MANAJEMEN RISIKO REPUTASI
Dosen Pengampu :
Niswah Baroroh, S.E., M.Si.
Disusun Oleh:
Kelompok 9
1. Khansa Nailah Asy Syifa (7211422008)
2. Naida Aulia Priyadi Putri (7211422011)
3. Irredenta Cornelia Hartono (7211422014)
4. Agita Dini Febrianti (7211422121)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2024
BAB I
PENDAHULUAN
Seorang ahli finansial yang terkenal. Warren Buffet, pernah berkata, "It takes 20
years to build reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you will do things
differently.” Banyak sudah kasus terjadi yang menunjukkan betapa besarnya peranan
manajemen risiko reputasi. Kasus individual seperti Tiger Woods tahun 2009 dan Japan
Airlines di tahun 2010 memberikan pelajaran berharga betapa pentingnya reputasi untuk
dipelihara dan dipertahankan.
Kasus Japan Airlines (JAL), menurut Nova (2011), membuktikan betapa maskapai
terbesar penerbangan di Asia dapat dinyatakan bangkrut dengan menanggung kewajiban
hingga 2,32 triliun yen. Kebangkrutan JAL merupakan yang terbesar dalam sejarah Jepang
pasca perang dunia. Bangkrutnya JAL diharapkan dapat mengakhiri tiga tahun upaya
restrukturisasi yang menyakitkan dengan merumahkan 15 ribu karyawan, penghapusan utang
hingga miliaran dolar, dan penutupan banyak rute tak menguntungkan. Untuk mencegah JAL
ambruk total yang dapat berpengaruh pada 13 ribu mitra bisnis, dibutuhkan keringanan utang
hingga US$7 miliar dan miliar dolar lain untuk kredit. JAL sudah bertahta. tahun tidak
meraup untung, terbelenggu beban rute domestik yang mahal, manajemen yang payah, dan
menghabiskan banyak dananya untuk hotel ketika perekonomian menggeliat di tahun 1980-
an.
Kejatuhan JAL semakin cepat seiring sulitnya bersaing melawan All Nippon Airways
yang merupakan rival domestik serta diperparah dengan krisis finansial global yang terjadi di
tahun 2008. Saham JAL terjun bebas dan nilai pasarnya hanya US$150 juta, jauh berkurang
dibanding sebelum bangkrut. Pada 20 Februari 2010, saham JAL telah dihapus dari pasar
modal.
Pada bagian berikut, kita akan membahas beberapa aspek akan pentingnya
manajemen risiko reputasi.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN RISIKO REPUTASI
Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan
stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap perusahaan. Risiko ini
timbul antara lain karena adanya pemberitaan media dan/atau rumor mengenal
perusahaan yang bersifat negatif, serta adanya strategi komunikasi perusahaan yang
kurang efektif.
Risiko reputasi terjadi akibat kejadian-kejadian yang merugikan reputasi
perusahaan, misalnya pemberitaan negatif di media massa, pelanggaran etika bisnis,
dan keluhan nasabah atau hal-hal lain yang bisa menyebabkan risiko reputasi.
Kelemahan pada tata kelola, budaya perusahaan, dan praktik bisnis T perusahaan juga
bisa menjadi sumber risiko reputasi. Reputasi dibentuk dari berbagai atribut, yaitu:
1. Tanggung jawab sosial
2. Daya tarik emosional
3. Kinerja finansial
4. Produk dan pelayanan
5. Visi dan kepemimpinan
6. Lingkungan tempat kerja
Selain atribut di atas, Nova (2011) memberikan beberapa hal yang dapat juga
menjadi dasar reputasi, yaitu komunikasi, sikap profesional, kepercayaan publik,
inovasi produk, tanggung jawab sosial, kualitas layanan konsumen, dan tingkat
respons terhadap feedback publik sebagai dasar reputasi.
B. TUJUAN MANAJEMEN RISIKO REPUTASI
Tujuan utama manajemen risiko reputasi ialah untuk mengantisipasi dan
meminimalkan dampak kerugian dari risiko reputasi perusahaan.
