LAPORAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN CONTUINITY OF CARE (COC)
DI PUSKESMAS BETUNGAN KOTA BENGKULU
TAHUN 2023
Disusun Oleh
RISMINIANA
NPM. 2226040102.P
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan
(Rifda Neni, SST, MKM) (Elka Neli, SST, SKM)
PROGRAM STUDI SI KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2023
1
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................3
C. Tujuan.........................................................................................................3
D. Manfaat.......................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................6
A. Konsep Dasar Teori.....................................................................................6
B. Kontrasepsi..................................................................................................8
C. KB Suntik 1 Bulan....................................................................................13
BAB III TINJAUAN KASUS................................................................................18
A. Tinjauan Kasus..........................................................................................18
B. Pembahasan...............................................................................................25
BAB IV PENUTUP.................................................................................................27
A. Kesimpulan...............................................................................................27
B. Saran..........................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................29
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga Berencana (KB) adalah merupakan salah satu pelayanan kesehatan
preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui
demikian. Untuk optimalisasi manfaat kesehatan KB pelayanan tersebut harus
disediakan bagi wanita dengan cara meningkatkan dan perluasan pelayanan
keluarga berencana berupa kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi utana dan
yang lainnya, dalam upaya penurunan angka kesakitan dan kematian ibu yang
demikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. (Lestari, 2015:73)
Menurut World Health Organization (WHO) Keluarga Berencana
merupakan tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari
kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat
diinginkan, mengatur interval di antara kehamilan, mengontrol waktu saat
kelahiran dalam hubungan usia suami istri menentukan jumlah anak.
Menurut Lestari (2015:73), manfaat dari alat kontrasepsi suntik yaitu sangat
efektif, pencegahan kehamilan jangka panjang, tidak memiliki pengaruh
terhadap ASI, klien tidak perlu repot untuk menyimpan obat, dsb. Alat
kontrasepsi KB juga memiliki efek samping seperti terjadi perubahan pola haid,
mual, sakit kepala, penambahan berat badan.
Menurut Profil Kesehatan Indonesia KB aktif tertinggi terdapat di Bengkulu
yaitu sebesar 71,4% dan yang terendah di Papua sebesar 25,4%. Terdapat 11
Provinsi dengan cakupan KB aaktif mencapai RPJMN 66% yaitu Provinsi
3
Bengkulu, Kalimantan selatan, Lampung, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung,
Bali, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Sulawesi Utara dan
Gorontalo.
Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019, cakupan peserta aktif KB
aktif di Indonesia menurut metode kontrasepsi modern paling besar yaitu suntik
63,7%, Pil 17%, AKDR 7,4%, Implan 7,4%, kondom 1,2%, MOW 2,7%, dan
MOP 0,5%. Berdasarkan pola dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi, sebagian
besar peserta KB aktif memilih suntikan dan pil sebagai alat kontrasepsi bahkan
sangat dominan (lebih dari 80%) disbanding metode lainnya, suntikan (63,7%)
dan pil (17%). Padahal suntikan dan pil termasuk dalam metode kontrasepsi
jangka pendek sehingga tingkat efektifitas suntikan dan pil dalam pengendalian
kehamilan lebih rendah dibandingkan jenis kontrasepsi lainnya.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu tahun 2019,
menunjukkan jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Provinsi Bengkulu
sebanyak 364.685, dan jumlah peserta KB aktif sebanyak 288.259 peserta. Dari
288.259 peserta aktif KB di Provinsi Bengkulu tahun 2019, penggunaan alat
kontrasepsi terbanyak yaitu jenis KB suntik sebesar 166.938 (58%), selanjutnya
Pil 48.278 (17%), implant 38.988 (14%), kondom 15.223 (5%),
AKDR 13.259 (5%), MOW 4.879(2%), dan MOP 694 (0,2%).
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu tahun 2019,
menunjukkan jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di kota Bengkulu yaitu
78.103 dengan jumlah peserta KB aktif sebanyak 56.931 (72,9%) . Dari 56.931
peserta KB aktif di Kota Bengkulu tahun 2019, metode yang paling banyak
digunakan oleh peserta KB aktif adalah jenis KB suntik yaitu 28.670 (50,4%),
selanjutnya Pil 12.137 (21,3 %), implant 6.274 (11%), AKDR 5.728 (10,1%),
4
kondom 3.196 (5,6%), MOW 821 (1,4%), MOP 105 (0,2%).
