Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Pengelasan

Berdasarkan penemuan benda sejarah dapat diketahui bahwa teknik


penyambungan logam telah diketahui sejak zaman prasejarah, misalnya
pada waktu antara 4000-300 SM, telah diketahui dan dipraktekan
pembrasingan logam paduan emas, tembaga, dan pematrian paduan
timah. Pada waktu itu sumber energy yang digunakan adalah hasil dari
pembakaran kayu atau arang. Berhubung suhu yang diperoleh dengan
pembakaran kayu dan arang sangat rendah maka teknik penyambungan
pada waktu itu tidak berkembang lagi.
Setelah energi listrik dapat dipergunakan dengan mudah, maka
teknologi pengelasan maju dengan pesat sehingga menjadi suatu teknik
penyambungan yang rnutakhir. Pada akhir abad ke 19 telah diciptakan
cara dan teknik pengelasan. Pengelasan yang banyak di gunakan adalah
las busur, las resistensi listrik, las gas, dan las termit.
Pada tahun 1885 alat-alat busur sudah banyak dipakai. Bernardes
adalah orang yang pertama kali rnenggunakan las busur yang memakai
ektroda yang dibuat dari batang karbon atau grafit. Dengan cara
mendekatkan elektroda las ke logam induk atau logam yang akan dilas,
dengan jarak kurang lebih 2 rnm, maka terjadilah busur listrik yang
nrerupakan sumber panas pada proses pengelasan tersebut. Karena
terjadi panas, maka logam yang terbuat dari logam yang sama dengan
logam induk mencair dan akhirnya mengisi tempat sambungan.
Pada tahun 1892 Slovianoff adalah orang pertama kali yang
menggunakan kawat logam elektroda yang turut mencair karena panas
yang ditimbulkan oleh busur listrik. Dengan penemuan ini elektroda yang

1|Elemen Mesin
berfungsi sebagai penghantar dan pembangkit busur lisrrik, juga
berfungsi sebagai logarn pengisi. Kemudian Kjellberg menemukan
kwalitas sambungan las rnenjadi lebih baik bila kawat elektroda logam
dibungkus dngan terak.
Dan pada tahun 1886 Thomson menciptakan proses pengelasan
resistansi listrik, dan Glodschimiit tnenemukan las termit pada tahun
1895. Pada tahun 1900 adalah masa keemasan pertama untuk
pengelasan logam. Dan pada tahun 1926 adalah masa keemasan kedua
dengan adanya las hydrogenatom yang ditemukan oleh Lungumir, dan las
busur logam dengan perlindungan gas mulia yang ditemukan oleh Hobart
dan Dener.
Selanjutrnya pada tahun 1935 Knnedy menemukan las busur redam,
hal ini membuka jalan kearah otomatisasi dalam bidang pengelasan yang
dapat memperbaiki kualitas las.
Kemajuan kemajuan da;am ilmu pengetahuan dan teknologi las
dicapai sampai dengan tahun 1950, dan pada tahun 1950 dianggap
sebagai pemulaan masa kemasan yang ketiga. Dan pada tahun itu juga
ditemukan cara-cara las baru antara lain; las listrik terak, las laster dan
sebagainya.

2|Elemen Mesin
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sambungan Las

Sambungan las adalah sambungan permanen yang didapatkan dari


peleburan dari tepi dua benda yang akan disambung dengan atau tidak
dengan menggunakan tekanan dan material tambahan. Panas yang
digunakan untuk peleburan berasal dari terbakarnya gas (dalam hal ini
adalah las gas) atau dari busur listrik (dalam hal ini adalah las listrik).
Metode las listrik lebih sering digunakan karena kecepatan las yang lebih
besar. Sambungan las sering digunakan dalam sebuah perakitan sebagai
metode alternatif pencetakan dan penempaan dan sebagai pengganti
sambungan baut dan sambungan paku keling. Sambungan las juga
digunakan untuk menyatukan kembali logam yang retak, memperbaiki
bagian-bagian kecil yang rusak seperti roda gigi, dan untuk memperbaiki
permukaan yang aus seperti permukaan bearing.

2.2 Keuntungan dan kerugian sambungan las dibanding sambungan


baut/paku keling
 Keuntungan
1. Struktur dalam las biasanya lebih ringan daripada struktur dalam
sambungan paku. Hal ini dikarenakan gussets atau komponen
penyambung lainnya tidak digunakan.
2. Sambungan las memberikan efisiensi maksimum (hampir 100%)
yang tidak mungkin diberikan oleh sambungan baut atau paku.
3. Perubahan atau penambahan bisa diberikan dengan mudah pada
struktur atau sambungan las yang sudah ada.

