Agregat (kasar dan halus): 70%-85% total campuran beton
KERIKIL
BATU PECAH
PASIR
JENIS AGREGAT
AGREGAT BERAT AGREGAT NORMAL AGREGAT RINGAN
ALAM BUATAN ALAM BUATAN AN ORGANIK
PECAHAN
ORGANIK
BUTIR BAJA POTONGAN BETON
BAJA & BESI
BARIT
ALAM BUATAN
MAGNETIT SERBUK GERGAJI
LIMONIT BATU APUNG PECAHAN KAYU
BATU PECAH SERAT ASBES JERAMI
LAVA KEROPOS SERUTAN KAYU
BIJIH
MANGAN ALWA
BAKARAN :
PASIR & KERIKIL
ALAM PERLIT,OBSIDIAN,
VERMIKULIT
SERAT GELAS
SIFAT AGREGAT
1. BENTUK BUTIR
A. BULAT D. PIPIH
Pasir dan kerikil sungai lebar > 3 tebal
B. TIDAK BERATURAN E. MEMANJANG
Kerikil sungai & gunung panjang > 3 lebar
C. BERSUDUT F. PIPIH & MEMANJANG
Batu pecah (split)
2. TEKSTUR PERMUKAAN
3. KEKerasan AGREGAT
Kemampuan agregat menahan beban mekanis, baik itu beban
tekan , gesekan (aus) atau beban tumbuk
Jenis Pengujian :
- Kuat tekan : Kubus 50 mm/ silinder Ø 25 atau 50 mm
- Crushing value (BS) : Agregat 14 – 10 mm
- Ketahanan aus dengan mesin Los angeles
agregat 19 – 12,5 mm dan agregat 12,5 – 9,5 mm
- Bejana tekan Rudeloff
agregat 19 – 12,5 mm dan agregat 12,5 – 9,5 mm
Langkah Kerja
Saring agregat kasar
Timbang bejana Masukan agregat
dengan susunan ayakan
silinder dan stempel 14 mm dan 10mm yang tertahan 10mm
penekan ke dalam bejana
Timbang berat
Tusuk dengan bejana + agregat
Letakan stempel
batang pemadat kasar
sebanyak 25 kali penekan
Hentikan
Saring agregat
Letakan pada penekanan dan
keluarkan dengan ayakan
mesin penekan 2,36 mm
agregat
Timbang dan
hitung
Cuci agregat yang Oven prosentasenya
lolos ayakan 2,36 agregat
Langkah Kerja
Cuci agregat, dan oven Saring dan Masukan agregat
pada suhu 110±5 dan bola baja ke
timbang benda dalam mesin Los
selama 24 jam
uji sebagai W1 Angeles
Cuci dan oven agregat Saring dengan
Keluarkan
yang tertahan ayakan 1,7 ayakan 1,7 mm
mm agregat
Timbang yang lolos
sebagai W2 dan hitung
prosentasenya
KADAR AIR DALAM AGREGAT
KERING OVEN KERING UDARA
JENUH KERING
BASAH
PERMUKAAN (SSD)
5. PENYERAPAN DAN KADAR AIR
Penyerapan Kadar air adalah
adalah kemampuan jumlah air yang
agregat menyerap air terdapat di dalam
dari kondisi kering agregat.
