KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan hidayahNya kami dapat menyelesaian penyusunan Pedoman Penenetuan Level
Triase UPTD Puskesmas Ambarawa Kabupaten Semarang. Pedoman ini kami susun
sebagai salah satu upaya memberikan acuan dan kemudahan dalam pelaksanaan
Penentuan Level Triase di Puskesmas Ambarawa Kabupaten Semarang.
Akhirnya perkenankanlah kami menyampaikan ucapan terimakasih atas
bimbingan, bantuan, kerjasama dan partisipasinya kepada semua pihak yang terlibat
dalam proses penyusunan Pedoman Penentuan Level Triase di Puskesmas Ambarawa
ini.
Ambarawa, 3 Januari 2022
Kepala UPTD Puskesmas Ambarawa
drg. DIAN ARY PUSPITALOKA
NIP. 19850122 201101 2 005
DAFTAR ISI
COVERi
KATA PENGANTAR..........................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah.........................................................................................1
B. Tujuan.................................................................................................................... 1
C. Sasaran..................................................................................................................1
D. Ruang Lingkup......................................................................................................1
E. Batasan Operasional..............................................................................................1
F. Landasan Hukum...................................................................................................3
BAB II. STANDAR KETENAGAAN...................................Error! Bookmark not defined.
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia Upaya Penanggulangan Tuberculosis.....Error!
Bookmark not defined.
B. Distribusi Ketenagaan............................................Error! Bookmark not defined.
C. Jadwal Kegiatan..................................................Error! Bookmark not defined.
BAB III. STANDAR FASILITAS.......................................Error! Bookmark not defined.
A. Denah Ruang.........................................................Error! Bookmark not defined.
B. Skema Alur Pelayanan Penanggulangan Tuberculosis........Error! Bookmark not
defined.
C. Standar Fasilitas....................................................Error! Bookmark not defined.
BAB IV. TATA LAKSANA UPAYA PENANGGULANGAN TUBERCULOSIS...................1
A. Lingkup Kegiatan................................................................................................... 1
B. Strategi / Metode....................................................................................................2
C. Langkah Kegiatan................................................................................................. 3
BAB V. LOGISTIK.........................................................................................................5
BAB VI. KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN/ PROGRAM.....................................6
BAB VII. KESELAMATAN KERJA.................................................................................. 7
BAB VIII. PENGENDALIAN MUTU..................................................................................8
BAB XI. PENUTUP........................................................................................................ 9
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pelayanan Gawat Darurat adalah pelayanan yang berfungsi untuk menerima
dan menstabilkan pasien yang menunjukkan gejala yang bervariasi baik gawat atau
tidak gawat.Triase adalah cara pemilahan penderita untuk menentukan prioritas
penanganan pasien berdasarkan tingkat kegawatanya dan masalah yangterjadi
pada pasien. Triase di IGD adalah Pemilahan penderita berdasarkan pada keadaan
ABC (Airway, Breathing, dan Circulation). Dua jenis keadaan triase dapat terjadi
yaitu ;
1. Jumlah penderita dan beratnya luka tidak melampaui kemampuan petugas.
Dalam keadaan ini pasien dengan masalah gawat darurat dan multi trauma
akan dilayani terlebih dahulu, dan sesuai dengan prinsip ABC.
2. Jumlah penderita dan beratnya luka melampaui kemampuan petugas. Dalam
keadaan ini yang akan di layani terlebih dahulu adalah pasien yang dengan
kemungkinan survival yang terbesar.
B. Tujuan
Tujuan utama triase adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam nyawa,
tujuan selanjutnya adalah menetapkan derajat kegawatan yang memerlukan
pertolongan kedaruratan.
C. Sasaran
Sasaran dari pedoman ini adalah semua Dokter, Perawat dan Bidan yang terlibat
pada pelayanan UKP.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pedoman ini meliputi pelaksanaan pelayanan UKP di Puskesmas
Ambarawa.
E. Batasan Operasional
Triase adalah cara pemilahan penderita untuk menentukan prioritas
penanganan pasien berdasarkan tingkat kegawatanya dan masalah yang terjadi
pada pasien. Triase terutama dilakukan di ruang tindakan. Pelaksanaan Triase di
dalam keadaan sehari hari dilakukan oleh dokter dan atau perawat yang kompeten
1
di ruang tindakan. Sedangkan dalam keadaan bencana dilakukan oleh perawat dan
dilakukan di luar atau di depan gedung puskesmas.
