Anda di halaman 1dari 22

HOMESCHOOLING: SEBUAH PENDIDIKAN ALTERNATIF Oleh Pormadi Simbolon, SS

Pengantar

Setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapat pendidikan bermutu, nilai-nilai iman dan moral yang tertanam baik, dan suasana belajar anak yang menyenangkan. Kerapkali halhal tersebut tidak ditemukan para orangtua di sekolah umum. Oleh karena itu muncullah ide orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya di rumah. Dalam perkembangannya, berdirilah lembaga sekolah yang disebut sekolah-rumah (homeschooling) atau dikenal juga dengan istilah sekolah mandiri, atau home education atau home based learning.

Latar Belakang

Banyaknya orangtua yang tidak puas dengan hasil sekolah formal mendorong orangtua mendidik anaknya di rumah. Kerapkali sekolah formal berorientasi pada nilai rapor (kepentingan sekolah), bukannya mengedepankan keterampilan hidup dan bersosial (nilainilai iman dan moral). Di sekolah, banyak murid mengejar nilai rapor dengan mencontek atau membeli ijazah palsu. Selain itu, perhatian secara personal pada anak, kurang diperhatikan. Ditambah lagi, identitas anak distigmatisasi dan ditentukan oleh teman-temannya yang lebih pintar, lebih unggul atau lebih cerdas. Keadaan demikian menambah suasana sekolah menjadi tidak menyenangkan.

Ketidakpuasan tersebut semakin memicu orangtua memilih mendidik anak-anaknya di rumah, dengan resiko menyediakan banyak waktu dan tenaga. Homeschooling menjadi tempat harapan orang tua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak, mengembangkan nilai-nilai iman/ agama dan moral serta mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan.

Homeschooling Istilah Homeschooling sendiri berasal dari bahasa Inggris berarti sekolah rumah. Homeschooling berakar dan bertumbuh di Amerika Serikat. Homeschooling dikenal juga dengan sebutan home education, home based learning atau sekolah mandiri. Pengertian umum homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya. Memilih untuk bertanggungjawab berarti orangtua terlibat langsung menentukan proses penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan pendidikan,

nilai-nilai yang hendak dikembangkan, kecerdasan dan keterampilan, kurikulum dan materi, serta metode dan praktek belajar (bdk. Sumardiono, 2007:4).

Peran dan komitmen total orangtua sangat dituntut. Selain pemilihan materi dan standar pendidikan sekolah rumah, mereka juga harus melaksanakan ujian bagi anak-anaknya untuk mendapatkan sertifikat, dengan tujuan agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Banyak orang tua Indonesia yang mempraktekkan homeschooling mengambil materi pelajaran, bahan ujian dan sertifikat sekolah rumah dari Amerika Serikat. Sertifikat dari negeri paman Sam itu diakui di Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional) sebagai lulusan sekolah Luar Negeri (Kompas, 13/3/2005).

Dalam Pendidikan Nasional Departemen Pendidikan Nasional menyebut sekolah-rumah dalam pengertian pendidikan homeschooling. Jalur sekolah-rumah ini dikategorikan sebagai jalur pendidikan informal yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (pasal 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Sisidiknas No. 20/2003). Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Meskipun pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan pendidikan informal, namun hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal (sekolah umum) dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan (pasal 27 ayat 2).

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Juga dijelaskan sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (pasal 1).

Berdasarkan definisi pendidikan dan sistem pendidikan nasional tersebut, sekolah rumah menjadi bagian dari usaha pencapaian fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sejarah Singkat

Filosofi berdirinya sekolah rumah adalah manusia pada dasarnya makhluk belajar dan senang belajar; kita tidak perlu ditunjukkan bagaimana cara belajar. Yang membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha menyelak, mengatur, atau mengontrolnya (John Cadlwell Holt dalam bukunya How Children Fail, 1964). Dipicu oleh filosofi tersebut, pada tahun 1960-an terjadilah perbincangan dan perdebatan luas mengenai pendidikan sekolah dan sistem sekolah. Sebagai guru dan pengamat anak dan pendidikan, Holt mengatakan bahwa kegagalan akademis pada siswa tidak ditentukan oleh kurangnya usaha pada sistem sekolah, tetapi disebabkan oleh sistem sekolah itu sendiri.

Pada waktu yang hampir bersamaan, akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Ray dan Dorothy Moor melakukan penelitian mengenai kecenderungan orang tua menyekolahkan anak lebih awal (early childhood education). Penelitian mereka menunjukkan bahwa memasukkan anak-anak pada sekolah formal sebelum usia 8-12 tahun bukan hanya tak efektif, tetapi sesungguhnya juga berakibat buruk bagi anak-anak, khususnya anak-anak lakilaki karena keterlambatan kedewasaan mereka (Sumardiono, 2007: 21).