Menurut data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN)
Provinsi Bengkulu tahun 2020, jumlah peserta KB aktif sebanyak 277.797
peserta, dengan jumlah pelayanan akseptor KB baru sebanyak 31.381 (56,67%)
peserta, pelayanan pengguna kontrasepsi ulang sebanyak 225.417 peserta, dan
pelayanan kotrasepsi ganti cara sebanyak 20.999 peserta. Kontrasepsi yang
paling banyak diminati oleh akseptor KB baru iyalah jenis KB suntik dengan
jumlah 16.319 peserta. Kontrasepsi ulang terbanyak yaitu jenis suntik 116.651
peserta. Kontrasepsi yang lebih diminati ketika mengganti cara penggunaan
jenis alat kontrasepsi yaitu KB suntik dengan jumlah 8.147 peserta.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu tahun 2019, ada
tiga puskesmas terbanyak yang peserta KB aktifnya menggunakan kontrasepsi
suntik yaitu Puskesmas Basuki Rahmad 3.679 peserta ( 60,3%), Puskesmas
Jembatan Kecil 2.466 peserta (56,8%), Puskesmas Sawah Lebar 2.203 (65,7%).
Berdasarkan uraian dan data yang diperoleh, maka peneliti sangat tertarik
untuk meneliti tentang "Asuhan Kebidanan pada Ibu Akseptor KB Suntik di
Puskesmas Betungan Kota Bengkulu Tahun 2023".
B. Rumusan Masalah
Bagaimana Pelaksanaan Asuhan Kebidanan pada ibu Akseptor KB di
Puskesmas Betungan Kota Bengkulu Tahun 2023
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
5
Memberikan asuhan kebidanan pada ibu akseptor KB suntik di Puskesmas
Betungan Kota Bengkulu dengan menggunakan manajemen metode SOAP.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui data subjektif dan objektif pada ibu akseptor KB suntik 1
bulan di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu
b. Mengetahui analisa atau diagnosa pada ibu akseptor KB suntik 1 bulan di
Puskesmas Betungan Kota Bengkulu
c. Mengetahui rencana tindakan kebidanan pada ibu akseptor KB suntik 1
bulan di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu
d. Mengetahui tindakan kebidanan pada ibu akseptor KB suntik 1 bulan di
Puskesmas Betungan Kota Bengkulu
e. Mengetahui kesenjangan antara teori dan kasus pada asuhan kebidanan
pada ibu ibu akseptor KB suntik 1 bulan di Puskesmas Betungan Kota
Bengkulu
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Meningkatkan pengetahuan, wawasan, informaasi dan keterampilan
penulis dalam menerapkan asuhan kebidanan pada ibu akseptor KB suntik.
2.Manfaat Aplikatif
a. Bagi Tenaga Kesehatan
Bagi profesi kebidanan dapat terus menerapkan dan meningkatkan peran,
fungsi dan tanggung jawab dalam bentuk asuhan kebidanan keluarga
6
berencana metode kontrasepsi KB Suntik.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai pertimbangan untuk menambah wawasan dan sebagai bahan
pengembangan ilmu tentang asuhan kebidanan pada akseptor KB Suntik
melalui penelitian dan dapat digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran
terhadap mahasiswi prodi SI kebidanan selanjutnya.
c. Bagi Masyarakat
Agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan terutama asuhan
kebidanan keluarga berencana metode kontrasepsi KB Suntik.
7
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Teori
1. Pengertian Keluarga Berencana
Menurut World Health Organisation (WHO) Keluarga berencana merupakan
tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari Kehamilan yang
tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan mengatur
interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan usia
suami menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Keluarga Berencana menurut UU No.10 Tahun 1992 Program KB Nasional
diartikan sebagai upaya peningkatan kependudukan. Peran serta masyarakat melalui
Keluarga Berencana menurut UU No. 10 Tahun 1992 Program KB Nasional
diartikan sebagai upaya peningkatan kependudukan, peran serta masyarakat melalui
pengendalian kelahiran, dan pembinaan. Pengertian kelahiran melalui program KB
berdampak signifikan terhadap peningkatan kelangsungan hidup ibu,bayi dan anak.
Oleh karenanya program KB telah akui secara internasional sebagai salah satu upaya
pokok dalam program safe motherhood and child survival (Rismalinda,dkk).
Keluarga berencana diartikan sebagai suatu usaha yang mengatur banyak
kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah,bserta
keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat
langsung dari kehamilan tersebut. (Lestari, 2015:74)
2. Tujuan program KB
Untuk mencapai keberhasilan program KB Nasional diperlukan suatu tujuan
dalam memberikan yang jelas adapan tujuan Program Nasional
8
9
Kependudukan :Tujuan Demografis : Yaitu dapat dikendalikannya tingkat
pertumbuhan pendudukan sebagai usaha mencapai penurunan mencapai fertilitas.