C. SUMBER RISIKO REPUTASI
Terdapat beberapa faktor yang menjadi sumber dari risiko reputasi. Di antara
faktor tersebut adalah pengaruh reputasi dari pemilik perusahaan dan perusahaan
terkait, pelanggaran etika bisnis, kompleksitas produk dan kerja sama bisnis
perusahaan, frekuensi, materialitas, dan eksposur pemberitaan negatif perusahaan,
serta frekuensi dan materialitas keluhan nasabah.
1. Pengaruh Reputasi dari Pemilik Perusahaan dan Perusahaan Terkait
Pengaruh reputasi/berita negatif dari pemilik perusahaan dan atau perusahaan
lain yang terkait dengan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dapat
menyebabkan peningkatan risiko reputasi pada perusahaan. Oleh karena itu,
kredibilitas pemilik dan perusahaan terkait kejadian reputasi pada pemilik dan
perusahaan terkait akan sangat berpengaruh.
2
2. Pelanggaran Etika Bisnis
Pelanggaran etika terlihat, antara lain, melalui transparansi informasi
keuangan dan kerja sama bisnis dengan stakeholders lainnya. Dengan
demikian, perlu diperhatikan apabila perusahaan melakukan pelanggaran
terhadap etika/norma bisnis yang berlaku secara umum.
3. Kompleksitas Produk dan Kerja Sama Bisnis Perusahaan
Produk yang kompleks dan kerja sama dengan mitra bisnis dapat terekspos
pada risiko reputasi apabila terdapat kesalahpahaman penggunaan produk jasa
atau pemberitaan negatif pada mitra bisnis, misalnya jasa perbankan dengan
produk bancassurance dan reksa dana. Oleh karena itu, jumlah dan tingkat
penggunaan nasabah atas produk perusahaan yang kompleks serta jumlah dan
materialitas kerja sama perusahaan dengan mitra bisnis dapat mempengaruhi
risiko reputasi.
4. Frekuensi, Materialitas, dan Eksposur Pemberitaan Negatif Perusahaan
Frekuensi dan materialitas pemberitaan, jenis media, dan ruang lingkup
pemberitaan negatif perusahaan, termasuk pengurus perusahaan, dapat
menimbulkan risiko reputasi. Materialitas pemberitaan negatif dimaksud adala
dampak ataupun pengaruh material (dalam bentuk rupiah) dari pemberitaan di
media. Banyak kejadian menunjukkan bahwa dampak pemberitaan negatif
bisa menimbulkan pengaruh material yang besar. Oleh karena itu, perusahan
harus memperhatikan pengelolaan pemberitaan negatif ini agar tidak
berpengaruh negatif signifikan terhadap bisnis perusahaan.
5. Frekuensi dan Materialitas Keluhan Nasabah
Frekuensi keluhan nasabah dan materialitas keluhan nasabah tentu saja sangat
besar pengaruhnya pada reputasi perusahaan. Materialitas keluhan nasabah
dimaksud adalah dampak ataupun pengaruh material (dalam bentuk rupiah)
dari keluhan nasabah. Terkadang, dampak keluhan nasabah bisa memiliki
pengaruh material yang besar, terutama dari nasabah prioritas dana pihak
ketiga dan lain-lain. Dengan demikian, perusahaan harus memperhatikan
pengelolaan keluhan nasabah ini agar tidak berpengaruh signifikan terhadap
operasional perusahaan.
D. PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO REPUTASI
Penerapan manajemen risiko reputasi bagi perusahaan idealnya mencakup adanya:
1. Pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi.
2. Kebijakan, prosedur, dan penetapan limit.
3. Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko serta
sistem informasi manajemen risiko reputasi.
