Pengelolaan Lingkungan Kelas PAUD
Pengelolaan Lingkungan Kelas PAUD
2
PENGELOLAAN KELAS DAN LINGKUNGAN
Penuis:
-Dina Mawardah
Dosen Pengampu:
Husin,S.Pd.I.,M.Pd.I
Semester:4 A
3
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiran tuhan yang maha kuasa atas segala limpahan rahmat,taufik dan
hidayah-nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan buku ini dalam bentuk maupun
isinya sangat sederhana.semoga buku ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan,petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam pendidikan media pembelajaran
aud.Dalam penyusunan buku ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi,mengingat kemampuan yang kami miliki untuk itu
kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan buku ini
Dalam penyusunan buku ini kami penyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaikan buku ini
Tim penyusun
4
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................4
DAFTAR ISI..............................................................................................................................5
BAB I.........................................................................................................................................9
BAB II......................................................................................................................................12
A.Pengertian Prinsip.................................................................................................................12
BAB III.....................................................................................................................................19
BAB IV....................................................................................................................................25
5
BAB V......................................................................................................................................33
BAB VI....................................................................................................................................38
B.Konsep Desain......................................................................................................................39
C.Konsep Desaian Interior Bernuansa Modern Islam Pada Tk Dan Playgroup Kreatif”........40
BAB VII...................................................................................................................................42
BAB VIII..................................................................................................................................46
6
BAB IX....................................................................................................................................52
BAB X......................................................................................................................................55
C.Keamanan Psikis...................................................................................................................56
BAB XI....................................................................................................................................62
A.Pengertian Penilaian.............................................................................................................62
BAB XII...................................................................................................................................69
A.Pengertian Observasi............................................................................................................69
C.Jenis-Jenis Observasi............................................................................................................70
BAB XIII..................................................................................................................................74
7
“KONSEP-KONSEP YANG BERKAITAN DENGAN DISKUSI HAL-HAL YANG
HARUS DIPERHATIKAN DALAM DISKUSI HASIL OBSERVASI DAN LANGKAH-
LANGAH MENEPKAN KRITERIA KETUNTSAN MINIMUM ANALISIS HASIL
DISKUSI OBSERVASI”.........................................................................................................74
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................80
8
BAB I
Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata manage, ent, berasal dari kata “to
manage” yang memiliki arti mengatur, melaksanakan, mengelola, mengendalikan dan
memperlakukan. Selanjutnya pengertian lingkungan menurut KBBI, diartikan sebagai suatu
tempat yang mempengaruhi perkembangan manusia. Kemudian belajar secara umum
diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relative menetap pada diri individu. Dari
definisi-definisi di atas maka disimpulkan bahwa secara sederhana diartikan sebagai suatu
tempat atau suasana (keadaan) yang mempengaruhi proses perubahan tingkah laku manusia
dan perubahan-perubahan yang diakibatkan lingkungan dapat bersifat menetap dan relative
permanen. Semakin kuat pengaruh lingkungan maka perubahan yang terjadi di prediksi akan
semakin tinggi pula. Esensinya lingkungan belajar merupakan suatu konteks fisik, sosial, dan
psikologis yang dalam konteks tersebut anak memperoleh belajar dan memperoleh perilaku
baik. Selanjutnya pengelolaan lingkungan belajar di TK diartikan sebagai suatu proses
mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai komponen lingkungan yang dapat
terfasilitasi secara baik. Sehingga di artikan sebagai suatu usaha yang diarahkan untuk
mewujudkan suasana belajar yang efektif dalam mencapai tujuan belajar.
9
untuk mendorong kegiatan anak dalam keingintahuan, penyelidikan dan eksplorasi, memiliki
sejumlah pengalaman sensual bagi anak-anak untuk mendorong anak menggunakan semua
indera mereka, dengan aman. Pada 1900-an, peralatan besar seperti perosotan, ayunan, dan
tangga disediakan baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
Karena lingkungan di luar kelas selalu penuh kejutan dan kaya akan perubahan. Di luar
kelas anak- anak dapat mempelajari berbagai hal serta mengoptimalkan semua aspek
perkembangannya. Guru-guru pun dapat membantu anak dalam meningkatkan pertumbuhan
mereka melalui program-program pembelajaran, yang dapat dievaluasi melalui pengamatan,
ataupun berinteraksi langsung dengan anak
Secara umum tujuan pengelolaan lingkungan belajar adalah untuk mewujudkan situasi
yang kondusif untuk memfasilitasi perkembangan dan belajar anak secara maksimal sesuai
dengan perkembangan baik, kognitif, fisik-motorik, sosialemosional, nilai agama dana moral
bahkan seni anak, serta menghilangkan berbagai hambatan yang akan mengganggu
perkembangan dan aktivitas belajar anak. Secara khusus dan sistematis, terdapat dua tinjauan
yang mengarahkan dari tujuan pengelolaan lingkungan belajar di TK yaitu :
1.Ditinjau dari sudut Performances atau tampilan muka dari lingkungan belajar, dan
2.Aspek isi atau Content dari lingkungan belajar tersebut. Dalam sudut performances
ditujukan untuk merangsang atau mengundang anak untuk tertarik dalam aktivitas di
lingkungan belajar sedangkan dalam aspek isi ditujukan untuk memfasilitasi multi sensori
anak dan kemampuan memberikan kesempatan kepada anak untuk beraktivitas dan berkreasi
secara efisien dan efektif.
Kegiatan pengelolaan kelas akan membantu proses perkembangan anak secara optimal
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Adapun tujuan dari pengelolaan kelas
diantaranya:
1.Untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan bagi anak dalam melakukan
sejumlah aktivitas yang dirancang bagi kepentingan pembelajaran melalui pendekatan sambil
bermain.
10
2.Penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar anak dalam lingkungan sosial,
emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan anak
belajar dan bekerja.
4.Membina dan membimbing anak dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat
individunya.
Adapun tujuan secara umum yang menjadi tujuan pengelolaan kelas dalam pandangan
Sudirman adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam
lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu
memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan
kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap apresiasi para
siswa. Sedangkan pandangan Secara khusus yang menjadi tujuan pengelolaan kelas dalam
pandangan Usman adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat
belajar, menyediakan kondisi- kondisi yang memungkinkan siswa belajar dan bekerja, serta
membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan Faktor yang mempengaruhi
lingkungan belajar dalam proses belajar secara tidak langsung sosial budaya dapat
mempengaruhi individu.
Apa yang di anggap baik dan buruk akan menentukan suatu sistem norma dan aturan
yang berlaku dalam kelompok budaya setempat. Hal ini dapat menjadi faktor dalam
lengkungan belajar. Adapun terkait hal tersebut terdapat faktor yang dapat mendukung serta
menghambat pengelolaan lingkungan belajar antara lain:
1.Tempat belajar yang baik Untuk dapat di katakan sebagai temapat yang baik terdapat
persyaratan sebagai berikut: letak tata ruang, tempat belajar, penerapan cahaya yang cukup,
udara yang baik, adanya pengaturan tata ruang kelas.
2.Media belajar yang tersedia Agar dapat mendukung proses lancarnya belajar di sekolah,
diperlukan peralatan yang cukup dan tersedia. Kekurangan alat-alat belajar akan
memperbanyak individu mengalami gangguan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan
tersedianya alat-alat belajar yang pokok didahulukan dibanding dengan yang lain seperti :
papan tulis, kapur tulis / spidol, penghapus dan sebagainya dapat menunjang pembelajaran
anak.
3.Kedisiplinan belajar Kedisiplinan ini diperlukan untuk melatih siswa agar terbiasa
menerapkan dalam segala tindakan atau kegiatannya. Karena disiplin ini berkaitan erat
dengan kepribadian anak, sehingga jika anak sudah terdidik untuk disiplin maka mereka akan
memiliki kecakapan dalam cara belajarnya.
4.Kebersihan lingkungan kelas dan sekolah Kebersihan lingkungan kelas maupun sekolah
perlu diperhatikan agar siswa merasa nyaman dalam proses belajar dan serta menjaga
lingkungan menjadi bersih.
11
BAB II
merupakan petunjuk arah layaknya kompas. Sebagai petunjuk arah, kita bisa
berpegangan pada prinsip - prinsip yang telah disusun dalam menjalani hidup tanpa harus
kebingunan arah karena prinsip bisa memberikan arah dan tjuan yang jelas pada setiap
kehidupan kita. Seorang leader atau pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang
berprinsip. Karena seorang pemimpin yang berprinsip pasti akan terarah dalam menjalankan
tugasnya sebagai pemimpin. Berikut ini adalah pengertian prinsip menurut para ahli:
1.Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Prinsip adalah asas, kebenaran yang jadi pokok
dasar orang berfikir, bertindak, dan sebagainya.
3.Russel Swanburg Prinsip adalah kebenaran yang mendasar, hukum atau doktrin yang
mendasari gagasan
4.Toto Asmara Prinsip adalah hal yang secara fundamental menjadi martabat diri atau dengan
kata lain, prinsip adalah bagian paling hakiki dari harga diri
5.Udo Yamin Efendi Majdi Prinsip adalah pedoman berprilaku yang terbukti mempunyai
nilai yang langgeng dan permanen
6.Ahmad Jauhar Tauhid Prinsip adalah pandangan yang menjadi panduan bagi perilaku
manusia yang telah terbukti dan bertahan sekian lama
7.Herry Tjahjono Prinsip adalah hukum alam dan sudah jadi kebenaran hakiki
8.Awang, Widayanti, Himmah, Astuti, Septiana, Solehudin Noveanto Prinsip adalah suatu
aturan dasar yang mendasari pola berpikir atau bertindak
9.Andi Yohanes Prinsip adalah hukum, tidak bisa tidak, harus seperti itu
10.Samuel S. Lusi Prinsip adalah panduan yang mengompasi hidup anda untuk kembali ke
diri sejati anda.
Prinsip Umum Penataan Ruang Kelas PAUD diantaranya: Ruangan kelas yang tampil
menghadap kearah datangnya cahaya dan udara akan lebih nyaman dan terasa terang dengan
cahaya yang masuk keruangan tersebut serta udara segar yang membuat anak dapat bernafas
dengan bebas. Untuk ukuran ruangan pada pendidikan prasekolah menggunakan ukuran 105
cm² per anak untuk usia 2-3 tahun, sedangkan untuk anak usia 4-6 tahun dengan ukuran 120-
180 cm² per anak.
12
Dalam pemilihan bahan untuk lantai harus memperhatikan bahaya dan resiko terhadap
anak. Lantai yang licin dapat menyebabkan kecelakaan pada anak. Untuk mengantisipasi hal
tersebut lantai dapat dilapisi dengan karpet. Untuk pengaturan atap dan langit-langit yaitu
untuk atap dianjurkan dengan ketinggian 3 m – 3,3 m dan tinggi langit-langit adalah 2,1 m
dan ini hanya untuk anak. Untuk penataan dinding dapat dilapisi dengan cat, bahanbahan
penyerap yang halus yang dapat mengurangi atau menyerap bunyi.
Bisa juga dinding sebagai tempat untuk menempel hasil karya anak. Pemilihan warna
dinding untuk anak juga sangat mempengaruhi prestasi akademik anak. Guru harus
memikirkan bagaimana penyusunan ruang ketika mereka merencanakan, ubahlah menurut
tujuan, bereksperimen untuk melihat apa yang terbaik untuk mereka (Eggen, & Kauchack,
2004). Meskipun, tidak ada satu susunan yang dapat bekerja pada semua
situasi(asiaeuniversity). Penggunaan kursi dan meja di dalm kelas akan tidak efektif jika
mengganggu gerakan siswa dan guru. Guru tidak dapat membatasi gerak anak di dalam
ruangan ketiak anak memang harus banyak bergerak. Jika guru membatasi gerak anak di
dalam kelas, anak merasa tidak nyaman dan cenderung berperilaku menyimpang, seperti
menganggu teman, merebut barang milik temannya hingga mendorong dan memukul
temannya. Penataan ruang yang menyulitkan bergerak juga akan menghambat guru dalam
mengontrol dan memberikan bimbingan kepada siswa.
13
7)Material disimpan di atas rak terbukayang rendah, dan anak-anak dapat menjangkaunya
dengan mudah.
8)Fasilitas dan peralatan ditempatkan berdekatan dengan aktivitas yang akan dilakukan anak,
seperti kran air, ember, dan spons.
Ada beberapa Tips Penataan Ruang Belajar Anak Usia Dini (PAUD). Penataan ruangan
memperhatikan kebebasan anak bergerak, dengan memperhatikan:
2) Jumlah anak yang akan dilayani, kebutuhan gerak setiap anak 3 m2 diluar yang terpakai
loker, dan furnitur lainnya.
5) Antar ruang kegiatan dibatasi oleh loker setinggi anak saat berdiri agar dapat diobservasi
oleh guru secara menyeluruh.
6) Penataan ruangan memfasilitasi anak bermain sendiri, kelompok kecil, dan kelompok
besarAman, bersih, nyaman, dan mudah diakses oleh anak yang berkebutuhan kusus
10) Buku ditempatkan di setiap sentra atau ditempat tertentu yang mudah dijangkau semua
anak
11) Sentra music dan gerak lagu ditempat pijakan sebelum main dimana semua anak
berkumpul.
12)Sentra disusun lebih fleksibel agar dapat dirubah sesuai dengan kebutuhan
13)Cahaya, sirkulasi udara, sanitari, lantai/karpet bebas dari kutu, jamur, dan debu.
14)Penggunaan cat tembok dan kayu tidak mudah luntur saat dipegang anak.
14
17)Pegangan pintu setinggi jangkauan anak, kecuali pintu pagar setinggi jangkauan orang
dewasa
18)Dinding sebaiknya tidak dilukis permanen. Warna perabot dan dinding menggunakan
warna natural
19)Bebas dari asap rokok, bahan pestisida, dan toxin (bersifat racun)
1)Meja dan kursi untuk anak disesuaikan dengan ukuran anak baik berat maupun
ukurannya.Penyesuaian ukuran dengan kemampuan anak, dimaksudkan agar anak nyaman
menggunakannya, menghindari kecelakaan karena kesulitan anak menggunakannya.
Disamping itu anak dapat dilibatkan untuk turut membereskan meja – kursi apabila ruangan
akan digunakan kegiatan lain yang tidak membutuhkan pemakaian meja dan kursi.
3)Loker tempat menyimpan alat main anak dan buku-buku bacaan anak setinggi jangkauan
anak, digunakan sebagai pemisah sentra bermain. 4) Bila kursi plastic yang dipilih, pastikan
cukup kokoh dan tidak licin bila ditempatkan di atas lantai.
1)Mempersiapkan lingkungan fisik yang aman, nyaman, menarik, dan didesain sesuai dengan
perencanaan sehingga mendorong anak untuk mengoptimalkan perkembangannya.
15
9)Lingkungan main yang ditata dapat membantu anak memperkirakan berbagai kegiatan
yang akan dilakukan, baik pelaksanaannya (kelompok atau individu) maupun tempat alat
main yang dibutuhkan.
10)Mengembangkan kemandirian. Lingkungan yang ditata dengan rapi, semua mainan yang
boleh digunakan anak ditata dalam rak yangterjangkau anak, membuat anak dapat secara
mandiri mengambil dan menyimpan kembali, tanpa harus minta tolong pendidik.
11)Mengembangkan kepercayaan diri anak. Lingkungan yang ditata sesuai dengan kondisi
anak dapat membangun kepercayaan diri anak, bahwa mereka mampu melakukannya.
Cara Menata Lingkungan Belajar/ Bermain Anak Usia Dini, karena anak-anak belajar
(baca:bermain) di dalam dan di luar ruangan, maka cara menata lingkungan belajar PAUD
dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu dalam ruangan (indoor) dan luar ruangan (outdoor).
Persyaratan Dalam Menata Lingkungan Belajar PAUD sebagai berikut:
1)Ruang/tempat yang digunakan untuk pembelajaran harus bisa menarik dan mengundang
minat anak untuk bermain di situ.
2)Segala sesuatu dan setiap tempat harus mengandung unsur pendidikan. Dari warna, cahaya,
tanaman, kamar mandi, dapur, pintu gerbang, dan penataan bahan- bahan main ditata dengan
nilainilai keindahan.
