SEJARAH ASIA TENGGARA
“FAKTOR-FAKTOR LAHIRNYA NASIONALISME NEGARA NEGARA
DI ASIA TENGGARA”
Disusun Oleh :
Putri Bella Pratiwi ( 352022001)
M. Panca Putra ( 352022004)
Dosen Pengampu :
Dewi Setyawati, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2023
i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Segala puji kami ucapkan atas kehadirat ALLAH SWT, karenaa atas dan
rahmat dan pertunjukannya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Faktor-
Faktor Lahirnya Nasionalisme di Negara Asia Tenggara. Sholatawat dan salam
tak lupa kita ucapkan kepada bagindaa nabi Muhammad SAW yang talah
membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang menderang.
Penyusunan makalah ini mengenai “perkembangan imperialisme barat dan
jepang di asia tenggara“merupakan tugas mata kuliah Sejarah Asia Tenggara.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan terutama
kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik yang bersifat positif, guna penyusunan makalah yang lebih
baik lagi kedepannya.
Tak lupa pula kami ucapkan terimakasih kepada teman – teman yang telah
ikut serta dalam penyusunan makalah kita ini sehingga kami dapat menyelesaikan
tepat waktu.
Palembang, November 2023
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
KATA PENGANTAR....................................................................................ii
DAFTAR ISI...................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................1
C. Tujuan Penulisan..................................................................................1
BAB II PEMBAHASAAN..............................................................................2
A. Pengertian Nasionalisme......................................................................2
B. Munculnya Kolonialisme di Asia Tenggara.........................................3
C. Proses Terbentuknya Nasionalisme Negara Asia Tenggara.................4
BAB III PENUTUP.........................................................................................12
A. Kesimpulan...........................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................13
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nasionalisme yang berkembang pesat di Asia Tenggara khususnya pasca
perang dunia kedua telah mengilhami berdirinya negara bangsa. Nasionalisme pada
saat itu dijadikan sebagai penggerak kemerdekaan untuk keluar dari kolonialisme.
Dalam hal ini, nasionalisme memiliki makna pembebasan yang agung. Pada abad ke
21 fenomena tumbuhnya nasionalisme kiranya masih menjadi hal yang relevan untuk
dibicarakan dan di teliti secara komprehensif. Biasanya di Indonesia kita akan
menggaungkan nasionalisme di tengah pusaran globalisasi dan untuk menjaga
persatuan bangsa. Sehingga, persoalan nasionalisme telah dianggap selesai dengan
memperkokoh kesatuan negara.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Nasionalisme
2. Munculnya Kolonialisme di Asia Tenggara
3. Proses Terjadinya Kolonialisme Negara Asia Tenggara
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tentang Pengertian Nasionalisme
2. Untuk mengetahui tentang Nasionalisme di Asia Tenggara
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian Nasionalisme
Nasionalisme dalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan
kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas
bersama untuk sekelompok manusia. Na-sionalisme setiap negara di dunia terbentuk
melalui proses yang berbeda-beda, sehingga pada saat nasionalisme tersebut
menampakkan wujudnya mempunyai bentuk dan ciri yang berbeda. Bangsa-bangsa
di kawasan Asia Tenggara, pada umumnya mengalami proses pembentukan identitas
kebang-saan setelah melalui proses yang panjang dalam pergulatan politik pada
pertengahan abad ke-20. Tumbuhnya nasionalisme ini dapat dikatakan merupakan
dampak positif dari praktik kolonialisme.
Nasionalisme merupakan tali pengikat yang kuat, yakni paham yang
menyatakan bahwa kesetiaan individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan,
sebagai ikatan yang erat terhadap tumpah darahnya. Keinginan untuk bersatu,
persamaan nasib akan melahirkan rasa nasionalitas yang berdampak pada munculnya
kepercayaan diri, rasa yang amat diperlukan untuk mempertahankan diri dalam
perjuangan menempuh suatu keadaan yang lebih baik.