4. Sistem pengendalian intern.
3
1. Pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi
a. Kewenangan dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Direksi
Dewan komisaris dan direksi harus memberikan perhatian terhadap
pelaksanaan manajemen risiko reputasi oleh unit-unit terkait (humas
dan unit bisnis terkait). Dewan komisaris dan direksi harus berperilaku
secara profesional dan menjaga etika bisnis sehingga dapat menjadi
contoh bagi seluruh elemen organisasi perusahaan dalam upaya
membangun dan menjaga reputasi.
Direksi harus menetapkan satuan kerja/fungsi yang memiliki
kewenangan dan tanggung jawab untuk memberikan informasi kepada
nasabah dan pemangku kepentingan perusahaan terkait dengan
aktivitas bisnis perusahaan dalam rangka mengendalikan risiko
reputasi
b. Organisasi Manajemen Risiko Reputasi
Seluruh pegawai, termasuk manajemen unit bisnis dan aktivitas
pendukung perusahaan, harus menjadi bagian dari struktur pelaksana
manajemen risiko reputasi, mengingat reputasi merupakan hasil dari
seluruh aktivitas bisnis perusahaan. Peran manajemen unit bisnis
adalah mengidentifikasi risiko reputasi yang terjadi pada bisnis atau
aktivitas unit tersebut dan sebagai frontliner dalam membangun dan
mencegah risiko reputasi, khususnya terkait hubungan dengan nasabah.
Satuan kerja yang melaksanakan manajemen risiko untuk risiko
reputasi, seperti sekretaris perusahaan, humas, dan investor relation,
bertanggung jawab menjalankan fungsi kehumasan dan merespons
pemberitaan negatif atau kejadian lainnya yang mempengaruhi reputasi
perusahaan dan dapat menyebabkan kerugian perusahaan. Humas juga
bertugas mengkomunikasikan informasi yang dibutuhkan oleh
pemangku kepentingan investor, nasabah, kreditur, asosiasi, dan
masyarakat.
2. Kebijakan, prosedur, dan penetapan limit
Kebijakan, prosedur, dan penetapan limit dalam manajemen risiko reputasi
terdiri atas: strategi manajemen risiko, tingkat risiko yang akan diambil (risk
appetite) dan toleransi risiko (risk tolerance), kebijakan dan prosedur, serta
limit.
Perusahaan harus mempunyai kebijakan dan prosedur tertulis yang memenuhi
prinsip-prinsip transparansi dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan
kepada nasabah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengendalikan
risiko reputasi. Kebijakan tersebut juga harus sejalan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku mengenai perlindungan kepada konsumen.
Perusahaan harus memiliki dan melaksanakan kebijakan komunikasi yang
tepat dalam rangka menghadapi berita/publikasi yang bersifat negatif atau
mencegah informasi yang cenderung kontraproduktif, antara lain dengan cara
4
menerapkan strategi penggunaan media yang efektif untuk menghadapi berita
negatif.
Perusahaan harus mempunyai protokol khusus untuk pengelolaan reputasi
pada saat krisis sehingga dapat dengan cepat mengantisipasi peningkat risiko
reputasi di saat krisis. Penilaian atas faktor ini mencakup struktur manajemen
krisis dan prosedur manual manajemen krisis.
Limit risiko reputasi secara umum bukan merupakan limit yang dapat
dikuantifikasi secara finansial. Sebagai contoh: limit waktu merespons
keluhan nasabah dan batasan waktu menunggu dalam antrian untuk mendapat
pelayanan.
3. Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko serta
sistem informasi manajemen risiko reputasi
a. Identifikasi dan Pengukuran Risiko Reputasi
Perusahaan harus mencatat dan mengarsip setiap kejadian yang terkait
dengan rise reputasi, termasuk jumlah potensi kerugian yang
diakibatkan kejadian dimaksud dalam suatu administrasi data.
Pencatatan dan pengarsipan data tersebut disusun dalam suatu data
statistik yang dapat digunakan untuk memproyeksikan potensi
kerugian pada suatu periode dan aktivitas tertentu perusahaan.
