Anda di halaman 1dari 6

Kepemimpinan Dalam Otonomi Daerah Kepemimpinan Dalam Otonomi Daerah Oleh : Fauzan H Proses kepemimpinan akan selalu melibatkan

orang lain, oleh karena itu dimana ada pemimpin, disana terdapat pengikut. Sebagai orang yang selalu bersama-sama dengan bawahannya atau yang dipimpinnya, seorang pemimpin harus mampu menjadi agen perubahan dan berinteraksi memberikan pengaruh kepada bawahannya atau yang dipimpinnya, sehingga bawahannya atau yang dipimpinnya bersemangat untuk menyelesaikan tugas masing-masing atau bekerjasama dalam mencapai tujuan organisasi yang sudah di tetapkan. Pemerintah sebagai penggerak pembangunan dituntut upayanya untuk dapat menggerakkan masyarakat pada kemandirian menempuh dan menumbuh kembangkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, memberikan pelayanan umum yang sebaik-baiknya dan maksimal. Konsekuensi logik yang diterima dari tuntutan semacam itu, adalah adanya kemampuan manajerial seorang pemimpin pada pemerintah daerah untuk menjalankan sistem manajemen pemerintahan yang berdaya guna dan berhasil guna. Tuntutan adanya pemimpin pemerintah yang berkemampuan handal, bermoral tinggi, loyal dan berdedikasi dalam memanfaatkan secara maksimal potensi yang dimiliki, ditujukan untuk kepentingan masyarakat. Dalam menjalankan kepemimpinan disuatu organisasi pemerintahan akan menghadapi permasalahan yang kompleks untuk mencapai tujuan, teori-teori atau ide-ide kepemimpinan, pada era otonomi daerah ini, harus dimiliki oleh pemimpin agar dapat menerapkan kepemimpinan yang seefektif mungkin. Sekurang-kurangnya ada dua jenis kepemimpinan dalam bidang pemerintahan yakni kepemimpinan organisasional dan kepemimpinan sosial yaitu kepemimpinan organisasional dan Kepemimpinan Sosial. Kepemimpinan organisasional timbul karena yang bersangkutan menjadi pimpinan unit organisasi dengan pengikut sebagai bawahan yang patuh dengan berbagai ikatan norma-norma organisasi formal. Dimensi administratif pada kepemimpinan organisasional lebih dominan dari pada dimensi sosial maupun politik serta biasanya dapat menggunakan fasilitas manajerial seperti kewenangan, dana, personil, logistik dan sebagainya. Sedangkan kepemimpinan sosial timbul karena kapasitas dan kualitas pribadinya dalam menggerakkan bawahannya, dimana dimensi sosial dan politik lebih dominan dari pada dimensi administratifnya. Dalam pimpinan pemerintahan daerah seharusnya mempunyai kedua bentuk dari kepemimpinan tersebut dengan melihat pertimbangan-pertimbangan untuk memilihannya yaitu Kapabilitas, Akseptabilitas dan Kompatibilitas. Secara singkat Kapabilitas adalah gambaran kemampuan diri si pemimpin baik intelektual maupun moral, yang dapat dilihat dari catatan jejak (track record) pendidikannya maupun jejak sikap dan perilakunya selama ini. Pemimpin yang baik tidak akan muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui proses perjalanan yang panjang. Selain pertimbangan Kapabilitas, pertimbangan lain adalah Akseptabilitas yaitu gambaran tingkat penerimaan pengikut terhadap kehadiran pemimpin. Semakin banyak pengikut yang menerima dengan baik kehadirannya maka semakin kuat besar peluang yang bersangkutan menjadi pemimpin. Pengaruh

lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah Kompatibilitas yaitu Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan dari pemerintah tingkat atasnya & mengakomodasikan kebijakan dari pemerintah tingkat bawahnya maupun tuntutan dari para pengikutnya. Derajat urgensi ketiga aspek tsb sangat tergantung pada tingkatan dari wilayah pengaruh dari pimpinan pemerintahan. Jika aspek kepemimpinan tersebut dikaitkan dengan kebutuhan dalam sistem pemerintahan maka urutan pentingnya pada tingkatan dalam posisi pemerintahan adalah : Presiden : 1. Kapabilitas, 2. Akseptabilitas, 3. Kompatibilitas. Kepala Daerah Propinsi : 1. Kompatibilitas, 2. Kapabilitas, 3. Akseptabilitas. Kepala Daerah Kab/Kota : 1. Akseptabilitas, 2. Kapabilitas, 3. Kompatibilitas. Kepala Desa/yang setingkat : 1. Akseptabilitas, 2. Kompatibilitas, 3. Kapabilitas. Sesuai dengan jenis kepemimpinan dalam bidang pemerintahan, maka ada juga ada dua jenis pengikut yakni pengikut dalam konteks organisasi administratif, dan pengikut dalam konteks organisasi sosial. Pengikut dalam konteks organisasi administratif terdiri para PNS, yang bekerja dengan imbalan penghasilan dari negara. Menurut Hersey & Blanchard (1990) tingkat kematangan pengikut dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) macam yakni : M1 : Rendah, Tidak mampu dan tidak mau atau tidak yakin. M2 : Rendah ke sedang, tidak mampu tetapi mau atau yakin. M3 : Sedang ke tinggi, mampu tetapi tidak mau atau tidak yakin. M4 : Tinggi, mampu/kompeten dan mau/yakin. Dalam otonomi daerah saat ini perlu juga mengadopsi suatu gaya Kepemimpian yang digunakan sesuai dengan kematangan Pengikut tersebut yaitu : M1 --> G1 (Gaya Memberitahukan). M2 --> G2 (Gaya Menjajakan). M3 --> G3 (Gaya Mengikutsertakan). M4 --> G4 (Gaya Mendelegasikan). Perlu juga diketahui oleh kita semua khususnya para pemimpin pemerintah daerah bahwa sampai saat ini, manajemen telah berkembang mencapai generasi kelima. Adapun perkembangannya adalah sebagai berikut. Generasi I mengarah kepada Management by Doing/Jungle Management, dengan cirinya adalah doing thing by ourself. Manajemen ini biasanya digunakan pada organisasi yang masih sederhana. Generasi II mengarah kepada Management by Direction, dengan cirinya adalah doing thing through the other people. Manajemen ini menonjolkan aspek kepemimpinan, anggota organisasi hanya sebagai alat produksi. Generasi III mengarah kepada Management by Objectives/Management by Targetting, dengan cirinya adalah mengutamakan target-target kuantitatif. Generasi IV mengarah kepada Management by Value Creation/Total Quality Management, dengan cirinya adalah mengutamakan target-target kualitas terutama pada kepuasan pelanggan. Generasi V mengarah kepada Management by Knowledge Networking, Virtual Enterprise and Dynamic Teamming, dengan cirinya menggunakan teknologi informatika serta mengutamakan jaringan antar manusia.

Dari lima tingkatan generasi yang telah tercipta pada tiap-tiap masanya, maka jika dievaluasi sampai saat ini pada sektor publik umumnya masih menggunakan manajemen generasi kedua atau ketiga. Untuk itu organisasi publik khususnya pemerintah daerah perlu mengejar ketertinggalannya agar dapat tetap memainkan peranan sebagai agen pembaharuan dan lokomotif penggerak perubahan bangsa. Apabila ketertinggalan tersebut tidak disusul dengan segera maka besar kemungkinan akan terjadi kooptasi (penguasaan secara halus) terhadap sektor publik oleh sektor privat yang mana sektor privat sudah melaju kepada manajemen generiasi keempat bahkan kelima. Terlebih lagi, setelah adanya gelombang privatisasi peranan sektor privat menjadi sangat dominan. Untuk itu siapakah yang akan melakukan pembaharuan dan memajukan sistem manajemen pemerintah daerah? Jawabannya adalah Pemimpin.

KEKUASAAN KEPALA DAERAH ERA OTONOMI DAN PILKADA LANGSUNG MENURUT UU NOMOR 32 TAHUN 2004 Oleh: DR. H. Awang Faroek Ishak

A. Eksistensi Kepala Daerah Era Otonomi Daerah Kepala Daerah adalah posisi sentral dan strategis dalam sistem Pemerintahan Daerah. Begitu strategisnya kedudukan dan peran Kepala Daerah dalam sistem emerintahan Daerah, sehingga seorang Kepala Daerah harus menerapkan ola kegiatan yang dinamik, aktif, kreatif, serta komunikatif, menerapkan pola ekuasaan yang tepat maupun pola perilaku kepemimpinan yang sesuai tuntutan ebutuhan yang dipengaruhi oleh latar belakang individual masing-masing Kepala Daerah. Dengan pola kepemimpinan yang efektif, Kepala Daerah diharapkan dapat menerapkan dan menyesuaikan dengan paradigma baru otonomi daerah, ditengah-tengah lingkungan strategis yang terus berubah eperti reinventing government, sharing of power, akuntabilitas serta good and lean governance. Jadi, korelasi positif sangat diperlukan dalam hubungan epala Daerah dalam berbagai eksistensinya, dengan otonomi daerah yang ipengaruhi oleh lingkungan yang strategis. Dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah, seorang Kepala Daerah tidak hanya memiliki hak, tetapi juga sejumlah kewajiban di dalamnya (Awang, 2003). Artinya, seorang Kepala dalam implementasi pola kepemimpinannya, seharusnya tidak hanya berorientasi pada tuntutan untuk memperoleh hak dan kewenangan yang sebesarbesarnya, tanpa menghiraukan makna otonomi daerah itu sendiri yang lahir dari suatu kebutuhan akan efisiensi dan efektivitas manajemen penyelenggaraan pemerintahan, yang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dan berkualitas kepada masyarakat.

