Min Rev - Neo
Min Rev - Neo
(Laporan ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Praktik Klinik Stase VIII
Program Studi Pendidikan Profesi)
Disusun Oleh:
EUIS KARTINA
NIM: P2.06.24.8.21. 047
EUIS KARTINA
ABSTRAK
Pendahuluan : Kejang merupakan kelainan saraf yang paling sering dijumpai pada
neonatus. Sekitar 2,2% hingga 5% anak mengalami kejang sebelum mereka mencapai
umur 5 tahun. Sampai saat ini masih terdapat perbedaan pendapat mengenai akibat
yang ditimbulkan oleh penyakit ini namun pendapat yang dominan saat ini kejang
pada neonates tidak menyebabkan akibat buruk atau keru sakan pada otak namun kita
tetap berupaya untuk menghentikan kejang secepat mungkin. Metode : Metode yang
digunakan dalam pengambilan data adalah systematic literature review dari artikel tahun
2015 sampai tahun 2022. Artikel atau jurnal tersebut dicari dengan menggunakan sistem
search engine pada Google scholar. Hasil: Pengkajian Literatur review penelitian yang
telah dibahas sebelumnya, maka penulis menyimpulkan bahwa : Suhu, Riwayat
kejang dalam keluarga, Usia, Jenis kelamin, dan Berat Badan Bayi Lahir Rendah
(BBLR) merupakan faktor penyebab kejadian kejang demam pada neonatus.
Kata Kunci : Neonatus, Kejang Neonatus,Faktor penyebab kejang
ABSTRACT
Introduction: Seizures are the most common neurological disorders in neonates. About 2.2%
to 5% of children have seizures before they reach 5 years of age. Until now there are still
differences of opinion about the consequences of this disease, but the current dominant
opinion in neonates does not cause bad effects or damage to but we are still trying to delay it
as soon as possible. Methods: The method used in data collection is a systematic literature
review of articles from 2015 to 2022. The articles or journals are searched using the search
engine system on Google Scholar. Results: Literature review reviews the research that has
been discussed previously, the authors conclude that: Temperature, history of seizures in the
family, age, sex, and birth weight (LBW) are factors that cause seizures in neonates.
Keywords: Neonates, Neonatal Seizures, Factors that cause seizures
PENDAHULUAN Hipoglikemia
Kejang merupakan kelainan saraf yang paling Hipokalsemia
sering dijumpai pada neonatus. Sekitar 2,2% Hipomagnesemia
Hiponatremia dan hipernatremia
hingga 5% anak mengalami kejang sebelum
Defisiensi piridoksin dan dependensi
mereka mencapai umur 5 tahun. Sampai saat ini piridoksin
masih terdapat perbedaan pendapat mengenai Asfiksia
akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini namun 2) Perdarahan intrakranial
pendapat yang dominan saat ini kejang pada 3) Infeksi
neonates tidak menyebabkan akibat buruk atau 4) Genetik/kelainan bawaan
keru sakan pada otak namun kita tetap berupaya 3. Tanda Dan Gejala
1) Tremor
untuk menghentikan kejang secepat mungkin
2) Hiperaktif
(Marlian L, 2015)
3) Kejang-kejang
Kejang pada neonates sering ditemukan dan
4) Tiba-tiba menangis melengking
merupakan satu satunya gejala disfungsi susunan
5) Tonus otot hilang disertai atau tidak
saraf pusat pada neonatus, sulit dideteksi, sukar
dengan kehilangan kesadaran.
diberantas serta berkaitan erat dengan mortalitas
6) Gerakan yang tidak menentu (involuntary
dan morbiditas seperti epilepsi, palsiserebral dan
movements)
keterlambatan perkembangan dikemudian hari.
7) Nistagmus atau mata mengedip-edip
Deteksi dini,mencari etiologi dan memberikan
proksismal
tatalaksana yang adekuat sangat penting pada
8) Gerakan seperti mengunyah dan menelan
kejang neonatus.