Setelah pemikirannya tentang kegagalan sistem sekolah mendapat tanggapan luas, Holt sendiri kemudian menerbitkan karyanya yang lain Instead of Education; Ways to Help People Do Things Better, (1976). Buku ini pun mendapat sambutan hangat dari para orangtua homeschooling di berbagai penjuru Amerika Serikat. Pada tahun 1977, Holt menerbitkan majalah untuk pendidikan di rumah yang diberi nama: Growing Without Schooling.

Serupa dengan Holt, Ray dan Dorothy Moore kemudian menjadi pendukung dan konsultan penting homeschooling. Setelah itu, homeschooling terus berkembang dengan berbagai alasan. Selain karena alasan keyakinan (beliefs) , pertumbuhan homeschooling juga banyak dipicu oleh ketidakpuasan atas sistem pendidikan di sekolah formal.

Di Indonesia

Perkembangan homeschooling di Indonesia belum diketahui secara persis karena belum ada penelitian khusus tetang akar perkembangannya. Istilah homeschooling merupakan khazanah relatif baru di Indonesia. Namun jika dilihat dari konsep homeschooling sebagai pembelajaran yang tidak berlangsung di sekolah formal alias otodidak, maka sekolah rumah sudah tidak merupakan hal baru. Banyak tokoh-tokoh sejarah Indonesia yang sudah mempraktekkan homeschooling seperti KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka (Makalah Dr. Seto Mulyadi, 18 Juni 2006).

Dalam pengertian homeschooling ala Amerika Serikat, sekolah rumah di Indonesia sudah sejak tahun 1990-an. Misalnya Wanti, seorang ibu yang tidak puas dengan sistem pendidikan formal. Melihat risiko yang menurut Wanti sangat mahal harganya, dia banting setir. Tahun 1992 Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya di rumah. Ia mempersiapkan diri selama 2 tahun sebelum menyekolahkan anaknya di rumah. Semua kurikulum dan bahan ajar diimpor dari Amerika Serikat.Wanti sadar keputusannya mengandung konsekuensi berat. Dia harus mau capek belajar lagi, karena bersekolah di rumah berarti bukan anaknya saja yang belajar, tetapi justru orangtua yang harus banyak belajar. Demikian juga Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan bersekolah di rumah, sampai harus ke Singapura dan Malaysia mengikuti seminar tentang hal ini. Dia ingin benar-benar mantap, baru mengambil keputusan. Kebetulan waktu itu kondisi ekonomi sedang krisis sehingga kami banyak di rumah. Eh, ternyata enak ya belajar bersama di rumah, kata Helen yang mulai mengajar anak di rumah tahun 2000 (Kompas, 13/3/2005). Di Indonesia baru beberapa lembaga yang menyelenggarakan homeschoooling, seperti Morning Star Academy dan lembaga pemerintah berupa Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM).

Morning Star Academy, Lembaga pendidikan Kristen ini berdiri sejak tahun 2002 dengan tujuan selain memberikan edukasi yang bertaraf internasional, juga membentuk karakter siswanya.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan program pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan jalur informal. Badan penyelenggara PKBM sudah ada ratusan di Indonesia. Di Jakarta Selatan aja, ada sekitar 25 lembaga penyelenggara PKBM dengan jumlah siswa lebih kurang 100 orang. Setiap program PKBM terbagi atas Program Paket A (untuk setingkat SD), B (setingkat SMP), dan Paket C (setingkat SMA). PKBM sebenarnya menyelenggarakan proses pendidikan selama 3 hari di sekolah, selebihnya, tutor mendatangi rumah para murid. Para murid harus mengikuti ujian guna mendapatkan ijazah atau melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Perbedaan Ijazah dengan sekolah umum, PKBM langsung mengeluarkannya dari pusat.

Saat ini, perkembangan homeschooling di Indonesia dipengaruhi oleh akses terhadap informasi yang semakin terbuka dan membuat para orang tua memiliki semakin banyak pilihan untuk pendidikan anak-anaknya.

Faktor-Faktor Pemicu dan Pendukung Homechooling

Kegagalan sekolah formal

Baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan homeschooling. Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu.

Teori Inteligensi ganda

Salah satu teori pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan homeschooling adalah Teori Inteligensi Ganda (Multiple Intelligences) dalam buku Frames of Minds: The Theory of Multiple Intelligences (1983) yang digagas oleh Howard Gardner. Gardner menggagas teori inteligensi ganda. Pada awalnya, dia menemukan distingsi 7 jenis inteligensi (kecerdasan) manusia. Kemudian, pada tahun 1999, ia menambahkan 2 jenis inteligensi baru sehingga menjadi 9 jenis inteligensi manusia. Jenis-jenis inteligensi tersebut adalah:Inteligensi linguistik; Inteligensi matematis-logis; Inteligensi ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani; Inteligensi musikal; Inteligensi interpersonal; Inteligensi intrapersonal; Inteligensi ligkungan; dan Inteligensi eksistensial.