Perusahaan dapat menggunakan beberapa sumber informasi untuk
mengidentifikasi dan mengukur dampak dari risiko reputasi, antara
lain: pemberitaan media massa, situs perusahaan dan hasil analisis
jejaring sosial, pengaduan nasabah melalui layanan nasabah, dan
kuesioner kepuasan nasabah.
b. Pengukuran Risiko Reputasi
Perusahaan dapat menggunakan beberapa sumber informasi untuk
mengidentifikasi dan mengukur dampak dari risiko reputasi, antara
lain: pemberitaan media massa; situs perusahaan dan hasil analisis
jenjang sosial; pengaduan nasabah melalui layanan nasabah; dan
kuesioner kepuasan nasabah.
Salah satu alternatif pengukuran risiko reputasi adalah perusahaan
menggunakan metode internal yang disusun berdasarkan pengalaman
dan database historis sebuah korporasi. Untuk lebih lengkap pelajari
contoh kasus risiko reputasi di akhir bab ini.
Peringkat risiko bagi perusahaan dapat dikategorikan menjadi 5 (lima)
peringkat, yaitu low, low to moderate, moderate, moderate to high, dan
high. Selain melakukan penilaian di atas, biasanya juga ditentukan
penentuan limit risiko reputasi. Untuk penentuan limit risiko ini, dapat
ditetapkan maksimal 10 kali modal yang dialokasikan untuk risiko
reputasi. Besaran 10 kali ini digunakan untuk menyesuaikan dengan
formula profil risiko yang menetapkan bahwa profil risiko tinggi
adalah representasi dari kondisi nilai risiko kepatuhan > 10% dari
5
maksimum nilai kerugian yang mungkin timbul jika bentuk-bentuk
risiko reputasi terjadi.
c. Pemantauan Risiko Reputasi
Perusahaan memantau risiko reputasi secara berkala sesuai dengan
pengalaman kerugian di masa lampau yang disebabkan oleh risiko
reputasi. Secara berkala biasanya bisa diterapkan minimal sekali tiga
bulan.
d. Pengendalian Risiko Reputasi
Perusahaan harus segera menindaklanjuti dan mengatasi adanya
keluhan nasabah dan gugatan hukum yang dapat meningkatkan
eksposur risiko reputasi. Perusahaan harus mengembangkan
mekanisme yang andal dalam melakukan tindakan pengendalian risiko
reputasi yang efektif. Secara umum, pengendalian risiko dapat
dilakukan melalui dua hal: Pertama, pencegahan terjadinya kejadian
yang menimbulkan risiko reputasi yang secara umum dilakukan
melalui tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social
responsibility), yaitu serangkaian aktivitas yang dilakukan perusahaan
untuk pemberdayaan masyarakat dalam bentuk kegiatan
ekonomi/sosial yang diharapkan dapat membangun reputasi positif dari
pemangku kepentingan terhadap perusahaan, dan komunikasi/edukasi
secara rutin kepada pemangku kepentingan dalam rangka membentuk
reputasi positif dari pemangku kepentingan. Kedua, pemulihan reputasi
perusahaan setelah terjadi kejadian yang menimbulkan risiko reputasi,
yaitu segala respons perusahaan untuk memulihkan reputasi dan
mencegah terjadinya pembusukan reputasi perusahaan.
e. Mitigasi Risiko Reputasi
Mitigasi risiko reputasi maupun kejadian yang menimbulkan risiko
reputasi dilakukan dengan mempertimbangkan materialitas
permasalahan dan biaya. Meskipun demikian, dapat saja risiko reputasi
tersebut diterima sepanjang masih sesuai dengan tingkat risiko yang
akan diambil.