3)Aman, nyaman, sehat. bebas dari benda-benda yang dapat melukai anak serta binatang-
binatang kecil yang berbisa.
4)Menekankan pada berbagai macam media termasuk bahan-bahan alam, bahan daur ulang,
dll. Bahan-bahan main disimpan di dalam tempat yang mudah digunakan dan disimpan
kembali oleh anak.
Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata manage, ent, berasal dari kata “to
manage” yang memiliki arti mengatur, melaksanakan, mengelola, mengendalikan dan
memperlakukan. Selanjutnya pengertian lingkungan menurut KBBI, diartikan sebagai suatu
tempat yang mempengaruhi perkembangan manusia. Kemudian belajar secara umum
diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relative menetap pada diri individu. Dari
definisi-definisi di atas maka disimpulkan bahwa secara sederhana diartikan sebagai suatu
tempat atau suasana (keadaan) yang mempengaruhi proses perubahan tingkah laku manusia
dan perubahanperubahan yang diakibatkan lingkungan dapat bersifat menetap dan relative
permanen. Semakin kuat pengaruh lingkungan maka perubahan yang terjadi di prediksi akan
16
semakin tinggi pula. Menurut Eliyawati (2005) menjelaskan bahwa esensinya lingkungan
belajar merupakan suatu konteks fisik, sosial, dan psikologis yang dalam konteks tersebut
anak memperoleh belajar dan memperoleh perilaku baik.
Lingkungan belajar dan ruang kelas memiliki peran penting bagi keefektifan
pembelajaran. Komponen kunci lingkungan pembelajaran adalah semua faktor yang
mempengaruhi pengalaman belajar (Gavin.2009;38) Secara umum tujuan pengelolaan
lingkungan belajar adalah untuk mewujudkan situasi yang kondusif untuk memfasilitasi
perkembangan dan belajar anak secara maksimal sesuai dengan perkembangan baik, kognitif,
fisik-motorik, sosial-emosional, nilai agama dana moral bahkan seni anak, serta
menghilangkan berbagai hambatan yang akan mengganggu perkembangan dan aktivitas
belajar anak (Nugraha 2003 dalam Cucu Eliyawati 2005). Secara khusus dan sistematis,
terdapat dua tinjauan yang mengarahkan dari tujuan pengelolaan lingkungan belajar di TK
yaitu : (1). Ditinjau dari sudut Performances atau tampilan muka dari lingkungan belajar, dan
(2). Aspek isi atau Content dari lingkungan belajar tersebut. Dalam sudut performances
ditujukan untuk merangsang atau mengundang anak untuk tertarik dalam aktivitas di
lingkungan belajar sedangkan dalam aspek isi ditujukan untuk memfasilitasi multi sensori
anak dan kemampuan memberikan kesempatan kepada anak untuk beraktivitas dan berkreasi
secara efisien dan efektif (Mariyana, 2010: 19).
Dalam proses belajar, secara tidak langsung sosial budaya dapat mempengaruhi
individu. Apa yang di anggap baik dan buruk akan menentukan suatu sistem norma dan
aturan yang berlaku dalam kelompok budaya setempat. Hal ini dapat menjadi faktor dalam
lengkungan belajar. Adapun terkait hal tersebut terdapat faktor yang dapat mendukung serta
menghambat pengelolaan lingkungan belajar antara lain:
1)Tempat belajar yang baik Untuk dapat di katakan sebagai temapat yang baik terdapat
persyaratan sebagai berikut: letak tata ruang, tempat belajar, penerapan cahaya yang cukup,
udara yang baik, adanya pengaturan tata ruang kelas.
17
2)Media belajar yang tersedia Agar dapat mendukung proses lancarnya belajar di sekolah,
diperlukan peralatan yang cukup dan tersedia. Kekurangan alat-alat belajar akan
memperbanyak individu mengalami gangguan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan
tersedianya alat-alat belajar yang pokok didahulukan dibanding dengan yang lain seperti :
papan tulis, kapur tulis / spidol, penghapus dan sebagainya dapat menunjang pembelajaran
anak.
3)Kedisiplinan belajar Kedisiplinan ini diperlukan untuk melatih siswa agar terbiasa
menerapkan dalam segala tindakan atau kegiatannya. Karena disiplin ini berkaitan erat
dengan kepribadian anak, sehingga jika anak sudah terdidik untuk disiplin maka mereka akan
memiliki kecakapan dalam cara belajarnya.
4)Kebersihan lingkungan kelas dan sekolah Kebersihan lingkungan kelas maupun sekolah
perlu diperhatikan agar siswa merasa nyaman dalam proses belajar dan serta menjaga
lingkungan menjadi bersih
18
BAB III
Lingkungan pendidikan adalah segala kondisi dan pengaruh dari luar terhadap kegiatan
pendidikan (Ahmadi, 2004:74). Sedangkan lingkungan pendidikan menurut Tirtarahardja dan
La Sulo (2007:178) adalah latar tempat berlangsungnya pendidikan. Berdasarkan pengertian
dari definisidefinisi di atas dapatdisimpulkan bahwa yang dimaksud lingkungan belajar
adalah tempat berlangsungnya kegiatan belajar yang mendapatkan pengaruh dari luar
terhadap keberlangsungan kegiatan tersebut
Pada proses belajar anak dalam pengembangan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),
pembentukan dan peningkatan tidak hanya diorientasikan pada satu aspek individu saja,
melainkan seluruh aspek individu. Dalam hal ini, biasanya yang dikembangkan yaitu
kurikulumnya. Kurikulum yang dikembangkan diharapkan untuk memberi kemungkinan
yang seluas – luasnya dalam pengembangan beberapa aspek seperti pengembangan fisik,
emosi, sosial dan kognitif. Dalam pengembangan kurikulum, hal terpenting yang juga harus
tetap diperhatikan yaitu kesesuaian antara isi kurikulum usia dan tingkat kemampuan anak.
Dalam mengimplementasikan dan mengembangkan kurikulum, dalam proses pembelajaran di
kelas guru harus dapat memanfaatkan hasil pengamatannya terhadap anak didik dan mencatat
kemampuan anak didik yang berbeda – beda.
Hal ini sangat penting, karena informasi yang demikian sangat dibutuhkan ketika
seorang guru menyusun rencana pembelajaran yang tentunya sesuai dengan kemampuan anak
didiknya. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Pengembangan anak memerlukan kebutuhan yang tidak hanya dibatasi paa aspek akademik
saja, melainkan aspek sosial dan emosional. Hal ini mendorong guru untuk menjadikan
belajar sebagai proses interaktif. Maksudnya, anak didik tidak hanya dibatasi kontak dengan
teman, orang dewasa, tetapi dengan lingkungan sosial dan fisik secara luas. Kondisi dan
situasi seperti itu akan mendorong siswa lebih melibatkan semua aspek yang ada dalam
dirinya secara keseluruhan dalam interaksi sosial dan memecahkan suatu permasalahan.
19
C.Tujuan pengelolaan lingkungn belajar
Dalam rangka pelaksanaan penataan lingkungan belajar indoor (kelas) yaitu, untuk
menciptakan situasi dan kondisi, menyediakan sarana dan kegiatan pembelajaran yang
optimal serta berjalan secara efektif dan efisien. Sarana yang disediakan tentunya
memungkinkan peserta didik, dapat belajar dan bekerja dalam menemukan pengetahuannya
(Ayu Oktaviani, 2018:55) Adapun tujuan pelaksanaan penataan kelas, menurut pendapat lain
meliputi poin-poin berikut ini:
1)Mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik untuk
mengembangkan kemampuannya secara optimal
2)Mempertahankan keadaan yang stabil dalam suasana kelas, sehingga bila terjadi gangguan
dalam kegiatan belajar dapat diminimalisir.
4)Mengatur semua perlengkapan dan peralatan yang ada untuk memungkinkan para peserta
didik agar dapat belajar di dalam kelas dengan maksimal.
a.Dapat mendorong anak didik untuk mengembangkan tanggung jawab individu terhadap
aktivitas yang ia lakukan.
b.Membantu anak didik mengetahui perilaku mana yang sesuai dengan tata tertib yang
berlaku. Tidak lupa memahami bila arahan pendidik yang diberikan adalah bentuk
peringatan.
c.Membangkitkan bagaimana peserta didik mampu bertanggung jawab, dalam tugas dan
kegiatan yang diadakan.
b.Menyadari kebtuhan peserta didik dan memiliki kemampuan dalam memberikan petunjuk
secara jelas kepada para peserta didik.
c .Mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku peserta didik yang
dirasa mengganggu.
20
3)Tujuan keterampilan melaksanakan penataan bagi pendidik.
b.Menyadari kebtuhan peserta didik dan memiliki kemampuan dalam memberikan petunjuk
secara jelas kepada para peserta didik.
c. Mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku peserta didik yang
dirasa mengganggu.
Bermain outdoor membuat anak dapat menikmati kesenangan dan sangat membantu
pertumbuhan dan perkembangannya. Berbagai macam area yang ada di lingkungan bermain
outdoor yang dikelilingi alam yang natural sehingga anak-anak dapat mengobservasi benda-
benda yang ada di sekitarnya. Lingkungan belajar outdoor merupakan suatu bagian integral
dari program pendidikan anak usia dini. Bagi froebel, taman bermain anak- anak itu bersifat
”alamiah”. Anak-anak memelihara kebun, membangun bendungan aliran air, memelihara
binatang, dan melakukan permainan.
Dengan kegiatan di luar ruangan atau di luar sekolah, anak akan berkesempatan
menguasai kemampuan dasar kehidupan sehari-hari. Anak juga diajak untuk menjaga dan
menghargai hal yang ada di alam, peka dengan kehidupan sosial, dan memahami peran
manusia dalam menjaga alam semesta. Bermain Outdoor akan membantu pertumbuhan
tulang anak. Anak akan lebih mudah bergerak secara bebas dan secara tidak langsung akan
memberikan ruang untuk tulang lebih bergerak bebas. Paparan sinar matahari juga akan
membantu pertumbuhan tulang anak. Selain itu, bermain outdoor juga baik untuk kesehatan
kulit.9 Sep 2022
7.Lingkungan main yang ditata dapat membantu anak memperkirakan berbagai kegiatan yang
akan dilakukan, baik pelaksanaannya (kelompok atau individu) maupun tempat alat main
yang dibutuhkan.
21
8.Mengembangkan kemandirian. Lingkungan yang ditata dengan rapi, semua mainan yang
boleh digunakan anak ditata dalam rak yang terjangkau anak, membuat anak dapat secara
mandiri mengambil dan menyimpan kembali, tanpa harus minta tolong pendidik. Apabila di
satuan PAUD menerima anak berkebutuhan khusus dengan kursi roda, ramp harus tersedia
agar anak bisa mengakses lingkungan tanpa harus tergantung pada orang lain.
9.Mengembangkan kepercayaan diri anak. Lingkungan yang ditata sesuai dengan kondisi
anak dapat membangun kepercayaan diri anak, bahwa mereka mampu melakukannya.
Lingkungan yang penuh tantangan, tetapi aman dilakukan anak, mendorong anak untuk
mencari jalan keluar untuk mengatasi setiap tantangan yang ada. Hal ini menumbuhkan
kreativitas dan sikap pantang menyerah
Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di ruang kelas bersifat intern, di mana guru
memiliki wewenang penuh untuk menjalankan proses pembelajaran yang sedang
berlangsung. Hal tersebut tidak akan berjalan dengan baik, tanpa didasari komunikasi serta
hubungan sosial yang harmonis antara siswa dan guru. Komunikasi yang efektif selama
proses pembelajaran akan mengurangi terjadinya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh
siswa selama belajar. Selain itu, komunikasi yang baik membuat waktu belajar
menyenangkan.
Setelah menciptakan komunikasi yang baik, seorang guru juga harus mampu
mengajar murid dengan menyenangkan. Peran guru bukan hanya mengajar siswa, melainkan
menjadi orang tua siswa di sekolah, menjadi pendengar yang baik, menjadi penasihat,
mendengarkan keluh kesah anak, memberi solusi, saran atau pendapat dan lain sebagainya.
Ada baiknya jika guru mengurangi sikap otoriter dalam mengajar, agar siswa merasa nyaman
dan tidak tertekan saat belajar. Salah satu cara yang bisa dilakukan guru untuk membangun
komunikasi dengan baik terhadap siswa yaitu dengan memberikan nasihat saat dibutuhkan.
Nasihat menjadi cara yang bijaksana untuk menyentuh hati siswa agar Ia mau merubah
perilaku lebih baik. Dengan nasihat yang tepat, maka siswa akan sadar peran dan tugas yang
harus dijalankannya, sehingga ia akan berubah menjadi lebih baik dan melaksanakan
kewajibannya sebagai pelajar serta menjadi orang yang bertanggung jawab. Agar
pembelajaran bisa lebih menyenangkan, ada baiknya jika guru tidak terlalu serius dalam
mengajar, sisipkanlah beberapa candaan yang bisa mengurangi kejenuhan siswa. Sehingga
siswa akan lebih nyaman saat belajar dan tidak terkesan kaku atau monoton.
Untuk menciptakan kelas kondusif, guru harus bisa memberikan aturan yang
disepakati oleh siswa. Sehingga siswa tidak bisa membuat keributan di kelas yang membuat
suasana belajar tidak kondusif, karena telah membuat aturan yang disepakati. Berikan
hukuman ringan bagi siswa yang melanggar peraturan sesuai dengan kesepakatan bersama,
misalnya dengan membersihkan ruangan kelas, menghafalkan materi pelajaran dan lain
sebagainya. Itulah beberapa penjelasan singkat mengenai lingkungan pembelajaran serta cara
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Pasalnya lingkungan belajar yang kondusif
membuat kegiatan belajar mengajar lebih bermakna dan menyenangkan.
1)Faktor Kurikulum
Karena kegiatan kelas bukan sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah materi
pelajaran, akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi. Untuk itu kurikulum
kaitannya dengan pengelolaan kelas harus dirancang sebagai pengalaman edukatif yang
dirancang sekolah dalam membantu anak mencapai tujuan pendidikannya.
Dalam konteks ini diperlukan kreatifitas dalam mengatur dan mendayagunakan sarana
atau gedung yang bersedia berdasarkan kurikulum yang digunakan.
24
BAB IV
Mutohar (2013:33) menyatakan bahwa “Seorang manajer harus membekali diri dengan
kemampuan konseptual yang berkaitan dengan planning, organizing, actuating, dan
controlling serta kemampuan sosial yang mengatur tentang hubungan manusiawi sehingga
mampu gaya kepemimpinan yang tepat dalam berbagai situasi dan kondisi, kemampuan
teknis yang dapat mendukung dalam pelaksanaan program yang dijalankan”.
1) Perencanaan (planning) ruang kelas kurang terlaksana dengan baik yaitu pada perencanaan
pemberian aroma terapi, karena sekolah tidak melakukan perencanaan dan persediaan
anggaran untuk pemberian aroma terapi di ruang kelas. Sedangkan perencanaan terhadap
tempat duduk, media pendidikan serta perencanaan tanaman dan tumbuhan sudah terlaksana
dengan baik sesuai dengan teori.
2) Pengorganisasian (organizing) ruang kelas sudah terlaksana dengan baik, karena formasi
tempat duduk peserta didik di setiap ruang kelas sudah bervariasi, sudah tersedia berbagai
macam media pendidikan yang ditempatkan di tempat yang mudah dilihat oleh peserta didik
dan guru sudah merancang pengaturan tanaman dan tumbuhan supaya dapat menghasilkan
oksigen yang cukup.
3) Pelaksanaan (actuating) dalam pengaturan ruang kelas sudah terlaksana dengan baik,
karena guru sering mengubah formasi tempat duduk anak usia dini saat proses belajar
mengajar yang disesuaikan dengan metode dan model yang digunakan, guru sering
menggunakan media dalam proses belajar mengajar, semua warga sekolah menjaga dan
merawat tanaman dan tumbuhan supaya tidak rusak.
4) Pengawasan (controlling) ruang kelas yang dilakukan masih kurang, yaitu pengawasan
pada media pendidikan di kelas Anak usia dini, karena di beberapa kelas banyak media yang
sudah rusak disebabkan oleh kurangnya pengawasan dari guru. Pengawasan tempat duduk
peserta didik, pengawasan tanaman dan tumbuhan serta pengawasan aroma terapi sudah
terlaksana dengan baik sesuai dengan teori.
