0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan20 halaman

Legenda Kebo Iwa dan Gunung Batur

Cerita ini menceritakan tentang legenda asal usul Gunung Batur dan Danau Batur di Bali. Cerita ini berkisah tentang makhluk raksasa bernama Kebo Iwa yang dibunuh oleh warga desa karena kelaparannya yang tak terpuaskan.

Diunggah oleh

Boby Culius
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan20 halaman

Legenda Kebo Iwa dan Gunung Batur

Cerita ini menceritakan tentang legenda asal usul Gunung Batur dan Danau Batur di Bali. Cerita ini berkisah tentang makhluk raksasa bernama Kebo Iwa yang dibunuh oleh warga desa karena kelaparannya yang tak terpuaskan.

Diunggah oleh

Boby Culius
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Air yang mengalir keluar tersebut terus membanjiri desa tersebut, para penduduk desa

berbondong-bondong pergi menyelamatkan diri.

Namun berbeda dengan para penduduk desa, Nyai Endit justru melarikan diri ke rumahnya dan
sibuk menyelamatkan harta-hartanya. Nyai Endit kemudian tenggelam di rumahnya bersama
dengan harta-hartanya.

9. Legenda Kebo Iwa dan Asal-Usul


Gunung Batur

Dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama mendambakan keturunan. Doa
mereka dikabulkan oleh Sang Hyang Widi Wasa, dan akhirnya, seorang anak laki-laki lahir ke
dunia.

Anak ini, yang diberi nama Kebo Iwa, tumbuh dengan cepat dan memiliki nafsu makan yang tak
terpuaskan. Sejak bayi, nafsu makannya setara dengan sepuluh orang dewasa. Saat ia
bertambah dewasa, Kebo Iwa menjadi semakin kuat dan besar, membuat kedua orang tuanya
kewalahan.

Kebo Iwa, yang terkenal dengan kemarahannya, sering merusak apa pun yang ada di depannya
ketika tidak puas dengan makanan. Warga desa pun ketakutan dengan sifatnya yang ganas.

Meski begitu, Kebo Iwa bersedia membantu pekerjaan berat warga desa, seperti membuat
sumur, memindahkan rumah, dan mengangkut batu-batu besar. Ia melakukannya dengan
cekatan, namun imbalannya selalu berupa makanan dalam jumlah besar.

Suatu hari, saat musim paceklik melanda dan penduduk kesulitan memberikan makanan untuk
Kebo Iwa, mereka merasa sangat khawatir. Warga desa pun berembuk untuk mencari cara agar
Kebo Iwa tidak lagi mengancam mereka.

Akhirnya, mereka sepakat untuk membuat rencana. Warga desa mendekati Kebo Iwa dan
mengajaknya membuat sumur yang sangat besar. Mereka menjanjikan imbalan berupa
makanan dalam jumlah yang sangat banyak. Kebo Iwa setuju tanpa curiga.

Bergotong-royong, warga desa mengumpulkan makanan dan batu kapur. Mereka


menyampaikan rencana membuat rumah besar dan indah untuk Kebo Iwa sebagai imbalannya.
Sang paman kerbau pun bekerja keras menggali tanah untuk membuat sumur yang semakin
besar.

Hari demi hari berlalu, sumur yang digali oleh Kebo Iwa semakin dalam dan lebar. Kepala desa
meminta agar Kebo Iwa membuat kolam yang lebih besar lagi. Kebo Iwa, tertarik dengan janji
warga desa, setuju melanjutkan pekerjaannya.

Namun, pada suatu saat, warga desa menjalankan rencananya. Mereka melemparkan batu
kapur ke dalam lubang galian yang digali oleh Kebo Iwa, yang tanpa sadar terus bekerja. Air
semakin memancar, dan batu kapur yang masuk ke dalam lubang membuat hidung Kebo Iwa
tersumbat.
Kebo Iwa yang merasa kelelahan dan kelaparan meminta istirahat dan makanan. Warga desa
memberinya makanan dalam jumlah besar, lalu secara tiba-tiba, mereka melemparkan lebih
banyak batu kapur ke dalam lubang.

Tersedak dan tidak dapat menyelamatkan diri, Kebo Iwa akhirnya meninggal di dalam sumur
yang ia gali sendiri. Air pun meluap, menciptakan Danau Batur, sementara tanah di sekitarnya
membentuk Gunung Batur.

Inilah akhir dari legenda Kebo Iwa, yang berubah menjadi ciptaan alam yang mengagumkan di
Indonesia.

10. Cerita Rakyat Putri Ayu

dfPada zaman dahulu, empat anak raja, dua laki-laki dan dua perempuan, berkeinginan keluar
mencari petualangan di luar istana mereka. Meskipun sebagai anak raja, mereka tidak diizinkan
pergi jauh dari istana. Suatu hari, mereka mencium aroma harum yang menarik perhatian
mereka, dan meminta izin kepada orang tua mereka untuk menemukan asal bau tersebut.

Mereka menjelajah ke arah timur, menyusuri pantai utara, bahkan menyeberangi pulau Bali.
Perjalanan penuh rintangan, termasuk pertemuan dengan binatang buas seperti harimau dan
ular, namun mereka berhasil melewatinya.

Setibanya di kaki Gunung Batur, sang putri bungsu jatuh cinta pada pemandangan tersebut dan
memutuskan untuk tinggal di Pura Batur di lereng gunung. Kakak-kakaknya tidak setuju, tetapi
sang putri tetap pada keputusannya dan ditinggal sendirian di sana.

Ketiga kakaknya melanjutkan perjalanan untuk mencari bau harum. Saat tiba di suatu tempat
datar di sebelah barat daya danau, mereka mendengar kicauan burung. Kakak tertua tidak suka
dengan kelakuan adiknya yang ingin menangkap burung tersebut.

Kakak tertua meminta adiknya untuk berhenti, tetapi sang adik tidak menghiraukan dan terus
mengejar burung. Akhirnya, sang kakak meninggalkannya karena tidak menuruti.

Di tempat lain, mereka bertemu dua wanita yang sedang mencari kutu. Adik perempuan tertarik
untuk ikut bersama mereka. Kakak tertua marah dan meminta adiknya untuk melanjutkan
perjalanan atau tinggal di sana. Adik memilih tinggal, dan sang kakak meneruskan perjalanan
sendiri.

Tiba di Desa Trunyan, sang kakak tertua merasa bau harum yang dicari selama ini. Ia menyadari
bahwa bau itu berasal dari Pohon Taru Menyan. Di sana, ia bertemu Putri Ayu yang cantik.
Mereka menikah, dan sang kakak menjadi kepala desa, hidup bahagia bersama Putri Ayu.

11. Nagari Minangkabau


Di zaman dahulu, di Sumatera Barat, terdapat Kerajaan Pagaruyung yang dipimpin oleh seorang
raja bijaksana. Suatu hari, kabar mengejutkan datang bahwa Kerajaan Majapahit dari Jawa akan
menyerang. Meski demikian, pemimpin Pagaruyung tidak gentar.