Dua faktor penyebab munculnya nasionalisme, yaitu faktor intern dan
ekstern. Faktor pertama sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap penjajah yang
menimbulkan perlawanan rakyat dalam bentuk pemberontakan atau peperangan.
Sedang faktor kedua sebagai renaissance yang dianggap simbol kepercayaan atas
kemampuan diri sendiri (Perdanayudha, 2010).
Menurut tinjauan King dan Wilder (2012) pembentukan identitas nation bagi
negara-negara di kawasan Asia Tenggara, utamanya Indonesia di awali dengan
proses penyatuan atau rekonsiliasi etnik. Etnisitas dalam pandangan King dan Wilder
bukan hanya dipremiskan pada kekekalan diri bi-ologis namun juga pada
2
keanggotaan bidang in-teraksi dan komunikasi bersama berdasarkan pada nilai-nilai
dan perilaku Bersama.
Nasionalisme menurut Anderson (2001) berasal dari kata “nation” dapat
berarti kelompok orang-orang yang terikat dalam rasa kebersamaan dan
mempercayai konsep saling berbagi takdir atau warisan masa lalu untuk masa depan.
Arti Nasionalisme juga bisa dikatakan sebagai satu paham yang membentuk dan
mempertahankan serta memperjuangkan kedaulatan nation (negara) bersama dengan
adanya satu konsep yang diwujudkan yaitu identitas bersama untuk sekelompok
manusia. Terbentuknya nasionalisme pada suatu nation (negara) dapat memiliki
faktor penyebab yang berbeda-beda, hal ini membuat adanya bentuk nasionalisme
pada tiap negara dibelahan dunia memiliki wujud dan cirinya masing-masing. Salah
satu faktor terbentuknya nasionalisme dapat berupa adanya praktik kolonialisme di
suatu wilayah hingga akhirnya berdampak pada terciptanya sebuah kedaulatan
negara.
Salah satu bukti nyata dari adanya kedaulatan negara yang muncul dari
praktik kolonialisme adalah penjahahan bangsa barat di kawasan Asia Tenggara.
Dalam hal ini praktik kolonialisme dapat dikatakan menjadi dampak positif karena
menumbuhkan rasa nasionalisme di kawasan Asia Tenggara. Bangsa-bangsa di Asia
Tenggara sebagian besar terbentuk dari adanya praktik kolonialisme bangsa barat
dan dalam proses pembentukan identitas kebangsaannya melalui proses yang panjang
di mulai dari pertengahan abad ke-20. Proses tersebut dimulai dari terjadinya
kolonialisme bangsa barat yang bisa dikatakan sebagai faktor intern yang
memunculkan rasa nasionalisme.
B. Munculnya Nasionalisme di Asia Tenggara
Pada hakikatnya terdapat dua faktor penyebab munculnya nasionalisme yaitu
faktor intern dan ekstern. Faktor Intern dapat berupa perlawanan rakyat dalam bentuk
pemberontakan atau peperangan yang muncul dari adanya ketidakpuasan terhadap
penjajah. Faktor Ekstern dapat berupa adanya kepercayaan atas kemampuan diri
3
sendiri sehingga munculnya nasionalisme dapat berasal dari sebuah paham
renaissance.
Dapat dikatakan bahwa proses nation building negara-negara dikawasan Asia
Tenggara saat ini tidak tercipta dalam waktu yang singkat. Hal tersebut didasarkan
pada sejaranya bahwa sebelumnya berawal dari adanya kerajaan-kerajaan besar yang
berkuasa dikawasan Asia Tenggara kemudian mulai berganti dengan masa
kedatangan bangsa barat atau bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis, Portugis dan
Spanyol yang melakukan praktik imperialisme dan kolonialisme. Adanya
imperialisme bangsa barrat di kawasan Asia Tenggara membentuk adanya batas-
batas wilayah koloni atau kependudukan. Adanya praktik tersebut memunculkan
nilai-nilai dan rasa nasionalisme dinegara-negara jajahan Kawasan Asia Tenggara.
