Anda di halaman 1dari 7

Naskah Drama ( Legenda Putri Dae Minga )

SINOPSIS
DAE MINGA

Menurut sejarah dae minga adalauh putri raja yag sangar yang cantik jelita. Tutur katanya lembut ,
budi pekertinya halus. Sehingga menjadi bahan pembicaraan Raja dan Putra Mahkota Kerajaan
tetangga.

Kecantikan sang Putri dijuluki “Waja Oha Ra Ngaha NInu Oi Nono”.

ADEGAN I
Di serambi istana. Kicauan burung sesekali terdengar , suasana tampak cerah. ( Diantara suasana itu
masuk dari kiri , Dae Minga bersama dayang. Sampai di tengah pentas. Dayang I mempersilakan Dae
Minga duduk, sedangkan dayang II mengatur tempat duduknya. )

Dayang I : Silahkan duduk tuanku !


Putri : Alangkah cerahnya pagi ini. Suasananya sejuk, nyaman dan indah.
Dayang I: Ini merupakan anugrah Tuhan yang patut kita syukuri Tuan Putri.
Dayang II: Benar tuan putri ! diluar sana terhampar gunung Tambora,menghijau bagaikan
permadani. Sedangkan di sebelah utaranya,terbentang lautan yang sangat luasnya
Putri: Tetapi keindahan itu , tak mampu menentramkan hati saat ini dayang dayangku. Aku selalu
gelisah (wajah sedih)
Dayang I :Apa gerangan yang menimpa Tuan Putri ?
Dayang  II : iya tuan putri, apa sebabnya ?
Putri : ( Beranjak berdiri ) dayang – dayangku. Tidakkah kalian merasa,bahwa sudah beberapa hari ini
kita tidak di perkenankan oleh baginda untuk keluar istana.
Dayang I : Benar Tuan Putri.
Putri : Baginda melarang kita , karena dari hari kehari , lamaran dari Raja dan Pangeran Kearajaan
tetangga selalu berdatangan di kerajaan ini . mereka ingin mempersuntingku,sementara bila aku
memilih salah satu di antara mereka,maka kerajaan-kerajaan lain akan tersinggung dan aku tak ingin
hal itu akan menyebabkan paertumpahan darah di negri ini.
Dayang I : Kamipun sangat menghawatirkannya Tuan Putri.
Dayang II : Sudahkah Tuan purtri memusyawarahkan hal itu kepada tuan permaisuri dan baginda ?
Putri : Belum dayangku masalah inilah yang sedang aku pikirkan kebaikan dan keburukanya. namun,
lama-lama aku berada di istana ini dengan kegelisahanku,membuat aku merasa jenuh. Aku ingin

Page 1 of 7
menemukan nuansa baru, yang mampu menenengkan hati ini. Karena itu, dayangku ! Bagaimana
kalau kalian mengantarkan aku, untuk melihat keadaan diluar istana, agar rasa jenuh dan gelisah ini
sedikit terobati.
Dayang I: (kaget) ampun hamba tuanku!bukannya kami hendak melarang tuan putri. Tetapi tuanku
maha raja melarang tuan putri keluar pagar istana.
Dayang II: ya tuanku ! kami takut,tuanku maharaja murka karenanya.
Putri : aku mengerti dayangku! Tetapi kali ini kita keluar sebentar saja. Kita pasti kembali secepatnya.
Dayang II : jika demikian tuanku,hendaklah tuanku minta  di kawal oleh pasukan istana .
Putri :  tidak perlu dayangku! Ayolah mari ikut aku. (mereka beranjak keluar.  dayang I dan dayang II,
menunjukkan kehawatiran)

ADEGAN II
Suasana alam di tempat Pemmandian luar istana , udara segar terdengar burung berkicau. ( Putri
dan para dayang memasuki pentas dari kiri)