Triase dilakukan untuk mengidentifikasi secara cepat korban yang
membutuhkan stabilisasi segera dan mengidentifikasi korban yang hanya dapat
diselamatkan dengan pembedahan darurat (life-saving surgery). Dalam aktivitasnya,
digunakan label pasien merah, hijau dan hitam sebagai kode identifikasi korban,
seperti berikut:
1. Merah, sebagai penanda korban yang membutuhkan stabilisasi segera dan
korban yang mengalami:
a. Syok oleh berbagai kausa
b. Gangguan pernapasan
c. Trauma kepala ▪ dengan pupil anisokor
d. Perdarahan eksternal massif.
e. pneumothorax yang telah dipasang drain thoraks (WSD).
Pemberian perawatan lapangan intensif ditujukan bagi korban yang mempunyai
kemungkinan hidup lebih besar, sehingga setelah perawatan di lapangan ini
penderita lebih dapat mentoleransi proses pemindahan ke Rumah Sakit, dan
lebih siap untuk menerima perawatan yang lebih invasif. Triase ini korban dapat
dikategorisasikan kembali dari status “merah” menjadi “kuning” (misalnya korban
dengan tension
2. Kuning, sebagai penanda korban yang memerlukan pengawasan ketat, tetapi
perawatan dapat ditunda sementara. Termasuk dalam kategori ini:
a. Korban dengan risiko syok (korban dengan gangguan jantung, trauma
abdomen)
b. Fraktur multipel
c. Fraktur femur / pelvis
d. Luka bakar luas
e. Gangguan kesadaran / trauma kepala
f. Korban dengan status yang tidak jelas ▪
g. Semua korban dalam kategori ini harus diberikan infus, pengawasan ketat
terhadap kemungkinan timbulnya komplikasi, dan diberikan perawatan
sesegera mungkin.
3. Hijau, sebagai penanda kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan
atau pemberian pengobatan dapat ditunda, mencakup korban yang mengalami:
a. Fraktur minor
b. Luka minor, luka bakar minor
c. Korban dalam kategori ini, setelah pembalutan luka dan atau pemasangan
bidai dapat dipindahkan pada akhir operasi lapangan.
2
d. Korban dengan prognosis infaust, ▪ jika masih hidup pada akhir operasi
lapangan, juga akan dipindahkan ke fasilitas kesehatan.
4. Hitam, sebagai penanda korban yang telah meninggal dunia.
F. Landasan Hukum
1. Undang-undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 tentnag Praktik
Kedokteran;
2. Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
3. Undang-undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit;
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 72 tahun 2012 tentang Sistem
Kesehatan Nasional, lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012
No.193; Pelayaran Kesehatan kepada peserta jaminan kesehatan;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 Tahun 2014 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
290/Menkes/Per/III/2008 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1691 Tahun 2011
tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 46 Tahun 2015
tentang Akreditasi Puskesmas, klinik pratama, tempat praktik mandiri dokter
dan tempat praktik mandiri dokter gigi;
3
BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Tim Keselamatan pasien puskesmas terdiri dari:
1. Pimpinan puskesmas/kepala puskesmas
2. Ketua Tim : Dokter Umum
3. Anggota Tim : Dokter Umum
Dokter gigi
Petugas Pendaftaran
Bidan
Perawat umum dan perawat gigi
Asisten apoteker (petugas obat)
Petugas laboratorium (analis laborat)
B. Distribusi Ketenagaan
4
C. Jadwal Kegiatan
1. Pengaturan jadwal jaga dokter, perawat dan bidan dibuat bersama-sama
dan di pertanggung jawabkan oleh Kordinator Klinis, Kordinator Bidan dan
Kordinator Perawat.
2. Jadwal dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan didistribusikan pada akhir
bulan sebelum pelaksanaan jadwal.
3. Untuk tenaga dokter, bidan maupun perawat yang memiliki keperluan
penting pada hari tertentu, maka petugas perawat tersebut dapat bertukar
jadwal dengan sejawatnya dan mencatatakan perubahan jaga tersebut di
lembar jadwal jaga.
5
BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang
B. Standar Fasilitas
Ruang pelayanan kepada pasien pada umumnya berlokasi di lantai
bawah gedung puskesmas sehingga memudahkan bagi pasien untuk
mengakses. Layanan yang tersedia pada UPTD Puskesmas Ambarawa antara
lain:
1. Layanan umum merupakan ruangan dengan 2 meja pemeriksaan dokter
dengan 1 bed periksa. Di bagian depan ruangan ini di sisi pintu masuk
adalah meja anamnese sekaligus pemeriksaan awal oleh perawat.
Ruangan ini memiliki wastafel sebagai sarana cuci tangan bagi petugas
setelah melakukan tindakan kepada pasien. Disamping itu ruangan ini
memiliki seperangkat komputer sebagai salah satu client dari sistem
informasi puskesmas yang terhubung dengan server untuk memasukkan
data pasien pada sistem P care BPJS.