Kejang umumnya berkaitan dengan penyakit berat
yang memerlukan terapi spesifik, kejang METODE
mempengaruhi tindakan suportif seperti alat bantu
nafas dan alimentasi yang sering diberikan Metode yang digunakan dalam pengambilan data
pada neonates dengan penyakit tertentu, kejang adalah systematic literature review dari artikel
dapat menyebabkan kerusakan otak (Sari Pediatri, tahun 2015 sampai tahun 2022. Artikel atau jurnal
Vol. 9, No. 2, Agustus 2017). tersebut dicari dengan menggunakan sistem
search engine pada Google scholar
TINJAUAN KASUS
PEMBAHASAN
1. Pengertian Kejang Neonatus
Kejang adalah perubahan secara tiba-tiba fungsi 1. Hubungan Asfiksia Neonatorum Dan
neurology baik fungsi motorik maupun fungsi Kejang Neonatorum Di Rumah Sakit
otonomik karena kelebihan pancaran listrik pada Umum Daerah Prof. Dr Margono Soekarjo
otak (Buku Pelayanan Obstetric Neonatal Purwokerto Periode 2016-2017.
Emergensi Dasar 2008). Studi lain memaparkan bahwa terdapat
Kejang pada neonatus adalah kejang yang terjadi pengaruh asfiksia neonatorum terhadap
pada 4 minggu pertama kehidupan dan paling kejang. Dimana pada kejadian asfiksia
sering terjadi pada 10 hari pertama neonatorum yang diikuti dengan kejang
kehidupan.Kejang tersebut berbeda pada anak atau terjadi proses pengeluaran asam dengan cara
orang dewasa karena kejang tonik klonikumum memblok kanal Na/H pada Blood Brain
cenderung tidak terjadi pada bulan pertama Barrier (BBB). Akan tetapi proses tersebut
kehidupan (Johnstons, 2007). berlangsung secara berlebihan, sehingga
2. Etiologi menyebabkan kondisi alkalosis dalam otak.
Etiologi kejang pada neonatus perlu segera Perubahan pH ini mempengaruhi sel pada
diketahui karena menentukan terapi dan otak, sehingga menyebabkan kegagalan
prognosis. pompa eksitasi natrium, akibatnya terjadi
1) Metabolik eksitasi neurotransmitter yang berlebihan
dan diikuti dengan peningkatan glutamat, mempunyai risiko untuk menderita
serta akan berakhir dengan terjadinya kejang bangkitan kejang demam 4,5 kali lebih besar
(Helmy et al, 2012). dibanding yang tidak. Penelitian ini bertolak
belakang dengan penelitian yang dilakukan
2. Profil kejang demam di Bagian Ilmu oleh Nurhayati, Susilawati, & Amatiria
Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. (2015), yang mengemukakan bahwa genetik
Kandou Manado periode Januari 2014 – tidak memiliki pengaruh terhadap kejadian
Juni 2016. kejang demam. karena sebagian responden
Berdasarkan hasil penelitian terhadap kasus hanya menderita komplikasi pada sistem
kejang demam di Bagian Ilmu Kesehatan syaraf otak yang disebabkan oleh bakteri,
Anak RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Kenyataan pada hasil penelitian ini sejalan
Manado periode Januari 2014 – dengan suatu konsep yang dikemukakan
Juni 2016 dapat disimpulkan bahwa kejang oleh (Rudianto Sofwan, 2011) yang
demam lebih banyak ditemukan pada usia 1 menegaskan bahwa kejang demam lazimnya
- <2 tahun, jenis kelamin laki-laki, tanpa terjadi ketika anak menderita infeksi yang
riwayat kekuarga, suhu badan >38oC, ringan- ringan saja.
riwayat penyakit yang mendasari infeksi c. Usia Perkembangan otak terdiri dari
saluran pernapasan akut, tipe kejang demam beberapa fase.