Putri : Sungguh indah alam disini dayangku, udaranya sejuk. Keindahan yang penuh dengan
kedamaian dan keindahan yang mendekatkan kita dengan penguasa alam Dan keindahan inilah yang
telah menggetarkan jiwa ini. Sungguh ciptaan yang mengagumkan.
Dayang I : memang benar tuan putri panorama alam pagi ini sungguh indah.
Putri : kepada tuhanlah aku menyerahkan kegelisahanku ini,agar aku mendapatkan petunjuk,hingga
masalah ini dapat diselesaikan dengan kedamaian.
Dayang II : sukurlah tuan putri dapat memikirkan segala kemungkinannya.
Putri : sekarang ,kita pulang dayangku,sebelum para prajurit istana ketika

ADEGAN III
(ketika putri  dan dayang dayang hendak keluar,tiba tiba muncul putra mahkota kerajaan peakat
yang menegurnya)

Putra pekat : berhentilah sebentar,wahai tuan putri yang cantik jelita.(sambil mendekati tuan putri)
(putri dan  dayang dayang berhenti dan membalikkan badannya kearah para pangeran.dayang
dayang agak takut . mereka melindungi tuan putri)
putri :siapakah  gerangan tuanku ? dan adakah yang dapat kami bantu ?

Page 2 of 7
putra pekat : wahai dae minga. Pantas kau di juluki “Waja Oha Ngaha ninu Oi Nono”. Kau berbudi
pekerti lembut, kata katamu santun, parasmu cantik dan jelita. Beberapa hari lagi putra mahkota
kerajaan pekat,akan mempersuntingmu.Ha … ha …. Ha….
putri : ampuni hamba tuanku ! hamba harus pulang ke istana.
putra pekat : tunggu wahai tuan putri ! kau tidak usah takut. Aku sudah melamarmu pada raja
sanggar. Itu berarti, kau sekarang adalah miliku. Kau akan ku boyong ke istanaku untuk ku jadikan
pendamping hidup. Ha ….. ha ….ha
(putra kerajaan aga masuk)
putra aga : hai jangan dulu berbangga hati,wahai putra mahkota kerajaan pekat akulah yang lebih
berhak mempersunting dae minga dari padamu.
(suasana semakin tegang,putri dan dayang dayang semakin takut)
putra pekat : (kaget menghadap kearah putra aga dengan geram.) siapa kau, beraninya mencampuri
urusanku. Dae minga adalah milikku. Aku sudah melamarnya pada raja sanggar.
dayang I : sudahlah wahai para pangeran. Janganlah tuan tuan bertengkar karena masalah ini.
dayang II : biarlah tuan putri saja yang akan menentukan pilihannya tuan pangeran.
putra pekat : aaaaaah ….,aku tidak akan membiarkan dae minga menjadi milik orng lain sekarang
kalian minggirlah. Aku akan membunuh pangeran yang kesiangan ini.
putra aga : kau tidak pantas mempersunting dae minga wahai putra mahkota kerajaan pekat. Karena
itu kau angkat kaki dari tempat ini.(suasana semakain tegang)
putra pekat : lancang benar ! kalau kamu “ DOU RANGGA” mari kita “ncao”
putra aga : “mai” aku terima tantanganmu. Mari kita selesaikan masalah ini secara jantan.
(putra pekat dan putra aga bertarung. Sedangkan putri keliatan takut dayang dayang agak gemetar .)
(sesaat kemudian , putri dan dayang dayang keluar.)
Pertarungan kembali berlanjut hingga putra pekat kalah tetapi dia masih mengancam putra aga .
putra pekat : hai putra mahkota raja aga ! hari ini aku belum kalah . tapi ingat siapapun berani
mempersunting dae minga maka akan berperang dengan kerajaanku.(keluar)
putra aga : (aga mengejar tetapi kembali melihat kearah dae minga berdiri, dia mencari cari
kemudian berucap ) dae minga dimana kau . Sial, dia kabur. 

