0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
61 tayangan110 halaman

Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Trimester III

Laporan ini membahas asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III di Pusat Kesehatan Masyarakat Sukarsih Kabupaten Tebo tahun 2023. Tujuannya adalah meningkatkan pelayanan kesehatan ibu hamil dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Laporan ini berisi tinjauan teori tentang kehamilan dan asuhan kebidanan, studi kasus, pembahasan, dan kesimpulan serta saran.

Diunggah oleh

Febby Yumarestu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
61 tayangan110 halaman

Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Trimester III

Laporan ini membahas asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III di Pusat Kesehatan Masyarakat Sukarsih Kabupaten Tebo tahun 2023. Tujuannya adalah meningkatkan pelayanan kesehatan ibu hamil dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Laporan ini berisi tinjauan teori tentang kehamilan dan asuhan kebidanan, studi kasus, pembahasan, dan kesimpulan serta saran.

Diunggah oleh

Febby Yumarestu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KOMPREHENSIF PRAKTIK KLINIK PROFESI

STASE ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III

DI PMB SUKARSIH KABUPATEN TEBO

TAHUN 2023

Pembimbing Akademik: Riri Aprianti S.Keb,Bd.M.Keb

Pembimbing Klinik: Sukarsih, AM.Keb.

Disusun oleh:
Nama: Pebbin Kori Sari
NIM : 221004615901112

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN

FAKULTAS KEBIDANAN UNIVERSITAS

PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI

TAHUN 2023

i
LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN KEHAMILAN

PRAKTIK KLINIK PROFESI

STASE ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN

Laporan Pendahuluan Asuhan Kebidanan Kehamilan ini

Telah Memenuhi Disetujui untuk di laksankan ke tahap Laporan Kasus

Tebo, Tanggal Januari 2023

Menyetujui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Riri Aprianti S.Keb,Bd.M.Keb Sukarsih AM.Keb.


NIDN : 1027049401 NIP. 197604032007012004

ii
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KASUS

PRAKTIK KLINIK PROFESI

STASE ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN

Laporan Komprehensif Asuhan Kebidanan Kehamilan ini

Telah Disahkan untuk didokumentasikan dalam bentuk Laporan

Komprehensif Rimbo Ulu , Januari 2023

Menyetujui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Riri Aprianti. S.Keb, Bd. M.Keb Sukarsih, AM.Keb.


NIDN. 1027049401 NIP. 197604032007012004

Mengetahui, Diketahui,

Ka. Prodi Pendidikan Profesi Bidan Koord. Praktik Klinik Profesi

Suci Rahmadeny, S.ST,Bd. M.Keb. Lady Wizia, S.Keb., Bd.

NIDN. 1013058901 NIDN.

iii
DAFTAR ISI

COVER
LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN PENDAHULUAN ....................................... i
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KASUS ........................................................ ii
DAFTAR ISI .................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Tujuan .......................................................................................................... 3
1. Tujuan Umum ........................................................................................ 3
2. Tujuan Khusus ....................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN TEORI ........................................................................................... 11
A. Kehamilan .................................................................................................... 11
B. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan ................................................................. 40
BAB III TINJAUAN KASUS......................................................................................... 98
A. Data Subjektif ............................................................................................... 98
B. Data Objektif ...................................................................................................... 100

C. Analisis .............................................................................................................. 101

D. Penatalaksanaan............................................................................................... 102
BAB IV PEMBAHASAN............................................................................................... 103
BAB V PENUTUP........................................................................................................... 104
A. Kesimpulan...................................................................................................... 104
B. Saran............................................................................................................... 105
DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan adalah proses yang alamiah setiap wanita, perubahan

selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis. Kehamilan adalah

suatu pengalaman yang berharga bagi perempuan. Perilaku selama masa

kehamilan akan berpengaruh terhadap kehamilannya (Dewi, 2021).

Kehamilan adalah suatu hal yang fisiologis yang dimulai dengan

pembuahan dan diakhiri oleh proses persalinan. Dalam proses

kehamilan ada beberapa perubahan yang dialami oleh ibu hamil salah

satunya yaitu perubahan fisik dan psikologis ibu. Perubahan psikologis

ini terjadi pada ibu hamil diantaranya yaitu kecemasan menjelang

kelahiran dan suasana ketidaknyaman dalam perubahan saat hamil. Rasa

cemas yang dialami oleh ibu hamil ini disebabkan karena meningkatnya

hormon progesteron. Selain membuat ibu hamil merasa cemas,

peningkatan hormon ini juga menyebabkan gangguan perasaan da

membuat ibu hamil cepat lelah dan mempengaruhi kebutuhan istirahat

tidur ibu (Mufdlilah, 2012).

Kehamilan merupakan penyatuan dari spermatozoa dan ovum

dan dilanjutkan dengan nidasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga

lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40

minggu atau 9 bulan menurut kalender internasional. Maka, dapat

disimpulkan bahwa kehamilan merupakan bertemunya sel telur dan

sperma di dalam atau diluar Rahim dan berakhir dengan keluarnya bayi

5
dan plasenta melalui jalan lahir (Yulaikhah, 2019).

Kehamilan merupakan periode yang sangat rentan, tidak hanya

bagi ibu hamil saja tetapi juga bagi keselamatan janin di dalam

kandungan. Akibat yang dapat terjadi bila ibu tidak dapat mengenali

tanda bahaya kehamilan secara dini dan upaya deteksi dini ibu yang

kurang, maka akan mengakibatkan kematian pada ibu dan janinnya.

Tanda bahaya kehamilan merupakan tanda yang mengindikasikan

adanya bahaya yang dapat terjadi selama masa kehamilan atau periode

antenatal. Hal ini sangat perlu diketahui oleh ibu hamil terutama yang

mengancam keselamatan ibu dan janin yang ada di kandungannya,

minimal hal yang harus diketahui ibu hamil untuk mengenal tanda

bahaya kehamilan yaitu seperti perdarahan, gerakan janin

berkurang,nyeri perut dan sakit kepala yang hebat (Carlos, 2020)

Kondisi kesehatan calon ibu pada masa awal kehamilan akan

mempengaruhi tingkat keberhasilan kehamilan serta kondisi status

kesehatan calon bayi yang masih didalam rahim maupun yang sudah

lahir, sehingga disarankan agar calon ibu dapat menjaga perilaku hidup

sehat dan menghindari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi

calon ibu pada masa kehamilan (Johnson, 2016).

Risiko tinggi pada kehamilan dapat ditemukan saat menjelang

waktu kehamilan, waktu hamil muda, waktu hamil pertengahan, saat in

partus bahkan setelah persalinan (Manuaba, 2008). Ibu hamil yang

mengalami gangguan medis atau masalah kesehatan akan dimasukan

kedalam kategori risiko tinggi, sehingga kebutuhan akan pelaksanaan

6
asuhan pada kehamilan menjadi lebih besar (Robson and Waugh, 2012).

Menurut World Health Organization (2019), sekitar 810 ibu

hamil meninggal setiap harinya karena komplikasi terkait dengan

kehamilan dan persalinan. Komplikasi utama yang menyebabkan

hamper 75% dari semua kematian ibu hamil di dunia yaitu karena

perdarahan, infeksi, preeklamsia dan aborsi yang tidak aman (WHO,

2019).

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator

untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. Angka Kematian Ibu

adalah jumlah kematian ibu selama kehamilan, persalinan dan nifas atau

pengelolaannya dan bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan

atau jatuh disetiap 100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2019).

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization

(WHO) mencatat sekitar 830 wanita diseluruh dunia meninggal setiap

harinya akibat komplikasi yang terkait dengan kehamilan maupun

persalinan dan sebanyak 99% diantaranya terdapat pada negara

berkembang. Di negara berkembang, pada tahun 2015 Angka Kematian

Ibu mencapai 239 per 100.000 kelahiran hidup, dibandingkan dengan

negara maju yang hanya mencapai 12 per 100.000 kelahiran hidup

(WHO, 2018).

Sustainable Development Goals (SDGs) adalah agenda global

dalam Pembangunan Berkelanjutan dengan pelaksanaan dari tahun 2016

hingga tahun 2030 yang merupakan pembaharuan Millenium

Development Goals (MDGs) atau agenda Pembangunan Milenium yang

7
telah resmi berahir pada tahun 2015. Salah satu tujuan SDGs adalah

terciptanya suatu kondisi kehamilan dan persalinan yang aman, serta ibu

dan bayi yang dilahirkan dapat hidup dengan sehat, yang dilakukan

dengan pencapaian target dalam mengurangi rasio kematian ibu secara

global hingga kurang dari 70 per

100.000 kelahiran (WHO, 2017).

Antenatal Care (ANC) adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga

profesional untuk ibu hamil selama masa kehamilan yang dilaksanakan

sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan (Kemenkes

RI, 2020). Pemeriksaan Antenatal Care terbaru sesuai dengan standar

pelayanan yaitu minimal 6 kali pemeriksaan selama kehamilan,dan

minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester I dan III. 2 kali

pada trimester pertama (kehamilan hingga 12 minggu) , 1 kali pada

trimester kedua (kehamilan diatas 12 minggu sampai 26 minggu) , 3 kali

pada trimester ketiga ( kehamilan diatas 24 minggu sampai 40 minggu)

(Buku KIA Terbaru Revisi tahun 2020).

Melakukan pelayanan ANC sesuai dengan standar dan secara

terpadu yang terdiri dari: timbang berat badan dan ukur tinggi badan,

ukur tekanan darah, ukur lingkar lengan atas (LiLA), ukur tinggi puncak

rahim (fundus uteri), tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin

(DJJ), berikan imunisasi TT sesuai dengan status imunisasi, pemberian

tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan, test laboratorium,

tatalaksana kasus, pelaksanaan temu wicara (konseling) serta penilaian

Kesehatan jiwa (Kemenkes RI,No 21 Tahun 2021).

8
Asuhan antenatal penting dilakukan. Ibu yang tidak

mendapatkan asuhan antenatal memiliki risiko lebih tinggi kematian

maternal, stillbirth, dan komplikasi kehamilan lainnya. Asuhan antenatal

rutin bermanfaat untuk mendeteksi komplikasi pada kehamilan seperti

anemia, preeklamsia, diabetes melitus gestasional, infeksi saluran kemih

asimtomatik dan pertumbuhan janin tehambat (Saifuddin, 2012).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis melakukan

studi Asuhan Kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih

Rimbo Ulu Tahun 2023.

A. Tujuan Umum dan Khusus

1. Tujuan Umum

Mampu menjelaskan konsep dasar, serta mampu memberikan

dan melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III di

PMB Sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu menjelaskan konsep dasar pada ibu hamil trimester III

di PMB Sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023.

b. Mampu memberikan dan melaksanakan pengkajian data asuhan

kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih

Kabupaten Tebo Tahun 2023.

c. Mampu memberikan dan melaksanakan identifikasi diagnosa

dan masalah asuhan kebidanan pada ibu hamil di PMB Sukarsih

Kabupaten Tebo Tahun 2023.

d. Mampu memberikan dan melaksanakan identifikasi diagnosa

9
potensial asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB

sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023.

e. Mampu memberikan dan melaksanakan identifikasi kebutuhan

Tindakan segera asuhan kebidanan pada ibu hamil trimester III

di PMB Sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023.

f. Mampu memberikan dan melaksanakan perencanaan asuhan

kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih

Kabupaten Tebo Tahun 2023.

g. Mampu memberikan dan melaksanakan pelaksanaan asuhan

kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih

Kabupaten TeboTahun 2023.

h. Mampu memberikan dan melaksanakan evaluasi asuhan

kebidanan pada ibu hamil trimester III di PMB Sukarsih

Kabupaten Tebo Tahun 2023.

10
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kehamilan

1. Definisi

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung

dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan

berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan

menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester,

dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester

kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga

13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Prawirohardjo, 2014).

Kehamilan trimester III merupakan kehamilan dengan usia 28-40

mingu dimana merupakan waktu mempersiapkan kelahiran dan

kedudukan sebagai orang tua, seperti terpusatnya perhatian pada

kehadiran bayi, sehingga disebut juga sebagai periode penantian

(Lombogia, 2017).

Dalam kehamilan terjadi beberapa perubahan dalam system tubuh

ibu, sehingga seringkali menimbulkan ketidak nyamanan pada ibu

hamil. Ketidaknyamanan yang sering dialami oleh ibu hamil TM III

seperti nyeri punggung bagian bawah, konstipasi, kram pada kaki,

odema, nafas sesak, dan sering kencing (Hutahean, 2013). Sering

11
kencing merupakan akibat dari desakan rahim kedepan menyebabkan

kandung kemih cepat terasa penuh dan sering kencing. Pada trimester

akhir, gejala bisa timbul karena janin mulai masuk kerongga panggul dan

menekan kembali kandung kemih (Walyani, 2015).

Rasa ketidaknyamanan sering buang air kecil apabila tidak segera

diatasi akan berdampak tidak baik bagi ibu hamil, janin dan denyut

jantung janin, skrining status imunisasi tetanus toksoid, diantaranya dapat

mengakibatkan infeksi terutama infeksi saluran kemih apabila keadaan

celana dalam sering selalu dalam keadaan lembab akibat sering cebok

setelah BAK dan tidak di keringkan sehingga mengakibatkan

pertumbuhan bakteri dan selain itu dengan kebiasaan ibu sering menahan

kencing dapat mengakibatkan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang dapat

berpengaruh pada bayi sehingga pada saat bayi lahir terdapat sariawan

pada mulutnya dan dampak terburuk dapat menyebabkan melemahnya

selaput ketuban dan memicu kontraksi dinding rahim. Lemahnya selaput

ketuban dan mingkatnya kontraksi bias memicu kelahiran prematur

(Hutahean S, 2013).

Ketidaknyamanan sering kencing merupakan keluhan yang masih

dapat di atasi oleh ibu hamil dengan mengurangi minum pada malam

hari, dan selalu menjaga kebersihan diri sehingga ketidaknyamanan ini

tidak mengarah ke komplikasi (Megasari, 2019).

Beberapa ibu hamil masih belum memahami bahwa keluhan

sering BAK adalah suatu hal yang fisiologis yang diakibatkan oleh uterus

yang membesar seiring perkembangan janin akan memberikan tekanan

pada kandung kemih, serta apabila kepala janin sudah memasuki pintu

12
atas panggul. Oleh karena itu perlu dilakukan asuhan kebidanan secara

komprehensif pada ibu hamil TM III agar kondisi yang dirasakannya

segera teratasi. Asuhan yang dapat diberikan untuk mengurangi

ketidaknyamanan sering kencing pada ibu hamil TM III yaitu ibu harus

tetap menjaga kebersihan diri, harus mengganti celana dalam setiap

selesai BAK atau menyediakan handuk bersih dan kering untuk

membersihkan serta mengeringkan area kewanitaan agar tidak

mneyebabkan kelembaban. Kosongkan kandung kemih saat terasa

dorongan untuk kencing, perbanyak minum pada siang hari dan kurangi

minum di malam hari, batasi minum minuman antideuritik alami seperti

teh, kopi dan cola, jelaskan tentang posisi berbaring miring ke kiri

dengan kaki ditinggikan pada malam hari, menganjurkan untuk

melakukan senam kegel, dan menerapkan kebijakan program pemerintah

pelayanan kehamilan normal minimal 6x dengan rincian berbaring miring

ke kiri dengan kaki ditinggikan pada malam hari, menganjurkan untuk

melakukan senam kegel, dan menerapkan kebijakan program pemerintah

pelayanan kehamilan normal minimal 6x dengan rincian 2x di Trimester

1, 1x di Trimester 2, dan 3x di Trimester 3 (Kemenkes RI, 2020)

2. Perubahan Anatomis dan Fisiologi pada ibu hamil TM III

a. Uterus

uterus pada usia gestasi 30 minggu, fundus uteri dapat dipalpasi di

bagian tengah antara umbilikus dan sternum. Pada usia kehamilan 38

minggu, uterus sejajar dengan sternum. Tuba uterin tampak agak

terdorong ke dalam di atas bagian tengah uterus. Frekuensi dan

kekuatan kontraksi otot segmen atas rahim semakin meningkat. Oleh

13
karena itu, segmen bawah uterus berkembang lebih cepat dan

merenggang secara radial, yang jika terjadi bersamaan dengan

pembukaan serviks dan pelunakan jarringan dasar pelvis, akan

menyebabkan presentasi janin memulai penurunannya ke dalam

pelvis bagian atas. Hal ini mengakibatkan tinggi fundus yang disebut

dengan lightening, yang mengurangi tekanan pada bagian atas

abdomen. Peningkatan berat uterus 1.000 gram dan peningkatan

ukuran uterus 30 x 22,5 x 20 cm (Syaiful & Fatmawati, 2019).

b. Serviks uteri

Serviks akan mengalami perlunakan atau pematangan secara

bertahap akibat bertambahnya aktivitas uterus selama kehamilan,

dan akan mengalami dilatasi sampai pada kehamilan trimester III.

Sebagian dilatasi ostium eksternal dapat dideteksi secara klinis dari

usia 24 minggu, dan pada sepertiga primigravida, ostium internal

akan terbuka pada minggu ke-32. Enzim kolagenase dan

prostaglandin berperan dalam pematangan serviks (Wagiyo &

Putrono, 2016).

c. Vagina dan vulva

Pada kehamilan trimester III terkadang terjadi peningkatan rabas

vagina. Peningkatan cairan vagina selama kehamilan adalah normal.

Cairan biasanya jernih. Pada awal kehamilan, cairan ini bisanya agak

kental, sedangkan pada saat mendekati persalinan cairan tersebut

akan lebih cair (Wagiyo & Putrono, 2016).

d. Payudara

14
Pada ibu hamil trimester III terkadang keluar rembesan cairan

berwarna kekuningan dari payudara ibu yang disebut dengan

kolostrum. Hal ini tidak berbahaya dan merupakan pertanda bahwa

payudara sedang menyiapkan ASI untuk menyusui bayinya nantinya.

Progesterone menyebabkan puting menjadi lebih menonjol dan dapat

digerakkan (Syaiful & Fatmawati, 2019)

e. Sistem integumen

Perubahan sistem integumen sangat bervariasi tergantung ras.