kompleks, status gizi normal, riwayat berat Fase perkembangan organisasi dan
badan lahir normal, serta riwayat jenis mielinasasi masih berlanjut sampai
persalinan normal. pascanatal. Kejang demam lebih rentan
terjadi pada masa development window atau
3. Literatur Review : Analisis Faktor Resiko fase perkembangan otak di usia kurang dari
Kejadian Kejang Demam Pada Anak. 2 tahun. (Chen Y, 2012). Pada usia kurang
Hasil penelitian setelah dilakukan terlebih dari dua tahun keadaan otak belum matang
dahulu analisis data, pemaparan hasil reseptor untuk asam glutamat baik
penelitian tersebut disajikan untuk ionotropik maupun metabotropik sebagai
mengetahui faktor yang memiliki resiko reseptor eksitator padat dan aktif, sebaliknya
kejadian kejang demam. resep-tor GABA sebagai inhibitor kurang
a. Suhu aktif, sehingga otak belum matang. Pada
Kenaikan suhu tubuh diatas 38° dapat otak belum matang kadar CRH di
mengubah keseimbangan membrane sel hipokampus tinggi, berpotensi untuk terjadi
neuron sehingga dalam waktu yang singkat bangkitan kejang apabila terpicu oleh
mengakibatkan disfusi dari ion kalium demam (Chen Y, 2011) Anak dibawah usia
membrane tersebut dan menyebabkan 2 tahun memiliki nilai ambang kejang
lepasnya muatan listrik meluas ke sel (threshold) rendah, sehingga mudah terjadi
membrane sekitarnya dengan kejang demam.
“Neurotransmitter” sehingga terjadi kejang
(Ngastiyah, 2014). Hasil penelitian yang d. Jenis kelamin Laki-laki memiliki resiko
dilakukan oleh Amalia, Fatimah, & Bennu, terjadi kejang demam, dua kali lebih banyak
(2015), mengemukakan bahwa anak dengan dari perempuan dari perbandingan 2:1.
demam lebih dari 37,80C berisiko untuk Hal tersebut dikarenakan pada wanita
mengalami 42,3 kali lebih besar didapatkan maturasi serebral yang lebih
dibandingkan yang suhu tubuhnya kurang cepat dibandingkan laki-laki (Maulani
dari 37,80C. 2014). Hasil penelitian dari Mahdalena,
b. Riwayat kejang dalam keluarga Mariana, & firman (2015), dari analisa data
Anak yang keluarga terdekatnya memiliki faktor jenis kelamin pada laki-laki sebanyak
riwayat kejang demam (first degree relative) 26 orang (68,5%) yang memiliki hubungan
signifikan dengan kejadian kejang demam, kondisi dan ketersediaan obat di Indonesia.
Penelitian ini bertentangan dengan Sebanyak 90% pasien akan terkontrol
penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati, kejangnya dengan menggunakan obat lini
Susilawati, & Amatiria (2016), yang pertama atau kedua, sisanya mengalami SE
menunjukkan tidak ada pengaruh antara refrakter yang membutuhkan perawatan
jenis kelamin dengan kejadian kejang intensif. Semua petugas kesehatan
demam. Peneliti berasumsi jenis kelamin diharapkan memiliki pengetahuan mengenai
laki-laki merupakan salah satu faktor kejang pedoman tatalaksana SE dan obat-obatan
demam. Laki-laki lebih beresiko terjadi yang digunakan agar dapat melakukan
kejang demam, dua kali lipat lebih banyak penanganan yang efektif
dari pada perempuan, karena pada wanita di
dapatkan maturasi serebral yang lebih cepat 5. Analisis Faktor Risiko Kejadian Kejang
dibandingkan laki-laki dan juga dilihat dari Demam Di Ruang Perawatan Anak Rsu
beberapa penelitian yang mengemukakan Anutapura Palu.
