenis Semu =
( Bk−Ba)

( Bj−Bk )
Penyerapan = ×100%
Bk

Keterangan :

Bk = Berat benda uji kering oven (gr)

Bj = Berat benda uji kering permukaan jenuh (gr)

Ba = Berat benda uji kering permukaan jenuh di dalam air (gr)

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

C. ALAT DAN BAHAN

1. Alat

a. Talam c. Sendok sampel

b. Timbangan d. Majun

e. Kontainer berisi air

2. Bahan

a. Agregat Kasar (Batu Pecah 2-3)

b. Air

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

D. LANGKAH KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Mencuci benda uji hingga bersih, setelah bersih buang air cuci benda uji dan
menghamparkan benda uji di atas karung, angin-anginkan lalu dilap menggunakan
majun sehingga terjadi proses pengeringan yang merata.

3. Menimbang agregat kasar dalam keadaan jenuh air kering permukaan (SSD)

4. Memasukkan keranjang ke dalam kontainer yang berisi air dan dikaitkan pada
pengait yang terhubung dengan timbangan, tunggu hingga permukaan jadi stabil
kemudian stel timbangan pada posisi nol.

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

5. Memasukkan benda uji kondisi SSD ke dalam keranjang kemudian catat berat
benda uji dalam air.

6. Mengeluarkan benda uji dari dalam air, kemudian masukkan benda uji ke dalam
oven selama 24 jam.

7. Menimbang berat benda uji kering oven (BK)

8. Lakukan percobaan sebanyak 3 kali untuk mengambil rata.

E. DATA DAN PERHITUNGAN


1. Data

Lokasi : Laboratorium Pengujian Beton

Waktu : Kamis/17 februari 2022

Dikerjakan Oleh : Kelompok 4


KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

Tabel 1.1 Data Pengujian Berta Jenis Agregat Kasar Batu Pecah 2-3

Uraian Sampel I Sampel II Sampel III Rata-rata

Berat benda uji kering oven, 3154,84 3179,43 3156,67 3163,646


Bk (gr)

Berat benda uji kering permukaan 3009,49 3004,62 3008,816 3008,816


jenuh Bj (gr)

Berat benda uji dalam air 1613,84 1944,24 2011,143 2011,143


Ba (gr)

2. Perhitungan
a. Sampel 2
Bk
 Berat Jenis Kering Oven =
( Bj−Ba)

3163,646
=
(3008,816−2011,143)

= 3,17 gram
Bj
 Berat Jenis SSD =
( Bj−Ba)

3008,816
=
(3008,816−2011,143)

= 3,01 gram
Bk
 Berat Jenis Semu =
( Bk−Ba)

3163,646
=
(3163,646−2011,143)

= 2,74 gram

( Bj−Bk )
 Penyerapan = ×100%
Bk

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

(3008,816−3163,646)
= x 100%
(3163,646)

= 4,89 %

Uraian Sampel Rata-rata

I II III
Berat benda uji kering oven,
3154,84 3179,43 3156,67 3163,646
Bk (gr)

Berat benda uji kering permukaan jenuh 3009,49 3004,62 3008,816 3008,816
Bj (gr)

Berat benda uji dalam air Ba (gr) 1613,84 1944,24 2011,143 2011,143

Berat jenis curah = 2,26 2,97 5,92 3,71

Berat jenis kering permukaan jenuh = 2,15 2,83 5,60 3,52

Berat jenis semu = 2,04 2,60 4,51 3,05

Penyerapan = x100% 4,60% 4,81 % 5,25% 4,886%

Tabel 1.2 Data Hasil Perhitungan Berat Jenis dan Penyerapan AK

F. KESIMPULAN
Dari hasil perhitungan yang dilakukan dengan menganalisis data yang ada,
maka diperoleh nilai rata-rata :
1. Berat jenis curah = 3,71 gram
2. Berat benda uji SDD = 3,52 gram
3. Berat jenis semu = 3,05 gram
4. Penyerapan = 4,886 %
Sehingga berat jenis agregat kasar yang diujikan tersebut tidak memenuhi syarat
karena melebihi batas syarat yaitu 1,6 – 3,2 . Begitu pula dengan penyerapan
agregat kasar yang tidak memenuhi syarat, dimana penyerapa rata-rata agregat
kasar yang diperoleh yakni 4,886 % dan syaratnya yaitu antara 0,2 – 2%.