Paradigma baru otonomi daerah haruslah diterjemahkan oleh Kepala Daerah sebagai upaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan, sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat, karena otonomi daerah bukanlah tujuan melainkan suatu instrumen

untuk mencapai tujuan (James W. Fesler, 990, AF. Leemans, 1970). Karenanya, instrumen tersebut harus digunakan secara arif oleh Kepala Daerah tanpa harus menimbulkan konflik antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, atau antar provinsi dan kabupaten/kota, karena jika demikian makna otonomi daerah menjadi kabur dan tidak mencapai sasarannya (Kaloh, 2003). Otonomi daerah harus didefinisikan sebagai otonomi bagi rakyat daerah dan bukan otonomi "daerah" dalam pengertian suatu wilayah (territorial) tertentu di tingkat lokal. Kalaupun implementasi otonomi daerah diarahkan sebagai membesarnya kewenangan daerah, kewenangan itu haruslah dikelola secara adil, jujur, dan demokratis. Dalam hubungan itu, Kepala Daerah harus mampu mengelola kewenangan yang diterima secara efektif dan efisien demi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat daerah. Cara pandang yang demikian inilah yang tepat untuk menjelaskan hubungan antara Kepala Daerah dan atonomi daerah. Eforia reformasi yang menggulirkan dinamika perubahan, dimana wacana demokratisasi dan transparansi terus tumbuh dan berkembang secara cepat, ternyata ikut menumbuhkan kesadaran masyarakat, khususnya masyarakat di daerah untuk menuntut hak dan kewenangan daerah, dan ikut serta dalam penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis dan otonom (Kaloh, 2003). Berbagai perkembangan dan perubahan yang sangat cepat dan drastis, berupa tuntutan dan harapan untuk memperoleh kemandirian, perlu direspons dengan cepat dan tepat pula oleh seorang Kepala Daerah. Untuk itu, seorang Kepala Daerah perlu mengenal persoalanpersoalan pokok mendasar yang dihadapi oleh masyarakat di daerahnya masing-masing dan berupaya memecahkan masalah-masalah inti yang ada dan bukan hanya gejalanya, karena jika hanya menyelesaikan gejalanya saja, permasalahan itu akan selalu berulang dan terus berulang di kemudian hari. Jadi, setiap Kepala Daerah yang memimpin organisasi Pemerintahan Daerah perlu memahami bahwa otonomi daerah adalah suatu instrumen politik dan instrumen administrasi (manajemen) yang digunakan untuk mengoptimalkan sumber-sumber daya lokal, sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besamya demi kemajuan masyarakat di daerah terutama menghadapi tantangan global, mendorong pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat dan mengembangkan demokratisasi. B. Persyaratan Menjadi Kepala Daerah Pada dasarnya, setiap organisasi menetapkan berbagai persyaratan bagi calon pemimpin sebuah organisasi. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat untuk memimpin suatu organisasi, diperlukan orang-orang yang mempunyai kelebihan fisik, intelektual, maupun mental rohaniah agar dapat membawa setiap unsur organisasi tersebut ke pencapaian tujuan. Apalagi, bagi organisasi pemerintahan di mana keputusan seorang pemimpin mempunyai konsekuensi yang besar dan mengandung resiko yang berdampak luas, terutama jika pemimpin tersebut gagal dalam mengatur dan mengurus organisasi. Dengan demikian, sangat diperlukan pemimpin dan kepemimpinan yang memiliki kualitas dan kapasitas memadai.