Dalam sidang darurat, para pemimpin mencari solusi untuk menghindari pertumpahan darah.
Penasehat Raja menyarankan pendekatan damai dengan mengundang musuh untuk berunding
di perbatasan. Jika ditolak, mereka bisa mengadakan adu kerbau.

Rencana ini disetujui, dan putri Datuk Tantejo Garhano bersama dayang-dayang cantik
menyambut pasukan Majapahit dengan sopan. Mereka mengajak musuh berunding sambil
menyuguhkan hidangan lezat.

Pemimpin Majapahit terkesan dengan perlakuan ini, sehingga mereka setuju untuk adu kerbau
sebagai ganti peperangan. Kedua belah pihak sepakat untuk memilih kerbau tanpa menentukan
jenis atau ukuran.

Pertandingan adu kerbau berlangsung di lapangan luas. Kerbau Pagaruyung yang tampak
lemah sebenarnya memiliki taktik rahasia. Anak kerbau itu dipasangi besi runcing di mulutnya.

Dalam persiapan untuk adu kerbau yang akan menentukan nasib Kerajaan Pagaruyung, sang
Raja dan penasehatnya merancang rencana rahasia. Mereka memilih seekor anak kerbau yang
tampak lemah dan masih menyusu. Namun, yang membuatnya unik, di mulut anak kerbau itu
dipasang besi runcing berbentuk kerucut, sementara sehari sebelum pertandingan, ia
dipisahkan dari induknya dan sengaja dibuat lapar.

Keesokan harinya, saat pertandingan di padang yang luas, anak kerbau yang tampak tak
berdaya itu dilepas ke arena. Di sisi lain, kerbau milik pasukan Majapahit tampil beringas dan
siap tempur. Begitu keduanya saling berhadapan, anak kerbau Pagaruyung, tanpa sadar, mulai
mendekati kerbau besar lawan, mengira bahwa itu adalah induknya.

Pandangan penonton dari kedua belah pihak terfokus pada momen tegang ini. Saat anak kerbau
Pagaruyung mendekati perut kerbau besar, besi runcing di mulutnya dengan sigap menembus
perut lawan. Tidak terduga, perut kerbau pasukan Majapahit terluka dan darah mulai mengalir.
Setelah beberapa tusukan, kerbau Majapahit roboh.

Pagaruyung memenangkan pertandingan tanpa pertumpahan darah. Kabar kemenangan ini


menyebar, dan tempat itu kemudian dinamakan Nagari Minangkabau. Untuk mengenang
peristiwa tersebut, penduduk membangun rumah rangkiang yang atapnya menyerupai tanduk
kerbau.

12. Cerita Rakyat Si Kabayan

Dahulu kala di tanah Pasunda hiduplah Si Kabayan, seorang lelaki cerdas namun pemalas.
Kepandaian yang dimilikinya lebih sering digunakan untuk mengecoh dan mendukung
kemalasannya. Ia memiliki istri bernama Nyi Iteung. Suatu hari, mertuanya memerintahkan Si
Kabayan untuk mengambil siput-siput di sawah. Dengan malasnya, Si Kabayan pergi ke sawah
dan hanya duduk di pematang tanpa mengambil satu pun siput.

Lama tak pulang, mertuanya mendatangi sawah dan kaget melihat Si Kabayan hanya duduk
santai. Saat ditanyai, Si Kabayan memberikan alasan tak masuk akal bahwa ia takut karena
sawah terlalu dalam. Untuk membuktikan, Si Kabayan menunjukkan langit yang terlihat dari
sawah. Mertuanya geram dan mendorong Si Kabayan ke dalam sawah. Baru di situ, Si Kabayan
baru sadar bahwa sawah itu sebenarnya dangkal, dengan senyum menyebalkan ia mengambil
siput-siput.

Pada hari berikutnya, mertuanya menyuruh Si Kabayan memetik buah nangka di atas sungai.
Meskipun malas, Si Kabayan akhirnya menuruti. Saat memetik, buah nangka jatuh ke sungai,
tapi Si Kabayan tidak buru-buru mengambilnya. Ia malah menyatakan bahwa buah itu pulang
lebih dulu untuk menghindari hujan. Mertuanya bingung dengan penjelasan aneh ini.

Dalam petualangan lain, saat memetik kacang koro, Si Kabayan malas dan tidur di dalam
karung. Saat adzan Dhuhur berkumandang, mertuanya pulang dan menduga Si Kabayan sudah
pulang duluan. Dengan kesal, mertuanya membawa pulang karung yang ternyata berisi Si
Kabayan. Marah dan jengkel, mertuanya ingin membalas dendam.

Ketika kembali memetik kacang koro, mertuanya diam-diam masuk ke dalam karung dan tidur.
Saat Si Kabayan berhenti bekerja, ia melihat mertuanya tidur di dalam karung. Tanpa
memikirkan pemanggulan seperti yang dilakukan mertuanya, Si Kabayan malah menyeret
karung pulang. Mertuanya meronta-ronta, tapi Si Kabayan dengan santainya berkata bahwa
karung itu digunakan untuk kacang koro.

Sejak peristiwa itu, mertuanya menjauhi Si Kabayan. Untuk memperbaiki hubungan, Si Kabayan
mencari cara dengan menanyakan nama asli mertuanya pada istrinya.

Si Kabayan memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang mertuanya dan meminta
bantuan Nyi Iteung, istrinya. Meskipun awalnya enggan, Nyi Iteung akhirnya memberitahu Si
Kabayan nama asli mertuanya, yaitu Ki Nolednad. Namun, Nyi Iteung memberikan pesan keras
agar suaminya tidak menyebarkan rahasia tersebut karena dianggap melanggar pantangan
untuk memberi tahu namanya.

Si Kabayan, dengan niat baik, mencari cara untuk mendekati hati mertuanya. Ia memutuskan
untuk menggunakan tradisi leluhur dengan menyelenggarakan ritual di sekitar air enau. Dengan
membawa air enau yang kental dan kapuk dalam jumlah banyak, Si Kabayan menciptakan
suasana yang cocok untuk ritual.

Saat mertuanya sedang mandi, Si Kabayan, yang berpakaian putih dan wajahnya dicat putih,
memanjat pohon dan bersembunyi di dahan. Dengan penuh tekad, Si Kabayan berseru dengan
menyebut nama asli mertuanya, Nolednad. Mertua Si Kabayan yang terkejut mencari sumber
suara, kini dihadapkan pada sosok putih yang menyeramkan.

Makhluk putih itu mengaku sebagai kakek penunggu lubuk, memohon agar mertua Si Kabayan
menyayangi Si Kabayan sebagai cucunya. Mertuanya juga diminta untuk mengurus sandang,
pangan, dan memberikan tempat tinggal meskipun kecil. Dalam jaminan keselamatannya,
mertuanya akhirnya menuruti perintah kakek penunggu lubuk.