Jadi tujuan KB nasional dilihat dari segi demografis dan normatif adalah
mengendalikan tingkat pertumbuhan penduduk dengan menjadikan KB sebagai
falsafah hidup masyarakat Indonesia agar diperoleh suatu Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hiduphnya. (Rismalida,dkk,2010).
Tujuan umum adalah membentuk keluarga sesuai dengan kekuatan social
ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan Kelahiran anak agar diperoleh suatu
keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.Tujuan
utama program KB Nasional adalah untuk memenuhi perintah masyarakat akan
pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas,menurunkan tingkat atau
angka kematian ibu,bayi dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan
reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas sedangkan tujuan
program kesehatan reproduksi remaja adalah untuk meningkatkan pemahaman
pengetahuan, dan prilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi,
guna meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya, untuk mempersiapkan
kehidupan dalam mendukung upaya peningkatan kualitas generasi mendatang.
Terutama yang diselenggarakan oleh institusi masyarakat di daerah perkotaan dan
pedesaan, sehingga membudidaya dan melembaganya keluarga kecil berkualitas.
Perlu diketahui bahwa tujuantujuan tersebut berkaitan erat dan merupakan kelanjutan
dan tujuan program KB tahun 1970.
Tujuan KB meliputi:
i. Keluarga dengan anak ideal
ii. Keluarga sehat
iii. Keluarga berpendidikan
9
10
iv. Keluarga sejahtera
v. Keluarga berketahanan
vi. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
vii. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)
3. Ruang Lingkup Program Keluarga Berencana
Menurut (Sulistyawati 2013) ruang lingkup program Keluarga Berencana adalah :
1) Keluarga berencana .
2) Kesehatan Reproduksi Remaja.
3) Ketahanan dan pemberdayaan Keluarga.
4) Penguatan pelembagaan.
5) Keserasian kebijakan kependudukan.
6) Pengelolaan SDM aparatur.
7) Penyelenggaraan pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan.
8) Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur Negara.
Menurut (Setyaningrum & Aziz 2014) Ruang lingkup program KB meliputi :
komunikasi informasi dan Edukasi (KIE).Konseling,Pelayanan kontrasepsi,
Pelayanan infertilitas, Pendidikan sex (sex education), Konseling pra perkawinan dan
konsultasi perkawinan,Konsultasi genetic,Tes keganasan,Adopsi.
B. Kontrasepsi
1. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah cara atau alat yang digunakan untuk mencegah kehamilan.
Kontrasepsi digunakan untuk menunda kehamilan pertama atau menjarangkan
kelahiran berikutnya atau mengakhiri kehamilan dan kelahiran.
10
11
Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti “mencegah” atau “melawan”
dan kontrasepsi berarti pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma
yang mengakibatkan kehamilan. maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau
mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang
matang dengan sel sperma tersebut. (Lestari, 2015:74)
Menurut Usman , dkk (Benson C Ralph,2008) Kontrasepsi dapat diartikan
sebagai suatu cara untuk mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan
antara sel telur dengan sperma. Kontrasepsi dapat menggunakan berbagai macam
cara, baik dengan menggunakan hormon, alat ataupun melalui prosedur operasi.
2. Pembagian Cara Kontrasepsi
Menurut (Suheri, Meiliani, & Estiwidani, 2010)Pembagian cara kontrasepsi
adalah sebagai berikut
a) Kontrasepsi sederhana tanpa alat
Metode Kalender
Pantang berkala atau lebih dikenal dengan sistem kalender merupakan
salah satu cara/metode kontrasepsi sederhana yang dapat dikerjakan sendiri
oleh pasangan suami istri dengan tidak melakukan senggama pada masa
subur. Metode ini efektif bila dilakukan secara baik dan benar.
Metode kontrasepsi suhu basal
Suhu basal adalah suhu tubuh sebelum ada aktifitas apapun, biasanya
diambil pada saat bangun tidur dan belum menninggalkan tempat tidur, suhu
basal tubuh akan meningkatkan setelah ovulasi.
Metode lendir serviks/metode ovulasi (MOB)
Suatu cara atau metode aman dan ilmiah untuk mengutahui kapan
masa subur wanita. Metode ini sangat sederhana murah dan mudah
11
12
diterapkan karena berdasarkan pengamatan diri sendiri terhadap gejala-gejala
yang secara alamiah dialami oleh setiap wanita normal.
Metode simptotermal
Gabungan dari metode alamiah untuk menentukan masa subur atau
ovulasi. Antara lain metode basal suhu tubuh dan metode lendir serviks.
Coitus interuptus
Juga dikenal dengan metode senggama terputus. Teknik ini dapat
mencegah kehamilan dengan cara sebelum terjadi ejakulasi pada pria.