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

G. DOKUMENTASI

Mencuci sampel agregat Membuang air cucian Mengangin-anginkan


kasar batu pecah 2-3 sampel jika sudah bersih sampel untuk diuji

Melap sampel batu Menimbang sampel Memasukkan keranjang


menggunakan majun dalam keadaan jenuh ke dalam kontainer yang
agar kering berisi air dan sampel

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

JOB I
ANALISA SARINGAN AGREGAT KASAR
(BATU PECAH 2-3)
A. TUJUAN
Untuk memperoleh distribusi besaran atau jumlah persentase butiran baik
agregat kasar.
B. DASAR TEORI

Agregat merupakan material alami atau buatan yang berfungsi sebagai bahan
campuran beton. Agregat menempati +70% volume beton, sehingga sangat
berpengaruh terhadap sifat apapun kualitas beton, sehingga pemilihan agregat
merupakan bagian yang penting untuk pembuatan beton. Mengingat bahwa agregat
merupakan jumlah yang cukup besar dari volume beton dan sangat mempengaruhi
sifat beton, maka perlu suatu material ini diberi perhatian yang lebih detail dan teliti
dalam setiap pembuatan suatu campuran beton. Disamping itu, agregat dapat dapat
mengurangi penyusutan akibat perkerasan beton dan juga mempengaruhi koefisien
pemuaian akibat suhu panas, pemilihan jenis agregat yang akan dipilih tergantung
pada mutu agregat, ketersedianya di lokasi, harga serta jenis kontruksi yang akan
menggunakannya.

Agregat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu:

1. Agregat alam merupakan agregat yang bentuknya alami, terbentuk


berdasarkan aliran air sungai dan degradasi. Agregat yang terbentuk dari
aliran air sungai berbentuk bulat dan licin, sedangkan agregat yang
terbentuk dari proses degradasi berbentuk kubus (bersudut) dan
permukaanya kasar.

2. Agregat buatan merupakan agregat yang berasal dari hasil sambingan

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

pabrik-pabrik semen dan mesin pemecah batu.

Banyaknya hal yang harus diketahui mengenai agregat, karna setiap pekerjaan
kontruksi apapun, agregat merupakan hal yang sangat penting, untuk itu diperlukan
pemahaman yang lebih mengenai agregat supaya menghasilkan kontruksi yang baik
dan berkualitas. Menurut Silvia Sukirman (2003), agregat merupakan buti-butir batu
pecah, kerikil, pasir atau mineral lain, baik yang berasal dari alam maupun buatan
yang berbentuk mineral padat berupa ukuran besar maupun kecil (fragmen-fragmen)
yang berfungsi sebagai bahan campuran atau pengisi dari suatu beton. Sedangkan
menurut Tjokodimulyo (1992) agregat umumnya digolongkan menjadi 3 kelompok,
yaitu :

1. Batu, untuk besar butiran lebih dari 40mm

2. Kerikil, untuk besar butiran antara 5mm sampai 40mm

3. Pasir, untuk butiran antara 0,15mm sampai 5mm

Jenis agregat yang digunakan sebagai bahan susunan beton adalah agregat
halus dan agregat kasar.

Menurut SNI 03-1968-1990, Analisa saringan agregat ialah penentuan


persentase berat butiran agregat yang lolos dari satu set saringan kemudian angka-
angka persentase digambarkan pada grafik pembagian butir.
Berdasarkan SK SNI S-04-1989-F tentang Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A, agregat
kasar harus memenuhi persyaratan dan ketentuan seperti berikut ini:
1. Butiran agregat kasar harus bertekstur keras dan tidak berpori, indeks kekerasan < 5%.
2. Agraget kasar harus bersifat kuat, tidak mudah pecah atau hancur. Ketika diuji dengan
larutan garam Natrium Sulfat bagian yang hancur tidak boleh lebih dari 12%-nya, jika
diuji dengan garam Magnesium Sulfat bagian yang hancur pada agregat kasar tidak
boleh lebih dari18%.
3. Agregat kasar tidak mengandung lumpur (butiran halus yang lewat ayakan 0,06) lebih
dari 1% dalam berat keringnya, jika melampuai 1% maka harus dicuci.
4. Agregat kasar ini tidak boleh mengandung zat relatif alkali yang dapat merusak beton.
5. Butiran agregat kasar yang pipih dan panjang tidak boleh lebih dari 20% dari berat
agregat seluruhnya.
6. Modulus halus butir atau angka kehalusan (fineness modulus) pada agregat kasar
berkisar antara 6 – 7,1 dan dengan variasi butir sesuai standar gradasi.