2. Layanan Kesehatan gigi dan mulut memiliki dua unit kursi gigi beserta
peralatannya, 1 meja periksa dokter, 1 meja periksa perawat, 1 meja
administrasi, 1 lemari peralatan, 1 lemari arsip dan wastafel.Ruangan ini
juga diperlengkapi komputer sebagai sarana sistem informasi puskesmas.
1
3. Layanan KIA -KB/Imunisasi memberikan pelayanan KIA berupa
pemeriksaan ibu hamil, pelayanan KB, pemeriksaan calon pengantin serta
pemberian immunisasi pada balita. Ruangan KIA memiliki meja
administrasi, bed pemeriksaan, wastafel, lemari peralatan dan perangkat
komputer pendukung sistem informasi puskesmas.
4. Layanan laboratorium mempunyai meja administrasi, meja kerja sekaligus
meja peralatan, lemari reagen, kulkas, tempat cuci peralatan.
5. Layanan farmasi memiliki sarana meja kerja, meja tempat menyiapkan
resep, lemari obat, kulkas, wastafel dan perangkat komputer.
6. Layanan pendaftaran terletak di bagian tengah gedung, berhadapan
dengan pintu masuk pengunjung, sehingga mudah diakses. Di ruangan ini
terdapat meja resepsionis sekaligus meja kerja, lemari status, perangkat
komputer.
2
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Lingkup Kegiatan
Berdasarkan Oman (2008), pengambilan keputusan triase didasarkan pada keluhan
utama, riwayat medis, dan data objektif yang mencakup keadaan umum pasien serta
hasil pengkajian fisik yang terfokus. Menurut Comprehensive Speciality Standard, ENA
tahun 1999, penentuan triase didasarkan pada kebutuhan fisik, tumbuh kembang dan
psikososial selain pada faktor-faktor yang mempengaruhi akses pelayanan kesehatan
serta alur pasien lewat sistem pelayanan kedaruratan. Hal-hal yang harus
dipertimbangkan mencakup setiap gejala ringan yang cenderung berulang atau
meningkat keparahannya . Prioritas adalah penentuan mana yang harus didahulukan
mengenai penanganan dan pemindahan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa
yang timbul. Beberapa hal yang mendasari klasifikasi pasien dalam sistem triase adalah
kondisi klien yang meliputi :
a. Gawat, adalah suatu keadaan yang mengancam nyawa dan kecacatan yang
memerlukan penanganan dengan cepat dan tepat
b. Darurat, adalah suatu keadaan yang tidak mengancam nyawa tapi memerlukan
penanganan cepat dan tepat seperti kegawatan
c. Gawat darurat, adalah suatu keadaan yang mengancam jiwa disebabkan oleh
gangguan ABC (Airway / jalan nafas, Breathing / pernafasan, Circulation / sirkulasi),
jika tidak ditolong segera maka dapat meninggal / cacat (Wijaya, 2010)
Berdasarkan prioritas perawatan dapat dibagi menjadi 4 klasifikasi :
1
Tabel 2. Klasifikasi berdasarkan tingkat prioritas
B. Strategi / Metode
Proses triase dimulai ketika pasien masuk ke puskesmas Ambarawa. Perawat triage
harus mulai memperkenalkan diri, kemudian menanyakan riwayat singkat dan
melakukan pengkajian, misalnya; melihat sekilas kearah pasien sebelum mengarahkan
ke ruang perawatan yang tepat. Pengumpulan data subjektif dan objektif harus
dilakukan dengan cepat, tidak lebih dari 5 menit karena pengkajian ini tidak termasuk
pengkajian perawat utama. Perawat triage bertanggung jawab untuk menempatkan
pasien di area pengobatan yang tepat; misalnya bagian trauma dengan peralatan
khusus, bagian jantung dengan monitor jantung dan tekanan darah, dll. Tanpa
memikirkan dimana pasien pertama kali ditempatkan setelah triage, setiap pasien
tersebut harus dikaji ulang oleh perawat utama sedikitnya sekali setiap 60 menit. Untuk
pasien yang dikategorikan sebagai pasien yang mendesak atau gawat darurat,
pengkajian dilakukan setiap 15 menit / lebih bila perlu.Setiap pengkajian ulang harus
didokumentasikan dalam rekam medis.Informasi baru dapat mengubah kategorisasi
keakuratan dan lokasi pasien di area pengobatan.Misalnya kebutuhan untuk
memindahkan pasien yang awalnya berada di area pengobatan minor ke tempat tidur
bermonitor ketika pasien tampak mual atau mengalami sesak nafas, sinkop, atau
diaforesis.(Iyer, 2004). Bila kondisi pasien ketika datang sudah tampak tanda - tanda
objektif bahwa ia mengalami gangguan pada airway, breathing, dan circulation, maka
2
pasien ditangani terlebih dahulu. Pengkajian awal hanya didasarkan atas data objektif
dan data subjektif sekunder dari pihak keluarga. Setelah keadaan pasien
membaik, data pengkajian kemudian dilengkapi dengan data subjektif yang berasal
langsung dari pasien (data primer)
C. Langkah Kegiatan
1. Pasien datang ke puskesmas ambarawa
2. Untuk pasien dengan kesadaran penuh dan tanpa penyulit dikategorikan hijau dan
mengikuti alur pelayanan
3. Untuk pasien dengan atau tanpa gangguan kesadaran disertai penyulit akan
diarahkan ke ruang tindakan untuk dilakukan anamnesa dan pemeriksaan singkat
dan cepat (selintas) untuk menentukan tingkat kegawatanannya dan penanganan
lebih lanjut
4. Bila jumlah penderita/korban yang ada lebih dari 3 orang, maka triase dapat
dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD).
5. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kodewarna:
a. Segera-Immediate (merah). Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang
kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera. Misalnya: Tension
pneumothorax, distress pernafasan (RR< 30x/mnt), perdarahan internal, dsb.
b. Tunda-Delayed (kuning) Pasien memerlukan tindakan defintif tetapi tidak ada
ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi terkontrol, fraktur tertutup
padaekstrimitas dengan perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan
tubuh, dsb.
c. Minimal (hijau). Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan menolong
diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya: Laserasi minor, memar dan
lecet,luka bakar superfisial.
d. Expextant (hitam) Pasien mengalami cedera mematikan dan akan meninggal
meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3 hampir diseluruh
tubuh, kerusakan organ vital, dsb. Dikarenakan puskesmas Ambarawa tidak
mempunyai tempat penyimpanan jenazah untuk triase hitam ditiadakan .
6. Pasien mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna : merah, kuning,
hijau, hitam. Pasien kategori triase merah dapat langsung diberikan pengobatan
diruang tindakan . Tetapi bila memerlukan tindakan medis lebih lanjut,
penderita/korban dapat dirujuk ke rumah sakit setelah kondisinya stabil dan
transportable.
7. Penderita dengan kategori triase kuning yang memerlukan tindakan medis lebih
lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu giliran setelah pasien
dengan kategori triase merah selesai ditangani.
3
8. Penderita dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat jalan, atau bila
sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka pasien dapat diperbolehkan untuk
pulang. Penderita kategori triase hitam dapat langsung dibawa pulang oleh
keluarga.
9. Dokumentasi dalam rekam medis. Dalam kegiatan triase diperlukan data
dokumentasi yaitu :
1. Waktu dan datangnya alat transportasi
2. Keluhan utama (misal. “Apa yang membuat anda datang kemari?”)
3. Pengkodean prioritas atau keakutan perawatan
4. Penentuan pemberi perawatan kesehatan yang tepat
5. Penempatan di area pengobatan yang tepat (misal. kardiak versus trauma,
perawatan minor versus perawatan kritis)
6. Permulaan intervensi (misal. balutan steril, pemakaian bidai, prosedur
diagnostik).
4
BAB V
LOGISTIK
Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan triase direncanakan
dan diajukan sesuai kebutuhan kegiatan triase melalui perencanaan puskesmas.
5
BAB VI
KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN/ PROGRAM
Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan triase diperhatikan
keselamatan pasien dengan melakukan identifikasi risiko terhadap segala kemungkinan
yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan triase. Upaya pencegahan risiko terhadap
sasaran harus dilakukan padasetiap pelaksanaan kegiatan dengan cara penggunaan
Bahan habis pakai dan Alatalat yang steril bila diperlukan, melakukan penanganan
pasien sesuai dengan SOP.
6
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan triase
diperhatikan keselamatan petugas dengan melakukan identifikasi risiko terhadap segala
kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan triase. Upaya pencegahan
risiko terhadap sasaran harus dilakukan padasetiap pelaksanaan kegiatan dengan
cara penggunaan Alat Pelindung Diri dan mendokumentasikan kegiatan dalam rekam
medis.
7
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Kinerja pelaksanaan Triase dimonitor dan dievaluasi dengan menggunakan
indikator daftar tilik SOP pelayanan Klinis dan Audit Internal secara periodik.
8
BAB IX
PENUTUP
Pedoman ini sebagai acuan dalam melakukan triase di Puskesmas Ambarawa
Pelaksanaan Triase diharapkan sesuai dengan pedoman sehingga dapat
mengutamakan keselamatan pasien dan petugas. Keberhasilan triase tergantung pada
komitmen yang kuat dari semua pihak yang terkait termasuk pemenuhan sumber daya
sarana prasarana.
Kepala UPTD Puskesmas Ambarawa
drg. DIAN ARY PUSPITALOKA
NIP. 19850122 201101 2 005