SENJA TERAKHIR
"Ziyad Alfayed"
Aku melangkahkan kakiku cepat ke sebuah kereta laju berbentuk tabung besar di stasiun Kota
Indraloka. Ku ingin berangkat ke stasiun Bukit Kota Raya. Tak lama Aku memasuki keretanya
dan kereta melaju bak petir tiada tandingan.
Tak sampai 6 menit diriku termenung , kereta berhenti di stasiun tujuan yang ingin ku tuju.
Cepat langkah ku keluar dari stasiun itu, tanpa berhenti kemanapun aku langsung berjalan ke
tepian bukit biasa aku dan Fana (sahabat ku). Sesampai disana sebuah tepian yang aku dapat
melihat dengan jelas kota indah Indraloka ni. Ku sudah melihat Fana, dengan gitar dan kopi
yang sudah ia pegang
"Hai, cepat sekali kau datang dan" ucap ku
" Haha, entah mengapa seperti nya aku terlalu bersemangat" jawabannya.
Aku langsung duduk bersamanya dan kami pun menikmati senja kami. Lagu karya karya
Fourtwnty seperti biasa kami nikmati sembari melepaskan penat pekerjaan hidup kami dengan
ditemani segelas kopi.
"Hei senja, bagaimana jikalau kota yang indah ini hancur? Dan bagaimana engkau dan keluarga
ku" Tiba-tiba Fana bertanya pertanyaan aneh
"Gila dirimu tanya hal gituan" jawab ku heran
'tidak ada aku hanya ingin menanyakan nya" jawab nya
"Hemz mungkin aku akan merasa kesepian engkau tentunya harus bertugas mengevakuasi dan
membantu warga warga yang terkena dampak nya" jawab ku
"Terus, kalau aku meninggal disaat bertugas??" Sebuah pertanyaan aneh lagi ia lontarkan
"Gila gila aja mu nany ginian, sudahlah Fan jangan bahas yang tidak tidak" aku jawab dengan
sedikit marah
Keesokan hari
Aku meminum segelas teh yang sudah kubuat barusan ditemani sebuah roti yang tadi aku beli
di minimarket dekat rumah ku. Aku menikmati pagi tenang ku didepan rumah ku ini, sebuah
rumah tak terlalu kecil yang lokasinya tidaklah jauh dari central kota.
Belum setengah gelas teh kuminum, aku merasa sebuah getaran aneh yang ku bingung
darimana. Aku panik! Panik bukan sembarang panik. Aku berlari ke jalan komplek ku, aku sudah
melihat warga setempat rusuh, ribut, panik, sedih, dan takut menjadi satu sebuah hal yang
susah untuk ku definisikan.
Tak lama keadaan sangat cemas itu gempa pun berhenti, semua orang terlihat panik, bingung,
takut, dan sedih. Kota pun murung terlihat nya. Walau aku tak mengetahui siapa Ayah ku siapa
ibu ku aku tetap merasakan sebuah rasa sedih yang amat mendalam, bagaimana kabar Fana?
Bagaimana kabar keluarga nya? Bagaimana kabar kawan kawan? Dan bagaimana kabar
pengurus panti?
Warga mengungsi ke tempat pengungsian posko c di Bukit Raya Indraloka. Aku juga ikut
mengungsi, aku pergi kesana bersama keluarga Fana memang aku sudah dianggap keluarga
disana. Sesampai disana, aku masih bingung oleh kabar kabar dari orang orang dekat ku
terutama Fana. Tepat pukul 2 siang, tenda tenda pengungsian kisruh susah untuk di
deskripsikan aku hanya ingin termenung sedih dan takut bersama keluarga Fana. 3 jam kami
menunggu kabar dari Fana, ia pun datang ternyata ia selamat. Ia baru saja bertugas tim SAR
bencana kota kami. Aku, Fana, dan orang tua nya berpelukan dengan Isak tangis yang susah tuk
dibendung lagi.