(Emil Radhiansyah.
C. Proses Terbentuknya Nasionalisme di Asia Tenggara
Terbentuknya identitas nation di negara-negara di kawasan Asia Tenggara
khususnya di Indonesia diawali dengan proses penyatuan atau rekonsiliasi etnik tiap
daerah sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai suatu bangsa. Adapun
negara-negara Asia Tenggara yang sadar akan rasa nasionalisme bangsanya setelah
adanya kolonialisme dari bangsa barat adalah sebagai berikut :
a. Nasionalisme Philipina
Nasionalisme di Filipina terbagi menjadi 2 tahap, yaitu pergerakan melawan
Spanyol dan Amerika Seriat. Gerakan nasionalisme Filipina dipengaruhi oleh faktor
internal dan eksternal, berikut penjelasannya: Faktor Internal Beberapa pengaruh
gerakan nasionalisme Filipina yang masuk dalam faktor internal adalah: Munculnya
golongan terpelajar yang membawa paham-paham revolusioner dari pendidikan
Barat. Sistem pemerintahan Spanyol di Filipina yang kejam di bidang politik, sosial
dan ekonomi. Pemerasan petani yang dilakukan oleh pemerintah Spanyo dan kaum
gereja. Faktor Eksternal Beberapa pengaruh gerakan nasionalisme Filipina yang
masuk dalam faktor eksternal, yaitu: Pengaruh Revolusi Cina dan Revolusi Turki
Muda pada awal abad ke-20 Masehi. Dampak Revolusi Industri 2.0 yang
4
mempermudah hubungan komunikasi dan mobilisasi informasi di Filipina.
Munculnya paham-paham modern seperti demokrasi dan nasionalisme di Filipina.
Gerakan Melawan Spanyol
Pada tahun 1882, Jose Rizal mendirikan organisasi bernama Liga Filipina
yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui peperangan. Selain
itu, Jose Rizal juga menulis buku berjudul Noli Ma Tangere'atau Jangan
Menyinggung Saya. Buku tersebut berisi tentang kritik terhadap penyelewengan
penguasa gereja dan pemerintah kolonial. Pada 1893, Andes Banifacio
melakukan pemberontakan bersenjata terhadap Spanyol namun mengalami
kegagalan. Spanyol menuduh Jose Rizal sebagai dalang dalam pemberontakan
tersebut. Akhirnya pada 30 Desember 1896 Jose Rizal dieksekusi mati oleh
Spanyol. Kematian Jose Rizal membuat skala perlawanan Filipina membesar.
Pada 13 Agustus 1898 Emilio Aquinaldo mengadakan perjanjian bersama
Amerika Serikat untuk mengusir Spanyol dari Filipina. Baca juga: Gerakan
Nasionalisme India Upaya tersebut mampu mengusir Spanyol dari Filipina,
namun Filipina berada di bawah kekuasaan Amerika Serikat.
Gerakan Melawan Amerika Serikat
Filipina berada di bawah kekuasaan Amerika Serikat setelah
penandatanganan Perjanjian Paris 1898. Pada tahun 1901, Pemerintah Amerika
menerapkan politik pembaharuan di Filipina dengan membentuk Filipina
Comission yang dikepalai oleh gubernur sipil. Penerapan sistem tersebut
bertujuan untuk membimbing Filipina dalam menjalankan negara. Dalam buku
Revolusi Damai : Rekaman Kemelutdi Filipina (1986) karya Kustigar Nadeak,
Filipina menuntut kemerdekaan penuh pada tahun 1919. Namun tuntutan tersebut
ditolak oleh Amerika Serikat dengan alasan ketidaksiapan pemerintah Filipina
untuk menjalankan pemerintahan mandiri. Pada tahun 1934, status Filipina
menjadi negara persemakmuran dari Amerika Serikat. Masa ini merupakan masa
peralihan bangsa Filipina dari kondisi terjajah menjadi berdaulat. Filipina
memperoleh kemerdekaan penuh pada 4 Juli 1946 oleh keputusan Harry S
Truman (presiden AS)
5
b. Nasionalisme Myanmar
Pembentukan YMBA (Young Man Buddhis Association) atau Persatuan
Pemuda Burma tahun 1906 adalah awal dimulainya Gerakan nasional Myanmar.
