MAKALAH SHALAT Hadist
MAKALAH SHALAT Hadist
SHALAT
Disusun Oleh :
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna
dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Shalat.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saranyang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
2
DAFTAR ISI
3
BA
BI
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Shalat fardhu/wajib merupakan ibadah yang memiliki kedudukan istimewa.
Shalat fardhu/wajib dijadikan tolak ukur atau standar awal dalam menilai keseluruhan
amal. Shalat adalah amalan ibadah utama yang akan dihisab pada hari pembalasan kelak
di akhirat. Shalat akan menunjukkan seberapa kualitas amal ibadah seorang hamba
dihadapan penciptanya. Pentingnya melaksanakan shalat fardhu yakni shalat sebagai
tiang agama.1 Shalat diartikan sebagai tiang agama, siapa yang mendirikannya
sesungguhnya ia telah mendirikan agama, dan siapa yang meninggalkannya
sesungguhnya ia telah merobohkan agamanya.
Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan
berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung. (Al-Hajj : 77)
Ibadah merupakan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Shalat
adalah ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah swt. Perintah shalat diterima
langsung oleh Rasulullah Saw tanpa melalui perantara. Tidak dapat dipungkiri bahwa
adanya sumbangsih shalat terhadap diri seorang muslim, dari gerakan shalatnya dapat
diperoleh manfaat kesehatan seperti olah raga fisik yang diperlukan untuk kesehatan
tubuh dan memeliharanya dari penyakit.2
Hasan Ridwan, Fiqih Ibadah, Bandung, Pustaka Setia, 2009, hal 182.
2Aspihan Djarman, Panggilan Allah Kepada Orang-orang Beriman, Kalam Mulia, Jakarta,
1994, hal 1-3
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian shalat
Sholat berasal dari bahasa Arab As-Sholah, sholat menurut Bahasa (Etimologi) berarti
Do'a dan menurut istilah (terminology) adalah ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan
dan perbuatan .Dalam pengertian lain shalat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba
dengan Tuhannya sebagai bentuk, ibadah yang di dalamnya merupakan amalan yang tersusun
dari perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan
salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara’. Shalat juga
merupakan penyerahan diri (lahir dan bathin) kepada Allah dalam rangka ibadah dan memohon
ridho-Nya. Sholat dalam agama islam menempati kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh
ibadah manapun juga, ia merupakan tiang agama dimana ia tak dapat tegak kecuali dengan itu.
Sedemikian pentingnya perintah shalat dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, dalam
aplikasinya ibadah shalat dalam Islam tidak bisa diganti atau diwakilkan. Orang Islam
diwajibkan shalat, selagi masih ada kesadaran di hatinya. Pelaksanaan shalat bisa dilakukan
dengan berbagai cara, tergantung pada keadaan pelakunya (kalau tidak bisa berdiri boleh
duduk, kalau tidak bisa duduk boleh berbaring, dan seterusnya). Berdasarkan paparan
mengenai pentingnya posisi shalat dalam Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat
merupakan faktor terpenting yang menyangga tegaknya agama Islam. Oleh karena itu, sudah
sepatutnya, umat Islam melaksanakan shalat dan memahami maknanya dengan sebaik-baiknya
5
1. Menurut Hadits Bukhari Nomor 497
Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Hamzah] berkata, telah menceritakan
kepadaku [Ibnu Abu Hazim] dan [Ad Darawardi] dari [Yazid] -yakni Ibnu 'abdullah bin Al
Hadi- dari [Muhammad bin Ibrahim] dari [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] dari [Abu
Hurairah], bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bagaimana
pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia
mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang
tersisa padanya?" Para sahabat menjawab, "Tidak akan ada yang tersisa sedikitpun kotoran
padanya." Lalu beliau bersabda: "Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah
akan menghapus semua kesalahan."3
Keterangan Hadis: ( أ َ َرأ َ ْيت ُ ْمTahukah kalian) Ini adalah pertanyaan yang bersifat taqrir
(menetapkan) yang berkaitan dengan meminta berita, artinya beritahukanlah aku.
( لَ ْو أَن نَه ًْراSeandainya ada sungai) Ath-Thaibi berkata, “Lafaz لَ ْوmasuk kepada fi’il (kata kerja)
dan membutuhkan jawaban. Tapi fungsi pertanyaan ini adalah untuk memperkuat dan
menetapkan. Perkiraan kalimatnya adalah ‘jika sifat sungai itu begini … maka tidak tersisa
seperti ini’.”