Seorang pria harus menarik penisnya dari vagina sehingga tidak setetes pun
sperma masuk kedalam rahim wanita
b) Kontrasepsi sederhana dengan alat menurut (setyaningrum & Aziz, 2014)
Metode kontrasepsi sederhana
Metode kontrasepsi sederhana terdiri dari 2 yaitu metode kontrasepsi
sederhana tanpa alat dan metode kontrasepsi dengan alat. Metode kontrasepsi
tanpa alat antara lain: metode Amenorea laktasi (MAL), continius interuptus,
Metode Kalender, Metode Lendir Serviks, Metode Suhu Basal dan Lendir
Serviks. Sedangkan metode kontrasepsi sederhana dengan alat yaitu kondom,
Diafragma, Cup Serviks dan spermisida. (Handayani, 2010).
Metode Kontrasepsi Hormonal
Metode kontrasepsi hormonal pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu
kombinasi (megandung hormon progesteron dan estrogen sinetik) dan yang
hanya berisi progeteron saja. Kontrasepsi hormonal kombinasi terdapat pada
pil dan suntikan/injeksi sedangkan kontrasepsi hormone yang berisi
progesterone terdapat pada pil, suntik dan implant (Handayani, 2010).
Metode kontrasepsi dengan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
12
13
Metode kontrasepsi ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu
AKDR yang mengandung hormon sintetik (sintetik progesterone) dan yang
tidak mengandung hormon. AKDR yang mengandung hormon progesterone
dan leonorgestrel yaitu progestasert .(Alza-T dengan daya kerja 1 tahun
LGN-20 Mengandung leunorgestrel (Hartono, 2010)
Metode kontrasepsi mantap
Metode kontrasepsi mantap terdiri dari2 macam yaitu metode Operatif
wanita (MOW) dan metode operatif pria (MOP). MOW sering dikenal
dengan tubektomi karena prinsip metode ini adalah memotong atau mengikat
saluran tuba/tuba falopii sehingga mencegah pertemuan antara ovum dan
sperma. Sedangkan MOP sering dikenal vasektomi, vasektomi yaitu
memotong atau mengikat saluran vas deferen sehingga cairan sperma tidak
dapat keluar atau ejkulasi (Handayani, 2010).
Kondom
Kondom merupakan selabung/sarung karet yang terbuat dari berbagai
bahan diantaranya lateks (karet), plastic (Vinil) atau bahan alami (produksi
hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan. Menghalangi masuk
spermatozoa ke dalam traktus genetalia intravena wanita.
Barier intra vagina
Metode ini merupakan metode untuk mengahalangi masuknya
spermatozoa kedalam traktus genetalia interna wanita dan mematikan
spermatozoa oleh spermasidnya
c) Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi Pil
13
14
Pil oral akan menggantikan produksi normal estrogen dan progesterone
oleh ovarium. Pil oral akan menekan hormone ovarium selama siklus haid
yang normal, sehingga juga menekan Relasing factors di otakdan akhirnya
mencegah ovulasi. Pemberian Pil Oral bukan hanya untuk mencegah ovulasi,
tetapi juga menimbulkan gejala-gejala pseudo pregnancy (kehamilan palsu)
seperti mual, muntah, payudara membesar, dan terasa nyeri. (Hartono
2002).Efektifitas pada penggunaan yang sempurna adalah 99,5-99,9% dan
97%.(Handayani, 2010).
Cara kerja KB Pil menurut saifuddin (2010) yaitu:menekan Ovulasi,
Mencegah Implantasi, Mengentalkan lendir serviks , Pergerakan Tuba
terganggu sehingga transpotasi ovum akan terganggu.Keuntungan KB Pil
menurut Handayani (2010) yaitu: Tidak menganggu hubungan seksual,Siklus
haid menjadi teratur (mencegah anemia),Dapat digunakan sebagai metode
jangka panjang, Dapat digunakan pada masa remaja hingga menapouse,
Mudah dihentikan setiap saat, Kesuburan cepat kembali setelah penggunaan
pil dihentikan, Membantu mencegah kehamilan ektopik,kanker ovarium,
kanker endometrium, kista ovarium, acne,dismenorea.
Keterbatasan KB Pil menurut Sinclair (2010) yaitu : Amenorhea,
perdarah haid yang berat ,perdarahan diantara siklus haid ,Depresi, Kenaikan
berat badan, mual muntah, Perubahan Libido Hipertensi,jerawat, nyeri tekan
payudara, Pusing, sakit kepala, kesemutan dan baal bilateral ringan,
Mencetuskan moniliasis , Cloasma, Hirsutisme, Leukorhea, pelumasan yang
tidak mencukupi,Perubahan lemak,dismenorea,Kerusakan toleransi
glukosa,Hipertrofi atau ekropi serviks ,perubahan visual,infeksi pernafasan,
peningaktan episode sistitis, perubahan fibroid uterus.