Materi esensial dalam Kurikulum 2022 adalah Materi esensial di tiap mata pelajaran,
untuk memberi ruang/waktu bagi pengembangan kompetensi - terutama kompetensi
mendasar seperti literasi dan numerasi – secara lebih mendalam dalam pembelajaran yang
mendalam (diskusi, kerja kelompok, pembelajaran berbasis problem dan projek, dll.).
Sehingga perlu waktu dalam pelaksanaannya karena materi yang terlalu padat akan
25
mendorong guru untuk menggunakan ceramah satu arah atau metode lain yang efisien dalam
mengejar ketuntasan penyampaian materi. Sebelumnya, Kemendikbud telah menginstruksi
para pendidiknya melakukan analisis kompetensi dasar [KD] esensial pada silabus masing-
masing bidang dengan sesuai isi Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan
dalam Kondisi Khusus.
Analisis KD esensial pada silabus dapat dilakukan secara mandiri dengan mengacu
pada kriteria urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian (UKRK).
a.Urgensi bermakna penting atau mendesak. Artinya, bahwa KD tertentu dianggap lebih
penting dan mendesak untuk dipelajari dibanding dengan KD yang lainnya Khususnya di
masa pandemic Covid-19 atau PTM Terbatas saat ini
c. Selanjutnya, relevansi, yang berarti berhubungan satu sama lain. Relevansi ini bisa ditinjau
dari dua hal, pertama materi pada KD tertentu berhubungan dengan materi pada KD lainnya.
Kedua, materi pada KD tertentu berhubungan dengan materi pada mata pelajaran lainnya.
26
2.Identifikasi Jenis-jenis Materi Pembelajaran
a.Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek,
peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama komponen suatu benda, dan
sebagainya. Contoh dalam mata pelajaran Sejarah: Peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus
1945 dan pembentukan Pemerintahan Indonesia.
b.Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai
hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya.
Contoh, dalam mata pelajaran Biologi: Hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber
plasma nutfah, Usaha-usaha pelestarian keanekargaman hayati Indonesia secara in-situ dan
ex-situ, dsb.
c.Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil,
rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang
menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh, dalam mata pelajaran Fisika: Hukum
Newton tentang gerak, Hukum 1 Newton, Hukum 2 Newton, Hukum 3 Newton, Gesekan
Statis dan Gesekan Kinetis, dan sebagainya.
e.Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya nilai kejujuran, kasih
sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja, dsb. Contoh, dalam mata
pelajaran Geografi: Pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, yaitu
pengertian lingkungan, komponen ekosistem, lingkungan hidup sebagai sumberdaya,
pembangunan berkelanjutan.
a. Strategi Penyampaian Fakta, Jika guru harus manyajikan materi pembelajaran jenis fakta
(nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol,
dan sebagainya). Langkah membelajarkan materi pembelajaran jenis Fakta adalah: a. Sajikan
fakta Bahan Ajar Perencanaan Pembelajaran. b. Berikan bantuan untuk materi yang harus
27
dihafal c. Berikan soal-soal mengingat kembali (review) d. Berikan umpan balik e. Berikan
tes.
b. Strategi penyampaian konsep, Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa
definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar peserta didik paham, dapat
menunjukkan ciriciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi dan
sebagainya. Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan 11 materi pembelajaran jenis
Konsep adalah sebagai berikut: a. Sajikan Konsep b. Berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri
pokok, contoh dan bukan contoh) c. Berikan soal-soal latihan dan tugas d. Berikan
umpanbalik e. Berikan tes.
d. Strategi Penyampaian Prosedur, Tujuan mempelajari prosedur adalah agar peserta didik
dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal.
Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu
tugas secara urut. Misalnya langkah menghidupkan televisi, menghidupkan dan mematikan
komputer. Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi: a. menyajikan prosedur b.
pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara melaksanakan prosedur
c. memberikan latihan (praktik) d. memberikan umpanbalik e. memberikan tes
e. Strategi penyampaian materi aspek sikap (afektif), Termasuk materi pembelajaran aspek
sikap (afektif) menurut Bloom (1978) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai,
internalisasi, dan penilaian. Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain:
penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, penyampaian ajaran atau
dogma. Misalnya pada mata pelajaran Sosiologi yang memberikan contoh peran nilai dan
norma dalam masyarakat.
C.Membuat kisi-kisi instrumen penilaian pada anak usia dinI dan Analisis penilaian
pada anak usia dini
Kisi-kisi adalah suatu format atau matriks yang memuat informasi yang dapat dijadikan
pedoman untuk menulis intrumen. Instrumen adalah alat yang dipakai untuk mengumpulkan
informasi terhadap suatu objek sasaran. Komponen kisi-kisi umumnya meliputi identitas,
aspek, komponen, indikator, bentuk instrumen, pensekoran, butir penilaian, dan jenis
28
kegiatan. Sedangkan instrumen itu harus memenuhi hal hal yaitu valid, reliable[konsisten],
fair[tidak merugikan pihak tertentu, jelas, dan autentik\nyata. Pedoman dalam penyusunan
instrumen bersumber dari kisi-kisi instrumen tersebut, untuk itu maka langkah-langkah
sederhana dan praktis dapat mengikuti alur berikut a.Cermati dan pahami kisi kisi yang
dibuat peruntukanya untuk penyusunan instrumen pengukuran aspek apa
b.Ambil nomor urut intrumen tertentu, perhatikan komponennya tentang apa saja dan cermati
bunyi indikatornya kemudian tuliskan butir uraian intreumennya yang merujuk pada kata
oprasional yang ada pada indikator..
c.Uraikan intrumen yang ditulis, singkronkan dengan bentuk intrumen, misalnya apakah
ganda, essay atau pernyataan terbuka atau bentuk-bentuk yang lainnya.
d.Siapkan ruang untuk menuliskan kunci jawaban sesuai dengan model penskrorannya.
e.Susunlah instrumen tersebut sesuai dengan urutannya untuk dijadikan intrumen yang utuh
dab siap digunakan.
Teknik dan instrument penilaian merupakan metode atau cara serta alat yang
digunakan dalam penilaian anak usia dini. Dalam pelaksanaan penilaian, hal yang perlu
diperhatikan ialah teknik dan instrument penilaian perkembangan anak yang akan digunakan.
Penilaian di pendidikan anak usia dini dilaksanakan berdasarkan gambaran/deskripsi tumbuh
kembang dan unjuk kerja anak yang akan diperoleh dengan menggunakan teknik penilaian
(Anonim, 2010:8). Teknik dan instrument penilaian yang digunakan berkaitan dengan
penilaian kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan pada perkembangan anak usia
dini (Anonim, 2015:74). Beberapa teknik dan instrument penilaian tersebut, adalah sebagai
berikut:
a.Pengamatan
29
menggunakan daftar cek/ cheklis, daftar cek merupakan instrument yang disusun berdasarkan
aspek dan indikator perkembangan sesuai kelompok usia. Ceklis dapat dibuat per anak dalam
satu periode tertentu, atau dapat pula dibuat per- periode dengan mencatat nama semua anak.
b.Percakapan
c.Penugasan
Penugasan adalah cara penilaian berupa pemberian tugas yang harus dikerjakan peserta
didik dalam waktu tertentu, baik secara perorangan maupun kelompok (Anonim, 2010:9).
Contoh kegiatan yang dilakukan dalam penugasan ialah melakukan percobaan dengan
menanam cabe, membuat berbagai bentuk dengan bahan plastisin dan jenis penugasan
lainnya. Penugasan merupakan teknik penilaian berupa pemberian tugas yang akan
dikerjakan anak dalam 16 waktu tertentu baik secara individu maupun kelompok serta secara
mandiri maupun didampingi.
d. Unjuk kerja
Unjuk kerja merupaka teknik penilaian yang melibatkan anak dalam bentuk
pelaksanaan aktivitas yang dapat diamati (Anonim, 2015: 74). Unjuk kerja adalah penilaian
yang dilakukan dengan melihat penampilan siswa ketika melaksanakan aktivitas. Teknik
unjuk kerja menuntut peserta didik untuk melakukan tugas yang dapat diamati.. Misalnya
praktek menyanyi, menari, atau membaca syair (Zahro, 2015: 104). Unjuk kerja merupakan
30
penilaian yang menuntut peserta didik untuk melakukan tugas dalam perbuatan yang dapat
diamati, misalnya praktek bernyanyi, olah raga, menari dan bentuk praktek lainnya
Hasil karya adalah hasil kerja siswa setelah melaksanakan kegiatan, dapat berupa
pekerjaan tangan atau karya seni. Misalnya gambar, menari, menyanyi dan hasil karya
lainnya (Suyadi & Dahlia, 2014:139). Hasil karya merupakan teknik penilaian dengan
melihat produk yang dihasilkan oleh anak stelah melakukan suatu kegiatan
f.Pencatatan anekdot
Catatan anekdot pada dasarnya merupakan bagian dari teknik observasi. Catatan
anekdot lebih memfokuskan pada catatan tentang sikap dan perilaku anak yang terjadi secara
khusus atau peristiwa yang terjadi secara incidental/tiba-tiba (Anonim, 2010:9). Catatan
anekdot adalah catatan sikap dan prilaku siswa dalam situasi khusus. Situasi khusus di sini
adalah kejadian yang muncul di luar kebiasaan siswa, baik kejadian yang sifatnya menunjang
perkembangannya maupun yang perlu mendapatkan perhatian khusus (Suyadi & Dahlia,
2014:121).
g.Portofolio
2. Waktu penilaian
Di lembaga PAUD, penilaian dilaksanakan sepanjang waktu, mulai sejak anak tiba
disekolah, bermain, sampai pulang kembali (Suyadi & Dahlia, 2014:120). Selanjutnya dikutip
dalam (Anonim, 2015:74) tentang hasil penilaian dapat dirangkum dalam kurun waktu
harian, mingguan dan bulanan. Penilaian dilakukan secara alami, baik berdasarkan kondisi
nyata yang muncul dari perilaku anak selama proses berkegiatan maupun hasil dari kegiatan
tersebut. itulah yang disebut penilaian autentik.
31
3. Pengolahan Penilaian Anak Usia Dini Dari
hasil informasi dan data yang diperoleh, maka guru akan mengolah serta
mendeskripsikan hasil dari pelaksanaan evaluasi sehingga pada akhirnya akan memperoleh
gambaran tentang perkembangan belajar siswa atau juga hal lainnya yang berkenaan dengan
pembelajaran di PAUD 18 (Wahyudin & Mubiar, 2012:86). Pengolahan penilaian dalam
kurikulum 2013 pendidikan anak usia dini mencakup kegiatan:
1.Mencatat hasil penilaian perkembangan anak kedalam format yang disusun oleh pendidik
setiap selesai melakukan penilaian.
2.Dilanjutkan dengan kegiatan merangkum semua hasil perkembangan anak dan dipindahkan
kedalam format yang telah disiapkan baik harian maupun bulanan. Sehingga dapat dibuat
kesimpulan sebagai dasar laporan perkembangan anak kepada orang tua.
32
BAB V
Teori Behavioristik merupakan teori belajar yang sangat menekankan perilaku atau
tingkah laku yang dapat diamati. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena
memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul. Ada
beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu:
2) Bersifat mekanistis,
Menurut teori Behavioristik, belajar merupakan perubahan dalam tingkah laku sebagai
akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Atau dengan kata lain, belajar adalah
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara
yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons. (B. Uno, 2008, hlm. 7)
Menurut teori ini, orang terlibat di dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah
mempelajarinya, melalui pengalaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku
tersebut dengan hadiah-hadiah.
Orang menghentikan suatu tingkah laku, mungkin karena tingkah laku tersebut belum
diberi hadiah atau telah mendapat hukuman. Semua tingkah laku, baik bermanfaat ataupun
merusak, merupakan tingkah laku yang dipelajari. Gagasan utama dalam aliran behavioristik
ini adalah bahwa untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan pendekatan yang
objektif, mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang
dapat dilakukan melalui upaya pengondisian. Dengan perkataan lain, mempelajari tingkah
laku seseorang seharusnya dilakukan melalui pengujian dan pengamatan atas tingkah laku
yang tampak, bukan dengan mengamati kegiatan bagian dalam tubuh. Menurut Watson,
adalah tidak bertanggung jawab dan tidak ilmiah mempelajari tingkah laku manusia semata-
mata didasarkan atas kejadian-kejadian subjektif, yakni kejadiankejadian yang diperkirakan
terjadi di dalam pikiran, tetapi tidak dapat diamati dan diukur. (Desmita, 2012, hlm. 45) Pada
dasarnya pendekatan Behavior ini bertujuan untuk menghilangkan tingkah laku yang salah
dan membentuk tingkah laku baru. (Sanyata, 2012, hlm. 5)
33
C. Teori Behavioristik Menurut Beberapa Ahli
Tokoh yang sangat terkenal dari teori ini adalah Thorndike. Belajar pada binatang
yang juga berlaku bagi manusia menurut Thorndike adalah trial and error (uji coba).
Thorndike mengemukakan tiga prinsip atau hukum dalam belajar. Pertama, law of readiness,
belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan
tersebut. Kedua, law of exercies, belajar akan berhasil apabila banyak latihan, ulangan.
Ketiga, law of effect, belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil
yang baik. Teori pengkondisian (conditioning), merupakan perkembangan lebih lanjut dari
koneksionisme. Teori ini dilatarbelakangi oleh percobaan Pavlov dengan keluarnya air liur.
Air liur akan keluar apabila anjing melihat atau mencium bau makanan. Dalam percobaannya
Pavlov membunyikan bel sebelum memperlihatkan makanan pada anjing. Setelah diulang
berkali-kali ternyata air liur tetap keluar bila bel berbunyi meskipun makanannya tidak ada.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku individu dapat dikondisikan. Belajar merupakan
suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap
sesuatu. Kebiasaan makan atau mandi pada jam tertentu, kebiasaan berpakaian, masuk
kantor, kebiasaan belajar, bekerja dll. Terbentuk karena pengkondisian. Teori penguatan atau
reinfocement, juga merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme.
Kalau pada pengkondisian yang diberi kondisi adalah perangsangnya, maka pada
teori Penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya. Seorang anak belajar
dengan giat dan dia dapat menjawab semua pertanyaan dalam ulangan atau ujian. Guru
memberikan penghargaan kepada anak tersebut dengan nilai tinggi, pujian atau hadiah.
Berkat pemberian penghargaan ini maka anak tersebut belajar lebih rajin lagi. Jadi, sesuatu
respons diperkuat oleh penghargaan atau hadiah. Teori penguatan disebut juga operant
conditioning dan tokoh utama dari teori ini adalah Skinner. Skinner mengembangkan
program pengajaran dengan berpegang kepada teori di atas. Program pengajaran yang
terkenal dari Skinner adalah Programmed Instruction, dengan menggunakan media buku atau
mesin pengajaran. Pengembangan lebih lanjut dari pengajaran berprogram dari Skinner ini
adalah Computer assisted Instruction (CIA) atau pengajaran dengan menggunakan komputer.
(Sukmadinata, 2005, hlm. 168-169) Selain itu, Clark Hull mengatakan bahwa kebutuhan
biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral
dalam seluruh kegiatan manuisa, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan
dengan kebutuhan biologis, walaupun respons yang akan muncul mungkin bermacam-macam
bentuknya. (Prawianto, Petrus Ony, 2012, hlm. 28)
34
D. Pengaruh Watson terhadap Teori Belajar Behavioristik
Tokoh utama aliran ini ialah J.B, Watson. Watson sebenarnya mula-mula belajar filsafat,
tetapi kemudian pindah ke dalam lapangan psikologi. Sejak tahun 1912 Watson telah menjadi
terkenal karena penyelidikan-penyelidikannya mengenai proses belajar pada hewan. Dasar-
dasar pendapat Watson.
a.Masalah objek psikologi Watson berpendapat, bahwa sebagai science psikologi harus
bersifat positif, sehingga objeknya bukanlah kesadaran dan hal-hal lain yang dapat diamati,
melainkan haruslah tingkah laku, lebih tegasnya lagi tingkah laku yang positif, yaitu tingkah
laku yang dapat diobservasi.
b.Masalah metode Watson menolak sama sekali metode introspektif, karena metode tersebut
dianggapnya tidak ilmiah. Sedangkan para ahli saja sudah terbukti memberikan hasil yang
berbeda-beda kalau menggunakan metode introspeksi ini, apalagi kalau yang
menggunakannya itu bukan ahli. Kecuali itu sebenarnya metode introspeksi itu memang tidak
perlu dipergunakan, karena objek psikologi adalah positive behavior, maka dengan sendirinya
tidak memerlukan metode introspeksi. Metodenya yang pokok ialah observasi.