Perubahan yang terjadi disebabkan oleh hormonal dan peregangan

mekanik. Secara umum, perubahan pada integument meliputi

peningkatan ketebalan kulit dan rambut, peningkatan aktivitas

kelenjar keringat, dan peningkatan sirkulasi dan aktivita vasomotor.

Striae gravidarum biasanya terjadi dan terlihat sebagai garis merah

yang berubah menjadi garis putih yang berkilau keperakan, hal ini

kadang mengakibatkan rasa gatal (Syaiful & Fatmawati, 2019)

f. Sistem kardiovaskular

Sejak pertengahan kehamilan denyut nadi waktu istirahat meningkat

sekitar 10-15 kali per menit dan aspek jantung berpindah sedikit ke

lateral, bising sistolik pada saat inspirasi meningkat. Cardiac Output

(COP) meningkat sekitar 30-50% selama kehamilan dan tetap tinggi

sampai persalinan. Cardiac Output (COP) dapat menurun bila ibu

berbaring terlentang pada akhir kehamilan karena pembesaran uterus

menekan vena cava interior, mengurangi venous kembali ke jantung

sehingga menurunkan Cardiac Output (COP). Sehingga ibu akan

15
mengalami hipotensi sindrom, yaitu pusing mual, dan seperti hendak

pinsan (Syaiful & Fatmawati, 2019).

g. Sistem respirasi

Kecepatan pernapasan menjadi sedikit lebih cepat untuk memenuhi

kebutuhan oksigen yang meningkat selama kehamilan (15-20%).

Tidal volume meningkat 30-40%. Pada kehamilan lanjut ibu

cenderung menggunakan pernafasan dada daripada pernafasan perut,

hal ini disebabkan oleh tekanan ke arah diafragma akibat

pembesaran rahim (Syaiful & Fatmawati, 2019)

h. Sistem pencernaan

Nafsu makan pada akhir kehamilan akan meningkat dan sekresi usus

berkurang. Usus besar bergeser ke arah lateral atas dan posterior,

sehingga aktivitas peristaltik menurun yang mengakibatkan bising

usus menghilang dan konstipasi umumnya akan terjadi (Syaiful &

Fatmawati, 2019).

i. Sistem perkemihan

Aliran plasma renal meningkat 30% dan laju fitrasi glomerulus

meningkat (30 sampai dengan 50%) pada awal kehamilan

mengakibatkan poliuri. Usia kehamian 12 minggu pembesaran

uterus menyebabkan penekanan pada vesika urinaria menyebabkan

peningkatan frekuensi miksi yang fisiologis. Kehamilan trimester II

kandung kencing tertarik ke atas pelvik dan uretra memanjang.

Kehamilan trimester III kandung kencing menjadi organ abdomen

dan tertekan oleh pembesaran uterus serta penurunan kepala

16
sehingga menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil

(Wagiyo dan Putrono, 2016)

j. Sistem muskuloskeletal

Perubahan tubuh secara bertahap dan peningkatan berat wanita hamil

menyebabkan postur dan cara berjalan berubah (Fauziah dan Sutejo,

2012). Peningkatan distensi abdomen membuat panggul miring ke

depan, penurunan tonus otot perut dan peningkatan beban berat

badan pada akhir kehamilan membutuhkan penyesuaian ulang

(realignment) kurvatura spinalis. Berat uterus dan isinya

menyebabkan perubahan titik pusat gravitasi dan garis bentuk tubuh.

Lengkung tulang belakang berubah bentuk mengimbangi

pembesaran abdomen (Wagiyo dan Putrono, 2016).

Sikap tubuh lordosis merupakan keadaan yang khas karena

kompensasi posisi uterus yang membesar dan menggeser berat ke

belakang lebih tampak pada masa trimester III yang menyebabkan

rasa sakit bagian tubuh belakang karena meningkatnya beban.

Perubahan ini menyebabkan rasa tidak nyaman di punggung bawah

seperti nyeri lumbar dan nyeri ligamen terutama di akhir kehamilan

(Syaiful dan Fatmawati, 2019).

k. Perubahan pada sistem metabolik

Basal metabolic rate (BMR) umumnya meningkat 15-20% terutama

pada trimester III dan akan kembali ke kondisi sebelum hamil pada

5-6 hari postpartum. Peningkatan BMR menunjukkan peningkatan

17
kebutuhan dan pemakaian oksigen. Vasodilatasi perifer dan

peningkatan aktivitas kelenjar keringat membantu mengeluarkan

kelebihan panas akibat peningkatan BMR selama hamil. Ibu

mungkin tidak dapat metoleransi suhu lingkungan yang sedikit

panas. Kelemahan dan kelelahan setelah aktivitas ringan, rasa

mengantuk mungkin dialami ibu sebagai akibat peningkatan aktivitas

metabolisme (Syaiful & Fatmawati, 2019).

l. Perubahan berat badan

Penambahan berat badan selama kehamilan bervariasi antara ibu

yang satu dengan ibu yang lainnya. Kenaikan berat badan selama

hamil berdasar usia kehamilan 10 minggu sebesar 600 gr, 20 minggu

sebesar 4000 gram, 30 minggu sebesar 8500 gram, dan 40 minggu

sebesar 12.500 gram. Pada kehamilan trimester III terjadi

penambahan berat badan 0,5 kg/minggu atau sebesar (8-15 kg)

(Syaiful & Fatmawati, 2019).

3. Perubahan Psikologis KehamilanTrimester III

Salah satu perubahan psikologis pada kehamilan trimester III

yaitu kecemasan. Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak jelas

dan tidak 18 didukung oleh situasi. Individu yang mengalami cemas

akan merasa tidak nyaman dan takut, namun tidak mengetahui alasan

kondisi tersebut terjadi (Videbeck, 2012). Pada kehamilan trimester

III perasaan takut akan muncul pada ibu hamil. Ibu mungkin akan

merasa cemas dengan kehidupan bayi dan dirinya sendiri. Ibu

khawatir bayinya lahir tidak normal, takut akan persalinan (nyeri,

18
kehilangan kendali, rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada

saat melahirkan (Marni dan Margiyati, 2013). Selain itu, ibu juga

akan merasa tidak sabar menunggu kehadiran bayinya, khawatir akan

bayinya yang akan segera lahir sewaktu-waktu, dan bersikap lebih

melindungi bayinya dan menghindari orang tau benda yang dianggap

membahayakan bayinya (Astuti, dkk, 2017).

Pada perubahan psikologis timbulnya kecemasan pada ibu

hamil trimester III berhubungan dengan kondisi kesejahteraan ibu dan

bayi yang akan dilahirkan, pengalaman keguguran, rasa aman dan

nyaman selama kehamilan, penemuan jati dirinya dan persiapan

menjadi orang tua, sikap memberi dan menerima kehamilan, dan

dukungan keluarga (Janiwarty dan Pieter, 2013). Gejala kecemasan

yang sering dirasakan ibu hamil trimester III yaitu diantaranya cemas,

khawatir, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung, merasa

tegang, tidak tenang, gangguan pola tidur, mimpimimpi yang

menegangkan, gangguan konsentrasi dan daya ingat, keluhan somatic,

sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan dan sakit

kepala (Hawari, 2016).

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau

menghilangkan kecemasan dapat dilakukan dengan berbagai cara

dianataranya yaitu dengan teknik relaksasi nafas dalam. Relaksasi

merupakan metode efektif untuk mengurangi ketegangan otot, rasa

jenuh dan kecemasan (Laili dan Wartini, 2017). Selain itu terdapat

juga beberapa cara untuk mengurangi kecemasan dianatranya dengan

19
teknik relaksasi otot progresif, terapi pijatan, imaginery, dan terapi

yoga (Rafika, 2018).

4. Ketidaknyamanan dan penanganan Umum

a. Nyeri punggung bawah

Nyeri punggung bawah merupakan salah satu ketidaknyamanan yang

dirasakan pada kehamilan trimester III (Hutahaean, 2013). Nyeri

punggung merupakan nyeri diabgian lumbar, lumbosacral, atau

didaerah leher. Nyeri punggung disebabkan oleh regangan otot otau

tekanan pada saraf dan biasanya dirasakan sebagai rasa sakit,

tegangan, atau rasa kaku dibagian punggung (Huldani, 2012). Nyeri

tersebutlah yang menyebabkan reaksi reflektoril pada otot-otot

lumbodorsal terutama pada otot erector spine pada L4 dan L5

sehingga terjadi peningkatan tonus yang terlokalisir. Nyeri yang

dirasakan dengan inetnesitas tinggi dan kuat biasanya akan menetap

kurang lebih 10-15 menit kemudian hilang timbul lagi (Pearce,

2013).

Nyeri punggung bawah merupakan masalah otot dan tulang yang

sering dialami dalam kehamilan yang menyebabkan rasa tidak

nyaman. Nyeri punggung bawah dihubungkan dengan lordosis yang

diakibatkan karena peningkatan berat uterus yang menarik tulang

belakang keluar dari garis tubuh (Cunningham, 2013). Nyeri

punggung bawah biasanya akan meningkat seiring bertambahnya

usia kehamilan pada trimester III. Hal ini dikarenakan berat uterus

yang semakin membesar dan postur tubuh secara bertahap

20
mengalami perubahan karena janin membesar dalam abdomen

sehingga untuk mengompensasi penambahan berat badan ini, bahu

lebih tertarik ke belakang dan tubuh lebih melengkung, sendi tulang

belakang lebih lentur dan dapat menyebabkan nyeri punggung pada

ibu hamil trimester III (Purnamasari dan Widyawati, 2019).

Adapun faktor yang dapat mempengaruhi nyeri punggung bawah

pada ibu hamil diantaranya, berubahnya titik berat tubuh seiring

dengan membesarnya rahim, postur tubuh, posisi tidur, meingkatya

hormone, keahmailan kembar, riwayat nyeri pada kehamilan lalu,

dan kegemukan (Mafikasari dan Kartikasari, 2015). Selain itu

aktivitas sehari-hari (seperti duduk, bergerak, mengangkat,

membungkuk serta melakukan pekerjaan rumah tngga dan aktivitas

kerja rutin) juga bisa menjadi salah satu factor penyebab nyeri

punggung pada ibu hamil (Puspasari, 2019)

Cara mengatasinya:

1) Massage daerah pinggang dan punggung

2) Hindari sepatu hak tinggi

3) Gunakan bantal sewaktu tidur untuk meluruskan punggung

4) Tekuk kaki daripada membungkuk ketika mengangkat

apapun.

5) Lebarkan kedua kaki dan tempatkan satu kaki sedikit didepan

kaki yang lain saat menekukkan kaki, sehingga terdapat jarak

yang cukup saat bangkit dari posisi setengah jongkok (Syaiful

dan Fatmawati, 2019).

21
b. Edema ekstremitas bawah

Edema fisiologis pada kaki timbul akibat gangguan sirkulasi vena

dan peningkatan tekanan vena pada ekstermitas bawah. Gangguan

ini terjadi karena penumpukan cairan dijaringan. Hal ini ditambah

dengan penekanan pembuluh darah besar di perut sebelah kanan

(vena kava) oleh uterus yang membesar, sehingga darah yang

kembali ke jantung berkurang dan menumpuk di tungkai bawah.

Penekanan ini terjadi saat ibu berbaring terlentang atau miring ke

kanan. Oleh karena itu, ibu hamil trimester III disarankan untuk

berbarik kea rah kiri (Irianti, 2014). Edema pada kehamilan dipicu

oleh perubahan hormone esteogen, sehingga dapat meningktkan

retensi cairan. Peningkatan retensi cairan berhubungan dengan

perubahan fisik yang terjadi pada kehamilan trimester akhir, yaitu

semakin membesarnya uterus 22 seiring dengan pertambahan berat

badan janin dan usia kehamlan (Juanita, Harvrialni, dan Fadmiyanor,

2018). Edema fisiologis menyebabkan ketidaknyamanan seperti

perasaan berat, kram, dan juga kesemutan pada kaki (Coban dan

Sirin, 2010).

Cara mengatasinya:

1) Meningkatkan periode istirahat dan berbaring pada posisi

miring kiri

2) Meninggikan kaki apabila duduk serta memakai stoking

22
3) Meningkatkan asupan protein

4) Menurunkan asupan karbohidrat karena dapat meretensi

cairan di jaringan 5) Menganjurkan untuk minum 6-8 gelas

cairan sehari untuk membantu diuresis natural

6) Menganjurkan ibu untuk cukup berolahraga dan sebisa

mungkin jangan berlama-lama dalam sikap statis atau berdiam

diri dalam posisi yang sama (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

c. Gangguan tidur

Gangguan tidur pada ibu hamil trimester III disebabkan oleh

perubahan fisik dan perubahan emosi selama kehamilan. Perubahan

fisik yang terjadi seperti rasa mual dan muntah pada pagi hari,

meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari, pembesaran

uterus, nyeri punggung, dan pergerakan janin jika janin tersebut

aktif. Sedangkan perubahan emosi meliputi kecemasan, rasa takut,

dam depresi (Palifiana dan Wulandari, 2018).

Selain itu, gangguan tidur timbul mendekati saat melahirkan, ibu

hamil akan sulit mengatur posisi tidur akibat uterus yang membesar

dan pernafasan akan terganggu karena diafragma tertekan ke atas

karena semakin besar Gangguan tidur pada ibu hamil trimester III

yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikis.

Dari kesehatan fisik, kurang tidur akan menyebabkan muka pucat,

mata sembab, kantung mata bewarna hitam, badan lemas dan daya

tahan tubuh menurun sehingga mudang terserang penyakit. Dari

kesehatan psikis, kurang tidur dapat menyebabkan timbulnya

23
perubahan suasana kejiwaan, sehingga penderita akan menjadi lesu,

lamban menghadapi rangsangan, dan sulit berkonsentrasi (sukorini,

2017).

Cara mengatasinya:

1) Lakukan relaksasi napas dalam

2) Pijat punggung

3) Topang bagian tubuh dengan bantal

4) Minum air hangat (Fauziah dan Sutejo, 2012).

d. Hiperventilasi dan sesak nafas

Peningkatan jumlah progesteron selama kehamilan memengaruhi

langsung pusat pernafasan untuk menurunkan kadar karbondioksida

dan meningkatkan kadar oksigen. Hiperventilasi akan menurunkan

kadar dioksida. Uterus membesar dan menekan diafragma sehingga

menimbulkan rasa sesak (Hutahaean, 2013).

Cara mengatasinya:

1) Bantu cara mengatur pernapasan

2) Posisi berbaring dengan semifowler

3) Latihan napas melalui senam hamil

4) Tidur dengan bantal yang tinggi

5) Hindari makan terlalu banyak (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

e. Peningkatan frekuensi berkemih

Frekuensi kemih meningkat pada trimester III karena terjadi efek

lightening. Lightening yaitu bagian presentasi akan menurun masuk

kedalam panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung

24
kemih. Peningkatan frekuensi berkemih disebabkan oleh tekanan

uterus karena turunnya bagian bawah janin sehingga kandung kemih

tertekan, kapasitas kandung kemih berkurang dan mengakibatkan

frekuensi berkemih meningkat (Ardiansyah, 2016). Pada trimester III

kandung kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul sejati ke arah

abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih

bergeser kearah atas. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukan

oleh hiperemia kandung kemih dan uretra. Tonus kandung kemih

dapat menurun. Hal ini memungkinkan distensi kandung kemih

sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama pembesaran uterus

menekan kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih

meskipun kandung kemih hanya berisi sedikit urine (Hutahaean,

2013).

Cara mengatasinya:

1) Latihan kegel

2) Ibu hamil disarankan tidak minum saat 2-3 jam sebelum tidur

3) Kosongkan kandung kemih sesaat sebelum tidur. Namun agar

kebutuhan air pada ibu hamil tetap terpenuhi, sebaiknya minum

lebih banyak di siang hari (Hutahaean, 2013).

f. Nyeri ulu hati

Penyebab nyeri ulu hati adalah peningkatan hormon progesterone

sehingga merelaksasikan sfingter jantung pada lambung,

motilitasgastrointestinal karena otot halus relaksasi dan tidak ada

25
ruang fungsional untuk lambung karena tekanan pada uterus

(Hutahaean, 2013).

Cara mengatasinya:

1) Makan dengan porsi kecil tapi sering untuk menghindari

lambung yang menjadi penuh

2) Hindari makanan yang berlemak, lemak mengurangi

mortilitas usus dan sekresi asam lambung yang dibutuhkan untuk

pencernaan

3) Hindari minum bersamaan dengan makan karena cairan

cenderung menghambat asam lambung

4) Hindari makanan dingin

5) Hindari makanan pedas (Hutahaean, 2013).

g. Kram kaki

Kram kaki merupakan kontraksi otot yang memendek atau kontraksi

sekumpulan otot yang terjadi secara mendadak dan singkat, yang

biasanya menyebabkan nyeri. Kram kaki dapat disebabkan oleh

kurang mengkonsumsi kalsium, kurang aliran darah ke otot,

kelelahan dan dehidrasi, serta kurangnya gizi selama kehamilan.

Pada ibu hamil trimester III terjadi karena berat badan atau rahim ibu

yang bertambah besar sehingga terjadi gangguan asupan oksigen

yang membuat aliran darah tidak lancar dan menimbulkan rasa nyeri

pada kaki. Kram kaki yang dirasakan biasanya menyerang pada

malam hari selama 1-2 menit. Hal itu terjadi juga karena bayi

26
mengambil sebagian besar gizi ibu sehingga meninggalkan sedikit

untuk ibunya (Isroh, 2012).

Cara mengatasinya:

1) Saat kram terjadi, yang harus dilakukan adalah melemaskan

seluruh tubuh terutama bagian tubuh yang kram. Dengan cara

menggerak-gerakan pergelangan tangan dan mengurut bagian

kaki yang terasa kaku

2) Pada saat bangun tidur, jari kaki ditegakkan sejajar dengan

tumit untuk mencegah kram mendadak

3) Kompres hangat pada kaki

4) Banyak minum air putih

5) Ibu sebaiknya istirahat yang cukup (Syaiful dan Fatmawati,

2019).

h. Varises

Varises biasanya menjadi lebih jelas terlihat seiring dengan usia

kehamilan, peningkatan berat badan, dan lama waktu yang

dihabiskan dalam posisi berdiri. Tekanan femoralis makin meningkat

seiring dengan tuanya kehamilan (Hutahaean, 2013).