Dalam rangka pengendalian risiko reputasi yang lebih besar di masa
depan tindakan pencegahan dan pemulihan risiko reputasi yang telah
dilakukan perlu diikuti dengan perbaikan pada kelemahan
pengendalian dan prosedur yang memicu terjadinya risiko reputasi.
f. Sistem Informasi Manajemen Risiko Reputasi
Perusahaan harus memiliki prosedur reguler dan mekanisme pelaporan
risiko reputasi atau kejadian yang menimbulkan risiko reputasi, baik
secara tertulis maupun melalui sistem elektronik, termasuk
pembahasan dalam board/management meeting. Perusahaan juga harus
6
memiliki mekanisme sistem peringatan dini untuk memberikan sinyal
kepada manajemen sehingga dapat melakukan respons-respons dan
mitigasi yang dibutuhkan.
4. Sistem Pengendalian Intern
Perusahaan perlu meningkatkan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku
dalam rangka mengendalikan risiko reputasi. Perusahaan juga perlu mengatasi
adanya keluhan nasabah dan gugatan hukum yang dapat meningkatkan
eksposur risiko reputasi dengan melakukan komunikasi dengan nasabah atau
pihak lain untuk menghindari masalah hukum.
7
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Risiko reputasi adalah risiko yang timbul akibat menurunnya tingkat kepercayaan
pemangku kepentingan terhadap perusahaan, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor
seperti pemberitaan media dan/atau rumor negatif, pelanggaran etika bisnis, kompleksitas
produk dan kerja sama bisnis, frekuensi dan materialitas pemberitaan negatif, serta frekuensi
dan materialitas keluhan pelanggan. Reputasi terbentuk dari berbagai atribut, termasuk
tanggung jawab sosial, daya tarik emosional, kinerja finansial, produk dan pelayanan, visi
dan kepemimpinan, serta lingkungan tempat kerja.
Saran
Dalam mengelola risiko reputasi, perusahaan perlu memperhatikan pengaruh reputasi
dari pemilik perusahaan dan perusahaan terkait, pelanggaran bisnis, kompleksitas produk dan
kerja sama bisnis, frekuensi dan materialitas pemberitaan negatif, serta frekuensi dan
materialitas keluhan nasabah. Perusahaan juga perlu memiliki kebijakan, prosedur, dan
penetapan batasan yang jelas, serta memiliki sistem informasi manajemen risiko reputasi
yang efektif untuk mengidentifikasi, mengukur, membandingkan, dan mengendalikan risiko
reputasi. Selain itu, perusahaan perlu meningkatkan kepatuhan terhadap ketentuan yang
berlaku dan memiliki sistem pengendalian internal yang baik untuk mengendalikan risiko
reputasi.
8
DAFTAR PUSTAKA
Rustam, B. R. (2017). Manajemen Risiko: Prinsip, Penerapan, dan Penelitian. Jakarta:
Penerbit Salemba Empat.
9
CASE STUDY
Pemegang saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) gigit jari. Saham produsen barang
konsumsi pokok ini terus mendapat tekanan jual.
Pada Rabu (17/4), saham UNVR melemah 6,69% ke level Rp. 2.370 per saham. Ini
merupakan level terendah saham UNVR sejak Maret 2010. Meski sehari kemudian, Kamis
(18/4), harga saham UNVR menguat tipis 0,84% ke posisi Rp. 2.390 per saham.
Melansir RTI pergerakan saham UNVR memang cukup mengecewakan. Sejak awal tahun
alias secara year to date (YtD), saham UNVR melemah 32,29%. Bahkan jika investor
memegang saham UNVR sejak 5 tahun yang lalu, investor sudah rugi hingga 72,69%.
Sumber: kontan.co.id
Jawaban:
Manajemen risiko reputasi saham Unilever (UNVR) sebagai brand besar berkaitan dengan
gerakan boikot produk pro-Israel dalam konteks dampak sosial dan ekonomi. Dalam situasi
di mana perusahaan seperti Unilever menghadapi tekanan dari gerakan boikot terkait isu-isu
politik atau sosial, manajemen risiko reputasi menjadi krusial. Keputusan perusahaan terkait
bagaimana menanggapi gerakan boikot dapat mempengaruhi citra perusahaan dan nilai
sahamnya.
