0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan5 halaman

Panduan Diagnosa dan Penanganan Hipertensi

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan5 halaman

Panduan Diagnosa dan Penanganan Hipertensi

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PANDUAN PRAKTEK KLINIS (PPK)

RSUD PROVINSI NTB


2024 - 2027

“HIPERTENSI”

Diagnosis hipertensi ditegakkan bila TDS  140 mmHg dan/atau TDD 90
PENGERTIAN
mmHg pada pengukuran di klinik atau fasilitas layanan Kesehatan.

1. Durasi hipertensi
2. Riwayat terapi hipertensi sebelumnya dan efek sampingnya bila ada
3. Riwayat hipertensi dan kardiovaskular pada keluarga
4. Kebiasaan makan dan psikososial
5. Faktor risiko lainnya : kebiasaan merokok, perubahan berat badan, dislipidemia,
ANAMNESIS diabetes, inaktivitas fisik
6. Bukti hipertensi sekunder (tabel 2) : riwayat penyakit ginjal, perubahan
penampilan, kelemahan otot (palpitasi, keringat berlebih, tremor), tidur tidak
teratur, mengorok, somnolen di siang hari, gejala hipo- atau hipertiroidisme,
riwayat konsumsi obat yang dapat menaikkan tekanan darah
7. Bukti kerusakan organ target : riwayat TIA, stroke, buta sementara, penglihatan
kabur tiba-tiba, angina, infark miokard, gagal jantung, disfungsi seksual

PEMERIKSAAN
1. Pengukuran tinggi dan berat badan, tanda-tanda vital
FISIK
2. Metode auskultasi pengukuran TD :
 Semua instrumen yang dipakai harus dikalibrasi secara rutin untuk
memastikan keakuratan hasil.
 Posisi pasien duduk di atas kursi dengan kaki menempel di lantai
dan telah beristirahat selama 5 menit dengan suhu ruangan yang
nyaman.
 Dengan sfigmomanometer, oklusi arteri brakialis dengan
pemasangan cuff di lengan atas dan diinflasi sampai di atas TD
sistolik. Saat deflasi perlahan-lahan, suara pulsasi aliran darah
dapat dideteksi dengan auskultasi dengan stetoskop tipe bell/genta
di atas arteri tepat di bawah cuff.
 Tekanan sistolik = suara fase 1 dan tekanan diastolik = suara fase 5.
 Pengukuran pertama harus di kedua sisi lengan untuk
menghindarkan kelainan pembuluh darah perifer.
 Pengukuran tekanan darah pada waktu berdiri diindikasikan pada
pasien dengan risiko hipotensi postural (lanjut usia, pasien DM,
dll).

Rekomendasi follow-up pengukuran TD pada dewasa tanpa kerusakan


organ target

3. Palpasi leher apabila terdapat pembesaran kelenjar tiroid


4. Palpasi pulsasi arteri feoralis, pedis
5. Auskultasi bruit karotis, bruit abdomen
6. Funduskopi
7. Evaluasi gagal jantung dan pemeriksaan neurologis

1. Kecurigaan Hipertensi White-coat


 Hipertensi tingkat 1 di klinik
 TD tinggi di klinik pada pasien tanpa kerusakan target organ asimtomatik
dan total risiko kardiovaskular rendah
2. Kecurigaan masked hypertension
KRITERIA  TD normal tinggi di klinik
 TD normal di klinik pada pasien dengan kerusakan target organ dan total
DIAGNOSIS
risiko kardiovaskular tinggi
3. Identifikasi efek white-coat pada pasien hipertensi
4. Variabilitas TD yang besar pada satu kunjungan atau antar kunjungan di klinik
5. Hipotensi akibat obat, postural, otonom, atau post-prandial
6. Identifikasi hipertensi resisten sesungguhnya atau semu

DIAGNOSIS
KERJA Prahipertensi

1. Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertension


2. Rasa nyeri
DIAGNOSIS
3. Peningkatan tekanan intraserebral
BANDING 4. Ensefalitis
5. Akibat obat, dll

PEMERIKSAAN 1. Urinalisis
2. Tes fungsi ginjal
PENUNJANG
3. Ekskresi albumin
4. Serum BUN
5. Kreatinin
6. Gula darah
7. Elektrolit
8. Profil lipid
9. Foto toraks
10. EKG; sesuai penyakit penyerta : asam urat
11. Aktivitas renin plasma
12. Aldosterone
13. Katekolamin urin
14. USG pembuluh darah besar
15. USG ginjal
16. Ekokardiografi

TATA LAKSANA 1. Modifikasi gaya hidup.