14
15
Kontrasepsi Implant
Profile kontrasepsi implant menurut Saifuddin (2010) yaitu : efektif 5
tahun untuk nonplant, 3 tahun untuk jedena, indoplant atau implanon,nyaman
, dapat dipakai oleh semua ibu usia reproduksi, pemasangan dan pencabutan
perlu pelatihan, kesuburan segera kembali setelah implant dicabut,efek
samping utama berupa pendarahan, Aman dipakai pada saat laktasi.
Cara kerja kontrasepsi implant menurut saifuddin (2010) yaitu Lendir
serviks menjadi kental, mengganggu proses pembentukan endometrium
sehingga sulit terjadi implantasi ,mengurangi trasportasi sperma, menekan
ovulasi.
Keuntungan kontrasepsi implant menurut saifuddin (2010) yaitu : Daya
guna tinggi, Perlindungan jangka panjang, pengembalian tingkat
kesuburan,tidak memerlukan pemeriksaan dalam ,Tidak menganggu dari
kegiatan senggama,Tidak mengganggu ASI , Klien hanya kembali jika ada
keluhan , Dapat dicabut sesuai dengan kebutuhan ,Mengurai jenis Haid,
Mengurangi Haid, Mengurangi jumlah darah Haid,mengurangi terjadinya
kanker endometrium.
C. KB Suntik 1 Bulan
Suntik KB adalah kontrasepsi hormonal yang mengandung hormon progestin,
yang serupa dengan hormone wanita, yaitu progestron, hal inidapat menghentikan
berovulasi.
1. Macam-macam Kontrasepsi suntik Menurut (Pinem,2009)
Macam-macam dari kontrsepsi suntik adalah:
15
16
a) Suntikan progestik saja Kobtrasepsi suntikan berdaya kerja lama yang hanya
mengandung progestin dan banyak dipakai sekarang ini adalah :
DMPA (Depot Medroxyprogestron Asetad) atau depo provera diberikan
sekali setiap 3 bulan, dengan dosis 150 mg. disuntikkan secara intramuscular
didaerah bokong.
NET-EN (Notrehine Enanthate) atau noristerat diberikan dalam dosis
dalam 200 mg sekali setiap 8 minggu atau setiap 6 bulan pertama (=3 kali
suntikan pertama), kemudian selanjutnya sekali setiap 12 minggu.
b) Suntikan Kombinasi
Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo Medroksiprogesteron
Asetat dan dan 5 mg Estradisional Sipionat yang diberikan injeksi
intramuscular sebulan sekali (Cyclofem). Dan 50 mg Neerotridon Enantet dan
5 mg Entradional Valerat yang diberikan dengan injeksi intramuscular sebulan
sekali.
2. Mekanisme Kerja Kontrasepsi Suntik
Menurut Sukistyawati (2013), jenis kontrasepsi suntik mempunyai
efektifitas yang tinggi, dengan 30% kehamilan per 100 perempuan per tahun,
jika penyuntikan dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan,
DMPA maupun NET EN sangat efektif sebagai metode kontrasepsi.
Mekanisme kerja kontrasepsi suntik dapat dijelaskan sebagai beriku :
mencegah ovulasi,mengentalkan lendir , menjadikan selaput lendir rahim tipis
dan atrofi ,menghambat transportasi gamet oleh tubafallopi.
3. Keuntungan Kontrasepsi Suntik
Keuntungan pengguna suntik yaitu sangat efektif, pencegah kehamilan
jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan seksual, tidak mengandung
16
17
estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan
gangguan pembekuan darah, tidak mempengaruhi ASI,efek samping sangat
kecil, klien tidak perlu menyimpan obat suntik, dapat digunakan oleh
perempuan usia 35 tahun sampai premenopause, membantu mencegah kanker
endometrium dan kehamilan ektopik, menurunkan kejadian tumor jinak
payudara, dan mencegah beberapa penyebab radang panggul (sulistyawati,
2013).Klien yang dapat menggunakan kontrasepsi suntik progestin.
Menurut styaningrum & Aziz (2014) yang boleh menggunakan
kontrasepsi suntik yaitu :
1) usia produktif.
2) Nulipara dan yang telah memiliki anak.
3) Mengehendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang telah memiliki
efektivitas tinggi.
4) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai.
5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui.
6) Setelah abortus atau keguguran.
7) Perokok.
8) Anemi difisiensi besi.
9) Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen.