Dalam konteks ini, penting bagi Unilever untuk mempertimbangkan implikasi dari
keterlibatan atau ketidakterlibatan dalam isu-isu sensitif seperti konflik Israel-Palestina.
Respons perusahaan terhadap gerakan boikot dapat mempengaruhi persepsi konsumen,
loyalitas merek, dan akhirnya nilai sahamnya.
Manajemen risiko reputasi Unilever (UNVR) sebagai brand besar dalam menghadapi gerakan
boikot produk pro-Israel memerlukan strategi yang efektif dan terintegrasi dengan kebijakan
bisnis dan sosial perusahaan. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
1. Identifikasi Risiko Reputasi
UNVR harus mengidentifikasi potensi risiko reputasi yang terkait dengan isu-isu
sosial dan politik, termasuk boikot produk pro-Israel dan memetakan pemangku
kepentingan utama, seperti konsumen, aktivis, serta media, untuk memahami
ekspektasi dan kekhawatiran mereka.
2. Pengelolaan Risiko
UNVR harus memiliki rencana respons krisis untuk menghadapi situasi yang
mempengaruhi reputasi perusahaan, termasuk pemantauan media sosial, respond
cepat, dan koordinasi internal yang efektif.
3. Komitmen terhadap Keberlanjutan dan Kepedulian Sosial
UNVR memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan dan kepedulian sosial, yang
diwujudkan dalam berbagai program dan inisiatif. UNVR harus mempertahankan
komitmen ini, termasuk kebijakan bisnis yang berfokus pada pertumbuhan yang
konsisten, kompetitif, menguntungkan, dan bertanggung jawab. UNVR juga harus
10
terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional, serta meningkatkan dampak
sosial yang positif.
4. Keterbukaan dan Transparansi
UNVR harus terbuka dan transparan dalam menghadapi gerakan boikot, termasuk
dalam mengkomunikasikan kebijakan dan strategi perusahaan terkait dengan isu-isu
sensitif. Keterbukaan dan transparansi ini akan membantu mempertahankan citra
perusahaan dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
5. Pengembangan Strategi Komunikasi
UNVR harus mengembangkan strategi komunikasi yang efektif untuk menghadapi
gerakan boikot, dengan menjelaskan posisi perusahaan dan mengkomunikasikan nilai-
nilai perusahaan yang mencakup keberlanjutan, inovasi, dan tanggung jawab sosial.
Strategi komunikasi ini harus dapat mempengaruhi persepsi konsumen dan
meningkatkan loyalitas merek.
6. Pengembangan Kebijakan Produk
UNVR harus mengembangkan kebijakan produk yang berfokus pada kepentingan
sosial dan lingkungan, termasuk kebijakan yang berhubungan dengan isu-isu sensitif.
Kebijakan produk ini harus dapat mempengaruhi citra perusahaan dan meningkatkan
kepercayaan konsumen.
7. Pengembangan Keterlibatan Sosial
UNVR harus mengembangkan keterlibatan sosial yang kuat, termasuk keterlibatan
dalam program-program sosial dan lingkungan yang berfokus pada kepentingan sosial
dan lingkungan. Keterlibatan sosial ini harus dapat mempengaruhi citra perusahaan
dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
Dengan mengambil langkah-langkah tersebut, UNVR dapat mempertahankan citra
perusahaan dan meningkatkan kepercayaan konsumen, serta menghadapi gerakan boikot
produk pro-Israel dengan efektif.