Sejak kejadian itu, sikap mertua Si Kabayan berubah drastis. Ia tidak hanya tidak membenci
menantunya lagi, tetapi juga mencukupi kebutuhan hidupnya. Si Kabayan, sadar akan sifat
buruknya, mulai mengubah perilakunya. Ia bekerja keras sebagai buruh untuk menyokong
kehidupan rumah tangganya.

Hubungan antara Si Kabayan dan mertuanya semakin membaik, dan Nyi Iteung semakin
mencintai Si Kabayan atas perubahan positif yang ia tunjukkan. Keluarga Pasunda pun kembali
merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam rumah tangga
Apa saja Ciri-ciri Cerita Rakyat?
1. Penyampaian secara Lisan
Cerita rakyat umumnya disampaikan secara lisan, menjadi bagian dari tradisi lisan sebelum era
internet, seperti tradisi memberikan cerita dongeng sebelum tidur pada anak, misalnya.
Sebaliknya, karya sastra modern seperti novel dan cerpen hadir dalam bentuk tulisan.

2. Diwariskan Turun-Temurun
Cerita rakyat diwariskan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan, membentuk warisan
budaya yang diwarisi dari nenek moyang.

3. Tanpa Pengarang Tertentu


Sebagian besar cerita rakyat tidak memiliki pengarang yang jelas, karena tradisi
penyampaiannya yang lisan. Ketiadaan catatan tertulis dalam cerita rakyat ataupun kumpulan
cerpen anak menjadi faktor penyebabnya.

4. Mengandung Nilai-Nilai Moral


Cerita rakyat sering kali memuat nilai-nilai moral yang mendalam. Contohnya, dalam cerita
Malin Kundang yang selain merupakan cerita inspiratif, terdapat pesan etika dan rasa hormat
terhadap orang tua.

5. Memiliki Sifat Tradisional yang Kental


Cerita rakyat cenderung mempertahankan sifat tradisional, mencerminkan nilai-nilai budaya dan
adat yang berkembang dalam masyarakat. Misalnya, cerita Alladin yang tumbuh di Timur
Tengah atau kisah Bharatayudha yang kaya dengan nuansa budaya Hindu.

Apa saja Jenis-jenis Cerita Rakyat?


Berikut adalah berbagai jenis cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Indonesia, disusun
dari beberapa sumber:

Cerita Dongeng
Dongeng adalah narasi yang melibatkan unsur khayalan atau imajinasi, seperti tokoh-tokoh
binatang yang mampu berbicara. Cerita ini merupakan fiksi yang diciptakan untuk hiburan,
seringkali digunakan orang tua untuk mengembangkan imajinasi anak-anak sebelum tidur.
Cerita ini juga mirip juga sering kali dikaitkan dengan cerita fantasi.

Cerita Mitos
Mitos merupakan cerita rakyat yang dianggap benar pada masa lalu dan sering mengandung
unsur keagamaan atau ritual. Tokoh utama dalam mitos bisa berupa dewa atau makhluk gaib
yang memiliki sifat manusiawi.

Cerita Legenda
Legenda memiliki kesamaan dengan mitos karena dianggap mengandung kebenaran. Namun,
legenda lebih fokus pada aspek dunia manusia daripada unsur keagamaan. Kisah legenda dapat
berupa asal-usul tempat, benda, atau fenomena alam. Cerita legenda sendiri juga seringkali
dibuat dalam bentuk cerpen bahasa Inggris untuk meningkatkan nilai wawasan pengetahuan
bahasa asing.

Cerita Fabel
Fabel menceritakan kehidupan binatang sebagai karakter utama dan disertai pesan moral atau
ajaran. Cerita ini sering diarahkan sebagai sarana hiburan untuk anak-anak, sambil
menyampaikan nilai-nilai moral melalui kehidupan binatang. Ada banyak sekali contoh cerita
fabel penuh pesan moral yang bisa diceritakan pada anak, seperti cerita fabel harimau, singa
dan tikus, dan masih banyak lainnya.

Cerita Hikayat
Hikayat berfokus pada cerita kepahlawanan atau kekuatan seseorang yang dianggap berjasa
bagi masyarakat. Jenis cerita ini sering dikaitkan dengan sejarah, mengisahkan peristiwa-
peristiwa dari masa lalu.

Setiap jenis cerita rakyat tersebut memperkaya warisan budaya Indonesia dengan keberagaman
tema, karakter, dan nilai-nilai yang disampaikan.

Apa Manfaat Mengenalkan Cerita Rakyat


pada Anak?
Mengenal dongeng cerita rakyat sangat baik bagi anak-anak, beberapa manfaat menceritakan
dongeng cerita rakyat kepada anak-anak adalah sebagai berikut:

• Meningkatkan kemampuan berkomunikasi.


• Mengembangkan kemampuan bersosialisasi.
• Meningkatkan kemampuan mengontrol emosi.
• Mengajarkan anak membaca.
• Meningkatkan pengetahuan.
• Merupakan suatu kebiasaan yang baik.
• Meningkatkan daya berimajinasi.
• Meningkatkan kreativitas.
• Dapat mempelajari banyak hal.
• Membangun kedekatan antara orang tua dan anak.
• Mengajarkan anak ketahanan emosional.
• Mengatasi anak yang susah tidur.

Itulah 12 dongeng cerita rakyat dari Yumin kali ini. Dengan kekayaan budaya yang melimpah,
cerita rakyat Indonesia menawarkan warisan yang tidak hanya memikat tetapi juga sarat akan
makna dan kebijaksanaan.

Melalui cerita rakyat, generasi muda dapat meresapi kekayaan budaya Indonesia, sambil
memetik pelajaran moral yang membentuk karakter dan menghargai warisan nenek moyang.
Dengan mengenalkan cerita rakyat pada anak-anak, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga
membentuk generasi yang memiliki koneksi mendalam dengan identitas budaya mereka sendiri.

Membaca beberapa dongeng tersebut tentunya akan semakin nikmat jika ditemani cemilan enak
dan bergizi dari permen Yupi love Strawberry Kiss yang legendaris.

Semoga informasi menarik tentang dongeng cerita rakyat dari Yumin kali ini bermanfaat untuk
Yupiers!

donesia, tanah air yang subur dengan kekayaan budaya yang melimpah, menawarkan warisan
cerita rakyat yang memikat dan sarat makna. Cerita-cerita ini tidak hanya menjadi hiburan bagi
generasi-generasi sebelumnya, tetapi juga pembawa pesan moral dan kebijaksanaan yang
terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam eksplorasi kekayaan cerita rakyat Indonesia, Alan Dundes, seorang ahli folklor Amerika
terkemuka, memberikan kontribusi besar dalam bidang folklor dan antropologi. Dalam bukunya
yang berjudul "The Meaning of Folklore," Dundes mendefinisikan cerita rakyat sebagai berikut:

"Cerita rakyat adalah cerita tradisional yang diwariskan secara turun-temurun melalui lisan,
mencakup mitos, legenda, dongeng, anekdot, atau cerita serupa yang berkembang di antara
masyarakat."