Teori Gardner ini memicu para orang tua untuk mengembangkan potensi-potensi inteligensi yang dimiliki anak. Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal sering kali malahan memasung inteligensi anak. (Buku acuan yang dapat digunakan mengenai teori inteligensi ganda ini dalam bahasa Indonesia ini, Teori Inteligensi Ganda, oleh Paul Suparno, Kanisius: 2003).

Sosok homeschooling terkenal

Banyaknya tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani sekolah formal juga memicu munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya. Benyamin Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang negarawan, ilmuwan, penemu, pemimpin sipil dan pelayan publik bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya pendidikan. Selebihnya, ia belajar tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke waktu di rumah dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar.

Tersedianya aneka sarana

Dewasa ini, perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh fasilitas yang berkembang di dunia nyata. Fasilitas itu antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual).

Homeschooling vs Sekolah Umum Model pendidikan yang paling terkenal dan diakui masyarakat adalah sistem sekolah atau pendidikan formal baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta. Sekolah umum seringkali dipandang sebagian orang lebih valid dan disukai.

Namun bagi sebagian orang, sistem sekolah umum merupakan sekolah yang tidak memuaskan bagi perkembangan diri anak. Sekolah umum menjadi kambing hitam atas output yang dikeluarkannya. Hal ini terlihat dari output pendidikan formal banyak menjadi koruptor, pelaku mafia peradilan, politisi pembohong, dan penipu kelas kakap. Alasan kekecewaan itulah memicu keluarga-keluarga memilih sekolah rumah alias homeschooling sebagai pendidikan alternatif.

Pada hakekatnya, baik homeschooling maupun sekolah umum, sama-sama sebagai sebuah sarana untuk menghantarkan anak-anak mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan. Namun homeschooling dan sekolah memiliki perbedaan.

Pada sistem sekolah, tanggung jawab pendidikan anak didelegasikan orang tua kepada guru dan pengelola sekolah. Pada homeschooling, tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya berada di tangan orang tua.

Sistem di sekolah terstandardisasi untuk memenuhi kebutuhan anak secara umum, sementara sistem pada homeschooling disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.

Pada sekolah, jadwal belajar telah ditentukan dan seragam untuk seluruh siswa. Pada homeschooling jadwal belajar fleksibel, tergantung pada kesepakatan antara anak dan orang tua.

Pengelolaan di sekolah terpusat, seperti pengaturan dan penentuan kurikulum dan materi ajar. Pengelolaan pada homeschooling terdesentralisasi pada keinginan keluarga homeschooling. Kurikulum dan materi ajar dipilih dan ditentukan oleh orang tua.

Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling Dari perbedaan di atas, kita dapat menyebutkan kelebihan homeschooling, antara lain: adaptable, artinya sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga; mandiri artinya lebih memberikan peluang kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan di sekolah umum; potensi yang maksimal, dapat memaksimalkan potensi anak, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan sekolah; siap terjun pada dunia nyata. Output sekolah rumah lebih siap terjun pada dunia nyata karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya; terlindung dari pergaulan menyimpang. Ada kesesuaian pertumbuhan anak dengan dengan keluarga. Relatif terlindung dari hamparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi, mencontek dan sebagainya); Ekonomis, biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga.

Di sisi lain, homeschooling mempunyai kelemahan-kelemahan yang dapat disebutkan berikut ini: membutuhkan komitmen dan tanggung jawab tinggi dari orang tua; memiliki kompleksitas yang lebih tinggi karena orangtua harus bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan anak; keterampilan dan dinamika bersosialisasi dengan teman sebaya relatif rendah; ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi dan kepemimpinan; proteksi berlebihan dari orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi dan masalah sosial yang kompleks yang tidak terprediksi.

Penutup Homeschooling merupakan sebuah pilihan dan khazanah alternatif pendidikan bagi orang tua dalam meningkatkan mutu pendidikan, mengembangkan nilai iman (agama), dan menginginkan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Di sisi lain, ada sekolah umum yang memberikan bahan ajar dan kurikulum secara terpusat dan seragam, sesuai dengan harapan dan kebutuhan anak. Baik homeschooling maupun sekolah umum (pendidikan formal) sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam menghantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Soal pilihan atas keduanya, semua diserahkan pada orangtua dan keluarga sesuai dengan kondisi keluarga. Penulis adalah pemerhati pendidikan anak, tinggal di Jakarta. REFERENSI:

Kompas Cyber Media, 29 Agustus 2005: Home Schooling Model Pendidikan Alternatif

Sarie Febriane/ Clara Wresti, Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku, Harian Kompas, 13 Maret 2005

Yorgi Gusman, Ikutan Home Schooling, 08 September 2006

Paul Suparno, Teori Inteligensi Ganda, Kanisius: Yogyakarta, 2003

Sumardiono, Homeschooling, Lompatan Cara Belajar, PT. Elex Media Komputindo: Jakarta, 2007

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Fokusmedia, Bandung 2003

Rate this:

3 Votes

Share this:

StumbleUpon Email Facebook Digg Reddit Twitter Print

Like this:
Suka Be the first to like this post.

Filed under: culture, Family, Pendidikan Selamat Jalan Pemimpin Tua M Fadjroel Rachman Pernyataan Sikap: Negara Sebaiknya Bersikap Adil dan Netral

Hasil Penelitian Homeschooling oleh HaniarBerikut ini abstrak tesis hasil penelitian
mengenai HS oleh Haniar, seorang mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH), Jakarta. *JUDUL: SUATU STUDI SEPUTAR PENYELENGGARAAN HOMESCHOOLING DI JABOTABEK* (xiii + 127 halaman: 8 gambar; 12 tabel; 5 lampiran) Homeschooling adalah suatu sistem pendidikan alternatif yang sedang berkembang dalam masyarakat. Tumbuhnya homeschooling di Jakarta dan sekitarnya harus dimaknai sebagai kepedulian masyarakat untuk ikut dalam memperluas akses pendidikan. Belum banyaknya riset yang dilakukan di Indonesia membuat informasi seputar homeschooling masih memakai referensi riset dari luar negeri. Penelitian ini akan mendeskripsikan informasi seputar penyelenggaraan homeschooling yang ada di Jabotabek. Subyek penelitian adalah 43 keluarga yang memiliki 70 anak yang sedang melakukan homeschooling. Teknik pengambilan dan pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner, wawancara dan observasi langsung ke komunitas-komunitas homeschooling. Hasil dari penelitian ini berupa rangkaian informasi tentang profil keluarga dan homeschooling mulai dari usia, status pernikahan, pekerjaan, pendidikan dan penghasilan orangtua, serta usia anak, lama melakukan homeschooling, kurikulum yang dipakai hingga biaya untuk homeschooling. Temuan lain dari penelitian ini yaitu, ada 11 alasan orangtua memilih homeschooling, tiga alasan yang terbanyak dijawab responden adalah tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan anak, penekanan kepada pendidikan iman dan ketidakpuasan terhadap kurikulum di sekolah formal. Ada juga 13 keuntungan dan 13 kelemahan homeschooling, serta 14 kesulitan yang paling sering dihadapi homeschooler. Melalui riset ini diharapkan informasi seputar penyelenggaraan homeschooling di dalam negeri akan semakin bertambah. Referensi: 15 buku, 2 tesis, 20 website jurnal- artikel (1991 2008).

*HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapat dari penyebaran kuesioner, wawancara dan observasi ke beberapa komunitas homeschooling dan juga ke beberapa kelompok homeschooling majemuk dan tunggal adalah sebagai berikut: 1) Berdasarkan hasil riset tentang Profil keluarga dan homeschooling yang ada di Jabotabek, berikut ini adalah hasil yang signifikan dari penelitian ini:

95% responden adalah pasangan suami istri yang berstatus Menikah. Ini menunjukkan homeschooling lebih banyak dilakukan oleh keluarga yang kuat (utuh). Rata-rata usia suami: 38,9 tahun dan rata-rata usia istri: 35,9 tahun. 95% pasangan yang baik suami atau istri adalah lulusan perguruan tinggi (S1,S2). 79% kuesioner diisi oleh para ibu/istri, para ibu yang lebih banyak memegang tanggung jawab dalam membimbing anak-anak dalam melakukan homeschooling. 63% yang melakukan homeschooling, adalah istri yang tidak bekerja. 47% di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi. Dan 44% istri mengajar sendiri anaknya. Disimpulkan bahwa sebagian besar istri-istri yang tidak bekerja adalah lulusan perguruan tinggi dan mengajar anaknya sendiri. 70% anak pernah bersekolah di sekolah formal sebelum homeschooling (dengan tingkatan kelas yang berbeda-beda dari TK sampai SMA),dan 35% anak yang pernah bersekolah formal diajar sendiri oleh orangtuanya. Homeschooler dapat menggunakan 1 atau lebih kurikulum sesuai dengan kebutuhan mereka. Homeschooler harus menentukan satu kurikulum inti dan kemudian mencari pelengkap dari kurikulum itu jika perlu. Dalam penelitian ini, sebagian besar responden menggunakan murni kurikulum luar negeri sebagai kurikulum inti atau menambahkan KurNas pada kurikulum intinya. Faktor ketidakpuasan terhadap kurikulum yang dipakai di sekolah membuat responden memilih kurikulum lain yang menurut mereka lebih baik daripada KurNas. 84% responden melakukan homeschooling dibawah 5 tahun. Hanya 16% yang telah melakukan lebih dari 5 tahun. 2) Ada 11 alasan mengapa orangtua memilih homeschooling, dan hampir semua alasan ini ada dalam riset yang telah dilakukan di Amerika, alasan yang berbeda adalah adanya faktor melihat kesuksesan keluarga lain sebagai inspirasi untuk melakukan homeschooling, serta ingin meyekolahkan anak ke luar negeri. Faktor melihat pada kesuksean keluarga homeschooling lain, tidak didapati dalam riset di Amerika karena kebudayaan bangsa kita yang bersifat kolektip (collectivistic cultures). Tiga alasan yang terbanyak dijawab orangtua dari 11 alasan tersebut adalah sebagai berikut: Orangtua merasa bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dan ingin agar hubungan dengan anak lebih dekat. Pada dasarnya orangtua menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Keinginan untuk bertanggung jawab dalam kehidupan anak inilah yang membuat orangtua ingin berkorban lebih, terutama dalam hal ini adalah pendidikan. Lewat homeschooling ini orangtua mengharapkan dapat mempererat hubungan orangtua dan anak, karena waktu dengan anak bertambah banyak. Penekanan kepada pendidikan iman, pembentukan karakter dan nilai-nilai agama yang sesuai. Hal ini didorong oleh kurangnya pendidikan agama, nilainilai moral dan karakter di sekolah formal. Ada pula sekolah formal (negeri) yang hanya mengajarkan 1 agama dan mengharuskan semua anak mengikuti pelajaran agama yang tidak sesuai dengan agama mereka. Hal ini mendorong