11
LATIHAN SOAL
Pilihan Ganda
1. Berikut ini yang merupakan dasar reputasi perusahaan, kecuali?
a. Tanggung jawab sosial
b. Daya tarik emosional
c. Kinerja finansial
d. Pelanggaran etika
2. Peringkat risiko bagi perusahaan dapat dikategorikan menjadi berapa peringkat?
a. 1 peringkat
b. 4. peringkat
c. 5 peringkat
d. 2 peringkat
3. Pemantauan risiko reputasi secara berkala biasanya diterapkan minimal?
a. Tiga bulan
b. Satu tahun
c. Empat bulan
d. Satu bulan
4. Tujuan utama manajemen risiko reputasi adalah?
a. Menurunkan tingkat kepercayaan stakeholder
b. Untuk mengantisipasi dan meminimalkan dampak kerugian dari risiko reputasi
perusahaan
c. Untuk menjaga etika bisnis
d. Mengidentifikasi risiko yang terjadi pada bisnis
5. Risiko reputasi timbul karena adanya?
a. Pemberitaan media atau rumor mengenai perusahaan yang bersifat negatif
b.Keluhan nasabah
c. Pengawas dewan komisaris dan direksi
d. Peraturan perundang-undangan yang berlaku
6. Manakah dari berikut ini yang bukan merupakan konsekuensi dari risiko reputasi?
a. Hilangnya pelanggan
b. Menurunnya semangat kerja karyawan
c. Peningkatan pangsa pasar
d. Tindakan hukum terhadap organisasi
12
7. Apa faktor kunci dalam mengelola risiko reputasi secara efektif?
a. Mengabaikan umpan balik negatif
b. Komunikasi proaktif
c. Menyembunyikan kesalahan
d. Menyalahkan faktor luar
8. Bagaimana organisasi dapat memitigasi risiko reputasi?
a. Bersikap transparan dan jujur
b. Menghindari kehadiran media sosial
c. Mengabaikan umpan balik pelanggan
d. Menyembunyikan kejadian negatif
9. Apa yang dimaksud dengan manajemen risiko reputasi?
a. Proses mengabaikan dampak negatif terhadap reputasi perusahaan
b. Proses mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola risiko yang dapat
mempengaruhi reputasi perusahaan
c. Proses meningkatkan risiko terhadap reputasi perusahaan
d. Proses mengabaikan risiko terhadap reputasi perusahaan
10. Manakah dari berikut ini yang merupakan aspek penting dalam mengelola risiko
reputasi?
a. Mengidentifikasi potensi risiko dan mengembangkan strategi untuk memitigasinya
b. Berfokus pada keuntungan jangka pendek dengan mengorbankan reputasi jangka
panjang
c. Mengabaikan pendapat pemangku kepentingan dan masyarakat umum
d. Mengutamakan kinerja keuangan perusahaan dibandingkan reputasinya
Essay
1. Jelaskan apa maksud dari risiko manajemen reputasi dan mengapa hal ini penting
dalam konteks bisnis dan organisasi?
Jawaban:
Manajemen risiko reputasi adalah proses identifikasi, evaluasi, dan pengelolaan risiko
yang berkaitan dengan potensi kerugian reputasi yang dapat dihadapi oleh suatu
perusahaan atau organisasi. Hal ini melibatkan upaya untuk memahami bagaimana
tindakan dan keputusan perusahaan dapat mempengaruhi persepsi dan citra publik
terhadap merek atau entitas tersebut. Manajemen risiko reputasi penting karena
reputasi yang baik dapat memberikan keunggulan kompetitif, meningkatkan
kepercayaan pelanggan, menarik bakat terbaik, dan mempengaruhi keputusan
investor. Sebaliknya, kerugian dapat menyebabkan penurunan penjualan, kehilangan
kepercayaan, dan dampak negatif lainnya pada keseluruhan kinerja perusahaan. Oleh
karena itu, memahami, mengelola, dan melindungi reputasi perusahaan merupakan
aspek krusial dalam menjaga keberlangsungan dan kesuksesan bisnis.
13
2. Bagaimana perusahaan dapat mempersiapkan diri menghadapi krisis reputasi?
Jawaban:
Perusahaan dapat mempersiapkan diri menghadapi krisis reputasi dengan menyusun
rencana tanggap darurat yang jelas, melatih staf dalam komunikasi krisis, memantau
media dan media sosial secara aktif, membangun hubungan yang kuat dengan media,
dan menjaga transparansi dalam komunikasi dengan pemangku kepentingan. Selain
itu, perusahaan juga perlu memiliki mekanisme untuk merespons dengan cepat
terhadap peristiwa atau isu yang dapat mempengaruhi reputasi, serta melakukan
evaluasi dan pembelajaran pasca-krisis untuk meningkatkan kemampuan mengelola
krisis di masa depan.
