LAPORAN KOMPREHENSIF PRAKTIK KLINIK PROFESI
STASE ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III
DI PMB SUKARSIH KABUPATEN TEBO
TAHUN 2023
Pembimbing Akademik: Riri Aprianti S.Keb,Bd.M.Keb
Pembimbing Klinik: Sukarsih, AM.Keb.
Disusun oleh:
Nama: Pebbin Kori Sari
NIM : 221004615901112
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
FAKULTAS KEBIDANAN UNIVERSITAS
PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI
TAHUN 2023
i
LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN KEHAMILAN
PRAKTIK KLINIK PROFESI
STASE ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN
Laporan Pendahuluan Asuhan Kebidanan Kehamilan ini
Telah Memenuhi Disetujui untuk di laksankan ke tahap Laporan Kasus
Tebo, Tanggal Januari 2023
Menyetujui
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik
Riri Aprianti S.Keb,Bd.M.Keb Sukarsih AM.Keb.
NIDN : 1027049401 NIP. 197604032007012004
ii
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KASUS
PRAKTIK KLINIK PROFESI
STASE ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN
Laporan Komprehensif Asuhan Kebidanan Kehamilan ini
Telah Disahkan untuk didokumentasikan dalam bentuk Laporan
Komprehensif Rimbo Ulu , Januari 2023
Menyetujui
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik
Riri Aprianti. S.Keb, Bd. M.Keb Sukarsih, AM.Keb.
NIDN. 1027049401 NIP. 197604032007012004
Mengetahui, Diketahui,
Ka. Prodi Pendidikan Profesi Bidan Koord. Praktik Klinik Profesi
Suci Rahmadeny, S.ST,Bd. M.Keb. Lady Wizia, S.Keb., Bd.
NIDN. 1013058901 NIDN.
iii
DAFTAR ISI
COVER
LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN PENDAHULUAN ....................................... i
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KASUS ........................................................ ii
DAFTAR ISI .................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Tujuan .......................................................................................................... 3
1. Tujuan Umum ........................................................................................ 3
2. Tujuan Khusus ....................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN TEORI ........................................................................................... 11
A. Kehamilan .................................................................................................... 11
B. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan ................................................................. 40
BAB III TINJAUAN KASUS......................................................................................... 98
A. Data Subjektif ............................................................................................... 98
B. Data Objektif ...................................................................................................... 100
C. Analisis .............................................................................................................. 101
D. Penatalaksanaan............................................................................................... 102
BAB IV PEMBAHASAN............................................................................................... 103
BAB V PENUTUP........................................................................................................... 104
A. Kesimpulan...................................................................................................... 104
B. Saran............................................................................................................... 105
DAFTAR PUSTAKA
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan adalah proses yang alamiah setiap wanita, perubahan
selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis. Kehamilan adalah
suatu pengalaman yang berharga bagi perempuan. Perilaku selama masa
kehamilan akan berpengaruh terhadap kehamilannya (Dewi, 2021).
Kehamilan adalah suatu hal yang fisiologis yang dimulai dengan
pembuahan dan diakhiri oleh proses persalinan. Dalam proses
kehamilan ada beberapa perubahan yang dialami oleh ibu hamil salah
satunya yaitu perubahan fisik dan psikologis ibu. Perubahan psikologis
ini terjadi pada ibu hamil diantaranya yaitu kecemasan menjelang
kelahiran dan suasana ketidaknyaman dalam perubahan saat hamil. Rasa
cemas yang dialami oleh ibu hamil ini disebabkan karena meningkatnya
hormon progesteron. Selain membuat ibu hamil merasa cemas,
peningkatan hormon ini juga menyebabkan gangguan perasaan da
membuat ibu hamil cepat lelah dan mempengaruhi kebutuhan istirahat
tidur ibu (Mufdlilah, 2012).
Kehamilan merupakan penyatuan dari spermatozoa dan ovum
dan dilanjutkan dengan nidasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga
lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40
minggu atau 9 bulan menurut kalender internasional. Maka, dapat
disimpulkan bahwa kehamilan merupakan bertemunya sel telur dan
sperma di dalam atau diluar Rahim dan berakhir dengan keluarnya bayi
5
dan plasenta melalui jalan lahir (Yulaikhah, 2019).
Kehamilan merupakan periode yang sangat rentan, tidak hanya
bagi ibu hamil saja tetapi juga bagi keselamatan janin di dalam
kandungan. Akibat yang dapat terjadi bila ibu tidak dapat mengenali
tanda bahaya kehamilan secara dini dan upaya deteksi dini ibu yang
kurang, maka akan mengakibatkan kematian pada ibu dan janinnya.
Tanda bahaya kehamilan merupakan tanda yang mengindikasikan
adanya bahaya yang dapat terjadi selama masa kehamilan atau periode
antenatal. Hal ini sangat perlu diketahui oleh ibu hamil terutama yang
mengancam keselamatan ibu dan janin yang ada di kandungannya,
minimal hal yang harus diketahui ibu hamil untuk mengenal tanda
bahaya kehamilan yaitu seperti perdarahan, gerakan janin
berkurang,nyeri perut dan sakit kepala yang hebat (Carlos, 2020)
Kondisi kesehatan calon ibu pada masa awal kehamilan akan
mempengaruhi tingkat keberhasilan kehamilan serta kondisi status
kesehatan calon bayi yang masih didalam rahim maupun yang sudah
lahir, sehingga disarankan agar calon ibu dapat menjaga perilaku hidup
sehat dan menghindari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi
calon ibu pada masa kehamilan (Johnson, 2016).
Risiko tinggi pada kehamilan dapat ditemukan saat menjelang
waktu kehamilan, waktu hamil muda, waktu hamil pertengahan, saat in
partus bahkan setelah persalinan (Manuaba, 2008). Ibu hamil yang
mengalami gangguan medis atau masalah kesehatan akan dimasukan
kedalam kategori risiko tinggi, sehingga kebutuhan akan pelaksanaan
6
asuhan pada kehamilan menjadi lebih besar (Robson and Waugh, 2012).
Menurut World Health Organization (2019), sekitar 810 ibu
hamil meninggal setiap harinya karena komplikasi terkait dengan
kehamilan dan persalinan. Komplikasi utama yang menyebabkan
hamper 75% dari semua kematian ibu hamil di dunia yaitu karena
perdarahan, infeksi, preeklamsia dan aborsi yang tidak aman (WHO,
2019).
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator
untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. Angka Kematian Ibu
adalah jumlah kematian ibu selama kehamilan, persalinan dan nifas atau
pengelolaannya dan bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan
atau jatuh disetiap 100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2019).
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization
(WHO) mencatat sekitar 830 wanita diseluruh dunia meninggal setiap
harinya akibat komplikasi yang terkait dengan kehamilan maupun
persalinan dan sebanyak 99% diantaranya terdapat pada negara
berkembang. Di negara berkembang, pada tahun 2015 Angka Kematian
Ibu mencapai 239 per 100.000 kelahiran hidup, dibandingkan dengan
negara maju yang hanya mencapai 12 per 100.000 kelahiran hidup
(WHO, 2018).
Sustainable Development Goals (SDGs) adalah agenda global
dalam Pembangunan Berkelanjutan dengan pelaksanaan dari tahun 2016
hingga tahun 2030 yang merupakan pembaharuan Millenium
Development Goals (MDGs) atau agenda Pembangunan Milenium yang
7
telah resmi berahir pada tahun 2015. Salah satu tujuan SDGs adalah
terciptanya suatu kondisi kehamilan dan persalinan yang aman, serta ibu
dan bayi yang dilahirkan dapat hidup dengan sehat, yang dilakukan
dengan pencapaian target dalam mengurangi rasio kematian ibu secara
global hingga kurang dari 70 per
100.000 kelahiran (WHO, 2017).
Antenatal Care (ANC) adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga
profesional untuk ibu hamil selama masa kehamilan yang dilaksanakan
sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan (Kemenkes
RI, 2020). Pemeriksaan Antenatal Care terbaru sesuai dengan standar
pelayanan yaitu minimal 6 kali pemeriksaan selama kehamilan,dan
minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester I dan III. 2 kali
pada trimester pertama (kehamilan hingga 12 minggu) , 1 kali pada
trimester kedua (kehamilan diatas 12 minggu sampai 26 minggu) , 3 kali
pada trimester ketiga ( kehamilan diatas 24 minggu sampai 40 minggu)
(Buku KIA Terbaru Revisi tahun 2020).
Melakukan pelayanan ANC sesuai dengan standar dan secara
terpadu yang terdiri dari: timbang berat badan dan ukur tinggi badan,
ukur tekanan darah, ukur lingkar lengan atas (LiLA), ukur tinggi puncak
rahim (fundus uteri), tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin
(DJJ), berikan imunisasi TT sesuai dengan status imunisasi, pemberian
tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan, test laboratorium,
tatalaksana kasus, pelaksanaan temu wicara (konseling) serta penilaian
Kesehatan jiwa (Kemenkes RI,No 21 Tahun 2021).
8
Asuhan antenatal penting dilakukan. Ibu yang tidak
mendapatkan asuhan antenatal memiliki risiko lebih tinggi kematian
maternal, stillbirth, dan komplikasi kehamilan lainnya. Asuhan antenatal
rutin bermanfaat untuk mendeteksi komplikasi pada kehamilan seperti
anemia, preeklamsia, diabetes melitus gestasional, infeksi saluran kemih
asimtomatik dan pertumbuhan janin tehambat (Saifuddin, 2012).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis melakukan
studi Asuhan Kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih
Rimbo Ulu Tahun 2023.
A. Tujuan Umum dan Khusus
1. Tujuan Umum
Mampu menjelaskan konsep dasar, serta mampu memberikan
dan melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III di
PMB Sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu menjelaskan konsep dasar pada ibu hamil trimester III
di PMB Sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023.
b. Mampu memberikan dan melaksanakan pengkajian data asuhan
kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih
Kabupaten Tebo Tahun 2023.
c. Mampu memberikan dan melaksanakan identifikasi diagnosa
dan masalah asuhan kebidanan pada ibu hamil di PMB Sukarsih
Kabupaten Tebo Tahun 2023.
d. Mampu memberikan dan melaksanakan identifikasi diagnosa
9
potensial asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB
sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023.
e. Mampu memberikan dan melaksanakan identifikasi kebutuhan
Tindakan segera asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III
di PMB Sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023.
f. Mampu memberikan dan melaksanakan perencanaan asuhan
kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih
Kabupaten Tebo Tahun 2023.
g. Mampu memberikan dan melaksanakan pelaksanaan asuhan
kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih
Kabupaten TeboTahun 2023.
h. Mampu memberikan dan melaksanakan evaluasi asuhan
kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih
Kabupaten Tebo Tahun 2023.
10
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Kehamilan
1. Definisi
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung
dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan
menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester,
dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester
kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga
13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Prawirohardjo, 2014).
Kehamilan trimester III merupakan kehamilan dengan usia 28-40
mingu dimana merupakan waktu mempersiapkan kelahiran dan
kedudukan sebagai orang tua, seperti terpusatnya perhatian pada
kehadiran bayi, sehingga disebut juga sebagai periode penantian
(Lombogia, 2017).
Dalam kehamilan terjadi beberapa perubahan dalam system tubuh
ibu, sehingga seringkali menimbulkan ketidak nyamanan pada ibu
hamil. Ketidaknyamanan yang sering dialami oleh ibu hamil TM III
seperti nyeri punggung bagian bawah, konstipasi, kram pada kaki,
odema, nafas sesak, dan sering kencing (Hutahean, 2013). Sering
11
kencing merupakan akibat dari desakan rahim kedepan menyebabkan
kandung kemih cepat terasa penuh dan sering kencing. Pada trimester
akhir, gejala bisa timbul karena janin mulai masuk kerongga panggul dan
menekan kembali kandung kemih (Walyani, 2015).
Rasa ketidaknyamanan sering buang air kecil apabila tidak segera
diatasi akan berdampak tidak baik bagi ibu hamil, janin dan denyut
jantung janin, skrining status imunisasi tetanus toksoid, diantaranya dapat
mengakibatkan infeksi terutama infeksi saluran kemih apabila keadaan
celana dalam sering selalu dalam keadaan lembab akibat sering cebok
setelah BAK dan tidak di keringkan sehingga mengakibatkan
pertumbuhan bakteri dan selain itu dengan kebiasaan ibu sering menahan
kencing dapat mengakibatkan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang dapat
berpengaruh pada bayi sehingga pada saat bayi lahir terdapat sariawan
pada mulutnya dan dampak terburuk dapat menyebabkan melemahnya
selaput ketuban dan memicu kontraksi dinding rahim. Lemahnya selaput
ketuban dan mingkatnya kontraksi bias memicu kelahiran prematur
(Hutahean S, 2013).
Ketidaknyamanan sering kencing merupakan keluhan yang masih
dapat di atasi oleh ibu hamil dengan mengurangi minum pada malam
hari, dan selalu menjaga kebersihan diri sehingga ketidaknyamanan ini
tidak mengarah ke komplikasi (Megasari, 2019).
Beberapa ibu hamil masih belum memahami bahwa keluhan
sering BAK adalah suatu hal yang fisiologis yang diakibatkan oleh uterus
yang membesar seiring perkembangan janin akan memberikan tekanan
pada kandung kemih, serta apabila kepala janin sudah memasuki pintu
12
atas panggul. Oleh karena itu perlu dilakukan asuhan kebidanan secara
komprehensif pada ibu hamil TM III agar kondisi yang dirasakannya
segera teratasi. Asuhan yang dapat diberikan untuk mengurangi
ketidaknyamanan sering kencing pada ibu hamil TM III yaitu ibu harus
tetap menjaga kebersihan diri, harus mengganti celana dalam setiap
selesai BAK atau menyediakan handuk bersih dan kering untuk
membersihkan serta mengeringkan area kewanitaan agar tidak
mneyebabkan kelembaban. Kosongkan kandung kemih saat terasa
dorongan untuk kencing, perbanyak minum pada siang hari dan kurangi
minum di malam hari, batasi minum minuman antideuritik alami seperti
teh, kopi dan cola, jelaskan tentang posisi berbaring miring ke kiri
dengan kaki ditinggikan pada malam hari, menganjurkan untuk
melakukan senam kegel, dan menerapkan kebijakan program pemerintah
pelayanan kehamilan normal minimal 6x dengan rincian berbaring miring
ke kiri dengan kaki ditinggikan pada malam hari, menganjurkan untuk
melakukan senam kegel, dan menerapkan kebijakan program pemerintah
pelayanan kehamilan normal minimal 6x dengan rincian 2x di Trimester
1, 1x di Trimester 2, dan 3x di Trimester 3 (Kemenkes RI, 2020)
2. Perubahan Anatomis dan Fisiologi pada ibu hamil TM III
a. Uterus
uterus pada usia gestasi 30 minggu, fundus uteri dapat dipalpasi di
bagian tengah antara umbilikus dan sternum. Pada usia kehamilan 38
minggu, uterus sejajar dengan sternum. Tuba uterin tampak agak
terdorong ke dalam di atas bagian tengah uterus. Frekuensi dan
kekuatan kontraksi otot segmen atas rahim semakin meningkat. Oleh
13
karena itu, segmen bawah uterus berkembang lebih cepat dan
merenggang secara radial, yang jika terjadi bersamaan dengan
pembukaan serviks dan pelunakan jarringan dasar pelvis, akan
menyebabkan presentasi janin memulai penurunannya ke dalam
pelvis bagian atas. Hal ini mengakibatkan tinggi fundus yang disebut
dengan lightening, yang mengurangi tekanan pada bagian atas
abdomen. Peningkatan berat uterus 1.000 gram dan peningkatan
ukuran uterus 30 x 22,5 x 20 cm (Syaiful & Fatmawati, 2019).
b. Serviks uteri
Serviks akan mengalami perlunakan atau pematangan secara
bertahap akibat bertambahnya aktivitas uterus selama kehamilan,
dan akan mengalami dilatasi sampai pada kehamilan trimester III.
Sebagian dilatasi ostium eksternal dapat dideteksi secara klinis dari
usia 24 minggu, dan pada sepertiga primigravida, ostium internal
akan terbuka pada minggu ke-32. Enzim kolagenase dan
prostaglandin berperan dalam pematangan serviks (Wagiyo &
Putrono, 2016).
c. Vagina dan vulva
Pada kehamilan trimester III terkadang terjadi peningkatan rabas
vagina. Peningkatan cairan vagina selama kehamilan adalah normal.
Cairan biasanya jernih. Pada awal kehamilan, cairan ini bisanya agak
kental, sedangkan pada saat mendekati persalinan cairan tersebut
akan lebih cair (Wagiyo & Putrono, 2016).
d. Payudara
14
Pada ibu hamil trimester III terkadang keluar rembesan cairan
berwarna kekuningan dari payudara ibu yang disebut dengan
kolostrum. Hal ini tidak berbahaya dan merupakan pertanda bahwa
payudara sedang menyiapkan ASI untuk menyusui bayinya nantinya.
Progesterone menyebabkan puting menjadi lebih menonjol dan dapat
digerakkan (Syaiful & Fatmawati, 2019)
e. Sistem integumen
Perubahan sistem integumen sangat bervariasi tergantung ras.
Perubahan yang terjadi disebabkan oleh hormonal dan peregangan
mekanik. Secara umum, perubahan pada integument meliputi
peningkatan ketebalan kulit dan rambut, peningkatan aktivitas
kelenjar keringat, dan peningkatan sirkulasi dan aktivita vasomotor.