Pengertiannya menekankan aspek transmisi lisan, di mana cerita-cerita tersebut disampaikan


dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui narasi lisan. Ini mencakup berbagai jenis cerita
seperti mitos (kisah-kisah yang menceritakan tentang asal-usul alam semesta), legenda (kisah
yang berkaitan dengan tokoh-tokoh sejarah atau tempat-tempat tertentu), dongeng (kisah-
kisah fantasi), anekdot, dan jenis cerita rakyat lainnya.

Setiap daerah di Indonesia memiliki beragam cerita rakyat yang unik. Sebagai contoh, berikut
adalah 12 dongeng cerita rakyat Indonesia yang terkenal dan menarik, yang akan kita eksplorasi
lebih lanjut.
1. Malin Kundang

Dongeng cerita rakyat yang pertama adalah cerita Malin Kundang. Cerita bercerita tentang
seorang anak yang bernama Malin Kundang. Malin Hidup bersama ibunya di sebuah desa
pesisir pantai Sumatera Barat.

Setelah beranjak dewasa, malin merantau ke kota dengan tujuan agar mendapatkan kehidupan
yang lebih baik. Setelah beberapa tahun, Malin Kundang kini sudah sukses dan hidup
berkecukupan di kota, bahkan dia sudah menikah dengan putri dari seorang bangsawan.

Setelah menikah, istri Malin Kundang yang sedang hamil menginginkan untuk berlibur ke
pantai. Karena sangat mencintai istrinya, Malin Kundang dan istrinya pergi berlibur ke pantai
dan ternyata pantai tersebut adalah desa dimana ibu Malin Kundang tinggal.

Setibanya di pantai, ibu Malin Kundang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu anaknya, dan
melihat dari kejauhan bahwa Malin Kundang datang, langsung menghampiri dan memeluknya.

Pada saat tersebut, Malin Kundang merasa malu dan tidak mau mengakui ibunya yang berasal
dari desa. Sempat terjadi perdebatan antara mereka, ibu Malin Kundang pun kemudian merasa
sedih sekaligus marah anaknya kini tidak mengakui dirinya sebagai ibunya.

Ibu Malin Kundang kemudian berdoa dan mengutuk Malin Kundang menjadi batu. Sembari
menyesali perbuatannya yang sudah terlambat, dengan posisi bersujud Malin Kundang kini
ternyata sudah berubah menjadi batu.

Melalui dongeng cerita rakyat Malin Kundang ini, anak-anak akan belajar agar tidak durhaka
kepada orang tua mereka.
2. Dongeng Cerita Rakyat Legenda Danau
Toba

Dongeng cerita rakyat yang kedua masih berasal dari Sumatera Barat, yaitu legenda Danau
Toba. Kisah ini menceritakan tentang seorang pemuda yang bernama Toba yang hidup
sederhana dengan bekerja di ladang setiap harinya.

Pada suatu hari, Toba pergi memancing ikan di sebuah sungai. Dari hasil memancing tersebut,
toba mendapatkan sebuah ikan yang memiliki warna kekuningan keemasan. Saat Toba
melepaskan mata kail dari mulut ikan tersebut, ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita
yang cantik.

Wanita tersebut kemudian memperkenalkan dirinya, wanita cantik tersebut bernama Putri.
Toba sangat jatuh cinta pada Putri, dan memintanya untuk menikah. Putri kemudian menerima
lamaran dari Toba, tapi dengan satu syarat.

Syarat tersebut adalah Toba tidak boleh menceritakan kepada siapapun bahwa dirinya adalah
ikan di sungai tersebut. Toba kemudian menyanggupi permintaan tersebut.

Setelah menikah, hidup secara sederhana dan penuh kebahagiaan, Toba dan Putri dikaruniakan
seorang anak laki-laki yang kemudian diberikan nama Samosir.

Seiring berjalannya waktu, Samosir ternyata tumbuh menjadi pribadi yang pemalas dan cukup
nakal. Samosir sehari-harinya hanya bermalas-malasan saja, selain itu Samosir juga memiliki
nafsu makan yang tinggi.

Suatu ketika, Putri meminta Samosir untuk mengantarkan makanan ke ayahnya. Karena malas,
Samosir merasa terpaksa melakukan hal tersebut. Ditengah perjalanan, Samosir merasa sangat
lapar.

Karena merasa sangat lapar, Samosir memakan makanan yang seharusnya diberikan pada
ayahnya, Toba. Samosir kemudian hanya menyisakan sedikit dari makanan yang seharusnya
diberikan kepada ayahnya.

Setibanya di ladang, Toba sangat kesal dan marah karena melihat makanannya yang hanya
tersisa sedikit. Dengan emosi marah tersebut, Toba membentak Samosir dan berkata “Anak
tidak tau diuntung, dasar kau, anak keturunan ikan!”

Samosir yang sangat ketakutan dan sedih tersebut pulang dan menceritakan apa yang terjadi
kepada ibunya. Ibunya yang mendengar cerita tersebut merasa sangat sedih, karena ternyata
Toba telah melanggar janjinya.

Putri dan Samosir kemudian berpegangan tangan, dan keduanya pun menghilang secara tiba-
tiba. Selain itu juga, dari setiap jejak langkah Samosir terus muncul air dalam jumlah yang
sangat banyak sehingga menenggelamkan wilayah di sekitarnya termasuk Toba.
3. Sangkuriang

Dongeng cerita rakyat berikutnya dari Yumin kali ini adalah kisah tentang Sangkuriang. Kisah ini
bermula dimana pada masa lalu sepasang dewa dan dewi melakukan kesalahan yang sangat
besar hingga diusir dari kahyangan. Ketika dibuang dan turun ke bumi, dewa berubah menjadi
seekor anjing bernama Tumang, sementara sang dewi berubah menjadi babi hutan bernama
Celeng Wayungyang.

Suatu ketika seorang raja pergi berburu di hutan bersama kelompoknya, namun pada akhirnya
raja ini terpisah dari kelompoknya. Sang raja kemudian buang air kecil, tanpa sengaja, air
kencing sang raja ini diminum oleh Celeng Wayungyang.

Air kencing sang raja ini ternyata mengandung sedikit sperma sehingga dalam waktu singkat,
Celeng Wayungyang langsung hamil dan melahirkan seorang putri.

Putri ini kemudian ditemukan oleh sang raja tanpa mengetahui bahwa putri ini adalah anak
kandung dari sang raja.

Bayi perempuan ini kemudian diberi nama Dayang Sumbi. Ketika sudah dewasa, Dayang Sumbi
tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Ada banyak pria yang ingin menikahinya namun
Dayang Sumbi tidak menginginkan hal tersebut.