( النه ُْرsungai) adalah apa yang ada di antara dua sisi lembah. Dinamakan seperti itu karena
luasnya, seperti juga penamaan ( النهَا ُرsiang) adalah karena cahayanya yang luas.
( َما تَقُو ُلapa yang akan kamu katakan?) Riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Mustakhraj memakai
bentuk jamak َتَقُولُون
Adapun faidah perumpamaan dalam hadits tersebut adalah untuk memperkuat dan
menjadikan sesuatu seperti apa yang dapat ditangkap dengan indera. Ath-Thaibi berkata,
“Dalam hadits ini ada mubalaghah (penegasan yang lebih) dalam menafikan dosa, sebab
mereka tidak hanya menjawab dengan kata ‘tidak’ tapi mengulangi lafazh yang ada dalam
pertanyaan untuk menegaskan dan memperkuat jawaban yang dikemukakan.”
Hadis Shahih Al-Bukhari, kitab fathul Bari Jilid 3, Pecihitam, Hal 336-339
6
lbnu Al Arabi mengatakan bahwa letak perumpamaan tersebut adalah bahwa seseorang
bisa menjadi kotor dengan kotoran-kotoran yang ada di badan dan pakaiannya dan bisa
dibersihkan dengan air yang banyak, maka demikian halnya dengan shalat dapat menyucikan
seorang hamba dari dosa-dosa.
Secara lahiriah yang dimaksud dengan kesalahan dalam hadits tersebut mencakup dosa
kecil dan besar. Tapi lbnu Baththal mengatakan, bahwa yang dimaksud dosa dalam hadits
adalah dosa-dosa kecil, seperti kesalahan yang diakibatkan oleh Ad-Daran, yaitu kotoran kecil.
Hal itu berdasarkan bahwa Ad-Daran dalam hadits berarti Al Habb (biji), tapi secara lahiriah
yang dimaksud dengan Ad-Daran adalah wasakh (kotoran), karena arti itulah yang sesuai
dengan kata “mandi” dan “membersihkan”. Hal itu telah dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id Al
Khudri yang diriwayatkan Al Bazzar dan Thabrani dengan sanad laa ba’sa bihi dari jalur Atha’
bin Yasar, bahwa dia mendengar Abu Sa’id Al Khudri bercerita bahwa dia mendengar
Rasulullah SAW bersabda, (Bagaimana pendapatmu jika seorang mempunyai tempat kerja,
dan antara tempat kerja dan rumahnya ada lima sungai, jika ia pergi ke tempat kerjanya dan
bekerja seperti yang Allah kehendaki lalu terkena kotoran atau keringat, dan setiap kali
melewati sungai ia mandi di dalamnya?)
Imam Qurthubi berkata, “Secara lahiriah hadits tersebut menjelaskan bahwa shalat lima
waktu bisa menggugurkan semua dosa. Pendapat seperti ini akan menimbulkan permasalahan.”
Tetapi Imam Muslim sebelumnya meriwayatkan dari Abu Hurairah, (shalat lima waktu adalah
sebagai penebus dosa-dosa selama dosa-dosa besar dijauhi). Maka, hadits yang bersifat umum
tersebut harus dipahami dalam pengertian hadits yang khusus, seperti dalam hadits Imam
Muslim.
Ibnu Bazizah berkata dalam kitab Syarah Ahkam, “Dalam hadits Ala’ ada kerancuan yang
susah dijawab, yaitu bahwa menurut Al Qur’an dosa kecil gugur jika dosa besar dijauhi.”
Jika begitu, maka apa yang dihapus oleh shalat lima waktu? Imam Balqini menjawab,
bahwa pertanyaan itu tidak pada tempatnya sebab maksud dari firman Allah dalam surah An-
Nisaa’ ayat 31, (Jika kalian meninggalkan), adalah dalam semua masa (umur); yaitu dari waktu
beriman sampai mati. Sedangkan dalam hadits-hadits tersebut disebutkan bahwa shalat lima
waktu menggugurkan dosa di antara shalat lima waktu itu -pada hari itu- jika dosa-dosa besar
dijauhi pada hari itu juga. Dari sini, maka tidak ada kontradiksi antara ayat dengan hadits.
Ada solusi lain, yaitu meninggalkan dosa besar tidak cukup tanpa mengerjakan shalat lima
waktu. Bagi yang tidak mengerjakan shalat lima waktu, maka tidak dianggap meninggalkan
dosa besar sebab meninggalkan shalat termasuk dosa besar. Bahkan, orang yang melakukan
hal itu dianggap kafir.