Cara mengatasinya:

1) Hindari menggunakan pakaian ketat

2) Hindari berdiri lama

3) Sediakan waktu istirahat untuk mengelevasi kaki secara

teratur

27
4) Lakukan latihan ringan dan berjalan secara teratur

menggunakan bantalan karet, Lakukan latihan kegel untuk

mengurangi varises vulva atau haemoroid untuk meningkatkan

sirkulasi

6) Lakukan mandi hangat yang menenangkan (Hutahaean,

2013).

i. Hemoroid

Hemoroid merupakan pelebaran vena dari anus. Hemoroid dapat

bertambah besar ketika kehamilan karena adanya kongesti darah

dalam rongga panggul. Relaksasi dari otot halus pada bowel,

memperbesar konstipasi dan tertahannya gumpalan (Hutahaean,

2013).

Cara mengatasinya:

1) Hindari konstipasi

2) Beri rendaman hangat/dingin pada anus

3) Bila mungkin gunakan jari untuk memasukkan kembali

hemoroid ke dalam anus dengan pelan-pelan

4) Bersihkan anus dengan hati-hati sesudah defekasi

5) Usahakan BAB yang teratur

6) Ajarkan ibu tidur dengan posisi knee chest selama 15 menit

7) Ajarkan latihan kegel untuk menguatkan perineum dan

mencegah hemoroid (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

28
j. Konstipasi

Konstipasi disebabkan karena pengerasan feses yang terjadi akibat

penurunan kecepatan kerja peristaltik karena progesteron yang

menimbulkan efek relaksasi, pergeseran usus akibat pertumbuhan

uterus atau suplemasi zat besi dan akivitas fisik yang kurang

(Rokhani, 2019).

Cara mengatasinya:

1) Asupan cairan yang adekuat, yakni minum air minimal 8

gelas/ hari (ukuran gelas minum)

2) Istirahat cukup. Hal ini memerlukan periode istirahat pada

siang hari

3) Minum air hangat saat bangkit dari tempat tidur untuk

menstimulasi peristaltik

4) Makan-makanan berserat dan mengandung sarat alami

5) Miliki pola defikasi yang baik dan teratur

6) Lakukan latihan secara umum, berjalan setiap hari,

pertahankan postur tubuh yang baik, mekanisme tubuh yang

baik, latihan kontraksi otot abdomen bagian bawah secara

teratur. (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

k. Kesemutan dan baal pada jari Perubahan pusat gravitasi

menyebabkan wanita mengambil postur dengan posisi bahu

terlalu jauh kebelakang sehingga menyebabkan penekanan pada

saraf median dan aliran lengan yang akan menyebabkan

kesemutan dan baal pada jari-jari (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

29
Cara mengatasinya:

1) Mengatur pola nafas

2) Merilekskan badan

3) Berikan kompres hangat (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

5. Tanda dan Bahaya Kehamilan Trimester III

a. Penglihatan kabur

Penglihatan menjadi kabur atau berbayang dapat disebabkan

oleh sakit kepala yang hebat, sehingga terjadi edema pada otak

dan meningkatkan resistensi otak yang mempengaruhi sistem

saraf pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri

kepala, kejang), dan gangguan penglihatan. Perubahan

penglihatan atau pandangan kabur dapat menjadi tanda

preeklamsia. Masalah visual yang menidentifikasikan keadaan

yang mengancam jiwa adalah perubahan visual yang mendadak,

misalnya penglihatan kabur atau terbayang, melihat bintik-bintik

(spot), berkunang-kunang. Selain itu adanya skotama, diplopia,

dan amblyopia merupakan tandatanda yang menunjukkan

adanya preeklamsia berat yang mengarah pada eklamsia. Hal ini

disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat

penglihatan di korteks serebri atau didalam retina (edema retina

dan spasme pembuluh darah) (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

b. Keluar cairan pervaginam

Keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan 22

minggu, ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum

30
proses persalinan berlangsung. Tanda ketuban pecah yaitu jika

keluarnya cairan ibu tidak terasa, berbau amis, dan berwarna

putih keruh. Jika kehamilan belum cukup bulan, dapat

mengakibatkan persalinan preterm dan komplikasi infeksi

intrapartum (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

c. Perdarahan vagina

Perdarahan antepartum atau perdarahan pada kehamilan lanjut

adalah perdarahan pada trimester dalam kehamilan sampai

dilahirkan. Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak normal

adalah merah, banyak dan kadang-kadang tapi tidak selalu

disertai rasa nyeri (Hutahaean, 2013).

d. Nyeri perut hebat

Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan

adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mengindikasikan

mengancam jiwa adalah yang hebat, menetap dan tidak hilang

setelah beristirahat, kadang-kadang dapat disertai dengan

perdarahan lewat jalan lahir (Hutahaean, 2013).

e. Edema pada muka, tangan, dan kaki

f. Edema adalah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan

dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari

kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan, dan

muka. Bengkak biasanya menunjukkan adanya masalah serius

jika muncul pada muka dan tangan. Hal ini dapat disebabkan

adanya pertanda anemia, gagal jantung, dan preeklamsia

31
(Hutahaean, 2013)

6. Komplikasi Kehamilan Trimester III

a. Plasenta previa

Prasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi

pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim,

sehingga menutupi sebagian atau seluruh permukaan jalan lahir

(Ostinum Uteri Internum) dan bagian terendah sering kali

terkendala memasuki pintu atas panggul (PAP) atau dapat

menimbulkan kelainan janin dalam lahir. Pada keadaan normal

plasenta umumnya terletak di korpus uteri bagian depan atau

belakang agak kearah fundus uteri (Putri dan Hastina, 2020).

b. Solusio plasenta

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat

implementasi yang normalnya (uterus) sebelum janin dilahirkan.

Terjadi pada masa gestasi di atas 22 minggu atau berat badan

janin diatas 500 gram. Pelepasan sebagian atau seluruh seluruh

plasenta dapat menyebabkan perdarahan, baik ibu maupun janin

(Hutahaean, 2013).

c. Persalinan prematuritas

Persalinan prematuritas (premature) adalah persalinan yang

terjadi di antara umur kehamilan 29-36 minggu, dengan berat

badan lahir kurang dari 2,5 kg dan alat-alat vital belum

sempurna (Hutahaean 2013).

32
d. Preeklamsia

Preeklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi,

edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan yang

dapat menyebabkan kematian pada ibu dan janinnya. Penyakit

ini pada umumnya terjadi dalam trimester III kehamilan dan

dapat terjadi pada waktu antepartum, intrapartum, dan pasca

persalinan (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

e. Anemia kehamilan

Anemia kehamilan adalah adalah jika kadar hemoglobin <11

gr/dL pada trimester 1 dan III, atau jika kadar hemoglobin <10,5

gr/dL pada trimester II. Adapun klasifikasi anemia yaitu anemia

ringan 9-10 gr/dL, anemia sedang 7-8 gr/dL, dan anemia berat

<7gr/dL (Syaiful dan Fatmawati, 2019).

7. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil Trimester III

a. Kebutuhan fisik ibu hamil

1) Oksigen

Kebutuhan oksigen adalah yang utama pada manusia termasuk

ibu hamil. Berbagai gangguan pernafasan bisa terjadi saat

hamil hingga akan mengganggu pemenuhan kebutuhan

oksigen pada ibu yang akan berpengaruh pada bayi yang

dikandung (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).

33
2) Nutrisi

Nutrisi selama kehamilan yang adekuat merupakan salah satu

dari faktor terpenting yang mempengaruhi kesehatan wanita

hamil dan bayinya (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).

- Karbohidrat Fungsi utama karbohidrat adalah untuk

menghasilkan energi khususnya pada ibu hamil.

Karbohidrat dibutuhkan dalam jumlah yang adekuat untuk

menyerap protein untuk kebutuhan pertumbuhan. Pada

kehamilan trimester III direkomendasikan penambahan

jumlah kalori sebesar 285-300 kalori. Sumber karbohidrat

adalah golongan padi-padian (misalnya beras dan jagung),

golongan umbi-umbian (misalnya ubi dan singkong), dan

sagu (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013)

- Lemak

Lemak adalah sumber energi yang pekat, menghasilkan

lebih dari dua kali lebih banyak dari kalori per-gram dari

yang dihasilkan karbohidrat. Seiring dengan perkembangan

kehamilan, tedapat peningkatan pemecahan lemak untuk

digunakan sebagai sumber bahan bakar maternal sehingga

lebih banyak glukosa akan tersedia untuk kebutuhan janin.

Pada kehamilan normal, kadar lemak dalam aliran darah

akan meningkat pada akhir trimester III. Sumber lemak

seperti mentega, margarin, dan minyak salad (Reeder,

Martin, dan Griffin, 2013).

34
- Protein

Protein adalah zat utama untuk membangun jaringan bagian

tubuh. Kekurangan protein dalam makanan ibu hamil

mengakibatkan bayi akan lahir lebih kecil dari normal.

Sumber zat protein yang berkualitas tinggi adalah susu.

Tambahan protein yang diperlukan selama kehamilan

sebanyak 12 g/hari. Sumber lain meliputi sumber protein

hewani (misalnya daging, ikan, unggas, telur dan kacang)

dan sumber protein nabati (misalnya kacang-kacangan

seperti kedelai, kacang tanah, kacang tolo, dan tahu tempe)

(Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).

- Mineral Sedikitnya 14 elemen mineral adalah esensial untuk

nutrisi yang baik. Beberapa mineral, misalnya kalsium dan

fosfor, ada dalam tubuh dalam jumlah relative lebih besar

(lebih dari 5 g) mineral lain, yang disebut unsur renik

seperti zat besi dan zink ada dalam jumlah sedikit (kurang

dari 5 g). Mineral merupakan unsur pokok dalam material

tubuh yang vital, beberapa diantaranya adalah pengatur dan

pengaktif fungsi tubuh. Mineral yang memiliki fungsi

penting khusus selama kehamilan terdiri atas kalsium,

fosfor, zat besi, yodium, zink, dan natrium (Reeder, Martin,

dan Griffin, 2013).

- Vitamin Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan

makanan sayur dan buah-buahan, tetapi dapat pula

35
diberikan ekstra vitamin. Pemberian asam folat terbukti

mencegah kecacatan pada bayi (Reeder, Martin, dan

Griffin, 2013).

3) Kebutuhan personal hygiene.

Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan

sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk

mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri

terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah

genetalia). Kebersihan gigi dan mulut, perlu mendapat

perhatian karena seringkali mudah terjadi gigi berlubang,

terutama pada ibu kekurangan kalsium (Reeder, Martin, dan

Griffin, 2013).

4) Kebutuhan eliminasi

Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan

eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kecil.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan

mengkonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum air

putih, terutama ketika lambung dalam keadaan kosong. Minum

air putih hangat ketika dalam keadaan kosong dapat

merangsang gerak peristaltik usus. Jika ibu sudah mengalami

dorongan, maka segeralah untuk buang air besar agar tidak

terjadi konstipasi. Sering buang air kecil merupakan keluhan

utama yang dirasakan oleh ibu hamil, terutama trimester I dan

36
trimester III, hal tersebut adalah kondisi yang fisiologis

(Reeder, Martin, dan Griffin, 2013)

5) Kebutuhan seksual

Selama kehamilan berjalan normal, koitus diperbolehkan

sampai akhir kehamilan, meskipun beberapa ahli berpendapat

sebaiknya tidak lagi berhubungan seks selama 14 hri

menjelang kelahiran. Koitus tidak diperkenankan bila terdapat

perdararahan pervaginan, riwayat abortus berulang, abortus/

partus prematurus imminens, ketuban pecah sebelumnya

waktunya (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).

6) Kebutuhan mobilisasi Ibu hamil boleh melakukan kegiatan

atau aktivitas fisik biasa selama tidak terlalu melelahkan. Ibu

hamil dapat dianjurkan untuk melakukan pekerjaan rumah

dengan dan secara berirama dengan menghindari gerakan

menyentak, sehingga mengurangi ketegangan pada tubuh dan

menghindari kelelahan (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).

7) Istirahat Wanita hamil dianjurkan untuk merencanakan

istirahat yang teratur karena dapat meningkatkan kesehatan

jasmani dan rohani untuk kepentingan perkembanagan dan

pertumbuhan janin. Tidur pada malam hari selama kurang

lebih 8 jam dan istirahat dalam keadaan rilaks pada siang hari

selama 1 jam (Reeder, Martin, dan Griffin, 2013).

8) Persiapan persalinan

- Membuat rencana persalinan

37
- Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi

kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama

tidak ada

- Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi

kegawatdaruratan

- Membuat rencana atau pola menabung

- Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan

(Romauli, 2011).

9) Memantau kesejahteraan janin

Pemantauan gerakan janin minimal dilakukan selama 12 jam,

dan pergerakan janin selama 12 jam adalah minimal 10 kali

gerakan janin yang dirasakan oleh ibu hamil (Romauli, 2011).

8. Asuhan Antenatal Care (ANC)

Asuhan antenatal penting dilakukan. Ibu yang tidak

mendapatkan asuhan antenatal memiliki risiko lebih tinggi kematian

maternal, stillbirth, dan komplikasi kehamilan lainnya. Asuhan

antenatal rutin bermanfaat untuk mendeteksi komplikasi pada

kehamilan seperti anemia, preeklamsia, diabetes melitus

gestasional, infeksi saluran kemih asimtomatik dan pertumbuhan

janin tehambat (Saifuddin, 2012).

a. Menurut WHO

Ibu hamil disarankan untuk melanjutkan asuhan antenatal rutin

meskipun terdapat beberapa modifikasi, kecuali ibu hamil yang

memerlukan isolasi mandiri karena dicurigai atau sudah

38
terkonfirmasi COVID-19. WHO mengeluarkan rekomendasi

terbaru ibu hamil risiko rendah minimal mendapatkan asuhan

antenatal 8x. Perubahan layanan diperlukan untuk mengurangi

frekuensi ibu hamil keluar dari rumah untuk mendapatkan

pelayanan kesehatan. Hal ini bisa dilakukan melalui konsultasi

dan pemeriksaan penunjang lain seperti USG dan laboratorium

dilakukan pada waktu dan tempat yang sama, atau melalui

konsultasi virtual. Minimal konsultasi antenatal langsung secara

fisik dilakukan 6x pada ibu hamil risiko rendah, namun pada

kasus risiko tinggi frekuensi konsultasi langsung perlu

disesuaikan. Jika diperlukan dapat melakukan konsultasi

antenatal melalui telemedicine (telpon/video call) di luar jadwal

yang telah ditentukan.

b. Menurut Permenkes Nomor 21 Pasal 13 Tahun 2021

Pelayanan Kesehatan Masa Hamil dilakukan paling sedikit 6

(enam) kali selama masa kehamilan meliputi:

- 1 (satu) kali pada trimester pertama

- 2 (dua) kali pada trimester kedua; dan

- 3 (tiga) kali pada trimester ketiga.

Pelayanan antenatal sesuai dengan standar meliputi:

1) Pengukuran berat badan dan tinggi badan

a. Pengukuran berat badan dilakukan setiap kali kunjungan.

Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu dari

sebelum hamil dihitung dari trimester I sampai trimester

39
III yang berkisar anatara 9-13,9 kg dan kenaikan berat

badan setiap minggu yang tergolong normal adalah 0,4 -

0,5 kg tiap minggu mulai trimester II (Yulizawati, 2017).

b. Pengukuran tinggi badan ibu hamil

Pada kunjungan pertama dilakukan untuk mendeteksi

faktor resiko terhadap kehamilan yang sering berhubungan

dengan keadaan rongga panggul. Bila tinggi badan <145

cm, salah satu faktor resiko panggul sempit, kemungkinan

sulit melahirkan secara normal (Buku KIA, 2018).

2) Pengukuran tekanan darah

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan

antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi

(tekanan darah ≥140/90 mmHg) pada kehamilan dan

preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau

proteinuria) (Yulizawati, 2017).

3) Pengukuran lingkar lengan atas (LiLA)

Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama

untuk skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis

(KEK). Kurang energi kronis disini maksudnya ibu hamil

yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama

(beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm.

Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat

lahir rendah (BBLR) (Mastiningsih, 2019).

40
4) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri)

Tinggi fundus uteri harus diukur tiap kali kunjungan sejak

kehamilan berusia 4 bulan. Pemeriksaan TFU menggunakan

tehnik Mc. Donald adalah diukur dari puncak tulang

kemaluan ke bagian atas rahim dalam sentimeter.

Menentukan umur kehamilan berdasarkan minggu dan

hasilnya bisa di bandingkan dengan hasil anamnesis hari

pertama haid terakhir (HPHT) dan kapan gerakan janin mulai

dirasakan. TFU yang normal harus sama dengan UK dalam

minggu yang dicantumkan dalam HPHT (Evariny, 2011).

Normalnya, tinggi fundus uteri saat usia kehamilan 22-28

minggu adalah 24-25 cm, 30 minggu adalah 29,5 cm, 32

minggu adalah 30 cm, 34 minggu adalah 31 cm, dan usia

kehamilan 35 minggu akan memiliki tinggi fundus uteri

sekitar 31-32 cm. Tetapi jika lebih dari batas normal,

dikhawatirkan adanya diabetes melitus, air ketuban terlalu

banyak, atau ukuran bayi yang terlalu besar (Evariny, 2011).

5) Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin

Presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan

selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini

dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada

trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala

janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak,

panggul sempit atau ada masalah lain (Walyani, 2015).

41
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan

selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat

kurang dari 120/menit atau DJJ cepat lebih dari 160/menit

menunjukkan adanya gawat janin (Walyani, 2015).

6) Pemberian imunisasi sesuai dengan status imunisasi

Sebelum imunisasi, dilakukan penentuan status imunisasi TT

(Screening) terlebih dahulu, terutama pada saat pelayanan

antenatal. Pemberian imunisasi TT tidak perlu diberikan,

apabila pemberian imunisasi TT sudah lengkap (status T5)

yang harus dibuktikan dengan buku Kesehatan Ibu dan Anak,

rekam medis (Saifuddin, 2012).