oven sampai kondisi
jenuh kering
permukaan (SSD)
% Penyerapan =
% kadar air SSD
4. BERAT JENIS dan berat isi
A. BERAT JENIS 3. Berat Jenis SSD
1. Berat jenis absolut Perbandingan berat jenuh
perbandingan antara berat masa dgn volume benda
masa dengan volume benda yang pori kapilernya
(volume masif, tanpa pori) jenuh air (volume jenuh)
Benda uji dibuat tepung 4. Berat jenis kering oven
2. Berat jenis semu (apparent) Perbandingan berat kering
Perbandingan antara berat oven dengan volume
kering oven dengan volume benda yang pori kapilernya
benda, termasuk volume yg jenuh air (volume jenuh)
tidak tembus air & tidak
termasuk volume kapiler yg
dpt terisi air (Volume kering)
Langkah Kerja
Agregat Halus
Periksa apakah
Pisahkan antara
Rendam benda uji agregat telah
yang kasar (>4,75 Keringkan hingga
dalam air pada suhu mencapai SSD atau
mm) dan yang
kamar ±24 jam
halus (<4,75 mm)
mencapai SSD belum
Timbang berat Timbang berat timbang agregat
piknometer + air
Timbang berat
benda uji halus SSD sekitar
+ agregat + tutup piknometer + air
250 gram
kering (Bk) kaca (Bpj) + kaca (Bp) (Bj)
Langkah Kerja (lanjutan)
Agregat Kasar
Cuci dan rendam benda lap dengan kain lembab Timbang benda uji dalam
uji dalam air pada suhu sampai selaput air pada keadaan SSD tersebut
permukaan agregat hilang (Bj)
kamar ±24 jam (SSD)
keringkan dalam oven Keluarkan benda uji
Timbang benda pada suhu 110 °C dan tampung dalam
uji (Bk) sampai berat tetap cawan
B. BERAT ISI
Perbandingan antara berat benda dan isinya
dalam satuan kg/l atau kg/m3
1. Berat isi Padat
Berat agregat dipadatkan dalam 3 lapis dan tiap lapis
ditusuk 25 X
(digetar)
2. Berat isi Gembur
Berat agregat tanpa adanya perlakuan pemadatan
6. KEAWETAN
5. UKURAN BUTIR MAKSIMUM
6. BAHAN-BAHAN MERUGIKAN YANG TERDAPAT
PADA AGREGAT
• ZAT ORGANIK • TANAH LIAT & LUMPUR
Zat ini berasal dari hasil Lumpur adalah hasil
penghancuran tumbuhan dan pelapukan batuan yang
binatang. bersifat tidak kekal.
Zat ini terdapat pada agregat Ukuran butir lumpur < no.200
halus. Pengaruhnya :
Pengaruhnya: - bertambahnya air pencampur
Memperlambat pengikatan - berkurangnya ikatan pasta &
semen dan kekuatan beton turunnya kekuatan beton
khususnya gula dan minyak - menambah penyusutan dan
Metode Pengujian : creep
Cara kolorimetrik
• GARAM CHLORIDA & SULFAT • PARTIKEL TIDAK KEKAL
Garam-garam tersebut : Na, Dapat berupa : arang, kayu,
Mg, Ca, NaCl, MgSO4 mika dan tanah liat keras.
Pengaruhnya : Pengaruhnya :
- Karatnya tulangan - Mengurangi kekuatan &
- Membesarnya volume ketahanan beton
beton → MgSO4 - Memperbesar kebutuhan air
- Rendahnya ketahanan & - Pyrit berukuran 5 - 10 mm
kekuatan beton → adanya menimbulkan bintik2, retak →
kerang dan pecahnya permukaan
beton
Uji pyrit : masukkan agregat ke
dalam air kapur shg endapan
berwarna coklat.
7. SUSUNAN BUTIR AGREGAT(GRADASI)
JENIS Agregat Halus ---- <4,75 mm –
SESUAI 0,075 mm
SPEK
Agregat Kasar ---- > 4,75 mm
ADUKAN Dibutuhkan suatu proporsi yang baik
BETON (optimal) untuk bisa saling mengisi
KOMPAK
DAN
antara Agregat Halus dengan Agregat
PADAT Kasar.
19
TYPE GRADASI AGREGAT
Gradasi Kasar Seragam Gradasi Halus Seragam
Gradasi Celah
Gradasi menerus/
kontinyu (gradasi baik)
20
SUSUNAN BUTIR (GRADASI)
• GRADASI ADALAH • PENGARUH GRADASI
DISTRIBUSI UKURAN BUTIR A. TERHADAP BETON SEGAR :
AGREGAT
MENGGUNAKAN AYAKAN YG
DISUSUN BERURUTAN DARI
YG BESAR DILETAKKAN - Kelecakan (workability)
DIATAS - Sifat kohesi
- Jumlah semen & air pencampur
• KURVA GRADASI IDEAL - Pengecoran & pemadatan
DISEBUT GRADASI FULLER , - Kontrol segregasi & bleeding
• % Gradasi Ideal dinyatakan
dengan rumus : B. TERHADAP BETON KERAS
- Kepadatan
Pt = (d/D)n
d = ukuran butir agregat - Kekuatan (Strength)
D = ukuran butir max - Keawetan (durability)
n = konstanta = 0,35 – 0,45
21
ISTILAH DALAM UJI GRADASI
1. KURVA GRADASI : 3. PENENTUAN UKURAN BUTIR
Kurva ini berbentuk grafik hubungan MAKSIMUM :
antara ukuran butir agregat dengan - ¾ Jarak bersih antar tulangan
% lolos komulatif . - 1/5 Jarak antar cetakan
- 1/3 Tebal struktur minimum
3. % LOLOS KOMULATIF :
2. BESAR BUTIR AGREGAT
A. Butir maksimum :
% Lolos agregat pada setiap ayakan
Ukuran butir agregat yg dihitung berdasarkan berat agregat
terbesar, bila lolos komulatif keseluruhan.
sebesar 100%.