Setelah Perang Dunia I perkembangan nasionalisme Myanmar mulai terlihat
terutama saat Inggris memisahkan Myanmar dari konstitusi India (Inggris).
Berubahnya YMBA menjadi GCBA (Dewan Umum Persatuan Burma) pada tahun
1921 menandai bahwa gerakan nasional Burma menunjukkan tujuan politik yang
jelas. Inggris memperkenalkan sistem Dyarchy seperti yang diterapkan di provinsi di
India di Myanmar pada Tahun 1923. Tercetus ide pemisahan Myanmar dari India
tersebut berasal dari kaum nasionalis, akan tetapi kemudian kaum nasionalis
mencurigai bahwa Inggris akan mengambil alih Myanmar setelah India lepas dari
Inggris dimana pada awalnya ide tersebut diajukan oleh Komisi Simon pada tahun
1830an. Organisasi Dobama Asiayone (Kami Masyarakat Burma) lahir pada tahun
1935, gerakan ini diilhami paham sosialis dan ajaran komunis, serta terpengaruh dari
modernisasi Jepang dan sering juga gerakan ini dinamakan sebagai Partai Thakin.
Membangkitkan semangat nasionalisme rakyat dengan mengorganisir petani, buruh
dan gerakan pemuda adalah taktik perjuangan partai Thakin. Dari adanya Partai
Thakin inilah pada akhirnya yang membuat Myanmar meraih kemerdekaan pada
tanggal 4 Januari 1948 .
Dapat disimpulkan adanya kemerdekaan Myanmar berawal dari gerakan
nasional pertama Myanmar yaitu YMBA (Young Man Buddhis Association) atau
Persatuan Pemuda Burma tahun 1906. Setelah itu terbentuknya Organisasi Dobama
Asiayone (Kami Masyarakat Burma) yang lahir pada tahun 1935 semakin
membangkitnya semangat rakyat Myanmar dalam memperjuangakan kemerdekaan
bangsanya. Pada akhirnya di tanggal 4 Januari 1948 Myanmar meraih
kemerdekaannya.
c. Nasionalisme Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam
Adanya perlindungan Inggris terhadap wilayah Malaya membuat
nasionalisme di wilayah Malaya tergolong lambat perkembangannya. Namun pada
6
akhirnya Kemerdekaan Malaya terjadi tanggal 31 Agustus 1957 Di bawah pimpinan
Tengku Abdul Rahman. Bekas rumpun jajahan Inggris di wilayah Malaya yang
lainnya adalah Singapura dan Brunei Darussalam yang tidak ikut merdeka setelah
merdekanya Malaya tanggal 31 Agustus 1957 sebagai PTM (Persekutuan Tanah
Melayu).
Pada 16 September 1963 Malaya sendiri berganti nama menjadi Malaysia
setealah berkembangannya PTM. Kemerdekaan Singapura sendiri terjadi pada
tanggal 9 Agustus 1965 yang ditandai dengan adanya keputusan Singapura
memisahkan diri dari Malaysia dan berada dibawah pimpinan Perdana Menteri Lee
Kuan Yew, dan Singapura berdiri sendiri sebagai negara republik. Sedangkan Brunei
darussalam memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 1 Januari 1984 setelah
adanya berbagai perundingan dengan Inggris karena yang bermula dari raja Brunei
yang ditolak oleh Malaysia untuk menjadi Raja Malaysia dan akhirnya tidak mau
bergabung dengan Malaysia .