Suatu ketika Dayang Sumbi yang sedang menenun kehilangan gulungan benang miliknya.
Dayang Sumbi merasa sangat sedih dan berjanji bahwa yang menemukan gulungan benang
tersebut akan diberikan hadiah.

Jika yang menemukan gulungan benang tersebut adalah seorang perempuan, maka Dayang
Sumbi akan memperlakukannya seperti saudaranya sendiri, dan jika yang menemukan gulungan
benang tersebut adalah seorang laki-laki, maka Dayang Sumbi akan menjadikannya suami.

Setelah beberapa saat, ternyata yang menemukan gulungan benang tersebut adalah seekor
anjing yang bernama Tumang. Meskipun seekor anjing, Dayang Sumbi merasa harus tetap
memenuhi janjinya.

Sang raja yang kesal dengan apa yang akan dilakukan oleh Dayang Sumbi, kemudian mengusir
dan membuang Dayang Sumbi ke sebuah pondok sederhana di dalam hutan.

Setelah menikah, Dayang Sumbi dibuat bingung karena setiap bulan purnama, anjing tersebut
berubah menjadi pria tampan, dari pernikahan mereka ini, lahirlah seorang anak laki-laki yang
kemudian diberi nama Sangkuriang.

Beberapa tahun berlalu, suatu ketika saat Sangkuriang pergi berburu dia mencoba membunuh
seekor babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayungyang, nenek dari Sangkuriang.

Tuman mencoba menghentikan perbuatan Sangkuriang tersebut. Merasa kesal dan tidak
mendapatkan apapun, Sangkurian kemudian membunuh Tumang dan mengambil hatinya untuk
dibawa pulang.

Ketika waktu makan malam tiba, Dayang Sumbi sudah menjadi hati yang dibawa Sangkuriang
sebagai bahan makanan. Ketika Dayang Sumbi mencoba memanggil Tumang untuk dibagikan
makanan, Tumang tak kunjung datang.
Merasa bersalah dan sedih, Sangkuriang lalu menjelaskan bahwa hati yang dibawa olehnya
adalah hati Tumang. Merasa sedih dan marah, Dayang Sumbi lalu memukul Sangkuriang
hingga meninggalkan bekas luka di kepalanya.

Karena berpikir bahwa ibunya membencinya, Sangkurian kabur dari rumah. Setelah beberapa
saat, Dayang Sumbi menyesal telah melakukan hal tersebut dan berdoa kepada dewa agar
menyatukan kembali dirinya dengan Sangkuriang, anaknya.

Ketika Sangkuriang keluar rumah, Sangkuriang ternyata telah lupa ingatan dan bahkan tidak
mengetahui bahwa dia memiliki seorang ibu bernama Dayang Sumbi.

Sangkuriang kini telah tumbuh dewasa, suatu ketika, Sangkuriang bertemu dengan seorang
wanita cantik di hutan dan ternyata itu adalah Dayang Sumbi, namun karena hilang ingatan,
Sangkuriang tidak mengetahui bahwa wanita tersebut adalah ibunya.

Karena tertarik dan jatuh cinta, Sangkuriang kemudian melamar wanita tersebut. Karena sudah
bertahun-tahun tidak bertemu, Dayang Sumbi pada awalnya tidak mengetahui bahwa yang
melamarnya adalah anaknya, Sangkuriang.

Namun sehari sebelum pernikahan, Dayang Sumbi mendapati bekas luka yang sama pada
kepala pria yang akan dinikahinya dengan bekas luka Sangkurian.

Mengetahui hal tersebut, Dayang Sumbi mencoba menggagalkan pernikahan tersebut dengan
menjelaskan kepada Sangkuriang, namun Sangkuriang tidak mau mendengar penjelasan dari
Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi kemudian memberikan syarat yang tidak mungkin bisa dilakukan Sangkuriang
untuk pernikahan tersebut. Syarat tersebut adalah Sangkuriang harus membuatkan sebuah
danau dengan perahu yang akan digunakan nantinya dalam waktu satu malam.

Sangkuriang kemudian menyanggupi hal tersebut. Dengan dibantu oleh makhluk gaib,
Sangkuriang hampir berhasil menyelesaikan permintaan Dayang Sumbi.

Sadar Sangkuriang akan berhasil, Dayang Sumbi menggunakan syal ajaibnya untuk membuat
cahaya dari timur sehingga seolah-olah fajar telah tiba. Sangkuriang merasa gagal untuk
memenuhi syarat pernikahan dari Dayang Sumbi.

Sangkuriang yang merasa kesal dan gagal memenuhi persyaratan pernikahan dari Dayang
Sumbi kemudian menendang perahu tersebut hingga terbalik dan perahu tersebut berubah
menjadi gunung yang kini dikenal Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang tetap memaksa Dayang Sumbi untuk menikah, hal ini membuat Dayang Sumbi
berusaha kabur dari Sangkuriang. Agar selamat dari kejaran Sangkuriang, Dayang Sumbi
meminta bantuan kepada tuhan untuk membantunya.

Permintaan tersebut kemudian terkabul dan Dayang Sumbi berubah menjadi bunga Jaksi dan
Sangkurian gagal menemukannya.
4. Dongeng Cerita Rakyat Roro Jonggrang

Dongeng cerita rakyat yang berikutnya dari Yumin kali ini adalah kisah Roro Jonggrang. Kisah
Roro Jonggrang dimulai ketika ayahnya, yakni raja Prambanan kalah dalam perang dengan
Bandung Bondowoso. Selain itu juga, Bandung Bondowoso juga ingin menjadikan Roro
Jonggrang anak dari raja Prambanan sebagai istrinya.

Roro Jonggrang menolak hal tersebut. Tidak terima akan hal tersebut, Roro Jonggrang
dimasukan ke dalam sel tahanan bersama Bi Sumi dan dayang-dayang lainnya.

Hampir setiap hari Bandung Bondowoso menemui dan meminta Roro Jonggrang menjadi
istrinya. Lelah karena terus diminta, Roro Jonggrang kemudian memberikan satu syarat kepada
Bandung Bondowoso.

Jika Bandung Bondowoso berhasil memenuhi syarat tersebut, maka Roro Jonggrang mau
menjadi istri Bandung Bondowoso. Syarat dari Roro Jonggrang adalah dia meminta Bandung
Bondowoso membangun 1000 candi dalam waktu satu malam.

Bandung Bondowoso menerima syarat tersebut. Dia kemudian meminta bantuan jin untuk
melakukannya.

Roro Jonggrang yang melihat bahwa Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan persyaratan
tersebut, kemudian bersama Bi Sumi melakukan ide untuk agar Bandung Bondowoso gagal
memenuhi persyaratan dari Roro Jonggrang tersebut.