3|Elemen Mesin
4. Karena struktur las berwujud halus, maka tampilannya akan terlihat
lebih bagus.
5. Pada sambungan las, tegangan yang ada pada sambungan tidak
melemah seperti pada sambungan baut.
6. Sambungan las memiliki kekuatan yang besar. Seringkali sambungan
las memiliki kekuatan yang sama seperti benda yang telah dilas.
7. Terkadang, bentuk-bentuk seperti pipa sulit untuk disambung
menggunakan sambungan baut. Tapi bisa dengan mudah disambung
dengan menggunakan las.
8. Sambungan las memberikan sambungan yang sangat keras.
9. Sangat mungkin untuk me-las bagian-bagian apa saja dan dari titik
manapun. Sedangkan sambungan baut membutuhkan daerah yang
lebih banyak.
10. Prosesnya lebih cepat dibandingkan sambungan baut.
11. Pertemuan baja pada sambungan dapat melumer bersama elektrode
las dan menyatu dengan lebih kokoh (lebih sempurna).
12. Konstruksi sambungan memiliki bentuk lebih rapi.
13. Konstruksi baja dengan sambungan las memiliki berat lebih ringan.
14. Dengan las berat sambungan hanya berkisar 1 – 1,5% dari
berat konstruksi, sedangkan dengan paku keling / baut berkisar
2,5 – 4% dari berat konstruksi.
15. Pengerjaan konstruksi relatif lebih cepat (tak perlu membuat
lubang lubang pk/baut, tak perlu memasang potongan baja siku /
pelat penyambung, dan sebagainya ).
16. Luas penampang batang baja tetap utuh karena tidak dilubangi,
sehingga kekuatannya utuh.

4|Elemen Mesin
 Kerugian
1. Karena adanya ketidakseimbangan selama pemanasan dan
pendinginan saat pengelasan, maka benda yang dilas memiliki
kemungkinan perubahan bentuk atau kemungkinan adanya tegangan
tambahan pada benda.
2. Pengelasan membutuhkan tenaga kerja dan pengawas yang memiliki
keterampilan yang tinggi.
3. Pemeriksaan untuk sambungan las lebih sulit dibandingkan dengan
sambungan baut.
4. Kekuatan sambungan las sangat dipengaruhi oleh kualitas
pengelasan. Jika pengelasannya baik maka kekuatan sambungan
akan baik, tetapi jika pengelasannya jelek/tidak sempurna maka
kekuatan konstruksi juga tidak baik bahkan membahayakan dan
dapat berakibat fatal. Salah satu sambungan las cacat lambat
laun akan merembet rusaknya sambungan yang lain dan
akhirnya bangunan dapat runtuh yang menyebabkan kerugian
materi yang tidak sedikit bahkan juga korban jiwa. Oleh karena itu
untuk konstruksi bangunan berat seperti jembatan jalan raya /
kereta api di Indonesia tidak diijinkan menggunakan sambungan las.
5. Konstruksi sambungan tak dapat dibongkar-pasang.

5|Elemen Mesin
2.3 Jenis – jenis pengelasan

Ada beberapa macam jenis pengelasan yang dilakukan untuk


menyambung logam, yaitu:

> Las Resistansi Listrik (Tahanan)

Las resistensi listrik adalah suatu cara pengelasan dimana


permukaan pelat yang disambung ditekankan satu sama lain dan pada
saat yang sama arus listrik dialirkan sehingga permukaan tersebut
menjadi panas dan mencair karena adanya resistensi listrik. Sambungan
las resistensi listrik dibagi atas dua kelompok sambungan yaitu
sambungan tumpang dan sambungan tumpul. Las resistansi listrik ini
sangat baik digunakan untuk menyambung pelat-pelat tipis sangat.
Proses pengelasan dengan las resistansi listrik untuk
penyambungan pelat-pelat tipis yang biasa digunakan terdiri dari 2
jenis yakni :

-Las Titik (Spot Welding)

6|Elemen Mesin
Pengelasan dengan las titik ini hasil pengelasannya membentuk
seperti titik. Elektroda penekan terbuat dari batang tembaga yang dialiri
arus listrik yakni, elektroda atas dan bawah. Elektroda sebelah bawah
sebagai penumpu plat dalam keadaan diam dan elektroda atas bergerak
menekan pelat yang akan disambung. Agar pelat yang akan disambung
tidak sampai bolong sewaktu proses terjadinya pencairan maka kedua
ujung elektroda diberi air pendingin.