d. Nasionalisme Thailand
Asal usul pemikiran nasionalis Thailand berasal dari pembentukan negara-
bangsa Thailand pada pertengahan abad kesembilan belas pada masa pemerintahan
pendahulu Vajiravudh, Mongkut (Rama IV) dan Chulalongkorn (Rama V), yang
reformasinya sebagai respons terhadap tekanan kolonial menghasilkan
rekonseptualisasi kerajaan sebagai pemerintahan modern. Vajiravudh, melalui
berbagai tulisannya, mempromosikan nasionalisme sebagai ideologi tersendiri,
menggunakan narasi sejarah yang ditulis oleh Pangeran Damrong Rajanubhab dan
mempopulerkan pandangannya tentang patriotisme. Ia menganggap negara ini
berasal dari trinitas " bangsa-agama-monarki ", sebuah konsep yang
direpresentasikan dalam bendera nasional yang diadopsi pada tahun 1917. Bangsa
Thailand, dalam pandangannya, adalah "sebuah kumpulan orang-orang yang tinggal
di dalam perbatasan Siam, yang diilhami oleh sebuah identitas bersama,
memperjuangkan tujuan bersama, dan mendahulukan kepentingan umum di atas
kepentingan pribadi”.
7
Menyusul kudeta tak berdarah yang menghapuskan monarki absolut pada
tahun 1932 dan turun takhta penerus Vajiravudh, Prajadhipok (Rama VII) pada tahun
1935, naiknya kekuasaan Perdana Menteri Plaek Phibunsongkhram (Phibun),
pemimpin fasis Thailand yang kuat, menyaksikan promosi gelombang baru monarki
absolut. nasionalisme selama masa jabatan perdana menteri pertamanya dari tahun
1938 hingga 1944. Didukung oleh tulisan penasihat kebudayaannya Luang
Wichitwathakan , nama resmi negara tersebut diubah dari Siam menjadi Thailand
pada tahun 1939, dan mandat budaya serta reformasi yang bertujuan untuk
mendefinisikan ke-Thailandan dilaksanakan untuk mendorong asimilasi nasional
imigran Tiongkok dan minoritas berbahasa non-Thailand lainnya dalam proses yang
dikenal sebagai Thaification . Ideologi irredentist yang dikenal sebagai Pan-Thaiisme
dipromosikan dengan tujuan merebut kembali wilayah yang hilang dari Perancis dan
Inggris, yang sempat terwujud selama Perang Dunia II namun ditinggalkan
setelahnya.
Ketika politik nasional bergeser ke sikap anti-komunis selama Perang
Dingin , nasionalisme Thailand kembali dibingkai pada masa pemerintahan perdana
menteri Sarit Thanarat , yang menggulingkan Phibun pada tahun 1957 dan menjadi
perdana menteri pada tahun 1958. Sarit mendorong kebangkitan institusi monarki ,
yang pengaruhnya mulai berkurang sejak revolusi tahun 1932. Pemerintah
mempromosikan citra publik Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX), yang banyak
proyek pembangunannya bertujuan untuk memberi manfaat bagi masyarakat
pedesaan yang jauh, dan Raja kemudian dianggap sebagai sosok pemersatu dan
simbol kesetiaan nasional. Sejak tahun 1970-an, semboyan negara-agama-monarki
dihidupkan kembali, dan konsep "demokrasi dengan raja sebagai kepala negara"
dipromosikan sebagai pilar pemerintahan negara.
Pada tahun 2018 pemerintah Thailand menciptakan kampanye "kekuatan
lunak" yang disebut Thai Niyom ('Thai-isme') ( Thai : ไทยนิยม ; RTGS : thai niyom
) untuk memperkuat gagasan eksepsionalisme Thailand . Ini mencakup "12 Nilai
Inti", yang mengingatkan pada mandat budaya Thailand sebelumnya . Kampanye
tersebut dikritik oleh beberapa akademisi sebagai "propaganda negara belaka". Pada
8
tahun 2019, kebangkitan Partai Maju Masa Depan dan niatnya untuk mengubah
tatanan politik, ekonomi, dan sosial yang ada dengan mempromosikan kesetaraan,
desentralisasi, dan modernisasi, telah menimbulkan tuduhan dari penentang
konservatif grafik chung ( Thai : ชังชาติ ; RTGS : chang chat ) ('membenci bangsa'
atau 'anti-patriotisme'), varian baru dari "anti-Thailand". Warong Dechgitvigrom,
seorang politisi konservatif, menyatakan bahwa, "...saat ini, upaya telah dilakukan
untuk menanamkan keyakinan berbahaya pada generasi baru, yang saya sebut chung
chart,..." Dia mendefinisikan yang tidak patriotik sebagai "...orang yang menghina
monarki, tidak mendukung agama, meremehkan budayanya sendiri, menjelek-
jelekkan negaranya sendiri, dan menolak menerima keputusan pengadilan."
Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha , pada awal tahun 2020, memerintahkan
Departemen Seni Rupa untuk memfilmkan serangkaian film perang untuk
meningkatkan patriotisme Thailand. Serial ini akan menggambarkan keterlibatan
Thailand dalam perang dunia dan regional, seperti Pertempuran Bukit Daging Babi
(1953) dan Perang Vietnam , serta peran Thailand dalam Perang Dunia I dan II.
Kumpulan film kedua akan menceritakan kisah pertempuran dengan penjajah asing
seperti Pertempuran Ko Chang 1941 selama Perang Perancis-Thailand. Seri ketiga
akan fokus pada konflik lokal dan internal seperti Pertempuran Khao Kho (1968) dan
Pertempuran Romklao (1988). Film-film tersebut kemungkinan besar adalah film
layar lebar, bukan film dokumenter. Tujuan dari film-film tersebut adalah untuk
"membangkitkan rasa patriotisme" untuk membantu mengurangi konflik di
masyarakat.
d. Nasionalisme Indonesia
Nasionalisme Indonesia adalah ideologi yang muncul pada masa
Kolonialisme Belanda di Hindia Belanda yang menyerukan kemerdekaan bagi koloni
itu dan penyatuannya sebagai negara yang merdeka dan berdaulat bangsa. Masa
pembangunan di bawah kekuasaan kolonial itu sering disebut Kebangkitan Nasional
Indonesia. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945 dan
diakui merdeka dari Belanda setelah tahun 1949 setelah Revolusi Nasional
Indonesia, nasionalisme Indonesia bertahan sebagai seperangkat ideologi yang
9
mendukung melanjutkan kemerdekaan dan pembangunan negara yang baru merdeka.
Karena sifat Indonesia yang multietnis, nasionalisme Indonesia tidak terdiri dari
pembelaan terhadap satu kelompok etnis, kadang-kadang diwujudkan sebagai
Nasionalisme sipil, Nasionalisme Agama, dan Nasionalisme sayap kiri. Beberapa
bentuk tersebut dicontohkan dalam Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Indonesia yang
berarti "Berbeda-beda, namun tetap satu" dalam Jawa Kuno, dalam ideologi dasar
negara Pancasila, atau dalam undang-undang kontemporer yang menjamin
keberagaman suku dan agama. Faktor nasionalisme Indonesia adalah :
1. Faktor internal
Kenangan kejayaan masa lampau
Bangsa-bangsa Asia dan Afrika sudah pernah mengalami masa kejayaan sebelum
masuk dan berkembangnya imperialisme dan kolonialisme Barat. Bangsa India,
Indonesia, Mesir, dan Persia pernah mengalami masa kejayaan sebagai bangsa
merdeka dan berdaulat. Kejayaan masa lampau mendorong semangat untuk
melepaskan diri dari penjajahan. Bagi Indonesia kenangan kejayaan masa lampau
tampak dengan adanya kenangan akan kejayaan pada masa kerajaan Majapahit dan
Sriwijaya. Di mana pada masa Majapahit, mereka mampu menguasai daerah seluruh
Nusantara, sedangkan masa Sriwijaya mampu berkuasa di lautan karena maritimnya
yang kuat.