Aku dan Fana pergi ke tempat yang biasa kami buat untuk nongkrong senja hari, kami sedih
melihat pemandangan yang sudah tidak sama. Sebuah kota yang dulu nya terlihat indah
sekarang terlihat bak kapal pecah. "Hei Senja, aku menyesal berucap kata kata ku kemsren"
sesal nya. "Jangan merasa bersalah Fan ini semua kuasa Tuhan, kemaren kita merasa senang
hari ini kita merasakan kepedihan tidak ada rencana Tuhan yang dapat kita tebak" jawab
ku."hei senja, aku menitipkan ayah dan ibu ku, jagalah mereka. Engkau sudah tau bukan
mereka sudah mengganggap mu bagai anak mereka sendiri" pesan Fana."Jangan takut aku
sudah mengganggap ini sebagai tanggung jawab ku" aku meyakinkannya. Kami pun berpisah, ia
melanjutkan pekerjaannya mengevakuasi korban gempa.
Disaat malam sunyi kira kira pukul 8 malam, terjadi sebuah gempa susulan yang bukan main
guncangan nya. Posko pengungsian ricuh, semua orang panik termasuk diriku. Tak berselang
lama, sebuah tsunami menghanyutkan dan menenggelamkan kota kami. Aku menangis dan
teriak sekuat kuatnya. Semua warga menangis, menangis akan keluarganya yang lain, menangis
melihat kota indahnya ini sudah tidak ad apa apa nya lagi.
Tsunami mulai surut, 1 pengungsian masih tenggelam dalam sebuah kesedihan yang teramat
mendalam. Aku berkumpul bersama keluarga Fana mendoakan kerabat serta Fana untuk diberi
keselamatan oleh Tuhan. Keesokan harinya, kami semua terlihat sedih karena menunggu kabar
apakah keluarga, teman, kerabat, saudara, guru, dan orang penting warga masing masing
selamat???
Sebuah surat dengan tujuan ayah dan ibu Fana serta nama ku "senja" tercantum disurat itu.
Kami deg deg an takut dan panik membuka surat tersebut. Kami tercengang, menangis, sedih,
dan kaget atas isi surat tersebut. Aku tak bisa menahan kesedihan ku lagi, kota ku sudah direbut
mengapa sekarang harus sahabat ku. Surat itu berisi tentang informasi Kematian Fana akibat
terseret Tsunami tadi malam. Aku.. aku ... Aku sungguh merasa sedih.
1 Minggu kemudian Aku beserta ayah dan ibu Fana mendatangi kuburan pahlawan tsunami.
Kami menziarahi makam seseorang pahlawan hebat yang membantu warga kota hingga akhir
hayatnya, ia adalah "FANA". Seseorang yang Minggu lalu aku bersenang senang bersamanya,
bersedih bersama nya, dan ditinggalkan oleh dirinya.
Acara ini ditutup dengan sebuah pidato singkat yang dibawakan oleh walikota. Diakhir pidato ia
mengatakan "mungkin kemaren kita merindukannya, kemaren kita menyiapkannya bertugas,
kita bersenang-senang bersama nya, kita sedih bersamanya, kita ditinggalkan oleh dirinya. Kita
mungkin bersedih atas peristiwa ini, akan tetapi didunia ini tidak ada yang abadi, semua akan
kembali kepada Tuhannya atas rencana Tuhannya. Marilah kita memandang untuk kedepannya.
Sebuah pesan duka untuk seluruh warga Indraloka, saya mengucapkan bela sungkawa atas
peristiwa ini.cukup sekian. Wassalamu'alaikum"
Aku ayah dan ibu Fana mengikhlaskan selapang dada atas kejadian peristiwa ini. Kami harus
mengikhlaskan kehancuran kota, kepergian Fana, dan lain nya.
Engkau kan selalu di kenang salam dari Senja mu, Fana