Tingkah laku yang kompleks ini dapat dianalisis menjadi rangkaian ‘Unit’ perangsang dan
reaksi (stimulus and response) yang disebut refleks.
(a) Perangsang dan stimulus itu adalah situasi objektif, yang wujudnya dapat bermacam-
macam, seperti misalnya: sinar, bola kasti yang dilemparkan, rumah terbakar, kereta api
penuh sesak dan sebagainya.
(b) Response adalah reaksi objektif dari individu terhadap situasi sebagai perangsang, yang
wujudnya juga dapat bermacam-macam sekali, seperti misalnya refleks pattela, memukul
bola, mengambil makanan, menutup pintu, dan sebagainya.
Tetapi karena pandangannya yang radikal dan penggunaan istilah-istilah yang agak
dipaksakan, maka banyak orang yang memperoleh kesimpulan, bahwa psikologi Watson itu
mekanistik dan dangkal
Karena tidak dapat menerima pendapat bahwa kesadaran itu ada pada hewan, maka
Watson berpendapat bahwa kita tidak berhak berbicara tentang hewan melihat, mendengar,
dan sebagainya. Tetapi kita harus berbicara tentang hewanhewan melakukan response
motoris yang dapat ditunjukkan terhadap perangsangperangsang pendengar, penglihatan, dan
sebagainya, karena itu tak dapat dibantahkan bahwa hewan itu membuat respons
pendengaran, respons penglihatan dan sebagainya, jadi data objektif di sini adalah stimulus
dan respons. Dalam menghadapi manusia, menurut Watson, jalan yang harus ditempuh juga
demikian itu.
35
(3) Perasaan, tingkah laku afektif
Watson berpendapat, bahwa hal senang dan tidak senang itu adalah soal sensomotoris.
Dia ingin mengetahui bahwa ada reaksi emosional yang dibawa sejak lahir. Untuk keperluan
ini dia melakukan penyelidikan terhadap berpuluh-puluh bayi yang dirawat di rumah sakit,
dan mendapatkan adanya tiga macam pola tingkah laku emosional (dalam arti yang dapat
diamati),: yaitu reaksi-reaksi emosional: (1) takut, (2) marah, dan (3) cinta. Dalam
eksperimen-eksperimen lebih lanjut dia mendapat kesimpulan, bahwa reaksi-reaksi
emosional itu dapat ditimbulkan dengan pensyaratan (conditioning) dan reaksi emosiional
bersyarat itu dapat dihilangkan dengan pensyaratan kembali (reconditioning). Tentang proses
pensyaratan dan pensyaratan kembali itu pada pokoknya sama dengan yang dilakukan oleh
Pavlov.
Watson mulai dengan postulatnya yang biasa, yaitu bahwa berfikir itu haruslah
semacam tingkah laku senso-motoris, dan bagi dia berbicara dalam hati adalah tingkah laku
berfikir. Orang, terutama anak-anak, sering kali berfikir dengan bersuara (berbicara). Anak
sering mengatakan apa yang sedang dikerjakannya, misalnya memberi nama kepada benda-
benda permainannya atau hasil pekerjaannya, kemudian suara itu makin perlahan, makin
berbisik – menjadi gerakan bibir saja --- dan akhirnya menjadi bercakap kepada diri sendiri
dalam cara yang tidak terlihat dan tak terdengar. Anak juga belajar berkata kepada diri sendiri
tentang apa yan sedang dikerjakannya, apa yang telah dikerjakannya; dan dengan demikian
sampailah dia kepada bentuk orang dewasa. Orang dewasa sering mengganti tindakan-
tindakan dengan semacam percakapan terhadap diri sendiri, untuk menghemat waktu dan
tenaga.
(5) Masih ada satu lagi yang perlu dikemukakan, yaitu pengaruh lingkungan (pendidikan,
belajar, pengalaman) dalam perkembangan individu. Watson berpendapat bahwa reaksi-
reaksi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk
dalam perkembangan, karena latihan dan belajar.
Pengaruh Watson Aliran behaviorisme yang dirumuskan oleh Watson itu (yang
sering juga disebut Behaviorisme orthodox) dewasa ini boleh dikata hampir tidak ada yang
mengikuti secara konsekuen. Namun demikian pengaruh pendapat Watson itu masih tetap
besar, terutama di Amerika Serikat sendiri, yaitu dalam bentuk aliran yang sudah direvisi:
Neo Behaviorisme. Pendukung-pendukung aliran ini antara lain: (1) Edward Chace Tolman,
(2) Clark L Hull, dan (3) edward R. Guthrie. (Suryabrata, 2004, hlm. 266- 271).
a.Perencana
Guru sebagai perencana kegiatan bermain anak. Dengan tanpa adanya perencanaan,
maka apa yang kita harapkan dari proses bermain anak tersebut tidak akan tercapai, seperti
berkembangnya aspek motorik anak yang kita harapkan akan berkembang lebih baik, namun
karena tidak adanya perencanaan yang matang dari seorang guru maka perkembangan aspek
36
anak tersebut kurang maksimal. Ketika seorang guru menjadi perencana kegiatan, pastilah dia
juga menjadi seorang inovator, dimana seorang guru tersebut membuat beragam permainan
baru guna mendorong anak untuk mengembangkan minat dan kemampuannya, dalam hal ini
guru juga disebut sebagai pendorong kreativitas anak dan motivator yang memberikan
stimulus pada anak untuk bereksplorasi dengan permainan. Selain itu, guru juga disebut
peneliti, karena sebelum membuat inovasi permainan, seorang guru haruslah mengerti
permainan apa yang tepat untuk digunakan pada anak-anak tersebut, dan cara yang digunakan
adalah meneliti hal apa saja yang dibutuhkan anak
b.Pendidik
Pendidik berasal dari kata didik, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) didik/di*dik/v,mendidik/men*di*dik/v memelihara dan memberi latihan (ajaran,
tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Jadi pendidik berarti orang
yang memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dengan kata
lain, guru juga berperan besar dalam pembentukan akhlak seorang anak dengan menjadi
seorang teladan dan model yang baik bagi anak. Maka permainan di jenjang pendidikan anak
usia dini lebih banyak bersifat imitasi. Seperti dalam ungkapan Jawa, guru merupakan
akronim dari digugu lan ditiru.
Digugu berarti semua perintahnya dapat dipercaya dan dilaksanakan. Ditiru berarti
semua tingkah laku guru akan ditiru atau diteladani. Dalam hal ini, peran guru dalam
permainan anak adalah sebagai tokoh panutan atau uswatun hasanah (suri tauladan yang baik)
yang patut dicontoh oleh anak didiknya.
Fasilitator adalah orang yang memfasilitasi, sedangkan pengajar berasal dari kata
dasar ajar, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengajar/peng*a*jar/n orang
yang mengajar (seperti guru, pelatih). Sedangkan proses atau cara mengajar disebut
pengajaran. Kegiatan bermain anak tidak akan berjalan jika tidak adanya fasilitas dari guru.
Diposisi ini guru menjadi seorang fasilitator bagi anak mulai dari alat permainan, aturan
main, maupun cara pelaksanaannya. Menjadi fasilitator bukan hanya sebagai penyedia sarana
prasarana saja akan tetapi juga menyediakan layanan, maka dalam hal ini guru juga berperan
sebagai pengajar dan pelatih. Sebagai fasilitator, pengajar, dan pelatih maka seorang guru
dituntut berperan aktif, kreatif, dan dinamis. Dengan aktifnya seorang guru dalam kegiatan
bermain anak, disini seorang guru juga berperan menjadi seorang aktor yang haus
menyesuaikan dengan anak didiknya dan juga sebagai teman bagi anak didiknya.
37
BAB VI
Prinsip Umum Penataan Ruang Kelas PAUD diantaranya: Ruangan kelas yang tampil
menghadap kearah datangnya cahaya dan udara akan lebih nyaman dan terasa terang dengan
cahaya yang masuk keruangan tersebut serta udara segar yang membuat anak dapat bernafas
dengan bebas. Untuk ukuran ruangan pada pendidikan prasekolah menggunakan ukuran 105
cm² per anak untuk usia 2-3 tahun, sedangkan untuk anak usia 4-6 tahun dengan ukuran 120-
180 cm² per anak. Dalam pemilihan bahan untuk lantai harus memperhatikan bahaya dan
resiko terhadap anak. Lantai yang licin dapat menyebabkan kecelakaan pada anak. Untuk
mengantisipasi hal tersebut lantai dapat dilapisi dengan karpet. Untuk pengaturan atap dan
langit-langit yaitu untuk atap dianjurkan dengan ketinggian 3 m – 3,3 m dan tinggi langit-
langit adalah 2,1 m dan ini hanya untuk anak.
Untuk penataan dinding dapat dilapisi dengan cat, bahan-bahan penyerap yang halus
yang dapat mengurangi atau menyerap bunyi. Bisa juga dinding sebagai tempat untuk
menempel hasil karya anak. Pemilihan warna dinding untuk anak juga sangat mempengaruhi
prestasi akademik anak.
Untuk ukuran meja dan kursi disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan anak.
Akan lebih baik apabila meja dan kursi dapat dilipat sehingga pada saat tidak dipakai dapat
disimpan dan tidak banyak memakan tempat. Selain itu, guru juga harus menetapkan kapan
anak duduk dilantai dan berapa lama untuk melakukankegiatan pembelajaran. Pada
38
Pendidikan Anak Usia Dini, kelas yang menarik dan menyenangkan untuk belajar dapat
diciptakan dari sebuah kelas yang memiliki ukuran sama dengan kelas sebelumnya, terdiri
dari material yang sama, dan juga memiliki jumlah guru dan anak-anak yang sama. Kelas
yang menarik tersebut dicontohkan oleh Marion antara lain :
7.Material disimpan di atas rak terbukayang rendah, dan anak-anak dapat menjangkaunya
dengan mudah.
8.Fasilitas dan peralatan ditempatkan berdekatan dengan aktivitas yang akan dilakukan anak,
seperti kran air, ember, dan spons.
B. Konsep Desain
a.Objek Desain
habits forming dan life skills menjadi cirri khusus TK & Playgroup Kreatif. Habits
Forming merupakan kegiatan pembiasaan hidup positif yang dilatihkan kepada anak. Life
skill berupa kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, latihanlatihan praktis
untuk membiasakan anak melakukan pekerjaan dalam lingkungannya sendiri dengan cara
berlatih menguasai hal-hal yang ada di sekitarnya, misal memakai sepatu, mengenakan
pakaian, dan sebagainya.
b.Konsep Makro
Secara keseluruhan konsep yang diterapkan dalam tugas akhir ini dengan objek
sebuah TK dan Playgroup Kreatif nunansa modern islami menggunakan ornamen ornamen
yang diletakkan didinding dan pemilihan bentukan furniture yang membantu perkembangan
adan dalam berkreatifitas. Konsep makro dapat dilihat melalui bagan dibawah ini Gambar 2.
Bagan Tree Method
39
C. Konsep Mikro
1.dinding
Pemilihan material dinding partisi gypsum dikarenakan pengguna utama dari TK &
Playgroup Kreatif Primagama merupakan anak berumur 2-6 tahun. Pemilihan warna yang
digunakan pada dinding memiliki nuansa fun, ceria ditujukan untuk menunjukkan image dari
TK dan Playgroup Kreatif Primagama. Bentukan dinding dengan wallpaper bertujuan untuk 7
meningkatkan kreatifitas dan daya imajinasi anak, serta mengenalkan beberapa bentukan
ornamen islam terhadap pengguna utama
2.Lantai
Penggunaan material karpet, kayu parquet dan rubber tile pada lantai bertujuan untuk
keamanan serta kebersihan ruang dilihat dari faktor pengguna utama dari TK & Playgroup
Kreatif merupakan anak berumur 2- 6 tahun. Pemilihan warna bertujuan untuk menunjukkan
image TK dan Playgroup Kreatif Primagama jemursari, meningkatkan kreatifitas dan daya
imajinasi anak
3.Plafon
Penggunaan material Gypsum Board, dan bentuk Drop Ceilling dan Standart Ceilling
bertujuan untuk keamanan serta kebersihan ruang dilihat dari faktor pengguna utama dari TK
& Playgroup Kreatif merupakan anak berumur 2-6 tahun. Pemilihan warna soft
menyesuaikan dengan warna dinding yang terdapat pada ruang bertujuan untuk menunjukkan
image TK dan Playgroup Kreatif, meningkatkan kreatifitas dan daya imajinasi anak
4.Furnitur
5.Penghawaan dan Pencahayaan Penggunaan AC Split pada setiap ruang serta dengan
menggunakan pencahayaan berwarna warm light bertujuan untuk pencahayaan yang sesuai
dengan kebutuhan membaca dilihat dari 8 faktor pengguna utama dari TK & Playgroup
Kreatif merupakan anak berumur 2-6 tahun
C. Konsep Desain Interior Bernuansa Modern Islam pada TK dan Playgroup Kreatif
1.Elemen Pembentuk Ruang Terdapat beberapa Elemen pembentuk ruang yang menunjukkan
konsep modern islami yang meningkatkan kreatifitas anak, sebagai berikut:
40
a. Dinding Pemilihan konsep peruang dalam TK dan Playgroup berpengaruh untuk
menumbuh kembangkan kreatifitas anak. Gambar diabawah ini merupakan konsep dinding
yang terdapat pada ruang terpilih dua dengan konsep sky.
b. Lantai Penggunaan lantai yang terbagi menjadi 2 material dikeseluruhan ruang, yaitu
penggunaan rubber tile dan kayu parket. Kombinasi material sehingga membentuk ruang
yang aman bagi anak anak ketika mereka bermain.
2. Aspek Dekorasi Bentuk Furnitur Aspek dekorasi bentuk furnitur dalam ruangan ruangan
yang terdapat pada TK dan Playgroup terbagi menjadi :
a. Furniture Bentukan furniture yang memiliki kemudahan untuk ditata seperti halnya bentuk
persegi, dalam hal ini juga bentukan furnitur meja kelas yang dapat diubah sesuai dengan
pengelompokannya
b. Ornamen dinding Ornamen dinding yang terdapat pada setiap kelas terdiri penempelan dari
karya dan ornamen islami.
41
BAB VII
desain (bahasa Inggris: design) berarti rancangan, pola atau cipta. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), desain berarti gagasan awal, rancangan, perencanaan pola,
susunan, kerangka bentuk suatu bangunan, motif bangunan, pola bangunan, corak bangunan
Secara istilah desain sebagai suatu proses pengorganisasian unsur garis, bentuk ukuran
warna, tekstur, bunyi, cahaya, aroma dan unsur-unsur desain lainnya, sehingga tercipta suatu
hasil karya tertentu. Adapun kata interior, menurut KBBI berarti bagian dalam gedung atau
ruang, tatanan perabot atau hiasan di dalam ruang bagian dalam gedung. Menurut arti ini,
Interior mecakup isi atau perabot yang berada di dalam ruang. Sedangkan menurut Syafi'i,
desain adalah terjemahan fisik mengenai aspek sosial, ekonomi, dan tata hidup manusia, serta
merupakan cerminan budaya zamannya (Sjafi, 2001: 18)
Perlengkapan dan materiil sebaiknya memiliki ukuran lebar, panjang, dan tinggi yang
tepat untuk ukuran anak. Ini 3 berarti papan gambar yang ditempel di dinding harus dalam
posisi yang nyaman dilihat oleh anak, bukan nyaman dilihat oleh guru. Sebagai tambahan,
gantungan baju, mangkuk, dan bahan lain ditempatkan di tempat yang mudah dijangkau oleh
anak. Demikian pula halnya penggunaan kursi, meja, dan alat furniture lainnya sebaiknya
mempunyai ukuran yang sesuai bagi anak.