Bersatunya negara-negara Asia dan Afrika sejak zaman dahulu kala
Faktor yang mendorong rasa nasionalisme bangsa Asia bukanlah akibat penjajahan
yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Asia, Afrika, melainkan
rasa persatuan itu sudah dimiliki sejak zaman dahulu kala terutama sesama ras,
ataupun kerjasama perdagangan yang telah saling melengkapi antara suku produsen
benda yang berlainan (sehingga terjadi pertukaran tanpa adanya keserakahan seperti
yang dilakukan bangsa Barat). Mereka saling menghormati dan menjaga. Namun
kedatangan bangsa Barat yang menjajah mengakibatkan mereka hidup miskin dan
menderita sehingga mereka ingin menentang imperialisme Barat.
Munculnya golongan cendekiawan
10
Perkembangan pendidikan menyebabkan munculnya golongan cendekiawan baik
hasil dari pendidikan Barat maupun pendidikan Indonesia sendiri. Mereka menjadi
penggerak dan pemimpin munculnya organisasi pergerakan nasional Indonesia yang
selanjutnya berjuang untuk melawan penjajahan.
Paham nasionalis yang berkembang dalam bidang politik, sosial ekonomi, dan
kebudayaan
Dalam bidang politik, tampak dengan upaya gerakan nasionalis menyuarakan
aspirasi masyarakat pribumi yang telah hidup dalam penindasan dan penyelewengan
hak asasi manusia. Mereka ingin menghancurkan kekuasaan asing/kolonial dari
Indonesia. Dalam bidang ekonomi, tampak dengan adanya usaha penghapusan
eksploitasi ekonomi asing. Tujuannya untuk membentuk masyarakat yang bebas dari
kesengsaraan dan kemelaratan untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia.
Dalam bidang budaya, tampak dengan upaya untuk melindungi, memperbaiki dan
mengembalikan budaya bangsa Indonesia yang hampir punah karena masuknya
budaya asing di Indonesia. Para nasionalis berusaha untuk memperhatikan dan
menjaga serta menumbuhkan kebudayaan asli bangsa Indonesia
b. Faktor eksternal adalah Kemenangan Jepang atas Rusia (1905)
Pada tahun 1904-1905, Jepang melawan Rusia dan tentara Jepang berhasil
mengalahkan Rusia. Hal ini dikarenakan, modernisasi yang dilakukan Jepang telah
membawa kemajuan pesat dalam berbagai bidang bahkan dalam bidang militer.
Awalnya dengan kekuatan yang dimiliki tersebut Jepang mampu melawan Korea
tetapi kemudian dia melanjutkan ke Manchuria dan beberapa daerah di Rusia.
Keberhasilan Jepang melawan Rusia inilah yang mendorong lahirnya semangat
bangsa-bangsa Asia Afrika mulai bangkit melawan bangsa asing di negerinya.
11
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Nasionalisme yang berkembang pesat di Asia Tenggara khususnya pasca
perang dunia kedua telah mengilhami berdirinya negara bangsa. Nasionalisme pada
saat itu dijadikan sebagai penggerak kemerdekaan untuk keluar dari kolonialisme.
Dalam hal ini, nasionalisme memiliki makna pembebasan yang agung. Pada abad ke
21 fenomena tumbuhnya nasionalisme kiranya masih menjadi hal yang relevan untuk
dibicarakan dan di teliti secara komprehensif. Biasanya di Indonesia kita akan
menggaungkan nasionalisme di tengah pusaran globalisasi dan untuk menjaga
persatuan bangsa. Sehingga, persoalan nasionalisme telah dianggap selesai dengan
memperkokoh kesatuan negara.
12
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme_Indonesia
https://enmwikipediaorg.translate.goog/wiki/Thai_nationalism?
_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
https://kumparan.com/mayamaulidya028/nasionalisme-di-asia-tenggara-muncul-dari-
adanya-kolonialisme-bangsa-barat-20VTdXWzpkA/4
https://kumparan.com/febydewi26/bentuk-perjuangan-bangsa-myanmar-dalam-
memproklamasikan-kemerdekaan-1xwMrgtDqcT
13