orangtua melakukan homeschooling karena tidak ada pilihan sekolah yang sesuai dengan keyakinan mereka. Tidak setuju dengan kurikulum di sekolah formal (diknas). Beban pelajaran dan sistem kurikulum yang dianggap terlalu membebani anak serta tekanan yang diciptakan guru kepada anak dalam mengejar target kurikulum membuat banyak orangtua mengeluarkan anak dari sekolah formal. 3) Keuntungan dan kelemahan homeschooling sangat bervariasi tergantung kepada situasi keluarga dan pengalaman dari para responden. Hasil riset ini menyimpulkan 13 keuntungan dan 13 kelemahan homeschooling. Masing-masing tiga poin keuntungan dan kelemahan homeschooling yang paling banyak dijawab oleh para responden, adalah: *Keuntungan: Anak lebih mandiri, tanggung jawab, kreatif dan percaya diri. Proses menuju kemandirian dan tanggung jawab anak tidak terjadi begitu saja, orangtua memegang peranan penting dalam mengarahkan anak. Fleksibilitas waktu dan tempat. Bagi anak berkebutuhan khusus (autis misalnya) orangtua dapat menggabungkan program terapi dan proses pendidikannya. Anak yang berprestasi dalam olahraga dan seni dapat terus menjalankan latihan mereka. Belajar lebih menyenangkan, tidak terpaksa. Sesuai dengan semboyan yang dianut beberapa homeschooler, Belajar bisa di mana saja, kapan saja dan dari siapa saja. *Kelemahan: Dapat terjebak dalam fleksibilitas waktu. Dengan fleksilitas waktu yang tinggi dalam homeschooling sehingga menuntut disiplin dan komitmen yang tinggi pula dari para homeschooler (baik orangtua maupun anak). Sosialisasi seumur relatif kurang berkembang dibandingkan dengan anak sekolah. Orangtua yang menyadari hal ini mengantisipasi dengan memasukkan anak ke dalam kursus-kursus yang sesuai dengan level anak atau bergabung dalam komunitas, sekolah minggu (gereja) dan lain-lain. Anak kurang mampu bersaing dan bekerja kelompok (team work). 4) Kesulitan homeschooling dapat diklasifikasikan menjadi dua faktor, yaitu: faktor Internal (82%) dan faktor Eksternal (18%). Tiga faktor kesulitan Internal yang paling sering dihadapi orangtua: Butuh kesabaran dalam menjaga minat dan motivasi anak untuk belajar. Sulit mengatur waktu belajar anak dan waktu untuk orangtua. Orangtua harus bertanggung jawab penuh atas pendidikan anak. Tiga faktor kesulitan Eksternal yang paling sering dihadapi orangtua: Butuh dukungan dan pengertian dari keluarga, teman, kelompok (komunitas), masyarakat. Pemesanan buku dan bahan ajar sulit, biaya import mahal. Sering terbentur dengan pelayanan dinas pendidikan dan sulit ujian persamaan. 5) Cara ujian kesetaraan (UNPK = Ujian Nasional Pendidikan kesetaraan) a) Ujian ini dilakukan oleh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)

atau komunitas homeschooling yang terdaftar di kantor Diknas setempat. PKBM dan komunitas homeschooling adalah jalur pendidikan nonformal b) Ujian kesetaraan biasa disebut ujian Paket A-B-C (Paket A = SD, Paket B = SMP, Paket C = SMA). c) Homeschooler yang ingin mengikuti ujian kesetaraan ini harus mendaftarkan diri ke Komunitas atau PKBM dan memenuhi persyaratan yang diminta. d) Ujian kesetaraan dilakukan 2 kali dalam satu tahun. Biasanya bulan Juni (pendaftaran paling lambat bulan Maret) dan bulan November (pendaftaran paling lambat bulan September) e) Biaya pendaftaran bervariasi, sesuai dengan ketentuan dari PKBM atau komunitas yang bersangkutan. Untuk bimbingan & evaluasi UNPK (Paket A= SD, Paket B = SMP, Paket C = SMA) dikenakan biaya sekitar Rp 600.000,(tahun 2008) f) Ujian ini dapat diikuti oleh semua anak yang telah menyelesaikan level/jenjang pendidikan sebelumnya. Dengan persyaratan antara lain: Untuk Jenjang SD : Akte Kelahiran , Kartu Keluarga dan 4 lembar pas foto hitam putih ukuran 3X 4. Untuk Jenjang SMP : Ijasah SD, Kartu Keluarga, Rapor/ portofolio /bukti belajar dan 4 lembar pas foto hitam putih ukuran 3X 4. Untuk Jenjang SMA : Ijasah SMP,Kartu Keluarga, Rapor/ portofolio/bukti belajar dan 4 lembar pas foto hitam putih ukuran 3X4. 6) Cara Ujian Nasional (UN = Ujian Nasional) a) Ujian ini dilakukan oleh sekolah-sekolah formal. b) Untuk dapat mengikuti program ini, homeschooler harus mendaftar di PKBM atau komunitas yang memiliki program kemitraan SD/SMP/SMA sekolah formal (untuk ujian, ijasah dan standar evaluasinya). c) Ujian dilakukan satu kali setahun, sesuai dengan jadwal Ujian Nasional dari sekolah formal. d) Pendaftaran paling lambat bulan Juli/Agustus setiap tahunnya. e) Biaya pendaftaran bervariasi, sesuai dengan ketentuan dari PKBM atau komunitas yang bersangkutan. f) Untuk bimbingan evaluasi ujian akhir (Ujian Nasional) dikenakan biaya sesuai dengan permintaan mitra sekolah. g) Biaya bimbingan belajar/evaluasi untuk mempersiapkan ujian tahun 2009: UASBN SD Rp 250.000, Ujian Nasional SMP Rp. 700.000, Ujian Nasional SMA Rp.1.500.000,h) Dana-dana tersebut sepenuhnya untuk mitra sekolah formal / mitra PKBM.

Artikel-artikel karya penulis ini:


Apakah kita di track yang benar? Berkenalan dengan Unschooling Pengalaman memilih metode Tips Memilih Metode Homeschooling Pilihan-pilihan dalam evaluasi

Bahasa dan Tata Nilai Menilai Kemajuan Akademik Mencari Uang Tidak Konvensional Melatih Ketrampilan Menulis Model Kecerdasan Majemuk

Lihat semua artikel yang ditulis oleh penulis ini < Prev Next >

[ Back ] FREE MEMBER Flash Card Suku Kata Mengenali Tubuh Menulis Huruf Besar Mengenal Angka 1-5 Menghitung 1-5 (BW) GOLD MEMBER

Flash Card Belajar Bercerita Flash Card Benda Rumah Flash Card Profesi Belajar Berhitung Mewarnai PLATINUM MEMBER Unit Study Kereta Api Quiz Mata Uang Quiz Keajaiban Dunia Quiz Ibu Kota Negara Quiz Bendera & Negara

THREAD MILIS

HS-Orangtua Bekerja Toko Buku Riset Homeschooling Pelajaran Akhlak Buku-buku HS

Home | Contact Us | News | Links 2011 eMagazine Sekolah Rumah

BAB I PENDAHULUAN Home schooling diselenggarakan ketika orang tua keberatan atau merasa keberatan menyekolahkan anaknya, baik karena alasan jarak ataupun karena alasan-alasan tertentu lainnya Mengapa disebut homeschooling (bersekolah dirumah ) bukan home learning (belajar dirumah)? Padal istilah home learning lebih tepat. Barabg kali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sedemikian merata hingga kemudian dianggap suatu kelajiman tau bahkan keharusan bagi anak-anak. Karena itu, karena seseorang mencoba untuk tidak menyekolah kan anaknya maka dia khawatir akan dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi anak. Mari kita pelajari faktanya! Saat ini, berapa puluh juta lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi? Disisi lain, berapa puluh juta yang berstatus pengangguran ? padahal, betapa besar karunia allah berupa kekayaan alam di negeri ini. Apa yang mereka pelajari di sekolah? Inilah salah satu fakta bahwa belajar di sekolah belum tentu efektif. Dengan kata lain bersekolah belum tentu belajar. Dalam banyak kasus, bersekolah bahkan menjadi penyebab kegagalan hidup seorang anak. Tidak sedikit anak yang terjerumus kepada hal-hal yang negatif yang menghancurkan hidup mereka. Justru mereka dapatkan lewat pergaulan sekolah, baik dari guru mereka tau dari kawan-kawan mereka Tanpa perlu penelitian mendalam, banyak yang menilai bahwa metode pembelajaran dari sistem evaluasi yang sekarang berjalan pun cenderung menciptakan mental-block (hambatan mental) yang menghambat laji kreativitas anak, padahal justru hal itu amat dibutuhkan diera informasi global saat ini. BAB II PEMBAHASAN HOME SCHOOLING DALAM TRADISI ISLAM 2.1 Pengertian home schooling : beberapa pengertian tentang homeschooling diantaranya: menembus impian TricaJus Herbal Ajaib FOREDI sudah terbukti tokcer untuk ATASI EJAKULASI DINI EREKSI KERAS DAN TAHAN LAMA PENIS BESAR PANJANG TANPA OBAT. KLIK-DISINI PENIS BESAR PANJANG TANPA OBAT.

hubungan INTIM TAMBAH UKURAN PENIS TANPA OBAT hanya 169rb kursus KILAT Bhs Inggris WWW.TEGUHHANDOKO.COM INVESTASI HANYA 50RB 1X SEUMUR HIDUP CARA CEPAT & MUDAH PEMULA DAPAT UANG DARI INTERNET

KLIK-DISINI OLES HERBAL UTK KUAT TAHAN LAMA REKOMENDASI BOYKE! FOREDI BIKIN ISTRI KETAGIHAN MLULU! INVESTASI HANYA 50RB 1X SEUMUR HIDUP MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU KumpulBlogger.com

Home schooling adalah sarana paling efektif dalam upaya membangun hubungan baik dan hangat dengan anak. Mendampinginya saat ia menjalani hari-harinya untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa. Home schooling adalah alternatif terbaik dalam mendidik anak, memelihara fitrahnya serta mengembangkan fotensi yang unik. Karena berpijak pada orisinalitas dan individualitas sebagai hamba allah. Home schooling adalah sebuah kesempatan emas (fhurshoh dzahabiyyah) intuk menuaikan secara optimal peran dan tugas keorang tuan yang nanti akan dituntut pertanggungjawabannya dihadapan allah. Home schooling adalah sebuah kesempatan emas (fhushoh dzahabiyyah)untuk mengembangkan potensi orangtua dan anak dalam hal pengusaan ilmu syari, memperbaiki akhlak diri membina keluarga sakinah, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi bahkan mengembangkan potensi ekonomi. 2.2 ISLAMIC HOME SCHOOLING Islamic home schooling adalh home schooling yang diselenggarakan bertitik tolak dari pertimbangan syariI yakni kewajiban orang tua untuk mengasuh dan mendidik anak , serta dijalankan mengikuti tuntunan alquran dan assunah sebagaimana dipahami dan diamalkan para pendahuli umat ini yang shalih (asshasafush sholih)

Pengertian Homeschooling Indonesia


Muhammad Baitul Alim Rabu, 18 Nov 2009 06:24 WIB

Di Indonesia homeschooling sudah ada sejak lama. Sedangkan pengertian Homeschooling (HS) sendiri adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah home education, atau home-based learning yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama. Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah sekolah rumah. Ada juga orangtua yang secara pribadi lebih suka mengartikan homeschooling dengan istilah sekolah mandiri. Tapi nama bukanlah sebuah isu. Disebut apapun, yang terpenting adalah esensinya. Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah. Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya. Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya. Keberadaan homeschooling Indonesia telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (10) yang berbunyi:

Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri Dalam praktek homeschooling tidak harus memenuhi penyetaraan pendidikan. Pendidikan kesetaraan adalah hak dan bersifat opsional. Jika praktisi homeschooling menginginkannya, mereka dapat menempuhnya. Jika tidak, mereka tetap dapat memilih dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tetapi Penyetaraan ini digunakan untuk dapat dihargai dan setara dengan hasil pendidikan formal, tentu setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Penyetaraan dalam praktek homeschooling yaitu penyetaraan ujian, penilaian, penyelenggaraan, dan tujuan pendidikan. Pendidikan kesetaraan dalam ujian nasional meliputi program Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA. Kelebihan homeschooling:

Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga. Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum.

Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.

Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.

Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb).

Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization). Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua

Kekurangan homeschooling:

Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua Sosialisasi seumur (peer-group socialization) relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.

Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan.

Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.

