Anda di halaman 1dari 8

PENYIMPANGAN KDM

1 sel Sperma membuahi 1 ovum (1 zigot)

Bangsa, umur, peritas, keturunan, obat penginduksi ovulasi

Hambatan pada tingkat blastula, zigote mengalami pembelahan

2 zigote Kehamilan Ganda

2 ovum diabuahi 2 sperma Perubahan hormon Mual, muntah, anoreksia

Mal presentasi

Bayi prematur Presentasi janin normal

Ketidakseimba ngan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


Kepekaan uterus meningkat Resting intoleransi aktivitas

Pembedahan (SC)

Persalinan pervaginam

Resiko tinggi infeksi Post operasi (SC)


Ancaman kematian ibu & janin

Ansiet as
Kurang informasi

Uterus membesar sesuai usia kehamilan

Tekanan abdomen meningkat

Kurang pengetahuan

Perubahan eliminasi urine (sering berkemih)

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEHAMILAN GANDA A. 1. PENGKAJIAN Anamnesa Pada anamnesa dapat diketahui adanya anak kembar dalam keluarga, umur dan paritas ibu hamil juga diperhatikan. Ibu merasa bahwa perutnya lebih besar dari semestinya kehamilan, dan pergerakan anak mungkin lebih sering terasa. Kaji keluhan subjektif seperti: perasaan berat, sesak napas, bengkak kaki dan lain lain. 2. a. Inspeksi Perut lebih besar dari tuanya kehamilan. b. Palpasi Fundus uteri lebih tinggi tidak sesuai dengan usia kehamilan. Teraba 3 bagian besar janin, teraba 2 balotement, teraba gerakan gerakan janin yang lebih banyak, serta teraba banyak bagian bagian kecil c. Auskultasi Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut permenit atau sama sama dihitung dan berselisih 10. d. Vaginal toucher Mungkin teraba kepala yang sudah masuk kedalam rongga pinggul diatas simphisis teraba bagian besar. B. 1. 2. abdomen. 3. Resiko tinggi intoleransi aktivitas b.d kepekaan uterus meningkat. DIAGNOSA KEPERAWATAN Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, Perubahan eliminasi urine b.d pembesaran uterus dan peningkatan tekanan Pemeriksaan fisik.

PRE OPERASI muntah, anoreksia.

4. 5. informasi.

Ansietas b.d kemungkinan kelahiran prematur, ancaman yang dirasakan Kurang pengetahuan mengenai situasi resiko tinggi b.d kurangnya

atau aktual terhadap janin dan diri sendiri.

POST OPERASI 1. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan. C. INTERVENSI KEPERAWATAN

PRE OPERASI Diagnosa I: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah, anoreksia Tujuan: kebutuhan nutrisi adekuat. Kriteria hasil: Intervensi: 1. Kaji pola makan klien saat ini dan masa lalu. Rasional: memastikan status nutrisi sebelum konsepsi adalah penting untuk manajemen perkembangan janin yang tepat, khususnya jaringan otak pada minggu awal kehamilan. 2. Timbang berat badan klien, bandingkan berat badan saat ini dengan berat badan kehamilan. Rasional: berat badan yang kurang beresiko terhadap anemia, defisiensi vitamin, mineral, protein. 3. Berikan informasi tentang resiko penurunan berat badan selama kehamilan dan tentang kebutuhan makanan klien dan janin. Rasional: meningkatkan pengetahuan klien guna memperbaiki status gizi. 4. Anjurkan makan sedikit tapi sering dan sajikan dalam keadaan hangat, menu seimbang. mual dan muntah berkurang. Berat badan meningkat karena adanya kehamilan ganda dan sesuai dengan usia kehamilan. Nafsu makan meningkat.

Rasional: menghindari mual saat makan sehingga makanan dapat masuk ke tubuh. Diagnosa II: Perubahan eliminasi urine b.d pembesaran uterus dan peningkatan tekanan abdomen. Tujuan: Pola elminasi BAK normal (frekuensi, jumlah). Kriteria hasil: Intervensi: 1. Berikan informasi tentang perubahan perkemihan sehubungan dengan trimester ketiga. Rasional: membantu klien memahami alasan fisiologis dari frekuensi berkemih dan nokturia. Pembesaran uterus trimester ketiga menurunkan kapasitas kandung kemih, mengakibatkan sering berkemih. 2. Anjurkan klien untuk melakuakn posisi miring kiri saat tidur, perhatikan keluhan nokturia. Rasional: meningkatkan perfusi ginjal, memobilisasi bagian yang mengalami edema dependen, edema berkurang pada pagi hari (pada kasus edema fisiologis). 3. Berikan informasi mengenai perlunya masukan cairan 6 sampai 8 gelas perhari. Rasional: mempertahankan tingkat cairan. Diagnosa III: Resiko tinggi intoleransi aktivitas b.d kepekaan uterus meningkat. Tujuan: Kebutuhan ADL klien terpenuhi. Kriteria hasil: Klien dapat menyatakan kesadaran terhadap toleransi aktivitas. Klien dapat merencanakan perubahan yang perlu pada gaya hidup / aktivitas setiap hari. Bebas dari kelelahan berlebihan atau kepekaan / kontraksi terus menerus dari uterus. Intervensi: 1. Anjurkan klien melakukan aktivitas dengan istirahat yang cukup. Fekuensi berkemih 6 7 kali/hari. Dapat mengidentifikasi cara cara untuk mencegah statis urunarius.