Striae gravidarum biasanya terjadi dan terlihat sebagai garis merah
yang berubah menjadi garis putih yang berkilau keperakan, hal ini
kadang mengakibatkan rasa gatal (Syaiful & Fatmawati, 2019)
f. Sistem kardiovaskular
Sejak pertengahan kehamilan denyut nadi waktu istirahat meningkat
sekitar 10-15 kali per menit dan aspek jantung berpindah sedikit ke
lateral, bising sistolik pada saat inspirasi meningkat. Cardiac Output
(COP) meningkat sekitar 30-50% selama kehamilan dan tetap tinggi
sampai persalinan. Cardiac Output (COP) dapat menurun bila ibu
berbaring terlentang pada akhir kehamilan karena pembesaran uterus
menekan vena cava interior, mengurangi venous kembali ke jantung
sehingga menurunkan Cardiac Output (COP). Sehingga ibu akan
15
mengalami hipotensi sindrom, yaitu pusing mual, dan seperti hendak
pinsan (Syaiful & Fatmawati, 2019).
g. Sistem respirasi
Kecepatan pernapasan menjadi sedikit lebih cepat untuk memenuhi
kebutuhan oksigen yang meningkat selama kehamilan (15-20%).
Tidal volume meningkat 30-40%. Pada kehamilan lanjut ibu
cenderung menggunakan pernafasan dada daripada pernafasan perut,
hal ini disebabkan oleh tekanan ke arah diafragma akibat
pembesaran rahim (Syaiful & Fatmawati, 2019)
h. Sistem pencernaan
Nafsu makan pada akhir kehamilan akan meningkat dan sekresi usus
berkurang. Usus besar bergeser ke arah lateral atas dan posterior,
sehingga aktivitas peristaltik menurun yang mengakibatkan bising
usus menghilang dan konstipasi umumnya akan terjadi (Syaiful &
Fatmawati, 2019).
i. Sistem perkemihan
Aliran plasma renal meningkat 30% dan laju fitrasi glomerulus
meningkat (30 sampai dengan 50%) pada awal kehamilan
mengakibatkan poliuri. Usia kehamian 12 minggu pembesaran
uterus menyebabkan penekanan pada vesika urinaria menyebabkan
peningkatan frekuensi miksi yang fisiologis. Kehamilan trimester II
kandung kencing tertarik ke atas pelvik dan uretra memanjang.
Kehamilan trimester III kandung kencing menjadi organ abdomen
dan tertekan oleh pembesaran uterus serta penurunan kepala
16
sehingga menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil
(Wagiyo dan Putrono, 2016)
j. Sistem muskuloskeletal
Perubahan tubuh secara bertahap dan peningkatan berat wanita hamil
menyebabkan postur dan cara berjalan berubah (Fauziah dan Sutejo,
2012). Peningkatan distensi abdomen membuat panggul miring ke
depan, penurunan tonus otot perut dan peningkatan beban berat
badan pada akhir kehamilan membutuhkan penyesuaian ulang
(realignment) kurvatura spinalis. Berat uterus dan isinya
menyebabkan perubahan titik pusat gravitasi dan garis bentuk tubuh.
Lengkung tulang belakang berubah bentuk mengimbangi
pembesaran abdomen (Wagiyo dan Putrono, 2016).
Sikap tubuh lordosis merupakan keadaan yang khas karena
kompensasi posisi uterus yang membesar dan menggeser berat ke
belakang lebih tampak pada masa trimester III yang menyebabkan
rasa sakit bagian tubuh belakang karena meningkatnya beban.
Perubahan ini menyebabkan rasa tidak nyaman di punggung bawah
seperti nyeri lumbar dan nyeri ligamen terutama di akhir kehamilan
(Syaiful dan Fatmawati, 2019).
k. Perubahan pada sistem metabolik
Basal metabolic rate (BMR) umumnya meningkat 15-20% terutama
pada trimester III dan akan kembali ke kondisi sebelum hamil pada
5-6 hari postpartum. Peningkatan BMR menunjukkan peningkatan
17
kebutuhan dan pemakaian oksigen. Vasodilatasi perifer dan
peningkatan aktivitas kelenjar keringat membantu mengeluarkan
kelebihan panas akibat peningkatan BMR selama hamil. Ibu
mungkin tidak dapat metoleransi suhu lingkungan yang sedikit
panas. Kelemahan dan kelelahan setelah aktivitas ringan, rasa
mengantuk mungkin dialami ibu sebagai akibat peningkatan aktivitas
metabolisme (Syaiful & Fatmawati, 2019).
l. Perubahan berat badan
Penambahan berat badan selama kehamilan bervariasi antara ibu
yang satu dengan ibu yang lainnya. Kenaikan berat badan selama
hamil berdasar usia kehamilan 10 minggu sebesar 600 gr, 20 minggu
sebesar 4000 gram, 30 minggu sebesar 8500 gram, dan 40 minggu
sebesar 12.500 gram. Pada kehamilan trimester III terjadi
penambahan berat badan 0,5 kg/minggu atau sebesar (8-15 kg)
(Syaiful & Fatmawati, 2019).
3. Perubahan Psikologis KehamilanTrimester III
Salah satu perubahan psikologis pada kehamilan trimester III
yaitu kecemasan. Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak jelas
dan tidak 18 didukung oleh situasi. Individu yang mengalami cemas
akan merasa tidak nyaman dan takut, namun tidak mengetahui alasan
kondisi tersebut terjadi (Videbeck, 2012). Pada kehamilan trimester
III perasaan takut akan muncul pada ibu hamil. Ibu mungkin akan
merasa cemas dengan kehidupan bayi dan dirinya sendiri. Ibu
khawatir bayinya lahir tidak normal, takut akan persalinan (nyeri,
18
kehilangan kendali, rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada
saat melahirkan (Marni dan Margiyati, 2013). Selain itu, ibu juga
akan merasa tidak sabar menunggu kehadiran bayinya, khawatir akan
bayinya yang akan segera lahir sewaktu-waktu, dan bersikap lebih
melindungi bayinya dan menghindari orang tau benda yang dianggap
membahayakan bayinya (Astuti, dkk, 2017).
Pada perubahan psikologis timbulnya kecemasan pada ibu
hamil trimester III berhubungan dengan kondisi kesejahteraan ibu dan
bayi yang akan dilahirkan, pengalaman keguguran, rasa aman dan
nyaman selama kehamilan, penemuan jati dirinya dan persiapan
menjadi orang tua, sikap memberi dan menerima kehamilan, dan
dukungan keluarga (Janiwarty dan Pieter, 2013). Gejala kecemasan
yang sering dirasakan ibu hamil trimester III yaitu diantaranya cemas,
khawatir, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung, merasa
tegang, tidak tenang, gangguan pola tidur, mimpimimpi yang
menegangkan, gangguan konsentrasi dan daya ingat, keluhan somatic,
sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan dan sakit
kepala (Hawari, 2016).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan kecemasan dapat dilakukan dengan berbagai cara
dianataranya yaitu dengan teknik relaksasi nafas dalam. Relaksasi
merupakan metode efektif untuk mengurangi ketegangan otot, rasa
jenuh dan kecemasan (Laili dan Wartini, 2017). Selain itu terdapat
juga beberapa cara untuk mengurangi kecemasan dianatranya dengan
19
teknik relaksasi otot progresif, terapi pijatan, imaginery, dan terapi
yoga (Rafika, 2018).
4. Ketidaknyamanan dan penanganan Umum
a. Nyeri punggung bawah
Nyeri punggung bawah merupakan salah satu ketidaknyamanan yang
dirasakan pada kehamilan trimester III (Hutahaean, 2013). Nyeri
punggung merupakan nyeri diabgian lumbar, lumbosacral, atau
didaerah leher. Nyeri punggung disebabkan oleh regangan otot otau
tekanan pada saraf dan biasanya dirasakan sebagai rasa sakit,
tegangan, atau rasa kaku dibagian punggung (Huldani, 2012). Nyeri
tersebutlah yang menyebabkan reaksi reflektoril pada otot-otot
lumbodorsal terutama pada otot erector spine pada L4 dan L5
sehingga terjadi peningkatan tonus yang terlokalisir. Nyeri yang
dirasakan dengan inetnesitas tinggi dan kuat biasanya akan menetap
kurang lebih 10-15 menit kemudian hilang timbul lagi (Pearce,
2013).
Nyeri punggung bawah merupakan masalah otot dan tulang yang
sering dialami dalam kehamilan yang menyebabkan rasa tidak
nyaman. Nyeri punggung bawah dihubungkan dengan lordosis yang
diakibatkan karena peningkatan berat uterus yang menarik tulang
belakang keluar dari garis tubuh (Cunningham, 2013). Nyeri
punggung bawah biasanya akan meningkat seiring bertambahnya
usia kehamilan pada trimester III. Hal ini dikarenakan berat uterus
yang semakin membesar dan postur tubuh secara bertahap
20
mengalami perubahan karena janin membesar dalam abdomen
sehingga untuk mengompensasi penambahan berat badan ini, bahu
lebih tertarik ke belakang dan tubuh lebih melengkung, sendi tulang
belakang lebih lentur dan dapat menyebabkan nyeri punggung pada
ibu hamil trimester III (Purnamasari dan Widyawati, 2019).
Adapun faktor yang dapat mempengaruhi nyeri punggung bawah
pada ibu hamil diantaranya, berubahnya titik berat tubuh seiring
dengan membesarnya rahim, postur tubuh, posisi tidur, meingkatya
hormone, keahmailan kembar, riwayat nyeri pada kehamilan lalu,
dan kegemukan (Mafikasari dan Kartikasari, 2015). Selain itu
aktivitas sehari-hari (seperti duduk, bergerak, mengangkat,
membungkuk serta melakukan pekerjaan rumah tngga dan aktivitas
kerja rutin) juga bisa menjadi salah satu factor penyebab nyeri
punggung pada ibu hamil (Puspasari, 2019)
Cara mengatasinya:
1) Massage daerah pinggang dan punggung
2) Hindari sepatu hak tinggi
3) Gunakan bantal sewaktu tidur untuk meluruskan punggung
4) Tekuk kaki daripada membungkuk ketika mengangkat
apapun.
5) Lebarkan kedua kaki dan tempatkan satu kaki sedikit didepan
kaki yang lain saat menekukkan kaki, sehingga terdapat jarak
yang cukup saat bangkit dari posisi setengah jongkok (Syaiful
dan Fatmawati, 2019).
21
b. Edema ekstremitas bawah
Edema fisiologis pada kaki timbul akibat gangguan sirkulasi vena
dan peningkatan tekanan vena pada ekstermitas bawah. Gangguan
ini terjadi karena penumpukan cairan dijaringan. Hal ini ditambah
dengan penekanan pembuluh darah besar di perut sebelah kanan
(vena kava) oleh uterus yang membesar, sehingga darah yang
kembali ke jantung berkurang dan menumpuk di tungkai bawah.
Penekanan ini terjadi saat ibu berbaring terlentang atau miring ke
kanan. Oleh karena itu, ibu hamil trimester III disarankan untuk
berbarik kea rah kiri (Irianti, 2014). Edema pada kehamilan dipicu
oleh perubahan hormone esteogen, sehingga dapat meningktkan
retensi cairan. Peningkatan retensi cairan berhubungan dengan
perubahan fisik yang terjadi pada kehamilan trimester akhir, yaitu
semakin membesarnya uterus 22 seiring dengan pertambahan berat
badan janin dan usia kehamlan (Juanita, Harvrialni, dan Fadmiyanor,
2018). Edema fisiologis menyebabkan ketidaknyamanan seperti
perasaan berat, kram, dan juga kesemutan pada kaki (Coban dan
Sirin, 2010).
Cara mengatasinya:
1) Meningkatkan periode istirahat dan berbaring pada posisi
miring kiri
2) Meninggikan kaki apabila duduk serta memakai stoking
22
3) Meningkatkan asupan protein
4) Menurunkan asupan karbohidrat karena dapat meretensi
cairan di jaringan 5) Menganjurkan untuk minum 6-8 gelas
cairan sehari untuk membantu diuresis natural
6) Menganjurkan ibu untuk cukup berolahraga dan sebisa
mungkin jangan berlama-lama dalam sikap statis atau berdiam
diri dalam posisi yang sama (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
c. Gangguan tidur
Gangguan tidur pada ibu hamil trimester III disebabkan oleh
perubahan fisik dan perubahan emosi selama kehamilan. Perubahan
fisik yang terjadi seperti rasa mual dan muntah pada pagi hari,
meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari, pembesaran
uterus, nyeri punggung, dan pergerakan janin jika janin tersebut
aktif. Sedangkan perubahan emosi meliputi kecemasan, rasa takut,
dam depresi (Palifiana dan Wulandari, 2018).
Selain itu, gangguan tidur timbul mendekati saat melahirkan, ibu
hamil akan sulit mengatur posisi tidur akibat uterus yang membesar
dan pernafasan akan terganggu karena diafragma tertekan ke atas
karena semakin besar Gangguan tidur pada ibu hamil trimester III
yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikis.
Dari kesehatan fisik, kurang tidur akan menyebabkan muka pucat,
mata sembab, kantung mata bewarna hitam, badan lemas dan daya
tahan tubuh menurun sehingga mudang terserang penyakit. Dari
kesehatan psikis, kurang tidur dapat menyebabkan timbulnya
23
perubahan suasana kejiwaan, sehingga penderita akan menjadi lesu,
lamban menghadapi rangsangan, dan sulit berkonsentrasi (sukorini,
2017).
Cara mengatasinya:
1) Lakukan relaksasi napas dalam
2) Pijat punggung
3) Topang bagian tubuh dengan bantal
4) Minum air hangat (Fauziah dan Sutejo, 2012).
d. Hiperventilasi dan sesak nafas
Peningkatan jumlah progesteron selama kehamilan memengaruhi
langsung pusat pernafasan untuk menurunkan kadar karbondioksida
dan meningkatkan kadar oksigen. Hiperventilasi akan menurunkan
kadar dioksida. Uterus membesar dan menekan diafragma sehingga
menimbulkan rasa sesak (Hutahaean, 2013).
Cara mengatasinya:
1) Bantu cara mengatur pernapasan
2) Posisi berbaring dengan semifowler
3) Latihan napas melalui senam hamil
4) Tidur dengan bantal yang tinggi
5) Hindari makan terlalu banyak (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
e. Peningkatan frekuensi berkemih
Frekuensi kemih meningkat pada trimester III karena terjadi efek
lightening. Lightening yaitu bagian presentasi akan menurun masuk
kedalam panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung
24
kemih. Peningkatan frekuensi berkemih disebabkan oleh tekanan
uterus karena turunnya bagian bawah janin sehingga kandung kemih
tertekan, kapasitas kandung kemih berkurang dan mengakibatkan
frekuensi berkemih meningkat (Ardiansyah, 2016). Pada trimester III
kandung kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul sejati ke arah
abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih
bergeser kearah atas. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukan
oleh hiperemia kandung kemih dan uretra. Tonus kandung kemih
dapat menurun. Hal ini memungkinkan distensi kandung kemih
sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama pembesaran uterus
menekan kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih
meskipun kandung kemih hanya berisi sedikit urine (Hutahaean,
2013).
Cara mengatasinya:
1) Latihan kegel
2) Ibu hamil disarankan tidak minum saat 2-3 jam sebelum tidur
3) Kosongkan kandung kemih sesaat sebelum tidur. Namun agar
kebutuhan air pada ibu hamil tetap terpenuhi, sebaiknya minum
lebih banyak di siang hari (Hutahaean, 2013).
f. Nyeri ulu hati
Penyebab nyeri ulu hati adalah peningkatan hormon progesterone
sehingga merelaksasikan sfingter jantung pada lambung,
motilitasgastrointestinal karena otot halus relaksasi dan tidak ada
25
ruang fungsional untuk lambung karena tekanan pada uterus
(Hutahaean, 2013).
Cara mengatasinya:
1) Makan dengan porsi kecil tapi sering untuk menghindari
lambung yang menjadi penuh
2) Hindari makanan yang berlemak, lemak mengurangi
mortilitas usus dan sekresi asam lambung yang dibutuhkan untuk
pencernaan
3) Hindari minum bersamaan dengan makan karena cairan
cenderung menghambat asam lambung
4) Hindari makanan dingin
5) Hindari makanan pedas (Hutahaean, 2013).
g. Kram kaki
Kram kaki merupakan kontraksi otot yang memendek atau kontraksi
sekumpulan otot yang terjadi secara mendadak dan singkat, yang
biasanya menyebabkan nyeri. Kram kaki dapat disebabkan oleh
kurang mengkonsumsi kalsium, kurang aliran darah ke otot,
kelelahan dan dehidrasi, serta kurangnya gizi selama kehamilan.
Pada ibu hamil trimester III terjadi karena berat badan atau rahim ibu
yang bertambah besar sehingga terjadi gangguan asupan oksigen
yang membuat aliran darah tidak lancar dan menimbulkan rasa nyeri
pada kaki. Kram kaki yang dirasakan biasanya menyerang pada
malam hari selama 1-2 menit. Hal itu terjadi juga karena bayi
26
mengambil sebagian besar gizi ibu sehingga meninggalkan sedikit
untuk ibunya (Isroh, 2012).
Cara mengatasinya:
1) Saat kram terjadi, yang harus dilakukan adalah melemaskan
seluruh tubuh terutama bagian tubuh yang kram. Dengan cara
menggerak-gerakan pergelangan tangan dan mengurut bagian
kaki yang terasa kaku
2) Pada saat bangun tidur, jari kaki ditegakkan sejajar dengan
tumit untuk mencegah kram mendadak
3) Kompres hangat pada kaki
4) Banyak minum air putih
5) Ibu sebaiknya istirahat yang cukup (Syaiful dan Fatmawati,
2019).
h. Varises
Varises biasanya menjadi lebih jelas terlihat seiring dengan usia
kehamilan, peningkatan berat badan, dan lama waktu yang
dihabiskan dalam posisi berdiri. Tekanan femoralis makin meningkat
seiring dengan tuanya kehamilan (Hutahaean, 2013).
Cara mengatasinya:
1) Hindari menggunakan pakaian ketat
2) Hindari berdiri lama
3) Sediakan waktu istirahat untuk mengelevasi kaki secara
teratur
27
4) Lakukan latihan ringan dan berjalan secara teratur
menggunakan bantalan karet, Lakukan latihan kegel untuk
mengurangi varises vulva atau haemoroid untuk meningkatkan
sirkulasi
6) Lakukan mandi hangat yang menenangkan (Hutahaean,
2013).
i. Hemoroid
Hemoroid merupakan pelebaran vena dari anus. Hemoroid dapat
bertambah besar ketika kehamilan karena adanya kongesti darah
dalam rongga panggul. Relaksasi dari otot halus pada bowel,
memperbesar konstipasi dan tertahannya gumpalan (Hutahaean,
2013).
