50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan2 halaman

Contoh Resensi Cerpen

Cerpen berjudul "Setagen" menceritakan Dyah, putri bangsawan di Yogyakarta yang hidupnya diatur oleh ibunya. Dyah membenci memakai setagen tetapi harus mematuhinya. Suatu malam setelah acara arisan, Dyah membaca buku sambil melepas setagen dan tidak sadar melilitkannya di lampu, sehingga terjerat dan meninggal. Cerpen ini menggambarkan budaya Jawa namun dikritik karena akhir cerita yang tidak baik untuk
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan2 halaman

Contoh Resensi Cerpen

Cerpen berjudul "Setagen" menceritakan Dyah, putri bangsawan di Yogyakarta yang hidupnya diatur oleh ibunya. Dyah membenci memakai setagen tetapi harus mematuhinya. Suatu malam setelah acara arisan, Dyah membaca buku sambil melepas setagen dan tidak sadar melilitkannya di lampu, sehingga terjerat dan meninggal. Cerpen ini menggambarkan budaya Jawa namun dikritik karena akhir cerita yang tidak baik untuk
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Contoh Resensi Cerpen

I NYOMAN WIRA SUMANTRI

1. Identitas Cerpen
Judul : Setagen
Pengarang : Mayana Sulistyani
Tahun Terbit : 2006
Penerbit : Departemen Pendidikan Nasional
Jumlah Halaman : 7 halaman

2. Sinopsis
Dyah adalah putri bungsu satu-satunya dari sebuah keluarga bangsawan di
Yogyakarta. Meskipun umurnya masih muda, tetapi ibunya yang sangat kental dengan
peradaban jawa sudah menyuruhnya untuk mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang
umum dilakukan sebagai putri dari keluarga bangsawan. Semua hal yang dilakukan
oleh Dyah diatur. Cara bersikap, dan cara berpakaian Dyah harus selalu sesuai dengan
apa yang dikatakan oleh ibunya. Segala sesuatu yang dilakukan oleh Dyah selalu
dilarang ibunya dengan alasan “Saru”. Meskipun begitu, Dyah secara diam-diam tidak
menyukainya. Meskipun Dyah adalah anak yang sangat penurut, tapi diam-diam dia
memiliki jiwa pemberontak dalam hatinya meskipun hal tersebut tidak pernah
ditunjukkannya pada ibunya. Dyah sering berkhayal bermain bersama teman-teman
yang hanya ada dalam ilusi semata. Karena selama ini ibunya melarangnya bermain
bersama anak-anak tetangga yang bukan berasal dari keluarga keraton. Teman-
temannya yang berasal dari buku-buku cerita yang sering dibacanya membuat Dyah
merasa bahagia dan sedikit terlepas dari tekanan peraturan yang telah diterapkan oleh
ibunya.
Salah satu peraturan yang paling dibenci oleh Dyah adalah memakai setagen
pada pakaiannya. Menurutnya memakai lilitan stagen pada pinggangnya sangat
mengganggu karena membuatnya susah untuk bernafas. Suatu hari, Dyah disuruh oleh
ibunya untuk menggantikan ibunya menerima tamu pada sebuah acara arisan. Pada
malam harinya, dengan rasa lelah Dyah beristirahat setelah melepaskan setagen yang
selalu melilit pinggangnya. Malam itu, Dyah membaca buku Peter Pan. Segera saja,
Dyah yang selalu merasa kesepian langsung terhanyut dalam kisah petualangan Peter
Pan di negeri Neverland, Peter mengajaknya untuk pergi bersamanya ke negeri
Neverland dengan cara berayun-ayun di akar gantung pepohonan yang tiba-tiba
muncul di dalam kamar Dyah. Tanpa Dyah sadari, ternyata sulur pepohonan yang tiba-
tiba muncul itu adalah setagennya yang dililitkannya tanpa sadar di lampu kamarnya.
Dan keesokan paginya, Kanjeng Ibu dan Kanjeng Romo menemukan Dyah telah tewas
akibat terjerat setagen yang melilit lehernya.

4. Nilai penilaian terhadap cerpen


Kelebihan Cerpen
Cerita ini mengangkat latar belakang kehidupan modern yang masih kental dengan sisi
budaya jawa. Hal ini bagus untuk melestarikan kebudayaan Indonesia di kalangan
pembaca yang berusia muda. Selain itu, cerita ini juga menjelaskan arti istilah-istilah
jawa yang ada dalam cerita sehingga pembaca yang tidak mengerti bahasanya bisa
memahami maksud ceritanya.
Kekurangan Cerpen
Cerita ini memiliki akhir yang kurang bagus untuk ditiru oleh generasi muda, yakni
ketika tokoh utamanya , Dyah, bunuh diri dengan cara melilitkan setagen di lehernya

Anda mungkin juga menyukai