ADEGAN IV
Di istana tengah duduk sang raja dan permaisuri,dengan didampingi dayang dayang.

raja : Dinda !
permaisuri : ada apa kanda?

Page 3 of 7
Raja : Adakah kau mendengar , apa yang dibicarakan  oleh Rakyat dan Putra Mahkota Kerajaan
Tetangga tentang putri kita ?
Permaisuri: Tentang apa kanda ? Adakah anak kita berbuat salah ?
Raja: bukan itu dinda, anak kita tidak berbuat salah . Mereka hanya menyebut kecantikan Putri kita ,
dengan sebutan “Waja oha ngaha ninu oi nono”
Permaisuri: Dinda sungguh bahagia Kanda ! Dia merupakan anugrah Tuhan yang tiada tara bagi kita.
Dia bagaikan bulan kelima belas, mempesona , menyinari alam maya pada ini.
Raja : itulah Dinda ! yang selama ini aku khawatirkan. Aku sebenarnya ingin memilihkan jodoh yang
terbaik untuk anak kita, namun beberapa hari ini aku selalu diresahkan oleh mimpi burukku, bahwa
akan ada badai yang akan menghapus negeri ini.
Permaisuri : Dinda juga pernah bermimpi hal yang sama Kanda. Dinda menjadi takut jika mengingat
mimpi itu (mendekat ke Raja)
(Hulubalang tiba-tiba masuk dari kiri)
Hulubalang : Ampuni hamba Tuanku Maharaja. Hamba telah lancang memasuki ruangan baginda .
Raja : ( agak kaget, mendekat pada hulubalang, sedangkan permaisuri ada di samping Raja ). Ada apa
Hulubalang ! ada berita apa yang hendak kau sampaikan ?
Hulubalang  : Ampun tuankun ! Hamba benar-benar kaget, ketika melihat Tuan Putri  memasuki lare-
lare Istana. Ini berarti Tuan Putri telah pergi ke luar Istana. Hamba siap menerima hukuman atas
kelalaian Hamba.
Raja : Dae Minga keluar istana ? dimana dia sekarang ( gelisah )
Hulubalang  : Begitulah adanya baginda !
Permaisuri :  Bagaimana dengan Putriku Hulubalang?
Hulubalang  : Tuan Putri dalam keadaan baik-baik saja, Tuanku !
Raja  :  Hulubalang ! Hadapkan dia ke hadapanku, Dae Minga bersama dayangnya
Hulubalang  :  Baik Tuanku, titah tuanku hamba laksanakan. (Hulubalang keluar dan masuk kembali
dengan putri Dae Minga). Tuan Putri telah tiba Baginda.

Adegan V
Putri dan Dayang-dayang  berada di istana

Raja : Putriku kenapa engkau keluar istana ? Bukankah sebelumnya Dade telah melarang ?
Putri : Ampun beribu ampun Muma dan Dade yang saya muliakan, tadi Ananda bersama dayang-
dayang bersenang senang di telaga tempat pemandian, sewaktu kami kembali muncul 2 orang
Pangeran yag ingin merebut Ananda ( dengan hati takut bercampur haru )
Raja  :  ( Kaget ) Petaka ? Apa yang terjadi ?