7
Syaikh Balqini menjelaskan kondisi manusia yang berkaitan dengan dosa kecil dan dosa
besar yang dilakukannya, ia mengatakan bahwa dalam hal ini ada lima macam:
Seperti diketahui, bahwa salat merupakan tiang agama dalam Islam. Bahkan kelak di
akhirat, salat menjadi amalan yang dihisab atau dihitung pertama kali. Hal ini dijelaskan dalam
hadist yang disebutkan sebelumnya. Selain itu, ada sejumlah ayat dan sabda Nabi Muhammad
SAW lainnya juga yang turut menjelaskan amalan yang disukai Allah ini. Bahkan kelak salat
tepat waktu akan menjadi cahaya penerang di hari kiamat.
َ ع ْن
ِ َّ ع ْب ِد
ّللا ب ِْن َ صدَ ِفيَّ سى ب ِْن ه ََِلل ال َ ع ْن ِعي َ َع ْلقَ َمة
َ ب ْب ُنُ س ِعيدَ َحدَثَنِي َك ْع َ الرحْ َم ِن َحدَّثَنَا َ َحدَّثَنَا أَبُو
َّ ع ْب ِد
ً َُت لَهُ ن
ورا ْ علَ ْي َها كَان
َ ظ َّ سلَّ َم أَنَّهُ ذَك ََر ال
َ ص ََلةَ يَ ْو ًما َفقَا َل َم ْن َحا َف َ علَ ْي ِه َو َّ صلَّى
َ ُّللا َ ِ ع ْن النَّبِي
َ ع ْمرو َ
علَ ْي َها لَ ْم يَ ُك ْن لَهُ نُور َو َل ب ُْرهَان َو َل نَ َجاة َو َكانَ يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة َم َع ُ َوب ُْرهَانًا َونَ َجاة ً يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة َم ْن لَ ْم يُ َحا ِف
َ ظ
ع ْونَ َوهَا َمانَ َوأُبَي ِ ب ِْن َخلَف َ ارونَ َو ِف ْرُ َق
"Barangsiapa yang menjaganya, ia akan mempunyai cahaya, bukti dan keselamatan kelak di
hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak mempunyai cahaya, bukti
dan keselamatan pada hari kiamat dan ia akan tinggal bersama Qorun, Fir'aun, Haman dan
Ubay bin Khalaf." (HR. Ahmad: 6288)
Sholat pada awal waktu merupakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada
hamba-Nya. Ia menjadi perantara seseorang untuk memperoleh kebahagianya, dan rasa
nyaman setelah ia Lelah dan sibuk dengan urusan dunianya. Kemudian ia bermunajat kepada
Allah sehingga memperoleh solusi dalam memecahkan kesulitan-kesulitan pada dirinya,
kemudian ia menampakan rasa takut dan kelalaiannya dihadapan keagungan Allah SWT.
Karena lalai dalam sholat merupakan tanda tertolaknya amalan seseorang.
Ketika seorang muslim mendengarkan suara adzan maka seakan-akan hatinya hadir
ditengah gemuruhnya panggilan pada hari kiamat. Karenanya ia sering meninggalkan
pekerjaanya dan cepat-cepat melaksanakan panggilan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang
8
memenuhi panggilan Allah dengan melakukan sholat, maka kelak pada hari kiamat termasuk
orang-orang yang dipangggil dengan cara halus.
Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pentingnya waktu sholat firman Allah SWT :
“ Sesungguhnya sholat bagi orang-orang mukmin itu merupakan ketetapan yang sudah
ditentukan waktunya bagi mereka. ” ( QS.an-Nisa’ : 103 )
Salah satu keutamaan sholat yaitu mendapatkan tempat disurga,Kecintaan Allah kepada
hamba-Nya yang sering melakukan sholat tepat waktu juga terbukti dengan janjinya yaitu
mendapatkan ganjaran berupa surga .