Menurut setyaningrum & Aziz (2014 ) klien yang tidak boleh
menggunakan kontrasepsi suntik antara lain :hamil atau dicurigai
hamil,Perdarahan pervagina yang belum jelas penyebabnya,Tidak dapat
menerima terjadinya gangguan haid, Menderita kanker payudara atau riwayat
4. Waktu Mulai Menggunakan Suntikan Kombinasi
1) Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid. Tidak
17
18
diperlukan kontrasepsi tambahan.
2) Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke 7 siklus haid, klien tidak
boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan
kontrasepsi lain untuk 7 hari
3) Bila klieh tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal saja
dapat dipastikan ibu tersebut tidak hamil. Klien tidak boleh melakukan
hubungan seksual untuk 7 hari lamanya atau menggunakan metode kontrasepsi
yang lain selama masa waktu 7 hari.
4) Bila klien pascapersalinan 6 bulan, menyusui, serta belum haid, suntikan
pertama dapat diberikan, asal saja dapat dipastikan tidak hamil.
5) Bila pasca persalinan > 6 bulan, menyusui, serta telah mendapat haid, maka
suntikan pertama diberikan pada siklus haid hari 1 dan 7.
6) Ibu yang sedang menggunakan metode kontrasepsi hormonal kombinasi.
Selama ibu tersebut menggunakan kontrasepsi sebelumnya secara benar,
suntikan kombinasi dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid. Bila
ragu-ragu, perlu dilakukan uji kehamilan terlebih dahulu.
7) Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal, dan ibu tersebut
ingin menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan kombinasi
tersebut dapat diberikan sesuai jadwal kontrasepsi sebelumnya. Tidak diperlukan
metode kontrasepsi lain.
8) Ibu yang menggunakan metode kontrasepsi nonhormonal dan ingin
menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan pertama dapat segera
diberikan, asal saja diyakini ibu tersebut tidak hamil, dan pemberiannya tanpa
perlu menunggu datangnya haid. Bila diberikan pada hari 1-7 siklus haid,
metode kontrasepsi lain tidak diperlukan. Bila sebelumnya menggunakan
18
19
AKDR, dan ingin menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan
pertama diberikan hari 1-7 siklus haid. Cabut segera AKDR.
5. Efek samping
1) Amenore
2) Mual/pusing/muntah
3) Perdarahan
4) Keputihan
19
20
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA BERENCANA
A. Tinjauan Kasus
PENGKAJIAN
Tanggal : 26 Mei 2023
Jam : 08.15 WIB
Tempat : Ruangan Poli Ibu
Pengkaji : Risminiana
A. DATA SUBYEKTIF
1. Identitas
Identitas Pasien
: Ny. C
Nama Istri
Umur : 21 tahun
Suku : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Betungan
20
21
Penanggung Jawab/Suami :
: Tn. R
Nama Suami
Umur : 24 tahun
Suku : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Betungan
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan ingin menggunakan alat kontrasepsi KB suntik 1 bulan
3. Data Kesehatan
a. Riwayat kesehatan yang lalu:
Ibu mengatakan tidak pernah menderita sakit cacar atau campak
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit bronchopneumoni,
hipertensi, diabetus militus dan penyakit hepatitis.
Ibu mengatakan tidak pernah dirawat dirumah sakit
Ibu mengatakan tidak pernah dioperasi
Ibu mengatakn tidak pernah mengalami kecelakaan
Ibu mengatakan tidak pernah melakukan transfusi darah
Ibu mengatakan tidak alergi terhadap obat
b. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan bahwa keluarganya tidak ada riwayat penyakit menurun dan
menahu seperti kanker, TBC, jantung, epilepsi, hipertensi, penyakit darah,
21
22
diabetes militus, dan ginjal.
c. Riwayat penyakit keturunan
Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat keturunan seperti bayi kembar.
4. Data Kebidanan
a. Riwayat Menstruasi:
Menarche : 13 Tahun
Banyaknya : 3 kali ganti pembalut
Siklus : 28 hari
Keluhan : pegel-pegel pada bagian pinggang
Warna : Merah kehitaman
Lamanya : 7-8 hari
b. Riwayat Perkawinan
Status Perkawinan : Kawin / tdk kawin : kawin
Lama perkawinan : 1 tahun
c. Riwayat Keluarga Berencana:
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
5. Data Kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
Makan : 3 kali/hari
Minum : 7-8 gelas/hari
Jenis makan : Nasi, sayur, lauk pauk, buah
22
23
Makanan pantang : Tidak memiliki makanan pantangan
Alergi makan : Tidak memiliki alergi terhadap makanan
b. Elimnasi
BAK : 8 kali/hari, warna kuning bau khas
BAB : 1 kali/hari, konsistensi lunak
c. Istirahat
Tidur siang : 1 jam
Tidur malam : 8 jam
Keluhan : Ibu mengatakan tidak mengalami keluhan
d. Personal Higiene
Mandi : 2 kali/hari
Keramas : 3-4 kali/minggu
Gosok gigi : 2 kali/hari
Ganti baju : 2 kali/hari
e. Seksual
Frekuensi : 1 kali/minggu
Ibu mengatakan tidak mengalami keluhan dalam melakukan hubungan seksual.
f. Data Psikososial dan Agama
Ibu mengatakan hubungan dengan keluarga baik, hubungan dengan
masyarakat juga baik.