Rasional: menghemat energi dan menghindari pengerahan tenaga terus menerus untuk meminimalkan kelelahan. 2. Anjurkan istirahat yang adekuat dan penggunaan posisi miring kiri. Rasional: meningkatkan aliran darah ke uterus dan dapat menurunkan kepekaan uterus. 3. Instruksikan klien untuk menghindari aktivitas / kerja berat, dan perjalanan jauh (dengan motor) lebih dari 1 2 jam. 4. Tekankan pentingnya aktivitas hiburan yang tenang. Rasional: mencegah kebosanan dan menigkatkan kerja sama dengan pembatasan aktivitas. Diagnosa IV: Ansietas b.d kemungkinan kelahiran prematur, ancaman yang dirasakan atau aktual terhadap janin dan diri sendiri. Tujuan: Ansietas berkurang / hilang. Kriteria hasil: Intervensi: 1. Perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan untuk berfungsi / membuat keputusan. Rasional: stress yang tidak diatasi dapat mempengaruhi penyelesaian tugas tugas kehamilan. 2. Tinjau ulang kemungkinan kemungkinan sumber ansietas. Rasional: kehamilan tidak lengkap dihubungkan dengan beberapa ansietas bagi klien. 3. Kaji tingkat stress klien / pasangan berhubungan dengan komplikasi medis, hubungan pasangan, hubungan dengan anggota keluarga, dan ketersediaan dan jaringan kerja pendukung. Rasional: pola hubungan yang buruk akan meningkatkan tingkat stress. 4. Anjurkan klien / pasangan mengekspresikan perasaan frustasi yang berkenaan dengan aturan terapi dan atau perubahan gaya hidup. Jelaskan pada klien bahwa pengungkapan dapat diterima dan penting. Klien tampak rileks. Klien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi.

Rasional: Klien membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mengungkapkan rasa marah/frustasi tentang perubahan dalam hidup keluarga untuk meminimalkan ansietas. 5. Berikan informasi yang tepat secara individu mengenai intervensi atau tindakan dan dampak potensial kondisi pada klien dan janin. Rasional: membantu untuk menurunkan ansietas karena ketidaktahuan. Diagnosa V: Kurang pengetahuan mengenai situasi resiko tinggi b.d kurangnya informasi. Tujuan: menyatakan pemahaman mengenai situasi resiko tinggi dari kehamilan ganda. Kriteria hasil: Intervensi: 1. Berikan informasi yang adekuat berhubungan dengan situasi resiko tinggi, termasuk penjelasan yang singkat dan sederhana dari perubahan patofisiologis dan implikasi maternal dan janin. Rasional: Meningkatkan pemahaman klien. 2. Berikan informasi yang tepat berkenaan dengan skrining dan metode tes serta prosedur. Rasional: Memberikan kepuasan pada pasien akan informasi. 3. Identifikasi tanda tanda bahaya yang memerlukan pemberitahuan segera terhadap pemberi perawatan kesehatan (misal: KPD, persalinan preterm, perdarahan vaginal). Rasional: Pengenalan situasi beresiko tinggi mendorong evaluasi / intervensi segera, yang dapat meningkatkan atau membatasi hasil. Klien dapat mengungkapkan kesadaran akan kondisi yang membuat klien beresiko. Klien dapat menyebutkan kemungkinan tindakan pencegahan. Klien berpartisipasi untuk mencapai kemungkinan kehamilan dan persalinan terbaik.

POST OPERASI Diagnosa I: Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan. Tujuan: Tidak terjadi infeksi. Kriteria hasil: Intervensi: 1. Kaji suhu dan pernapasan klien Rasional: Peningkatan TTV dapat mennunjukkan terjadinya infeksi. 2. Perhatikan jumlah dan bau rabas lokhea. Tinjau ulang kemajuan normal dari rubra ke serosa ke alba. Rasional: Lokhea normal mempunyai bau amis, namun ada endometritis, rabas mungkin purulen dan bau busuk tidak menunjukkan perubahan normal. 3. Rawat luka post operasi SC dengan teknik aseptik secara rutin, dan laporkan bila terdapat tanda gejala infeksi. Rasional: Perawatan lukan secara aseptik dapat mengurangi resiko infeksi. 4. Kolaborasi medis pemberian antibiotika, anti inflamasi. Rasional: Untuk penatalaksanaan mencegah infeksi. 5. Beri nutrisi yang cukup dan menu seimbang, serta masukan cairan yang adekuat. Rasional: Mempercepat penyembuhan luka. Tidak terdapat tanda gejala infeksi TTV dalam batas normal.

DAFTAR PUSTAKA Doengoes, Marilynn E, et al., 2001, Rencana Perawatan Maternal / Bayi: Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien, Ed. 2, EGC, Jakarta. Hacker, Neville F, Moore, J. G., 2001, Essential Obstetri dan Ginekologi, Ed. 2, Hipokrates, Jakarta. Manuaba, I.B.G., 2001, Kapita Selekta Pelaksanaan Rutin Obstetric Ginekologi & KB, EGC, Jakarta. Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi, EGC, Jakarta. Varney, Helen, 2001, Buku Saku Bidan, EGC, Jakarta. Wikrojosastro, Hanifa, 1999, Ilmu Kebidanan, Ed. 3, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta