0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan22 halaman

Standar Pengujian Aspal untuk Jalan

Dokumen ini membahas standar pengujian aspal untuk perkerasan jalan, termasuk pengujian penetrasi, titik lembek, titik nyala, dan berat jenis. Setiap pengujian memiliki tujuan, metode, dan peralatan yang spesifik untuk menentukan kualitas aspal sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Pengujian ini penting untuk memastikan mutu dan konsistensi aspal yang digunakan dalam konstruksi jalan.

Diunggah oleh

Aldi Jamindo
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan22 halaman

Standar Pengujian Aspal untuk Jalan

Dokumen ini membahas standar pengujian aspal untuk perkerasan jalan, termasuk pengujian penetrasi, titik lembek, titik nyala, dan berat jenis. Setiap pengujian memiliki tujuan, metode, dan peralatan yang spesifik untuk menentukan kualitas aspal sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Pengujian ini penting untuk memastikan mutu dan konsistensi aspal yang digunakan dalam konstruksi jalan.

Diunggah oleh

Aldi Jamindo
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MATA KULIAH

PERKERASAN JALAN

Ir. Afifah Masruniwati, ST., MT

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS PATOMPO
PERTEMUAN KE-5
STANDAR PENGUJIAN ASPAL
Aspal merupakan bahan pengikat agregat yang mutu dan jumlahnya sangat menentukan keberhasilan suatu
campuran berasapal yang merupakan bahan jalan.
Pengujian aspal yang dilakukan tentunya berpedoman pada spesifikasi yang sesuaidengan angka penetrasinya.
Pada Pelaksanaan pengujian, aspal yang diuji merupakan aspal dengan angka penetrasi 60/70 sehingga aspal
tersebut harus memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan

❑ Standar Pengujian Aspal


Adapun macam-macam pengujian aspal, diantaranya adalah sebgaia berikut :

❖ 1. Pengujian Penetrasi Aspal SNI.06-2456 -1991


❑ Ruang Lingkup
• Spesifikasi ini mencakup, ketentuan, persyaratan aspal keras Pen 40, Pen 60 dan Pen 80, yang digunakan
sebagai acuan dalam menilai mutu aspal keras untuk pekerjaan perkerasan jalan beraspal.
• Cara uji penetrasi aspal ini mencakup penentuan nilai penetrasi dari bahan-bahan bitumen semi solid & solid,
Jarum-jarum penetrasi, cawan dan kondisi pengujian dijelaskan pada cara uji ini untuk menentukan nilai
penetrasi sampai dengan 500
▪ Acuan Normatif
SNI 06-2432-1991 : Metode pengujian titik lembek
SNI 03-6399-2000 : Tata cara pengambilan sampel
SNI 19-6421-2000 : Spesifikasi standartermometer
ASTM E 77 : Test method for inspection and verivication of liguid in glass thermometer
❑ Penetrasi
Kekerasan yang dinyatakan sebagai kedalaman masuknya jarum penetrasi standar secara vertical yang
dinyatakan dalam satuan 0,1 mm pada kondisi beban, waktu dan temperature yang diketahui
❑ Tujuan
Pengujian tersebut bertujuan untuk menentukan angka penetrasi aspal yang akanmenjadi acuan spesifikasi
pada karakteristik lainnya
❑ Kegunaan
Cara uji penetrasi ini dapat digunakan untuk mengukur konsistensi aspal. Nilai penetrasi yang tinggi
menunjukkan konsistensi aspal yang lebih lunak
❑ Ringkasan cara uji
Contoh aspal dipanaskan dan didinginkan pada kondisi sesuai ketentuan. Nilai penetrasi diukur dengan
penetrometer pada kondisi tertentu
❖ Peralatan
❑ Penetrometer
Ada dua macam penetromer yaitu penetrometer manual dan
penetrometer automatis. Perbedaannya terlatak :
1. Pengukuran waktu. Pada manual menggunakan stopwatch sementara
penetrometer automatis tidak diperlukan
2. Saat pengujian tombol pada pemegan jarum penetrometer manual harus
ditekan 5±0,1 detik sampai waktu ditentukan sedangan penetrometer
automatis ditekan hanya pada saat permulaan pemgujian dan akan
berhenti secara otomatis setelah waktu 5±0,1 detik
Kedua alat ini terdiri dari
1. Alat penetrometer yang dapat melepas pemegan jarum untuk bergerak
vertical tanpa gesekan dan dapat menunjukkan kedalaman penetrasi
(masuknya jarum ke dalam benda uji sampai 0,1 mm terdekat)
2. Berat pemegan jarum 47,5 gram ± 0,05 gram. Berat total pemegan jarum
beserta jarum 50 gram ± 0,05 gram
Penetrometer 3. Berat beban 50 gram ± 0,05 gram dan 100 gram ± 0,05 gram sehingga dapat
digunakan untuk mengukur dengan berat total 100 gram atau 200 gram
sesuai kondisi pengujian yang diinginkan
Persyaratan
Aspal keras berdasarkan penetrasi harus sesuai dengan tabel 1
❖ 2. Pengujian Titik Lembek SNI.06-2456 -1991
❑ Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengujian ini adalah menentukan titik lembek aspal padat dan ter dengan cara ring
and ball. Hasil pegujian ini selanjutnya dapat digunakan untuk menetukan kepekaan aspal terhadap
suhu.
❑ Acuan Normatif
SNI 06-2434-1991 : Metode pengujian titik lembek ring dan ball
❑ Pengertian
Yang dimaksud dengan titik lembek adalah suhu pada saat bola baja, dengan berat tertentu,
menurut Gambar 2, 3, dan 4 mendesak turun suatu lapisan aspal atau ter yang tertahan dalam
cincin berukuran tertentu, sehingga aspal tersebut menyentuh pelat dasar yang terletak di bawah
cincin pada tinggi 25,4 mm, sebagai akibat kecepatan pemanasan tertentu.
❑ Tujuan
Tujuan metode ini adalah untuk menemukan angka titik lembek aspal dan ter yang berkisar 30o C sampai 200oC
dengan cara ring and ball.
❑ Ringkasan Uji
Benda uji dipanaskan dan dinginkan pada kondisi sesuai ketentuan kemudian panaskan bejana sehingga
kenaikan suhu menjadi 5 C per menit; kecepatan pemanasan ini tidak boleh diambil dari kecepatan pemasan
rata-rata dari awal dan akhir pekerjaan ini; untuk tiga menit yang pertama perbedaan kecepatan pemasan
tidak boleh melebihi 0,5oC
Menurut SK SNI 06 – 2434 – 1991, titik lembek aspal dan ter berkisar antara 46º - 54ºc.
Dalam pengujian titik lembek ini diharapkan titik lembek hendaknya lebioh tinggi dari
suhu permikaan jalan sehingga tidak terjadi pelelehan aspal akibat temperatur
permukaan jalan, untuk itu dilakukan usaha untuk mempertinggi titik lembek antara
lain dengan menggunakan filler terhadap campuarn beraspal.

❖ Peralatan
1. Termometer;
2. Cincin kuningan;
3. Bola baja diameter 9,53 mm, berat 3,50 ± 0,05 gram;
4. Alat pengarah bola;
5. Bejana gelas, tahan pemanasan mendadak dengan diameter
dalam 8,5 cm dgn tinggi sekurang-kurangnya 12 cm, kapasitas 800 ml.
6. Dudukan benda uji;
7. Penjepit.
❖ Pengujian Benda Uji
Urutan proses dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :

1) Pasang dan aturlah kedua benda uji di atas dudukannya dan letakkan
pengarah bola diatasnya; kemudian masukkan seluruh peralatan tersebut
ke dalam bejana gelas.
2) Isilah bejana dengan air suling baru, dengan suhu (5±1)oC sehingga tinggi
permukaan air berkisar antara 101,6 mm sampai 108 mm.
3) Letakkan termometer yang sesuai untuk pekerjaan ini di antara kedua
benda uji (kurang lebih 12,7 mm dari tiap cincin); periksa dan aturlah jarak
antara permukaan pelat dasar dengan dasar benda uji sehingga menjadi
25,4 mm;
4) Letakkan bola-bola baja yang bersuhu 5oC di atas dan di tengah
permukaan masing-masing benda uji yang bersuhu 5oC menggunakan
penjepit dengan memasang kembali pengarah bola; tahan temperatur
5oC±1oC selama 15 menit;
5) Panaskan bejana sehingga kenaikan suhu menjadi 5oC per menit;
kecepatan pemanasan ini tidak boleh diambil dari kecepatan pemasan
rata-rata dari awal dan akhir pekerjaan ini; untuk tiga menit yang pertama
perbedaan kecepatan pemasan tidak boleh melebihi 0,5oC;
6) Apabila kecepatan pemanasan melebihi ketentuan dalam 2.3.5 maka
pekerjaan diulang;
7) Apabila dari suatu pekerjaan duplo perbedaan suhu dalam cara
pengujian ini melebihi 1oC maka pekerjaan diulang
❖ 3. Pengujian Titik Nyala dan Titik Bakar SNI.06-2433 -1991
❑ Ruang Lingkup
Pengujian ini dilakukan terhadap aspal dan semua jenis minyak bumi, kecuali minyak bakar dan
bahan lainnya yang mempunyai titik nyala open cup kurang dari 790C. hasil pengujian ini
selanjutnya dapat digunakan untuk mengetahui sifat-sifat bahan terhadap bahaya api, pada suhu
mana bahan akan terbakar atau menyala.
❑ Acuan Normatif
SNI 06-2433-1991 : Metode pengujian titik nyala dan titik bakar dengan Cleve Land open cup
❑ Pengertian
Beberapa pengertian dapat dijelaskan sebagai berikut :
✓ Titik nyala adalah suhu pada saat terlihat nyala singkat kurang dari 5 detik pada suatu titik diatas permukaan
aspal;
✓ Titik bakar adalah suhu pada saat terlihat nyala sekurang-kurangnya 5 detik pada suatu titik pada permukaan
aspal.
❑ Maksud dan Tujuan
▪ Maksud
Metode ini dimaksudkan sebagai acuan and pegangan dalam pelaksanaan pengujian titik nyala dan titik bakar
bahan aspal dengan cleveland open cup.
▪ Tujuan
Tujuan metode ini adalah mendapatkan besaran cara titik nyala dan titik bakar bahan aspal dengan clevenland
open cup.
❑ Ringkasan Pengujian
Nyalakan sumber pemanas dan aturlah pemanasan sehingga kenaikan suhu menjadi (15 ± 1)oC per menit
sampai benda uji mencapai suhu 56oC di bawah titik nyala perkiraan; Kemudian aturlah kecepatan pemanasan
5 C per menit pada suhu antara 56o C sampai 28o C dibawah titik nyala perkiraan;
Nyalakan nyala penguji dan aturlah agar diameter nyala penguji tersebut menjadi 3.2 sampai 4.8 mm, ulangi
pekerjaan tersebut setiap kenaikan suhu 2oC sampai terlihat nyala singkat pada suatu titik di atas permukaan
benda uji sebagai suhu titik nyala dan nyala singkat selama 5 detik sebagai suhu titik bakar ; bacalah suhu pada
termometer dan catat;

Persiapan Benda Uji


Benda uji adalah contoh
aspal sebanyak ± 100 gram
yang dipersiapkan dengan
cara sebagai berikut :
✓ Panaskan contoh aspal
pada suhu ± 140o C sampai
cukup cair;
✓ Kemudian isilah cawan
cleveland sampai garis
batas (tanda pengisian
pada Gambar 2) dan
hilangkan (pecahkan)
gelembung udara yang
ada pada permukaan
cairan.
❖ 4. Pengujian Berat jenis SNI.06-2441 -1991
❑ Ruang Lingkup
Cara uji ini mencakup penentuan berat jenis dan berat isi aspal keras dengan menggunakan piknometer. Cara uji
berat jenis aspal keras ini dapat digunakan terhadap semua jenis aspal keras termasuk aspal modifikasi.
CATATAN 1 - Alternatif lain cara uji berat jenis aspal keras adalah ASTM D 3289. Apabila contoaspal terlalu cair
untuk diuji dengan cara uji ini maka gunakanlah cara uji ASTM D 3142.
❑ Acuan Normatif
SNI 06-2441-1991 : Metode pengujian titik lembek ring dan ball
SNI 03-6399 : Tata cara pengambilan sampel
❑ Pengertian
Berat jenis aspal adalah perbandingan antara berat jenis aspal padat dan berat air suling dengan isi yang sama
pada suhu 25oC.

❑ Maksud dan Tujuan


▪ Maksud
Metode ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian berat jenis aspal padat
dan ter dengan piknometer.
▪ Tujuan
Tujuan metode ini adalah untuk menentukan berat jenis aspal padat.

❑ Ringkasan Pengujian
Benda uji aspal dimasukkan ke dalam piknometer yang sudah dikalibrasi, kemudian benda uji dan piknometer
ditimbang. Isi tersisa diisi air kemudian piknometer beserta isinya dikondisikan pada temperatur pengujian yang
diinginkan (dalam hal ini 15,6oC atau 25,0C)dan ditimbang. Berat jenis benda uji dihitung berdasarkan massa
benda uji dan massa air yang dipindahkan oleh benda uji dalam piknometer
❑ Perhitungan

Persiapan Benda Uji

Panaskan contoh aspal dengan hati-hati, aduk untuk


menghindari terjadinya pemanasan setempat, sampai contoh
aspal cukup cair untuk dituangkan. Pemanasan contoh aspal
Keterangan : tidak oleh lebih dari 110oC di atas titik lembek benda uji aspal
δ = berat jenis aspal yang diperkirakan. Jangan lakukan pemanasan contoh aspal
A = berat piknometer (dengan penutup) (gram) lebih dari 60 menit di atas nyala api pembakar atau pelat
B = berat piknometer berisi air (gram) pemanas atau lebih dari 120 menit di dalam oven. Hindari
C = berat piknometer berisi aspal (gram) adanya gelembung udara dalam benda uji.
D = berat piknometer berisi asal dan air (gram) Persiapan Peralatan

Isi gelas kimia 600 mL dengan aquades yang baru dididihkan


dan didinginkan kembali sampai volume yang dapat
merendam piknometer dengan jarak antara bagian atas
piknometer dengan permukaan air tidak kurang dari 40 mm.
✓ Rendam gelas kimia tersebut dalam bak perendam
sedemikian rupa sehingga bagian bawah gelas kimia
terendam pada kedalaman tidak kurang dari 100 mm dan
bagian atas gelas kimia berada di atas permukaan air bak
perendam. Jepit gelas kimia tersebut agar tetap pada
posisinya.
✓ Atur dan pertahankan temperatur air pada bak perendam
sehingga tidak berbeda lebih dari 0,1oC dari temperatur
pengujian;
Cara Pengujian
Urutan cara pengujian ini adalah sebagai berikut :
❖ isilah bejana dengan air suling sehingga diperkirakan bagian atas
piknometer yang tidak terendam 40 mm; kemudian rendam dan jepitlah
bejana tersebut dalam bak perendam sehingga perendam sekurang-
kurangnya 100 mm; aturlah suhu bak perendam pada suhu 25oC;
❖ Bersihkan, keringkan, dan timbanglah piknometer dengan ketelitian 1 mg; (A)
❖ angkatlah bejana dari bak perendam dan isilah piknometer dengan air
suling kemudian tutuplah piknometer tanpa ditekan;
❖ Letakkan piknometer ke dalam bejana dan tekanlah penutup sehingga
rapat; kembalikan bejana berisi piknometer ke dalam bak perendam;
diamkan bejana tersebut di dalam bak perendam selama sekurang-
kurangnya 30 menit, kemudian angkatlah dan keringkan dengan lap;
timbanglah piknometer dengan ketelitian 1 mg; (B)
❖ Panaskan contoh bitumen keras atau ter sejumlah 100 gram, sampai
menjadi cair dan aduklah untuk mencegah pemanasan setempat;
pemanasan tidak boleh lebih dari 30 menit pada suhu 111oC di atas titik
lembek aspal;
❖ Tuangkan benda uji tersebut ke dalam piknometer yang telah kering hingga
terisi ¾ bagian;
❖ Biarkan piknometer sampai dingin, selama tidak kurang dari 40 menit dan
timbanglah dengan penutupnya dengan ketelitian 1 mg; (C)
❖ Isilah piknometer yang berisi benda uji dengan air suling dan tutuplah tanpa
ditekan, diamkan agar gelembung-gelembung udara keluar;
❖ Angkatlah bejana dari bak perendam dan letakkan piknometer di dalamnya
dan kemudian tekanlah penutup hingga rapat; masukkan dan diamkan
bejana ke dalam bak perendam selama sekurang-kurangnya 30 menit;
angkat keringkan, dan timbanglah piknometer. (D)
❖ 5. Pengujian Duktilitas SNI.06-2432 -1991
❑ Ruang Lingkup
Pengujian ini dapat dilakukan pada aspal keras atau cair. Hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan untuk
mengetahui elastisitas bahan aspal.

❑ Acuan Normatif
SNI 06-2432-1991 : Metode pengujian Daktilitas Aspal

❑ Pengertian
Daktilitas aspal adalah nilai keelastisitasan aspal, yang diukur dari jarak terpanjang, apabila antara dua cetakan
berisi bitumen keras yang ditarik sebelum putus pada suhu 250C dan dengan kecepatan 50 mm/menit

❑ Maksud dan Tujuan


▪ Maksud
Metode ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian daktilitas bahan aspal.
▪ Tujuan
Tujuan metode ini adalah untuk mendapatkan harga pengujian daktilitas bahan aspal.

❑ Ringkasan Pengujian
Pasanglah benda uji pada alat mesin dan tariklah benda uji secara teratur dengan kecepatan 50 mm/menit
sampai benda uji putus; perbedaan kecepatan atau kurang dari 5% masih diizinkan; bacalah jarak antara
pemegang benda uji, pada saat benda uji putus (dalam sentimeter); selama percobaan berlangsung benda uji
harus selalu terendam sekurang-kurangnya 25 mm dalam air dan suhu harus dipertahankan tetap (25oC ± 0.50 c)
❑ Persiapan Benda Uji
Benda uji adalah contoh aspal sebanyak 100 gram yang
dipersiapkan sebagai berikut :
✓ Lapisi semua bagian dalam sisi-sisi cetakan daktilitas
Benda uji dalam cetakan dan bagian atas pelat dasar dengan campuran
glycerin dan dextrin atau glycerin dan talk atau
glycerin dan kaolin atau amalgan; kemudian
Cetakan Benda uji pasanglah cetakan daktilitas di atas pelat dasar
✓ Panaskan contoh aspal sehingga cair dan dapat
dituang; untuk menghindarkan pemanasan
setempat, lakukan dengan hati-hati; pemanasan
dilakukan sampai suhu antara 80oC-1000 C di atas titik
lembek; kemudian contoh disaring dengan saringan
N0. 50 dan setelah diaduk, dituamg dalam cetakan.
✓ Pada waktu mengisi cetakan, contoh dituang hati-
hati dari ujung ke ujung hingga penuh berlebihan;

Mesin uji Daktilitas kecepatan 50 mm per menit ✓ Dinginkan cetakan pada suhu ruang selama 30
sampai 40 menit lalu pindahkan seluruhnya ke dalam
bak perendam yang telah disiapkan pada suhu
pemeriksaan selama 30 menit; kemudian ratakan
contoh yang berlebihan dengan pisau atau spatula
yang panas sehingga cetakan terisi penuh dan rata

❑ Persiapan Air untuk Bak Perendam


✓ Atur berat jenis air dalam bak perendam mesin uji
daktilitas agar sama dengan berat jenis aspal yang
diuji dengan cara menambahkan metal alkhol,
glyserin atau garam
❖ 5. Pengujian Viscositas Aspal SNI.06-7729-2011
❑ Ruang Lingkup
Standar ini menetapkan cara uji viskositas saybolt furol aspal secara empiris padatemperatur yang ditentukan
antara 120oC sampai dengan 240oC, yang dapat digunakan untuk menentukan temperatur pencampuran dan
temperatur pemadatan campuran beraspal.
Temperatur pencampuran dan temperatur pemadatan campuran beraspal diperoleh dari nilai viskositas
berdasarkan hasil kalibrasi dan standardisasi pada Pasal 9.
❑ Acuan Normatif
SNI 06-77291 : Metode pengujian Viscositas aspal pada temperature tinggi dengan alat saybolt furol
SNI 06-2433 : Metode pengujian ttitk nyala dan titik bakar dengan alat cleveland open cup.
SNI 06-6721 : Metode pengujian pengujian kekentalan aspal cair dengan alat saybolt.

❑ Pengertian
Furol
Singkatan dari “fuel and road oils”, furol merupakan lubang pengeluaran aspal dari tabung viskometer yang
mempunyai diameter 4,3 mm ± 0,2 mm
Viskositas saybolt furol
Waktu pengaliran yang telah dikoreksi untuk mengalirkan 60 mL benda uji dalam detik melalui lubang furol
saybolt furol detik (SFS = saybolt furol second)
Waktu pengukuran viskositas dalam detik, yang dilaporkan pada temperatur tertentu

❑ Kegunaan
✓ Standar ini digunakan untuk menentukan salah satu karakteristik aspal, sebagai identifikasi dalam pengiriman.
✓ Standar ini dapat juga menentukan temperatur pencampuran campuran beraspal pada 170 cSt ± 20 cSt dan
temperatur pemadatan campuran beraspal pada 280 cSt ± 20 cSt.
❑ Kalibrasi
▪ Kalibrasi viskometer saybolt furol
secara berkala dengan mengukur
waktu mengalir pada temperatur
37,8oC dari oli standar. Hitung faktor
koreksi viskometer.
▪ Waktu pengaliran oli standar harus
sesuai dengan nilai viskositas saybolt
yang telah ditentukan, bila waktu
pengaliran berbeda lebih dari 0,2%,
hitung waktu koreksi F, untuk
viskometer sebagai berikut :

𝑉
F=
𝐹
dengan pengertian:
V adalah nilai viskositas saybolt oli
standar dalam satuan detik;
T adalah pengukuran waktu alir
pada temperatur 37,8 C dalam
satuan detik.
▪ Kalibrasi viskometer saybolt furol
pada 50oC dengan cara yang sama
seperti Butir 9.a) menggunakan
viskositas oli standar yang
mempunyai waktu alir minimum 90
detik.
▪ Viskometer atau lubang furol yang
mempunyai koreksi viskositas lebih
besar dari 1%, tidak dapat digunakan
❑ Prosedur Pengujian
✓ Pertama-tama siapakan peralatan dan bahan yang akan digunakan;
✓ Siapkan alat saybolt viscometer, lalu atur suhu dengan cara mengatur suhu
pada alat hingga mencapai 120oC;
✓ Sambil menunggu alat saybolt viscometer mencapai suhu 100oC,
panaskan aspal dengan kompor/tungku hingga mencapai 100oC,
panaskan dengan merata kemudian masukan ke dalam tabung saybolt
viscometer;
✓ Ukurlah suhu didalam tabung saybolt viscometer yang berisi aspal, apabila
suhunya sudah mencapai 100oC, mulai lakukan pengujian untuk
menghitung waktu aspal jatuh kedalam labu viscometer
✓ Letakan labu viscometer 60 ml dibawah saybolt viscometer, tabung ini
digunakan untuk menampung aspal yang mengalir kebawah;
✓ Cabut gabus penyumbat dan mulai hidupkan stopwatch disaat aspal
pertama menetes d labu viscometer
✓ Matikan stopwatch apabila aspal sudah mencapai pada batas 60 ml
(sampai leher labu viscometer);
✓ Catat waktu pengaliran dalam detik sampai 0,1 detik terdekat;
✓ Tutup lubang saybolt viscometer dengan gabus penyumbat aliran aspal tadi;
✓ Lalu catat hasil pengamatan tersebut ke dalam form praktikum yang telah
disediakan;
✓ Setelah itu rapihkan dan bereskan kembali peralatan yang telah
digunakan.
❖ 6. Kelakatan Aspal Pada Agregat SNI 03-2439-1991
❑ Ruang Lingkup
Standar ini menetapkan cara untuk menguji ketahanan penyelimutan film aspal pada permukaan suatu agregat.
Pengujian ini diterapkan pada aspal cair, aspal emulsi dan aspal semi padat
❑ Acuan Normatif
SNI 06-2439-2011 : Metode Uji penyelimutaan dan pengelupasan pada campuran agregat-aspal
SNI 03-3645-2011 : Metode pengujian pelekatan dan ketahanan aspal emulsi terhadap air
❑ Pengertian
Penyelimutan agregat terhadap aspal adalah persentase luas permukaan agregat yang diselimuti aspal
terhadap permukaan agregat
❑ Maksud dan Tujuan
▪ Maksud
Sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian kelekatan aspal terhadap agregat
▪ Tujuan
Menentukan angka kelekatan aspal terhadap agregat
❑ Ringkasan Pengujian
Agregat yang telah dipilih dan disiapkan dilapisi dengan aspal pada temperature yang telah ditentukan, sesuai
dengan kelas (grade) aspal yang digunakan
Bila digunakan aspal cair (cut back asphalt), agregat yang diselimuti aspal dibiarkan pada temperature 600C
Bila digunakan aspal emulsi, agregat yang diselimuti aspal dibiarkan pada temperature 1350C
Setelah penyelimutanm bila digunakan aspal semi padat, atau setelah mengikat untuk aspal cair, aspal emulsi,
agregat yang terselimuti direndam dalam air suling selama (16-18 jam) pada temperature ruang
Pada akhir periode perendaman dan campuran agregat-aspal masih di dalam air, luas permukaan total
permukaan agregat yang masih diselimuti film aspal diperkirakan secara visual, apakah nilaianya “di bawah
95 %" atau “diatas 95 %”.
❑ Aspal
Aspal cair material yang terdiri atas campuran aspal padat dengan pelarut jenis tertentu yang masing-masing
mempunyai daya menguap tinggi, sedang, atau rendah
▪ Aspal cair mantap sedang (medium curing, MC)
▪ Aspal cair mantap cepat (rapid curing, RC)
▪ Aspal cair mantap lambat (slow curing, SC)
❑ Aspal Emulsi
Material yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal semi padat kedalam air atau sebaiknya dengan
bantuan bahan pengemulsi
▪ Aspal emulsi anionic
▪ Aspal emulsi kationik
▪ Aspal padat (solid) suatu jenis aspal keras dengan penetrasi kurang 10
▪ Aspal semi padat (semi-solid) suatu jenis aspal keras dengan penetrasi 10 sampai 300

❑ Pengertian
Penyelimutan agregat terhadap aspal adalah persentase luas permukaan agregat yang diselimuti aspal
terhadap permukaan agregat

❑ Agregat
Agregat yang lolos saringan 9,5 mm (3/8”)dan tertahan saringan 6.3 mm (1/4”) sebanyak 100 gram
Agregat dicuci dan dikeringkan pada temperature 1350C sampai dengan 1490C sampai berat tetap
❑ Persiapan Benda uji
Cara menyiapkan benda uji :
✓ Benda uji adalah agregat yang lewat saringan 9,5 mm (3/8”)
dan tertahan pada saringan 6,3 mm (1/4”) sebanyak kira-kira
100 gram;
✓ Cucilah dengan air suling, keringkan pada suhu 140 ± 5o C
hingga berat tidak berubah lagi (constant); simpan didalam
tempat yang tertutup rapat dan siap untuk diperiksa;
✓ Untuk pelapisan agregat basah perlu ditentukan berat jenis
kering permukaan jenuh (SSD) dan penyerapan dari agregat
kasar.
✓ Keluarkan adukan beserta wadahnya dari oven dan
❑ Cara Pengujian (Penyelimutan) aduk lagi sampai dingin (suhu ruang) selanjutnya agar
Pelapisan Agregat Kering Dengan Aspal Cair (Cut-Back) diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
▪ Penyelimutan terhadap agregat harus sempurna, tidak
Urutan proses dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
boleh ada gelembung-gelembung udara;
✓ Masukkan 100 gram benda uji, ke dalam wadah; ▪ Bila keadaan tersebut tidak tercapai, kemudian
✓ Isi aspal sebanyak 5,5 ± 0,2 gram yang telah dipanaskan pada panaskan adukan tersebut sampai agregat diselimuti
suhu yang sesuai dengan (Tabel 1); aspal dengan sempurna;
✓ Aduk aspal dan benda uji sampai merata dengan spatula ✓ Pindahkan adukan tersebut ke dalam tabung gelas
selama 2 menit; kimia;
❑ Pengikatan (curing) ✓ Isi dengan air suling sebanyak 400 ml;
✓ Diamkan pada suhu ruang selama 16 sampai 18 jam;
✓ Masukkan adukan beserta wadahnya dalam oven dengan suhu ✓ Ambil selaput aspal yang mengambang di permukaan
60oC selama 2 jam, selama proses ini lubang angin pada oven air dengan tidak mengganggu agregat di dalam
harus dibuka; tabung;
✓ Dengan melihat dari atas menembus air, perkirakan
prosentase luas permukaan yang masih terselimuti
aspal.
❑ Pelapisan Agregat Kering Dengan Aspal Keras :
✓ Masukkan 100 gram benda uji, masukkan ke dalam
wadah;
✓ Panaskan wadah beserta benda uji selama 1 jam dalam
oven dalam pada suhu tetap antara 140oC;
✓ Masukkan aspal yang sudah panas 5,5 ± 0,2 gram;
✓ Aduk sampai merata dengan spatula yang sudah
dipanasi selama 2 – 3 menit sampai benda uji terselimuti
aspal;
✓ Diamkan sampai mencapai suhu ruang;
✓ Pindahkan benda uji yang terselimuti aspal ke dalam
tabung gelas kimia kapasitas 600 ml.

❑ Pelapisan Agregat Kering Dengan Aspal Emulsi Cepat Mengendap (RS), Sedang Mengendap (MS), Lambat Mengendap
(SS). Urutan proses dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
✓ Masukkan 100 gram benda uji, masukkan ke dalam wadah;
✓ Isikan aspal emulsi sebanyak 80 ± 0,2 gram pada suhu ruang tanpa diaduk;
✓ Masukkan ke dalam oven pada suhu 135oC selama 5 menit;
✓ Keluarkan benda uji beserta wadah dan aduk sampai merata sehingga benda uji terselimuti aspal;
✓ Masukkan adukan beserta wadahnya dalam oven dengan suhu 135oC selama 2 jam, selama proses ini lubang angin pada
oven harus dibuka;
✓ Keluarkan adukan beserta wadahnya dari oven dan aduk lagi sampai dingin (suhu ruang)
✓ Pindahkan adukan tersebut ke dalam tabung gelas kimia;
✓ Isi dengan air suling sebanyak 400 ml;
✓ Diamkan pada suhu ruang selama 16 sampai 18 jam;
✓ Ambil selaput aspal yang mengambang di permukaan air dengan tidak mengganggu agregat di dalam tabung;
✓ Dengan melihat dari atas menembus air, perkirakan prosentase luas permukaan yang masih terselimuti aspal.
TERIMA KASIH

GANTUNGKAN CITA-CITAMU
SETINGGI LANGIT
(AIM HIGH)

Anda mungkin juga menyukai