Ibu mengatakan kegiatan ibadah ibu sehari adalah sholat 5 waktu dalam
sehari, dzikir, dan berdoa.
23
24
g. Kebiasaan sehari-hari:
Ibu mengatakan tidak memiliki kebiasaan merokok, minuman keras, minum
jamu, dan kebisaan lainnya.
B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Vital Sign : Tekanan darah : 110/70 mmHg
Suhu : 36,50 C
Nadi : 80 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Rambut : Rambut tidak rontok, kulit kepala bersih, rambut lurus
Muka : Tidak pucat, tidak oedema
Mata :Konjungtiva merah, sklera putih
Hidung : Simetris, bersih, tidak infeksi Telinga : tidak ada
penumpukan secret
24
25
a. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid,tidak ada
pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran vena
jugularis.
b. Payudara
Mammae simetris, tidak ada benjolan, putting susu menonjol.
c. Abdomen:
Tidak ada bekas luka operasi
d. Genital
Odema : tidak ada
Varices : tidak ada
e. Ekstremitas
Atas
Bentuk : simetris
Odema : tidak ada
Gerakan : aktif
Kelainan : tidak ada
Bawah
Bentuk : simetris
Odema : tidak ada
25
26
Gerakan : aktif
Kelainan : tidak ada
Reflek Patela : kanan (+) / kiri (+)
C. ASSESMENT
Ny. C umur 21 tahun, P1A0 akseptor KB suntik 1 bulan.
D. PLANNING
1. Menyambut ibu dengan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.
2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
3. Memeriksa jadwal kunjungan yang tertera pada kartu KB ibu.
4. Memberi tahu ibu terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan.
5. Memberikan konseling kepada ibu tentang kontrasepsi cyclofem.
6. Memberikan informed consent kepada ibu sebelum melakukan tindakan.
7. Siapkan obat yang akan digunakan seperti spuit 3 ml, obat KB suntik cyclofem, dan
kapas alkohol. Suntikan KB suntik cyclofem pada bokong ibu 1/3 SIAS secara IM,
sebelum penyunyikan usap tempat penyuntikan dengan kapas alkohol, beritahu ibu
bahwa ia akan disuntik dan jangan lupa untuk lakukan aspirasi saat penyuntikan.
Beritahu ibu agar tidak menggosok bekas suntikan.
8. Beritahu ibu jadwal kunjungan ulang yang dicatat pada kartu dan sarankan ibu untuk
datang tepat waktu.
9. Lakukan pendokumentasian.
26
27
B. Pembahasan
Telah dilakukan manajemen asuhan kebidanan pada Ny. C dengan Akseptor
KB suntik kombinasi di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu. Asuhan dilakukan satu
hari di ruang pemeriksaan, serta penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori
dan praktik.
1. Pengumpulan Data
Pada pengkajian data dasar kasus suntik KB 1 bulan dilakukan pada saat di
ruang pemeriksaan. Pengkajiannya meliputi anamnesis kepada pasien.
Pemeriksaan yang dilakukan pada Ny. C yaitu keadaan umum ibu tampak baik,
kesadaran composmentis, berat badan ibu sekarang 57 kg, pemeriksaan tanda-
tanda vital ibu didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg, didapati hasil dengan
cara menggunakan tensi meter, kemudian nadi 80x/menit, dan teratur, suhu
diukur 36,5 ºc, pernafasan 20 x/menit, BB 57 kg
2. Diagnosa Aktual
Keluarga berencana merupakan usaha bagi suami istri untuk mengatur jarak
dan jumlah anak yang diinginkan serta mengurangi angka kematian bayi,
mengurangi angka kematian ibu, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga
dengan pemakaian kontrasepsi. Jenis KB suntik adalah salah satu kontrasepsi
yang mencegah kehamiIan dan banyak digunakan. KB suntik bekerja dengan
mengentalkan lendir rahim sehingga tidak terjadi pembuahan.
Pengkajian pada Ny. C maka penulis merumuskan diagnosa aktual yaitu Ny. C
dengan Akseptor KB suntik 1 bulan. Perumusan diagnosa sesuai dengan
nomenklatur kebidanan. Berdasarkan uraian di atas tidak didapatkan kesenjangan
dengan apa yang dijelaskan pada teori dan yang ditemukan pada kasus Ny. C.