Pemberian imunisasi TT (0,5cc)

Imunisasi Interval Lama Perlindungan


Perlindungan %
TT 1 Pada kunjungan ANC - -
pertama/Caten
TT 2 4 minggu 3 Tahun 80%
setelah TT 1
TT 3 6 bulan setelah 5 Tahun 95%
TT 2
TT 4 1 tahun setelah 10 Tahun 99%
TT 3
TT 5 1 tahun setelah 25 Tahun / 99%
TT 4 seumur hidup

7) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 (sembilan

puluh)

Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus

mendapat tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan

diberikan sejak kontak pertama (Yulizawati, 2017)

42
8) Tes laboratoriu

-Tes Golongan darah

Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya

untuk mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga

untuk mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-

waktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan

(Kumalasari, 2015).

-Tes Hb / Haemoglobin

-Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan

minimal sekali pada trimester pertama dan sekali pada

trimester ketiga. Pemeriksaan ini ditujukan untuk

mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak

selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat

mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam

kandungan (Kumalasari, 2015).

Kategorinya adalah:

- Normal >11,5gr - 12gr

- Ringan >10gr – 11gr

- Sedang > 8gr – 9gr

- Berat <8gr

- Tes protein urine

Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan

pada trimester kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan

ini ditujukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu

43
hamil. Proteinuria merupakan salah satu indikator terjadinya

preeklampsia pada ibu hamil (Kumalasari, 2015).

Kategorinya adalah:

- Negatif : bila larutan jernih

- Positif + : bila larutan keruh

- Positif ++ : bila larutan keruh berbutir

- Positif +++ : bila larutan membentuk awan

- Positif ++++ : menggumpal

- Tes glukosa/reduksi urine

Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus

dilakukan pemeriksaan gula darah selama kehamilannya

minimal sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester

kedua, dan sekali pada trimester ketiga (terutama pada akhir

trimester ketiga) (Kumalasari, 2015). DMG pada ibu hamil

dapat mengakibatkan adanya penyakit berupa preeklamsia,

polihidramnion dan bayi besar.

Kategorinya adalah :

- Negatif : biru kehijauan

- Positif + : hijau ke kuning-kuningan

- Positif ++ : kuning keruh

- Positif +++ : kuning kemerahan

- Positif ++++ : Merah Keruh

- Tes HIV

Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi

44
kasus HIV dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu

hamil setelah menjalani konseling kemudian diberi

kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk

menjalani tes HIV (Kumalasari, 2015).

- Tes BTA

Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai

menderita Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi

Tuberkulosis tidak mempengaruhi kesehatan janin. Selain

pemeriksaaan tersebut diatas, apabila diperlukan dapat

dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya di fasilitas rujukan

(Kumalasari, 2015).

- Tes Malaria

Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan

pemeriksaan darah Malaria dalam rangka skrining pada

kontak pertama. Ibu hamil di daerah non endemis Malaria

dilakukan pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi

(Kumalasari, 2015).

9). Tata laksana/penanganan kasus

Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil

pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan

pada ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan

kewenangan bidan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani

dirujuk sesuai dengan sistem rujukan (Mastiningsih, 2019).

10). Temu wicara (konseling) dan penilaian kesehatan jiwa

45
a.Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap kunjungan

antenatal, meliputi:

1). Kesehatan ibu

Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan

kehamilannya secara rutin ke tenaga kesehatan sesuai

standar.

2). Perilaku hidup bersih dan sehat

Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan

badan selama kehamilan.

3). Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan

perencanaan persalinan

Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari

keluarga terutama suami dalam kehamilannya. Suami,

keluarga atau masyarakat perlu menyiapkan biaya

persalinan, kebutuhan bayi, transportasi rujukan dan calon

pendonor darah. Hal ini penting apabila terjadi komplikasi

kehamilan, persalinan dan nifas agar segera dibawa ke

fasilitas Kesehatan (Mastiningsih, 2019).

b. Penilaian Kesehatan jiwa

World Health Organization (2016), menyatakan bahwa

kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang

disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan

kemampuan untuk mengelola stress, bekerja secara produktif

dan menghasilkan, serta ikut berpartisipasi di masyarakat

46
sekitar. Ditambah pula dengan penelitian Goebert, Moerland,

Frattarelli, Onoye, Matsu (2007), kesehatan mental selama

kehamilan terlihat dari empat hal, yaitu konsumsi alkohol,

konsumsi rokok, adanya kemungkinan depresi, dan

kecemasan. Menyebutkan bahwa faktor- faktor yang dapat

mempengaruhi kecemasan seseorang adalah dukungan

keluarga, dukungan sosial, harga diri dan penerimaan diri,

pendidikan dan status sosial ekonomi.

2) Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Trimester III Di

PMB Sukarsih Kabupaten Tebo Tahun 2023

1) Pengkajian Data

- Data Subjektif

Data Subjektif Menurut Nursalam (2008) data subjektif

adalah data yang didapat dari klien sebagai pendapat terhadap

situasi data kejadian.

8. Biodata mencakup identitas pasien

a. Nama

Sebagai identitas supaya mudah mengenali ibu dan suami, mencegah

terjadinya kekeliruan. Dengan nama panggilan maka hubungan

komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab

(Sulistyawati, 2013)

b. Umur

Ditulis dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko. Usia

seorang wanita pada saat hamil sebaiknya tidak terlalu muda

47
dan tidak terlalu tua. Umur yang kurang dari 20 tahun atau

lebih dari 35 tahun, berisiko tinggi untuk melahirkan. Kesiapan

seorang perempuan untuk hamil harus siap fisik, emosi,

psikologi, sosial dan ekonomi (Ruswana, 2006). Usia ibu

hamil menjadi faktor resiko timbulnya striae gravidarum

karena penipisan kulit mulai terjadi sekitar umur 45 tahun,

terjadi penipisan kulit secara perlahan-lahan pada semua

lapisan, termasuk epidermis, dermis dan subkutan. Juga terjadi

secara pemipihan secara perlahan ikatan antara epidermis dan

dermis. Lapisan lemak menjadi tipis. Semua perubahan

menyebabkan kerut dan kehilangan elastisitas kulit (Maharani,

2015).

c. Suku/bangsa

Ditujukan untuk mengetahui adat istiadat yang menguntungkan

dan merugikan bagi ibu hamil. Berpengaruh pada adat istiadat

atau kebiasaan sehari-hari yang mempebgaruhi Kesehatan

(Sulistyawati, 2013).

d. Agama

Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk

membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa.

Mengetahui kepercayaan sebagai dasar dalam memberikan

asuhan saat hamil dan bersalin (Romauli, 2011).

e. Pendidikan

Tingkat pendidikan ibu hamil adalah tingkat pendidikan formal

48
yang telah dijalani oleh ibu hamil. Menurut Notoatmodjo,

tingkat pendidikan ibu hamil mempengaruhi kesadaran tentang

pentingnya arti kesehatan, memilih dan mengolah bahan

pangan, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (Notoatmodjo,

2014).

f. Pekerjaan

Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial

ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien

tersebut. Pekerjaan rutin (pekerjaan rumah tangga) dapat

dilaksanakan. Bekerja sesuai dengan kemampuan, dan makin

dikurangi dengan semakin tuanya kehamilan (Manuaba, 2012).

g. Alamat

Alamat ditanyakan dengan maksud mempermudah kunjungan

rumah bila diperlukan dalam keadaan mendesak. Dengan

mengetahui alamatnya, bidan juga dapat mengetahui tempat

tinggal dan lingkungannya (Sumiaty, 2014)

9. Keluhan Utama

Untuk mengetahui alasan atau keluhan utama yang membuat

pasien datang berhubungan dengan kehamilannya (Saifuddin, 2007).

Tanda ketidaknyamanan umum pada trimester II, yaitu :

(a)Keputihan

(b)Cloasma gravidarum

(c)Striae gravidarum

(d)Kram pada kaki

49
(e)Konstipasi (sulit BAB)

(f) Ambeien

10. Riwayat menstruasi

Data ini digunakan untuk mendapatkan gambaran

tentang keadaan dasar dari organ reproduksi pasien. Beberapa

data yang harus kita peroleh dari riwayat menstruasi antara

lain yaitu:

 Menarche (usia pertama kali datang haid)

Bertujuan untuk mendeteksi risiko preeklampsia dan

hipertensi gestasional. Wanita dengan usia menarche dini

mengalami kematangan organ tubuh lebih awal dan risiko

untuk mengalami obesitas lebih besar bila dibandingkan

dengan wanita yang memiliki usia menarche normal

karena obesitas merupakan salah satu faktor utama

penyebab preeklamsia. Penelitian menunjukkan bahwa

rata-rata ibu primigravida dengan rata- rata usia kurang

dari 12 tahun lebih berisiko mengalami risiko

preeklampsia dan hipertensi gestasional (Primadani, dkk,

2018).

Status gizi remaja mempengaruhi terjadinya

menarche, keluhan- keluhan yang terjadi selama

menstruasi dan lamanya siklus menstruasi. Obesitas adalah

kelebihan lemak tubuh dengan berat badan yang berlebih

diatas 20 persen yang dapat menyebabkan sindrom

50
metabolik yang menjadi awal diabetes, hipertensi,

penyakit jantung koroner dan osteoporosis. Resiko pada

kasus gangguan menstruasi yang terkait dengan gangguan

hormonal. Wanita gemuk menghasilkan estrogen lebih

banyak. (Sunarsih, 2017).

 Siklus

Siklus haid terhitung mulai hari pertama haid hingga

hari pertama haid berikutnya, siklus haid perlu ditanyakan

untuk mengetahui apakah ibu hamil mempunyai kelainan

siklus haid atau tidak. Siklus normal haid biasanya 28 hari.

Padahal bagi wanita yang mengalami siklus tidak teratur

sulit untuk menjadikan kondisi ini sebagai tanda

kehamilan. Sedangkan bagi wanita yang memiliki siklus

menstruasi yang teratur, penting untuk dapat menentukan

hari pertama haid terakhir. Sehingga dapat ditentukan

sebagai tanda kehamilan (Walyani, 2015)

 Lamanya

Lamanya haid yang normal adalah ± 7 hari. Apabila

mencapai 15 hari berarti sudah abnormal dan

kemungkinan adanya gangguan ataupun penyakit yang

mempengaruhinya (Manuaba, 2007)

 Banyaknya

Normalnya yaitu 2 kali ganti pembalut dalam sehari.

Apakah darahnya terlalu berlebih, itu berarti telah

51
menunjukkan gejala kelainan pada organ reproduksi

(Manuaba, 2007)

 Disminorhea (nyeri haid)

Nyeri haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah

ibu hamil menderitanya atau tidak ditiap haidnya. Nyeri

haid juga menjadi tanda bahwa kontraksi uterus begitu

hebat sehingga menimbulkan nyeri haid (Manuaba, 2007).

11. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

a. Riwayat kehamilan yang lalu

Karena komplikasi obstetri cenderung muncul lagi,

informasi tentang kehamilan terdahulu harus diperoleh.

Informasi esensial tentang kehamilan yang terdahulu

mencakup bulan dan tahun kehamilan tersebut

berakhir, dan usia gestasi pada saat itu. Rentang

usia batas awal dan akhir usia reproduksi terkait erat

dengan peningkatan risiko komplikasi kehamilan

seperti hipertensi dalam kehamilan (Romauli, 2011).

b. Riwayat persalinan yang lalu

Bertujuan untuk mengetahui riwayat waktu

persalinan yang lalu dengan kehamilan saat ini. Apakah

jaraknya terlalu dekat (<2tahun) dimana kondisi rahim

belum pulih dan berisiko keguguran. Apakah terlalu

banyak anak (>4) dimana terjadi kekendoran pada

dinding perut, tampak pada ibu dengan perut yang

52
menggantung dan dapat mengakibatkan terjadinya

ganguan dalam kehamilan seperti kelainan letak

(Najwa, 2018).

Komplikasi pada persalinan sebelumnya yang

memerlukan tindakan sectio caesaria perlu diperhatikan

guna menentukan tindakan persalinan yang mungkin

digunakan pada persalinan mendatang. Jika ibu

memiliki riwayat keguguran berkali-kali, ibu beresiko

tinggi mengalaminya kembali serta peluang mengalami

persalinan prematur dan masalah lain yang terkait juga

lebih tinggi (Holmes, 2011).

BB anak lahir merupakan faktor resiko munculnya

striae gravidarum. Masalah umum yang sering dialami

wanita usai melahirkan adalah striae gravidarum.

Kondisi ini biasanya mulai muncul akibat kulit yang

meregang saat ukuran perut ibu semakin membesar.

Kadang-kadang bayi yang berukuran besar karena ibu

mengalami obesitas selama kehamilannya. Saat bayi

tumbuh dan kulit meregang, itulah hal yang

memungkinkan mendapatkan striae gravidarum diperut

(Utami, 2018).

c. Riwayat nifas yang lalu

Riwayat nifas ibu dengan keadaan segera setelah

persalinan. Dengan riwayat terjadi peningkatan suhu

53
tubuh, tetapi tidak lebih dari 380C. Bila terjadi

peningkatan terus menerus selama 2 hari, kemungkinan

terjadi infeksi. Terdapat perdarahan atau tidak, serta

nilai masalah lain yang terjadi pada masa nifas

sebelumnya (Romauli, 2011).

12. Riwayat kontrasepsi yang digunakan

Pengkajian mengenai riwayat KB yaitu untuk mengetahui

apakah ibu sebelum hamil pernah menggunakan KB atau

belum, jika pernah lamanya berapa tahun, dan jenis KB yang

digunakan. Tujuannya untuk perencanaan mengenai KB yang

akan digunakan setelah persalinan ini (Varney, 2007).

Secara tidak langsung dapat diketahui apakah kehamilan ibu

saat ini diterima atau tidak, baik oleh ibu maupun oleh suami

dan keluarganya. Indikasinya yaitu jika ibu sedang

menggunakan kontrasepsi dan ibu hamil, kemungkinan besar

ibu tidak menerima kehamilannya, jika ibu tidak sedang

menggunakan kontrasepsi, maka ibu menerima kehamilannya

(Yulizawati, 2010).

Status kehamilan yang tidak direncanakan dikarenakan

adanya kegagalan KB. Kehamilan tidak direncanakan sering

disebut juga dengan istilah kehamilan tidak diinginkan

(unwanted pregnancies), yang berdampak pada kesehatan ibu

dan janin. Kehamilan tidak diinginkan mendorong seseorang

untuk melakukan aborsi, selain itu juga mendorong perilaku

54
seseorang untuk tidak melakukan pemeriksaan kesehatan

selama kehamilan. Hal tersebut dapat berisiko tidak

terpantaunya komplikasi selama kehamilan. Apabila terjadi

komplikasi dan mengalami keterlambatan penanganan maka

berisiko terjadinya kematian ibu dan janin. Hasil penelitian

menunjukkan kejadian kehamilan tidak direncanakan banyak

ditemukan pada ibu yang mengalami kegagalan KB sehingga

secara langsung dapat mempengaruhi sikap ibu dalam memilih

jenis kontrasepsi di waktu mendatang dengan lebih bijak

(Prastiwi, 2017).

13. Riwayat kehamilan sekarang

Untuk mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir, umur

kehamilan, perkiraan persalinan, masalah atau kelainan pada

kehamilan sekarang, kehamilan selama hamil (Prawirohardjo,

2005)

a. Riwayat ANC

 HPHT (Hari pertama haid terakhir)

HPHT adalah Hari Pertama Haid Terakhir seorang

wanita sebelum hamil, HPHT yang tepat adalah tanggal

dimana ibu baru mengeluarkan darah menstruasi

dengan frekuensi dan lama seperti menstruasi biasa.

HPHT dapat digunakan sebagai perhitungan usia

kehamilan dan taksiran persalinan (Manuaba, 2010).

 HPL (Hari perkiraan lahir) atau TP (Tafsiran

55
Persalinan)

Tanggal perkiraan persalinan dapat diperkirakan

menggunakan teori Neagle, yaitu:

 Bila HPHT antara bulan April sampai Desember

(Hari + 7) (Bulan – 3) (Tahun + 1) = Tafsiran

Persalinan

 Bila HPHT antara bulan Januari

sampai Maret (Hari + 7) (Bulan

+ 9) = Tafsiran Persalinan

 UK (Usia Kehamilan)

Usia kehamilan merupakan faktor resiko munculnya

striae gravidarum. Secara medis, striae gravidarum

muncul akibat kulit meregang dalam tempo singkat.

Saat kehamilan berusia 4-5 bulan di mana perut

semakin membesar, masalah umum yang dirasakan oleh

mayoritas ibu hamil adalah timbulnya striae

gravidarum. Setiap individu memiliki corak striae

gravidarum yang beragam, baik dari warna maupun

tingkat keparahan (Evariny, 2011).

Cara menghitung kehamilan dengan

rumus 4 1/3 Rumus: usia kehamilan (tanggal

sekarang - HPHT) x (4 1/3) Misalnya:

Tanggal sekarang = 14 Juni 2021

HPHT = 13 Maret 2021

56
Usia kehamilan berarti:

(14-13), (6-3) x (4 1/3) = (tanggal-tanggal), (bulan-

bulan) x (4 1/3) Maka hasilnya adalah: 1 hari, 3

bulan dikalikan 4 1/3

Pada perhitungan terakhir hanya perlu mengambil

bulannya saja: (3x4) + (3x 1/3)

Hasil akhirnya adalah: 12 minggu

 Frekuensi kunjungan ANC

Keteraturan ANC adalah kedisiplinan / kepatuhan

ibu hamil untuk melakukan pengawasan sebelum anak

lahir terutama ditujukan pada anak.

Menurut Permenkes RI No.21 (2021), Kunjungan

antenatal untuk pemanfaatan dan pengawasan

kesejahteraan ibu dan anak dilakukan paling sedikit 6

(enam) kali selama masa kehamilan meliputi:

(a) 1 (satu) kali pada trimester pertama;

(b) 2 (dua) kali pada trimester kedua; dan

(c) 3 (tiga) kali pada trimester ketiga.

b. Pergerakan anak 24 jam terakhir

Lewat pergerakan anak, ibu hamil bisa memantau

perkembangan anak di dalam kandungan. Mendeteksi

apakah ada yang bermasalah dengan kondisi kehamilan

dan mecegah kematian pada anak dalam kandungan (Intan,

2021).