Page 4 of 7
Putri :   Disaat Ananda mencari ketenangan, tiba-tiba muncul Putra Mahkota Raja Pekat yang
mesngganggu ketenangan itu. Anandapun ingin pulang. Tetapi Ptra Raja Pekat menahan ananda.
Beberapa saat kemudian , Putra Raja Aga datang. Mereka akhirnya bertarung, karena masing masing
ingin memperebutkan Ananda. Ananda khawatir Ayahanda, sebab Putra Rja Pekat  yang kalah
mengancam akan berperang, kepada siapa yang mempersunting Ananda.
Raja : mimpiku kini menjadi kenyataan , karena itu wahai Putriku. Kau jangan lagi keluar istana tanpa
seijinku. Sekarang aku harus memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini.
Putri : Baik Muma ! Ananda pun akan memikirkan pemecahan masalah ini dan ananda rela
menerima apapun keputusan Muma.
Raja  :  Sekarang, Ananda boleh pergi, tenangkan pikiranmu. Mudah-mudahan Tuhan Yang Kuasa
memberikan jalan yang terbaik bagi kita ( kemudian Putri keluar )
Raja  :  Hulubalang. Masalah ini telah menjadi besar dan hal ini harus kita musyawarahkan. Oleh
karena itu, kau beritahukan kepada para pembesar Istana, bahwa besok kita akan bermusyawarah di
ruang utama Istana.
Hulubalang  :  Tita baginda, hamba lasanakan.
Raja  : Ayo Dinda, kita harus istirahat.
( mereka keluar )

Adegan VI
( Di dalam kamarnya Putri terlihat sedang duduk termenung. Kadang –kadang ia mengadahkan
mukanya kelangit. Kadang-kadang pula mengerutkan dahinya. Saat itu, Putri agak kelihatan berfikir .)
( dari kiri masuk permaisuri mendekati putri. Putri tersentak dari lamunannya, saat permaisuri
memegang pundaknya). ( musik sarone, sayup sayup mengiringi adegan tadi).

Permaisuri  :  Beberapa hari ini, kau kelihatan selalu menyendiri Putriku. Keceriaanmu berganti
kegelisahan , padahal Dade selalu mengharafkan engkau gembira, tenang bahagia bersama dayang-
dayangmu.
Putri  :  Maafkan Ananda Muma. Bila tingkah ananda, telah meresahkan hati Muma. Ananda gelisah,
karena beberapa hari ini Dade selalu didatangi utusan Raja-raja tetangga yang hendak melamar
Ananda. Bahkan ada beberapa Pangeran yang saling mengancam. Bila mereka tidak mendapatkan
Ananda, maka perangpun akan terjadi.
Permaisuri  :  Muma juga sudah mendengar hal itu Ananda, bahkan Dademu, sedang memikirkan
pangeran mana yang akan dipilih, dan bagaimana jalan keluarnya bila terjadi permasalahan nanti.
Putri  :  Maafkan Ananda Muma. Ananda juga sudah memikirkan hal itu berhari-hari. Permasalahan
ini telah meresahkan hati Muma, Dade dan ketentraman negri ini. Oleh karena itu Bunda, Ananda

Page 5 of 7
telah memikirkan kebaikan dan keburukannya. Setelah Ananda berdoa kepada Tuhan, Ananda
mendapat petunjuk bahwa Anandalah yang harus di korbankan.
Permaisuri  :  Tidak, tidak anakku. Kau tidak harus melakukn hal itu. Biarkan Dade yang memecahkan
persoalan ini.
Putri  : Tidak Dade, permasalahan ini tidak dapat di pecahkan tanpa pengorbanan. Karena itu, jalan
satu – satunya Ananda harus dikorbankan.
Permaisuri  :  Anakku, engkaulah satu-satunya harapan dalam hati Dade. Engkau adalah pengobat
mata, penyejuk hati, lemah rasanya sendi dan raga ini, jika engkau harus hilang dalam kabut dan
telaga keputusanmu.
Putri  :  Ananda rela melakukannya Dade. Biarlah Ananda saja yang menjadi korban. Jangan sampai
dirasakan oleh rakyat dan negri, karena itu Muma sampaikan kepada Dade tentang keinginan
Ananda.
Permaisuri  :  Anakku, wala denan berat hati Muma menjawabnya, pesanmu pasti Muma sampaikan,
sekarang kau tidurlah anakku, Ibu juga mau pergi. ( Mereka keluar )

Adegan VII
Di ruang sidang utama Istana. Telah duduk Raja, Permaisuri dan Putri Dae Minga. Begituuga dengan
Ruma Bicara, Pemangku, dayang-dayang, dan Hulubalang. Semuanya telah hadir untuk
bermusyawarah.