Mereka membakar banyak jerami sehingga langit menjadi cerah, sementara dayang-dayang
lainnya membantu dengan menumbuk lesung dan membuat ayam berkokok yang merupakan
tanda pagi hari telah tiba.
Mendapati hal tersebut, Bandung Bondowoso gagal memenuhi persyaratan dari Roro
Jonggrang karena setelah dihitung ulang, jumlah candi yang dibuat kurang satu buah, atau
hanya selesai 999 buah candi.

Marah akan hal tersebut, Bandung Bondowoso kemudian mengubah Roro Jonggrang menjadi
candi ke 1000 sehingga jumlah candi tersebut menjadi 1000 candi.

5. Joko Kendil

Dongeng cerita rakyat berikutnya adalah cerita tentang Joko Kendil. Dikisahkan pada zaman
dahulu kala, di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, hiduplah seorang anak yang bernama
Joko Kendil.

Joko Kendil memiliki penampilan yang tidak menarik karena memiliki bentuk seperti kendil atau
guci kayu yang pendek dan lebar.

Seiring berjalannya waktu, Joko Kendil memiliki keinginan untuk menikah dengan putri raja.
Mendapati hal tersebut, ibu Joko Kendil sempat terheran-heran dan mengatakan itu hal yang
mustahil. Namun karena kasih sayangnya kepada Joko Kendil, ibu tersebut mencoba memenuhi
permintaan tersebut.

Sesampainya di istana raja, ibu Joko Kendil menyampaikan maksudnya kepada raja. Raja
memiliki 3 orang putri, yaitu Dewi Kantil, Dewi Mawar dan Dewi Melati. Dari ketiga putri raja
tersebut, ternyata Dewi Melati mau menerima lamaran tersebut.

Joko Kendil dan Dewi Melati kemudian menikah, namun setiap harinya, Dewi Kantil dan Dewi
Mawar terus menghina Dewi Melati yang menikahi Joko Kendil.

Hingga pada suatu ketika, diadakanlah perlombaan ketangkasan di kerjaan. Joko Kendil tidak
hadir dalam acara tersebut karena sedang sakit.
Dalam acara tersebut, hadirlah seorang pangeran tampan dan gagah. Dewi Kantil dan Dewi
Mawar sangat menyukai pangeran yang tampan dan gagah tersebut sambil terus menghina
Dewi Melati dan Joko Kendil.

Tidak tahan dengan hinaan Dewi Kantil dan Dewi Mawar, Dewi Melati yang merasa kesal
kemudian membanting kendil atau guci tanah ketika berada di rumah.

Betapa terkejutnya Dewi Melati mendapati pria yang tampan dan gagah tersebut keluar dari
kendil tersebut. Pria tampan dan gagah tersebut kemudian menjelaskan bahwa dirinya adalah
Joko Kendil.

Penampilannya yang seperti kendil selama ini adalah karena kehendak Dewata. Penampilannya
akan kembali seperti semula jika ada seorang wanita yang mencintainya dengan tulus.

6. Ande-Ande Lumut

Dongeng cerita rakyat yang selanjutnya adalah kisah Ande-Ande Lumut. Suatu ketika hiduplah
seorang janda miskin dengan anaknya yang sangat tampan bernama Ande-Ande Lumut.

Banyak wanita mencoba melamar Ande-Ande Lumut, namun selalu ditolaknya. Di dekat desa
tempat Ande-Ande lumut tinggal namun terpisahkan oleh sungai yang cukup besar, juga
hiduplah seorang janda kaya bernama Nyi Menah.

Nyi Menah memiliki enam orang anak, Klenting Merah, Klenting Hijau, Klenting Biru, Klenting
Ungu, Klenting Kelabu dan Klenting Hitam. Selain mereka, dalam rumah tersebut juga hidup
seorang wanita yang bernama Klenting Kuning.

Klenting setiap harinya diperlakukan tidak menyenangkan dan juga diperlakukan seperti
seorang pembantu.

Suatu hari Nyi Menah ingin memperkenalkan anak-anaknya kepada Ande-Ande Lumut dengan
agar salah satunya dinikahi oleh Ande-Ande Lumut. Namun untuk bisa mencapai rumah Ande-
Ande Lumut, mereka semua harus melewati sungai yang dijaga oleh kepiting raksasa bernama
Yuyu Kangkang.
Agar bisa melewati Yuyu Kangkang, Yuyu Kangkang memberikan syarat kepada mereka. Syarat
tersebut adalah Yuyu Kangkang harus mencium semua anak Nyi Menah.

Karena sangat ingin bertemu dengan Ande-Ande Lumut, mereka semua menyanggupi hal
tersebut. Setibanya di rumah Ande-Ande Lumut, Ande-Ande Lumut juga menolak semua
lamaran dari anak-anak Nyi Menah karena mereka telah dicium oleh Yuyu Kangkang.

Mereka semua kemudian pulang dengan perasaan kecewa. Sementara itu, Klenting Kuning juga
pergi ke rumah Ande-Ande Lumut setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Agar Yuyu Kangkang tidak mencium Klenting Kuning, Klenting Kuning mengelus pipinya
dengan kotoran ayam. Karena hal tersebut Klenting Kuning bisa sampai ke rumah Ande-Ande
Lumut tanpa dicium oleh Yuyu Kangkang.

Ande-Ande Lumut kemudian memilih Klenting Kuning sebagai istrinya. Selain itu juga Ande-
Ande Lumut berubah menjadi seorang pangeran yang bernama pangeran Inu Kertapati.

Baca Juga : 7 Rekomendasi Buku Cerita Anak Bergambar, Cek Disini!

7. Dongeng Cerita Rakyat Bawang Merah


dan Bawang Putih

Dongeng cerita rakyat yang satu ini sudah cukup terkenal, yaitu dongeng bawang merah dan
bawang putih. Pada zaman dahulu kali, di suatu desa, hiduplah seorang janda dengan 2 orang
anak, yaitu Bawang Merah dan Bawang Putih.

Bawang Merah dan Bawang Putih memiliki sifat yang saling bertolak belakang. Bawang Merah
memiliki sifat pemalas, sombong dan iri hati. Sementara Bawang Putih memiliki sifat rajin, baik
hati jujur dan rendah hati.
Selain itu juga, Bawang Putih ini adalah anak tiri dari ibunya dan saudara tiri dari Bawang
Merah.

Bawang Putih sering kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari ibunya dan Bawang
Merah, selain itu juga, Bawang Putih lebih sering mengerjakan rumah.

Suatu ketika, saat Bawang Putih sedang mencuci baju di sungai, namun sayangnya, salah satu
pakaian ibu tirinya hanyut terbawa arus. Karena takut akan dimarahi, Bawang Putih mencari
pakaian tersebut.

Setelah mencoba mencari, Bawang Putih menemukan sebuah gua dimana di dalamnya tinggal
seorang wanita tua. Bawang Putih bertanya kepada wanita tua tersebut, apakah melihat
pakaian yang sedang Bawang Putih cari.