7|Elemen Mesin
-Las Resistansi Rol (Rolled Resistance Welding)

Proses pengelasan resistansi tumpang ini dasarnya sama dengan las


resistansi titik, tetapi dalam pengelasan tumpang ini kedua batang
elektroda diganti dengan roda yang dapat berputar sesuai dengan
alur/garis pengelasanyang dikehendaki

>Las Busur Listrik

8|Elemen Mesin
Energi masukan panas las busur listrik bersumber dari beberapa
alternatif diantaranya energi dari panas pembakaran gas, atau energi
listrik.Panas yang ditimbulkan dari hasil proses pengelasan ini melebihi
dari titik lebur bahan dasar dan elektroda yang di las. Kisaran temperatur
yang dapat dicapai pada proses pengelasan ini mencapai 2000-3000º C.
Pada temperatur ini daerah yang mengalami pengelasan melebur secara
bersamaan menjadi suatu ikatan metalurgi logam lasan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengelasan las busur
listrk adalah pemilihan elektroda yang tepat. Secara umum semua
elektroda diklasifikasikan menjadi lima kelompok utama yaitu mild steel,
hight carbon steel, special alloy steel, cast iron dan non ferrous.
Rentangan terbesar dari pengelasan busur nyala dilakukan dengan
elektroda dalam kelompok mild steel (baja lunak).

>Penyambungan dengan Las Oxy-Asetilen

Pengelasan dengan gas oksi-asetilen dilakukan dengan membakar


bahan bakar gas C2 H2 dengan O2, sehingga menimbulkan nyala api
dengan suhu yang dapat mencair logam induk dan logam pengisi. Sebagai

9|Elemen Mesin
bahan bakar dapat digunakan gas-gas asetilen, propan atau hidrogen.
Diantara ketiga bahan bakar ini yang paling banyak digunakan adalah
asetilen, sehingga las pada umumnya diartikan sebagai las oksi-asetilen.

>Las TIG (Tungsten Inert Gas)/GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)

Pengelasan dengan gas pelindung Argon (Tungsten Iner Gas)


merupakan salah satu pengembangan dari pengelasan yang telah ada yaitu
pengembangan dari pengelasan secara manual yang khususnya untuk
pengelasan non ferro (alumunium, magnesium kuningan dan lain-lain, baja
spesial (Stainless steel) dan logam-logam anti korosi lainnya. Pengelasan
Tungsten Inert Gas (TIG) ini tidak menggunakan proses elektroda sekali
habis (non consumable electrode). Temperatur yang dihasilkan dari proses
pengelasan ini adalah 3000 0F atau 1664,8 0C dan fungsi gas pelindung
adalah untuk menghidari terjadinya oksidasi udara luar terhadap cairan
logam yang dilas.

10 | E l e m e n M e s i n
>Las MIG (Metal Inert Gas Arc Welding)/Gas Metal Arc Welding
(GMAW)

Gas Metal Arc Welding (GMAW) adalah proses pengelasan yang


energinya diperoleh dari busur listrik. Busur las terjadi di antara
permukaan benda kerja dengan ujung kawat elektroda yang keluar dari
nozzle bersamasama dengan gas pelindung.

2.4 Tipe Sambungan Las

a. Lap joint atau fillet joint :


overlapping plat, dengan beberapa cara :
• Single transverse fillet (las pada satu sisi) :melintang
• Double transverse fillet (las pada dua sisi)
• Parallel fillet joint (las paralel)

11 | E l e m e n M e s i n
b. Butt Joint
- Pengelasan pada bagian ujung dengan ujung dari plat.
- Pengelasan jenis ini tidak disarankan untuk plat yang tebalnya kurang
dari 5 mm
- Untuk plat dengan ketebalan plat (5 – 12,5) mm bentuk ujung yang
disarankan adalah : tipe V atau U.

12 | E l e m e n M e s i n
2.5 Perhitungan Kekuatan Las

a. Kekuatan transverse fillet welded joint

13 | E l e m e n M e s i n
Jika
t : tebal las
L : panjang lasan
Throat thickness, BD : leg sin 450

A : Luas area minimum dari las (throat weld)


= throat thickness x length of weld

σt = tegangan tarik ijin bahan las.