3. Bagaimana perusahaan dapat membangun reputasi yang kuat?
Jawaban:
Perusahaan dapat membangun reputasi yang kuat dengan memastikan kualitas produk
atau layanan yang unggul, memperkuat komunikasi transparan dan akuntabilitas,
mendukung inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan, merespons dengan cepat
terhadap umpan balik pelanggan, dan menjaga integritas dan etika dalam semua aspek
operasi bisnisnya. Selain itu, perusahaan juga perlu membangun hubungan yang kuat
dengan pemangku kepentingan dan berkomunikasi secara terbuka tentang visi, nilai,
dan tujuan perusahaan.
4. Bagaimana manajemen risiko reputasi dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan
jangka panjang perusahaan, terutama dalam konteks globalisasi dan kompleksitas
pasar yang semakin meningkat?
Jawaban:
Manajemen risiko reputasi dapat berkontribusi secara signifikan pada pencapaian
tujuan jangka panjang perusahaan dengan membantu membangun dan
mempertahankan reputasi yang kuat di pasar global yang semakin kompleks. Dengan
memprioritaskan manajemen risiko reputasi, perusahaan dapat mengurangi
ketidakpastian dan meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan, yang pada
gilirannya dapat membantu perusahaan dalam memperluas pangsa pasar, menarik
investasi, dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Dengan memahami dan
mengelola risiko reputasi dengan baik, perusahaan dapat menciptakan nilai jangka
panjang bagi pemangku kepentingan dan memperkuat posisinya di pasar global yang
semakin kompleks dan kompetitif.
5. Apa yang dimaksud dengan manajemen risiko reputasi, dan mengapa hal ini menjadi
fokus utama bagi perusahaan dalam era digitalisasi dan transparansi yang semakin
meningkat?
Jawaban:
Manajemen risiko reputasi adalah proses yang melibatkan identifikasi, evaluasi, dan
pengelolaan risiko yang dapat mempengaruhi citra atau reputasi sebuah perusahaan.
Ini mencakup upaya untuk memahami bagaimana perilaku, keputusan, dan kebijakan
perusahaan dapat mempengaruhi persepsi orang lain terhadapnya, dan untuk
14
mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi dan memperkuat reputasi
perusahaan tersebut.
Dalam era digitalisasi dan transparansi yang semakin meningkat, manajemen risiko
reputasi menjadi fokus utama bagi perusahaan karena informasi tentang perusahaan
dapat dengan mudah diakses dan tersebar luas melalui internet dan media sosial.
Setiap tindakan atau keputusan yang diambil oleh perusahaan dapat dengan cepat
menjadi viral dan mempengaruhi persepsi publik. Sebagai contoh, kritik yang tajam
terhadap praktik bisnis atau perilaku etis perusahaan dapat menyebar dengan cepat
melalui platform media sosial, merusak reputasi perusahaan dan mengganggu operasi
bisnisnya.
Oleh karena itu, perusahaan perlu mengambil langkah-langkah proaktif dalam
manajemen risiko reputasi untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko yang
mungkin timbul, serta untuk merespons dengan cepat terhadap peristiwa atau isu yang
dapat mempengaruhi citra mereka. Ini mencakup pengembangan rencana tanggap
darurat yang jelas, pelatihan karyawan dalam komunikasi krisis, dan pemantauan
terus-menerus terhadap opini publik dan media. Dengan melakukan ini, perusahaan
dapat meminimalkan dampak negatif pada reputasi mereka dan membangun
hubungan yang kuat dengan pelanggan, investor, dan pemangku kepentingan lainnya.
15