Wanita tua tersebut berkata bahwa pakaian tersebut ada padanya, dan akan
mengembalikannya pada Bawang Putih tapi dengan satu syarat.

Syarat dari wanita tua tersebut adalah untuk membantu pekerjaannya. Bawang Putih
menyanggupi persyaratan tersebut.

Setelah membantu wanita tua tersebut, pakaian tersebut dikembalikan ke Bawang Putih.
Sebagai bentuk terima kasih, wanita itu memberikan Bawang Putih dua buah labu, buah labu
besar dan kecil. Bawang Putih diminta memilih salah satu dari kedua buah labu tersebut.

Bawang Putih akhirnya memilih buah labu yang kecil. Setibanya di rumah, Bawang Putih
dimarahi oleh ibunya dan Bawang Merah. Karena marah, ibu tirinya kemudian membanting
buah labu yang dibawa oleh Bawang Putih.

Betapa terkejutnya mereka mendapati isi labu tersebut adalah perhiasan. Bawang Putih juga
menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan labu tersebut.

Setelah mendengar ceritanya, mereka malah membentak Bawang Putih karena tidak
mengambil buah labu yang besar, karena dalam pikiran mereka, mereka bisa mendapatkan
lebih banyak perhiasan.

Karena keserakahannya, Bawang Merah juga mendatangi gua tempat nenek tua tersebut
tinggal. Namun tidak seperti Bawang Putih, Bawang Merah tidak membantu nenek tua tersebut
terlebih dahulu namun langsung meminta buah labu yang besar milik nenek tua tersebut.

Nenek tua tersebut akhirnya memberikan buah labu yang besar kepada Bawang Merah.
Setibanya dirumah, Bawang Merah dan ibunya memecahkan juga buah labu besar yang dibawa
oleh Bawang Merah.

Namun berbeda dengan Bawang Putih, buah labu yang dibawa Bawang Merah ternyata berisi
ular berbisa yang menakutkan.

Mereka berdua, Bawang Merah dan ibunya kemudian menyadari bahwa apa yang selama ini
mereka lakukan kepada Bawang Putih adalah tindakan yang tidak baik dan meminta maaf
kepada Bawang Putih.
8. Legenda Situ Bagendit

Dongeng cerita rakyat dari Yumin kali ini adalah legenda Situ Bagendit. Pada zaman dahulu
kala, di utara kota Garut, hiduplah seorang tengkulak atau pedagang perantara yang biasa
membeli padi dari para petani untuk kemudian dijual kembali yang bernama Nyai Endit.

Nyai Endit adalah tengkulak janda kaya raya yang kikir dan congkak. Nyai Endit sering kali
menekan para petani untuk menjual padinya dengan harga yang murah. Bahkan ketika para
petani sedang kesulitan, Nyai Endit menjual kembali padinya kepada petani dengan harga yang
mahal.

Nyai Endit sering kali mengadakan pesta dan menghambur-hamburkan harta dan nasi dari padi
yang dimilikinya sambil memamerkan harta-harta miliknya.

Pada suatu hari di musim kemarau, ketika stok makanan milik para petani sudah menipis, Nyai
Endit tetap mengadakan pesta di rumahnya. Pada saat pesta tersebut, datanglah seorang
pengemis tua yang meminta makanan kepada Nyai Endit.

Namun dengan sombongnya, Nyai Endit meminta para penjaganya mengusir pria tua tersebut.

Keesokkan harinya, ketika sedang berjalan-jalan di desa, Nyai Endit mendapati kerumunan yang
sedang mencoba mencabut tongkat dari tanah, namun tidak ada yang berhasil melakukannya.

Ketika Nyai Endit mendekati tongkat tua tersebut, Nyai Endit melihat pengemis tua yang
kemarin dilihatnya. Nyai Endit pun memaki pengemis tua tersebut dan mengatakan bahwa
tongkat tersebut adalah ulahnya.

Nyai Endit juga meminta pria pengemis tua tersebut untuk mencabut tongkat tersebut.
Ajaibnya, tongkat tersebut dapat dicabut oleh pengemis tua tersebut.

Setelah tongkat dicabut, tiba-tiba air mengalir yang deras mengalir dari tempat tongkat
tersebut tertancap.
Air yang mengalir keluar tersebut terus membanjiri desa tersebut, para penduduk desa
berbondong-bondong pergi menyelamatkan diri.

Namun berbeda dengan para penduduk desa, Nyai Endit justru melarikan diri ke rumahnya dan
sibuk menyelamatkan harta-hartanya. Nyai Endit kemudian tenggelam di rumahnya bersama
dengan harta-hartanya.

9. Legenda Kebo Iwa dan Asal-Usul


Gunung Batur

Dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama mendambakan keturunan. Doa
mereka dikabulkan oleh Sang Hyang Widi Wasa, dan akhirnya, seorang anak laki-laki lahir ke
dunia.

Anak ini, yang diberi nama Kebo Iwa, tumbuh dengan cepat dan memiliki nafsu makan yang tak
terpuaskan. Sejak bayi, nafsu makannya setara dengan sepuluh orang dewasa. Saat ia
bertambah dewasa, Kebo Iwa menjadi semakin kuat dan besar, membuat kedua orang tuanya
kewalahan.

Kebo Iwa, yang terkenal dengan kemarahannya, sering merusak apa pun yang ada di depannya
ketika tidak puas dengan makanan. Warga desa pun ketakutan dengan sifatnya yang ganas.

Meski begitu, Kebo Iwa bersedia membantu pekerjaan berat warga desa, seperti membuat
sumur, memindahkan rumah, dan mengangkut batu-batu besar. Ia melakukannya dengan
cekatan, namun imbalannya selalu berupa makanan dalam jumlah besar.

Suatu hari, saat musim paceklik melanda dan penduduk kesulitan memberikan makanan untuk
Kebo Iwa, mereka merasa sangat khawatir. Warga desa pun berembuk untuk mencari cara agar
Kebo Iwa tidak lagi mengancam mereka.

Akhirnya, mereka sepakat untuk membuat rencana. Warga desa mendekati Kebo Iwa dan
mengajaknya membuat sumur yang sangat besar. Mereka menjanjikan imbalan berupa
makanan dalam jumlah yang sangat banyak. Kebo Iwa setuju tanpa curiga.

Bergotong-royong, warga desa mengumpulkan makanan dan batu kapur. Mereka


menyampaikan rencana membuat rumah besar dan indah untuk Kebo Iwa sebagai imbalannya.
Sang paman kerbau pun bekerja keras menggali tanah untuk membuat sumur yang semakin
besar.

Hari demi hari berlalu, sumur yang digali oleh Kebo Iwa semakin dalam dan lebar. Kepala desa
meminta agar Kebo Iwa membuat kolam yang lebih besar lagi. Kebo Iwa, tertarik dengan janji
warga desa, setuju melanjutkan pekerjaannya.