Tegangan tarik/kekuatan tarik maksimum sambungan las :


• Single fillet :

• Double fillet :

14 | E l e m e n M e s i n
b. Kekuatan las paralel fillet

A : luas lasan minimum

Jika ⎯τ : tegangan geser ijin bahan las


• Gaya geser maksimum single paralel fillet :

• Gaya geser maksimum double paralel fillet :

Hal yang perlu diperhatikan dalam desain adalah :


1. Tambahkan panjang 12,5 mm pada lasan untuk keamanan.
2. Untuk gabungan paralel dan transverse fillet (melintang), kekuatan
lasan
merupakan jumlah kekuatan dari paralel dan transverse.
Ftotal = Fparalel + Ftranverse

15 | E l e m e n M e s i n
c. Kekuatan butt joint weld
1. Digunakan untuk beban tekan /kompensi
2. Panjang leg sama dengan throat thickness sama dengan thickness of
plates (t)

Gaya tarik maksimum :


• Single V butt joint,

• Double V butt joint

16 | E l e m e n M e s i n
Rekomendasi Ukuran Las Minimum

2.6 Tegangan Sambungan Las

Tegangan pada sambungan las, sulit dihitung karena variabel dan


parameter tidak terprediksikan, misalnya :
• Homogenitas bahan las/elektroda
• Tegangan akibat panas dari las
• Perubahan sifat-sifat fisik.
Dalam perhitungan kekuatan diasumsikan bahwa :
• Beban terdistribusi merata sepanjang lasan
• Tegangan terdistribsi merata

17 | E l e m e n M e s i n
Harga Tegangan Sambungan Las Dengan Beberapa Electrode Dan
Beban

Faktor Konsentrasi Tegangan Las


Konsentrasi tegangan (k) untuk static loading and any type of joint, k = 1

Konsentrasi tegangan terjadi akibat penambahan material yang berasal


dari material dasar yang mungkin berbeda dengan material utama yang
disambung.
Contoh simbol welding

18 | E l e m e n M e s i n
2.7 Posisi Pengelasan

• Posisi di bawah tangan


Posisi bawah tangan merupakan posisi pengelasan yang paling mudah
dilakukan. Oleh sebab itu untuk menyelesaikan setiap pekerjaan
pengelasan sedapat mungkin di usahakan pada posisi dibawah tangan.
Kemiringan elektroda 10 derajat – 20 derajat terhadap garis vertical kea
rah jalan elektroda dan 70 derajat-80 derajat terhadap benda kerja.

19 | E l e m e n M e s i n
• Posisi tegak (vertical)
Mengelas posisi tegak adalah apabila dilakukan arah pengelasannya
keatas atau ke bawah. Pengelasan ini termasuk pengelasan yang paling
sulit karena bahan cair yang mengalir atau menumpuk diarah bawah
dapat diperkecil dengan kemiringan elektroda sekitar 10 derajat-15
derajat terhadapvertikal dan 70 derajat-85 derajat terhadap benda kerja.
• Posisi datar (horizontal)
Mengelas dengan horizontal biasa disebut juga mengelas merata dimana
kedudukan benda kerja dibuat tegak dan arah elektroda mengikuti
horizontal. Sewaktu mengelas elektroda dibuat miring sekitar 5 derajat –
10 derajat terhadap garis vertical dan 70 derajat – 80 derajat kearah
benda kerja.
• Posisi di atas kepala (Overhead)
Posisi pengelasan ini sangat sulit dan berbahaya karena bahan cair
banyak berjatuhan dapat mengenai juru las, oleh karena itu diperlukan
perlengkapan yang serba lengkap. Mengelas dengan posisi ini benda kerja
terletak pada bagian atas juru las dan kedudukan elektroda sekitar 5
derajat – 20 derajat terhadap garis vertical dan 75 derajat-85 derajat
terhadap benda kerja.
 Posisi datar (1G)
Pada posisi ini sebaiknya menggunakan metode weaving yaitu zigzag dan
setengah bulan Untuk jenis sambungan ini dapat dilakukan penetrasi
pada kedua sisi, tetapi dapat juga dilakukan penetrasi pada satu sisi saja.
Type posisi datar (1G) didalam pelaksanaannya sangat mudah. Dapat
diaplikasikan pada material pipa dengan jalan pipa diputar.
 Posisi horizontal (2G)
Pengelasan pipa 2G adalah pengelasan posisi horizontal, yaitu pipa pada
posisi tegak dan pengelasan dilakukan secara horizontal mengelilingi