27
28
3. Planning
Rencana asuhan pada kasus ini yaitu ibu tetap menjadi akseptor KB suntik 1
bulan, ibu dapat beradaptasi dengan pemakaian suntikan KB 1 bulan. Adapun
kriteria keberhasilan yaitu keadaan umum ibu baik, ibu mendapat suntikan KB
secara berkala, ibu datang pada kunjungan berikutnya dengan jadwal yang sesuai.
Rencana asuhan yang diberikan kepada ibu yaitu: menyambut ibu dengan
senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Mencuci tangan sebelum dan sesudah
melakukan tindakan. Memeriksa jadwal kunjungan yang tertera pada kartu KB
ibu. Memberi tahu ibu terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan. Memberikan
konseling kepada ibu tentang kontrasepsi cyclofem. Memberikan informed
consent kepada ibu sebelum melakukan tindakan. Siapkan obat yang akan
digunakan seperti spuit 3 ml, obat KB suntik cyclofem, dan kapas alkohol.
Suntikan KB suntik cyclofem pada bokong ibu 1/3 SIAS secara IM, sebelum
penyuntikan usap tempat penyuntikan dengan kapas alkohol, beritahu ibu bahwa
ia akan di suntik dan jangan lupa untuk lakukan aspirasi saat penyuntikan.
Beritahu ibu agar tidak menggosok bekas suntikan. Beritahu ibu jadwal
kunjungan ulang yang dicatat di kartu, sarankan ibu untuk datang tepat waktu
sesuai tanggal. Lakukan pendokumentasian.
Berdasarkan uraian tersebut tampak adanya persamaan antara teori dan
praktek yang dilakukan pada kasus Ny. C.
28
29
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah mempelajari teori, konsep dan prinsip–prinsip serta tinjauan pustaka dari
hasil pengkajian Asuhan Kebidanan pada Ny. C Akseptor KB suntik cyclofem di
Puskesmas Betungan Kota Bengkulu, maka dapat ditarik kesimpulan. Pengumpulan
data dasar dilakukan anamnesis. Data subjektif saat ini ibu mengatakan menjadi
akseptor KB suntik 1 bulan sejak tahun 2022 hingga sekarang. Data objektif pada kartu
ibu tercantum bahwa ibu memakai suntikan 1 bulan. Anaslisa pada Ny. C dengan
Akseptor KB suntik 1 bulan. Rencana asuhan/lntervensi pada Ny. C dengan
merencanakan asuhan yang diberikan kepada klien dengan persetujuan dengan klien.
Pelaksanaan asuhan/implementasi pada Ny. C teIah dilaksanakan sesuai rencana asuhan
yang disetujui dengan klien. Evaluasi pada Ny. C telah diberikan suntikan KB 1 bulan
dan bersedia datang kembali sesuai tanggal kunjungan. Mendokumentasikan hasil
asuhan kebidanan keluarga berencana pada Ny. C dalam bentuk SOAP.
B. Saran
1. Bagi Klinik Puskesmas Betungan
Diharapkan bidan tetap mempertahankan pelayanan kebidanan yang sudah baik
serta dapat meningkatkan pelayanan seperti dalam memberikan informasi tentang
kesehatan yang secara terperenci dan lengkap, memberikan pelayanan yang
berkualitas, aman dan nyaman agar menjadi klinik yang diminati masyarakat untuk
melakukan pemeriksaan kesehatannya.
2. Bagi Jurusan Kebidanan STIKES Tri Mandiri Sakti
Diharapkan kepada pimpinan STIKES Tri Mandiri Sakti khususnya jurusan
Kebidanan Medan untuk menyediakan sumber referensi buku yang lebih banyak
29
30
lagi di perpustakaan Kebidanan Medan untuk menunjang penyusunan Laporan
PKK, sehingga penyusunan Laporan PKK, di tahun depan berjalan lebih baik.
3. Bagi Klien
Diharapkan kepada pasien untuk selalu meningkatkan dan menambah wawasan
tentang kesehatan serta maningkatkan antusias untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan.
30
31
DAFTAR PUSTAKA
Klein, S, Fiona T. 2008. panduan Lengkap Kebidanan. Yogyakarta:Mitra Setia
Koesno, Harni.2013. Buku panduan Praktis pelayanan Kontrasepsi. Jakarta:Bina
Pustaka sarwono pharwirohardjo
Manuba IBG. 2012. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencanauntuk Pendidikan Bidan. Jakarta; EGC
Melani N, Nanik S, Dwiana S, dan Suherni.2010. Pelayanan Keluarga Berencana.
Yogyakarta:Fitramaya
Pinem, S. 2009. Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi. Jakarta:Trans Info Media
31