bahwa jenis kelamin laki-laki adalah salah Mekanisme peranan faktor riwayat keluarga
satu faktor resiko terjadinya kejang demam. pada terjadinya kejang demam terutama
disebabkan oleh adanya mutasi gen-gen
e. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) tertentu yang mempengaruhi esktabilitas
Bayi dengan berat lahir rendah yaitu bayi ion-ion pada membran sel. Mekanisme yang
lahir kurang dari 2500 gram, dapat mempengaruhi peristiwa tersebut sangat
menyebabkan asfiksia atau iskemia otak kompleks. Secara teoritis defek yang
yang dapat menyebabkan kejang, Bayi diturunkan pada tiap-tiap gen pengkode
dengan BBLR dapat mengalami protein yang menyangkut ekstabilitas
hipoglikemia dan hipokalsemia yang dapat neuron dapat mencetuskan timbulnya
menyebabkan kerusakan otak sehingga kejang.
dapat mengakibatkan kejang pada Kenaikan suhu tubuh adalah syarat mutlak
perkembangan selanjutnya (Harimoto 2016). terjadinya kejang demam. Tinggi suhu tubuh
Bayi Berat lahir sangat rendah atau amat pada saat timbul kejang merupakan nilai
sangat rendah mempunyai resiko keadaan ambang kejang. Ambang kejang berbeda-
hipoksia pada bayi dan dapat memudahkan beda untuk setiap anak, berkisar antara
berulangnya kejang demam (Yuana, 2015). 38,3°C– 41,4°C. Adanya perbedaan ambang
kejang ini menerangkan mengapa pada
4. Tatalaksana Kejang Akut dan Status seorang anak baru timbul kejang setelah
Epileptikus pada Anak. suhu tubuhnya meningkat sangat tinggi
Status epileptikus (SE) merupakan kondisi sedangkan pada anak yang lain kejang sudah
dengan kejang yang berlangsung lama dan timbul walaupun suhu meningkat tidak
berisiko mengakibatkan mortalitas dan terlalu tinggi. Dari kenyataan ini dapatlah
morbiditas jangka panjang. Status disimpulkan bahwa berulangnya kejang
epileptikus membutuhkan intervensi medis demam akan lebih sering pada anak dengan
yang cepat dan tepat. Beberapa panduan dan nilai ambang kejang yang rendah.
obat-obatan terhadap kejang akut dan status Penelitian ini sesuai dengan pendapat Fuadi
epileptikus pada anak telah tersedia dengan (2010) yang mengatakan bahwa BBLR
berbagai tingkatan bukti. American Epilepsy dapat menyebabkan afiksia atau iskemia
Society menyusun pedoman berbasis bukti otak dan pendarahan intraventrikuler,
yang komprehensif namun tidak semua obat iskemia otak dapat menyebabkan kejang.
tersedia di Indonesia. Ikatan Dokter Anak Bayi dengan BBLR dapat mengalami
Indonesia telah juga membuat rekomendasi gangguan metabolisme yaitu hipoglikemia
tatalaksana SE yang disesuaikan dengan dan hipokalesemia. Keadaan ini dapat
menyebabkan kerusakan otak pada perinatal, sehingga menimbukan kejang. Hambatan
adanya kerusakan otak dapat menyebabkan pada aktivitas glutamat mampu
kejang pada perkembangan selanjutnya. menurunkan resiko terjadinya kejang pada
Trauma kepala selama melahirkan pada bayi bayi serta mencegah terjadinya komplikasi
dengan BBLR < 2500 gram dapat terjadi pada otak akibat hipoksia. Sebanyak 10
pendarahan intrakranial yang mempunyai orang bayi asfiksia yang diberikan terapi
risiko tinggi untuk terjadi komplikasi hipotermia tidak mengalami kejang, dengan
neurologi dengan manisfestasi kejang. apgar skor berkisar antara 3-5 pada 10 menit
pertama. Sedangkan 1 orang bayi yang
6. Pengaruh Terapi Hipotermi terhadap mengalami kejang kemungkinan disebabkan
Kejadian Kejang pada Bayi Asfiksia di karena apgar skor bayi pada 10 menit
ruang Alamanda RSUD Bangil. pertama sangat rendah yakni 2. Apgar skor
Hipotermia (cooling) merupakan terapi memastikan kondisi kesiapan bayi dalam
nonspesifik yang dapat mempengaruhi memulai kehidupan diluar perut ibu.