Cara mengatasinya:
1) Hindari konstipasi
2) Beri rendaman hangat/dingin pada anus
3) Bila mungkin gunakan jari untuk memasukkan kembali
hemoroid ke dalam anus dengan pelan-pelan
4) Bersihkan anus dengan hati-hati sesudah defekasi
5) Usahakan BAB yang teratur
6) Ajarkan ibu tidur dengan posisi knee chest selama 15 menit
7) Ajarkan latihan kegel untuk menguatkan perineum dan
mencegah hemoroid (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
28
j. Konstipasi
Konstipasi disebabkan karena pengerasan feses yang terjadi akibat
penurunan kecepatan kerja peristaltik karena progesteron yang
menimbulkan efek relaksasi, pergeseran usus akibat pertumbuhan
uterus atau suplemasi zat besi dan akivitas fisik yang kurang
(Rokhani, 2019).
Cara mengatasinya:
1) Asupan cairan yang adekuat, yakni minum air minimal 8
gelas/ hari (ukuran gelas minum)
2) Istirahat cukup. Hal ini memerlukan periode istirahat pada
siang hari
3) Minum air hangat saat bangkit dari tempat tidur untuk
menstimulasi peristaltik
4) Makan-makanan berserat dan mengandung sarat alami
5) Miliki pola defikasi yang baik dan teratur
6) Lakukan latihan secara umum, berjalan setiap hari,
pertahankan postur tubuh yang baik, mekanisme tubuh yang
baik, latihan kontraksi otot abdomen bagian bawah secara
teratur. (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
k. Kesemutan dan baal pada jari Perubahan pusat gravitasi
menyebabkan wanita mengambil postur dengan posisi bahu
terlalu jauh kebelakang sehingga menyebabkan penekanan pada
saraf median dan aliran lengan yang akan menyebabkan
kesemutan dan baal pada jari-jari (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
29
Cara mengatasinya:
1) Mengatur pola nafas
2) Merilekskan badan
3) Berikan kompres hangat (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
5. Tanda dan Bahaya Kehamilan Trimester III
a. Penglihatan kabur
Penglihatan menjadi kabur atau berbayang dapat disebabkan
oleh sakit kepala yang hebat, sehingga terjadi edema pada otak
dan meningkatkan resistensi otak yang mempengaruhi sistem
saraf pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri
kepala, kejang), dan gangguan penglihatan. Perubahan
penglihatan atau pandangan kabur dapat menjadi tanda
preeklamsia. Masalah visual yang menidentifikasikan keadaan
yang mengancam jiwa adalah perubahan visual yang mendadak,
misalnya penglihatan kabur atau terbayang, melihat bintik-bintik
(spot), berkunang-kunang. Selain itu adanya skotama, diplopia,
dan amblyopia merupakan tandatanda yang menunjukkan
adanya preeklamsia berat yang mengarah pada eklamsia. Hal ini
disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat
penglihatan di korteks serebri atau didalam retina (edema retina
dan spasme pembuluh darah) (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
b. Keluar cairan pervaginam
Keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan 22
minggu, ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum
30
proses persalinan berlangsung. Tanda ketuban pecah yaitu jika
keluarnya cairan ibu tidak terasa, berbau amis, dan berwarna
putih keruh. Jika kehamilan belum cukup bulan, dapat
mengakibatkan persalinan preterm dan komplikasi infeksi
intrapartum (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
c. Perdarahan vagina
Perdarahan antepartum atau perdarahan pada kehamilan lanjut
adalah perdarahan pada trimester dalam kehamilan sampai
dilahirkan. Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak normal
adalah merah, banyak dan kadang-kadang tapi tidak selalu
disertai rasa nyeri (Hutahaean, 2013).
d. Nyeri perut hebat
Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan
adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mengindikasikan
mengancam jiwa adalah yang hebat, menetap dan tidak hilang
setelah beristirahat, kadang-kadang dapat disertai dengan
perdarahan lewat jalan lahir (Hutahaean, 2013).
e. Edema pada muka, tangan, dan kaki
f. Edema adalah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan
dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari
kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan, dan
muka. Bengkak biasanya menunjukkan adanya masalah serius
jika muncul pada muka dan tangan. Hal ini dapat disebabkan
adanya pertanda anemia, gagal jantung, dan preeklamsia
31
(Hutahaean, 2013)
6. Komplikasi Kehamilan Trimester III
a. Plasenta previa
Prasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi
pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim,
sehingga menutupi sebagian atau seluruh permukaan jalan lahir
(Ostinum Uteri Internum) dan bagian terendah sering kali
terkendala memasuki pintu atas panggul (PAP) atau dapat
menimbulkan kelainan janin dalam lahir. Pada keadaan normal
plasenta umumnya terletak di korpus uteri bagian depan atau
belakang agak kearah fundus uteri (Putri dan Hastina, 2020).
b. Solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat
implementasi yang normalnya (uterus) sebelum janin dilahirkan.
Terjadi pada masa gestasi di atas 22 minggu atau berat badan
janin diatas 500 gram. Pelepasan sebagian atau seluruh seluruh
plasenta dapat menyebabkan perdarahan, baik ibu maupun janin
(Hutahaean, 2013).
c. Persalinan prematuritas
Persalinan prematuritas (premature) adalah persalinan yang
terjadi di antara umur kehamilan 29-36 minggu, dengan berat
badan lahir kurang dari 2,5 kg dan alat-alat vital belum
sempurna (Hutahaean 2013).
32
d. Preeklamsia
Preeklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi,
edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan yang
dapat menyebabkan kematian pada ibu dan janinnya. Penyakit
ini pada umumnya terjadi dalam trimester III kehamilan dan
dapat terjadi pada waktu antepartum, intrapartum, dan pasca
persalinan (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
e. Anemia kehamilan
Anemia kehamilan adalah adalah jika kadar hemoglobin <11
gr/dL pada trimester 1 dan III, atau jika kadar hemoglobin <10,5
gr/dL pada trimester II. Adapun klasifikasi anemia yaitu anemia
ringan 9-10 gr/dL, anemia sedang 7-8 gr/dL, dan anemia berat
<7gr/dL (Syaiful dan Fatmawati, 2019).
7. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil Trimester III
a. Kebutuhan fisik ibu hamil
1) Oksigen
Kebutuhan oksigen adalah yang utama pada manusia termasuk
ibu hamil. Berbagai gangguan pernafasan bisa terjadi saat
hamil hingga akan mengganggu pemenuhan kebutuhan
oksigen pada ibu yang akan berpengaruh pada bayi yang
dikandung (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).
33
2) Nutrisi
Nutrisi selama kehamilan yang adekuat merupakan salah satu
dari faktor terpenting yang mempengaruhi kesehatan wanita
hamil dan bayinya (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).
- Karbohidrat Fungsi utama karbohidrat adalah untuk
menghasilkan energi khususnya pada ibu hamil.
Karbohidrat dibutuhkan dalam jumlah yang adekuat untuk
menyerap protein untuk kebutuhan pertumbuhan. Pada
kehamilan trimester III direkomendasikan penambahan
jumlah kalori sebesar 285-300 kalori. Sumber karbohidrat
adalah golongan padi-padian (misalnya beras dan jagung),
golongan umbi-umbian (misalnya ubi dan singkong), dan
sagu (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013)
- Lemak
Lemak adalah sumber energi yang pekat, menghasilkan
lebih dari dua kali lebih banyak dari kalori per-gram dari
yang dihasilkan karbohidrat. Seiring dengan perkembangan
kehamilan, tedapat peningkatan pemecahan lemak untuk
digunakan sebagai sumber bahan bakar maternal sehingga
lebih banyak glukosa akan tersedia untuk kebutuhan janin.
Pada kehamilan normal, kadar lemak dalam aliran darah
akan meningkat pada akhir trimester III. Sumber lemak
seperti mentega, margarin, dan minyak salad (Reeder,
Martin, dan Griffin, 2013).
34
- Protein
Protein adalah zat utama untuk membangun jaringan bagian
tubuh. Kekurangan protein dalam makanan ibu hamil
mengakibatkan bayi akan lahir lebih kecil dari normal.
Sumber zat protein yang berkualitas tinggi adalah susu.
Tambahan protein yang diperlukan selama kehamilan
sebanyak 12 g/hari. Sumber lain meliputi sumber protein
hewani (misalnya daging, ikan, unggas, telur dan kacang)
dan sumber protein nabati (misalnya kacang-kacangan
seperti kedelai, kacang tanah, kacang tolo, dan tahu tempe)
(Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).
- Mineral Sedikitnya 14 elemen mineral adalah esensial untuk
nutrisi yang baik. Beberapa mineral, misalnya kalsium dan
fosfor, ada dalam tubuh dalam jumlah relative lebih besar
(lebih dari 5 g) mineral lain, yang disebut unsur renik
seperti zat besi dan zink ada dalam jumlah sedikit (kurang
dari 5 g). Mineral merupakan unsur pokok dalam material
tubuh yang vital, beberapa diantaranya adalah pengatur dan
pengaktif fungsi tubuh. Mineral yang memiliki fungsi
penting khusus selama kehamilan terdiri atas kalsium,
fosfor, zat besi, yodium, zink, dan natrium (Reeder, Martin,
dan Griffin, 2013).
- Vitamin Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan
makanan sayur dan buah-buahan, tetapi dapat pula
35
diberikan ekstra vitamin. Pemberian asam folat terbukti
mencegah kecacatan pada bayi (Reeder, Martin, dan
Griffin, 2013).
3) Kebutuhan personal hygiene.
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan
sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk
mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri
terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah
genetalia). Kebersihan gigi dan mulut, perlu mendapat
perhatian karena seringkali mudah terjadi gigi berlubang,
terutama pada ibu kekurangan kalsium (Reeder, Martin, dan
Griffin, 2013).
4) Kebutuhan eliminasi
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan
eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kecil.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan
mengkonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum air
putih, terutama ketika lambung dalam keadaan kosong. Minum
air putih hangat ketika dalam keadaan kosong dapat
merangsang gerak peristaltik usus. Jika ibu sudah mengalami
dorongan, maka segeralah untuk buang air besar agar tidak
terjadi konstipasi. Sering buang air kecil merupakan keluhan
utama yang dirasakan oleh ibu hamil, terutama trimester I dan
36
trimester III, hal tersebut adalah kondisi yang fisiologis
(Reeder, Martin, dan Griffin, 2013)
5) Kebutuhan seksual
Selama kehamilan berjalan normal, koitus diperbolehkan
sampai akhir kehamilan, meskipun beberapa ahli berpendapat
sebaiknya tidak lagi berhubungan seks selama 14 hri
menjelang kelahiran. Koitus tidak diperkenankan bila terdapat
perdararahan pervaginan, riwayat abortus berulang, abortus/
partus prematurus imminens, ketuban pecah sebelumnya
waktunya (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).
6) Kebutuhan mobilisasi Ibu hamil boleh melakukan kegiatan
atau aktivitas fisik biasa selama tidak terlalu melelahkan. Ibu
hamil dapat dianjurkan untuk melakukan pekerjaan rumah
dengan dan secara berirama dengan menghindari gerakan
menyentak, sehingga mengurangi ketegangan pada tubuh dan
menghindari kelelahan (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).
7) Istirahat Wanita hamil dianjurkan untuk merencanakan
istirahat yang teratur karena dapat meningkatkan kesehatan
jasmani dan rohani untuk kepentingan perkembanagan dan
pertumbuhan janin. Tidur pada malam hari selama kurang
lebih 8 jam dan istirahat dalam keadaan rilaks pada siang hari
selama 1 jam (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).
8) Persiapan persalinan
- Membuat rencana persalinan
37
- Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi
kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama
tidak ada
- Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi
kegawatdaruratan
- Membuat rencana atau pola menabung
- Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan
(Romauli, 2011).
9) Memantau kesejahteraan janin
Pemantauan gerakan janin minimal dilakukan selama 12 jam,
dan pergerakan janin selama 12 jam adalah minimal 10 kali
gerakan janin yang dirasakan oleh ibu hamil (Romauli, 2011).
8. Asuhan Antenatal Care (ANC)
Asuhan antenatal penting dilakukan. Ibu yang tidak
mendapatkan asuhan antenatal memiliki risiko lebih tinggi kematian
maternal, stillbirth, dan komplikasi kehamilan lainnya. Asuhan
antenatal rutin bermanfaat untuk mendeteksi komplikasi pada
kehamilan seperti anemia, preeklamsia, diabetes melitus
gestasional, infeksi saluran kemih asimtomatik dan pertumbuhan
janin tehambat (Saifuddin, 2012).
a. Menurut WHO
Ibu hamil disarankan untuk melanjutkan asuhan antenatal rutin
meskipun terdapat beberapa modifikasi, kecuali ibu hamil yang
memerlukan isolasi mandiri karena dicurigai atau sudah
38
terkonfirmasi COVID-19. WHO mengeluarkan rekomendasi
terbaru ibu hamil risiko rendah minimal mendapatkan asuhan
antenatal 8x. Perubahan layanan diperlukan untuk mengurangi
frekuensi ibu hamil keluar dari rumah untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan. Hal ini bisa dilakukan melalui konsultasi
dan pemeriksaan penunjang lain seperti USG dan laboratorium
dilakukan pada waktu dan tempat yang sama, atau melalui
konsultasi virtual. Minimal konsultasi antenatal langsung secara
fisik dilakukan 6x pada ibu hamil risiko rendah, namun pada
kasus risiko tinggi frekuensi konsultasi langsung perlu
disesuaikan. Jika diperlukan dapat melakukan konsultasi
antenatal melalui telemedicine (telpon/video call) di luar jadwal
yang telah ditentukan.
b. Menurut Permenkes Nomor 21 Pasal 13 Tahun 2021
Pelayanan Kesehatan Masa Hamil dilakukan paling sedikit 6
(enam) kali selama masa kehamilan meliputi:
- 1 (satu) kali pada trimester pertama
- 2 (dua) kali pada trimester kedua; dan
- 3 (tiga) kali pada trimester ketiga.
Pelayanan antenatal sesuai dengan standar meliputi:
1) Pengukuran berat badan dan tinggi badan
a. Pengukuran berat badan dilakukan setiap kali kunjungan.
Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu dari
sebelum hamil dihitung dari trimester I sampai trimester
39
III yang berkisar anatara 9-13,9 kg dan kenaikan berat
badan setiap minggu yang tergolong normal adalah 0,4 -
0,5 kg tiap minggu mulai trimester II (Yulizawati, 2017).
b. Pengukuran tinggi badan ibu hamil
Pada kunjungan pertama dilakukan untuk mendeteksi
faktor resiko terhadap kehamilan yang sering berhubungan
dengan keadaan rongga panggul. Bila tinggi badan <145
cm, salah satu faktor resiko panggul sempit, kemungkinan
sulit melahirkan secara normal (Buku KIA, 2018).
2) Pengukuran tekanan darah
Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan
antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi
(tekanan darah ≥140/90 mmHg) pada kehamilan dan
preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau
proteinuria) (Yulizawati, 2017).
3) Pengukuran lingkar lengan atas (LiLA)
Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama
untuk skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis
(KEK). Kurang energi kronis disini maksudnya ibu hamil
yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama
(beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm.
Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat
lahir rendah (BBLR) (Mastiningsih, 2019).
40
4) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri)
Tinggi fundus uteri harus diukur tiap kali kunjungan sejak
kehamilan berusia 4 bulan. Pemeriksaan TFU menggunakan
tehnik Mc. Donald adalah diukur dari puncak tulang
kemaluan ke bagian atas rahim dalam sentimeter.
Menentukan umur kehamilan berdasarkan minggu dan
hasilnya bisa di bandingkan dengan hasil anamnesis hari
pertama haid terakhir (HPHT) dan kapan gerakan janin mulai
dirasakan. TFU yang normal harus sama dengan UK dalam
minggu yang dicantumkan dalam HPHT (Evariny, 2011).
Normalnya, tinggi fundus uteri saat usia kehamilan 22-28
minggu adalah 24-25 cm, 30 minggu adalah 29,5 cm, 32
minggu adalah 30 cm, 34 minggu adalah 31 cm, dan usia
kehamilan 35 minggu akan memiliki tinggi fundus uteri
sekitar 31-32 cm. Tetapi jika lebih dari batas normal,
dikhawatirkan adanya diabetes melitus, air ketuban terlalu
banyak, atau ukuran bayi yang terlalu besar (Evariny, 2011).
5) Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin
Presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan
selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini
dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada
trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala
janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak,
panggul sempit atau ada masalah lain (Walyani, 2015).
41
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan
selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat
kurang dari 120/menit atau DJJ cepat lebih dari 160/menit
menunjukkan adanya gawat janin (Walyani, 2015).
6) Pemberian imunisasi sesuai dengan status imunisasi
Sebelum imunisasi, dilakukan penentuan status imunisasi TT
(Screening) terlebih dahulu, terutama pada saat pelayanan
antenatal. Pemberian imunisasi TT tidak perlu diberikan,
apabila pemberian imunisasi TT sudah lengkap (status T5)
yang harus dibuktikan dengan buku Kesehatan Ibu dan Anak,
rekam medis (Saifuddin, 2012).
Pemberian imunisasi TT (0,5cc)
Imunisasi Interval Lama Perlindungan
Perlindungan %
TT 1 Pada kunjungan ANC - -
pertama/Caten
TT 2 4 minggu 3 Tahun 80%
setelah TT 1
TT 3 6 bulan setelah 5 Tahun 95%
TT 2
TT 4 1 tahun setelah 10 Tahun 99%
TT 3
TT 5 1 tahun setelah 25 Tahun / 99%
TT 4 seumur hidup
7) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 (sembilan
puluh)
Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus
mendapat tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
diberikan sejak kontak pertama (Yulizawati, 2017)
42
8) Tes laboratoriu
-Tes Golongan darah
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya
untuk mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga
untuk mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-
waktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan
(Kumalasari, 2015).