Semua sistem pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangan. Satu sistem sesuai untuk kondisi tertentu dan sistem yang lain lebih sesuai untuk kondisi yang berbeda. Daripada mencari sistem yang super, lebih baik mencari sistem yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan kondisi kita. Sistem pendidikan anak melalui sekolah memang umum dan sudah dipraktekkan selama bertahun-tahun lamanya. Saat ini, pendidikan melalui sekolah menjadi pilihan hampir seluruh masyarakat. Tetapi sekolah bukanlah satu-satunya cara bagi anak untuk memperoleh pendidikannya. Sekolah hanyalah salah satu cara bagi anak untuk belajar dan memperoleh pendidikannya. Sebagai sebuah institusi/sistem belajar, sekolah tidaklah sempurna. Itulah sebabnya, selalu ada peluang pembaruan untuk memperbaiki sistem pendidikan; baik di level filosofi, insitusi, approach, dan sebagainya. Sebagai sosok yang bertanggung jawab untuk mengantarkan anak-anak pada masa depannya, orang tua memiliki tanggung jawab sekaligus pilihan untuk memberikan yang terbaik bagi anakanak. Homeschooling menjadi alternatif pendidikan yang rasional bagi orang tua; memiliki kelebihan dan kekurangan inheren di dalam sistemnya. Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa kita telah memberikan yang maksimal untuk anak-anak kita, dengan segala batasan (constraint) yang kita miliki. (0 votes, average: 0.00 out of 10) You need to be a registered member to rate this post.

Share

Diposting oleh Muhammad Baitul Alim

Muhammad Baitul Alim telah memposting sebanyak 364 . Chief Executive Officer of Psikologi Zone

View all posts by Muhammad Baitul Alim Blog Facebook

Tags: home schooling, homeschooling indonesia, pengertian homeschooling

Baca Juga
Cara Mengajar yang Efektif Melatih Konsentrasi Anak TV sebagai Media Pendidikan Mengingat Lebih Efektif Dilakukan Sendiri Mengapa Murid Sulit Mengungkapkan Pendapat?

Pengertian Homeschooling
oleh: lakilakisuksessss

Pengarang : hanimmah

Summary rating: 1 stars (1 Tinjauan) Kunjungan : 42 kata:600

More About : pengertian homeschooling

Dalam bahasa Indonesia terjemahan yang biasanya digunakan untukHomeschooling adalah sekolah rumah, istilah ini dipakai secara resmi olehDepartemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), untuk menyebutkanHomeschooling. Selain sekolah rumah, Homeschooling juga diterjemahkandengan istilah sekolah mandiri.Tak ada definisi tunggal mengenai Homeschooling karena modelpendidikan yang dikembangkan di dalam Homeschooling sangat beragam danbervariasi.Menurut Sumardiono, pengertian umum Homeschooling adalah modelpendidikan dimana sebuah keluarga memiliki untuk bertanggung jawabsendiri atas pendidikan anak-anaknya dan mendidik anaknya denganmenggunakan rumah sebagai basis pendidikannya. Pada Homeschoolingorang tua bertanggung jawab secara aktif atas proses pendidikan anaknya.Yang dimaksud bertanggung jawab secara aktif adalah keterlibatan penuhorang tua pada proses penyelenggaraan pendidikan, mulai dalam halpenentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai (values) yang ingindikembangkan, kecerdasan dan ketrampilan yang hendak diraih, kurikulum dan materi pembelajaran hingga metode belajar serta praktek belajarkeseharian anak-anak.1Menurut Yayah Komariah, pengertian umum Homeschooling adalahproses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur, dan terarah dilakukanoleh orang tua/keluarga dirumah atau tempat-tempat lain, dimana prosesbelajar mengajar dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengantujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secaramaksimal.Menurut A. Abe Saputra, homeschooling adalah alternatif pendidikanlain dari organisasi sekolah. Anak belajar di bawah pengawasan orang tuanya.Anak dan orang tuanya yang akan menentukan isi atau materi pelajaranmereka. Mereka pun memiliki control penuh akan isi pelajarannya. Perluditekankan, homeschooling bukanlah memindahkan sekolah ke rumah.Kegiatan belajar mengajar agar berbeda dengan di sekolah. Orang tua puntidak perlu selalu menjadi guru tetapi orang tua lebih berperan sebagaifasilitator. Tujuan pendidikan untuk anak adalah agar membuat anak cintabelajar bukan demi menciptakan anak jenius yang menguasai semua bahanyang diajarkan Untuk pembelajaran, keluarga Homeschooling dapat memanfaatkanfasilitas yang ada di dunia nyata, seperti fasilitas pendidikan (perpustakaan,museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya),fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), maupun fasilitas bisnis(mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan). Selain itu keluargahomeschooling dapat menggunakan guru privat, tutor, mendaftarkan anakpada kursus atau klub hobi (komik, film, fotografi), dan sebagainya. Internetdan teknologi audio visual yang semakin berkembang juga merupakan saranabelajar yang biasa digunakan oleh keluarga homeschooling. 4Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa homeschoolingadalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah,dilakukan oleh orang tua sebagai penanggung jawab utama atau keluarga

ataututor dalam suasana yang kondusif, lokasi dan waktunya disesuaikan denganmateri yang diajarkan dengan tujuan mengembangkan potensi anak yang uniksecara maksimal.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2192423-pengertianhomeschooling/#ixzz1bIE2oQfx