20 | E l e m e n M e s i n
pipa. Kesulitan pengelasan posisi horizontal adalah adanya gaya gravitasi
akibatnya cairan las akan selalu kebawah. Adapun posisi sudut electrode
pengelasan pipa 2G yaitu 90º Panjang gerakan elektrode antara 1-2 kali
diameter elektrode. Bila terlalu panjang dapat mengakibatkan kurang
baiknya mutu las. Panjang busur diusahakan sependek mungkin yaitu ½
kali diameter elektrode las. Untuk pengelasan pengisian dilakukan
dengan gerakan melingkar dan diusahakan dapat membakar dengan baik
pada kedua sisi kampuh agar tidak terjadi cacat. Gerakan seperti ini
diulangi untuk pengisian berikutnya.
 Posisi vertikal (3G)
Pengelasan posisi 3G dilakukan pada material plate. Posisi 3G ini
dilaksanakan pada plate dan elektrode vertikal. Kesulitan pengelasan ini
hampir sama dengan posisi 2G akibat gaya gravitasi cairan elektrode las
akan selalu kebawah.
 Posisi horizontal pipa (5G)
Pada pengelasan posisi 5G dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Pengelasan naik
Biasanya dilakukan pada pipa yang mempunyai dinding tebal
karena membutuhkan panas yang tinggi. Pengelasan arah naik
kecepatannya lebih rendah dibandingkan pengelasan dengan arah
turun, sehingga panas masukan tiap satuan luas lebih tinggi
dibanding dengan pengelasan turun. Posisi pengelasan 5G pipa
diletakkan pada posisi horizontal tetap dan pengelasan dilakukan
mengelilingi pipa tersebut. Supaya hasil pengelasan baik, maka
diperlukan las kancing (tack weld) pada posisi jam 5-8-11 dan 2.
Mulai pengelasan pada jam 5.30 ke jam 12.00 melalui jam 6 dan
kemudian dilanjutkan dengan posisi jam 5.30 ke jam 12.00 melalui
jam 3. Gerakan elektrode untuk posisi root pass (las akar) adalah

21 | E l e m e n M e s i n
berbentuk segitiga teratur dengan jarak busur ½ kali diameter
elektrode.

2. Pengelasan turun
Biasanya dilakukan pada pipa yang tipis dan pipa saluran minyak serta
gas bumi. Alasan penggunaan las turun lebih menguntungkan
dikarenakan lebih cepat dan lebih ekonomis.
 Pengelasan Posisi Fillet
Pengelasan fillet juga disebut sambungan T.joint pada posisi cairan las-
lasan diberikan pada posisi menyudut. Pada sambungan ini terdapat
diantara material pada posisi mendatar dan posisi tegak. Posisi
sambungan ini termasuk posisi sambungan yang relative mudah, namun
hal yang perlu diperhatikan pada sambungan ini adalah kemiringan
elektroda, gerakan ayunan tergantung pada kondisi atau kebiasaan
operator las.

2.8 Macam-macam Cacat Las

Pengelasan adalah proses penyambungan antara dua logam atau


lebih dengan menggunakan energi panas sebagai medianya. Karena
proses ini maka logam disekitar lasan mengalami siklus termal cepat
yang menyebabkan terjadinya deformasi. Hal ini erat sekalihubunganya
dengan terjadinya cacat las yang secara umum mempunyai pengaruh
yang fatal terhadap keamanan kontruksi material yang dilas. Cacat las ada
beberapa macam, yaitu:
>Retak las
Cacat las yang sering sekali terjadi pada saat proses pengelasan
adalah retak las yang dapat dibagi menjadi dua kategori yakni : retak

22 | E l e m e n M e s i n
dingin dan retak panas. Retak dingin adalah retak yang terjadi pada
daerah las pada suhu kurang lebih 300oC. Sedangkan retak panas
adalah retak yang terjadi pada suhu diatas 500oC. Retak dingin tidak
hanya terjadi pada daerah HAZ (Heat Affected Zone) atau sering disebut
dengan daerah pergaruh panas tetapi biasanya terjadi pada logam las.
Retak dingin ini dapat terjadi pada daerah panas yang sering terjadi.
Dan retakan ini dapat dilihat dibawah manik Ias, retak akar dan kaki,
serta retak melintang.
Retak dingin didaerah HAZ ini biasanya terjadi antara beberapa menit
sampai 48 jam sesudah pengelasan. Retak dingin ini disebabkan oleh :.
o Struktur daerah pangaruh Panas.
o Hidrogen difusi didaerah las.
o Tegangan.