-Tes Hb / Haemoglobin
-Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan
minimal sekali pada trimester pertama dan sekali pada
trimester ketiga. Pemeriksaan ini ditujukan untuk
mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak
selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat
mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam
kandungan (Kumalasari, 2015).
Kategorinya adalah:
- Normal >11,5gr - 12gr
- Ringan >10gr – 11gr
- Sedang > 8gr – 9gr
- Berat <8gr
- Tes protein urine
Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan
pada trimester kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan
ini ditujukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu
43
hamil. Proteinuria merupakan salah satu indikator terjadinya
preeklampsia pada ibu hamil (Kumalasari, 2015).
Kategorinya adalah:
- Negatif : bila larutan jernih
- Positif + : bila larutan keruh
- Positif ++ : bila larutan keruh berbutir
- Positif +++ : bila larutan membentuk awan
- Positif ++++ : menggumpal
- Tes glukosa/reduksi urine
Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus
dilakukan pemeriksaan gula darah selama kehamilannya
minimal sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester
kedua, dan sekali pada trimester ketiga (terutama pada akhir
trimester ketiga) (Kumalasari, 2015). DMG pada ibu hamil
dapat mengakibatkan adanya penyakit berupa preeklamsia,
polihidramnion dan bayi besar.
Kategorinya adalah :
- Negatif : biru kehijauan
- Positif + : hijau ke kuning-kuningan
- Positif ++ : kuning keruh
- Positif +++ : kuning kemerahan
- Positif ++++ : Merah Keruh
- Tes HIV
Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi
44
kasus HIV dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu
hamil setelah menjalani konseling kemudian diberi
kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk
menjalani tes HIV (Kumalasari, 2015).
- Tes BTA
Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai
menderita Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi
Tuberkulosis tidak mempengaruhi kesehatan janin. Selain
pemeriksaaan tersebut diatas, apabila diperlukan dapat
dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya di fasilitas rujukan
(Kumalasari, 2015).
- Tes Malaria
Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan
pemeriksaan darah Malaria dalam rangka skrining pada
kontak pertama. Ibu hamil di daerah non endemis Malaria
dilakukan pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi
(Kumalasari, 2015).
9). Tata laksana/penanganan kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil
pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan
pada ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan
kewenangan bidan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani
dirujuk sesuai dengan sistem rujukan (Mastiningsih, 2019).
10). Temu wicara (konseling) dan penilaian kesehatan jiwa
45
a.Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap kunjungan
antenatal, meliputi:
1). Kesehatan ibu
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan
kehamilannya secara rutin ke tenaga kesehatan sesuai
standar.
2). Perilaku hidup bersih dan sehat
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan
badan selama kehamilan.
3). Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan
perencanaan persalinan
Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari
keluarga terutama suami dalam kehamilannya. Suami,
keluarga atau masyarakat perlu menyiapkan biaya
persalinan, kebutuhan bayi, transportasi rujukan dan calon
pendonor darah. Hal ini penting apabila terjadi komplikasi
kehamilan, persalinan dan nifas agar segera dibawa ke
fasilitas Kesehatan (Mastiningsih, 2019).
b. Penilaian Kesehatan jiwa
World Health Organization (2016), menyatakan bahwa
kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang
disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan
kemampuan untuk mengelola stress, bekerja secara produktif
dan menghasilkan, serta ikut berpartisipasi di masyarakat
46
sekitar. Ditambah pula dengan penelitian Goebert, Moerland,
Frattarelli, Onoye, Matsu (2007), kesehatan mental selama
kehamilan terlihat dari empat hal, yaitu konsumsi alkohol,
konsumsi rokok, adanya kemungkinan depresi, dan
kecemasan. Menyebutkan bahwa faktor- faktor yang dapat
mempengaruhi kecemasan seseorang adalah dukungan
keluarga, dukungan sosial, harga diri dan penerimaan diri,
pendidikan dan status sosial ekonomi.
2) Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Trimester III Di
PMB Sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023
1) Pengkajian Data
- Data Subjektif
Data Subjektif Menurut Nursalam (2008) data subjektif
adalah data yang didapat dari klien sebagai pendapat terhadap
situasi data kejadian.
8. Biodata mencakup identitas pasien
a. Nama
Sebagai identitas supaya mudah mengenali ibu dan suami, mencegah
terjadinya kekeliruan. Dengan nama panggilan maka hubungan
komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab
(Sulistyawati, 2013)
b. Umur
Ditulis dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko. Usia
seorang wanita pada saat hamil sebaiknya tidak terlalu muda
47
dan tidak terlalu tua. Umur yang kurang dari 20 tahun atau
lebih dari 35 tahun, berisiko tinggi untuk melahirkan. Kesiapan
seorang perempuan untuk hamil harus siap fisik, emosi,
psikologi, sosial dan ekonomi (Ruswana, 2006). Usia ibu
hamil menjadi faktor resiko timbulnya striae gravidarum
karena penipisan kulit mulai terjadi sekitar umur 45 tahun,
terjadi penipisan kulit secara perlahan-lahan pada semua
lapisan, termasuk epidermis, dermis dan subkutan. Juga terjadi
secara pemipihan secara perlahan ikatan antara epidermis dan
dermis. Lapisan lemak menjadi tipis. Semua perubahan
menyebabkan kerut dan kehilangan elastisitas kulit (Maharani,
2015).
c. Suku/bangsa
Ditujukan untuk mengetahui adat istiadat yang menguntungkan
dan merugikan bagi ibu hamil. Berpengaruh pada adat istiadat
atau kebiasaan sehari-hari yang mempebgaruhi Kesehatan
(Sulistyawati, 2013).
d. Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk
membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa.
Mengetahui kepercayaan sebagai dasar dalam memberikan
asuhan saat hamil dan bersalin (Romauli, 2011).
e. Pendidikan
Tingkat pendidikan ibu hamil adalah tingkat pendidikan formal
48
yang telah dijalani oleh ibu hamil. Menurut Notoatmodjo,
tingkat pendidikan ibu hamil mempengaruhi kesadaran tentang
pentingnya arti kesehatan, memilih dan mengolah bahan
pangan, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (Notoatmodjo,
2014).
f. Pekerjaan
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut. Pekerjaan rutin (pekerjaan rumah tangga) dapat
dilaksanakan. Bekerja sesuai dengan kemampuan, dan makin
dikurangi dengan semakin tuanya kehamilan (Manuaba, 2012).
g. Alamat
Alamat ditanyakan dengan maksud mempermudah kunjungan
rumah bila diperlukan dalam keadaan mendesak. Dengan
mengetahui alamatnya, bidan juga dapat mengetahui tempat
tinggal dan lingkungannya (Sumiaty, 2014)
9. Keluhan Utama
Untuk mengetahui alasan atau keluhan utama yang membuat
pasien datang berhubungan dengan kehamilannya (Saifuddin, 2007).
Tanda ketidaknyamanan umum pada trimester II, yaitu :
(a)Keputihan
(b)Cloasma gravidarum
(c)Striae gravidarum
(d)Kram pada kaki
49
(e)Konstipasi (sulit BAB)
(f) Ambeien
10. Riwayat menstruasi
Data ini digunakan untuk mendapatkan gambaran
tentang keadaan dasar dari organ reproduksi pasien. Beberapa
data yang harus kita peroleh dari riwayat menstruasi antara
lain yaitu:
Menarche (usia pertama kali datang haid)
Bertujuan untuk mendeteksi risiko preeklampsia dan
hipertensi gestasional. Wanita dengan usia menarche dini
mengalami kematangan organ tubuh lebih awal dan risiko
untuk mengalami obesitas lebih besar bila dibandingkan
dengan wanita yang memiliki usia menarche normal
karena obesitas merupakan salah satu faktor utama
penyebab preeklamsia. Penelitian menunjukkan bahwa
rata-rata ibu primigravida dengan rata- rata usia kurang
dari 12 tahun lebih berisiko mengalami risiko
preeklampsia dan hipertensi gestasional (Primadani, dkk,
2018).
Status gizi remaja mempengaruhi terjadinya
menarche, keluhan- keluhan yang terjadi selama
menstruasi dan lamanya siklus menstruasi. Obesitas adalah
kelebihan lemak tubuh dengan berat badan yang berlebih
diatas 20 persen yang dapat menyebabkan sindrom
50
metabolik yang menjadi awal diabetes, hipertensi,
penyakit jantung koroner dan osteoporosis. Resiko pada
kasus gangguan menstruasi yang terkait dengan gangguan
hormonal. Wanita gemuk menghasilkan estrogen lebih
banyak. (Sunarsih, 2017).
Siklus
Siklus haid terhitung mulai hari pertama haid hingga
hari pertama haid berikutnya, siklus haid perlu ditanyakan
untuk mengetahui apakah ibu hamil mempunyai kelainan
siklus haid atau tidak. Siklus normal haid biasanya 28 hari.
Padahal bagi wanita yang mengalami siklus tidak teratur
sulit untuk menjadikan kondisi ini sebagai tanda
kehamilan. Sedangkan bagi wanita yang memiliki siklus
menstruasi yang teratur, penting untuk dapat menentukan
hari pertama haid terakhir. Sehingga dapat ditentukan
sebagai tanda kehamilan (Walyani, 2015)
Lamanya
Lamanya haid yang normal adalah ± 7 hari. Apabila
mencapai 15 hari berarti sudah abnormal dan
kemungkinan adanya gangguan ataupun penyakit yang
mempengaruhinya (Manuaba, 2007)
Banyaknya
Normalnya yaitu 2 kali ganti pembalut dalam sehari.
Apakah darahnya terlalu berlebih, itu berarti telah
51
menunjukkan gejala kelainan pada organ reproduksi
(Manuaba, 2007)
Disminorhea (nyeri haid)
Nyeri haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah
ibu hamil menderitanya atau tidak ditiap haidnya. Nyeri
haid juga menjadi tanda bahwa kontraksi uterus begitu
hebat sehingga menimbulkan nyeri haid (Manuaba, 2007).
11. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
a. Riwayat kehamilan yang lalu
Karena komplikasi obstetri cenderung muncul lagi,
informasi tentang kehamilan terdahulu harus diperoleh.
Informasi esensial tentang kehamilan yang terdahulu
mencakup bulan dan tahun kehamilan tersebut
berakhir, dan usia gestasi pada saat itu. Rentang
usia batas awal dan akhir usia reproduksi terkait erat
dengan peningkatan risiko komplikasi kehamilan
seperti hipertensi dalam kehamilan (Romauli, 2011).
b. Riwayat persalinan yang lalu
Bertujuan untuk mengetahui riwayat waktu
persalinan yang lalu dengan kehamilan saat ini. Apakah
jaraknya terlalu dekat (<2tahun) dimana kondisi rahim
belum pulih dan berisiko keguguran. Apakah terlalu
banyak anak (>4) dimana terjadi kekendoran pada
dinding perut, tampak pada ibu dengan perut yang
52
menggantung dan dapat mengakibatkan terjadinya
ganguan dalam kehamilan seperti kelainan letak
(Najwa, 2018).
Komplikasi pada persalinan sebelumnya yang
memerlukan tindakan sectio caesaria perlu diperhatikan
guna menentukan tindakan persalinan yang mungkin
digunakan pada persalinan mendatang. Jika ibu
memiliki riwayat keguguran berkali-kali, ibu beresiko
tinggi mengalaminya kembali serta peluang mengalami
persalinan prematur dan masalah lain yang terkait juga
lebih tinggi (Holmes, 2011).
BB anak lahir merupakan faktor resiko munculnya
striae gravidarum. Masalah umum yang sering dialami
wanita usai melahirkan adalah striae gravidarum.
Kondisi ini biasanya mulai muncul akibat kulit yang
meregang saat ukuran perut ibu semakin membesar.
Kadang-kadang bayi yang berukuran besar karena ibu
mengalami obesitas selama kehamilannya. Saat bayi
tumbuh dan kulit meregang, itulah hal yang
memungkinkan mendapatkan striae gravidarum diperut
(Utami, 2018).
c. Riwayat nifas yang lalu
Riwayat nifas ibu dengan keadaan segera setelah
persalinan. Dengan riwayat terjadi peningkatan suhu
53
tubuh, tetapi tidak lebih dari 380C. Bila terjadi
peningkatan terus menerus selama 2 hari, kemungkinan
terjadi infeksi. Terdapat perdarahan atau tidak, serta
nilai masalah lain yang terjadi pada masa nifas
sebelumnya (Romauli, 2011).
12. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
Pengkajian mengenai riwayat KB yaitu untuk mengetahui
apakah ibu sebelum hamil pernah menggunakan KB atau
belum, jika pernah lamanya berapa tahun, dan jenis KB yang
digunakan. Tujuannya untuk perencanaan mengenai KB yang
akan digunakan setelah persalinan ini (Varney, 2007).
Secara tidak langsung dapat diketahui apakah kehamilan ibu
saat ini diterima atau tidak, baik oleh ibu maupun oleh suami
dan keluarganya. Indikasinya yaitu jika ibu sedang
menggunakan kontrasepsi dan ibu hamil, kemungkinan besar
ibu tidak menerima kehamilannya, jika ibu tidak sedang
menggunakan kontrasepsi, maka ibu menerima kehamilannya
(Yulizawati, 2010).
Status kehamilan yang tidak direncanakan dikarenakan
adanya kegagalan KB. Kehamilan tidak direncanakan sering
disebut juga dengan istilah kehamilan tidak diinginkan
(unwanted pregnancies), yang berdampak pada kesehatan ibu
dan janin. Kehamilan tidak diinginkan mendorong seseorang
untuk melakukan aborsi, selain itu juga mendorong perilaku
54
seseorang untuk tidak melakukan pemeriksaan kesehatan
selama kehamilan. Hal tersebut dapat berisiko tidak
terpantaunya komplikasi selama kehamilan. Apabila terjadi
komplikasi dan mengalami keterlambatan penanganan maka
berisiko terjadinya kematian ibu dan janin. Hasil penelitian
menunjukkan kejadian kehamilan tidak direncanakan banyak
ditemukan pada ibu yang mengalami kegagalan KB sehingga
secara langsung dapat mempengaruhi sikap ibu dalam memilih
jenis kontrasepsi di waktu mendatang dengan lebih bijak
(Prastiwi, 2017).
13. Riwayat kehamilan sekarang
Untuk mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir, umur
kehamilan, perkiraan persalinan, masalah atau kelainan pada
kehamilan sekarang, kehamilan selama hamil (Prawirohardjo,
2005)
a. Riwayat ANC
HPHT (Hari pertama haid terakhir)
HPHT adalah Hari Pertama Haid Terakhir seorang
wanita sebelum hamil, HPHT yang tepat adalah tanggal
dimana ibu baru mengeluarkan darah menstruasi
dengan frekuensi dan lama seperti menstruasi biasa.
HPHT dapat digunakan sebagai perhitungan usia
kehamilan dan taksiran persalinan (Manuaba, 2010).
HPL (Hari perkiraan lahir) atau TP (Tafsiran
55
Persalinan)
Tanggal perkiraan persalinan dapat diperkirakan
menggunakan teori Neagle, yaitu:
Bila HPHT antara bulan April sampai Desember
(Hari + 7) (Bulan – 3) (Tahun + 1) = Tafsiran
Persalinan
Bila HPHT antara bulan Januari
sampai Maret (Hari + 7) (Bulan
+ 9) = Tafsiran Persalinan
UK (Usia Kehamilan)
Usia kehamilan merupakan faktor resiko munculnya
striae gravidarum. Secara medis, striae gravidarum
muncul akibat kulit meregang dalam tempo singkat.
Saat kehamilan berusia 4-5 bulan di mana perut
semakin membesar, masalah umum yang dirasakan oleh
mayoritas ibu hamil adalah timbulnya striae
gravidarum. Setiap individu memiliki corak striae
gravidarum yang beragam, baik dari warna maupun
tingkat keparahan (Evariny, 2011).
Cara menghitung kehamilan dengan
rumus 4 1/3 Rumus: usia kehamilan (tanggal
sekarang - HPHT) x (4 1/3) Misalnya:
Tanggal sekarang = 14 Juni 2021
HPHT = 13 Maret 2021
56
Usia kehamilan berarti:
(14-13), (6-3) x (4 1/3) = (tanggal-tanggal), (bulan-
bulan) x (4 1/3) Maka hasilnya adalah: 1 hari, 3
bulan dikalikan 4 1/3
Pada perhitungan terakhir hanya perlu mengambil
bulannya saja: (3x4) + (3x 1/3)
Hasil akhirnya adalah: 12 minggu
Frekuensi kunjungan ANC
Keteraturan ANC adalah kedisiplinan / kepatuhan
ibu hamil untuk melakukan pengawasan sebelum anak
lahir terutama ditujukan pada anak.
Menurut Permenkes RI No.21 (2021), Kunjungan
antenatal untuk pemanfaatan dan pengawasan
kesejahteraan ibu dan anak dilakukan paling sedikit 6
(enam) kali selama masa kehamilan meliputi:
(a) 1 (satu) kali pada trimester pertama;
(b) 2 (dua) kali pada trimester kedua; dan
(c) 3 (tiga) kali pada trimester ketiga.
b. Pergerakan anak 24 jam terakhir
Lewat pergerakan anak, ibu hamil bisa memantau
perkembangan anak di dalam kandungan. Mendeteksi
apakah ada yang bermasalah dengan kondisi kehamilan
dan mecegah kematian pada anak dalam kandungan (Intan,
2021).
57
Kapan mulai dirasakan dan apakah ada perubahan
yang terjadi
Antara minggu ke 16-20, ibu hamil mulai
merasakan adanya quickening atau pergerakan janin.