57
 Kapan mulai dirasakan dan apakah ada perubahan

yang terjadi

Antara minggu ke 16-20, ibu hamil mulai

merasakan adanya quickening atau pergerakan janin.

Saat kehamilan memasuki usia 32 minggu, ada baiknya

mulai memperhatikan pola gerakan janin. Pasalnya, di

usia ini janin akan mulai aktif bergerak dan

memberikan respon dari gerakan ibu, suara, dan lain

sebagainya. Gerakan janin ini harus terus dipantau

sebab dapat mempengaruhi posisi serta kondisi tali

pusar. Tidak jarang, janin yang terlalu aktif bergerak

membuat tali pusarnya tersimpul atau bahkan melilit

tubuhnya (Walyani, 2015).

 Frekuensi Gerakan Janin Normal

Secara umum, ada cara mudah untuk menghitung

gerakan janin, yaitu cobalah pantau kandungan dalam

waktu 12 jam. Catat tiap gerakan dan lama dari masing-

masing gerakannya. Normalnya dalam periode waktu

itu akan terasa lebih dari 10 gerakan. Dengan kata lain,

pada janin normal akan ada gerakan sebanyak rata-rata

3-4 kali dalam

1 jam. Dalam hal ini, gerakan yang dimaksud

adalah gerakan aktif seperti menendang, bergeser,

memutar, meliuk, memukul, dan beragam aktivitas

58
janin yang dapat di rasakan. Akan tetapi, jika terdapat

sederet tendangan dalam satu waktu itu dihitung

sebagai satu gerakan. Gerakan kedua dihitung saat janin

sudah sempat diam (Walyani, 2015).

c. Pola keseharian

Untuk mengetahui apakah ada perubahan pada pola

kebiasaan sehari- hari ibu selama hamil.

 Pola nutrisi

Yaitu perlu dikaji meliputi, frekuensi, kualitas dan keluhan.

Kebutuhan gizi untuk ibu hamil setiap harinya ditambah

sesuai dengan usia kehamilan. Hal ini dikarenakan adanya

perkembangan dan pertumbuhan janin (Saifuddin, 2007).

1. Makan

Cara menerapkan yaitu dengan mengonsumsi lima

kelompok pangan setiap hari yang terdiri dari makanan

pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan dan minuman.

Mengkonsumsi lebih dari 1 jenis untuk setiap kelompok

makanan setiap kali makan akan lebih baik. Frekuensi

makan dalam sehari merupakan seringnya seseorang

melakukan kegiatan makan dalam sehari baik makanan

utama atau pun selingan, sebanyak 3 kali makan utama

dan 2 kali makan selingan atau porsi kecil namun sering

dan harus sesuai porsi (Mastiningsih, 2019).

2. Minum

59
Minum air putih lebih banyak mendukung sirkulasi janin,

produksi cairan amnion dan meningkatnya volume

darah, mengatur keseimbangan asam basa tubuh, dan

mengatur suhu tubuh. Asupan air minum ibu hamil

sekitar 2-3 liter perhari (8-12 gelas sehari) (Mastiningsih,

2019).

 Pola eliminasi

Untuk mengetahui berapa kali ibu BAB atau BAK dalam

sehari selama hamil, adakah kaitannya dengan obstipasi

atau tidak (Saifuddin, 2007).

Obstipasi terjadi karena peningkatan hormon progesteron

yang menyebabkan berkurangnya pergerakan lambung dan

meningkatnya waktu transit makanan di lambung. Selain itu

penekanan rectum (bagian terbawah usus besar) akibat

pembesaran rahim juga dapat menyebabkan konstipasi

(Mochtar, 2015).

1. BAB

Rentang frekuensi BAB umumnya 1-3 kali per hari hingga

tiga kali per minggu. Konsistensi BAB yang normal

biasanya lunak, tidak sulit dikeluarkan, dan berbentuk

memanjang seperti sosis mengikuti bentuk saluran

pencernaan. Umumnya, feses yang sehat berwarna

kecokelatan (Mochtar, 2015).

2. BAK

60
Biasanya seseorang dapat buang air kecil sebanyak 6–8 kali

sehari. Namun, ibu hamil mungkin akan merasa lebih

sering ingin buang air kecil. Hal ini tak jarang membuat

sebagian ibu hamil dapat buang air kecil hingga kurang

lebih 10 kali dalam sehari. Keluhan ini juga biasanya bisa

muncul di waktu tertentu, misalnya di malam hari, sehingga

mengganggu waktu istirahat ibu hamil.

Air kencing yang sehat berwarna jernih hingga kuning

muda. Semakin banyak air yang di minum, semakin jernih

pula warna urine yang terbentuk. Sebaliknya, kurang

minum air putih akan membuat urine berwarna kuning

pekat hingga oranye.

Banyaknya urine yang dikeluarkan dalam sehari berkisar

antara 400 sampai 2.000 mL, dengan asupan cairan normal

sekitar 2 liter per hari. Dalam keadaan yang normal,

kencing tak akan mengeluarkan bau yang kuat atau

memiliki aroma tertentu (Mochtar, 2015).

 Pola aktivitas pekerjaan

Dikaji untuk mengetahui bagaimana aktifitas pekerjaan

sebelum hamil, apakah menggunakan aktivitas pekerjaan atau

tidak dan terdapat keluhan atau tidak (Saifuddin, 2007).

Saat hamil, ada baiknya ibu hamil dan suami mulai

melakukan pembagian tugas rumah tangga. Pekerjaan rumah

tangga yang terlalu berat dan melelahkan akan memberi

61
dampak tertentu pada kehamilan baik secara langsung

maupun tidak langsung. Saat hamil bukan berarti tidak boleh

melakukan aktivitas rumah tangga sama sekali. Tetapi

pilihlah aktivitas yang tidak berisiko membahayan ibu dan

janin. Aktivitas ringan masih boleh dilakukan agar tetap

bugar dan tidak lemas. Mintalah bantuan orang terdekat yang

ada di rumah, misalnya suami agar bisa membantu

melakukan aktivitas rumah tangga tersebut (Indarayani,

2011).

 Pola istirahat/tidur

Dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu istirahat dalam

sehari apakah terdapat gangguan dalam pola istirahat ibu dan

terdapat keluhan atau tidak (Saifuddin, 2007).

Kondisi fisik yang dipengaruhi hormon kehamilan membuat

ibu hamil cenderung cepat merasa lelah dan lesu. Selain itu

juga, ibu hamil harus menjaga kondisi janin agar tetap sehat

sehingga tidak boleh terlalu capai saat beraktivitas. Organ

dalam tubuh seperti jantung bekerja lebih keras saat

kehamilan untuk menjaga agar aliran darah ke janin tetap

lancar, begitu pun dengan ginjal yang bekerja lebih keras

untuk memproses sisa metabolisme dalam tubuh. Oleh

karena itu, kebutuhan tidur ibu hamil lebih banyak dibanding

biasanya. Selain tidur selama 8 jam pada malam hari, sebisa

mungkin ibu hamil juga tidur siang minimal 1 hingga

62
maksimal 3 jam untuk mengembalikan stamina yang habis

selama aktivitas siang hari (Marmi, 2014)

 Pola seksualitas

Dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu melakukan

hubungan seksual selama seminggu dan terdapat keluhan

atau tidak (Saifuddin, 2007).

Menurut Manuaba (2010) Hubungan seksual disarankan

untuk dihentikan bila terdapat tanda infeksi dengan

pengeluaran cairan disertai rasa nyeri atau hubungan seksual

panas, terjadi perdarahan saat hubungan seksual, terdapat

pengeluaran cairan (air) yang mendadak, hentikan pada

mereka yang sering mengalami keguguran; persalinan

sebelum waktunya; mengalami kematian dalam kandungan;

sekitar dua minggu menjelang persalinan. Pada umumnya

koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan

dengan hati-hati.

1. Frekuensi

Sebenarnya ibu hamil dan suami bisa melakukan hubungan

intim sesering yang ibu inginkan. Namun, terlalu sering

berhubungan

intim saat hamil juga tidak dianjurkan. Hubungan intim saat

hamil yang terlalu sering (≥3xseminggu) bisa memicu

terjadinya infeksi saluran kencing (ISK). Bila tidak segera

diobati, ISK dapat menyebabkan masalah dalam kehamilan.

63
2. Keluhan

Hubungan seksual selama kehamilan tidak dilarang selama

tidak ada keluhan atau riwayat penyakit seperti berikut ini.

a. Sering abortus dan kelahiran premature

b. Perdarahan pervaginam

c. Coitus harus dilakukan dengan hati-hati terutama pada

minggu terakhir kehamilan

d. Bila ketuban sudah pecah, coitus dilarang karena dapat

menyebabkan infeksi janin intra uteri

d. Personal Hygiene

Dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu mandi, menggosok gigi

dan mengganti pakaian dalam sehari, dan terdapat keluhan atau

tidak (Saifuddin, 2007).

 Kebiasaan mandi

Mandi dianjurkan sedikitnya 2 kali sehari karena ibu hamil

cenderung untuk mengeluarkan banyak keringat, menjaga

kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah

dada, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dengan air

dan dikeringkan (Walyani, 2015).

 Menggosok gigi

Sekitar 50% wanita hamil mengalami gingivitis (radang pada

gusi) pada kehamilan. Gingivitis tersebut terjadi karena

peningkatan kadar hormon progesteron yang berakibat gusi ibu

bereaksi lebih terhadap bakteri yang terdapat di plak gigi.

64
Peningkatan suplai pendarahan pada rongga mulut juga dapat

meningkatkan sensitivitas gusi dan perdarahan terhadap gusi.

Pencegahan gingivitis kehamilan dilakukan dengan menjaga

kebersihan rongga mulut dan gosok gigi secara teratur

(Walyani, 2015).

 Kebiasaan membersihkan alat kelamin/kebiasaan


mengganti pakaian dalam/jenis pakaian dalam yang
digunakan
Selama kehamilan, meningkatnya cairan vagina atau keputihan

adalah normal. Cairan ini biasanya putih atau kuning serta

agak kental. Hindari penggunaan celana dalam berbahan nilon,

gunakan bahan katun dan seringlah untuk menggantinya serta

jaga kebersihan vagina ibu. Infeksi pada vagina terjadi apabila

terdapat cairan berwarna kuning atau hijau, berbau, gatal, dan

panas (Bobak, 2005).

Hal – hal yang harus diperhatikan adalah:

- Celana dalam harus kering

- Jangan gunakan obat / menyemprot ke dalam vagina

- Sesudah BAB / BAK dilap dengan lap khusus Tips yang


dapat dilakukan:

 Jaga kebersihan daerah V (vagina/kemaluan) dengan baik

 Bersihkan dan keringkan selalu bagian tersebut.

 antilah celana dalam lebih sering bila perlu.

 Pakailah celana dalam dari bahan katun, yang lebih mudah

menyerap.

65
e. Imunisasi

Pelaksanaan imunisasi TT (Tetanus Toksoid), WUS mendapat vaksin

Tetanus Toksoid sebanyak lima kali.

Catatan:

 Sebelum imunisasi, dilakukan penentuan status imunisasi TT

(Screening) terlebih dahulu, terutama pada saat pelayanan

antenatal.

 Pemberian imunisasi TT tidak perlu diberikan, apabila

pemberian imunisasi TT sudah lengkap (status T5) yang harus

dibuktikan dengan buku Kesehatan Ibu dan Anak, rekam medis

(Saifuddin, 2012).

Menurut Profil DINKES Kulon Progo, 2013. Penentuan status

imunisasi WUS dibedakan kelahiran WUS pada tahun 1979

sampai dengan tahun 1993 dan WUS yang lahir setelah tahun

1993, dimana tahun 1979 adalah tahun dimulainya program

imunisasi dasar lengkap dan tahun 1993 adalah tahun dimulainya

Bulan Imunisasi Anak Sekolah.

Untuk WUS yang lahir pada tahun 1979 sampai dengan tahun

1993 dan ingat jika pada saat sekolah SD dilakukan imunisasi,

maka status imunisasinya:

 TT I adalah waktu imunisasi di kelas I SD;

 TT II adalah waktu imunisasi di kelas II SD;

 TT III adalah waktu imunisasi calon pengantin (caten) ;

 TT IV adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil; dan

66
 TT V adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.

WUS yang lahir pada tahun 1979 sampai dengan tahun 1993

namun tidak ingat pada waktu sekolah SD dilakukan imunisasi,

maka status imunisasinya:

 TT I adalah waktu imunisasi caten pertama;

 TT II adalah satu bulan setelah TT I;

 TT III adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil; dan

 TT IV adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.

WUS yang lahir yang lahir setelah tahun 1993 yang tidak

mempunyai KMS Balita dan kartu TT di SD, maka status

imunisasinya:

 TT I adalah waktu imunisasi caten pertama;

 TT II adalah satu bulan setelah TT I;

 TT III adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil

 TT IV adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.

WUS yang lahir yang lahir setelah tahun 1993 yang tidak

mempunyai KMS Balita namun mempunyai kartu TT di

SD, maka status imunisasinya:

 TT I adalah waktu imunisasi di klas I SD;

 TT II adalah waktu imunisasi di klas II SD;

 TT III adalah waktu imunisasi caten yang pertama;

 TT IV adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil

 TT V adalah waktu imunisasi kedua pada saat hamil.

67
WUS yang lahir setelah tahun 1993, mempunyai KMS

Balita dan mempunyai kartu TT di SD, maka status

imunisasinya:

 TT I sampai dengan TT IV dapat dilihat di KMS dan

kartu TT; dan

 TT V adalah waktu imunisasi pertama pada saat hamil.

Pemberian imunisasi TT (0,5cc)

Imunisasi Interval Lama Perlindungan


Perlindungan %
TT 1 Pada kunjungan
ANC - -
pertama/Caten

TT 2 4 minggu 3 Tahun 80%


setelah TT 1
TT 3 6 bulan setelah 5 Tahun 95%
TT 2
TT 4 1 tahun setelah 10 Tahun 99%
TT 3
TT 5 1 tahun setelah 25 Tahun / 99%
TT 4 seumur hidup

14. Riwayat Kesehatan

Riwayat kesehatan sekarang merupakan data yang berisi keluhan ibu

sekarang saat pengkajian dilakukan. Riwayat kesehatan yang lalu

dikaji untuk mengetahui apakah ibu mempunyai riwayat penyakit

seperti jantung, asma, hipertensi, ginjal dan diabetes melitus.

Riwayat penyakit menurun atau menular. Riwayat kembar atau

tidak. Riwayat alergi atau tidak. (Manuaba, 2008).

a. Penyakit sistemik yang pernah/sedang di derita

68
 Hepatitis

Penyebab penyakit ini adalah virus hepatitis, dan ada beberapa

jenis virus hepatitis yaitu hepatitis A, B, dan C. Jika sampai tidak

tertangani dengan baik, penyakit hepatitis yang terjadi di saat

masa kehamilan bisa menyebabkan kondisi yang cukup parah

seperti kerusakan hati hingga kematian. Bahkan yang paling

parah yang dapat terjadi adalah virus tersebut bisa menular

kepada janin dalam kandungan. Jenis hepatitis yang paling umum

sering terjadi pada saat kehamilan adalah hepatitis B dan hepatitis

C (Bandiyah, 2009).

 HIV

HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh human

immunodeficiency virus. Virus ini menyerang sel T (sel CD4)

dalam sistem imun yang tugas utamanya adalah melawan

infeksi.Ibu hamil yang terdiagnosis positif HIV juga dapat

menularkan infeksinya pada bayi di dalam kandungan lewat

plasenta. Tanpa pengobatan, seorang ibu hamil yang positif HIV

berisiko sekitar 25-30% untuk menularkan virus pada anaknya

selama kehamilan (Bandiyah, 2009).

 TBC

TBC adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru yang

diakibatkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis.

Banyak bahaya yang mengancam ibu hamil jika ibu hamil

mengidap penyakit TBC. Jika TBC pada ibu berada di sekitar

69
paru-paru, tentu tidaklah akan berpengaruh besar pada janin yang

ibu kandung. Jika ibu hamil mengidap TBC, bayi bisa lahir

dengan berat badan yang sangat rendah. Dalam kondisi terburuk,

jika TBC ibu tertular pada bayi yang sedang dikandung,

pertumbuhan bayi akan menjadi lambat. Bahkan, kondisi tersebut

bisa mengakibatkan keguguran (Dewi, 2012).

 Anemia

Anemia pada ibu hamil adalah kondisi ketika ibu yang tengah

mengandung mengalami kekurangan darah. Selama menjalani

masa kehamilan, seorang wanita membutuhkan sel darah dalam

jumlah yang lebih banyak daripada biasanya. Ini karena tidak

hanya ibu yang perlu asupan nutrisi dan oksigen, melainkan juga

janin. Apabila mengalami anemia, tentunya baik ibu maupun

janin tidak akan tercukupi kebutuhan nutrisi dan oksigennya

karena jumlah sel darah yang bertugas mengantarkan kedua

elemen tersebut tidak memadai. Pada perkembangannya, hal ini

bisa memicu masalah kesehatan pada ibu dan janin seperti

kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang tidak

ideal, bahkan kematian (Dewi, 2012).

 Malaria

Wanita hamil pengidap malaria berisiko membahayakan bayi

dalam kandungannya. Ia cenderung rentan memicu gangguan

kesehatan pada bayinya seiring menurunnya kekebalan tubuh.

Penyakit malaria menyebabkan bayi lahir dengan berat badan

70
rendah, bayi lahir prematur, kematian di dalam rahim, lahir

mati, serta lahir dengan mewarisi penyakit malaria ibunya saat

lahir (kongenital). Bahkan pada kasus tertentu, malaria

menyebabkan pendarahan otak (Dewi, 2012).

 Asma

Jika seorang ibu hamil memiliki asma, asma tersebut harus

terkontrol dengan baik, karena ibu hamil bernapas untuk bayi dan

dirinya sendiri guna memenuhi kebutuhan oksigen yang sangat

penting dalam pertumbuhan janin selama kehamilan. Asma harus

terkontrol dengan baik agar tidak berpengaruh buruk pada

kehamilan, persalinan ataupun menyusui (Bandiyah, 2009).