Sedangkan retak panas dibagi menjadi dua kelas yaitu retak


karena pembebasan tegangan pada daerah pengaruh panas yang terjadi
pada suhu 500oC - 700oC dan retak yang terjadi pada suhu diatas 900oC
yang terjadi pada peristiwa pembekuan logam las. Retak panas sering
teriadi pada logam las karena pembekuan, biasanya berbentuk kawah
dan retak memanjang. Retak panas ini terjadi karena pembebasan
tegangan pada daerah kaki didalam daerah pengaruh panas.
Retak ini biasanya terjadi pada waktu logam mendingin setelah
pembekuan dan terjadi karena adanya tegangan yang timbul, yang
disebabkan oleh penyusutan dan sifat baja yang ketangguhannya turun
pada suhu dibawah suhu pembekuan. Keretakkan las yang lain adalah
retak sepanjang rigi-rigi lasan retak disamping las dan retak memanjang
diluar rigi-rigi lasan. Akan tetapi penyebab umum pada semua jenis
keretakan las ini adalah:

23 | E l e m e n M e s i n
o Pilihan jenis elektroda yang salah atau tidak tepat.
o Benda kerja terbuat dari baja karbon tinggi.
o Pendinginan setelah pengelasan yang terlalu cepat.
o Benda kerja yang dilas terlalu kaku.
o Penyebaran panas pada bagian-bagian yang di las tidak
seimbang.

Selain retak, cacat las yang juga sering terjadi, adalah penembusan las yang
kurang dan jelek. Jika penembusan pengelasan kurang maka akibat yang
timbul pada konstruksi adalah kekuatan konstruksi yang kurang kokoh
karena penembusan yang kurang. Karena kurang penembusan inilah maka
penyambungan tidak sempurna. Penyebab dari penembusan yang kurang
ini antara lain :

o Kecepatan pengelasan yang terlalu tinggi.


o Arus terlalu rendah.
o Diameter elektroda yang terlalu besar atau terlalu kecil.
o Benda kerja terlalu kotor.
o Persiapan kampuh atau sudut kampuh tidak baik.
o Busur las yang terlalu panjang.

>Pengerukan / Under cut


Cacat las yang lain adalah pengerukan atau yang sering disebut
dengan under cut pada benda kerja. Pengerukan ini terjadi pada benda
kerja atau konstruksi yang termakan oleh las sehingga benda kerja tadi
berkurang kekuatan konstruksi meskipun sebelumnya telah dilakukan
pengelasan. Sebab-sebab pengerukan las antara lain :

24 | E l e m e n M e s i n
o Arus yang terlalu tinggi.
o Kecepatan pengelasaan yang terlalu tinggi pula.
o Busur nyala yang terlalu panjang.
o Ukuran elektroda yang salah.
o Posisi elektroda selama pengelasan tidak tepat.
o Ayunan elektroda selama pengelasan tidak teratur.

>keropos
Keropos merupakan cacat las yang juga sering terjadi dalam
pengelasan. Keropos ini bila didiamkan, lama kelamaan akan menebar
yangdiikuti dengan perkaratan atau korosi pada konstriksi sehingga
kontruksi menjadi rapuh karena korosi tadi. Cacat ini memang
kelihatannya sepele akan tetapi dampak yang ditirnbulkan oleh cacat ini
cukup membahayakan juga. Penyebab keropos ini yakni :
o Busur pendek.
o Kecepatan mengelas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
o Kurang waktu pengisian.
o Terdapat kotoran-kotoran pada benda kerja.
o Kesalahan memilih jenis elektroda.
Penggerutan Benda Kerja. Pada dasarnya setiap logam bila dipanasi akan
memuai dan mengkerut bila di dinginkan. Bila salah satu permukaan las
tipis dilas pada arah memanjang, maka setelah dingin terjadilah
pelengkungan atau melenting atau deformasi.
Dan pada dua bilah plat tipis dilas (tanpa membuat pengikat lebih dulu)
maka kedua sisi kampuh yang masih bebas akan bergeser, bahkan sampai
kedua sisi tersebut dapat berimpit
Penyebab pengerutan adalah:
Pengisian pengelasan kurang.

25 | E l e m e n M e s i n
o Pengkleman salah.
o Pemanasan yang berlebihan.
o Kesalahan persiapan kampuh.
o Pemanasan tidak merata.
o Penempatan bagian-bagian yang disambung kurang baik.
o Salah urutan pengelasan.