Saat kehamilan memasuki usia 32 minggu, ada baiknya
mulai memperhatikan pola gerakan janin. Pasalnya, di
usia ini janin akan mulai aktif bergerak dan
memberikan respon dari gerakan ibu, suara, dan lain
sebagainya. Gerakan janin ini harus terus dipantau
sebab dapat mempengaruhi posisi serta kondisi tali
pusar. Tidak jarang, janin yang terlalu aktif bergerak
membuat tali pusarnya tersimpul atau bahkan melilit
tubuhnya (Walyani, 2015).
Frekuensi Gerakan Janin Normal
Secara umum, ada cara mudah untuk menghitung
gerakan janin, yaitu cobalah pantau kandungan dalam
waktu 12 jam. Catat tiap gerakan dan lama dari masing-
masing gerakannya. Normalnya dalam periode waktu
itu akan terasa lebih dari 10 gerakan. Dengan kata lain,
pada janin normal akan ada gerakan sebanyak rata-rata
3-4 kali dalam
1 jam. Dalam hal ini, gerakan yang dimaksud
adalah gerakan aktif seperti menendang, bergeser,
memutar, meliuk, memukul, dan beragam aktivitas
58
janin yang dapat di rasakan. Akan tetapi, jika terdapat
sederet tendangan dalam satu waktu itu dihitung
sebagai satu gerakan. Gerakan kedua dihitung saat janin
sudah sempat diam (Walyani, 2015).
c. Pola keseharian
Untuk mengetahui apakah ada perubahan pada pola
kebiasaan sehari- hari ibu selama hamil.
Pola nutrisi
Yaitu perlu dikaji meliputi, frekuensi, kualitas dan keluhan.
Kebutuhan gizi untuk ibu hamil setiap harinya ditambah
sesuai dengan usia kehamilan. Hal ini dikarenakan adanya
perkembangan dan pertumbuhan janin (Saifuddin, 2007).
1. Makan
Cara menerapkan yaitu dengan mengonsumsi lima
kelompok pangan setiap hari yang terdiri dari makanan
pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan dan minuman.
Mengkonsumsi lebih dari 1 jenis untuk setiap kelompok
makanan setiap kali makan akan lebih baik. Frekuensi
makan dalam sehari merupakan seringnya seseorang
melakukan kegiatan makan dalam sehari baik makanan
utama atau pun selingan, sebanyak 3 kali makan utama
dan 2 kali makan selingan atau porsi kecil namun sering
dan harus sesuai porsi (Mastiningsih, 2019).
2. Minum
59
Minum air putih lebih banyak mendukung sirkulasi janin,
produksi cairan amnion dan meningkatnya volume
darah, mengatur keseimbangan asam basa tubuh, dan
mengatur suhu tubuh. Asupan air minum ibu hamil
sekitar 2-3 liter perhari (8-12 gelas sehari) (Mastiningsih,
2019).
Pola eliminasi
Untuk mengetahui berapa kali ibu BAB atau BAK dalam
sehari selama hamil, adakah kaitannya dengan obstipasi
atau tidak (Saifuddin, 2007).
Obstipasi terjadi karena peningkatan hormon progesteron
yang menyebabkan berkurangnya pergerakan lambung dan
meningkatnya waktu transit makanan di lambung. Selain itu
penekanan rectum (bagian terbawah usus besar) akibat
pembesaran rahim juga dapat menyebabkan konstipasi
(Mochtar, 2015).
1. BAB
Rentang frekuensi BAB umumnya 1-3 kali per hari hingga
tiga kali per minggu. Konsistensi BAB yang normal
biasanya lunak, tidak sulit dikeluarkan, dan berbentuk
memanjang seperti sosis mengikuti bentuk saluran
pencernaan. Umumnya, feses yang sehat berwarna
kecokelatan (Mochtar, 2015).
2. BAK
60
Biasanya seseorang dapat buang air kecil sebanyak 6–8 kali
sehari. Namun, ibu hamil mungkin akan merasa lebih
sering ingin buang air kecil. Hal ini tak jarang membuat
sebagian ibu hamil dapat buang air kecil hingga kurang
lebih 10 kali dalam sehari. Keluhan ini juga biasanya bisa
muncul di waktu tertentu, misalnya di malam hari, sehingga
mengganggu waktu istirahat ibu hamil.
Air kencing yang sehat berwarna jernih hingga kuning
muda. Semakin banyak air yang di minum, semakin jernih
pula warna urine yang terbentuk. Sebaliknya, kurang
minum air putih akan membuat urine berwarna kuning
pekat hingga oranye.
Banyaknya urine yang dikeluarkan dalam sehari berkisar
antara 400 sampai 2.000 mL, dengan asupan cairan normal
sekitar 2 liter per hari. Dalam keadaan yang normal,
kencing tak akan mengeluarkan bau yang kuat atau
memiliki aroma tertentu (Mochtar, 2015).
Pola aktivitas pekerjaan
Dikaji untuk mengetahui bagaimana aktifitas pekerjaan
sebelum hamil, apakah menggunakan aktivitas pekerjaan atau
tidak dan terdapat keluhan atau tidak (Saifuddin, 2007).
Saat hamil, ada baiknya ibu hamil dan suami mulai
melakukan pembagian tugas rumah tangga. Pekerjaan rumah
tangga yang terlalu berat dan melelahkan akan memberi
61
dampak tertentu pada kehamilan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Saat hamil bukan berarti tidak boleh
melakukan aktivitas rumah tangga sama sekali. Tetapi
pilihlah aktivitas yang tidak berisiko membahayan ibu dan
janin. Aktivitas ringan masih boleh dilakukan agar tetap
bugar dan tidak lemas. Mintalah bantuan orang terdekat yang
ada di rumah, misalnya suami agar bisa membantu
melakukan aktivitas rumah tangga tersebut (Indarayani,
2011).
Pola istirahat/tidur
Dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu istirahat dalam
sehari apakah terdapat gangguan dalam pola istirahat ibu dan
terdapat keluhan atau tidak (Saifuddin, 2007).
Kondisi fisik yang dipengaruhi hormon kehamilan membuat
ibu hamil cenderung cepat merasa lelah dan lesu. Selain itu
juga, ibu hamil harus menjaga kondisi janin agar tetap sehat
sehingga tidak boleh terlalu capai saat beraktivitas. Organ
dalam tubuh seperti jantung bekerja lebih keras saat
kehamilan untuk menjaga agar aliran darah ke janin tetap
lancar, begitu pun dengan ginjal yang bekerja lebih keras
untuk memproses sisa metabolisme dalam tubuh. Oleh
karena itu, kebutuhan tidur ibu hamil lebih banyak dibanding
biasanya. Selain tidur selama 8 jam pada malam hari, sebisa
mungkin ibu hamil juga tidur siang minimal 1 hingga
62
maksimal 3 jam untuk mengembalikan stamina yang habis
selama aktivitas siang hari (Marmi, 2014)
Pola seksualitas
Dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu melakukan
hubungan seksual selama seminggu dan terdapat keluhan
atau tidak (Saifuddin, 2007).
Menurut Manuaba (2010) Hubungan seksual disarankan
untuk dihentikan bila terdapat tanda infeksi dengan
pengeluaran cairan disertai rasa nyeri atau hubungan seksual
panas, terjadi perdarahan saat hubungan seksual, terdapat
pengeluaran cairan (air) yang mendadak, hentikan pada
mereka yang sering mengalami keguguran; persalinan
sebelum waktunya; mengalami kematian dalam kandungan;
sekitar dua minggu menjelang persalinan. Pada umumnya
koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan
dengan hati-hati.
1. Frekuensi
Sebenarnya ibu hamil dan suami bisa melakukan hubungan
intim sesering yang ibu inginkan. Namun, terlalu sering
berhubungan
intim saat hamil juga tidak dianjurkan. Hubungan intim saat
hamil yang terlalu sering (≥3xseminggu) bisa memicu
terjadinya infeksi saluran kencing (ISK). Bila tidak segera
diobati, ISK dapat menyebabkan masalah dalam kehamilan.
63
2. Keluhan
Hubungan seksual selama kehamilan tidak dilarang selama
tidak ada keluhan atau riwayat penyakit seperti berikut ini.
a. Sering abortus dan kelahiran premature
b. Perdarahan pervaginam
c. Coitus harus dilakukan dengan hati-hati terutama pada
minggu terakhir kehamilan
d. Bila ketuban sudah pecah, coitus dilarang karena dapat
menyebabkan infeksi janin intra uteri
d. Personal Hygiene
Dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu mandi, menggosok gigi
dan mengganti pakaian dalam sehari, dan terdapat keluhan atau
tidak (Saifuddin, 2007).
Kebiasaan mandi
Mandi dianjurkan sedikitnya 2 kali sehari karena ibu hamil
cenderung untuk mengeluarkan banyak keringat, menjaga
kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah
dada, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dengan air
dan dikeringkan (Walyani, 2015).
Menggosok gigi
Sekitar 50% wanita hamil mengalami gingivitis (radang pada
gusi) pada kehamilan. Gingivitis tersebut terjadi karena
peningkatan kadar hormon progesteron yang berakibat gusi ibu
bereaksi lebih terhadap bakteri yang terdapat di plak gigi.
64
Peningkatan suplai pendarahan pada rongga mulut juga dapat
meningkatkan sensitivitas gusi dan perdarahan terhadap gusi.
Pencegahan gingivitis kehamilan dilakukan dengan menjaga
kebersihan rongga mulut dan gosok gigi secara teratur
(Walyani, 2015).
Kebiasaan membersihkan alat kelamin/kebiasaan
mengganti pakaian dalam/jenis pakaian dalam yang
digunakan
Selama kehamilan, meningkatnya cairan vagina atau keputihan
adalah normal. Cairan ini biasanya putih atau kuning serta
agak kental. Hindari penggunaan celana dalam berbahan nilon,
gunakan bahan katun dan seringlah untuk menggantinya serta
jaga kebersihan vagina ibu. Infeksi pada vagina terjadi apabila
terdapat cairan berwarna kuning atau hijau, berbau, gatal, dan
panas (Bobak, 2005).
Hal – hal yang harus diperhatikan adalah:
- Celana dalam harus kering
- Jangan gunakan obat / menyemprot ke dalam vagina
- Sesudah BAB / BAK dilap dengan lap khusus Tips yang
dapat dilakukan:
Jaga kebersihan daerah V (vagina/kemaluan) dengan baik
Bersihkan dan keringkan selalu bagian tersebut.
antilah celana dalam lebih sering bila perlu.
Pakailah celana dalam dari bahan katun, yang lebih mudah
menyerap.
65
e. Imunisasi
Pelaksanaan imunisasi TT (Tetanus Toksoid), WUS mendapat vaksin
Tetanus Toksoid sebanyak lima kali.
Catatan:
Sebelum imunisasi, dilakukan penentuan status imunisasi TT
(Screening) terlebih dahulu, terutama pada saat pelayanan
antenatal.
Pemberian imunisasi TT tidak perlu diberikan, apabila
pemberian imunisasi TT sudah lengkap (status T5) yang harus
dibuktikan dengan buku Kesehatan Ibu dan Anak, rekam medis
(Saifuddin, 2012).
Menurut Profil DINKES Kulon Progo, 2013. Penentuan status
imunisasi WUS dibedakan kelahiran WUS pada tahun 1979
sampai dengan tahun 1993 dan WUS yang lahir setelah tahun
1993, dimana tahun 1979 adalah tahun dimulainya program
imunisasi dasar lengkap dan tahun 1993 adalah tahun dimulainya
Bulan Imunisasi Anak Sekolah.
Untuk WUS yang lahir pada tahun 1979 sampai dengan tahun
1993 dan ingat jika pada saat sekolah SD dilakukan imunisasi,
maka status imunisasinya:
TT I adalah waktu imunisasi di kelas I SD;
TT II adalah waktu imunisasi di kelas II SD;
TT III adalah waktu imunisasi calon pengantin (caten) ;
TT IV adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil; dan
66
TT V adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.
WUS yang lahir pada tahun 1979 sampai dengan tahun 1993
namun tidak ingat pada waktu sekolah SD dilakukan imunisasi,
maka status imunisasinya:
TT I adalah waktu imunisasi caten pertama;
TT II adalah satu bulan setelah TT I;
TT III adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil; dan
TT IV adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.
WUS yang lahir yang lahir setelah tahun 1993 yang tidak
mempunyai KMS Balita dan kartu TT di SD, maka status
imunisasinya:
TT I adalah waktu imunisasi caten pertama;
TT II adalah satu bulan setelah TT I;
TT III adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil
TT IV adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.
WUS yang lahir yang lahir setelah tahun 1993 yang tidak
mempunyai KMS Balita namun mempunyai kartu TT di
SD, maka status imunisasinya:
TT I adalah waktu imunisasi di klas I SD;
TT II adalah waktu imunisasi di klas II SD;
TT III adalah waktu imunisasi caten yang pertama;
TT IV adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil
TT V adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.
67
WUS yang lahir setelah tahun 1993, mempunyai KMS
Balita dan mempunyai kartu TT di SD, maka status
imunisasinya:
TT I sampai dengan TT IV dapat dilihat di KMS dan
kartu TT; dan
TT V adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil.
Pemberian imunisasi TT (0,5cc)
Imunisasi Interval Lama Perlindungan
Perlindungan %
TT 1 Pada kunjungan
ANC - -
pertama/Caten
TT 2 4 minggu 3 Tahun 80%
setelah TT 1
TT 3 6 bulan setelah 5 Tahun 95%
TT 2
TT 4 1 tahun setelah 10 Tahun 99%
TT 3
TT 5 1 tahun setelah 25 Tahun / 99%
TT 4 seumur hidup
14. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang merupakan data yang berisi keluhan ibu
sekarang saat pengkajian dilakukan. Riwayat kesehatan yang lalu
dikaji untuk mengetahui apakah ibu mempunyai riwayat penyakit
seperti jantung, asma, hipertensi, ginjal dan diabetes melitus.
Riwayat penyakit menurun atau menular. Riwayat kembar atau
tidak. Riwayat alergi atau tidak. (Manuaba, 2008).
a. Penyakit sistemik yang pernah/sedang di derita
68
Hepatitis
Penyebab penyakit ini adalah virus hepatitis, dan ada beberapa
jenis virus hepatitis yaitu hepatitis A, B, dan C. Jika sampai tidak
tertangani dengan baik, penyakit hepatitis yang terjadi di saat
masa kehamilan bisa menyebabkan kondisi yang cukup parah
seperti kerusakan hati hingga kematian. Bahkan yang paling
parah yang dapat terjadi adalah virus tersebut bisa menular
kepada janin dalam kandungan. Jenis hepatitis yang paling umum
sering terjadi pada saat kehamilan adalah hepatitis B dan hepatitis
C (Bandiyah, 2009).
HIV
HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh human
immunodeficiency virus. Virus ini menyerang sel T (sel CD4)
dalam sistem imun yang tugas utamanya adalah melawan
infeksi.Ibu hamil yang terdiagnosis positif HIV juga dapat
menularkan infeksinya pada bayi di dalam kandungan lewat
plasenta. Tanpa pengobatan, seorang ibu hamil yang positif HIV
berisiko sekitar 25-30% untuk menularkan virus pada anaknya
selama kehamilan (Bandiyah, 2009).
TBC
TBC adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru yang
diakibatkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis.
Banyak bahaya yang mengancam ibu hamil jika ibu hamil
mengidap penyakit TBC. Jika TBC pada ibu berada di sekitar
69
paru-paru, tentu tidaklah akan berpengaruh besar pada janin yang
ibu kandung. Jika ibu hamil mengidap TBC, bayi bisa lahir
dengan berat badan yang sangat rendah. Dalam kondisi terburuk,
jika TBC ibu tertular pada bayi yang sedang dikandung,
pertumbuhan bayi akan menjadi lambat. Bahkan, kondisi tersebut
bisa mengakibatkan keguguran (Dewi, 2012).
Anemia
Anemia pada ibu hamil adalah kondisi ketika ibu yang tengah
mengandung mengalami kekurangan darah. Selama menjalani
masa kehamilan, seorang wanita membutuhkan sel darah dalam
jumlah yang lebih banyak daripada biasanya. Ini karena tidak
hanya ibu yang perlu asupan nutrisi dan oksigen, melainkan juga
janin. Apabila mengalami anemia, tentunya baik ibu maupun
janin tidak akan tercukupi kebutuhan nutrisi dan oksigennya
karena jumlah sel darah yang bertugas mengantarkan kedua
elemen tersebut tidak memadai. Pada perkembangannya, hal ini
bisa memicu masalah kesehatan pada ibu dan janin seperti
kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang tidak
ideal, bahkan kematian (Dewi, 2012).
Malaria
Wanita hamil pengidap malaria berisiko membahayakan bayi
dalam kandungannya. Ia cenderung rentan memicu gangguan
kesehatan pada bayinya seiring menurunnya kekebalan tubuh.
Penyakit malaria menyebabkan bayi lahir dengan berat badan
70
rendah, bayi lahir prematur, kematian di dalam rahim, lahir
mati, serta lahir dengan mewarisi penyakit malaria ibunya saat
lahir (kongenital). Bahkan pada kasus tertentu, malaria
menyebabkan pendarahan otak (Dewi, 2012).
Asma
Jika seorang ibu hamil memiliki asma, asma tersebut harus
terkontrol dengan baik, karena ibu hamil bernapas untuk bayi dan
dirinya sendiri guna memenuhi kebutuhan oksigen yang sangat
penting dalam pertumbuhan janin selama kehamilan. Asma harus
terkontrol dengan baik agar tidak berpengaruh buruk pada
kehamilan, persalinan ataupun menyusui (Bandiyah, 2009).
Jantung
Akibat penyakit jantung dalam kehamilan, terjadi peningkatan
denyut jantung pada ibu hamil dan semakin lama jantung akan
mengalami kelelahan. Akhirnya pengiriman oksigen dan zat
makanan dari ibu ke janin melalui ari-ari menjadi terganggu dan
jumlah oksigen yang diterima janin semakin lama akan
berkurang. Janin mengalami gangguan pertumbuhan serta
kekurangan oksigen (Dewi, 2012).
Hipertensi
Hipertensi adalah masalah yang paling sering dalam kehamilan.