 Jantung

Akibat penyakit jantung dalam kehamilan, terjadi peningkatan

denyut jantung pada ibu hamil dan semakin lama jantung akan

mengalami kelelahan. Akhirnya pengiriman oksigen dan zat

makanan dari ibu ke janin melalui ari-ari menjadi terganggu dan

jumlah oksigen yang diterima janin semakin lama akan

berkurang. Janin mengalami gangguan pertumbuhan serta

kekurangan oksigen (Dewi, 2012).

 Hipertensi

Hipertensi adalah masalah yang paling sering dalam kehamilan.

Hipertensi merupakan 5-10% komplikasi dalam kehamilan dan

merupakan salah satu dari penyebab kematian tersering selain

perdarahan dan infeksi, dan juga banyak memberikan kontribusi

71
pada morbiditas dan mortalitas ibu hamil (Dewi, 2012).

 DM

Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyulit medik yang

sering terjadi selama kehamilan. Angka kejadian 3-5% dari

semua kehamilan. Peningkatan angka kematian dan angka

kesakitan perinatal pada kehamilan dengan DM berkolerasi

langsung dengan kondisi hiperglikema pada ibu. Kelainan

bawaan janin saat ini merupakan salah satu penyebab kematian

perinatal pada 10% kasus kehamilan dengan DM tipe 1 dan tipe 2

yang tidak teregulasi dengan baik. Bayi-bayi dengan makrosomia

akan terjadi kelambatan maturasi paru janin yang akhirnya

juga meningkatkan kejadian RDS. Kejadian kematian janin

intrauterin yang terjadi pada kasus-kasus kehamilan dengan DM

juga dikaitkan dengan kondisi hiperglikemia yang berakhir

dengan keadaan acidosis laktat (Dewi, 2012).

 IMS

Infeksi menular seksual alias IMS adalah penyakit yang

berpindah dari satu orang ke orang lainnya melalui hubungan

seksual. Proses penularan penyakit ini bisa terjadi akibat adanya

aktivitas seksual melalui mulut, anus, penis maupun vagina.

Infeksi menular seksual merupakan penyakit serius yang bisa

menyebabkan kemunculan berbagai komplikasi. Jika terjadi pada

ibu hamil, penyakit ini bisa mengancam keselamatan ibu maupun

janin yang ada di dalam kandungannya (Dewi, 2012).

72
b. Riwayat penyakit keluarga

Riwayat kesehatan keluarga adalah catatan informasi kesehatan

seseorang dan kerabat dekatnya. Bukan hanya orang tua, riwayat

kesehatan keluarga juga mencakup tiga generasi di antaranya:

Anak, Saudara laki-laki dan perempuan, Bibi dan paman, Kakek

dan nenek, Keponakan dan sepupu (Manuaba, 2008).

Keluarga memiliki genetik yang serupa dan diturunkan antar

anggota keluarga. Terlebih, sering kali keluarga juga memiliki

lingkungan dan gaya hidup yang serupa. Hal ini dapat

meningkatkan risiko kondisi kesehatan yang sama pada tiap

anggota keluarga. Kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan

gaya hidup yang serupa ini dapat menjadi petunjuk untuk

menentukan akan kemungkinan diturunkannya penyakit genetik

pada ibu hamil (Manuaba, 2008).

Penyakit-penyakit meliputi: Hepatitis, HIV, TBC, Anemia,

Malaria, Asma, Jantung, Hipertensi, DM, IMS, dan lain-lain.

Begitu pula dengan striae gravidarum akan muncul pada 90%

kehamilan. Pada kebanyakan wanita, striae gravidarum ini akan

berubah warna menjadi keputihan setelah kehamilan nanti.

Kemungkinan munculnya striae gravidarum dipengaruhi oleh

genetik atau keturunan (Walyani, 2015). Striae tidak dapat

dihindari, dan cenderung diturunkan dalam satu keluarga (Reeder,

2011).

c. Riwayat keturunan kembar

73
Kelahiran kembar banyak dipengaruhi oleh riwayat genetik. Jika

ibu atau pasangan memiliki riwayat kembar, maka peluang untuk

hamil anak kembar secara alami akan lebih tinggi dibanding

dengan pasangan yang tidak mewarisi gen kembar. Resiko

kehamilan kembar memang lebih tinggi dibandingkan kehamilan

tunggal (Manuaba, 2008).

d. Riwayat alergi

 Makanan

Alergi makanan adalah reaksi alergi yang muncul sesaat setelah

mengkonsumsi makanan tertentu. Hal tersebut diakibatkan oleh

adanya reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap

zat yang terkandung dalam makanan. Alergi makanan dapat

bersifat akut dan tiba-tiba. Akan tetapi jika kondisi ini

berlangsung dalam waktu yang lama, dikatakan kronis (Tyastuti,

2016).

 Obat

Alergi obat adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh

(sistem imun) terhadap suatu obat yang digunakan. Reaksi ini

muncul karena sistem kekebalan tubuh menganggap zat dalam obat

tersebut sebagai bahan yang dapat membahayakan tubuh (Tyastuti,

2016).

 Zat lain

Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh yang

tidak diduga sebelumnya, seperti tingkat sensitifitas yang lebih

74
tinggi terhadap bau atau cahaya. Perubahan jumlah kandungan

hormon dalam tubuh selama kehamilan juga turut membawa

perubahan. Hal ini, terkait pada reaksi tubuh Ibu ketika terpapar

allergen, zat yang memicu terjadinya alergi, seperti serbuk sari,

tungau debu, jamur, dan bulu dari hewan peliharaan. Dalam

beberapa kasus Ibu hamil, gejala yang dirasakan cenderung lebih

intens sementara yang lain justru menurun (Walyani, 2015).

e. Kebiasaan-kebiasaan

 Minum Jamu-Jamuan

Menurut standar konsep pengobatan tradisional, minum jamu

dibenarkan dan diperbolehkan dengan syarat zat – zat atau bahan

yang digunakan sudah terbukti efektif. Di Indonesia minum jamu

merupakan kebiasaan yang beresiko pada ibu hamil karena belum

semua bahan dan cara membuat jamu serta dosis

terstandar.Bahayanya adalah apabila ada endapan pada air

ketuban dapat menyebabkan air ketuban keruh sehingga

menyebabkab bayi sulit bernafas sehingga menyebabkan aspiksia

pada saat lahir (Tyastuti, 2016).

 Merokok

Paparan asap rokok yang dapat mengakibatkan resiko pada

kehamilan biasanya terjadi karena suami yang biasa merokok pada

saat berada didalam rumah bersama istri dan anak yang dapat

menyebabkan perokok pasif bagi keluarganya, atau secara langsung

wanita (ibu) yang sebagai perokok aktif. Merokok selama

75
kehamilan berkaitan dengan keguguran, perdarahan vagina,

kelainan prematur, dan BBLR (2500 gram lebih ringan dari bayi

yang tidak merokok). Jika usia ibu di atas 35 tahun ada juga

kenaikan berarti dalam resiko bayi menderita malformasi minor

dan BBLR, dengam segala bahaya yang menyertainya, sebanyak 5

kali lipat dari perokok muda (Romauli, 2011). Pengaruh asap rokok

dari suami sangat berbahaya karena 75% asap rokok akan terhirup

pada ibu hamil yang dikenal sebagai asap sampingan (perokok

pasif) yang lima kali lebih banyak mengandung karbon monoksida,

dan empat kali mengandung nikotin. Hal ini disebabkan oleh

komponen tembakau berupa karbon monoksida (CO) dan nikotin

yang dapat mempengaruhi berat badan lahir sebagai penyebab

prematur. Diketahui CO mengikat hemoglobin (Hb) membentuk

karboksi hemoglobin penyebab hipoksia janin terkait dengan

sindrom kematian bayi mendadak. Selain itu, nikotin dan CO dapat

menyebabkan vasokonstriksi dan berkurangnya aliran darah

termasuk mengurangi aliran darah ke rahim (Kamarudin, 2020).

 Minum-minuman keras

Alkohol yang di konsumsi ibu hamil dapat membahayakan

jantung ibu hamil dan merusak janin, termasuk menimbulkan

kecacatan dan kelainan pada janin dan menyebabkan kelahiran

premature. Tidak hanya pada peminum atau pemakai alkohol

rutin. Efek pemakaian alcohol

dalam kehamilan adalah pertumbuhan janin terhambat, retardasi

76
mental, kecacatan, kelainan jantung dan kelainan neonatal.

Munculnya efek ketidaknormalan pada ibu hamil dengan

konsumsi alcohol minimal 28,5 ml per hari dan terutama

konsumsi alkohol pada trimester pertama yang mengakibatkan

bayi lahir mati, abortus atau persalinan premature (Walyani,

2015).

 Obat terlarang

Penggunaan obat seperti heroin, kemudian metadon, kanabis,

kokain, dan amfetamin bila digunakan secara berlebihan pada

kehamilan berkaitan dengan keguguran, persalinan prematur,

berat badan lahir rendah, lahir mati, dan abnormalitas (Romauli,

2011).

15. Psikososial Spiritual

Status emosional dan psikologis ibu turut menentukan keadaan yang

timbul sebagai akibat atau diperburuk oleh kehamilan, sehingga

dapat terjadi pergeseran dimana kehamilan sebagai proses fisiologis

menjadi kehamilan patologis. Peristiwa kehamilan adalah peristiwa

fisiologis, namun proses alami tersebut dapat mengalami

penyimpangan sampai berubah menjadi patologis. Sehingga perlu

support atau dorongan dan dukungan dari orang terdekat dalam

keluarga (Walyani, 2015).

Menanyakan kepada klien tentang psikososial spiritual yang terdiri

dari:

a. Riwayat perkawinan

77
Untuk mengetahui status perkawinan, berapa kali menikah, syah

atau tidak, umur berapa menikah dan lama pernikahan

(Prawirohardjo, 2005).

b. Tanggapan dan dukungan keluarga terhadap kehamilan

Ditanyakan apakah pasien sudah menerima kondisinya saat ini

dan bagaimana harapan pasien terdapat kondisinya sekarang, hal

ini dikaji agar menemudahkan tenaga kesehatan dalam

memberikan dukungan secara psikososial kepada pasien

(Romauli, 2011).

Dukungan selama masa kehamilan sangat dibutuhkan bagi

wanita hamil, terutama dari orang terdekat apalagi ibu yang baru

pertama kali hamil. Seorang wanita akan merasa tenang dan

nyaman dengan adanya dukungan dan perhatian dari orang-

orang terdekat.

b. Pengambilan keputusan dalam keluarga

Dikaji untuk mengetahui siapa pengambil keputusan pertama dan

kedua dalam keluarga ketika terjadi sesuatu kepada pasien

(Romauli, 2011).

c. Ketaatan beribadah

Dikaji untuk mengetahui bagaimana ketaatan pasien dalam

beribadah menurut kepercayaan (Romauli, 2011).

e. Lingkungan yang berpengaruh

Dikaji untuk mengetahui dengan siapa ibu tinggal, bagaimana

dengan lingkungan sekitar rumah ibu dan apakah ibu

78
mempunyai hewan peliharaan. Hal ini dikaji untuk mengetahui

apakah lingkungan rumah mempunyai pengaruh terhadap

kesehatan ibu (Romauli, 2011).

- Data Objektif

Data obyektif adalah data yang didapatkan dari pasien sebagai suatu

pendapat terhadap situasi dan kejadian (Nursalam, 2008)

8. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum

Untuk mengetahui keadaan ibu dan tingkat kesadaran pasien,

sedang atau baik. kesadaran penderita sangat penting dinilai,

dengan melakukan anamnesis. Kesadaran dinilai baik jika

dapat menjawab semua pertanyaan (penderita sadar akan

menunjukkan tidak ada kelainan psikologis) (Bobak, 2005).

b. Kesadaran

Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita

dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari

keadaan komposmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan

koma (pasien tidak dalam keadaan sadar) (Sulistyawati, 2011).

c. Tanda vital

 Tekanan Darah

Untuk mengetahui faktor resiko hipertensi. Batas normal

120/80mmHg – <140/90mmHg (Prawirohardjo, 2010).

79
 Nadi

Dalam keadaan santai denyut nadi ibu sekitar 60-80x/menit.

Denyut nadi 100x/menit atau lebih dalam keadaan santai

merupakan pertanda buruk atau dicurigai hipotiroid (Marni,

2014).

 Pernafasan

Untuk mengetahui fungsi sistem pernafasan normalnya 16-

24x/menit (Romauli, 2011).

 Suhu tubuh

Suhu tubuh yang normalnya adalah 36-37,5C perlu diwaspadai

adanya infeksi (Romauli, 2011).

d. Berat badan

Untuk mengetahui berat badan pasien dalam satuan kilogram. Ibu

yang menurut kategori BMI berada pada rentang obesitas lebih

berisiko mengalami komplikasi kehamilan. Komplikasi tersebut

antara lain diabetes gestasional, hipertensi akibat kehamilan, dan

distosia bahu (Fraser et al, 2009)

Lonjakan pertumbuhan dan penambahan berat badan secara tiba-

tiba membuat jaringan ikat dibawah kulit dapat meregang,

mengalami ruptur, dan atrofi, menimbukan jaringan parut yang

khas berupa striae karena setiap saat kulit adalah subjek

peregangan yang cepat (Reeder, 2011).

Menurut Walyani (2015), berat badan mempengaruhi timbulnya

striae gravidarum. Menjaga berat badan agar stabil atau

80
meningkat perlahan-lahan. Hindari peningkatan berat badan

terlalu banyak dalam satu waktu untuk menghindari

overstretching dari kulit.

Proporsi kenaikan berat badan hamil adalah:

 Trimester I lebih kurang 1 kg,

 Trimester II adalah 3 kg,

 Trimester III adalah 6 kg atau 0,3-0,5 per minggu.

e. Tinggi badan

Mengetahui tinggi badan ibu, karena tinggi badan ibu

mempengaruhi ketika tindakan yang akan dilakukan ketika

persalinan. Bila tinggi badan <145 cm, salah satu faktor resiko

panggul sempit, kemungkinan sulit melahirkan secara normal

(Buku KIA, 2018).

f. IMT

Menurut Saryono (2010) berat badan dilihat dari Quetet atau Body

massa indek (Indek Masa Tubuh = IMT). Ibu hamil dengan berat

badan dibawah normal sering dihubungkan dengan abnormalitas

kehamilan, berat badan lahir rendah. Sedangkan berat badan

overweight meningkatkan resiko atau komplikasi dalam kehamilan

seperti hipertensi, janin besar sehingga terjadi kesulitan dalam

persalinan. Penilaian indeks masa tubuh diperoleh dengan rumus:

IMT = BB sebelum hamil

(kg) TB2 (meter)

81
Peningkatan berat badan ibu selama kehamilan berdasarkan IMT:

- ibu dengan berat badan kurang (IMT < 18,5): 15kg-20kg

- Ibu dengan berat badan normal (IMT < 18,5-22,9):12,5kg-15kg

- Ibu dengan berat badan berlebih (IMT > 22,9): 7,5kg-12,5kg

a. LILA

Untuk mengetahui satuan gizi pasien, apakah masuk dalam

kekurangan energy kronik (KEK) atau tidak.

Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk

skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK).

Kurang energi kronis disini maksudnya ibu hamil yang

mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama

(beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Ibu

hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir

rendah (BBLR) (Ai Yeyeh, 2011).

9. Head To Toe

a. Kepala dan Wajah

 Kulit kepala

Diperhatikan kulit kepala bagaimana pertumbuhan rambutnya,

apakah rambut mudah rontok atau tidak. Rambut yang mudah

di cabut menandakan kurang gizi atau kelainan tertentu

(romauli, 2011).

 Edema wajah

Edema pada muka atau edema seluruh tubuh merupakan salah

satu tanda gejala adanya preeklampsia (Saifuddin, 2010).

82
 Cloasma gravidarum +/-

Pada pipi, hidung dan dahi tampak deposit pigmen yang

berlebihan yang dikenal dengan cloasma gravidarum yang

merupakan masalah kulit yang umum pada ibu hamil

(Maharani, 2015).

 Mata

Dikaji untuk mengetahui apakah sclera ikterik dan konjungtiva

anemis atau tidak. Bentuk simetris, konjungtiva normal warna

merah muda, bila pucat menandakan anemia. Sklera normal

berwarna putih, bila kuning menandakan ibu mungkin

terinfeksi hepatitis, bila merah kemungkinan ada

konjungtivitis. Kelopak mata yang bengkak kemungkinan

adanya pre-eklamsia (Romauli, 2011).

 Mulut & gigi

Dikaji untuk mengetahui mulut stomatis atau tidak.

Stomatis/Sariawan adalah penyakit yang muncul pada jaringan

lunak pada mulut atau pada dasar gusi yang berbentuk luka

kecil dan dangkal dengan tepiannya yang berwarna merah

akibat peradangan. Sariawan ini dapat menimbulkan rasa sakit

dan tidak nyaman pada ibu hamil. Sariawan yang tidak kunjung

sembuh menyebabkan infeksi (Lalega, 2013).

Gigi dikaji untuk Adanya caries atau keropos yang

menandakan ibu kekurangan kalsium. Adanya kerusakan gigi

dapat menjadi sumber infeksi (Romauli, 2011).

83
b. Leher

Normal bila tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada

pembesaran limfe dan tidak ditemukan bendungan vena

jugularis (Romauli, 2011).

 Kelenjar tyroid

Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar

tyroid atau tidak. Hipotiroid yang tidak diobati selama

kehamilan dapat menyebabkan preeklamsia, anemia,

keguguran, berat badan bayi rendah, gagal jantung kongestif,

sehingga kelahiran mati (Romauli, 2011).

 Pembuluh limfe

Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar

limfe atau tidak. Pembengkakan getah bening di leher biasanya

akibat infeksi pada sistem pernapasan bagian atas pada

kehamilan. Apabila kelenjar ini mengalami peradangan atau

terkena limfadenitis, maka hal ini mengindikasikan gangguan

pada tubuh sehingga ibu hamil rentan mengalami gangguan

yang berimbas pada kondisi bayi di dalam kandungan

(Romauli, 2011).

 Vena Jugularis

Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran vena

jugularis atau tidak. Pemeriksaan pada leher untuk melihat

vena jugularis, dapat memberikan gambaran tentang aktifitas

jantung. (Romauli, 2011).

84
c. Dada dan Payudara

 Dada

Normal bila tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada

wheezing dan ronhci, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa

abnormal (Manuaba, 2012).