Raja  :  Wahai para pejabat Istana. Hari ini aku menghadapkan kalian, karena ada persoalan penting
yang harus kita bicarakan. Kalian sudah mengetahuinya, bahwa dari hari kehari, lamaran yang
datang dari kerajaan tetangga yang ingin mempersunting Putriku semakin banyak. Aku sulit
menentukan pilihannya. Sebab salah memilih berarti bencana bagi negeri kita dan negeri lainnya.
Karena itu, sesuai dengan keinginan Dae Minga dan titahku. Setelah dipikirkan kebaikan dan
keburukannya. Maka aku memutuskan bahwa putriku harus dibuang ke “Moti La Halo”
Permaisuri  : Ampun Kanda ! tidakkah keputusan ini dapat diubah dengan keputusan yang lain ?
Raja  : Titahku harus ditegakkan.
Dayang  :  Ampun beribu ampun baginda. Janganlah Tuan Putri dikorbankan. 
Raja  :  Masalah ini sudah aku pikirkan. Inilah satu – satunya jalan yang harus kita tempuh, karena
semua permasalahan bersumber pada Putriku.
Raja  :  Itulah yang tidak aku inginkan. Akupun sebenarnya berberat hati untuk melaksanakannya
tetapi aku tidak boleh mementingkan diri sendiri, kepentingan rakyat dan negeri inilah yang harus
kuutamakan. Bagaimana denganmu Putriku ?
Putri  :  Ananda rela melakukanna Dade !

Page 6 of 7
Permaisuri  :  Putriku ( memeluk putrinya ) sudahkah kau hal  ini kau pikirkan sebaik mungkin ?
sungguh hati Dade tak kuasa mendengarnya engkaulah permata hatiku.
Putri  :  Tabahkan hati Muma. Janganlah terlalu memikirkannya.
Raja  :  Dinda dan Putriku dan kalian pejabat Istana. Keputusan ini harus kita laksanakan secepatnya.
Besok Dae Minga harus dibuang dan malam ini, adalah malam perpisahan bagi Putriku. 

Adegan VIII
Keesokan harinya, seluruh anggota kerajaan berserta rakyat bersiap - siap untuk mengantarkan dae
minga ke tempat yang terakhir

Raja  :  Putriku sekarang saatnya kita berpisah. Karena itu, mari kita berangkat. Dinda, marilah kita
antar Putri kita ketempatnya yang terakhir.
Hulubalang mengapit Raja, Permaisuri dan Dae Minga. Sedangkan Ruma Bicara, Pemangku dan
Dayang – dayang mengikutinya dari belakang mereka berjalan ketengah pentas. Setelah itu, Dae
Minga bersujud dikaki Raja dan Permaisuri.
Raja  :  Tegarkan hatimu Anakku.
Permaisuri  :  Anakku ( memeluk putrinya )
Putri  :  Ananda harus pergi Dade. Muma , tabahkan hati Muma, relakan kepergian Ananda ( mereka
menangis ). Dae Minga beranjak dari Raja dan Permaisuri. Dia melihat satu persatu pengiringnya.
Kemudian ia berdiri diatas batu bersusun tujuh dan berseru.
Putri  :  E... Sara’ana dou Kore.. Hampa ba nahu mpa mandake diru’u ai walina di nggomi doho. Gaga
rantika wa’a sara’a ba nahu ambimpa di wi’i wea ba nahu ngomi doho.
Hulubalang membawa Putri keluar. Suara isak tangis masih terdengar, Raja pun maju di antara
rakyatnya.
Raja  :  wahai rakyatku ! tabahkan hati kalian. Semua ini saya lakukan demi kedamaian di atas negeri
ini. Marilah kita pulang, kita jangan terlena dengan kesediahan ini. Dinda, marilah kita pergi.

THE END
*************

Page 7 of 7

Anda mungkin juga menyukai