Diriwayatkyan oleh Abu Daud dari Abu Qatadah bin Rib’iy mengabarkan kepadanya
bahwa rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :” Allah Ta’ala berfirman :
Sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu sholat lima waktu , dan aku berjanji bahwa
baragsiapa yang menjaga watu – waktunya pasti aku akan memasukkannya ke dalam surga ,
dan barang siapa yang tidak menjaganya maka dia tidak mendapatkan apa yang aku janjikan
Kebahagian berupa keindahan surge yang abadi di akhirat kelak . Telah disiapkan oleh Allah
bagi hamba – hambanya yang santiasa mengingat Allah dengan menyegerakan shalat diawal
waktu . Sekali lagi Allah tidak akan pernah mengingkari janji kepada hamba – hambanya ,
maka dari itu menyegerakan shalat pada awal waktu adalah salah satu cara bagi kita sebagai
hambanya untuk mendapatkan balasan surga .
Jadi mereka tidak kehilangan waktu shalat karena malas, tidak menyia-yiakan waktu
shalat dan tidak melalaikan waktu shalat. Tetapi mereka melaksanakan sholat tepat pada
waktunya , melaksanakan kewajiban dan sunnah dalam shalat dengan sempurna yaitu sesuai
dengan syarat dan rukun dalam sholat .
Sholat merupakan bentuk komunikasi antara hamba dengan Tuhannya . Oleh karena itu
siapa yang tidak mau memelihara shalatnya , berarti ia tidak bisa diharapkan untuk memelihara
hubungan yang hakiki antara dirinya dengan sesama manusia
Perlu diketahui shalat fajar sebenarnya merujuk pada waktu pelaksanaan shalat yang dilakukan
kala fajar telah terbit. Dengan demikian, shalat tahajud, shalat tarawih, shalat witir, dan shalat
lain yang dilakukan mulai selepas isya’ hingga sebelum masuk waktu subuh tidak termasuk
dalam kategori penamaan shalat fajar, melainkan shalat malam.
9
Hanya ada dua shalat yang terkhusus dilakukan kala fajar telah terbit, yakni shalat sunah
qabliyah subuh dan shalat subuh. Lantas sebenarnya makna dari shalat fajar apakah merujuk
pada shalat subuh atau qabliyah subuh? Atau justru mencakup kedua-duanya?
ع ْن
َ س ْع ِد ب ِْن ِهشَام َ ارة َ ب ِْن أ َ ْوفَى
َ ع ْن َ ع ْن ُز َر َ َ ع ْن قَت َادَة
َ س ِعيد َ ع ْن َ ُ ع ْبدَة ُ أ َ ْخبَ َرنَا ه
َ َارونُ بْنُ إِ ْس َحقَ قَا َل َحدَّثَنَا
سلَّ َم قَا َل َر ْك َعت َا ْالفَجْ ِر َخيْر ِم ْن الدُّ ْن َيا َو َما ِفي َها
َ علَ ْي ِه َو َّ صلَّى
َ ُّللا َ َ شة
َ ِ ع ْن النَّ ِبي َ عا ِئ
َ
Telah mengabarkan kepada kami [Harun bin Ishaq] dia berkata; telah menceritakan kepada
kami ['Abdah] dari [Sa'id] dari [Qatadah] dari [Zurarah bin Aufa] dari [Sa'd bin Hisyam] dari
['Aisyah] dia berkata; dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Shalat Fajar dua rakaat lebih baik daripada dunia dan seisinya."
Dalam beberapa hadits dijelaskan berbagai keutamaan melaksanakan shalat fajar. Hadits yang
cukup masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah berikut:
Artinya: Dua rakaat shalat fajar lebih utama dari dunia dan seisinya. (HR Muslim).
Imam Abu Hasan al-Mubarakfuri mengartikan dua rakaat shalat fajar pada hadits di atas pada
makna shalat sunah fajar, sehingga yang dimaksud adalah shalat qabliyah subuh. Hal ini seperti
yang dijelaskan dalam karyanya, Mir’ah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih:
Artinya: Maksud dari perkataan ‘dua rakaat shalat fajar’ (dalam hadits) adalah shalat sunah
(qabliyah) fajar. Penyebutannya memang masyhur dengan nama ini. (Abu al-Hasan al-
Mubarakfuri, Mir’ah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih, juz 4, halaman: 137).
