0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan3 halaman

Cerpen G30SPKI

cerpen g30spki adalah cerpen bertemakan sejarah pada masa g30spki dengan campur tema fantasi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan3 halaman

Cerpen G30SPKI

cerpen g30spki adalah cerpen bertemakan sejarah pada masa g30spki dengan campur tema fantasi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Diculik dan dijadikan pelacur.

Memang benar apa yang dikatakan oleh temanku, kecantikan bagi


orang miskin adalah sebuah musibah. Seperti sekarang, menjadi cantik memang keberkahan dari
tuhan, namun secara tidak langsung malah membuatku menjadi pelacur para lelaki bajingan. Marah,
kecewa, sedih perasaan itu sudah melengkapi kehidupanku selama beberapa hari ini. Sudah berusaha
kabur sebanyak mungkin, tapi takdir berkata lain. Semakin ingin kabur dari sini, maka semakin pula
disiksa. Siksaan sudah menjadi makanan sehari-hari. Entah kapan tuhan akan berpihak padaku dan
membantuku keluar dari tempat terkutuk ini.
“Cepat bawa wanita ini ke ruangan komandan!” Ucap salah seorang yang ingin sekali ku cakar
wajahnya
Seperti biasa, aku diseret paksa menuju tempat yang haram dan terkutuk. Aku memejamkan mata,
berharap kali ini tuhan membantuku.
“Lapor, wanita bernama Atikah telah melarikan diri” Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dengan
wajah panik menemui orang yang sekarang menyererku.
“Kurang ajar! Cepat temukan dia dan bawa dia kesini lagi! Jangan sampai komandan tau akan hal ini”
Melepaskan cengkeram tangannya pada lenganku, dia berlari disusul rekannya yang lain. Tentu, aku
sekarang masih berada di cengkraman salah satu orang lagi. Memutar otak, aku berpikir bisa
melarikan diri dari sini, mengingat sebagian penjaga berlari mengejar Atikah dan hanya aku dan
penjaga disebelahku ini yang tersisa.
Dengan sekuat tenaga, aku menghentakkan tangannya, Dan yap! Lepas. Aku segera berlari namun
nihil, penjaga itu mencegahku dan ingin menangkapku lagi. Berusaha berontak dan menghindar
sebisa mungkin
“Mau kemana kau Zahra?!” Ucap orang tersebut
“Aku ingin melarikan diri dari sini! Tempat ini sempet neraka yang terkutuk!”
“Kau tidak akan bisa keluar dari sini, kembali! Atau esok hari kau akan mendapat siksaan yang lebih
pedih daripada hari ini!”
Tidak kupedulikan perkataan orang tersebut, aku menendang alat kelaminnya dan langsung melarikan
diri melewati pintu belakang tempat ini. Terdengar umpatan keras dari dalam tempat itu, namun aku
tidak peduli. Dengan sisa tenagaku, aku berlari menyusuri hutan ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan yang tidak akan datang dua kali