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

7. Ukuran butir agregat kasar maksimalnya tidak boleh melebihi dari 1/5 jarak terkecil
antara bidang-bidang samping cetakan, 3/4 jarak bersih antar tulangan atau berkas
tulangan, dan 1/3 tebal pelat beton.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Talam d. Oven

b. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram e. Sendok sampel

c. Saringan No. 1, ¾, 1/2 , 3/8, PAN f. Majun

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

2. Bahan
a. Agregat kasar (Batu pecah 2-3)

D. LANGKAH KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Mengeringkan agregat kasar (batu pecah 2-3) ke dalam oven selama 24 jam.

3. Mendinginkan agregat kasar yang telah dari oven.

4. Menimbang agregat kasar yang telah di oven dan akan di ayak.

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

5. Memasukkan agregat kasar ke dalam saringan yang telah disusun

6. Mengayak agregat kasar hingga sampai ke PAN.


7. Menimbang agregat kasar yang tertahan di masing-masing saringan.

E. DATA DAN PERHITUNGAN


1. Data

Lokasi : Laboratorium Pengujian Beton

Waktu : Kamis, 17 Maret 2022

Dikerjakan oleh : Kelompok 4


Tabel Data Hasil Percobaan Analisa Saringan Agregat Kasar (Batu Pecah 2-3)

Ukuran Berat awal benda uji = 3038,63


Nomor gram
saringan
saringan
(mm) Berat tertahan (gram)
1
1 " 37,5 0
2
1" 25,0 380,52
3/4 " 19,0 245,51
1/2" 12,5 845,40
3/8" 9,5 1361,04
4" 4,8 0
8" 2,4 0
16" 1,2 0
30" 0,6 0
50" 0,3 0
100" 0,15 0
Pan - 206,16
KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

2.
Berat awal benda uji = 3038,68 gr
Ukuran Jumlah Persentase
Nomor Berat Persentase
Saringan Berat Komulatif
Saringan Tertahan Tertahan
(mm) Tertahan Tertahan
(gr) (%)
(gr) (%)
1
1 " 37,5 0 0 0 100
2
1" 25,0 380,52 380,52 12,52 87,48
3/4 " 19,0 245,51 626,03 20,6 79,4
1/2" 12,5 845,40 1471,43 48,42 51,58
3/8" 9,5 1361,04 2832,47 93,22 6,78
4" 4,8 0 3038,63 100 0
8" 2,4 0 0 100 0
16" 1,2 0 0 100 0
30" 0,6 0 0 100 0
50" 0,3 0 0 100 0
100" 0,15 0 0 100 0
Pan - 206,16 3038,68 100 0
Jumlah 3038,68 100
Perhitungan

1
Saringan 1 "
2

Jumlah berat tertahan = Jumlah berat tertahan sebelumnya + berat tertahan

= 0 + 380,52

= 380,52 gram

jumlah berat tertahan


%jumlah berat tertahan = x 100 %
berat benda uji awal

380,52
= x 100 %
3038,63

= 12,52%

% lewat = 100 - %jumlah berat tertahan

= 100 – 12,52%

= 87, 48%
Tabel Data hasil perhitungan pengujian analisa saringan agregat kasar (Batu Pecah 2-3)

KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
LABORATORIUM PENGUJIAN BETON
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

Modulus kehalusan batu pecah

Fbatu pecah =
∑ PERSENTASI KOMULATIF TERTAHAN SARINGA N 0,15 KEATAS
100
12,52+ 20,6+48,42+93,22+(6 x 100)
=
100
= 7,74 mm (memenuhi)

Modulus kehalusan batu pecah sebesar 7,74 mm. Sedangkan syarat batas
modulus kehalusan agregat menurut ASTM adalah 5,5 – 8,5 sehingga, modulus
kehalusan batu pecah 2-3 ini memenuhi persyaratan karena berada dalam range yang
ditetapkan.

F. KESIMPULAN

Dari data di atas maka dapat diketahui bahwa modulus kehalusan agregat kasar
memenuhi syarat ASTM yaitu 5,5 – 8,5 sehingga modulus kehalusan batu pecah 2-3
memenuhi syarat yaitu 7,74 mm.

G. DOKUMENTASI
KELOMPOK 4
KELAS 2C - TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL

Anda mungkin juga menyukai