Pemaknaan shalat fajar sebagai shalat qabliyyah subuh juga dikuatkan dengan berbagai kata
“rak‘atai-l-fajr” (dua rakaat shalat fajar) yang terdapat dalam beberapa hadits, misalnya dalam
dua hadits berikut ini:
كان رسول هللا صلى هللا عليه وسلم يصلي ركعتي الفجر قبل الصبح في بيتي يخففهما جدا:عن حفصة قالت
10
Artinya: Diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha, ia berkata: Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam belum pernah dalam melakukan shalat sunah lebih diperhatikan
dari dua rakaat fajar. (HR Bukhari)
Sedangkan dalam beberapa redaksi hadits yang lain, makna shalat fajar tidak merujuk pada
shalat sunah, tapi justru merujuk pada shalat subuh yang merupakan shalat fardhu. Perhatikan
hadits berikut:
سنًا
َ س َح َّ صَلَّهُ َحتَّى ت َْطلُ َع ال
ُ ش ْم َ َصلَّى ْالفَجْ َر َجل
َ س فِى ُم َّ ِس ُم َرة َ أ َ َّن النَّب
َ َكانَ ِإذَا-صلى هللا عليه وسلم- ى َ ع ْن َجابِ ِر ب ِْن
َ
Artinya: Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Samurah bahwa Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam ketika telah melaksanakan shalat fajar, beliau duduk di tempat shalatnya
sampai matahari terbit dengan terang. (HR Muslim).
Makna hadits di atas dapat dipastikan merujuk pada shalat subuh, dengan berdasarkan indikasi
(qarinah) lafadz setelahnya yang tidak menjelaskan bahwa Nabi Muhammad melaksanakan
shalat yang lain kecuali shalat subuh.
Dalam beberapa hadits yang lain juga dijelaskan pemaknaan shalat fajar sebagai shalat subuh,
dengan melihat pada hadits yang semakna namun dari riwayat yang berbeda. Seperti yang
dijelaskan oleh Imam al-Munawi berikut ini:
ـ )من صلى الفجر( أي صَلة الفجر بإخَلص وفي رواية صَلة الصبح )فهو في ذمة هللا( ـ
Artinya: Barang siapa melaksanakan shalat fajar dengan ikhlas—dalam sebagian riwayat
diungkapkan dengan kata shalat subuh—maka dia berada dalam jaminan Allah. (Al-
Munawi, Faid al-Qadir, juz 6, halaman: 213).
Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin ‘Umar, secara tegas
memaknai redaksi ‘shalat al-fajar” dengan makna shalat subuh. Perhatikan hadits berikut:
Artinya: Tidak ada shalat setelah (terbit) fajar kecuali dua rakaat sebelum shalat fajar. (HR
Thabrani)
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ketika shalat fajar
diredaksikan dengan kata “rak’atai-l-fajr” (dua rakaat fajar), maka makna yang dimaksud
adalah shalat sunah qabliyah subuh. Sedangkan ketika shalat fajar diredaksikan dengan kata
“shalla-l-fajr” atau dengan kata “shalat al-fajr”, maka makna yang dimaksud adalah shalat
subuh.
Demikian bila kita memaknainya berdasarkan pada analisis berbagai hadits Nabi. Sedangkan
11
jika meninjaunya dari segi ‘urf lughat (keumuman bahasa) yang berlaku dalam masyarakat
Arab, mereka umumnya memaknai shalat fajar sebagai shalat subuh.
Hal ini dapat kita amati ketika memperhatikan berbagai redaksi dalam berbagai kitab turats
saat menjelaskan tentang shalat subuh yang biasanya menggunakan redaksi kata “shalat al-
fajr”, sama persis dengan pelafalan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani di atas.
Sedangkan ketika membahasakan shalat qabliyah subuh, maka umumnya orang Arab dalam
berbagai redaksi menggunakan kata “rak’atai-l-fajr”.
12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Shalat merupakan salah satu sarana yang paling utama dalam hubungan antara manusia
dengan Allah SWT. Shalat juga merupakan sarana komunikasi bagi jiwa manusia
dengan Allah swt. Shalat juga mempunyai kedudukan yang sangat penting dan
mendasar dalam Islam, yang tidak bisa disejajarkan dengan ibadah-ibadah yang lain.