proses kematian neuron pada fase kegagalan Rendahnya nilai apgar skor menunjukkan
energi primer maupun sekunder. beratnya derajat asfiksia. Rendahnya nilai
Hipotermia melindungi neuron dengan apgar skor dikaitkan dengan tingginya
mengurangi kecepatan metabolik serebral, resiko kematian bayi akibat hipoksik
mengurangi pelepasan asam amino iskemik ensefalopati
eksitatorik (glutamat, dopamin), yang ditandai dengan timbulnya kejang.
memperbaiki ambilan glutamat yang Tindakan resusitasi sesuai dengan derajat
terganggu oleh iskemik, serta menurunkan asfiksia telah dilaksanakan sesuai dengan
produksi NO dan radikal bebas. Efek pedoman yang berlaku di RSUD Bangil.
hipotermia paling baik jika dilakukan segera Timbulnya kejang pada beberapa orang bayi
setelah cedera hipoksia iskemia. Setelah 6 bisa dipengaruhi oleh kondisi awal janin.
jam proses apoptosis telah terjadi dan Rata-rata bayi yang mengalami kejang
bersifat ireversibel. Terapi hipotermia memiliki nilai apgar skor rendah dan masuk
menurunkan metabolisme sel untuk kategori asfiksia berat. Apgar skor
mempertahankan ATP seluler. Hal ini memastikan kondisi kesiapan bayi dalam
menghambat produksi asam amino memulai kehidupan diluar perut ibu.
perangsang dan sitokin pro-inflamasi serta Rendahnya nilai apgar skor dikaitkan
mengubah aktivitas reseptor glutamat dalam dengan tingginya resiko kematian bayi
sel otak. Selain itu, terapi hipotermia juga akibat hipoksik iskemik ensefalopati yang
meredam ambang batas untuk kejang listrik ditandai dengan timbulnya kejang.
pada hipoksik iskemik ensefalopati dan
kombinasi dari efek-efek ini semua 7. Hubungan asfiksia dengan kejang pada
mencegah perkembangan cedera sel primer neonatus di ruang perinatologi dan NICU
menjadi sekunder (Hendra dkk, 2017). RSUD Wangaya kota Denpasar.
Terapi hipotermia yang diberikan pada bayi Periode neonatus merupakan insiden
asfiksia yang memenuhi indikasi, mampu terbesar terjadinya kejang dan di dalam
mencegah timbulnya kejang dengan beberapa penelitian dari Levene dan
mengurangi kecepatan metabolik serebral, Trounce, Lien dkk, Mizrahi dan Kellaway
menghambat aktivitas glutamat dan bahwa penyebab tersering terjadinya kejang
dopamine dan meningkatkan ambang batas adalah HIE (30-53%) yang disebabkan
kejang listrik pada otak. Glutamat adalah akibat asfiksia. Prevalensi bayi dengan
asam amino eksitator. Kadar glutamat yang asfiksia dalam satu tahun sebanyak 214
tinggi menyebabkan peningkatan kepekaan (29%), hampir sama dengan yang
neuron terhadap stimulus yang diterima, didapatkan pada penelitian yang dilakukan
oleh Garba Illah dkk yaitu frekuensi bayi 8. Incidence of neonatal seizures, perinatal risk
dengan asfiksia sebanyak 31%. Pada factors for epilepsy and mortality after
penelitian ini didapatkan bayi dengan kejang neonatal seizures in the province of
sebanyak 8 dari 214 bayi asfiksia (3,7%), Parma,Italy.
lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian Untuk tujuan penelitian, hanya rekaman
Garba Illah dkk mendapatkan bayi dengan EEG dengan kejang pertama
kejang sebanyak 6 dari 47 bayi asfiksia dipertimbangkan; namun, untuk tujuan
(12,8%) dan dari 223 kelahiran selama 1 klinis, kami biasanya memantau neonatus
tahun. yang kejang dengan v-EEG berulang pada
Dalam studi ini, lebih sedikit perempuan hari yang sama dan di hari-hari berikutnya
yang menderita asfiksia sebanding dengan dalam untuk memantau aktivitas EEG latar
studi yang dilakukan Port Harcourt, Warri, belakang, kemanjurannya terapi,
Iran, Johannesburgm dan India namun kekambuhan kejang, dan kebutuhan klinis.
berkebalikan dengan yang dilakukan oleh Kesimpulannya, NS adalah kondisi klinis
Illah dkk. yang cukup umum pada populasi umum dan
Berdasarkan penelitian ini, menunjukkan berhubungan dengan risiko kematian dan
adanya hubungan signifikan antara asfiksia morbiditas yang lebih tinggi pada orang
dengan terjadinya kejang pada neonatus. Hal yang selamat. Itu kejadian NS berbanding
ini didasarkan pada hasil uji fisher yang terbalik dengan usia kehamilan dan berat
diperoleh p-value=0,000 (p< 0,05). Hasil badan saat lahir. Ada beberapa faktor
penelitian ini sama dengan penelitian uji perinatal yang
klinis lain, dimana asfiksia merupakan harus dipertimbangkan dengan hati-hati dan
penyebab paling sering terjadinya kejang dievaluasi lebih lanjut karena mereka
terlepas dari usia gestasi. Berdasarkan Evans tampaknya memiliki nilai prognostik untuk
dan Levene, penyebab kejang lainnya pada kematian dan epilepsi pada anak dengan NS.
neonatus adalah infeksi susunan saraf pusat
(17%), perdarahan intrakranial (10%), 9. Epilepsy after neonatal seizures: Literature
gangguan metabolik akut (5%), dan review.
idiopatik (2%).14 Sedangkan berdasarkan Tinjauan literatur ini memeriksa studi yang
penelitian oleh Talebian dkk, pada 2015 mencakup jangka waktu yang diperpanjang.
menemukan penyebab kejang diantaranya Bahkan dengan keterbatasan yang terkait
HIE (36%), hiponatremia (12%), dengan desain studi yang berbeda dan untuk
hipoglikemia (11%), perdarahan intrakranial perbaikan pada neonates perawatan, jelas
(11%), infeksi (10%), hipokalsemia (8%), bahwa epilepsi merupakan hasil umum dari
gangguan metabolisme (7%), anomali NS, terutama pada subjek dengan kerusakan
struktural (5%), dan hipomagnesemia (4 %). otak parah dan cacat perkembangan saraf
Jenis kelamin laki-laki memiliki persentase tambahan. Apalagi parah jenis kejang dan
kejang paling tinggi yaitu 8 (88,9%) sejalan sindrom tampaknya sangat terwakili dalam
dengan studi yang dilakukan Costea, dan subkelompok pasien ini, mungkin
Visa tahun 1995 di Sibiu hingga 2005 yang menunjukkan terapi tantangan. Dalam
menemukan frekuensi laki-laki 2 kali lebih periode waktu studi upaya yang signifikan
tinggi (68,9%) dibandingkan perempuan. telah telah dibuat untuk mencapai
Dalam penelitiannya menyebutkan bahwa reproduktifitas hasil yang lebih tinggi,
dilihat dari berbagai latar belakang seperti melalui definisi NS yang lebih akurat,
usia gestasi kurang, cukup, dan lebih, implementasi pemantauan dan protokol
frekuensi pengobatan. Namun demikian, gambaran
laki-laki 2 kali lebih tinggi. klinis ini akan memerlukan evaluasi lebih
lanjut di masa mendatang untuk menilai
apakah dan sejauh mana epidemiologi
kondisi ini akan berubah? dengan
ketersediaan diagnostik dan pemantauan
yang inovatifperangkat, kemajuan dalam
pemahaman epileptogenesis dan
pengembangan pengobatan alternatif atau
aditif strategi