2.9 Cara Penanggulangan Cacat Las


Dalam pembangunan kapal baru jumlah pekerjaan las kira-kira
sepertiga dari seluruh jumlah pekerjaan. Ada kapal yang dibangun
dengan sistim blok dan ini berarti banyak sekali konstruksi yang
menggunakan pengelasan. Jadi cacat-cacat las yang ada harus ditekan
sekecil mungkin atau bahkan harus dihindari sebisa mungkin.
Untuk mengatasi macam-macam cacat las yang telah terjadi supaya
hasil pekerjaan las dapat memuaskan banyak pihak, maka perlu
dilaksanakan cara-cara penanggulangannya, yaitu sebagai berikut:
>Penanggulangan Retak Las
Dalam menghindari terjadinya retakan las pada daerah panas, atau
usaha penaggulanganya supaya tidak terjadi retak pada las antara lain :
o Menggunakan elektroda yang betul, dalam hal ini sedapat mungkin
menggunakan elektroda dengan fluk yang mempunyai kadar hydrogen
rendah.
o Sebelum mengelas, pada daerah sekitar kampuh harus dibersihkan
dari air, karat, debu, minyak dan zat organik yang dapat menjadi
sunrber hidrogen.
o Mendinginkan perlahan-lahan setelah dilas.
o Membebaskan kampuh dari kekakuan.

26 | E l e m e n M e s i n
o Mengadakan pemanasan pendahuluan sebelum memulai pengelasan,
dengan cara ini retak las dapat terhindarkan
>Penanggulangan Penembusan Las Yang Kurang Baik
Cara untuk mengatasi cacat las penembusan yang kurang baik
dapat dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut :
o Penyetelan arus pengelasan yang tepat.
o Pengelasan diperlambat dan stabil agar panas yang didapat lebih
merata.
o Mengatur kecepatan las, sehingga kedua sisi benda kerja mencair
dengan baik.
o Memilih diameter elektroda yang sesuai dengan ukuran coakan.
o Membersihkan benda kerja dari terak dan kotoran yang ada.
o Mempertahankan panjang busur nyala yang tepat.
>Penanggulangan Pengerukan las (Under Cut)
Cara untuk mengatasi cacat las pengerukan/under cut dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
o Menyetel arus yang tepat.
o Mengurangi kecepatan mengelas.
o Mempertahankan panjang busur nyala yang tepat.
o Menggunakan ukuran elektroda yang benar.
o Menyetel posisi elektroda, sehingga gaya busur nyala akan menahan
cairan pengelasan.
o Mengupayakan ayunan elektroda dengan teratur.
>Penanggulangan Cacat Las Karena Keropos.
Cara untuk mengatasi cacat las keropos dapat dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
o Mempertahankan jarak busur yang baik.
o Mengurangi kecepatan pengelasan atau kecepatan dipertinggi.

27 | E l e m e n M e s i n
o Member waktu pengisian yang cukup untuk melepaskan gas.
o Membersihkan benda kerja.
o Menggunakan elektroda yang tepat.
>Penanggulangan Pengerutan Benda Kerja
Pada setiap proses pengelasan akan terjadi yang namanya perubahan
bentuk terhadap benda kerja. Perubahan bentuk ini akan mengurangi
ketelitian ukuran dan penampakan luar serta dapat juga menurunkan
kekuatan. Hal-hal untuk mengurangi terjadinya pengerutan benda kerja
atau perubahan bentuk antara lain :
o Pengurangan masuknya panas dan logam panas.
Dengan mengurangi masuknya panas lasan yang seperlunya saja maka
tidak akan terjadi suhu yang terlalu tinggi. Sehingga perubahan bentuk
dapat dikurangi menjadi sekeci-kecilnya. Bila logam las dikurangi,
maka jumlah logam pada waktu mendingin tidak terlalu banyak dan
dengan sendirinya perubahan bentuk juga dapat dikurangi.
Pengurangan bahan las dapat dilakukan dengan mengurangi panjang
las, memilih bentuk kampuh yang sesuai, memotongplat yang akan
dilas dan merakitnya dengan teliti.
Cara menanggulangi perubahan bentuk
o Pengelasan sedikit mungkin.
Pengelasan yang berlebihan akan menimbulkan penkerutan yang
bertambah besar
o Dudukan benda yang hendak dilas sedikit dimiringkan keluar,
sehingga rigi-rigi las akan menariknya kepada kedudukan yang
didinginkan.
o Melakukan pengelasan yang bergantian pada setiap sisi dan membuat
urutan rigi-rigi yang menimbulkan gaya-gaya penyusutan yang saling
meniadakan.