Shalat sering kali disebutkan dalam Al-Qur’an diantaranya adalah: Q.S At-Taubah:18;
Q.S Al-Baqarah:45; Q.S Al-Baqarah:110 ; Q.S Al-Baqarah:177; Q.S Ar-Ra’d:22; Q.S
Ibrahim:31; Q.S Al-A’raf:170; Q.S At-Taubah:18; Q.S An-Nisa:43; Q.S An-Nisa:101;
Q.S An-Nisa:102; Q.S An-Nisa:103; Q.S An-Nisa:162; Q.S Al-Maidah:6; Q.S Al-
Maidah:12; Q.S Hud:114; Q.S Ibrahim:37; Q.S Ibrahim:40; Q.S Al-Hijr:98; Q.S Al-
Isra’:78; Q.S Maryam:31; Q.S Maryam:59 Q.S Thaha:14; Q.S Thaha:132; Q.S Al-
Hajj:77; Q.S Al-Mukminun:2; Q.S An-Nur:56; Q.S Al-Ankabut:45; Q.S Luqman:17;
Q.S Fathir:29; Q.S Al-Fath:29; Q.S Al-A’la:15; Q.S Al-Bayyinah:5. Dari sekian ayat
dalam surat-surat yang terdapat Al-Qur’an tersebut menunjukkan betapa pentingnya
kedudukan shalat dalam kehidupan. Diantara pentingnya Shalat dalam kehidupan
adalah sebagai berikut:
1. Shalat adalah tolok ukur amal, yang berarti bahwa kualitas amal seseorang
ditentukan oleh Shalatnya. Hal ini seperti disebutkan dalam hadist Rasulullan yang
diriwayatkan Abu Dawud dan Tirdzi, “hal pertama yang akan dihisab kelak di hari
pembalasan adalah Shalat. Apabila baik Shalatnya, maka akan baik pula amal-amal
lainnya. Dan apabila Shalatnya rusak, maka akan rusak pula amal-amal lainnya,”
2. Shalat adalah tiang agama. Hal ini disebutkan dalam hadist Rasulullah yang
diriwayatkan oleh Baihaqi “Shalat itu adalah tiang agama (Islam), maka
barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama; dan
barangsiapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah merubuhkan agama”
3. Shalat adalah kunci surga. Hal ini disebutkan dalam hadist Rasulullah yang
diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir yang dikutip dari kitab Ihya Uumuddin karya
Imam Ghazali.
4. Shalat merupakan perintah langsung dari Allah swt tanpa perantara malaikat
kepada Nabi Muhhamad saw ketika perjalanan Isra dan Mi’raj.
5. Shalat menjadi benteng yang menjaga diri kita dari perbuatan keji dan maksiyat.
Hal ini disebutkan dalam Al-Ankabut: 45, “Bacalah apa yang telah diwahyukan
kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat
itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang
lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
6. Shalat sebagai pengingat kita kepada Allah swt, seperti yang dituliskan dalam Surat
Ta Ha ayat 14, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”
13
Bahkan Rasulullah dalam sebuah hadistnya menegaskan bahwa Shalat menjadi
pembeda atau pembatas yang tegas antara seorang muslim dengan orang kafir.
“Perjanjian antara kami dengan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat,
barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-
Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Senada dengan hadis tersebut, Umar bin
Khattab juga menyatakan, “Tidak ada islam bagi seseorang yang tidak menegakkan
shalat” Dari ulasan diatas sudah seharusnya sebagai seorang muslim kita harus
menaruh perhatian yang sangat besar dalam menjalankan Shalat dengan sebaik-
baiknya, penuh tanggung jawab, dan bukan sekedar rutinitas atau penggugur
kewajiban. Dengan demikian kita akan menjadi orang-orang yang akan
mewarisi surga Firdausnya Allah dan Insya Allah kekal di dalamnya. Aaminn.
2. Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kedepannya kami
akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan makalah diatas dengan sumber-sumber
yang lebih banyak.
14
DAFTAR PUSTAKA
Hasan Ridwan, Fiqih Ibadah, Bandung, Pustaka Setia, 2009, hal 182.
Aspihan Djarman, Panggilan Allah Kepada Orang-orang Beriman, Kalam Mulia, Jakarta,
1994, hal 1-3
Hadis Shahih Al-Bukhari, kitab fathul Bari Jilid 3, Pecihitam, Hal 336-339
https://www.eannovate.com/blog/application/pentingnya-shalat-bagi-umat
muslim/#:~:text=Shalat%20mempunyai%20kedudukan%20yang%20sangat,dengan%20ibada
h%2Dibadah%20yang%20lain.&text=Ketaatan%20dalam%20melakukan%20shalat%20menj
adi,yaitu%205%20waktu%20dalam%20sehari.
https://mutiaraislam.net/ayat-alquran-tentang-shalat/
http://www.bashair.net/2017/01/sholat-sebagai-tolok-ukur.html
https://news.detik.com/foto-news/d-4851526/keutamaan-sholat-kunci-surga-hingga-amalan-
pertama-dihisab-di-hari-kiamat/2
15