Ruangan sebaiknya diatur dan tidak acak-acakan. Lingkungan yang tidak teratur akan
mengakibatkan munculnya perilaku serupa pada anak. Kerapihan kelas memerlukan
perhatian dan kepedulian yang lebih dari guru. Barang-barang untuk area khusus atau
ruangan belajar dijaga dan dikelola sebaikbaiknya. Bagian yang kotor terpisah dari bagian
42
yang bersih. Anak-anak pun sebaiknya didorong dan dilatih untuk meletakkan mainan dan
barang-barang pada tempatnya.
Lingkungan fisik harus bersih dan sehat untuk kesehatan. Suatu lingkungan fisik
yang penuh dengan kesenangan, penuh warna, terang, dan fasilitas yang mudah dijangkau
dikombinasikan dengan alat mainan yang terpilih dengan tepat akan mendukung
pembelajaran di TK Gambar yang menunjukkan anak-anak sedang bermain, bekerja, dan
beraktivitas disimpan di dinding dengan ketinggian yang mudah dilihat dengan nyaman oleh
anak. Namun, perlu diperhatikan untuk tidak memasangkan gambar-gambar yang terlalu
banyak, karena akan mengganggu konsentrasi dan melelahkan anak. Prinsip sederhana
namun indah merupakan panduan yang jadi pegangan dalam pengaturan fisik suatu ruang
kelas di TK.
Guru sebaiknya dapat melihat, mengawasi, dan menilai seluruh area kelasnya.
Dengan demikian dalam penempatan lemari dan rak yang tinggi sebaiknya merapat atau
berdekatan ke dinding. Sementara lemari atau rak yang pendek dapat digunakan sebagai
pemisah ruangan atau pemisah area. Gambar berikut ini merupakan salah satu contoh
penempatan rak pendek yang membantu pengawasan guru.
43
8) Memahami Tujuan dan Manfaat Media yang Dipergunakan
Guru diharapkan memahami maksud dan arti dari setiap area dan setiap bagian dari
perlengkapan dan materiil yang dipergunakannya. Adakalanya guru perlu merenungkan dan
mengevaluasi diri terhadap segala aktivitas yang dilakukannya. Guru dapat menjawab
pertanyaan- pertanyaan seperti "Mengapa saya menggunakan ini?", "Untuk apa kegiatan tadi
dilakukan?", "Apa pengaruhnya terhadap anak?", dan "Apakah saya telah mencatat dan
menyelesaikan laporan perkembangan anak?". Perlu diingat bahwa pengaturan fisik pada
dasarnya adalah untuk melayani dan membatu memfasilitasi kebutuhan dan kegembiraan
anak-anak di kelas. Dalam menata perlengkapan belajar anak hendaklah diperhatikan agar
tidak ada tempat yang tersembunyi, karena ruangan tersembunyi akan sangat sulit untuk
diawasi. Anak-anak TK masih membutuhkan pengawasan dan guru seyogianya masih dapat
mengawasi anak dengan baik. Pengawasan guru dapat dilakukan sepanjang penyekat ruangan
dan lemari-lemari kabinet tidak lebih dari 120 cm tingginya.
1) Perencanaan Program
2) Merupakan penyusunan kegiatan dalam mencapai visi, misi, tujuan lembaga PAUD
Berbasis Pendidikan Agama Islam
5) Pengawasan Meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil
pengawasan guna menjamin terpenuhinya hak dan kebutuhan anak serta kesinambungan
program PAUD Berbasis Pendidikan Agama Islam Pelaksanaan Program PAUD Berbasis
Pendidikan Agama Islam Merupakan integrasi dari layanan pendidikan, pengasuhan,
perlindungan, kesehatan, dan gizi yang diselenggarakan dalam bentuk satuan atau program
PAUD Berbasis Pendidikan Agama Islam
6) Layanan
PAUD Berbasis Pendidikan Agama Islam melayani anak usia 2 - 6 tahun. Waktu
kegiatan sesuai usia dan frekuensi pertemuan sebagai berikut:
a) Usia 2-4 tahun satu kali pertemuan minimal 180 menit dan frekuensi pertemuan minimal
dua kali per minggu
44
b) Usia 4 6 tahun satu kali pertemuan minimal 180 menit dan frekuensi pertemuan minimal
lima kali per minggu
Rasio guru dan anak didik pada PAUD Berbasis Pendidikan Agama Islam: untuk anak
usia 2-4 tahun rasio guru dan anak adalah 1:8; sedangkan untuk anak usia 4-6 tahun rasio
guru dan anak adalah 1:15. Untuk memudahkan proses pembelajaran, anak dikelompokkan
sesuai dengan usia mental, yang pada umumnya juga sesuai dengan usia kronologis (usia
kalender). Artinya, jika ada anak yang usianya telah memenuhi syarat untuk kelompok
tertentu tetapi perkembangannya belum mencapai, maka anak tersebut ditempatkan di
kelompok usia di bawahnya sampai memiliki kesiapan mental yang diperlukan. 7
Perpindahan ke kelompok yang lebih tinggi dapat dilakukan setiap saat sesuai kesiapan
masing-masing. Untuk anak-anak yang perkembangannya normal, perpindahan ke kelompok
yang lebih tinggi dapat dilakukan seiring dengan bertambahnya usia anak. Untuk anak-anak
yang mengalami gangguan perkembangan, disesuaikan dengan tingkat perkembangannya
atau berdasarkan rekomendasi ahli. Pengukuran tahap perkembangan dapat menggunakan
instrumen Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTK) Pengelompokan anak pada
program PAUD Berbasis Pendidikan Agama Islam diatur sebagai berikut:
1) Kelompok Alif: Usia 2-4 tahun (24-48 bulan), per kelompok maksimal 10 anak. Jika
jumlah anak lebih dari 10, dapat dipecah menjadi beberapa kelompok misalnya kelompok
usia 2 - 3 tahun (24-36 bulan) dan kelompok usia 3-4.0 tahun (36-48 bulan).
2) Kelompok Ba: Usia 4.0-5.0 tahun (49-60 bulan), per kelompok maksimal 12 anak. Jika
jumlah anak lebih dari 12, dapat dibagi menjadi beberapa kelompok misalnya kelompok usia
4.0 - 4.5 tahun (49-54 bulan) dan 4,5-5.0 tahun (55-60 bulan).
3) Kelompok Ta: Usia 5.0-6.0 tahun (61-72) bulan, per kelompok maksimal 15 anak Jika
jumlah anak lebih dari 15, dapat dibagi menjadi beberapa kelompok misalnya kelompok usia
5.0 - 5.5 tahun (61-66 bulan) dan 5,5-6.0 tahun (67-72 bulan).
45
BAB VIII
Pengelolaan berasal dari kata kelola yang mendapat imbuhan pe dan akhiran an yang
mempunyai arti ketatalaksanaan, tata pimpinan, atau bisa disebut juga memenejemen.
Menurut suharsimi arikunto(1990:2) pengelolaan adalah pengadministrasian, pengaturan,
atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan lingkungan belajar adalah suatu tempat yang
berfungsi sebagai wadah atau lapangan terlaksananya proses belajar mengajar atau
pendidikan. Tanpa adanya lingkungan, pendidikan tidak dapat berlangsung. Menurut Huta
barat (1986) lingkungan belajar yaitu lingkungan yang alami dan lingkungan sosial,
lingkungan alami meliputi keadaan suhu dan kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial
dapat berwujud manusia. Menurut dun dan dun (1999) kondisi belajar atau lingkungan
belajar dapat mempengaruhi konsentrasi dan penerimaan informasi bagi siswa, jadi
lingkungan belajar adalah lingkungan alami yang diciptakan oleh guru atau orang lain yang
bisa menambah konsentrasi siswa dan pengetahuan siswa secara efisien.
Proses pembelajaran bisa berlangsung pada banyak lingkungan yang berbeda, tidak
hanya terikat pada ruang kelas akan tetapi bisa pada lingkungan umum seperti masjid,
museum, lapangan dan juga bisa berlangsung di sarana dan prasarana sekolahan. Secara
keseluruhan istilah pengelolaan lingkungan belajar dapat diartikan sebagai suatu proses
mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai komponen lingkungan yang dapat
mempengaruhi perubahan perilaku anak sehingga dapat terfasilitasi secara optimal.
Pengelolaan belajar dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian , yaitu lingkungan fisik dan
lingkungan non-fisik. Lingkungan fisik merupakan suatu tempat atau suasana (keadaan)
terdiri dari objek, materi dan ruang yang mempengaruhi pertumbuhan manusia. Lingkungan
fisik terdapat 2 jenis lingkungan yaitu lingkungan indoor dan outdoor.
Sesuai dengan karakteristiknya, masa usia dini disebut masa peka. Pada masa ini anak
sangat sensitif atau sangat peka terhadap sesuatu di sekitarnya sehingga pada masa ini
merupakan saat yang paling tepat bagi anak untuk menerima respons atau rangsangan yang
diberikan oleh lingkungannya. Dengan demikian, lingkungan sebagai unsur yang
menyediakan sejumlah rangsangan perlu mendapat perhatian dan perlu diciptakan
sedemikian rupa, agar menyediakan objek- objek sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan anak. Untuk itu, dibutuhkan perencanaan yang matang. Ketepatan lingkungan
belajar secara langsung maupun tidak langsung akan sangat mempengaruhi proses dan hasil
belajar yang akan dicapai anak. Idealnya dalam pengelolaan lingkungan belajar adalah
penggabungan dari dua hal, guru yang superior yaitu memadai dalam pengetahuan dan
pengalamannya, dilengkapi ruangan dengan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan
perkembangan dan minat anak.
46
Ms. Johnson (dalam Luluk Asmawati, 2014:3.5) mempunyai pandangan yang ekstrim
yaitu, pada kenyataannya seorang anak akan lebih tertarik pada lingkungan kelas dan
pembelajaran tertentu yang membutuhkan tantangan untuk membuat kegiatan seharihari
berjalan dengan menyenangkan. Pendapat ini menunjukkan bahwa, faktor lingkungan
memberikan pengaruh yang sangat besar dalam membedakan kualitas program di lembaga
PAUD, oleh karena itu guru harus berhati-hati dalam merencanakan dan mengorganisir ruang
kelas dan peralatannya. Pandangan konstruktivis yang dimotori oleh dua orang ahli psikologi
yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky berasumsi bahwa anak adalah pembangun pengertian
yang aktif. Anak mengonstruksi/ membangun pengetahuannya berdasarkan pengalamannya.
Pengetahuan tersebut diperoleh anak dengan cara membangun sendiri secara aktif melalui
interaksi yang dilakukannya dengan lingkungan.
Para ahli konstruktivis meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak memahami
dunia di sekeliling mereka. Pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman
sebaya anak, orang dewasa dan lingkungan. Anak membangun pemahaman mereka sendiri
terhadap dunia. Mereka memahami apa yang terjadi di sekeliling mereka dengan menyintesis
pengalaman- pengalaman baru dengan berbagai hal yang telah mereka pahami sebelumnya.
Pendekatan konstruktivis ini menekankan pada pentingnya keterlibatan anak dalam proses
pembelajaran. Untuk itu maka guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang
menyenangkan, akrab, dan hangat melalui kegiatan bermain maupun berinteraksi dengan
lingkungan sehingga dapat merangsang partisipasi aktif dari anak Panduan National
Association Education for the Young Children (NAEYC) dalam bukunya Developmentally
Appropriate Practice (DAP)(1991) menyatakan bahwa anak- anak pada semua usia
membutuhkan periode tanpa interupsi untuk melakukan berbagai kegiatan yang meliputi
investigasi dan kegiatan pilihan (dikutip dari Luluk Asmawati, 2014: 3.7).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan kegiatan
pilihan bagi anak adalah menyiapkan lingkungan belajar dengan berbagai kegiatan pilihan
yang merangsang dan menantang meskipun bukan berarti harus dengan peralatan yang
lengkap. Persiapan dan pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan perkembangan anak, para
penanggung jawab biasanya mulai dari peralatan dan persediaan dan hal lainnya yang
tercakup, sering kali harus membuat keputusan secara hati- hati, seperti berikut ini.
a. Memilih dan menyediakan beberapa peralatan dan persediaan yang sesuai perkembangan.
c. Menciptakan jadwal harian secara rutin dan konsisten dengan masa transisi yang fleksibel.
47
1. Prinsip:
c. Memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar, termasuk
barang limbah/bekas layak pakai.
2. Persyaratan:
2.Memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang
kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan
dengan kebutuhan kegiatan anak.
3.Memiliki alat permainan edukatif, baik buatan guru, anak, dan pabrik.
4.Memiliki fasilitas permainan baik di dalam maupun di luar ruangan yang dapat
mengembangkan berbagai konsep.
1.Kebutuhan jumlah ruang dan luas lahan disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak, dan
kelompok usia yang dilayani, dengan luas minimal 3 m2 per perseta didik.
2.Minimal memiliki ruangan yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas anak yang
terdiri dari ruang dalam dan ruang luar, dan kamar mandi/jamban yang dapat digunakan
untuk kebersihan diri dan BAK/BAB (toileting) dengan air bersih yang cukup.
3.Memiliki sarana yang disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak, dan kelompok usia
yang dilayani.
4.Memiliki fasilitas permainan baik di dalam dan di luar ruangan yang dapat
mengembangkan berbagai konsep.
5.Khusus untuk TPA, harus tersedia fasilitas untuk tidur, mandi, makan, dan istirahat siang
Ada dua alasan penting mengapa bermain outdoor diperuntukkan anak usia dini.
Pertama, banyak kemampuan anak yang harus dikembangkan dan didapatkan. Kedua,
kebiasaan orang tua yang menjauhkan bermain outdoor dari anak-anak dan lebih memilih
menggunakan komputer dan menonton televisi, orang tua yang sibuk dan terlalu lelah dengan
aktivitasnya, serta standar pendidikan yang tinggi dan ketat menyebabkan anak jauh dari
48
kegiatan bermain. Bermain outdoor sangat menyenangkan dan penting bagi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Hal yang paling penting dari penataan lingkungan outdoor adalah anak
mendapatkan pengalaman yang unik.
Misalnya, science, yang datang dengan sendirinya secara natural, yaitu bereksplorasi
dan mengobservasi dengan tangannya sendiri. Anak dapat melihat tanaman-tanaman tumbuh
dan mengikuti perubahan musim. Anak-anak melihat tentang perubahan warna, memegang
kulit kayu sebatang pohon, mendengar suara jangkrik atau mencium udara setelah hujan
turun, anak-anak menggunakan semua perasaan mereka untuk belajar tentang dunianya. Seni,
musik, membaca, bermain peran, bermain konstruktif, bermain sosial dan boneka juga dapat
dibawa ke dalam semua area outdoor.
Tempat yang besar adalah salah satu ciri dari lingkungan outdoor menjadi sempurna
bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan otot-otot besar, misalnya berlari dan
memanjat. Menggunakan perlengkapan di area bermain juga dapat meningkatkan ketahanan,
keseimbangan, dan koordinasi tubuh. 6 Dalam creative curriculum, lingkungan bermain
outdoor adalah hal yang memerlukan perhatian yang sama dengan kegiatan di dalam kelas.
Hal ini berarti bahwa berbagai pengembangan dipelajari (sosial-emosional, kognitif, dan
fisik) yang dimasukkan dalam kegiatan indoor juga masuk dalam kegiatan outdoor
b.Berunding dan kompromi serta kooperatif dengan sesama teman dalam menggunakan
peralatan yang ada di arena bermain, berbagi alat-alat seni, bermain kelompok.
d.Mempertinggi rasa percaya diri (mampu belajar untuk menggunakan motorik halus dan
motorik kasar).
e.Menambah kemandirian, seperti mendaki sendiri atau turun dengan menggunakan tali tanpa
bantuan.
b. Merencanakan dan memiliki banyak ide (bermain games, membangun balok, melakukan
permainan tukang kayu, membuat karya seni, menanam pohon).