Hipertensi merupakan 5-10% komplikasi dalam kehamilan dan
merupakan salah satu dari penyebab kematian tersering selain
perdarahan dan infeksi, dan juga banyak memberikan kontribusi
71
pada morbiditas dan mortalitas ibu hamil (Dewi, 2012).
DM
Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyulit medik yang
sering terjadi selama kehamilan. Angka kejadian 3-5% dari
semua kehamilan. Peningkatan angka kematian dan angka
kesakitan perinatal pada kehamilan dengan DM berkolerasi
langsung dengan kondisi hiperglikema pada ibu. Kelainan
bawaan janin saat ini merupakan salah satu penyebab kematian
perinatal pada 10% kasus kehamilan dengan DM tipe 1 dan tipe 2
yang tidak teregulasi dengan baik. Bayi-bayi dengan makrosomia
akan terjadi kelambatan maturasi paru janin yang akhirnya
juga meningkatkan kejadian RDS. Kejadian kematian janin
intrauterin yang terjadi pada kasus-kasus kehamilan dengan DM
juga dikaitkan dengan kondisi hiperglikemia yang berakhir
dengan keadaan acidosis laktat (Dewi, 2012).
IMS
Infeksi menular seksual alias IMS adalah penyakit yang
berpindah dari satu orang ke orang lainnya melalui hubungan
seksual. Proses penularan penyakit ini bisa terjadi akibat adanya
aktivitas seksual melalui mulut, anus, penis maupun vagina.
Infeksi menular seksual merupakan penyakit serius yang bisa
menyebabkan kemunculan berbagai komplikasi. Jika terjadi pada
ibu hamil, penyakit ini bisa mengancam keselamatan ibu maupun
janin yang ada di dalam kandungannya (Dewi, 2012).
72
b. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat kesehatan keluarga adalah catatan informasi kesehatan
seseorang dan kerabat dekatnya. Bukan hanya orang tua, riwayat
kesehatan keluarga juga mencakup tiga generasi di antaranya:
Anak, Saudara laki-laki dan perempuan, Bibi dan paman, Kakek
dan nenek, Keponakan dan sepupu (Manuaba, 2008).
Keluarga memiliki genetik yang serupa dan diturunkan antar
anggota keluarga. Terlebih, sering kali keluarga juga memiliki
lingkungan dan gaya hidup yang serupa. Hal ini dapat
meningkatkan risiko kondisi kesehatan yang sama pada tiap
anggota keluarga. Kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan
gaya hidup yang serupa ini dapat menjadi petunjuk untuk
menentukan akan kemungkinan diturunkannya penyakit genetik
pada ibu hamil (Manuaba, 2008).
Penyakit-penyakit meliputi: Hepatitis, HIV, TBC, Anemia,
Malaria, Asma, Jantung, Hipertensi, DM, IMS, dan lain-lain.
Begitu pula dengan striae gravidarum akan muncul pada 90%
kehamilan. Pada kebanyakan wanita, striae gravidarum ini akan
berubah warna menjadi keputihan setelah kehamilan nanti.
Kemungkinan munculnya striae gravidarum dipengaruhi oleh
genetik atau keturunan (Walyani, 2015). Striae tidak dapat
dihindari, dan cenderung diturunkan dalam satu keluarga (Reeder,
2011).
c. Riwayat keturunan kembar
73
Kelahiran kembar banyak dipengaruhi oleh riwayat genetik. Jika
ibu atau pasangan memiliki riwayat kembar, maka peluang untuk
hamil anak kembar secara alami akan lebih tinggi dibanding
dengan pasangan yang tidak mewarisi gen kembar. Resiko
kehamilan kembar memang lebih tinggi dibandingkan kehamilan
tunggal (Manuaba, 2008).
d. Riwayat alergi
Makanan
Alergi makanan adalah reaksi alergi yang muncul sesaat setelah
mengkonsumsi makanan tertentu. Hal tersebut diakibatkan oleh
adanya reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap
zat yang terkandung dalam makanan. Alergi makanan dapat
bersifat akut dan tiba-tiba. Akan tetapi jika kondisi ini
berlangsung dalam waktu yang lama, dikatakan kronis (Tyastuti,
2016).
Obat
Alergi obat adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh
(sistem imun) terhadap suatu obat yang digunakan. Reaksi ini
muncul karena sistem kekebalan tubuh menganggap zat dalam obat
tersebut sebagai bahan yang dapat membahayakan tubuh (Tyastuti,
2016).
Zat lain
Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh yang
tidak diduga sebelumnya, seperti tingkat sensitifitas yang lebih
74
tinggi terhadap bau atau cahaya. Perubahan jumlah kandungan
hormon dalam tubuh selama kehamilan juga turut membawa
perubahan. Hal ini, terkait pada reaksi tubuh Ibu ketika terpapar
allergen, zat yang memicu terjadinya alergi, seperti serbuk sari,
tungau debu, jamur, dan bulu dari hewan peliharaan. Dalam
beberapa kasus Ibu hamil, gejala yang dirasakan cenderung lebih
intens sementara yang lain justru menurun (Walyani, 2015).
e. Kebiasaan-kebiasaan
Minum Jamu-Jamuan
Menurut standar konsep pengobatan tradisional, minum jamu
dibenarkan dan diperbolehkan dengan syarat zat – zat atau bahan
yang digunakan sudah terbukti efektif. Di Indonesia minum jamu
merupakan kebiasaan yang beresiko pada ibu hamil karena belum
semua bahan dan cara membuat jamu serta dosis
terstandar.Bahayanya adalah apabila ada endapan pada air
ketuban dapat menyebabkan air ketuban keruh sehingga
menyebabkab bayi sulit bernafas sehingga menyebabkan aspiksia
pada saat lahir (Tyastuti, 2016).
Merokok
Paparan asap rokok yang dapat mengakibatkan resiko pada
kehamilan biasanya terjadi karena suami yang biasa merokok pada
saat berada didalam rumah bersama istri dan anak yang dapat
menyebabkan perokok pasif bagi keluarganya, atau secara langsung
wanita (ibu) yang sebagai perokok aktif. Merokok selama
75
kehamilan berkaitan dengan keguguran, perdarahan vagina,
kelainan prematur, dan BBLR (2500 gram lebih ringan dari bayi
yang tidak merokok). Jika usia ibu di atas 35 tahun ada juga
kenaikan berarti dalam resiko bayi menderita malformasi minor
dan BBLR, dengam segala bahaya yang menyertainya, sebanyak 5
kali lipat dari perokok muda (Romauli, 2011). Pengaruh asap rokok
dari suami sangat berbahaya karena 75% asap rokok akan terhirup
pada ibu hamil yang dikenal sebagai asap sampingan (perokok
pasif) yang lima kali lebih banyak mengandung karbon monoksida,
dan empat kali mengandung nikotin. Hal ini disebabkan oleh
komponen tembakau berupa karbon monoksida (CO) dan nikotin
yang dapat mempengaruhi berat badan lahir sebagai penyebab
prematur. Diketahui CO mengikat hemoglobin (Hb) membentuk
karboksi hemoglobin penyebab hipoksia janin terkait dengan
sindrom kematian bayi mendadak. Selain itu, nikotin dan CO dapat
menyebabkan vasokonstriksi dan berkurangnya aliran darah
termasuk mengurangi aliran darah ke rahim (Kamarudin, 2020).
Minum-minuman keras
Alkohol yang di konsumsi ibu hamil dapat membahayakan
jantung ibu hamil dan merusak janin, termasuk menimbulkan
kecacatan dan kelainan pada janin dan menyebabkan kelahiran
premature. Tidak hanya pada peminum atau pemakai alkohol
rutin. Efek pemakaian alcohol
dalam kehamilan adalah pertumbuhan janin terhambat, retardasi
76
mental, kecacatan, kelainan jantung dan kelainan neonatal.
Munculnya efek ketidaknormalan pada ibu hamil dengan
konsumsi alcohol minimal 28,5 ml per hari dan terutama
konsumsi alkohol pada trimester pertama yang mengakibatkan
bayi lahir mati, abortus atau persalinan premature (Walyani,
2015).
Obat terlarang
Penggunaan obat seperti heroin, kemudian metadon, kanabis,
kokain, dan amfetamin bila digunakan secara berlebihan pada
kehamilan berkaitan dengan keguguran, persalinan prematur,
berat badan lahir rendah, lahir mati, dan abnormalitas (Romauli,
2011).
15. Psikososial Spiritual
Status emosional dan psikologis ibu turut menentukan keadaan yang
timbul sebagai akibat atau diperburuk oleh kehamilan, sehingga
dapat terjadi pergeseran dimana kehamilan sebagai proses fisiologis
menjadi kehamilan patologis. Peristiwa kehamilan adalah peristiwa
fisiologis, namun proses alami tersebut dapat mengalami
penyimpangan sampai berubah menjadi patologis. Sehingga perlu
support atau dorongan dan dukungan dari orang terdekat dalam
keluarga (Walyani, 2015).
Menanyakan kepada klien tentang psikososial spiritual yang terdiri
dari:
a. Riwayat perkawinan
77
Untuk mengetahui status perkawinan, berapa kali menikah, syah
atau tidak, umur berapa menikah dan lama pernikahan
(Prawirohardjo, 2005).
b. Tanggapan dan dukungan keluarga terhadap kehamilan
Ditanyakan apakah pasien sudah menerima kondisinya saat ini
dan bagaimana harapan pasien terdapat kondisinya sekarang, hal
ini dikaji agar menemudahkan tenaga kesehatan dalam
memberikan dukungan secara psikososial kepada pasien
(Romauli, 2011).
Dukungan selama masa kehamilan sangat dibutuhkan bagi
wanita hamil, terutama dari orang terdekat apalagi ibu yang baru
pertama kali hamil. Seorang wanita akan merasa tenang dan
nyaman dengan adanya dukungan dan perhatian dari orang-
orang terdekat.
b. Pengambilan keputusan dalam keluarga
Dikaji untuk mengetahui siapa pengambil keputusan pertama dan
kedua dalam keluarga ketika terjadi sesuatu kepada pasien
(Romauli, 2011).
c. Ketaatan beribadah
Dikaji untuk mengetahui bagaimana ketaatan pasien dalam
beribadah menurut kepercayaan (Romauli, 2011).
e. Lingkungan yang berpengaruh
Dikaji untuk mengetahui dengan siapa ibu tinggal, bagaimana
dengan lingkungan sekitar rumah ibu dan apakah ibu
78
mempunyai hewan peliharaan. Hal ini dikaji untuk mengetahui
apakah lingkungan rumah mempunyai pengaruh terhadap
kesehatan ibu (Romauli, 2011).
- Data Objektif
Data obyektif adalah data yang didapatkan dari pasien sebagai suatu
pendapat terhadap situasi dan kejadian (Nursalam, 2008)
8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan ibu dan tingkat kesadaran pasien,
sedang atau baik. kesadaran penderita sangat penting dinilai,
dengan melakukan anamnesis. Kesadaran dinilai baik jika
dapat menjawab semua pertanyaan (penderita sadar akan
menunjukkan tidak ada kelainan psikologis) (Bobak, 2005).
b. Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita
dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari
keadaan komposmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan
koma (pasien tidak dalam keadaan sadar) (Sulistyawati, 2011).
c. Tanda vital
Tekanan Darah
Untuk mengetahui faktor resiko hipertensi. Batas normal
120/80mmHg – <140/90mmHg (Prawirohardjo, 2010).
79
Nadi
Dalam keadaan santai denyut nadi ibu sekitar 60-80x/menit.
Denyut nadi 100x/menit atau lebih dalam keadaan santai
merupakan pertanda buruk atau dicurigai hipotiroid (Marni,
2014).
Pernafasan
Untuk mengetahui fungsi sistem pernafasan normalnya 16-
24x/menit (Romauli, 2011).
Suhu tubuh
Suhu tubuh yang normalnya adalah 36-37,5C perlu diwaspadai
adanya infeksi (Romauli, 2011).
d. Berat badan
Untuk mengetahui berat badan pasien dalam satuan kilogram. Ibu
yang menurut kategori BMI berada pada rentang obesitas lebih
berisiko mengalami komplikasi kehamilan. Komplikasi tersebut
antara lain diabetes gestasional, hipertensi akibat kehamilan, dan
distosia bahu (Fraser et al, 2009)
Lonjakan pertumbuhan dan penambahan berat badan secara tiba-
tiba membuat jaringan ikat dibawah kulit dapat meregang,
mengalami ruptur, dan atrofi, menimbukan jaringan parut yang
khas berupa striae karena setiap saat kulit adalah subjek
peregangan yang cepat (Reeder, 2011).
Menurut Walyani (2015), berat badan mempengaruhi timbulnya
striae gravidarum. Menjaga berat badan agar stabil atau
80
meningkat perlahan-lahan. Hindari peningkatan berat badan
terlalu banyak dalam satu waktu untuk menghindari
overstretching dari kulit.
Proporsi kenaikan berat badan hamil adalah:
Trimester I lebih kurang 1 kg,
Trimester II adalah 3 kg,
Trimester III adalah 6 kg atau 0,3-0,5 per minggu.
e. Tinggi badan
Mengetahui tinggi badan ibu, karena tinggi badan ibu
mempengaruhi ketika tindakan yang akan dilakukan ketika
persalinan. Bila tinggi badan <145 cm, salah satu faktor resiko
panggul sempit, kemungkinan sulit melahirkan secara normal
(Buku KIA, 2018).
f. IMT
Menurut Saryono (2010) berat badan dilihat dari Quetet atau Body
massa indek (Indek Masa Tubuh = IMT). Ibu hamil dengan berat
badan dibawah normal sering dihubungkan dengan abnormalitas
kehamilan, berat badan lahir rendah. Sedangkan berat badan
overweight meningkatkan resiko atau komplikasi dalam kehamilan
seperti hipertensi, janin besar sehingga terjadi kesulitan dalam
persalinan. Penilaian indeks masa tubuh diperoleh dengan rumus:
IMT = BB sebelum hamil
(kg) TB2 (meter)
81
Peningkatan berat badan ibu selama kehamilan berdasarkan IMT:
- ibu dengan berat badan kurang (IMT < 18,5): 15kg-20kg
- Ibu dengan berat badan normal (IMT < 18,5-22,9):12,5kg-15kg
- Ibu dengan berat badan berlebih (IMT > 22,9): 7,5kg-12,5kg
a. LILA
Untuk mengetahui satuan gizi pasien, apakah masuk dalam
kekurangan energy kronik (KEK) atau tidak.
Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk
skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK).
Kurang energi kronis disini maksudnya ibu hamil yang
mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama
(beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Ibu
hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir
rendah (BBLR) (Ai Yeyeh, 2011).
9. Head To Toe
a. Kepala dan Wajah
Kulit kepala
Diperhatikan kulit kepala bagaimana pertumbuhan rambutnya,
apakah rambut mudah rontok atau tidak. Rambut yang mudah
di cabut menandakan kurang gizi atau kelainan tertentu
(romauli, 2011).
Edema wajah
Edema pada muka atau edema seluruh tubuh merupakan salah
satu tanda gejala adanya preeklampsia (Saifuddin, 2010).
82
Cloasma gravidarum +/-
Pada pipi, hidung dan dahi tampak deposit pigmen yang
berlebihan yang dikenal dengan cloasma gravidarum yang
merupakan masalah kulit yang umum pada ibu hamil
(Maharani, 2015).
Mata
Dikaji untuk mengetahui apakah sclera ikterik dan konjungtiva
anemis atau tidak. Bentuk simetris, konjungtiva normal warna
merah muda, bila pucat menandakan anemia. Sklera normal
berwarna putih, bila kuning menandakan ibu mungkin
terinfeksi hepatitis, bila merah kemungkinan ada
konjungtivitis. Kelopak mata yang bengkak kemungkinan
adanya pre-eklamsia (Romauli, 2011).
Mulut & gigi
Dikaji untuk mengetahui mulut stomatis atau tidak.
Stomatis/Sariawan adalah penyakit yang muncul pada jaringan
lunak pada mulut atau pada dasar gusi yang berbentuk luka
kecil dan dangkal dengan tepiannya yang berwarna merah
akibat peradangan. Sariawan ini dapat menimbulkan rasa sakit
dan tidak nyaman pada ibu hamil. Sariawan yang tidak kunjung
sembuh menyebabkan infeksi (Lalega, 2013).
Gigi dikaji untuk Adanya caries atau keropos yang
menandakan ibu kekurangan kalsium. Adanya kerusakan gigi
dapat menjadi sumber infeksi (Romauli, 2011).
83
b. Leher
Normal bila tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada
pembesaran limfe dan tidak ditemukan bendungan vena
jugularis (Romauli, 2011).
Kelenjar tyroid
Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar
tyroid atau tidak. Hipotiroid yang tidak diobati selama
kehamilan dapat menyebabkan preeklamsia, anemia,
keguguran, berat badan bayi rendah, gagal jantung kongestif,
sehingga kelahiran mati (Romauli, 2011).
Pembuluh limfe
Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar
limfe atau tidak. Pembengkakan getah bening di leher biasanya
akibat infeksi pada sistem pernapasan bagian atas pada
kehamilan. Apabila kelenjar ini mengalami peradangan atau
terkena limfadenitis, maka hal ini mengindikasikan gangguan
pada tubuh sehingga ibu hamil rentan mengalami gangguan
yang berimbas pada kondisi bayi di dalam kandungan
(Romauli, 2011).
Vena Jugularis
Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran vena
jugularis atau tidak. Pemeriksaan pada leher untuk melihat
vena jugularis, dapat memberikan gambaran tentang aktifitas
jantung. (Romauli, 2011).
84
c. Dada dan Payudara
Dada
Normal bila tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada
wheezing dan ronhci, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa
abnormal (Manuaba, 2012).
Payudara
Adanya hiperpigmentasi areola, puting susu bersih dan
menonjol. Pada minggu ke-12 kolostrum mulai keluar dari
papila mammae pada pasien multigravida yang telah mantap
menyusui pada masa kehamilan sebelumnya. Wanita
primigravida baru akan memproduksi kolostrum pada masa
akhir kehamilan (Romauli, 2011).