Namun, pada suatu saat, warga desa menjalankan rencananya. Mereka melemparkan batu
kapur ke dalam lubang galian yang digali oleh Kebo Iwa, yang tanpa sadar terus bekerja. Air
semakin memancar, dan batu kapur yang masuk ke dalam lubang membuat hidung Kebo Iwa
tersumbat.
Kebo Iwa yang merasa kelelahan dan kelaparan meminta istirahat dan makanan. Warga desa
memberinya makanan dalam jumlah besar, lalu secara tiba-tiba, mereka melemparkan lebih
banyak batu kapur ke dalam lubang.

Tersedak dan tidak dapat menyelamatkan diri, Kebo Iwa akhirnya meninggal di dalam sumur
yang ia gali sendiri. Air pun meluap, menciptakan Danau Batur, sementara tanah di sekitarnya
membentuk Gunung Batur.

Inilah akhir dari legenda Kebo Iwa, yang berubah menjadi ciptaan alam yang mengagumkan di
Indonesia.

10. Cerita Rakyat Putri Ayu

dfPada zaman dahulu, empat anak raja, dua laki-laki dan dua perempuan, berkeinginan keluar
mencari petualangan di luar istana mereka. Meskipun sebagai anak raja, mereka tidak diizinkan
pergi jauh dari istana. Suatu hari, mereka mencium aroma harum yang menarik perhatian
mereka, dan meminta izin kepada orang tua mereka untuk menemukan asal bau tersebut.

Mereka menjelajah ke arah timur, menyusuri pantai utara, bahkan menyeberangi pulau Bali.
Perjalanan penuh rintangan, termasuk pertemuan dengan binatang buas seperti harimau dan
ular, namun mereka berhasil melewatinya.

Setibanya di kaki Gunung Batur, sang putri bungsu jatuh cinta pada pemandangan tersebut dan
memutuskan untuk tinggal di Pura Batur di lereng gunung. Kakak-kakaknya tidak setuju, tetapi
sang putri tetap pada keputusannya dan ditinggal sendirian di sana.

Ketiga kakaknya melanjutkan perjalanan untuk mencari bau harum. Saat tiba di suatu tempat
datar di sebelah barat daya danau, mereka mendengar kicauan burung. Kakak tertua tidak suka
dengan kelakuan adiknya yang ingin menangkap burung tersebut.

Kakak tertua meminta adiknya untuk berhenti, tetapi sang adik tidak menghiraukan dan terus
mengejar burung. Akhirnya, sang kakak meninggalkannya karena tidak menuruti.

Di tempat lain, mereka bertemu dua wanita yang sedang mencari kutu. Adik perempuan tertarik
untuk ikut bersama mereka. Kakak tertua marah dan meminta adiknya untuk melanjutkan
perjalanan atau tinggal di sana. Adik memilih tinggal, dan sang kakak meneruskan perjalanan
sendiri.

Tiba di Desa Trunyan, sang kakak tertua merasa bau harum yang dicari selama ini. Ia menyadari
bahwa bau itu berasal dari Pohon Taru Menyan. Di sana, ia bertemu Putri Ayu yang cantik.
Mereka menikah, dan sang kakak menjadi kepala desa, hidup bahagia bersama Putri Ayu.

11. Nagari Minangkabau


Di zaman dahulu, di Sumatera Barat, terdapat Kerajaan Pagaruyung yang dipimpin oleh seorang
raja bijaksana. Suatu hari, kabar mengejutkan datang bahwa Kerajaan Majapahit dari Jawa akan
menyerang. Meski demikian, pemimpin Pagaruyung tidak gentar.

Dalam sidang darurat, para pemimpin mencari solusi untuk menghindari pertumpahan darah.
Penasehat Raja menyarankan pendekatan damai dengan mengundang musuh untuk berunding
di perbatasan. Jika ditolak, mereka bisa mengadakan adu kerbau.

Rencana ini disetujui, dan putri Datuk Tantejo Garhano bersama dayang-dayang cantik
menyambut pasukan Majapahit dengan sopan. Mereka mengajak musuh berunding sambil
menyuguhkan hidangan lezat.

Pemimpin Majapahit terkesan dengan perlakuan ini, sehingga mereka setuju untuk adu kerbau
sebagai ganti peperangan. Kedua belah pihak sepakat untuk memilih kerbau tanpa menentukan
jenis atau ukuran.

Pertandingan adu kerbau berlangsung di lapangan luas. Kerbau Pagaruyung yang tampak
lemah sebenarnya memiliki taktik rahasia. Anak kerbau itu dipasangi besi runcing di mulutnya.

Dalam persiapan untuk adu kerbau yang akan menentukan nasib Kerajaan Pagaruyung, sang
Raja dan penasehatnya merancang rencana rahasia. Mereka memilih seekor anak kerbau yang
tampak lemah dan masih menyusu. Namun, yang membuatnya unik, di mulut anak kerbau itu
dipasang besi runcing berbentuk kerucut, sementara sehari sebelum pertandingan, ia
dipisahkan dari induknya dan sengaja dibuat lapar.

Keesokan harinya, saat pertandingan di padang yang luas, anak kerbau yang tampak tak
berdaya itu dilepas ke arena. Di sisi lain, kerbau milik pasukan Majapahit tampil beringas dan
siap tempur. Begitu keduanya saling berhadapan, anak kerbau Pagaruyung, tanpa sadar, mulai
mendekati kerbau besar lawan, mengira bahwa itu adalah induknya.

Pandangan penonton dari kedua belah pihak terfokus pada momen tegang ini. Saat anak kerbau
Pagaruyung mendekati perut kerbau besar, besi runcing di mulutnya dengan sigap menembus
perut lawan. Tidak terduga, perut kerbau pasukan Majapahit terluka dan darah mulai mengalir.
Setelah beberapa tusukan, kerbau Majapahit roboh.

Pagaruyung memenangkan pertandingan tanpa pertumpahan darah. Kabar kemenangan ini


menyebar, dan tempat itu kemudian dinamakan Nagari Minangkabau. Untuk mengenang
peristiwa tersebut, penduduk membangun rumah rangkiang yang atapnya menyerupai tanduk
kerbau.

12. Cerita Rakyat Si Kabayan

Dahulu kala di tanah Pasunda hiduplah Si Kabayan, seorang lelaki cerdas namun pemalas.
Kepandaian yang dimilikinya lebih sering digunakan untuk mengecoh dan mendukung
kemalasannya. Ia memiliki istri bernama Nyi Iteung. Suatu hari, mertuanya memerintahkan Si
Kabayan untuk mengambil siput-siput di sawah. Dengan malasnya, Si Kabayan pergi ke sawah
dan hanya duduk di pematang tanpa mengambil satu pun siput.

Lama tak pulang, mertuanya mendatangi sawah dan kaget melihat Si Kabayan hanya duduk
santai. Saat ditanyai, Si Kabayan memberikan alasan tak masuk akal bahwa ia takut karena

Anda mungkin juga menyukai