49
c.Memecahkan masalah (membuat terowongan di bukit pasir, dapat bermain dari satu alat
permainan ke alat permainan lainnya).
d.Menggali pengalaman melalui berbagai peran, seperti menjadi sopir ambulans, mengecat
pagar dengan air, mencuci boneka atau menghidangkan makanan.
e.Dapat bekerja sama (bermain pasir bersama dengan menambahkan sedikit air, berkejar-
kejaran hingga menjadi basah).
h.Memperkaya kosakata (bercakap-cakap di bak pasir atau pada saat menjadi tukang kayu,
memberikan nama baru pada tanaman, binatang dan benda-benda yang ditemukan di alam
terbuka).
a.Mengembangkan motorik kasar (mendaki, bergelayutan, melompat, loncat tali dan berlari-
lari).
b.Mengembangkan motorik halus (bermain dengan air dan pasir, menggambar, melukis,
mengumpulkan benda-benda kecil).
c.Menambah koordinasi gerakan dengan mata dan tangan (menangkap, melempar, pekerjaan
tukang kayu, menghias sisi jalan dengan kapur).
e.Menambah kesadaran akan ruang dan tempat (berayun, mendaki, menurun, masuk, keluar,
di atas dan di bawah).
f. Menunjukkan ketekunan dan ketahanan, bermain pada area mendaki, menancapkan ujung
kuku pada pohon.
2.Dari sudut dukungan fasilitas lingkungan belajar dapat sesuai dengan selera anak, baik itu
berkenaan dengan pilihan warna, pilihan bentuk, pilihan ukuran, pilihan bahan, maupun
berkenaan dengan variasi pilihan.
50
b.Prinsip berorientasi pada optimalisasi perkembangan dan belajar anak Prinsip-prinsip
pembelajaran terpadu, pembelajar sepanjang hayat, quantum learning, pendekatan belajar
melalui bermain, pengorganisasian pesan-pesan pembelajaran.
c.Prinsip berpijak pada efisiensi pembelajaran Guru menguasai ruang lingkup pembelajaran,
menguasai berbagai cara mengaktifkan anak yang mendidik dan bermakna, menguasai
karakteristik perkembangan anak, kemampuan dalam mengendalikan dirinya sendiri secara
baik.
Prinsip Penataan Area Bermain Outdoor Pada Anak Usia Dini 1. Memenuhi Aturan
Keamanan. 2. Melindungi dan Meningkatan Karakteristik Alamiah Anak. 3. Desain
Lingkungan Luar Kelas Harus Didasarkan pada Kebutuhan Anak. 4. Secara Estetis Harus
Menyenangkan
51
BAB IX
1. Pengertian Indoor
Lingkungan belajar ini (indoor) lingkungan belajar yang memang sudah disediakan
oleh manajemen sekolahan agar digunakan untuk para siswanya sebagai sumber belajar atau
lingkungan belajar yang ada didalam sekolahan tersebut. Lingkungan belajar ini bisa berupa
perpustakaan, laboratorium, auditorium dan utamanya adalah ruang kelas.
2. Penertian Outdoor
Lingkungan belajar ini (outdoor) adalah kebalikan dari lingkungan belajar indoor
yaitu lingkungan atau sarana belajar yang berada diluar lingkungan sekolahan, dalam artian
lingkungan belajar ini diciptakan tidak un tuk proses belajar mengajar akan tetapi bisa
digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti misalnya: museum, masjid, monumen, dan
lapangan. Kegiatan diluar ruangan adalah hal yang tidak dapat terpisahkan program
pengembangan dan belajar anak. untuk itu agar lingkungan belajar outdoor bermanfaat dan
secara efektif dapat membantu perkembangan dan belajar anak, maka hal tersebut harus
menjadi bagian yang dikelola secara serius oleh pihak sekolah ataupun guru. Setiap anak
memiliki pemikiran yang berbeda dengan anak usia dini lainnya.
Gagasan atau ide yang dimiliki setiap anak akan mampu membuatnya bersaing di
masa depan. Menggambar dapat menyatakan tentang apa yang sedang dirasakan seperti yang
diungkapkan oleh Vygotsky bahwa menggambar adalah satu cara manusia mengekspresikan
pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya sehingga dengan menggambar, perasaan, gagasan,
ide-ide akan terkomunikasikan kepada manusia lainnya Lingkungan belajar luar kelas
(outdoor playground) yang terpadu yang juga merupakan salah satu cara yang dapat
digunakan guru untuk mendorong kegiatan anak dalam keingintahuan, penyelidikan dan
eksplorasi, memiliki sejumlah pengalaman sensual bagi anak-anak untuk mendorong anak
Lingkungan belajar luar kelas (outdoor playground) yang terpadu yang juga merupakan salah
satu cara yang dapat digunakan guru untuk mendorong kegiatan anak dalam keingintahuan,
penyelidikan dan eksplorasi, memiliki sejumlah pengalaman sensual bagi anak-anak untuk
mendorong anak menggunakan semua indra mereka, yang aman
52
B. Manfaat belajat outdoor dan Indoor
• Belajar di dalam kelas siswa lebih aktif menjawab pertanyaan dari guru
• Dalam metode diskusi dalam kelas dapat melatih siswa berpikir kritis dalam memecahkan
masalah.
• Mengajak siswa belajar di luar kelas dapat memberi pengaruh positif, dapat menambah
wawasan, bahkan dapat langsung diaplikasikan di lapangan.
Lingkungan adalah guru ketiga bagi anak. Dari lingkungan, anak belajar tentang
kebersihan, kerapian, disiplin, kemandirian, semangat pantang menyerah, dan banyak hal
lainnya. Oleh karena itu, lingkungan 5 pada Pendidikan Anak Usia Dini harus direncanakan,
ditata, dimanfaatkan, dan dirawat secara cermat agar mampu mendukung pencapaian hasil
belajar yang telah ditetapkan bersama. Hal yang harus diperhatikan dengan luar ruangan:
3) Bak pasir harus ditutup bila tidak digunakan dan dipastikan dalam kondisi kering agar
tidak menjadi tempat berkembang biak binatang kecil.
4) Area basah ditempatkan di luar, dekat dengan sumber air, lantai yang tidak licin, sanitasi
terjaga baik agar air tidak menggenang.
53
Mainan di luar ruangan:
2) Penataan sarana cukup luas bagi anak bergerak bebas, tidak perlu berdesakan.
3) Ketinggian mainan sebaiknya tidak lebih dari 1.5 meter dan tingkat kemiringannya sekitar
40o .
6) Dikontrol dan diperbaiki secara reguler. Sebaiknya tidak terkena langsung terik matahari.
7) Seluncuran, ayunan, jungkitan, dan sarana bermain outdoor dalam kondisi baik dan catnya
tidak mengandung toxin.
8) Jika bahan menggunakan kayu, dipastikan permukaan kayu licin untuk mencegah anak
tertusuk serpihannya.
1) Pagar pembatas area outdoor dengan tempat umum di luar lembaga diperlukan untuk
memastikan bahwa anak-anak tidak bisa terdorong ke dalam situasi berbahaya.
2) Desain dan ketinggian pagar harus sedemikian rupa untuk mencegah anak dapat keluar
dengan cara merangkak di bawah
54
BAB X
Lingkungan belajar yang aman di PAUD adalah lingkungan belajar yang mampu
memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak, pendidik dan tenaga kependidikan, baik
secara fisik, psikis (mental), maupun sosial. Menciptakan lingkungan belajar yang aman
untuk anak sama dengan melakukan pemenuhan hak dan perlindungan anak di lingkungan
pendidikan.
Pada dasarnya lingkungan aman mencakup dua komponen, yaitu lingkungan aman
secara fisik dan psikis (mental dan sosial). Lingkungan aman secara fisik meliputi: indikator
keamanan bangunan, keamanan lingkungan, dan ketersediaan P3K (Pertolongan Pertama
Pada Kecelakaan). Lingkungan aman secara psikis meliputi: indikator kebijakan anti
kekerasan seksual, anti kekerasan fisik, anti perundungan, dan anti hukuman fisik. Dari
beberapa indikator ini, keamanan dan keselamatan baik fisik maupun psikis secara beririsan
(saling terkait) artinya keseluruhannya adalah faktor yang perlu dijaga.
1.Keamanan Bangunan Bangunan satuan PAUD yang aman perlu memenuhi persyaratan
keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan serta penataan lingkungan/ruang bermain-belajar
dan tata ruang yang aman dan mudah dipantau oleh pendidik/tenaga kependidikan. Bangunan
yang memenuhi syarat keselamatan adalah bangunan yang memiliki konstruksi yang kukuh,
stabil, dan tahan gempa apapun material/bahan bangunannya. Hal ini diharapkan dapat
melindungi warga sekolah ketika bencana terjadi. Sistem perlindungan terkait keamanan
bangunan meliputi hal berikut
1. Bahan bangunan disesuaikan dengan bencana alam yang rawan terjadi di daerah satuan
PAUD. Misalkan, daerah rawan gempa sebaiknya menggunakan material ringan seperti
rumah-rumah tradisional yang terbuat dari bambu, kayu, atap rumbia, atau rangka atap baja
ringan dan fondasi yang kuat.
3. Memiliki jalur evakuasi beserta denahnya yang dapat terlihat dengan jelas, baik oleh anak
maupun orang dewasa dan dipahami oleh seluruh warga satuan PAUD.
55
b.Sistem perlindungan sehari-hari.
1. Memiliki ventilasi udara, pencahayaan, dan sistem sanitasi air (saluran air bersih, saluran
air kotor/limbah, saluran air hujan) yang memadai dan dipahami fungsi dan penggunaannya
oleh pendidik.
2. Memiliki kamar mandi/jamban/WC dengan sumber air bersih yang cukup dan mudah
diakses.
5. Memiliki ruang bermain-belajar, ruang dalam dan ruang luar yang aman, nyaman, dan
terpantau oleh guru dan tenaga kependidikan
Keamanan bangunan satuan dapat berjalan dengan baik jika ketersediaan fasilitas
diiringi dengan adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dibuat bersama antara
pihak sekolah dan orang tua sesuai dengan kebutuhan setiap satuan PAUD serta dipahami
dan dilaksanakan dengan baik.
C. Keamanan Psikis
1.Kebijakan Anti
Hukuman Fisik Hukuman fisik berkaitan dengan penderitaan fisik atau cedera baik
dengan tangan kosong atau alat-alat seperti penggaris, tongkat kayu, rotan, ikat pinggang,
atau bahkan cambuk kuda, dengan tujuan untuk mendisiplinkan, mengendalikan, atau
memperbaiki perilaku anak. Tindakan ini menyebabkan berbagai tingkat rasa sakit dari
ringan hingga berat. Bentuk tindakan ini bermacam-macam dan tidak terbatas, meliputi
memukul, memelintir telinga, mencubit, memukul, menendang, menarik, mendorong,
membakar rokok, berdiri dalam posisi tidak nyaman, menelan makanan yang tidak
semestinya, dan sebagainya.D. Tujuan Pengelolaan Pembelajaran.
56
2.Kebijakan Anti Kekerasan Seksual
Satuan PAUD perlu memiliki SOP tentang kekerasan seksual (termasuk pendataan
dan penanganan kasus). Satuan PAUD juga perlu memberikan pembekalan kepada pendidik
dan tenaga kependidikan tentang budaya anti kekerasan, termasuk kekerasan seksual, dan
memasukkan materi kekerasan seksual ke dalam materi pembelajaran anak Berikut beberapa
contoh perilaku yang dapat dikategorikan tindakan kekerasan seksual pada anak.
• Pelecehan seksual online, yang mungkin mencakup: berbagi gambar dan video seksual
tanpa persetujuan dan berbagi gambar dan video seksual, komentar seksual yang tidak pantas
di media sosial; eksploitasi; paksaan, dan ancaman.
Kebijakan anti perundungan adalah upaya yang dilakukan untuk memastikan bahwa
anak belajar di lingkungan yang mendukung, peduli, dan aman tanpa takut diintimidasi.
Satuan PAUD harus menyediakan lingkungan yang peduli, ramah dan aman bagi semua
murid sehingga dapat belajar dalam suasana yang aman. Adanya kebijakan dan SOP tentang
perundungan, adanya pembekalan 8 kepada pendidik dan tenaga kependidikan, menjadikan
kebijakan ini sebagai budaya atau pembiasaan. serta memasukkan materi perundungan ke
dalam materi pembelajaran ke peserta didik. Menciptakan lingkungan yang aman dan
nyaman untuk anak harus memperhatikan prinsip-prinsip pemenuhan hak anak sebagaimana
penjelasan di bawah ini.
57
1Prinsip Nondiskriminasi
Pendidik perlu memastikan semua anak mendapat porsi perlakuan yang sesuai dengan
kebutuhan unik tiap individu anak. Perlakuan non-diskriminasi bukan berarti memberikan
perlakuan yang sama persis untuk semua atau sama rata sama rasa, karena seringkali
perlakuan sama rata sama rasa tersebut justru secara tidak langsung mendiskriminasi anak-
anak tertentu. Gambar di bawah menggambarkan bagaimana perlakuan yang sama justru bisa
menjadi perlakuan yang tidak adil. Gaya belajar anak juga berbeda-beda. Ada anak yang
lebih mudah belajar jika sudah puas bermain motorik kasar. Ada anak yang lebih mudah
belajar dengan mendengarkan penjelasan guru terlebih dahulu. Ada juga anak yang lebih
mudah belajar secara langsung mencoba sendiri dan menemukan kesalahan, kemudian belajar
dari kesalahan tersebut. Memberikan perlakuan yang berbeda pada anak sesuai dengan
kebutuhannya merupakan diskriminasi yang positif. Artinya pembedaan tersebut diperlukan
agar setiap anak bisa berkembang dengan baik. Ketika setiap anak bisa berkembang dengan
baik, saat itu lah prinsip non-diskriminasi telah tercapai.
Guru perlu memastikan setiap keputusan yang melibatkan anak perlu dibuat
berdasarkan pertimbangan untuk kepentingan terbaik anak, bukan yang lain. Misalnya jika
akan mengikuti perlombaan dengan sekolah lain, keputusan untuk mengikuti perlombaan
tersebut bukan untuk mendongkrak nama baik sekolah, bukan untuk promosi sekolah, bukan
untuk kebanggaan orang tua, melainkan untuk kebaikan anak. Misalnya, satuan PAUD
memutuskan untuk ikut lomba agar 9 anak bisa mengenal anak-anak dari satuan PAUD lain,
agar anak memiliki keberanian untuk menunjukkan bakatnya, dan agar anak merasa dihargai
lalu menjadi lebih termotivasi lagi untuk berkreasi.
Kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang adalah hak yang melekat pada anak
atau hak asasi anak. Pendidikan Anak Usia Dini berperan penting dalam pemenuhan hak
tumbuh kembang anak karena pendidikan anak usia dini sejatinya bertujuan untuk membantu
anak agar bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam perspektif hak anak, kegiatan
di satuan PAUD harus memperhatikan tumbuh kembang anak. Kurikulum PAUD juga harus
mempertimbangkan prinsip perkembangan dan belajar anak yang untuk mengoptimalkannya
membutuhkan pendekatan yang holistik (mengintegrasikan kebutuhan pendidikan, kesehatan,
dan pengasuhan).
Anak sering kali dianggap masih belum dapat berpikir dengan baik sehingga
pendapatnya seringkali diabaikan. Dalam konsep hak anak, anak dipandang sebagai individu
yang sudah mampu berpikir dengan baik terutama tentang kebutuhannya. Prinsip partisipasi
anak mengharuskan orang dewasa untuk melibatkan anak dalam pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan diri anak. Artinya pendapat anak perlu didengarkan dan
58
dipertimbangkan ketika guru atau satuan PAUD akan menentukan kegiatan apa yang akan
dilakukan
• Dapat melakukan prosedur keselamatan dengan tepat apabila terjadi kondisi darurat seperti
bencana alam, kebakaran, dan kecelakaan.
Pentingnya menjaga lingkungan aman secara psikis (mental dan sosial) sebagai berikut.
a. Menjaga dan melindungi anak dari kasus perundungan, baik perundungan secara fisik
maupun verbal.
b. Menjaga dan melindungi anak dari kekerasan seksual baik yang terjadi di lingkungan
sekolah maupun di rumah.
c. Menjaga dan melindungi anak dari kekerasan fisik baik yang terjadi di lingkungan sekolah
maupun rumah.
e. Dapat melakukan tindakan secara cepat dan tepat tentang prosedur penanganan ketika
terjadi kasus kekerasan fisik, perundungan, dan kekerasan seksual pada anak.
f. Melatih anak untuk menjaga keamanan dirinya dan orang lain agar terhindar dari kasus
kekerasan fisik, perundungan, dan kekerasan seksual pada anak.