Sebagai pemimpin, Kepala Daerah adalah orang yang bergerak lebih awal, mempelopori, mengarahkan pikiran dan pendapat anggota organisasi, membimbing, menuntun, menggerakan orang lain melalui pengaruhnya, menetapkan tujuan organisasi, memotivasi anggota organisasi agar sesuai dengan tujuan organisasi dan harus dapat mempengaruhi sekaligus melakukan pengawasan atas pikiran, perasaan dan tingkah laku anggota kelompok yang dipimpinnya (Yuki, 1989). Untuk mewujudkan dan melaksanakan perannya sebagai seorang pemimpin, Kepala Daerah diisyaratkan memiliki sikap dasar dan sifat-sifat kepemimpinan, teknik kepemimpinan dan gaya kepemimpinan yang sesuai kondisi lingkungan organisasi, pengikut serta situasi dan kondisi yang melingkupi organisasi yang dipimpinnya (Pamudji, 1985) serta ditopang pula oleh kekuasaan (power) yang tepat (Yuki, 1989). Sebagai seorang pemimpin, Kepala Daerah diisyaratkan untuk memiliki sifat-sifat tertentu. Mitchell (1978), mengemukakan sifat-sifat tertentu, seperti: kepribadian (personality), kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability) untuk merealisir ide-ide menjadi serangkaian kegiatan (activity). Setiap pemimpin perlu menyadari bahwa kepemimpinnya merupakan proses antar hubungan atau interaksi antara pemimpin, bawahan, dan situasi (Stogdill, 1974). Akibatnya, tidaklah mudah mencari sosok pemimpin, terlebih pemimpin sejati dengan karakter unggul yang melekat di dalam dirinya. Seperti yang dikemukakan Zainal Soedjais dalam Awang Faroek (2008), terdapat lima unsur karakter kepemimpinan yang unggul, yaitu meliputi: karakter, kredibilitas, nilai, keteladanan, dan kemampuan memberikan dan menjadi bagian dari harapan. Keunggulan pertama adalah karakter. Pemimpin tersebut adalah produk terunggul di lingkungannya. Di sini, kita dapat mempergunakan teori Rosabeth Modd-Kanter yang mengedepankan individu dengan karakter keunggulan, yakni individu yang memiliki Triple-C: Concept atau kemampuan membuat konsep akan masa depan, Competence atau kompetensi, dan Connectedness alias kekuatan jaringan yang dimiliki. Gagasan ini, seperti kata Riant Nugroho (2003), di-Indonesiakan oleh Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat (2001) sebagai KKN, atau Konsep, Kompetensi dan Networkingbukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Keunggulan kedua adalah kredibilitas. Di negara-negara barat, syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin, seperti penelitian James & Posner (1997), adalah kredibilitas. Steven M. Bomstein dan Anthony F. Sands (1996), menyebutkan lima inti (SC) kredibilitas, yaitu: Conviction, Character, Courage, Composure, Competence. Conviction adalah keyakinan dan komitmen. Character adalah integritas, kejujuran, respek, dan kepercayaan yang konsisten. Courage adalah keberanian, kemauan untuk bertanggung jawab atas keyakinannya. Bahkan, kalau perlu berani mengubah diri. Composure adalah ketenangan batin, suatu kemampuan untuk memberikan reaksi dan emosi yang tepat dan konsisten, khususnya dalam menghadapi suatu krisis. Competence adalah keahlian, keterampilan, dan profesionalitas. Keunggulan ketiga adalah nilai. Tugas pemimpin adalah memberikan value atau nilai bagi organisasi yang dipimpinnya. Memimpin adalah melakukan value creation sepanjang waktu.

Warren Bennis (2000), menekankan bahwa pemimpin adalah makes different. Ia harus membuat organisasinya berbeda dengan sebelum ia pimpin. Nilai atau value ini adalah kemampuan membuat visi masa depan yang benar dan akurat, kemampuan menata misi yang sesuai dengan kondisi riil yang dihadapi, menatanya dalam strategi, lalu menjabarkan serta menjalankannya secara operasional. Semuanya itu merupakan sebuah untaian yang membentuk suatu proses yang berkesinambungan. Keunggulan keempat adalah keteladanan. Tokoh pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, mengajarkan ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Kendati ketiganya berbeda semantik, yakni di depan memberikan contoh, di tengah memberikan inspirasi dan di belakang mendorong. Pada prinsipnya, kesemuanya itu bermuara pada satu hal: keteladanan. Di negara-negara Barat pun, prasyarat keteladanan ini merupakan faktor krusial. Arie de Geus (1996) misalnya, secara khusus pernah membuat kajian tentang perusahaan-perusahaan kelas dunia yang sukses, mampu bertahan dan terus berkembang, dan kemudian menjadi acuan bagi yang lain. Ia menemukan, bahwa perusahaanperusahaan itu memiliki satu kesamaan, yakni pemimpin yang memiliki keteladanan. Keteladanan adalah simbol pertama dari kedewasaan, karena keteladanan memerlukan toleransi, kerendahan hati, dan kesabaran. Pemimpin hakikatnya adalah pamong, bukan pangreh. Keunggulan kelima adalah harapan. Jadi, pemimpin harus memberikan harapan. Manusia terkadang berhadapan dengan masalah yang teramat berat untuk diatasi dan merasa putus asa. Pemimpin yang memberi harapan adalah pemimpin yang membuka mata pengikutnya akan tantangan masa depan dan bagaimana cara mengatasinya.