2. Pemberian ẞ-blocker pada pasien unstable angina / non-ST elevated
myocardial infark (NSTEMI) atau STEMI harus memperhatikan kondisi
hemodinamik pasien. ẞ-blocker hanya diberikan pada kondisi
hemodinamik stabil.
3. Pemberian angiotensin convertin enzyme inhibitor (ACE-1) atau
angiotensin receptor blocker (ARB) pada pasien NSTEMI atau STEMI
apabila hipertensi persisten, terdapat infark miokard anterior, disfungsi
ventrikel kiri, gagal jantung, atau pasien menderita diabetes danpenyakit
ginjal kronik.
4. Pemberian antagonis aldosteron pada pasien disfungsi ventrikel kiri bila
terjadi gagal jantung berat (misal gagal jantung New York Heart
Association/NYHA kelas III-IV atau fraksi ejeksi ventrikel kiri <40%
dan klinis terdapat gagal jantung)
5. Kondisi khusus lain:
a. Obesitas dan sindrom metabolik
Terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki-laki >102
cm atau perempuan >89 cm, toleransi glukosa terganggu dengan gula
darah, puasa 110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmHg,
trigliserida tinggi 150 mg/dl, kolesterol HDL rendah <40 mg/dl pada
laki-laki atau <50 mg/dl pada perempuan) à modifikasi gaya hidup
yang intensif dengan pilihan terapi kelompok utama ACE-1. Pilihan
lainnya adalah ARB, CCB.3
b. Hipertrofi ventrikel kiri
 Tatalaksana agresif termasuk penurunan berat badan dan restriksi garam
 Pilihan terapi: dengan semua kelas antihipertensi
 Kontraindikasi: vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil
c. Penyakit arteri perifer: semua kelas anti hipertensi, tatalaksana faktor
risiko lain, dan pemberian aspirin.
d. Lanjut usia (≥ 65 tahun)
 Identifikasi etiologi lain yang bersifat ireversibel
 Evaluasi kerusakan organ target
 Evaluasi penyakit komorbid lain yang mempengaruhi prognosis
 Identifikasi hambatan dalam pengobatan
 Terapi farmakologis: diuretik thiazid (inisia!), ССВ.
e. Kehamilan
 Pilihan terapi: metildopa, ẞ-blocker, dan vasodilator.
 Kontraindikasi: ACE-I dan ARB.

EDUKASI  Edukasi pemeriksaan hipertensi


 Edukasi gaya hidup sehat
 Edukasi terapi/pengobatan hipertensi

Terapi kombinasi obat dan modifikasi gaya hidup umumnya dapat


PROGNOSIS mengontrol tekanan darah agar tidak merusak organ target. Pemberian obat
antihipertensi harus terus diminum untuk mengontrol pada hipertensi dan
mencegah komplikasi.
TINGKAT I/II/III/IV
EVIDENS
PENELAAH
KSM
KRITIS
Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam ; Panduan Praktik Klinis.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Jakarta.
KEPUSTAKAAN 2015
Konsensus Penatalaksanaan Hipeertensi 2021: Update Konsensus PERHI
2019

Mataram, 30 September 2024

Ketua Komite Medik Ketua KSM Penyakit Dalam

Dr. I Komang Yose Antara, Sp.B dr. Haris Widita, Sp.PD, K-GEH, FINASIM
NIP. 19830408 201001 1 007 NIP. 19640125 199002 1 002

Direktur RSUD Provinsi NTB

dr. H.L. Herman Mahaputra, Mkes, MH


NIP. 19681110 200212 1 003

Anda mungkin juga menyukai