Konsep belajar anak usia dini menurut beberapa ahli sebagai berikut:
59
1.Belajar menurut Pandangan B. F. Skinner
Gagne sebagai yang dikutip oleh Sagala memandang bahwa belajar adalah perubahan
yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terusmenerus yang bukan
hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus
bersama dengan isi ingatan memengaruhi individu sedemikian rupa sehingga perbuatannya
berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu setelah ia mengalami situasi
tadi. Pandangan 12 Gagne di atas menunjukkan bahwa belajar adalah adanya stimulus yang
secara bersamaan dengan isi ingatan memengaruhi perubahan tingkah laku dari waktu ke
waktu. Karena itu, belajar dipengaruhi oleh faktor internal berupa isi ingatan dan faktor
ekternal berupa stimulus yang bersumber dari luar diri individu yang belajar.
Piaget adalah seorang psikolog yang fokus mempelajari berpikir pada anakanak sebab
ia yakin dengan cara berpikir anak-anak akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
epistemologi. Piaget berpendapat bahwa ada dua proses yang terjadi dalam pekembangan
kognitif anak, yaitu proses assimilations dan proses accommodations. Proses assimilations
yaitu menyesuaikan atau mencocokkan informasi yang baru diperoleh informasi yang telah
diketahui sebelumnya dan mengubahnya bila perlu. Adapun proses accommodations, yaitu
menyusun dan membangun kembali atau mengubah informasi yang telah diketahui
sebelumnya sehingga informasi yang baru dapat disesuaikan dengan lebih baik. Piaget
memandang belajar sebagai suatu proses asimilasi dan akomodasi dari hasil assosiasi dengan
lingkungan dan pengamatan yang tidak sesuai antara informasi baru yang diperoleh dengan
informasi yang telah diketahui sebelumnya.
Rogers menitikberatkan pada segi pengajaran dibanding siswa yang belajar dalam
praktik pendidikan yang ditandai dengan peran guru yang dominan dan siswa hanya
menghafalkan pelajaran dengan alasan bahwa pentingnya guru memperhatikan prinsip
pendidikan dan pembelajaran adalah:
60
a.Manusia memiliki kekuatan wajar untuk belajar sehingga siswa tidak harus belajar tentang
hal-hal yang tidak berarti.
c. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai
bagian yang bermakna bagi siswa.
d.Belajar yang bermakna bagi masyarakat modern berarti belajar tentang prosesproses
belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerjasama dengan melakukan pengubahan
diri secara terus menerus.
e.Belajar yang optimal akan terjadi bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam
proses pembelajaran.
f.Belajar mengalami (experiental learning) dapat terjadi bila siswa mengevaluasi dirinya
sendiri.
Penelitian yang dilakukan oleh Bloom dalam mengamati kecerdasan anak pada
rentang waktu tertentu menemukan bahwa pengukuran kecerdasan anak pada usia 15 tahun
merupakan hasil pengembangan dari anak usia dini. Bloom mengembangkan taksonomi dari
tujuan pendidikan dengan menyusun pengalaman-pengalaman dan pertanyaan-pertanyaan
secara bertingkat dari recall sampai pada terapannya dengan suatu keyakinan bahwa anak
dapat menguasai tugas-tugas yang dihadapkan kepada mereka di sekolah, tetapi mengakui
adanya anak yang yang membutuhkan waktu lebih lama dan bimbingan yang lebih intensif
dibanding teman seusianya. Belajar dalam pandangan Bloom pada dasarnya adalah
perubahan kualitas kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk meningkatkan taraf
hidup peserta didik, baik sebagai pribadi dan anggiota masyarakat maupun sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa.
61
BAB XI
A.Pengertian Penilaian
1. Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan bersifat
kuantitatif.
3. Evaluasi adalah kegiatan yang meliputi pengukuran dan penilaian Penilaian (assessment)
adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh
informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi
(rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa
hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif
62
(pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran
berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
-Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru)
dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh
mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana
tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat
pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai. Secara harafiah evaluasi berasal dari bahasa
Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily:
1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of
delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”.
Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi
yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
- Evaluasi menurut Kumano (2001) merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan
melalui kegiatan asesmen. Sementara itu menurut Calongesi (1995) evaluasi adalah suatu
keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran. Sejalan dengan pengertian tersebut,
Zainul dan Nasution (2001) 5 menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu
proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui
pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. Secara
garis besar dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu.
Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh,
dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif
keputusan. Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk
menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah
dicapai oleh siswa (Purwanto, 2002). Arikunto (2003) mengungkapkan bahwa evaluasi
adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengukur keberhasilan program
pendidikan.
Tayibnapis (2000) dalam hal ini lebih meninjau pengertian evaluasi program dalam
konteks tujuan yaitu sebagai proses menilai sampai sejauhmana tujuan pendidikan dapat
dicapai. Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap
suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik,
tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan,
seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen. Pengukuran adalah proses
pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-
atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya
tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran. Menurut
Cangelosi (1995) yang dimaksud dengan pengukuran (Measurement) adalah suatu proses
pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan
dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan
membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka,
mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, 6
mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan. Menurut Zainul dan Nasution (2001)
63
pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu: 1) penggunaan angka atau skala tertentu;
2) menurut suatu aturan atau formula tertentu. Measurement (pengukuran) merupakan proses
yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif
(system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut
dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah et al.1996). Pernyataan tersebut diperkuat dengan
pendapat yang menyatakan bahwa pengukuran merupakan pemberian angka terhadap suatu
atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang, atau suatu obyek tertentu yang
mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus
disepakati secara umum oleh para ahli (Zainul & Nasution, 2001).
-Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-
judgment atau tindakan dalam pembelajaran.
-Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi
secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari
pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan
belajar.
-Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan
kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan
merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud
pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data
melalui pengamatan empiris.
64
B. Cara Evaluasi/Penilaian Perkembangan Anak Usia Dini
Cara Evaluasi/ Penilaian Perkembangan Anak Usia Dini (PAUD) baik untuk TK KB
TPA maupun satuan PAUD sejenis lainnya. Perlu dipahami bahwa penilaian di PAUD lebih
menekankan untuk mendeskripsikan tingkat pencapaian perkembangan anak yang mencakup
perkembangan nilai-nilai agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, dan sosial emosional
sesuai Standar Nasional PAUD. Oleh karena itu kata yang lebih tepat pada penilaian anak
usia dini adalah asesmen atau evaluasi.
Jika dalam proses evaluasi perkembangan anak usia dini ditemukan seorang anak yang
hasil belajarnya belum mencapai kompetensi yang sesuai dengan potensinya, maka pendidik
perlu membuat program kegiatan yang lebih lanjut (remedial) untuk mendorong pencapaian
potensi yang optimal. Sebaliknya Jika ada anak yang mencapai kompetensi yang lebih dari
standar yang ada, maka pendidik perlu membuat program kegiatan lebih lanjut (pengayaan)
agar seluruh potensi anak berkembang. Adapun caranya:
a) Pengamatan atau observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan selama kegiatan
pembelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan lembar
observasi, catatan menyeluruh atau jurnal, dan rubrik.
b) Percakapan merupakan teknik penilaian yang dapat digunakan baik pada saat kegiatan
terpimpin maupun bebas.
c) Penugasan merupakan teknik penilaian berupa pemberian tugas yang akan dikerjakan anak
dalam waktu tertentu baik secara individu maupun kelompok baik secara mandiri maupun
didampingi.
d) Unjuk kerja adalah teknik penilaian yang melibatkan anak dalam bentuk pelaksanaan suatu
aktivitas yang dapat diamati.
e) Penilaian hasil karya merupakan teknik penilaian dengan melihat produk yang dihasilkan
oleh anak setelah melakukan suatu kegiatan.
f) Pencatatan anekdot adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan mencatat sikap dan
perilaku khusus pada anak ketika suatu peristiwa terjadi secara tiba-tiba/insidental baik
positif maupun negatif.
g) Portofolio merupakan kumpulan atau rekam jejak berbagai hasil kegiatan anak secara
berkesinambungan atau catatan pendidik tentang berbagai aspek pertumbuhan dan
perkembangan anak sebagai salah satu bahan untuk menilai kompetensi sikap, pengetahuan,
dan keterampilan.
65
Dalam melakukan penilaian pada anak usia dini ada beberapa prosedur yang harus
dilalui sebagai mana bagan penilaian perkembangan anak diatas. Penjelasannya adalah
sebagai berikut :
a) Mengacu pada kompetensi dan dilakukan seiring dengan kegiatan pembelajaran yang
diprogramkan dalam RPPH.
c) Merangkum semua hasil perkembangan anak dan dipindahkan ke dalam format yang telah
disiapkan baik harian,mingguan maupun semester.
d) Mengolah hasil rangkuman selama satu semester menjadi bentuk laporan deskripsi secara
singkat meliputi 3 kompetensi yaitu kompetensi Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan.
e) Merumuskan deskripsi secara objektif sehingga tidak menimbulkan persepsi yang salah
bagi orang tua atau wali dalam bentuk LPPA (Laporan Pencapaian Perkembangan Anak)
c) Deskripsi tentang hal-hal yang penting dalam pengembangan diri anak selanjutnya.
d) Deskripsi tentang hal-hal yang perlu dilakukan guru dan orangtua dalam rangka
pengembangan diri anak.
1) Dilakukan oleh Kepala Lembaga PAUD dan guru baik secara lisan maupun tertulis.
2) Dilksanakan secara tatap muka antara pihak lembaga dan orang tua/wali.
Dalam menilai atau mengevaluasi pembelajaran anak usia dini terdapat beberapa
tujuan diantaranya adalah :
66
• Menggunakan informasi yang didapat sebagai bahan umpan balik bagi pendidik untuk
memperbaiki kegiatan pembelajaran dan meningkatkan layanan pada anak agar sikap,
pengetahuan, dan keterampilan berkembang secara optimal.
• Memberikan bahan masukan kepada berbagai pihak yang relevan untuk turut serta
membantu pencapaian perkembangan anak secara optimal.
Inti tujuannya, terdapat pengertian evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Evaluasi
formatif dinyatakan sebagai upaya untuk memperoleh feedback perbaikan program,
sementara itu evaluasi sumatif merupakan upaya menilai manfaat program dan mengambil
keputusan (Lehman, 1990). Proses perkembangan anak 1 tahun yang dialami setiap anak
akan berlangsung unik. Proses pertumbuhan anak akan berlangsung unik. Tahap tumbuh
kembang anak usia 1 tahun dapat dilihat dari fisik, kemampuan motorik, kemampuan sosial
dan emosional, dll. Proses tumbuh kembang yang dialami setiap anak akan berlangsung unik.
Ulang tahun pertama si Kecil bisa jadi salah satu momen terpenting dalam hidup si Kecil
serta Mam dan Pap. Bagaimana tidak? Ia kini telah melewati fase bayi dan sedang memasuki
masa kanak-kanak. Dalam beberapa tahun ke depan, si Kecil akan menjalani proses
pertumbuhan anak anak yang sangat penting dalam hidupnya.
Tentunya banyak perubahan yang akan terjadi dalam tumbuh kembang anak 1 tahun.
Si Kecil lebih banyak berinteraksi dengan Mam dan orang-orang di sekelilingnya, memiliki
rasa ingin tahu lebih besar, dan semakin aktif bergerak. Proses pertumbuhan anak yang
dialaminya selalu unik dan berbeda antara anak yang satu dengan yang lain. Hal ini karena
setiap organ di tubuh si Kecil memiliki pola pertumbuhan yang berbeda dan dengan
kecepatan yang bervariasi. Misalnya, pertumbuhan otak anak yang akan berjalan sangat pesat
hingga ia mencapai usia 6 tahun. Setelah itu, otak si Kecil tetap akan berkembang dengan
kecepatan jauh lebih lambat dari sebelumnya. 11 Untuk mengetahui apakah proses
pertumbuhan anak sudah sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak usia 1 tahun, Mam
dapat melihat panduan berikut:
Cara paling mudah dan mendasar dalam memantau pertumbuhan anak adalah melihat
perkembangan fisiknya. Secara umum, berat badan anak usia 1 tahun berkisar 3 kali dari
berat lahirnya. Bila Mam ingin melakukan perhitungan yang lebih rinci Cara menghitung
perkiraan tinggi badan normal anak usia 1 tahun adalah: 1,5 x tinggi badan saat lahir.
2.Kemampuan motorik
67
sendiri. Pada usia ini, si Kecil semestinya sudah bisa makan menggunakan jemarinya sendiri,
walaupun belum sempurna dan masih berantakan. Minimal, si Kecil sudah dapat
menggenggam makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Sebagian anak bahkan sudah
dapat makan menggunakan sendok di usia ini.
4.Kemampuan berbahasa
68
BAB XII
A.Pengertian Observasi
Menurut Flick (2002: 135) menjelaskan tentang observasi adalah kemampuan bicara
dan mendengarkan sebagaimana digunakan dalam wawancara-wawancara, observasi
merupakan keterampilan harian lain sebagai secara metodelogis disiste matisir dan diterapkan
dalam penelitian kualitatif. Tidak hanya persepsi visual tetapi juga persepsi berdasarkan
pendengaran, per asaan dan penciuman yang diintegrasikan. Observasi merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dengan sengaja terhadap apa yang dingin
di selidiki. Sebagai salah satu teknik nontes observasi memiliki nilai :
1.Untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan yang telah
disusun sebelumnya.
69
2.Untuk mengetahui seberapa jauh pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung.
3.Sebagai metode pembantu dalam penelitian yang bersifat eksploratif. Bila kita belum
mengetahui sama sekali permasalahan, biasanya penelitian-penelitian pertama dilakukan
melalui pengamatan di tempat-tempat gejala terjadi.
4.Sebagai metode pembantu dalam penelitian yang sifatnya sudah lebih mendalam. Dalam
hal ini,biasanya observasi dijadikan sebagai metode pembantu untuk menunjang wawancara
sebagai metode utama. Observasi akan membantu untuk mengontrol/memeriksa di lapangan,
seberapa jauh hasil wawancara tersebut sesuai dengan fakta yang ada.
1.Observasi yang berarti pengamatan bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu
masalah, sehingga diperoleh pemahaman atau sebagai alat re-checkingin atau pembuktian
terhadap informasi / keterangan yang diperoleh sebelumnya.
2.Mendeskripsikan kejadian, orang, kegiatan dan maknanya bagi mereka (bukan bagi
observer).
3.Memperoleh data ilmiah yang akan digunakan untuk penelitian maupun untuk tujuan
assesment.
4. Untuk dapat mendeskripsikan Setting yang akan dipelajari atau di teliti, dengan observasi
ini juga kita dapat mengetahui siapa saja orang-orang yang terlibat dalam aktifitas yang di
teliti, selain itu kita juga dapat mengetahui makna dari setiap kejadian yang terjadi.
1.Memungkinan untuk mengukur banyak perilaku yang tidak dapat diukur dengan
menggunakan alat ukur psikologis yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak-anak.
2.Testing Formal seringkali tidak ditanggapi serius oleh anak-anak sebagaimana orang
dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama.
3.Observasi dirasakan lebih mudah daripada cara peugumpulan data yang lain. Pada anak-
anak observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat daripada orang dewasa. Sebab,
orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat-buat bila merasa sedang
diobservasi.
70
C. Jenis-Jenis Observasi
1.Pengamatan Partisipasi
Pada pengamatan jenis ini, pengamat (konselor) turut mengambil bagian dari situasi
kehidupan dan situasi dari individu (peserta didik) yang diobservasi. Misalnya konselor ikut
berpartisipasi dalam berbagai aktivitas yang dilakukan 6 peserta didik disekolah, misalnya
saat berolahraga, saat pramuka, dan sebagainya sehingga konselor dapatmengamati tingkah
laku dan sifat-sifat peserta didik yang ingin diketahui saat diamati.
2.Pengamatan nonpartisipasi
Pada pengamatan jenis ini, pengamat (konselor) tidak turut mengambil bagian secara
langsung didalam situasi kehidupan dan situasi dari individu (peserta didik) yang diobservasi.
Tetapi berperan sebagi penonton. Misalnya konselor mengamati peserta didik saat melakukan
berbagai aktivitas di sekolah. Seperti saat peserta didik bermain dengan teman-temannya.