 Payudara

Adanya hiperpigmentasi areola, puting susu bersih dan

menonjol. Pada minggu ke-12 kolostrum mulai keluar dari

papila mammae pada pasien multigravida yang telah mantap

menyusui pada masa kehamilan sebelumnya. Wanita

primigravida baru akan memproduksi kolostrum pada masa

akhir kehamilan (Romauli, 2011).

Perubahan kulit pada payudara disebabkan karena peregangan

pada lapisan kolagen. Peregangan maksimum menyebabkan

area teregang menjadi lebih tipis, yang tampak seperti garis

merah awalnya yang berubah menjadi garis putih berkilauan

(sikatrik) yang disebut striae gravidarum (Walyani, 2015).

d. Abdomen
 Inspeksi
(a)Bentuk

Ukuran uterus dapat dikaji melalui observasi. Kandung kemih

yang penuh, kolon yang terdistensi, atau obesitas, dapat

memberi kesan yang salah tentang ukuran janin. Pada sebagian

besar kasus, bentuk uterus lebih panjang ketika janin berada

pada posisi longitudinal. Jika janin berada pada posisi

85
transversal, uterus berbentuk 201 melebar dan terletak lebih

rendah. Umbilikus menjadi kurang cekung sejalan dengan

perkembangan kehamilan dan cepat sedikit menonjol pada

minggu-minggu terakhir. Ketika ibu sedang berdiri, abdomen

dapat tampak lebih tipis. Otot abdomen yang lemah pada ibu

multipara dapat menyebabkan uterus condong ke depan

(Fraser dkk, 2009).

(b)Bekas luka

BSC (Bekas Sectio Caesarea) dapat mengindikasikan adanya

operasi abdomen atau obstetrik yang pernah dilakukan

sebelumnya (Fraser dkk, 2009).

(c) Striae gravidarum

Striae gravidarum umumnya melintang di sepanjang dinding

perut. Perubahan kulit disebabkan karena peregangan pada

lapisan kolagen. Peregangan maksimum menyebabkan area

teregang menjadi lebih tipis, yang tampak seperti garis merah

awalnya yang berubah menjadi garis putih berkilauan

(sikatrik) yang disebut striae gravidarum (Walyani, 2015).

(d) Linea

Linea nigra dapat terlihat sebagai garis berwarna gelap akibat

pigmentasi yang terletak memanjang di bagian tengah

abdomen di bawah dan terkadang di atas umbilicus (Fraser

dkk, 2009).

 Palpasi Leopold

86
(a)Leopold I

Untuk mengetahui TFU dan bagian apakah yang terdapat di

fundus. Jika teraba benda bulat, melenting, mudah digerakkan,

maka itu adalah kepala. Namun jika teraba benda bulat, besar,

lunak, tidak melenting itu adalah bokong.

(b) Leopold II

Untuk mengetahui bagian-bagian janin yang teraba di sebelah

kanan dan kiri perut ibu. Jika teraba bagian yang rata, terasa

ada tahanan, tidak teraba bagian kecil, maka itu adalah

punggung bayi. Namun jika teraba bagian-bagian kecil dan

menonjol maka itu adalah bagian kecil janin.

(c)Leopold III

Untuk mengetahui bagian terbawah janin, bokong atau kepala

jika teraba bagian yang bulat, melenting, keras, dan dapat

digoyangkan maka itu adalah kepala. Namun jika teraba

bagian yang bulat, besar, lunak dan sulit digerakkan maka ini

adalah bokong. Jika dibagian bawah tidak ditemukan kedua

bagian seperti tersebut, maka pertimbangkan apakah janin

dalam letak melintang.

(d) Leopold IV

Untuk mengetahui apakah bagian terbawah janin sudah masuk

PAP atau belum. Jika kedua tangan konvergen (dapat saling

bertemu) berarti kepala belum masuk panggul. Jika kedua

tangan divergen (tidak saling bertemu) berarti kepala sudah

87
masuk panggul (Mastiningsih, 2019)

 TBJ

Untuk mengetahui perkiraan berat janin. Dihitung dengan cara

TFU bila kepala sudah masuk panggul dikurangi 11 dan bila

kepala janin belum masuk panggul dikurangi 12 dikali 155

(Mastiningsih, 2019).

 Auskultasi

Auskultasi adalah pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi

dengan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan bunyi

detak jantung janin, bising tali pusat, bising rahim, serta bising

usus. Denyut jantung janin normalnya 120-160x/menit

(Hidayat, 2008)

 Ekstremitas atas dan bawah

(a)Edema

Pada ibu hamil trimester III sering terjadi edema dependen,

yang disebabkan karena kongesti sirkulasi pada ekstremitas

bawah, peningkatan kadar permeabilitas kapiler, tekanan dari

pembesaran uterus pada vena pelvik ketika duduk atau pada

vena kava inferior ketika berbaring. Jika edema muncul pada

muka, tangan, dan disertai proteinuria serta hipertensi perlu

diwaspadai adanya pre eklampsia (Marmi, 2014)

(b) Varices

Semakin besar kehamilan maka akan terjadi peningkatan

88
tekanan di pembuluh darah vena kaki. Kadar progesterone

yang tinggi juga dapat menyebabkan relaksasi pembuluh vena

di kaki sehingga semakin memudah kan terjadinya varises. Hal

ini akan menghilang setelah proses kelahiran namun terkadang

kondisi ini mengganggu selama kehamilan (Walyani, 205).

Varises merupakan kondisi yang terjadi saat pembuluh darah

yang terletak cukup dekat dengan permukaan kulit mengalami

pembengkakan ataupun pelebaran. Varises dapat menyebabkan

pembuluh darah menjadi berwarna biru maupun ungu dan

menonjol keluar. Dalam keadaan tertentu peradangan pada

varises bisa menyebabkan ibu hamil mengalami komplikasi.

Seperti: Borok kaki (ulserasi), Ulkus (luka di sekitar pembuluh

darah), Pembuluh darah pecah (pendarahan), Peradangan

kronis pembuluh darah tungkai atau gumpalan darah

(tromboflebitis) (Walyani, 205).

(c)Reflek patella

Bila tungkai bawah akan bergerak sedikit ketika tendon

ditekuk. Bila gerakannya berlebihan dan cepat, maka hal ini

mungkin merupakan tanda pre eklamsia. Bila reflek patella

negatif kemungkinan pasien mengalami kekurangan B1

(Romauli, 2011).

 Genetalia luar

Pemeriksaan alat genetalia eksterna terdiri dari inspeksi vulva

untuk mengetahui pengeluaran cairan atau darah dari liang

89
senggama, perlukaan pada vulva/labium mayus, dan

pertumbuhan abnormal (kondiloma akuminata-lata, kista

bartholini, abses bartholini, fibroma labium mayus). Pada

palpasi vulva akan teraba tumor pada vulva, teraba benjolan

atau penebalan labium mayus, dan teraba pembengkakan

kelenjar Bartholini (Manuaba, 2010).

Pemeriksaan genetalia dilakukan dengan mencari adanya lesi,

eritema, perubahan warna, pembengkakan, ekskoriasi dan

memar. Bila ada lesi kemungkinan menunjukkan sifilis atau

herpes (Marmi, 2014).

 Anus

Hemoroid

Hemoroid sering didahului oleh konstipasi. Oleh karena itu,

semua penyebab konstipasi berpotensi menyebabkan

hemoroid. Progesteron juga menyebabkan relaksasi dinding

vena dan usus besar. Selain itu, pembesaran uterus

mengakibatkan peningkatan tekanan, secara spesifik juga

secara umum pada vena hemoroid (Varney, 2006).

10. Pemeriksaan penunjang

Mendukung diagnosa medis, kemungkinan komplikasi, kelainan

dan penyakit yang menyertai kehamilannya (Nursalam, 2008)

(a)Tes Golongan darah

Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk

mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk

90
mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu

diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan

(Kumalasari, 2015).

(b) Tes Hb / Haemoglobin

Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan

minimal sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester

ketiga menjelang persalinan. Pemeriksaan ini ditujukan untuk

mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak

selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat

mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam

kandungan (Kumalasari, 2015).

Kategorinya adalah:

• Normal >11,5gr-12gr

• Ringan >10gr-11gr

• Sedang > 8gr-9gr

• Berat <8gr

(b) Tes protein urine

Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada

trimester kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini

ditujukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil.

Proteinuria merupakan salah satu indikator terjadinya

preeklampsia pada ibu hamil (Kumalasari, 2015).

Kategorinya adalah :

• Negatif : bila larutan jernih

91
• Positif + : bila larutan keruh

• Positif ++ : bila larutan keruh berbutir

• Positif +++ : bila larutan membentuk awan

• Positif ++++ : menggumpal

(c)Tes glukosa/reduksi urine

Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus

dilakukan pemeriksaan gula darah selama kehamilannya

minimal sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester

kedua, dan sekali pada trimester ketiga (terutama pada akhir

trimester ketiga). DMG pada ibu hamil dapat mengakibatkan

adanya penyakit berupa preeklamsia, polihidramnion dan bayi

besar (Kumalasari, 2015).

Kategorinya adalah :

• Negatif : biru kehijauan

• Positif + : hijau kekuning-kuningan

• Positif ++ : kuning keruh

• Positif +++ : kuning kemerahan

• Positif ++++ : Merah Keruh

(d) Tes HIV

Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi

kasus HIV dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu

hamil setelah menjalani konseling kemudian diberi kesempatan

untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes

HIV (Kumalasari, 2015).

92
(e)Tes Malaria

Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan

pemeriksaan darah Malaria dalam rangka skrining pada kontak

pertama. Ibu hamil di daerah non endemis Malaria dilakukan

pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi (Kumalasari,

2015).

2) Identifikasi Diagnosa Masalah

Setelah data dikumpulkan teknik berikutnya adalah melakukan

identifikasi terhadap kemungkinan diagnosis dan masalah

kebutuhan pasien hamil. Interpretasi data tersebut sebatas

lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur

nama diagnosis kebidanan yang diakui oleh profesi dan

berhubungan langsung dengan praktik kebidanan, serta

didukung oleh pengambilan keputusan klinis (clinikal

judgmet) dalam praktik kebidanan yang dapat diselesaikan

dengan manajemen kebidanan (mufdillah, 2012).

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau

masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data yang di

kumpulkan yaitu dengan diagnosa kebidanan (Varney, 2004).

- Diagnosa

Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan dalam

lingkup praktik kebidanan (Varney, 2004).

Ny X G P 0 (kelahiran aterm), 0 (prematur), 0 (abortus), 0 (anak

yang hidup), umur…tahun hamil..minggu, janin tunggal atau

93
kembar, hidup atau mati, intra atau ekstra, letak memanjang atau

melintang, presentasi kepala atau bokong, punggung kanan atau

kiri.

Data dasar:

(1) Data Subyektif

Data subyektif adalah data yang didapatkan dari pasien

sebagai suatu pendapat terhadap suatau situasi dan kejadian,

informasi tersebut tidak dapat ditentukan oleh tenaga kesehatan

secara independen tapi melalui suatu interaksi atau informasi

atau komunikasi (Nursalam, 2007).

(2) Data obyektif

Data obyektif adalah data yang sesungguhnya dapat

diobservasi dan dilihat oleh tenaga kesehatan (Nursalam,

2007).

- Masalah

Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman

klien yang ditemukan dari hasil pengkajian yang menyertai

diagnosa (Varney, 2004).

Masalah pada trimester II, yaitu:

(a) Keputihan

(b) Cloasma gravidarum

(c) Striae gravidarum

(d) Kram pada kaki

(e) Konstipasi

94
(f) Ambeien

3) Identifikasi Diagnosa Potensial

Diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan

diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan

antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil

mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa

atau masalah potensial ini benar-benar terjadi (mufdillah, 2012).

4) Identifikasi Kebutuhan Segera, Kolaborasi dan Rujukan

Cara ini dilakukan setelah diagnosa potensial diidentifikasi.

Penetapan masalah ini dilakukan dengan cara mengantisipasi dan

menentukan kebutuhan apa saja yang akan diberikan kepada ibu

hamil. Data tersebut dapat menentukan tindakan yang dan akan

dilakukan seperti berkonsultasi dan berkolaborasi dengan tenaga

kesehatan lain dan persiapan untuk menentukan tindakan yang tepat

(mufdillah, 2012).

5) Perencanaan

Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah

sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang

telah diidentifikasi atau diantisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh

tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat kondisi pasien atau dari

setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka

pedoman antisipasi bagi wanita tersebut yaitu apa yang akan terjadi

berikutnya. Penyuluhan, konseling dari rujukan untuk masalah-

masalah sosial, ekonomi atau masalah psikososial (mufdillah, 2012).

95
Langkah-langkah Perencanaan:

1) Informasikan hasil pemeriksaan kepada ibu hamil

2) Berikan KIE tentang:

- Masalah yang dihadapi saat ini dan penangannya

- Ketidaknyamanan pada kehamilan trimester II

- Tanda-tanda bahaya pada kehamilan trimester II

2) Berikan resep multivitamin yang terdiri dari Vit C, Fe dan

menjelaskan cara meminumnya.

3) Diskusikan jadwal kunjungan ulang sesuai jadwal berikutnya, atau

sewaktu- waktu jika ada keluhan

6) Pelaksanaan

Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan

pada klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana

asuhan secara efisien dan aman (mufdillah, 2012).

Langkah-langkah Pelaksanaan:

1) Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu hamil

2) Memberikan KIE tentang:

- Masalah yang dihadapi saat ini dan penanganannya

- Ketidaknyamanan pada kehamilan trimester III

- Tanda-tanda bahaya pada kehamilan trimester II

2) Menganjurkan ibu untuk menggunakan pakaian dan sepatu yang

nyaman selama kehamilan

3) Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan pada vagina

4) Menganjurkan ibu untuk menjaga pola makan dan selalu

96
mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang berfungsi

untuk pemenuhan nutrisi bagi dirinya dan janin yang

dikandungnya

5) Mendiskusikan pada ibu tentang pola hubungan seksual

6) Memberikan resep multivitamin yang terdiri dari B1, Fe dan

menjelaskan cara meminumnya

7) Mendiskusikan jadwal kunjungan ulang sesuai jadwal berikutnya,

atau sewaktu- waktu jika ada keluhan

7) Evaluasi

Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa

yang telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan

yang telah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan

apakah benar – benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana

yang telah diidentifikasi dalam diagnosa dan masalah. Rencana

tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam

pelaksanaannya.

1) Ibu bertanya aktif dan mengerti tentang penjelasan yang diberikan

2) Ibu bertanya aktif dan mampu mengulang poin-poin penting

dari KIE yang disampaikan

3) Ibu bersedia melakukan anjuran yang diberikan

4) Ibu setuju dan menyanggupi untuk menjaga pola hubungan seksual

5) Ibu dapat menjelaskan kembali cara meminum multivitamin

6) Ibu setuju dan menyanggupi untuk kunjungan ulang

97
BAB III
TINJAUAN KASUS
Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Trimester III Fisiologis
di PMB Sukarsih Amd.Keb Tahun 2023

Tanggal 01 Januari 2023


Pukul 16.00 Wib
Oleh Pebbin Kori Sari
Di PMB Sukarsih Amd.Keb
A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas/Biodata
Biodata Ibu Suami
Nama : Ny. R Tn. W
Umur : 27 Tahun 30 Tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/ Indonesia
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SLTA SLTA
Pekerjaan : IRT Petani
Alamat : Jl. Anggrek Jl. anggrek

Kunjungan saat ini : Kunjungan Pertama Kunjungan Ulang


2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya dan mengeluh
sering BAK sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman
3. Riwayat Menstruasi

98
Siklus : 28 hari
Teratur/tidak : Teratur
4. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
G2P101
Persalinan & BBL Nifas
Tgl lahir Umur Jenis Persalinan Penolong Tempat Komplikasi Jenis BB Laktasi Komplikasi
Hamil Persalinan
Kelahiran Ibu Bayi Kelamin Lahir
Ke
1 26-10-2016 9 bulan normal bidan PMB - - PR 2900gr baik -

5. Riwayat kontrasepsi yang digunakan


No Jenis Mulai Memakai Berhenti/Ganti Cara
Kontrasepsi Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Keluhan
1. bidan PMB Haid bidan PMB -
Suntik 3 bln 09-11- 13-02-22
sedikit
2016

99
6. Riwayat kehamilan ini
a. Riwayat ANC
HPHT : 21-05-2022
TP : 28-02-2023
UK : 32-33minggu
Ini merupakan kunjungan ke 5 ibu ke PMB Sukarsih. Pada kunjungan
sebelumnya ibu mendapatkan konseling tentang kebutuhan nutrisi, istirahat,
aktifitas, kemudian ketidaknyamanan yang mungkin terjadi selama kehamilan
seperti sering BAK dapat diterima ibu. Ibu telah mendapatkan terapi berupa zat
besi (Fe) pada kunjungan sebelumnya. Ibu telah dilakukan pemeriksaan
laboratorium pada tanggal 03-12-2022 hasilnya Hb 11,3gr%. Gerakan janin telah
dirasakan ibu sejak usia kehamilan 20 mg(5 bln) hingga saat ini. Ibu berencana
melahirkan di PMB Sukarsih.

b. Pola Keseharian
Nutrisi : makan 3-4x sehari dengan porsi sedang, berupa nasi, lauk dan
sayuran. Sering makan biskuit untuk cemilan. Minum 6-7
gelas sehari,
Eliminasi : BAK ±15 kali/ hari, BAB 1 kali/ hari. Kencing sedikit tapi sering
Aktivitas : ibu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya
Istirahat : 1-2 jam tidur siang, saat malam tidur 6-7 jam
Seksual : 1x per minggu sejak hamil, tidak ada keluhan

c. Personal Hygiene
Kebiasaan mandi : 2 kali/hari
Menggosok gigi : 2 kali/hari
Kebiasaan membersihkan alat kelamin : Setiap BAK, BAB, dan saat mandi
Kebiasaan menganti pakaian dalam : Sesudah mandi
Jenis pakaian dalam yang digunakan : Katun

d. Imunisasi
TT 1= sudah TT 2= sudah
TT 3= sudah TT 4= sudah
TT 5 = sudah

7. Riwayat kesehatan
a. Penyakit sistemik yang pernah/sedang di derita
Tidak sedang dan tidak pernah menderita penyakit hepatitis, HIV, TBC, anemia,
malaria, asma, jantung, hipertensi, DM, dan IMS.

b. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga


Dari keluarga ibu maupun suami tidak ada keluarga yang pernah menderita
penyakit hepatitis, HIV, TBC, anemia, malaria, asma, jantung, hipertensi, DM,

100
dan IMS.

c. Riwayat keturunan kembar


Tidak ada

d. Riwayat Alergi
Tidak pernah menderita alergi dari makanan, obat, maupun zat lain.

e. Kebiasan-kebiasaan
Tidak pernah minum jamu-jamuan, merokok, minum-minuman keras, dan obat-
obatan terlarang.