4. MODULUS KEHALUSAN (FINE
B. Butir Nominal maksimum MODULUS):
Ukuran butir agregat bila lolos Jumlah % tertahan komulatif agregat
komulatif sebesar (90 -100)%. dari masing-masing ayakan yang
memiliki kelipatan 2, yg dimulai dari
ayakan 0,15 mm di bagi 100%.
22
23
Tabel 1 Ukuran ayakan
24
ANALISA AYAK AGREGAT HALUS
Contoh Perhitungan Analisa Ayak dan FM
25
PENGARUH PROPORSI AGREGAT
BILA KADAR AGREGAT KASAR BILA KADAR AGREGAT KASAR
TERLALU BANYAK TERLALU SEDIKIT(Oversanded)
(Undersanded) : :
- Total luas permukaan agregat
- Banyak rongga dalam beton bertambah besar
- Timbul segregasi (pemisahan - Kebutuhan air bertambah
butir agregat halus dan kasar) untuk slump yg sama
- Adukan sulit dikerjakan - Terjadi bleeding (keluarnya air
semen dalam beton)
- Mutu beton rendah
- Kekuatan rendah
- Kebutuhan semen bertambah
26
Pengaruh Sifat Agregat terhadap Beton
1. PERSYARATAN AGREGAT HALUS
BETON
PENGERTIAN
Ukuran butir maksimum 5 mm (SK SNI S-04-
1989 F)
Ukuran butir maksimum 4,75 mm (ASTM C.33)
PERSYARATAN (SK SNI S-04-1989 F)
a) Terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras,
dengan indeks kekerasan ≤ 2,2;
b) Harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau
hancur oleh pengaruh cuaca, seperti terik
matahari dan hujan;
c) Sifat kekal, apabila diuji dengan garam sulfat
Natrium Sulfat, yg hancur maks. 12%
Magnesium Sulfat, yg hancur maks. 10%
IIA. AGREGAT HALUS (lanjuta
d) Kandungan Lumpur Maksimum 5%:
Lumpur = Butir Lolos 0,06 mm (SK SNI S-04-
1989 F)
Lumpur = Butir Lolos 0,075 mm (ASTM C.33)
e) Tidak boleh mengandung bahan organis terlalu
banyak:
Direndam larutan 3% NaOH, harus lebih
muda atau sama degan warna pembanding.
Minimum 95%, dibanding kuat tekan mortar
standar
f) Untuk beton dengan tingkat keawetan tinggi,
reaksi Agregat halus terhadap alkali harus
negatif.
g) Pasir laut tidak boleh dipakai untuk semua mutu
beton, kecuali ada petunjuk dari lab. Yang diakui
PERSYARATAN (lanjutan)
h) Gradasi:
Modulus Kehalusan (Fineness Modulus/FM)
1,5 – 3,8 (SK SNI S-04-1989 F)
2,3 – 3,1 (ASTM C.33)
Harus terdiri dari butir-butir yang beraneka
ragam besarnya
Susunan butir, harus memenuhi salah satu
zona: 1, 2, 3, atau 4 (SKBI/ BS.882), dan
harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
Sisa di atas ayakan 4,8 mm, maks. 2%
berat;
Sisa di atas ayakan 1,2 mm, maks. 10%
berat:
Sisa di atas ayakan 0,3 mm, maks. 15%
berat
IIA. AGREGAT HALUS (lanjutan)
Tabel 2a.1 Persyaratan Susunan Butir BS.882 & ASTM
C.33
IIA. AGREGAT HALUS (lanjutan)
Tabel 2a.2 Persyaratan Susunan Butir U.S. Bureau
2. PERSYARATAN AGREGAT KASAR
PENGERTIAN
Ukuran butir 5 mm – 40 mm (SK SNI S-04-1989 F)
Ukuran butir > 4,75 mm (ASTM C.33)
Maksimum butir tergantung dari pemakaian.