Berolahraga, mengikuti pelajaran di kelas, mengikuti upacara, pramuka, dan lain sebagainya.
Sehingga konselor dapat mengamati tingkah laku, relasi sosial dan sifat-sifat peserta didik
yang ingin diketahui saat diamati.
3.Pengamatan sistematis/terstruktur
4.Pengamatan nonsistematis
Pada pengamatan ini tetap dilakukan perencanaan, hanya saja materi atau fokus apa
yang akan diamati belum dibatasi atau dikategorisasi. Sehingga gejala yang diamati geraknya
lebih luas tidak terbatas pada hal-hal yang dikategorikan, kalau ada kategorisasi pengamat
tinggal memberikan tanda cek, sedangkan pada jenis nonsistematis, pengamat bisa mencatat
hal-hal yang dianggap penting dan menonjol pada proses pengamatan.
71
5. Free situation
Pengamatan yang dilakukan pada situasi bebas, tidak dibatasi bagaimana jalannya
pengamatan dan dalam situasi yang tidak terkontrol. Misalnya melakukan pengamatan
terhadap berbagai aktivitas peserta didik selama di sekolah.
6.Manipulasi
situasi Pengamatan yang situasinya sengaja diadakan, memasukan berbagai faktor atau
variabel kondisi yang diperlukan untuk memunculkan perilaku yang diharapkan. Biasanya
pengamatan ini lebih banyak dilakukan pada format eksperimen.
Merupakan percampuran antara situasi bebas dan manipulasi situasi, Sebagian situasi
sengaja dikondisikan sehingga sifatnya terkontrol dan sebagian lagi tetap dalam situasi bebas.
d.Melakukan uji coba pedoman pengamatan untuk memperoleh data yang objektif.
a.Menetapkan peserta didik yang aka diamati (subjek pengamatan) sesuai t ujuan
e. Mempersiapkan format pencatatan hasil dan alat perekam gambar sesuai kebutuhan.
f. Mengambil posisi yang tidak diketahui subjek pengamatan, sehingga kehadiran pengamat
tidak menarik perhatian subjek.
72
g.Selama proses pengamatan harus mencatat segera dengan cermat dan teliti setiap hal dan
situasi seperti apa adanya.
h.Menutup pengamatan dengan membuat kesimpulan hasil pengamatan ber sama dengan
seluruh pengamat.
a. Hasil pencatatan dan perekaman proses pengamatan yang dilakukan oleh setiap pengamat
dikumpulkan.
b.Setiap pengamat melakukan penskoran dan membuat deskripsi hasil peng amatannya.
c.Hasil pencatatan dan perekaman seluruh pengamat peserta didik, diidentif ikasi dan
dikelompokkan sesuai dengan pokok-pokok tingkah laku yang diamati dan pencapaian tujuan
yang ditetapkan. Ini dilakukan dalam tim pengam at.
d.Kemudian secara bersama- sama melakukan analisis dan sintesa hasil pengamatan dan
menarik kesimpulan.
73
BAB XIII
diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru
di sekolah. Di dalam diskusi ini terjadi proses interaksi antara dua atau lebih individu yang
terlibat, terjadi tukar menukar pengalaman, informasi, menyelesaikan masalah, dapat juga
terjadi semuanya aktif, tidak ada yang pasif sebagai pendengar.
Suryobroto (1996:20), diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang
yang bergabung dalam suatu kelompok untuk bertukar pendapat tentang masalah atau
bersama-sama mencari penyelesaian untuk mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu
masalah. Teknik diskusi merupakan suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan cara guru
memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan
perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau penyusun
berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah (Ahmadi, 1987:56). Diskusi adalah suatu
proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling
berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran tertentu melalui cara tukar menukar
informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah (Hasibuan, 2004:20). Diskusi
adalah cara belajar mengajar yang melakukan tukar pikiran antara murid dan guru, murid
dengan murid sebagai peserta diskusi (KBBI, 2007:740).
Diskusi adalah suatu percakapan yang terarah yang berbentuk pertukaran pikiran
antara dua orang atau lebih secara lisan untuk mendapatkan kesempatan atau kecocokan
dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi (Semi, 2008:10). Diskusi merupakan
proses bertukar pikiran, pendapat, atau pengalaman antara dua orang atau lebih secara lisan
dengan tujuan menyelesaikan suatu masalah (Djojosuwito, 1995:62). Berdiskusi adalah
bertukar pikiran tentang masalah khusus dalam bentuk musyawarah (Rahardjo, 1990:6).
Masalah yang didiskusikan adalah masalah yang menyangkut kepentingan bersama. Sebagai
peserta diskusi kita harus ikut serta dalam pembicaraan dengan semangat kerja sama dan rasa
persaudaraan yang tinggi, sebab hakikat diskusi bukan mengadu argumentasi tetapi
memecahkan masalah dengan musyawarah dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan beberapa
pendapat di atas, penulis mengacu pada pendapat pakar KBBI, yaitu diskusi adalah cara
belajar mengajar yang melakukan tukar pikiran antara murid dan guru, murid dengan murid
sebagai peserta diskusi.
• Persyaratan Diskusi
Percakapan dalam kelompok dapat dinamakan diskusi apabila memiliki persyaratan sebagai
berikut. (Semi, 2008:12)
74
1. Ada anggota kelompok yang akan terlibat dalam diskusi;
4. Ada tujuan bersama yang hendak dicapai secara bersama-sama melalui sesuatu pertukaran
pikiran; dan
5. Berlangsung dalam suatu proses yang sistematis, mulai dari pembukaan atau pendahuluan,
pembahasan atau pertukaran pikiran, dan kesimpulan hasil diskusi.
• Bentuk-Bentuk Diskusi
Kegiatan berdiskusi terdiri atas berbagai bentuk atau variasi bentuk. Setiap bentuk memunyai
cirri khas dan cara kerja masing-masing. Bentuk-bentuk teknik diskusi menurut J.J. Hasibuan
(2004:20-21) yaitu sebagai berikut.
1. Whole Group, Kelas merupakan satu kelompok diskusi. Whole group yang ideal apabila
jumlah anggota tidak lebih dari 15 orang.
2. Buzz Group, Satu kelompok besar dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, terdiri atas 4-5
orang. Tempat diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran dengan mudah.
Diskusi diadakan di tengah atau di akhir pelajaran dengan maksud menajamkan kerangka
bahan pelajaran, memperjelas bahan pelajaran atau menjawab pertanyaanpertanyaan. Hasil
belajar yang diharapkan ialah agar segenap individu membandingkan persepsinya yang
mungkin berbeda-beda tentang bahan pelajaran, membandingkan interpretasi dan informasi
yang diperoleh masing-masing. Dengan demikian, masing-masing individu dapat saling
memperbaiki pengertian, persepsi, informasi, interpretasi sehingga dapat dihindarkan
kekeliruan-kekeliruan.
3. Panel, Suatu kelompok kecil, biasanya terdiri atas 3—6 orang, mendiskusikan satu subjek
tertentu, duduk dalam suatu susunan semi melingkar, dipimpin oleh seorang moderator. Panel
ini secara fisik dapat berhadapan dengan audience, dapat juga secara tidak langsung (misal,
panel di televisi). Pada suatu panel yang murni, audience tidak ikut serta dalam diskusi.
4. Syndicate Group, Suatu kelompok (kelas) dibagi menjadi beberapa kelompok kecil terdiri
atas 3-6 orang. Masing-masing kelompok kecil melaksanakan tugas tertentu. Guru
menjelaskan garis besar problema kelas. Guru menggambarkan aspek-aspek masalah,
kemudian tiap-tiap kelompok (syndicate) diberi tugas mempelajari suatu aspek tertentu. Guru
menyediakan referensi atau sumber-sumber informasi lain. Setiap sindikat bersidang sendiri-
sendiri atau membaca bahan, berdiskusi, dan menyusun laporan yang berupa kesimpulan
sindikat. Tiap laporan dibawa ke sidang pleno untuk didiskusikan lebih lanjut.
5. Brain Storming Group, Kelompok menyumbangkan ide-ide baru tanpa dinilai segera.
Setiap anggota kelompok mengeluarkan pendapatnya. Hasil belajar yang diharapkan ialah
agar anggota kelompok belajar menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan rasa percaya
kepada diri sendiri dalam mengembangkan ide-ide yang ditemukan yang dianggap benar.
75
6. Simposium, Beberapa orang membahas tentang berbagai aspek dari suatu subjek tertentu
dan membacakan di muka simposium secara singkat (5—20 menit) kemudian diikuti dengan
sanggahan dan pertanyaan dari para penyanggah dan juga dari pendengar. Bahasan dan
sanggahan itu selanjutnya dirumuskan oleh panitia perumus sebagai hasil simposium.
7. Informal Debate, Kelas dibagi menjadi dua tim yang agak sama besarnya dan
mendiskusikan subjek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa memperhatikan peraturan
perdebatan formal. Bahan yang cocok untuk diperdebatkan ialah yang bersifat problematik,
bukan yang bersifat faktual.
8. Colloquium, Seseorang atau beberapa orang manusia sumber menjawab pertanyaan dari
audience. Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa atau mahasiswa menginterview manusia
sumber, selanjutnya mengundang pertanyaan lain atau tambahan dari siswa atau mahasiswa
lain. Hasil belajar yang diharapkan ialah para siswa atau mahasiswa akan memperoleh
pengetahuan dari tangan pertama.
9. Fish Bowl, Beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang ketua mengadakan suatu diskusi
untuk mengambil suatu keputusan. Tempat duduk diatur setengah lingkaran dengan dua atau
tiga kursi kosong menghadap peserta diskusi.
76
3. penyaji atau pemakalah atau pemrasaran; dan
4. peserta diskusi.
1.Teknik diskusi melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses belajar.
2.Setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pelajarannya
masing-masing.
3.Teknik diskusi dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah.
1. Suatu diskusi tidak dapat diramalkan sebelumnya mengenai hasil sebab tergantung kepada
kepemimpinan siswa dan partisipasi anggotaanggotanya.
77
2. Suatu diskusi memerlukan keterampilan-keterampilan tertentu yang belum pernah
dipelajari sebelumnya.
3. Jalannya diskusi dapat dikuasai (didominasi) oleh beberapa siswa yang aktif dan berpikir
kritis.
4. Tidak semua topik dapat dijadikan pokok diskusi, tetapi hanya hal-hal yang bersifat
problematis saja yang dapat didiskusikan.
5. Diskusi yang mendalam memerlukan waktu yang banyak. Siswa tidak boleh merasa
dikejar-kejar waktu. Perasaan dibatasi waktu menimbulkan kedangkalan dalam diskusi
sehingga hasilnya tidak bermanfaat.
6. Apabila suasana diskusi hangat dan siswa sudah berani mengemukakan pikiran, maka
biasanya sulit untuk membatasi pokok masalahnya.
8. Jumlah siswa di dalam kelas yang terlalu besar akan mempengaruhi kesempatan setiap
siswa untuk mengemukakan pendapatnya
(a) sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi
dasar mata pelajaran yang diikuti;
(b) sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata
pelajaran;
(c) dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program
pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah;
(d) evaluasi keterlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan
pencapaian KKM sebagai tolok ukur;
78
(e) merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan
pendidikan dengan masyarakat;
(f) merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran
(Nurmila, 2017:464). Mengingat betapa pentingnya KKM maka guru dituntut mampu
menetapkan KKM dengan baik. Kemampuan guru dalam menetapkan KKM sangat
diharapkan agar kualitas pembelajaran yang diselenggarakannya juga baik. Jika kualitas
pembelajara Pengertian KKM KKM merupakan singkatan dari kriteria ketuntasan minimal
yaitu kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. KKM
harus ditetapkan diawal tahun ajaran oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah
guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki
karakteristik yang hampir sama Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis
menjadi pertimbangan utama menetapkan KKM. Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan
bersama guru, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Kriteria ketuntasan minimal harus
dicantumkan dalam laporan hasil belajar (LBH) sebagai acuan dalam menyikapi hasil belajar
peserta didik (Depdiknas, 2008) Fungsi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Adapun fungsi
Kriteria Ketuntasan Minimal adalah :
(1) Sebagai acuan bagi guru dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar
mata pelajaran yang diikuti.
(2) Sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata
pelajaran. Setiap kompetensi dasar (KD) dan indikator ditetapkan KKM yang harus dicapai
dikuasai oleh peserta didik.
(3) Dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program
pembelajaran yang dilaksanakan disekolah.
(4) Merupakan kontrak pendagogik antara guru dengan peserta didik dan antara satuan
pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan upaya yang harus
dilakukan bersama antara pendidik, peserta didik, pimpinan satuan pendidikan dan orang tua.
(5) Merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi setiap mata pelajaran.
Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk melampui KKM yang
ditetapkan. Penentuan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam penentuan kriteria ketuntasan minimal adalah:
(1) Tingkat kompleksitas, kesulitan/kerumitan setiap indikator kompetensi dasar, dan standar
kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.
(2) Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran pada masing-
masing sekolah.
(3) Tingkat kemampuan (intake) rata-rata peserta didik di sekolah tersebut. Menetapkan
intake di kelas X didasarkan pada hasil seleksi pada saat penerimaan peserta didikbaru, Nilai
Ujian Nasional(USBN), rapor SMP, tes seleksi masuk atau psikotes; sedangkan
menetapkanintake di kelas XI dan XII berdasarkan kemampuan peserta didik di kelas
sebelumnya
79
DAFTAR PUSTAKA
Adinna Kornelia.L, Fadillah, Miranda Dian. Jurnal. 2014. Analisis Pengelolaan Area
Bermain Outdoor Pada AnakUsia 4-5 Tahun Di Tk Lkia Pontianak. Fkip Untan. Asmawati,
Luluk. 2005.
Triandriani M., Noviani S., Ema Yunita T. 2014. Penataan Ruang Kelas Yang Sesuai
DAina mulyana. 2020. Pengertian indikator, kisi-kisi, instrumen dalam evaluasi atau
penilaian pendidikan. Damayanti, Eka. Dkk. 2018.
Manajemen penilaian pendidikan anak usia dini pada taman kanak-kanak Citra Samata
Kabupaten Gowa. Makasar ; Universitas Negeri Islam Alauddin Makasar. Ismah, Utami
Budiyati. 2022. Pengaturan ruang kelas.
UNUGHA Cilacap Israwati. 2017. Pengelolaan ruang kelas pendidikan anak usia dini.
Banda Aceh ; fakultas keguruan dan ilmu pendidikan engan Aktivitas Belajar Kasus: PAUD
Kuncup Matahari Dan PG/RA
80
Desain Interior dan Eksterior Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta : PUSTAKA
EGALITER YULIANI NURANI SUJIONO, 2013. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia
Dini. Jakarta : Indeks
Muhammad Hasan, Ade Ismail Fahmi, Nurhasana Siregar, Vina Febiani Musyadad,
Sakirman, Hani Subakti, Devy Stany Walukow. Pengelolaan Lingkungan Belajar. Yayasan
Kita Menulis, 2021.
Evaluasi Program. Jakarta: Rineka Cipta Zainul & Nasution. (2001). Penilaian Hasil
belajar. Jakarta: Dirjen Dik
Ball, D.L., and Forzani, F.M. (2009). The Work of Teaching and the Challenge for
Teacher Education. SAGE Publications, 60(5), pp.497–511 Barber, K. (2018).
Emerald Insight, 1(8).pp.1-21. Bjuland, R., Cestari, M. L., & Borgersen, H.E.(2012).
Professional mathematics teacher identity: analysis of reflective narratives from discourses
and activities J Math Teacher Educ,15,pp.405–424. Estiani, W., Widiyatmoko, A.,
Sarwi.(2015). Pengembangan Media Permainan Kartu UNO Untuk Meningkatkan
Pemahaman Konsep Dan Karakter Siswa Kelas VIII Tema Optik. Science Education Journal,
4(1),pp.711-719
81
BIODATA PENULIS BUKU
Nim : 209210014
Status :Mahasiswa
Email :dinamawardahh28@gmail.com
No Telpon :083837941696
Nim : 209210013
Status :Mahasiswa
Email :vania.khairunnisa.rizal@gmail.com
No Telpon :083197900486
82