28 | E l e m e n M e s i n
Bila pada jenis sambungan I (kampuhV) dilas mengalami pengkerutan,
rigi-rigi dapat membuat kampuh menjadi berimpit sesamanya. Maka
kerusakan ini dapat diatasi dengan cara antara lain :
o Membuat las pengikat atau las atau las titik/tack weld.
Las pengikat ini diletakkan di tempat-tempat yang kiranya benda kerja
akan mengerut bila nanti dilas. Sehingga dengan adanya las pengikat
ini pengerutan benda kerja tidak terjadi.
o Mebuat celah yang melebar.
Disini pelebaran celah tidak boleh asal melebar, akan tetapi masih
dalam jangkauan kemampuan las. Ini dimaksudkan agar bila nanti
setelahpengelasan mengalami pengerutan celah yang mengalami
pelebaran tadi.
o Memasang pasak untuk mempertahankan lebar celah.
pasak ini berguna untuk menjaga lebar celah pada benda kerja yang
juga disebut dengan plat pengikat. Jadi bila setelah pengelasan kondisi
kerja tetap pada posisi semula karena telah diikat oleh pasak tadi.

Untuk mengurangi perubahan bentuk dari pengaruh urutan


pengelasan dilakukan dengan jalan:
o Pengelasan dilakukan dari titik yang terikat ketitik yang terbebas.
o Majunya pengelasan dibuat simetri tehadap sumbu netral.
o Menggunakan pengelasan susulan mundur atau kebelakang, untuk
menghindari perubahan bentuk pada daerah memanjang.

Untuk mengurangi perubahan bentuk dari segi persiapan kampuh adalah


sebagai berikut:
o Membuat sudut kampuh sekecil mungkin.
o Membuat celah kampuh sekecil mungkin.

29 | E l e m e n M e s i n
o Membuat kampuh ganda bila tebal plat lebih dari 16 mm.
Cara pengelasan kontuksi lambung kapal biasanya dilakukan langkah-
langkah antara lain:
o Pemeriksaan ukuran alur
o Pemilihan bahan las yng tepat
o Penentuan ukuran pengelasan
o Pembersihan alur dari debu, karat, dan minyak.

Perlu diketahui bahwa perakitan konstruksi dimulai dari tengah menuju


kesisi. Sedangkan untuk pengelasan antar plat kulit dan rangka gladak atas
urutanya adalah las tumpul dan kemudian barulah las tumpang.
Pengelasan dalam reparasi kapal harus diperhatikan hal-hal berikut:
o Menentukan seteliti mungkin besarnya bagian yang rusak.
o Memperhatikan lingkungan kerja, misalnya dalam memindahkan
tabung gas yang mudah terbakar.
o memasang pengaman bila pengelasan dilakukan ditempat yang tinggi.
o mempersiapkan tenaga listrik yang diperlukan.
o Dalam penggantian plat harus disiapkan lubang batas dan harus
menentukan urutan pengelasan.

30 | E l e m e n M e s i n
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Sambungan las adalah sambungan permanen yang didapatkan
dari peleburan dari tepi dua benda yang akan disambung dengan atau
tidak dengan menggunakan tekanan dan material tambahan. Panas
yang digunakan untuk peleburan berasal dari terbakarnya gas 3
dalam hal iniadalah las gas 4 atau dari busur listrik 3 dalam hal ini
adalah las listrik 4. Metode las listrik lebih sering digunakan karena
kecepatan las yang lebih besar. Sambungan las sering digunakan dalam
sebuah perakitan sebagai metode alternati/ pencetakan dan
penempaan dan sebagai pengganti sambungan baut dan sambungan
paku keling. Sambungan las juga digunakan untuk menyatukan
kembali logam yang retak" memperbaiki bagian-bagian kecil yang
rusak seperti roda gigi dan untuk memperbaiki permukaan yang aus
seperti permukaan bearing.
Jenis-jenis pengelasan
> Las Resistansi Listrik (Tahanan)
>Las Busur Listrik
>Las TIG (Tungsten Inert Gas)/GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)
>Las MIG (Metal Inert Gas Arc Welding)/Gas Metal Arc Welding
(GMAW)
3.2 SARAN
Semoga makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan
menambah sedikit nilai prestasi saya. Kritik dan saran dari dosen
pembimbing mata kuliah Elemen Mesin akan isi maupun bahasa serta
tambahan isinya sangat saya harapkan demi kesempurnaan dan demi
bertambahnya ilmu pengetahuan saya.

31 | E l e m e n M e s i n
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/doc/312830272/makalah-SAMBUNGAN-LAS-
docx

32 | E l e m e n M e s i n

Anda mungkin juga menyukai