8. Keadaan Psiko Sosial Spiritual


a. Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali. Kawin pertama umur 20 tahun.
Dengan suami sekarang 7 tahun 4 bulan
b. Tanggapan dan dukungan keluarga terhadap kehamilan
Diinginkan √ Tidak diinginkan

c. Pengambilan keputusan dalam keluarga


Suami
d. Ketaatan ibu dalam beribadah
Taat beribadah
e. Lingkungan yang berpengaruh
Ibu tinggal dirumah dengan suami dan anaknya. Dalam keluarga tidak ada
tradisi khusus yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin yang
dikandungnya. Ibu memiliki hewan peliharaan (ayam).

B. DATA OBJEKTIF
1. PemeriksaanUmum
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Composmetis
c. Tanda vital
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,0C
d. BB : sebelum hamil 53 kg, BB sekarang 62 kg
e. TB : 157 cm
f. IMT : normal (62:2,4= 25)
g. LILA : 27 cm

101
2. Pemeriksaan Khusus
a. Kepala dan Wajah
Edema wajah : Tidak ada
Cloasma gravidarum : Tidak ada
Mata : Tidak ikterik, konjungtiva merah muda

b. Leher
Kelenjar Tyroid : Tidak ada
Pembuluh Limfe : Tidak ada
Vena Jugularis : Tidak ada
c. Dada & Payudara
Bentuk :Simetris
Areola mammae :Menghitam
Putting susu : Menonjol
Benjolan : Tidak ada
Colostrums : Belum ada
Aksila : Tidak ada pembengkakan kelenjar
Strie gravidarum : tidak ada

d. Abdomen
1) Inspeksi
Bentuk : perut mulai membesar sesuai dengan usia kehamilan
Bekas luka : Tidak ada
Strie gravidarum : warna merah
Linea : alba
2) Palpasi
Leopold I : TFU 28 cm( pertengahan pusat dengan PX)
Leopold II : Puka
Leopold III : teraba kepala, janin tunggal intra uteri
Leopold IV : kepala belum memasuki PAP
3) TBJ : 28-13x157=2,355 gr
4) DJJ : 146x/i
5) Ekstremitas Atas & Bawah
Edema : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Reflek patella : (+)

C. ANALISIS
1. Diagnosa
Ibu G2P1001 UK 32-33 minggu, Tunggal Intra uteri keadaan umum ibu dan janin baik,
Let_Kep.

D. PENATALAKSANAAN
Tanggal 01 januari 2023 jam 16.00 WIB
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa saat ini ibu dan janin yang
dikandungnya dalam keadaan yang baik.
E : Ibu bertanya aktif dan mengerti tentang penjelasan yang diberikan.
102
2. Menginformasikan dan menjelaskan terkait keluhan ibu yaitu sering BAK adalah
masalah fisiologis pada ibu hamil dan ketidaknyamanan umum yang terjadi pada
trimester III. Sering BAK diakibatkan karena bertambahnya usia kehamilan dan
janin mulai bertambah beratnya sehingga menyebabkan ada penekanan dibagian
kandung kemih ibu.
E : Ibu bertanya aktif dan mengerti tentang penjelasan yang diberikan.
3. Memberikan KIE tentang :
a. Bagaimana penanganan sering BAK yaitu menganjurkan ibu untuk membatasi
porsi minum air putih pada saat malam hari. Minum air yang cukup (8 gelas
sehari), diit karbo agar berat badan ibu bertambah sesuai dengan usia
kehamilanya. Hindari mengonsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, atau
minuman bersoda, karena bisa membuat Bumil lebih sering buang air kecil.
a. Pastikan minum air putih setidaknya 8 gelas sehari. Namun, hindari minum 2-
3 jam sebelum tidur.
b. Jangan menahan rasa ingin buang air kecil karena hal ini mungkin bisa
meningkatkan frekuensi ke toilet.
c. Menganjurkan ibu untuk latihan kegel, mengkosongkan kandung kemih
sebelum tidur.
d. Ketidaknyamanan lain yang normal pada kehamilan trimester III yaitu
keputihan, cloasma gravidarum, striae gravidarum, kram pada kaki,
konstipasi, haemoroid serta sering BAK
e. Tanda-tanda bahaya pada kehamilan trimester III yaitu bayi kurang bergerak
seperti biasa, demam tinggi, tekanan darah tinggi, preeklampsia.
E : Ibu bertanya aktif dan mampu mengulang poin-poin penting dari KIE yang
disampaikan.
4. Menganjurkan ibu untuk selalu mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang
yang berfungsi untuk pemenuhan nutrisi bagi dirinya dan janin yang
dikandungnya serta istirahat yang cukup
E : Ibu bersedia melakukan anjuran yang diberikan.

5. Memberikan resep multivitamin yang terdiri dari Kalk 1x1, Vit.C 1x1 dan Fe
1x1, dan menjelaskan cara meminumnya
E : Ibu dapat menjelaskan kembali cara meminum multivitamin

6. Anjurkan ibu untuk periksa ke PKM jika keluhan sering BAK semakin sering
103
serta diiringi dengan demam dan keluhan lainya.

E : ibu dapat memahami perintah dan anjuran yang diberikan

7. Anjurkan ibu untuk pemeriksaan USG untuk mengetahui keadaan janin seperti
keadaan bagian terbawah, berat janin, letak plasenta dan ketuban.

E : ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan

8. Mendiskusikan jadwal kunjungan ulang 4 minggu lagi saat usia kehamilan ibu 35
minggu yaitu tanggal 08-02-2023 atau sewaktu-waktu jika ada keluhan
E : Ibu setuju dan menyanggupi untuk kunjungan ulang.

104
BAB IV
PEMBAHASAN

Pengkajian dilakukan pada tanggal 01 Januari 2023 jam 16.00 WIB data

diperoleh dari pasien, keluarga pasien dan buku Kesehatan Ibu dan Anak serta

petugas kesehatan, melalui observasi dan wawancara.

Klien mengeluh sering BAK dengan frekuensi kurang lebih 15 kali dalam

sehari. Menurut (Hutahaen, 2013). Frekuensi kemih meningkat pada trimester III

karena terjadi efek lightening. Lightening yaitu bagian presentasi akan menurun masuk

kedalam panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.

Peningkatan frekuensi berkemih disebabkan oleh tekanan uterus karena turunnya

bagian bawah janin sehingga kandung kemih tertekan, kapasitas kandung kemih

berkurang dan mengakibatkan frekuensi berkemih meningkat (Ardiansyah, 2016). Pada

trimester III kandung kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul sejati ke arah

abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser kearah

atas. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukan oleh hiperemia kandung kemih dan

uretra. Tonus kandung kemih dapat menurun. Hal ini memungkinkan distensi kandung

kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama pembesaran uterus menekan

kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih meskipun kandung kemih hanya

berisi sedikit urine. Sering BAK dapat diatasi dengan beberapa cara diantaranya adalah:

1) Latihan kegel

2) Ibu hamil disarankan tidak minum saat 2-3 jam sebelum tidur

3) Kosongkan kandung kemih sesaat sebelum tidur.

Namun agar kebutuhan air pada ibu hamil tetap terpenuhi, sebaiknya minum

lebih banyak di siang hari (Hutahaean, 2013).

105
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

Menurut Buku KIA (2020), kunjungan antenatal untuk pemanfaatan dan

pengawasan kesejahteraan ibu dan anak dilakukan paling sedikit 6 (enam) kali selama

masa kehamilan meliputi; 2 (dua) kali pada trimester pertama; 1 (satu) kali pada

trimester kedua; dan 3 (tiga) kali pada trimester ketiga. Keteraturan ANC adalah

kedisiplinan / kepatuhan ibu hamil untuk melakukan pengawasan sebelum anak lahir

terutama ditujukan pada anak. Ibu yang tidak mendapatkan asuhan antenatal memiliki

risiko lebih tinggi kematian maternal, stillbirth, dan komplikasi kehamilan lainnya.

Asuhan antenatal rutin bermanfaat untuk mendeteksi komplikasi pada kehamilan

seperti anemia, preeklamsia, diabetes melitus gestasional, infeksi saluran kemih

asimtomatik dan pertumbuhan janin tehambat (Saifuddin, 2012).

Sering BAK merupakan masalah fisiologis pada ibu hamil, hal ini disebabkan

oleh Aliran plasma renal meningkat 30% dan laju fitrasi glomerulus meningkat (30

sampai dengan 50%) pada awal kehamilan mengakibatkan poliuri. Usia kehamian 12

minggu pembesaran uterus menyebabkan penekanan pada vesika urinaria

menyebabkan peningkatan frekuensi miksi yang fisiologis. Kehamilan trimester II

kandung kencing tertarik ke atas pelvik dan uretra memanjang. Kehamilan trimester

III kandung kencing menjadi organ abdomen dan tertekan oleh pembesaran uterus

serta penurunan kepala sehingga menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil

(Wagiyo dan Putrono, 2016)

Asuhan kebidanan yang dilakukan yaitu pengkajian data subjektif (kaji

identitas, kaji riwayat persalinan lalu, kaji pola makan, kaji riwayat kesehatan) dan

data objektif (pemeriksaan fisik dengan kaji kenaikan BB selama kehamilan,

106
pemeriksaan payudara dan abdomen dengan kaji frekuensi BAK), dan berikan

pendidikan kesehatan tentang cara mengatasi BAK pada ibu hamil yaitu dengan cara:

1) Latihan kegel

2) Ibu hamil disarankan tidak minum saat 2-3 jam sebelum tidur

3) Kosongkan kandung kemih sesaat sebelum tidur.

B. Saran

1. Tenaga Kesehatan

Bagi tenaga tesehatan terutama bidan, untuk meningkatkan manajemen asuhan

kebidanan pada ibu hamil sehingga adanya pelayanan yang berkualitas dan dapat

mencegah atau memberi penatalaksanaan yang tepat sesuai permasalahan ibu hamil.

2. Pasien

Bagi pasien atau ibu hamil, agar rajin untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya

secara rutin dengan harapan mendapatkan pelayanan dan penanganan masalah dengan

tepat dan segera. Agar mematuhi dan melaksanakan anjuran yang telah diberikan oleh

tenaga kesehatan.

3. Keluarga

Bagi keluarga berperan aktif dalam mengingatkan anjuran yang telah diberikan

oleh tenaga kesehatan, menyediakan dan memfasilitasi pasien dalam memenuhi

agar permasalahan dapat teratasi dan nutrisi bagi diri ibu dan janin yang

dikandungnya terpenuhi.

107
DAFTAR PUSTAKA

Ai Yeyeh, Rukiyah dkk. 2009. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan). Cetakan


Pertama. Jakarta: Trans Info Media.
Bobak, L. 2005. Keperawatan Maternitas. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Dewi, Lia. & Sunarsih. 2011. Asuhan Kehamilan untuk Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika.
Dewi, Ratna Pudiastuti. 2012. Asuhan Kebidanan pada Hamil Normal dan
Patologi.
Yogyakarta: Nuha Medik
Evariny A. 2011. Seluk Beluk Stretch Mark, Pencegahan dan Penangannya. Di akses
pada bulan agustus 2021.
http://tanyashop.multiply.com
Fraser, Cooper. 2009. Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta: EGC.
Hidayat, A.A. (2008). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta: Salemba Medika.
Holmes EJ., Misra RR. Miller MD., A-Z Of Muscoloskeletal And Trauma
Radiology.
2009. Cambridge University Press
Indrayani. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media
Intan, Ruhaeni. 2021. Pentingnya Menghitung Pergerakan Janin. Di akses pada
bulan agustus 2021
https://id.theasianparent.com/menghitung-pergerakan-janin
Jhonson, dan R Leny. 2016. Keperawatan Keluarga. Nuha Medika: Yogyakarta.
Kamarudin, Mudyawati dkk. 2020. Kajian Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Bahaya
Asap Rokok Pada Kehamilan Di Puskesmas Herlang Kabupaten Bulukumba.
Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan 2 (2). Agustus 2020. Diakses pada
bulan agustus 2021.
https://jurnal.fkunisa.ac.id/index.php/MA/article/download/55/52
Khadijah, Zaza. 2019. Khasiat Dahsyat Minyak Zaitun. Yogyakarta: Gapura Publishing.
Kumalasari. 2015. Panduan Praktik Laboratorium dan Klinik Perawatan Antenatal,
Intranatal dan Postnatal, Bayi Baru Lahir dan Kontrasepsi. Jakarta: Salemba
Medika.
Maharani, Ayu. 2015. Penyakit Kulit Perawatan, Pencegahan & Pengobatan.
Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2007. Ilmu Kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga
berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Manuaba, IAC dkk. 2008. Gawat Darurat Obstetri Ginekologi & Obstetri Ginekologi
Sosial Untuk Bidan. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2010. Ilmu Kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga
berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Manuaba, 2012.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Manulang, Sari Widya. 2017. Gambaran Perubahan-Perubahan Kulit Pada Ibu Hamil

108
Trimester Tiga di Puskesmas Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Tahun
2016. Repository Universitas HKBP Nommensen. Februari 2017. Diakses pada
bulan agustus 2021.
http://repository.uhn.ac.id/handle/123456789/1402
Maria, Rita. 2015. Produk Penghilang Stretch Marks Efektikah? Di akses pada
bulan agustus 2021.
https://femaleradio.co.id/female-info/female-lifestyle//7701-produk-
penghilang- stretch-marks-efektifkah
Marmi. 2014. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mastiningsih, Putu. & Yayuk Chrisyanti Agustina. 2019. Buku Ajar Asuhan
Kehamilan.
Cetakan Pertama. Bogor: In Media.
Mochtar, Rustam.2015. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Mufdillah. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya.
Nursalam. 2008. Konsep dan penerapan metodologi penelitian keperawatan.
Jakarta
Permenkes RI Nomor 21. 2021. Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan
Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, Dan Masa Sesudah
Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, Dan Pelayanan Kesehatan Seksual. Pasal
13.
Prastiwi, Ratih Sakti. 2017. Determinan Kejadian Kehamilan Tidak Direncanakan
(KTD) di Kabupaten Tegal. 2 nd Seminar Nasional IPTEK Terapan (SENIT).
Mei 2017. Diakses pada bulan agustus 2021.
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Edisi 1. Jakarta: Bina Pustaka.
Profil dinkes kabupaten Kulon Progo. 2013. Menentukan Status Imunisasi TT Wanita
Usia Subur. Jawa Timur: Dinkes
Ramadhanti, Indah Putri & Gita Ruthika Amy. 2021. Pengolesan Extra Virgin Olive
Oil pada striae gravidarum. Jurnal Kesehatan. Vol. 12 No. I. Maret 2021.
Reeder, Sharon J dkk. 2011. Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi, &
Keluarga. Volume 1. Jakarta: EGC
Robson, Elizabeth S dan Jason Waugh. 2012. Patologi pada kehamilan. Jakarta: EGC.
Romauli, Suryati. 2011. Konsep Dasar Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Ruswana. 2006. Ibu Hamil Resiko Tinggi. Diakses Pada Bulan Agustus 2021.
http://medicastore.com/penyakit/569/Kehamilan_Resiko_Ting gi.html
Saifuddin, Azwar. 2007. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Saifuddin, Abdul Bari, dkk. 2010. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Saifuddin, dkk. 2012. Buku Panduan Praktis Pelayanan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: PT. Bina Pustaka.
Saraswati, N dan Mardiana. 2016. Faktor Resiko Yang Berhubungan dengan
Kejadian Preeklampsia Pada Ibu Hamil. Unnes Journal Of Public Health, 5(2) :
90-99.
Saryono. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan.

109
Yogyakarta: Nuha Medika.
Sukarni, I dan Wahyu, P. 2013. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta:
Nuha Medik
Sulistyawati, Ari. 2013. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba Medika.

Susilawati & Julia. 2016. Pengaruh Pemberian Minyak Zaitun Terhadap Kejadian
Striae Gravidarum Pada Ibu Hamil Di BPS DA, Str. Keb Bumi Waras Bandar
Lampung.. Jurnal Kesehatan, 2017. Diakses pada bulan agustus 2021
https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/download/306/374
Tyastuti, Siti. 2016. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Cetakan Pertama. Jakarta
Selatan.Pusdik SDM Kesehatan.
Utami, Khumairah Silfa. 2018. Apa Sih Penyebab Selulit dan Stretch Mark? Kenali
Dulu Jenisnya. Di akses pada bulan agustus 2021.
https://www.suara.com/health/2018/09/11/084153/apa-sih-penyebab-selulit-
dan- stretch-mark-kenali-dulu-jenisnya
Varney, Helen. 2004. Ilmu Kebidanan (Varney’s Midwifery 3rd. Ed). Bandung:
Sekeloa Publiser
Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Jakarta: EGC
Varney, Helen. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4, volume 2. Jakarta: EGC.
Walyani, Elisabeth Siwi. 2015. Perawatan Kehamilan Dan Menyusui Anak Pertama
AgarBayi Lahir Dan Tumbuh Sehat. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Baru
Press.
WHO, 2016. Depression. Diakses Agustus 2021.
http://www.who.int/mental_health/management/depression/en/
WHO. Rekomendasi WHO Dalam Pelayanan Antenatal Care (ANC). FKKMK
UGM:Kanal Pengetahuan https://kanalpengetahuan.fk.ugm.ac.id/rekomendasi-
who-dalam-pelayanan- antenatal-care-anc/
Yohana, dkk. 2011. Kehamilan & Persalinan. Edisi I (Kesatu). DKI: Garda Media.
Yulizawati, et al. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC.
Yulizawati, et al. 2017. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Padang:

110

Anda mungkin juga menyukai