Perubahan kulit pada payudara disebabkan karena peregangan
pada lapisan kolagen. Peregangan maksimum menyebabkan
area teregang menjadi lebih tipis, yang tampak seperti garis
merah awalnya yang berubah menjadi garis putih berkilauan
(sikatrik) yang disebut striae gravidarum (Walyani, 2015).
d. Abdomen
Inspeksi
(a)Bentuk
Ukuran uterus dapat dikaji melalui observasi. Kandung kemih
yang penuh, kolon yang terdistensi, atau obesitas, dapat
memberi kesan yang salah tentang ukuran janin. Pada sebagian
besar kasus, bentuk uterus lebih panjang ketika janin berada
pada posisi longitudinal. Jika janin berada pada posisi
85
transversal, uterus berbentuk 201 melebar dan terletak lebih
rendah. Umbilikus menjadi kurang cekung sejalan dengan
perkembangan kehamilan dan cepat sedikit menonjol pada
minggu-minggu terakhir. Ketika ibu sedang berdiri, abdomen
dapat tampak lebih tipis. Otot abdomen yang lemah pada ibu
multipara dapat menyebabkan uterus condong ke depan
(Fraser dkk, 2009).
(b)Bekas luka
BSC (Bekas Sectio Caesarea) dapat mengindikasikan adanya
operasi abdomen atau obstetrik yang pernah dilakukan
sebelumnya (Fraser dkk, 2009).
(c) Striae gravidarum
Striae gravidarum umumnya melintang di sepanjang dinding
perut. Perubahan kulit disebabkan karena peregangan pada
lapisan kolagen. Peregangan maksimum menyebabkan area
teregang menjadi lebih tipis, yang tampak seperti garis merah
awalnya yang berubah menjadi garis putih berkilauan
(sikatrik) yang disebut striae gravidarum (Walyani, 2015).
(d) Linea
Linea nigra dapat terlihat sebagai garis berwarna gelap akibat
pigmentasi yang terletak memanjang di bagian tengah
abdomen di bawah dan terkadang di atas umbilicus (Fraser
dkk, 2009).
Palpasi Leopold
86
(a)Leopold I
Untuk mengetahui TFU dan bagian apakah yang terdapat di
fundus. Jika teraba benda bulat, melenting, mudah digerakkan,
maka itu adalah kepala. Namun jika teraba benda bulat, besar,
lunak, tidak melenting itu adalah bokong.
(b) Leopold II
Untuk mengetahui bagian-bagian janin yang teraba di sebelah
kanan dan kiri perut ibu. Jika teraba bagian yang rata, terasa
ada tahanan, tidak teraba bagian kecil, maka itu adalah
punggung bayi. Namun jika teraba bagian-bagian kecil dan
menonjol maka itu adalah bagian kecil janin.
(c)Leopold III
Untuk mengetahui bagian terbawah janin, bokong atau kepala
jika teraba bagian yang bulat, melenting, keras, dan dapat
digoyangkan maka itu adalah kepala. Namun jika teraba
bagian yang bulat, besar, lunak dan sulit digerakkan maka ini
adalah bokong. Jika dibagian bawah tidak ditemukan kedua
bagian seperti tersebut, maka pertimbangkan apakah janin
dalam letak melintang.
(d) Leopold IV
Untuk mengetahui apakah bagian terbawah janin sudah masuk
PAP atau belum. Jika kedua tangan konvergen (dapat saling
bertemu) berarti kepala belum masuk panggul. Jika kedua
tangan divergen (tidak saling bertemu) berarti kepala sudah
87
masuk panggul (Mastiningsih, 2019)
TBJ
Untuk mengetahui perkiraan berat janin. Dihitung dengan cara
TFU bila kepala sudah masuk panggul dikurangi 11 dan bila
kepala janin belum masuk panggul dikurangi 12 dikali 155
(Mastiningsih, 2019).
Auskultasi
Auskultasi adalah pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi
dengan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan bunyi
detak jantung janin, bising tali pusat, bising rahim, serta bising
usus. Denyut jantung janin normalnya 120-160x/menit
(Hidayat, 2008)
Ekstremitas atas dan bawah
(a)Edema
Pada ibu hamil trimester III sering terjadi edema dependen,
yang disebabkan karena kongesti sirkulasi pada ekstremitas
bawah, peningkatan kadar permeabilitas kapiler, tekanan dari
pembesaran uterus pada vena pelvik ketika duduk atau pada
vena kava inferior ketika berbaring. Jika edema muncul pada
muka, tangan, dan disertai proteinuria serta hipertensi perlu
diwaspadai adanya pre eklampsia (Marmi, 2014)
(b) Varices
Semakin besar kehamilan maka akan terjadi peningkatan
88
tekanan di pembuluh darah vena kaki. Kadar progesterone
yang tinggi juga dapat menyebabkan relaksasi pembuluh vena
di kaki sehingga semakin memudah kan terjadinya varises. Hal
ini akan menghilang setelah proses kelahiran namun terkadang
kondisi ini mengganggu selama kehamilan (Walyani, 205).
Varises merupakan kondisi yang terjadi saat pembuluh darah
yang terletak cukup dekat dengan permukaan kulit mengalami
pembengkakan ataupun pelebaran. Varises dapat menyebabkan
pembuluh darah menjadi berwarna biru maupun ungu dan
menonjol keluar. Dalam keadaan tertentu peradangan pada
varises bisa menyebabkan ibu hamil mengalami komplikasi.
Seperti: Borok kaki (ulserasi), Ulkus (luka di sekitar pembuluh
darah), Pembuluh darah pecah (pendarahan), Peradangan
kronis pembuluh darah tungkai atau gumpalan darah
(tromboflebitis) (Walyani, 205).
(c)Reflek patella
Bila tungkai bawah akan bergerak sedikit ketika tendon
ditekuk. Bila gerakannya berlebihan dan cepat, maka hal ini
mungkin merupakan tanda pre eklamsia. Bila reflek patella
negatif kemungkinan pasien mengalami kekurangan B1
(Romauli, 2011).
Genetalia luar
Pemeriksaan alat genetalia eksterna terdiri dari inspeksi vulva
untuk mengetahui pengeluaran cairan atau darah dari liang
89
senggama, perlukaan pada vulva/labium mayus, dan
pertumbuhan abnormal (kondiloma akuminata-lata, kista
bartholini, abses bartholini, fibroma labium mayus). Pada
palpasi vulva akan teraba tumor pada vulva, teraba benjolan
atau penebalan labium mayus, dan teraba pembengkakan
kelenjar Bartholini (Manuaba, 2010).
Pemeriksaan genetalia dilakukan dengan mencari adanya lesi,
eritema, perubahan warna, pembengkakan, ekskoriasi dan
memar. Bila ada lesi kemungkinan menunjukkan sifilis atau
herpes (Marmi, 2014).
Anus
Hemoroid
Hemoroid sering didahului oleh konstipasi. Oleh karena itu,
semua penyebab konstipasi berpotensi menyebabkan
hemoroid. Progesteron juga menyebabkan relaksasi dinding
vena dan usus besar. Selain itu, pembesaran uterus
mengakibatkan peningkatan tekanan, secara spesifik juga
secara umum pada vena hemoroid (Varney, 2006).
10. Pemeriksaan penunjang
Mendukung diagnosa medis, kemungkinan komplikasi, kelainan
dan penyakit yang menyertai kehamilannya (Nursalam, 2008)
(a)Tes Golongan darah
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk
mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk
90
mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu
diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan
(Kumalasari, 2015).
(b) Tes Hb / Haemoglobin
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan
minimal sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester
ketiga menjelang persalinan. Pemeriksaan ini ditujukan untuk
mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak
selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat
mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam
kandungan (Kumalasari, 2015).
Kategorinya adalah:
• Normal >11,5gr-12gr
• Ringan >10gr-11gr
• Sedang > 8gr-9gr
• Berat <8gr
(b) Tes protein urine
Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada
trimester kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini
ditujukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil.
Proteinuria merupakan salah satu indikator terjadinya
preeklampsia pada ibu hamil (Kumalasari, 2015).
Kategorinya adalah :
• Negatif : bila larutan jernih
91
• Positif + : bila larutan keruh
• Positif ++ : bila larutan keruh berbutir
• Positif +++ : bila larutan membentuk awan
• Positif ++++ : menggumpal
(c)Tes glukosa/reduksi urine
Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus
dilakukan pemeriksaan gula darah selama kehamilannya
minimal sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester
kedua, dan sekali pada trimester ketiga (terutama pada akhir
trimester ketiga). DMG pada ibu hamil dapat mengakibatkan
adanya penyakit berupa preeklamsia, polihidramnion dan bayi
besar (Kumalasari, 2015).
Kategorinya adalah :
• Negatif : biru kehijauan
• Positif + : hijau kekuning-kuningan
• Positif ++ : kuning keruh
• Positif +++ : kuning kemerahan
• Positif ++++ : Merah Keruh
(d) Tes HIV
Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi
kasus HIV dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu
hamil setelah menjalani konseling kemudian diberi kesempatan
untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes
HIV (Kumalasari, 2015).
92
(e)Tes Malaria
Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan
pemeriksaan darah Malaria dalam rangka skrining pada kontak
pertama. Ibu hamil di daerah non endemis Malaria dilakukan
pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi (Kumalasari,
2015).
2) Identifikasi Diagnosa Masalah
Setelah data dikumpulkan teknik berikutnya adalah melakukan
identifikasi terhadap kemungkinan diagnosis dan masalah
kebutuhan pasien hamil. Interpretasi data tersebut sebatas
lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur
nama diagnosis kebidanan yang diakui oleh profesi dan
berhubungan langsung dengan praktik kebidanan, serta
didukung oleh pengambilan keputusan klinis (clinikal
judgmet) dalam praktik kebidanan yang dapat diselesaikan
dengan manajemen kebidanan (mufdillah, 2012).
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau
masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data yang di
kumpulkan yaitu dengan diagnosa kebidanan (Varney, 2004).
- Diagnosa
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan dalam
lingkup praktik kebidanan (Varney, 2004).
Ny X G P 0 (kelahiran aterm), 0 (prematur), 0 (abortus), 0 (anak
yang hidup), umur…tahun hamil..minggu, janin tunggal atau
93
kembar, hidup atau mati, intra atau ekstra, letak memanjang atau
melintang, presentasi kepala atau bokong, punggung kanan atau
kiri.
Data dasar:
(1) Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang didapatkan dari pasien
sebagai suatu pendapat terhadap suatau situasi dan kejadian,
informasi tersebut tidak dapat ditentukan oleh tenaga kesehatan
secara independen tapi melalui suatu interaksi atau informasi
atau komunikasi (Nursalam, 2007).
(2) Data obyektif
Data obyektif adalah data yang sesungguhnya dapat
diobservasi dan dilihat oleh tenaga kesehatan (Nursalam,
2007).
- Masalah
Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman
klien yang ditemukan dari hasil pengkajian yang menyertai
diagnosa (Varney, 2004).
Masalah pada trimester II, yaitu:
(a) Keputihan
(b) Cloasma gravidarum
(c) Striae gravidarum
(d) Kram pada kaki
(e) Konstipasi
94
(f) Ambeien
3) Identifikasi Diagnosa Potensial
Diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan
diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil
mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa
atau masalah potensial ini benar-benar terjadi (mufdillah, 2012).
4) Identifikasi Kebutuhan Segera, Kolaborasi dan Rujukan
Cara ini dilakukan setelah diagnosa potensial diidentifikasi.
Penetapan masalah ini dilakukan dengan cara mengantisipasi dan
menentukan kebutuhan apa saja yang akan diberikan kepada ibu
hamil. Data tersebut dapat menentukan tindakan yang dan akan
dilakukan seperti berkonsultasi dan berkolaborasi dengan tenaga
kesehatan lain dan persiapan untuk menentukan tindakan yang tepat
(mufdillah, 2012).
5) Perencanaan
Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah
sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang
telah diidentifikasi atau diantisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh
tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat kondisi pasien atau dari
setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka
pedoman antisipasi bagi wanita tersebut yaitu apa yang akan terjadi
berikutnya. Penyuluhan, konseling dari rujukan untuk masalah-
masalah sosial, ekonomi atau masalah psikososial (mufdillah, 2012).
95
Langkah-langkah Perencanaan:
1) Informasikan hasil pemeriksaan kepada ibu hamil
2) Berikan KIE tentang:
- Masalah yang dihadapi saat ini dan penangannya
- Ketidaknyamanan pada kehamilan trimester II
- Tanda-tanda bahaya pada kehamilan trimester II
2) Berikan resep multivitamin yang terdiri dari Vit C, Fe dan
menjelaskan cara meminumnya.
3) Diskusikan jadwal kunjungan ulang sesuai jadwal berikutnya, atau
sewaktu- waktu jika ada keluhan
6) Pelaksanaan
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan
pada klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana
asuhan secara efisien dan aman (mufdillah, 2012).
Langkah-langkah Pelaksanaan:
1) Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu hamil
2) Memberikan KIE tentang:
- Masalah yang dihadapi saat ini dan penanganannya
- Ketidaknyamanan pada kehamilan trimester III
- Tanda-tanda bahaya pada kehamilan trimester II
2) Menganjurkan ibu untuk menggunakan pakaian dan sepatu yang
nyaman selama kehamilan
3) Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan pada vagina
4) Menganjurkan ibu untuk menjaga pola makan dan selalu
96
mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang berfungsi
untuk pemenuhan nutrisi bagi dirinya dan janin yang
dikandungnya
5) Mendiskusikan pada ibu tentang pola hubungan seksual
6) Memberikan resep multivitamin yang terdiri dari B1, Fe dan
menjelaskan cara meminumnya
7) Mendiskusikan jadwal kunjungan ulang sesuai jadwal berikutnya,
atau sewaktu- waktu jika ada keluhan
7) Evaluasi
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa
yang telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan
yang telah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan
apakah benar – benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana
yang telah diidentifikasi dalam diagnosa dan masalah. Rencana
tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam
pelaksanaannya.
1) Ibu bertanya aktif dan mengerti tentang penjelasan yang diberikan
2) Ibu bertanya aktif dan mampu mengulang poin-poin penting
dari KIE yang disampaikan
3) Ibu bersedia melakukan anjuran yang diberikan
4) Ibu setuju dan menyanggupi untuk menjaga pola hubungan seksual
5) Ibu dapat menjelaskan kembali cara meminum multivitamin
6) Ibu setuju dan menyanggupi untuk kunjungan ulang
97
BAB III
TINJAUAN KASUS
Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Trimester III Fisiologis
di PMB Sukarsih Amd.Keb Tahun 2023
Tanggal 01 Januari 2023
Pukul 16.00 Wib
Oleh Pebbin Kori Sari
Di PMB Sukarsih Amd.Keb
A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas/Biodata
Biodata Ibu Suami
Nama : Ny. R Tn. W
Umur : 27 Tahun 30 Tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/ Indonesia
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SLTA SLTA
Pekerjaan : IRT Petani
Alamat : Jl. Anggrek Jl. anggrek
Kunjungan saat ini : Kunjungan Pertama Kunjungan Ulang
√
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya dan mengeluh
sering BAK sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman
3. Riwayat Menstruasi
98
Siklus : 28 hari
Teratur/tidak : Teratur
4. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
G2P101
Persalinan & BBL Nifas
Tgl lahir Umur Jenis Persalinan Penolong Tempat Komplikasi Jenis BB Laktasi Komplikasi
Hamil Persalinan
Kelahiran Ibu Bayi Kelamin Lahir
Ke
1 26-10-2016 9 bulan normal bidan PMB - - PR 2900gr baik -
5. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
No Jenis Mulai Memakai Berhenti/Ganti Cara
Kontrasepsi Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Keluhan
1. bidan PMB Haid bidan PMB -
Suntik 3 bln 09-11- 13-02-22
sedikit
2016
99
6. Riwayat kehamilan ini
a. Riwayat ANC
HPHT : 21-05-2022
TP : 28-02-2023
UK : 32-33minggu
Ini merupakan kunjungan ke 5 ibu ke PMB Sukarsih. Pada kunjungan
sebelumnya ibu mendapatkan konseling tentang kebutuhan nutrisi, istirahat,
aktifitas, kemudian ketidaknyamanan yang mungkin terjadi selama kehamilan
seperti sering BAK dapat diterima ibu. Ibu telah mendapatkan terapi berupa zat
besi (Fe) pada kunjungan sebelumnya. Ibu telah dilakukan pemeriksaan
laboratorium pada tanggal 03-12-2022 hasilnya Hb 11,3gr%. Gerakan janin telah
dirasakan ibu sejak usia kehamilan 20 mg(5 bln) hingga saat ini. Ibu berencana
melahirkan di PMB Sukarsih.
b. Pola Keseharian
Nutrisi : makan 3-4x sehari dengan porsi sedang, berupa nasi, lauk dan
sayuran. Sering makan biskuit untuk cemilan. Minum 6-7
gelas sehari,
Eliminasi : BAK ±15 kali/ hari, BAB 1 kali/ hari. Kencing sedikit tapi sering
Aktivitas : ibu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya
Istirahat : 1-2 jam tidur siang, saat malam tidur 6-7 jam
Seksual : 1x per minggu sejak hamil, tidak ada keluhan
c. Personal Hygiene
Kebiasaan mandi : 2 kali/hari
Menggosok gigi : 2 kali/hari
Kebiasaan membersihkan alat kelamin : Setiap BAK, BAB, dan saat mandi
Kebiasaan menganti pakaian dalam : Sesudah mandi
Jenis pakaian dalam yang digunakan : Katun
d. Imunisasi
TT 1= sudah TT 2= sudah
TT 3= sudah TT 4= sudah
TT 5 = sudah
7. Riwayat kesehatan
a. Penyakit sistemik yang pernah/sedang di derita
Tidak sedang dan tidak pernah menderita penyakit hepatitis, HIV, TBC, anemia,
malaria, asma, jantung, hipertensi, DM, dan IMS.
b. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga
Dari keluarga ibu maupun suami tidak ada keluarga yang pernah menderita
penyakit hepatitis, HIV, TBC, anemia, malaria, asma, jantung, hipertensi, DM,
100
dan IMS.
c. Riwayat keturunan kembar
Tidak ada
d. Riwayat Alergi
Tidak pernah menderita alergi dari makanan, obat, maupun zat lain.
e. Kebiasan-kebiasaan
Tidak pernah minum jamu-jamuan, merokok, minum-minuman keras, dan obat-
obatan terlarang.