PERSYARATAN (SK SNI S-04-1989 F)
a) Terdiri dari butir-butir yang keras, kadar bagian
lemah jika digores batang tembaga, maks. 5%
dan jika diuji dengan metoda lain serti tabel
2b.1;
b) Jumlah butir pipih dan panjang, maksimum
20%;
c) Tidak boleh mengandung zat-zat yang merusak
beton, seperti zat reaktif alkali;
d) Tidak boleh mengadung lumpur (butir lolos 0,06
mm atau 0,075 mm), maksimum 1%.
IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)
PERSYARATAN (SK SNI S-04-1989 F)
e) Sifat kekal, apabila diuji dengan garam sbb:
Digunakan Natrium Sulfat, yg hancur maks.
12%
Digunakan Magnesium Sulfat, yg hancur
maks. 10%
Tabel 2b.1 Persyaratan Berbagai Kekuatan Agregat
(SNI)
IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)
PERSYARATAN (lanjutan)
f) Gradasi:
Modulus Kehalusan (Fineness Modulus/FM)
6 – 7,1 (SK SNI S-04-1989 F)
Harus terdiri dari butir-butir yang beraneka
ragam besarnya
Susunan butir, harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut:
Sisa di atas ayakan 38 mm, maks. 0%
berat;
Sisa di atas ayakan 4,8 mm, 90%-98%
berat:
Selisih antara sisa kumulatif, di atas dua
ayakan berurutan , maks. 60% dan
IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)
PERSYARATAN (lanjutan)
g) Maksimum Butir:
Pemakaian agregat kasar dg ukuran
maksimum 25 m, menunjukkan tingkat
keberhasilan yang baik dalam produksi
beton.
Disamping itu, untuk keperluan praktis
pelaksanaan struktur beton bertulang,
ukuran maksimum agregat kasar masih perlu
dibatasi sehingga tidak melebihi:
¾ jarak bersih minimum antar batang
tulangan atau berkas tulangan beton, atau
1/5 jarak terkecil antara bidang tepi dari
cetakan beton, atau
1/3 dari tebal pelat beton yang akan
dibuat.
IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)
Tabel 2b.2 Maks. Butir Vs Kekuatan beton dg variasi
semen
IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)
Tabel 2b.3 Persyaratan Gradasi Kasar BS.882-92
IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)
Tabel 2b.4 Persyaratan Gradasi Agg. Kasar ASTM C.33
IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)
Tabel 2b.5 Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar All in
BS.882
Grafik 1. Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar All in
Road Note 4 untuk maksimum Butir 10 mm
KURVA GRADASI AGREGAT GABUNGAN (Maks. Butir 10 mm)
100
90
80
70
% Lolos Kumulatif
60
50
40
30
20
10
0
0,15 0,30 0,60 1,18 2,36 4,75 9,50 19,0 37,5
Ukuran Ayakan (mm)
Grafik 2. Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar All in
Road Note 4 untuk maksimum Butir 19 mm
Grafik 3. Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar All in
Road Note 4 untuk maksimum Butir 25 mm
KURVA GRADASI AGREGAT GABUNGAN (Maks. Butir 20 mm)
100
90
80
70
% Lolos Kumulatif
60
50
40
30
20
10
0,15 0,30 0,60 1,18 2,36 4,75 9,50 19,0 37,5
Ukuran Ayakan (mm)
Grafik 4. Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar All in
Road Note 4 untuk maksimum Butir 40 mm
KURVA GRADASI AGREGAT GABUNGAN (Maks. Butir 40 mm)
100
90
80
70
% Lolos Kumulatif
60
50
40
30
20
10
0,15 0,30 0,60 1,18 2,36 4,75 9,50 19,0 37,5
Ukuran Ayakan (mm)
45
BEBERAPA ALAT UJI MUTU AGREGAT
1. SAMPLING AGREGAT
A. KUARTERING
B. RIFFLE SAMPLER
47
2. AYAKAN UNTUK PEMERIKSAAN
GRADASI
3. ALAT UJI BERAT JENIS AGREGAT KASAR
4. KEAUSAN AGREGAT
• LOS ANGELES MACHINE
50
5. PIPIH & MEMANJANG
AGREGAT
51
SIFAT KEKAL AGREGAT
SIFAT KEKAL :
KEMAMPUAN AGREGAT
MENAHANPERUBAHANVOLUM
E AKIBAT PENGARUH
EKSTERNAL
PENGARUHNYA :
TIMBUL KERUTAN/RETAKAN
PADA PERMUKAAN BETON &
PECAH AGAK DALAM.
PENYEBAB :
CHERT POROUS, LEMPUNG,
TANAH LIAT
52