***
Aku sampai disebuah tempat. Entah ini dimana, aku sampai disebuah rumah yang ramai dengan
mobil, sepertinya itu mobil para pejabat, mungkin orang yang tinggal dirumah tersebut adalah orang
kaya mengingat tdak semua orang punya mobil dan mustahil jika mempunyai tamu yang memiliki
mobil sebagus itu. Orang kaya pasti temannya orang kaya juga. Itu yang selalu tertanam pada
pikiranku.
Mungkin aku bisa minta bantuan dari orang tersebut. Setidaknya, malam ini aku tidak tertangkap.
Aneh, rumah ini dipenuhi mobil tapi ketika aku mengetuk pintunya, kenapa tidak ada yang menyahut
dari dalam?
“Permisi, pak”
“Permisi Bu”
Lama sekali aku memanggil, sampai terdengar suara tembakan dari dalam, aku terkejut, pasti. Disusul
suara jeritan seorang anak. Mendadak tubuhku lemas, ada apa ini? Apakah aku berada ditempat yang
salah lagi? Aku segera bersembunyi dibalik pohon besar samping rumah tersebut. Entahalah, jika
lari’pun aku rasa tidak sempat, karena aku yakin dalam hitungan detik, sekelompok orang akan keluar
dari rumah tersebut.
Benar saja, sekelompok orang memakai seragam yang sama terlihat menyeret paksa seseorang.
Seseorang tersebut terlihat menahan sakit dengan berjalan tertatih-tatih. Sayang sekali, cahaya bulan
tidak cukup untuk menerangi penglihatan, aku tidak bisa menatap wajah seseorang tersebut.
Mobil tersebut pergi dengan cepat, meninggalkan teriakan yang nyaring dari dalam rumah. Entah
sudah kehilangan akal atau bagaimana, aku mendekat, menghampiri rumah tersebut dengan rasa
penasaran yang tinggi. Tanpa salam, aku langsung masuk kedalam rumah yang pintunya terbuka itu.
“Permisi” Ucapku sambil masuk dengan hati-hati
Mataku melebar kala melihat anak kecil yang tangannya berlumuran darah, aku langsung berlari
menghampiri anak tersebut. Dia terkejut dan mengambil langkah mundur saat melihatku. Mungkin
dia mengira aku termasuk dari kelompok keji tadi.
“Halo, saya bukan orang jahat. Saya kebetulan lewat sini, dan mendengar suara tembakan. Karena
penasaran, saya berinisiatif kesini” ucapku disertai senyum ramah
Dia memandangku lama, lalu mengucapkan sebuah kalimat sambil menangis
“Bapak... tolong bapak saya” Ucapnya dengan sesenggukan
Aku menebak bahwa seseorang yang dibawa sekelompok orang tadi adalah bapak dari anak ini.
“Mama... diatas... tolongg..” Aku langsung mengalihkan atensiku kembali ke anak tersebut.
“Apa Ibumu ada diatas?” Tanyaku dan dijawab anggukan oleh anak tersebut. Baiklah, sepertinya aku
harus naik ke atas
“Ayo kita temui Ibumu” Ucapku sambil menggandeng anak tersebut
Belum sampai aku melangkahkan kakiku, terdengar suara tembakan lagi dari luar.
“Berhenti, dan ikut kami!” Sial, sepertinya aku salah dengan tetap mengunjungi rumah ini.

***
Gelap. Kepalaku ditutupi oleh sebuah kain hitam. Entah kemana mereka membawaku, aku merasa ini
sudah cukup lama aku terduduk dimobil.
Tiba-tiba saja kain penutup kepalaku dibuka secara kasar, bukan aku belum sampai ditempat di mana
aku yakin akan dijadikan wanita penghibur. Aku baru saja melewati sebuah palang. Semakin masuk
maka semakin banyak hal yang membuatku meringis ngeri, disepanjang jalan banyak sekali manusia-
manusia diseret secara paksa oleh manusia lain menggunakan rantai, sekelompok orang meminum
miras, ada yang menggali lubang seperti sumur, dan juga komplotan yang menyiksa seseorang
meskipun orang tersebut sudah sekarat.
Aku yakin sekali jika orang yang kutemui dirumah asing tadi dibawa kemari.
Mobil berhenti disebuah rumah, lalu aku diseret keluar dari mobil memasuki rumah tersebut.
“Siapa yang kau bawa?” Tanya salah satu penjaga rumah tersebut
“Aku membawa permintaan tuan” Penjaga tersebut menelitiku, lalu mengizinkan kami untuk masuk
“Malam Komandan Aidit, saya membawa seorang gadis yang melihat penembakan”
Orang itu menoleh lalu berjalan ke arahku
“Cantik juga” Orang yang bernama Aidit, aku mengenalnya, Dipa Nusantara Aidit, wajahnya pernah
muncul ditelevisi. Orang ini... ternyata adalah otak dari semua kejadian mengerikan ini.
“Tinggalkan kami” Orang yang menculikku kesini seketika pergi menyisakan aku dan orang kejam di
hadapanku DN Aidit.
“Apa kau melihat hal-hal yang mengerikan saat perjalanan kesini?” Tanyanya sambil menampilkan
senyum yang menyeramkan bagiku.
“Hari ini 30 September aku akan melenyapkan mereka semua dan menggulingkan pemerintahan
Soekarno” Ucapnya sambil tertawa
Lalu aku digeret ke jendela
“Lihat, disana orang-orang itu akan dikubur hidup-hidup, ke dalam lubang buaya”
“Biarkan jasad mereka membusuk, atau menjadi santapan para buaya, orang-orang itu hanya
menyusahkanku saja”
Aku menangis dalam bungkam menyaksikan ini semua, jasad mereka ditumpuk secara terbalik
menjadi satu dalam sebuah lubang yang sama, aku melihatnya mereka masih membuka mata dengan
susah payah, namun orang yang mengubur mereka tampak tidak peduli dan menutup lubangnya. 30
September 1965, keji sekali hal yang ku tonton ini.
Dalam hati aku mengutuk setiap orang yang melakukan kejahatan disini, hidup mereka tidak akan
tenang.

Anda mungkin juga menyukai