8. Keadaan Psiko Sosial Spiritual
a. Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 20 tahun.
Dengan suami sekarang 7 tahun 4 bulan
b. Tanggapan dan dukungan keluarga terhadap kehamilan
Diinginkan √ Tidak diinginkan
c. Pengambilan keputusan dalam keluarga
Suami
d. Ketaatan ibu dalam beribadah
Taat beribadah
e. Lingkungan yang berpengaruh
Ibu tinggal dirumah dengan suami dan anaknya. Dalam keluarga tidak ada
tradisi khusus yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin yang
dikandungnya. Ibu memiliki hewan peliharaan (ayam).
B. DATA OBJEKTIF
1. PemeriksaanUmum
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Composmetis
c. Tanda vital
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,0C
d. BB : sebelum hamil 53 kg, BB sekarang 62 kg
e. TB : 157 cm
f. IMT : normal (62:2,4= 25)
g. LILA : 27 cm
101
2. Pemeriksaan Khusus
a. Kepala dan Wajah
Edema wajah : Tidak ada
Cloasma gravidarum : Tidak ada
Mata : Tidak ikterik, konjungtiva merah muda
b. Leher
Kelenjar Tyroid : Tidak ada
Pembuluh Limfe : Tidak ada
Vena Jugularis : Tidak ada
c. Dada & Payudara
Bentuk :Simetris
Areola mammae :Menghitam
Putting susu : Menonjol
Benjolan : Tidak ada
Colostrums : Belum ada
Aksila : Tidak ada pembengkakan kelenjar
Strie gravidarum : tidak ada
d. Abdomen
1) Inspeksi
Bentuk : perut mulai membesar sesuai dengan usia kehamilan
Bekas luka : Tidak ada
Strie gravidarum : warna merah
Linea : alba
2) Palpasi
Leopold I : TFU 28 cm( pertengahan pusat dengan PX)
Leopold II : Puka
Leopold III : teraba kepala, janin tunggal intra uteri
Leopold IV : kepala belum memasuki PAP
3) TBJ : 28-13x157=2,355 gr
4) DJJ : 146x/i
5) Ekstremitas Atas & Bawah
Edema : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Reflek patella : (+)
C. ANALISIS
1. Diagnosa
Ibu G2P1001 UK 32-33 minggu, Tunggal Intra uteri keadaan umum ibu dan janin baik,
Let_Kep.
D. PENATALAKSANAAN
Tanggal 01 januari 2023 jam 16.00 WIB
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa saat ini ibu dan janin yang
dikandungnya dalam keadaan yang baik.
E : Ibu bertanya aktif dan mengerti tentang penjelasan yang diberikan.
102
2. Menginformasikan dan menjelaskan terkait keluhan ibu yaitu sering BAK adalah
masalah fisiologis pada ibu hamil dan ketidaknyamanan umum yang terjadi pada
trimester III. Sering BAK diakibatkan karena bertambahnya usia kehamilan dan
janin mulai bertambah beratnya sehingga menyebabkan ada penekanan dibagian
kandung kemih ibu.
E : Ibu bertanya aktif dan mengerti tentang penjelasan yang diberikan.
3. Memberikan KIE tentang :
a. Bagaimana penanganan sering BAK yaitu menganjurkan ibu untuk membatasi
porsi minum air putih pada saat malam hari. Minum air yang cukup (8 gelas
sehari), diit karbo agar berat badan ibu bertambah sesuai dengan usia
kehamilanya. Hindari mengonsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, atau
minuman bersoda, karena bisa membuat Bumil lebih sering buang air kecil.
a. Pastikan minum air putih setidaknya 8 gelas sehari. Namun, hindari minum 2-
3 jam sebelum tidur.
b. Jangan menahan rasa ingin buang air kecil karena hal ini mungkin bisa
meningkatkan frekuensi ke toilet.
c. Menganjurkan ibu untuk latihan kegel, mengkosongkan kandung kemih
sebelum tidur.
d. Ketidaknyamanan lain yang normal pada kehamilan trimester III yaitu
keputihan, cloasma gravidarum, striae gravidarum, kram pada kaki,
konstipasi, haemoroid serta sering BAK
e. Tanda-tanda bahaya pada kehamilan trimester III yaitu bayi kurang bergerak
seperti biasa, demam tinggi, tekanan darah tinggi, preeklampsia.
E : Ibu bertanya aktif dan mampu mengulang poin-poin penting dari KIE yang
disampaikan.
4. Menganjurkan ibu untuk selalu mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang
yang berfungsi untuk pemenuhan nutrisi bagi dirinya dan janin yang
dikandungnya serta istirahat yang cukup
E : Ibu bersedia melakukan anjuran yang diberikan.
5. Memberikan resep multivitamin yang terdiri dari Kalk 1x1, Vit.C 1x1 dan Fe
1x1, dan menjelaskan cara meminumnya
E : Ibu dapat menjelaskan kembali cara meminum multivitamin
6. Anjurkan ibu untuk periksa ke PKM jika keluhan sering BAK semakin sering
103
serta diiringi dengan demam dan keluhan lainya.
E : ibu dapat memahami perintah dan anjuran yang diberikan
7. Anjurkan ibu untuk pemeriksaan USG untuk mengetahui keadaan janin seperti
keadaan bagian terbawah, berat janin, letak plasenta dan ketuban.
E : ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan
8. Mendiskusikan jadwal kunjungan ulang 4 minggu lagi saat usia kehamilan ibu 35
minggu yaitu tanggal 08-02-2023 atau sewaktu-waktu jika ada keluhan
E : Ibu setuju dan menyanggupi untuk kunjungan ulang.
104
BAB IV
PEMBAHASAN
Pengkajian dilakukan pada tanggal 01 Januari 2023 jam 16.00 WIB data
diperoleh dari pasien, keluarga pasien dan buku Kesehatan Ibu dan Anak serta
petugas kesehatan, melalui observasi dan wawancara.
Klien mengeluh sering BAK dengan frekuensi kurang lebih 15 kali dalam
sehari. Menurut (Hutahaen, 2013). Frekuensi kemih meningkat pada trimester III
karena terjadi efek lightening. Lightening yaitu bagian presentasi akan menurun masuk
kedalam panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.
Peningkatan frekuensi berkemih disebabkan oleh tekanan uterus karena turunnya
bagian bawah janin sehingga kandung kemih tertekan, kapasitas kandung kemih
berkurang dan mengakibatkan frekuensi berkemih meningkat (Ardiansyah, 2016). Pada
trimester III kandung kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul sejati ke arah
abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser kearah
atas. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukan oleh hiperemia kandung kemih dan
uretra. Tonus kandung kemih dapat menurun. Hal ini memungkinkan distensi kandung
kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama pembesaran uterus menekan
kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih meskipun kandung kemih hanya
berisi sedikit urine. Sering BAK dapat diatasi dengan beberapa cara diantaranya adalah:
1) Latihan kegel
2) Ibu hamil disarankan tidak minum saat 2-3 jam sebelum tidur
3) Kosongkan kandung kemih sesaat sebelum tidur.
Namun agar kebutuhan air pada ibu hamil tetap terpenuhi, sebaiknya minum
lebih banyak di siang hari (Hutahaean, 2013).
105
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menurut Buku KIA (2020), kunjungan antenatal untuk pemanfaatan dan
pengawasan kesejahteraan ibu dan anak dilakukan paling sedikit 6 (enam) kali selama
masa kehamilan meliputi; 2 (dua) kali pada trimester pertama; 1 (satu) kali pada
trimester kedua; dan 3 (tiga) kali pada trimester ketiga. Keteraturan ANC adalah
kedisiplinan / kepatuhan ibu hamil untuk melakukan pengawasan sebelum anak lahir
terutama ditujukan pada anak. Ibu yang tidak mendapatkan asuhan antenatal memiliki
risiko lebih tinggi kematian maternal, stillbirth, dan komplikasi kehamilan lainnya.
Asuhan antenatal rutin bermanfaat untuk mendeteksi komplikasi pada kehamilan
seperti anemia, preeklamsia, diabetes melitus gestasional, infeksi saluran kemih
asimtomatik dan pertumbuhan janin tehambat (Saifuddin, 2012).
Sering BAK merupakan masalah fisiologis pada ibu hamil, hal ini disebabkan
oleh Aliran plasma renal meningkat 30% dan laju fitrasi glomerulus meningkat (30
sampai dengan 50%) pada awal kehamilan mengakibatkan poliuri. Usia kehamian 12
minggu pembesaran uterus menyebabkan penekanan pada vesika urinaria
menyebabkan peningkatan frekuensi miksi yang fisiologis. Kehamilan trimester II
kandung kencing tertarik ke atas pelvik dan uretra memanjang. Kehamilan trimester
III kandung kencing menjadi organ abdomen dan tertekan oleh pembesaran uterus
serta penurunan kepala sehingga menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil
(Wagiyo dan Putrono, 2016)
Asuhan kebidanan yang dilakukan yaitu pengkajian data subjektif (kaji
identitas, kaji riwayat persalinan lalu, kaji pola makan, kaji riwayat kesehatan) dan
data objektif (pemeriksaan fisik dengan kaji kenaikan BB selama kehamilan,
106
pemeriksaan payudara dan abdomen dengan kaji frekuensi BAK), dan berikan
pendidikan kesehatan tentang cara mengatasi BAK pada ibu hamil yaitu dengan cara:
1) Latihan kegel
2) Ibu hamil disarankan tidak minum saat 2-3 jam sebelum tidur
3) Kosongkan kandung kemih sesaat sebelum tidur.
B. Saran
1. Tenaga Kesehatan
Bagi tenaga tesehatan terutama bidan, untuk meningkatkan manajemen asuhan
kebidanan pada ibu hamil sehingga adanya pelayanan yang berkualitas dan dapat
mencegah atau memberi penatalaksanaan yang tepat sesuai permasalahan ibu hamil.
2. Pasien
Bagi pasien atau ibu hamil, agar rajin untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya
secara rutin dengan harapan mendapatkan pelayanan dan penanganan masalah dengan
tepat dan segera. Agar mematuhi dan melaksanakan anjuran yang telah diberikan oleh
tenaga kesehatan.
3. Keluarga
Bagi keluarga berperan aktif dalam mengingatkan anjuran yang telah diberikan
oleh tenaga kesehatan, menyediakan dan memfasilitasi pasien dalam memenuhi
agar permasalahan dapat teratasi dan nutrisi bagi diri ibu dan janin yang
dikandungnya terpenuhi.
107
DAFTAR PUSTAKA
Ai Yeyeh, Rukiyah dkk. 2009. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan). Cetakan
Pertama. Jakarta: Trans Info Media.
Bobak, L. 2005. Keperawatan Maternitas. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Dewi, Lia. & Sunarsih. 2011. Asuhan Kehamilan untuk Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika.
Dewi, Ratna Pudiastuti. 2012. Asuhan Kebidanan pada Hamil Normal dan
Patologi.
Yogyakarta: Nuha Medik
Evariny A. 2011. Seluk Beluk Stretch Mark, Pencegahan dan Penangannya. Di akses
pada bulan agustus 2021.
http://tanyashop.multiply.com
Fraser, Cooper. 2009. Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta: EGC.
Hidayat, A.A. (2008). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta: Salemba Medika.
Holmes EJ., Misra RR. Miller MD., A-Z Of Muscoloskeletal And Trauma
Radiology.
2009. Cambridge University Press
Indrayani. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media
Intan, Ruhaeni. 2021. Pentingnya Menghitung Pergerakan Janin. Di akses pada
bulan agustus 2021
https://id.theasianparent.com/menghitung-pergerakan-janin
Jhonson, dan R Leny. 2016. Keperawatan Keluarga. Nuha Medika: Yogyakarta.
Kamarudin, Mudyawati dkk. 2020. Kajian Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Bahaya
Asap Rokok Pada Kehamilan Di Puskesmas Herlang Kabupaten Bulukumba.
Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan 2 (2). Agustus 2020. Diakses pada
bulan agustus 2021.
https://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/download/55/52
Khadijah, Zaza. 2019. Khasiat Dahsyat Minyak Zaitun. Yogyakarta: Gapura Publishing.
Kumalasari. 2015. Panduan Praktik Laboratorium dan Klinik Perawatan Antenatal,
Intranatal dan Postnatal, Bayi Baru Lahir dan Kontrasepsi. Jakarta: Salemba
Medika.
Maharani, Ayu. 2015. Penyakit Kulit Perawatan, Pencegahan & Pengobatan.
Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2007. Ilmu Kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga
berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Manuaba, IAC dkk. 2008. Gawat Darurat Obstetri Ginekologi & Obstetri Ginekologi
Sosial Untuk Bidan. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2010. Ilmu Kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga
berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Manuaba, 2012.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Manulang, Sari Widya. 2017. Gambaran Perubahan-Perubahan Kulit Pada Ibu Hamil
108
Trimester Tiga di Puskesmas Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Tahun
2016. Repository Universitas HKBP Nommensen. Februari 2017. Diakses pada
bulan agustus 2021.
http://repository.uhn.ac.id/handle/123456789/1402
Maria, Rita. 2015. Produk Penghilang Stretch Marks Efektikah? Di akses pada
bulan agustus 2021.
https://femaleradio.co.id/female-info/female-lifestyle//7701-produk-
penghilang- stretch-marks-efektifkah
Marmi. 2014. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mastiningsih, Putu. & Yayuk Chrisyanti Agustina. 2019. Buku Ajar Asuhan
Kehamilan.
Cetakan Pertama. Bogor: In Media.
Mochtar, Rustam.2015. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Mufdillah. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya.
Nursalam. 2008. Konsep dan penerapan metodologi penelitian keperawatan.
Jakarta
Permenkes RI Nomor 21. 2021. Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan
Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, Dan Masa Sesudah
Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, Dan Pelayanan Kesehatan Seksual. Pasal
13.
Prastiwi, Ratih Sakti. 2017. Determinan Kejadian Kehamilan Tidak Direncanakan
(KTD) di Kabupaten Tegal. 2 nd Seminar Nasional IPTEK Terapan (SENIT).
Mei 2017. Diakses pada bulan agustus 2021.
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Edisi 1. Jakarta: Bina Pustaka.
Profil dinkes kabupaten Kulon Progo. 2013. Menentukan Status Imunisasi TT Wanita
Usia Subur. Jawa Timur: Dinkes
Ramadhanti, Indah Putri & Gita Ruthika Amy. 2021. Pengolesan Extra Virgin Olive
Oil pada striae gravidarum. Jurnal Kesehatan. Vol. 12 No. I. Maret 2021.
Reeder, Sharon J dkk. 2011. Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi, &
Keluarga. Volume 1. Jakarta: EGC
Robson, Elizabeth S dan Jason Waugh. 2012. Patologi pada kehamilan. Jakarta: EGC.
Romauli, Suryati. 2011. Konsep Dasar Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Ruswana. 2006. Ibu Hamil Resiko Tinggi. Diakses Pada Bulan Agustus 2021.
http://medicastore.com/penyakit/569/Kehamilan_Resiko_Ting gi.html
Saifuddin, Azwar. 2007. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Saifuddin, Abdul Bari, dkk. 2010. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Saifuddin, dkk. 2012. Buku Panduan Praktis Pelayanan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: PT. Bina Pustaka.
Saraswati, N dan Mardiana. 2016. Faktor Resiko Yang Berhubungan dengan
Kejadian Preeklampsia Pada Ibu Hamil. Unnes Journal Of Public Health, 5(2) :
90-99.
Saryono. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan.
109
Yogyakarta: Nuha Medika.
Sukarni, I dan Wahyu, P. 2013. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta:
Nuha Medik
Sulistyawati, Ari. 2013. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba Medika.
Susilawati & Julia. 2016. Pengaruh Pemberian Minyak Zaitun Terhadap Kejadian
Striae Gravidarum Pada Ibu Hamil Di BPS DA, Str. Keb Bumi Waras Bandar
Lampung.. Jurnal Kesehatan, 2017. Diakses pada bulan agustus 2021
https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/download/306/374
Tyastuti, Siti. 2016. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Cetakan Pertama. Jakarta
Selatan.Pusdik SDM Kesehatan.
Utami, Khumairah Silfa. 2018. Apa Sih Penyebab Selulit dan Stretch Mark? Kenali
Dulu Jenisnya. Di akses pada bulan agustus 2021.
https://www.suara.com/health/2018/09/11/084153/apa-sih-penyebab-selulit-
dan- stretch-mark-kenali-dulu-jenisnya
Varney, Helen. 2004. Ilmu Kebidanan (Varney’s Midwifery 3rd. Ed). Bandung:
Sekeloa Publiser
Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Jakarta: EGC
Varney, Helen. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4, volume 2. Jakarta: EGC.
Walyani, Elisabeth Siwi. 2015. Perawatan Kehamilan Dan Menyusui Anak Pertama
AgarBayi Lahir Dan Tumbuh Sehat. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Baru
Press.
WHO, 2016. Depression. Diakses Agustus 2021.
http://www.who.int/mental_health/management/depression/en/
WHO. Rekomendasi WHO Dalam Pelayanan Antenatal Care (ANC). FKKMK
UGM:Kanal Pengetahuan https://kanalpengetahuan.fk.ugm.ac.id/rekomendasi-
who-dalam-pelayanan- antenatal-care-anc/
Yohana, dkk. 2011. Kehamilan & Persalinan. Edisi I (Kesatu). DKI: Garda Media.
Yulizawati, et al. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC.
Yulizawati, et al. 2017. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Padang:
110