Anda di halaman 1dari 18

Diagnosis dan Penatalaksanaan Gagal Pulih (Frailty) Pada Lansia

Referat Ilmu Penyakit Dalam

Oleh :

Yudi Pranata 54081001014

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia meningkat dengan sangat cepat. Indonesia memiliki jumlah penduduk 119,2 juta jiwa pada tahun 1971 bertambah menjadi 237,6 juta jiwa pada tahun 2010.1 Peningkatan tersebut jugan diikuti oleh peningkatan umur harapan hidup penduduk Indonesia menjadi 70,76 tahun pada tahun 2011 dengan rincian 68,26 tahun pada pria dan 73,38 tahun pada wanita.2 Menurut undang-undang no.13 tahun 1998, penduduk yang berusia lebih dari 60 tahun dikenal sebagai lanjut usia (lansia). Pada tahun 2010 tercatat lebih dari 18,03 juta jiwa (7,6%) penduduk Indonesia tergolong kelompok lansia. Dengan pertumbuhan jumlah lansia 11,3% per tahun, diperkirakan jumlah lansia di Indonesia menjadi 28,8 juta jiwa pada tahun 2020.2 Mengingat lansia yang erat kaitannya dengan masalah kesehatan degenarif dan produktifitas yang menurun, kita harus mulai memberikan perhatian lebih terhadap lansia termasuk masalah kesehatan lansia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan memiliki andil yang besar dalam peningkatan angka harapan hidup di Indonesia. Pencapaian ini disambut gembira sebagai suatu keberhasilan pembangunan bangsa yang berkesinambungan. Akan tetapi, hal ini dapat juga menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan apabila tidak mendapat perhatian lebih lanjut, terutama oleh praktisi kesehatan. Kesenjangan sosial, jumlah tenaga dan fasilitas kesehatan yang tidak merata serta keberagaman tingkat pengetahuan dapat menyebabkan variasi status kesehatan lansia mulai dari yang paling baik hingga yang paling buruk. Proses degenerasi pada lansia menyebabkan perubahan struktur dan penurunan fungsi sistem tubuh yang diyakini memberikan dampak yang signifikan terhadap gangguan kesehatan, apalagi yang disertai dengan penyakit sistemik seperti diabetes melitus dan hipertensi. Bertambahnya umur seseorang yang diikuti dengan munculnya gangguan fisiologis, penurunan fungsi, gangguan kognitif, gangguan afektif, dan gangguan psikososial dapat mengakibatkan gagal pulih (frailty) pada lansia. Gagal pulih saat ini menjadi istilah yang sangat dikenal dalam ilmu kedokteran geriatri. Berbagai jurnal dan pembahasan ilmiah telah merujuk kepada perihal tersebut. Hal ini dikarenakan dunia kedokteran diharapkan bukan sekedar mengupayakan

peningkatan kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi penyakit, akan tetapi juga mengupayakan untuk meringankan kesakitan pasien hingga fase terminal. Tidak heran jika praktisi kesehatan mulai mendalami berbagai penanganan terhadap pasien gagal pulih khususnya lansia. Gagal pulih bukanlah suatu penyakit melainkan kombinasi dari proses penuaan alami dan berbagai masalah medis. Namun, tidak diragukan lagi bahwa penyakit tertentu dapat berperan besar di dalamnya. Banyak orang sangat sulit untuk mengartikan apa itu gagal pulih tapi kebanyakan akan tahu ketika mereka melihatnya. Oleh karena itu, usaha untuk mendapatkan definisi yang paling tepat dan mendekati perlu dilakukan . Ketika keseragaman relatif akan pengertian gagal pulih telah didapat, maka perlu dipikirkan cara menetapkan (mendiagnosis) bahwa seseorang telah jatuh pada keadaan gagal pulih. Pentingnya hal ini disebabkan diagnosa yang salah akan memberikan beban psikis, pembiayaan dan lama pengobatan yang merugikan. Kerugian yang diderita bukan hanya oleh pasien akan tetapi juga oleh tenaga dan institusi kesehatan. Diagnosis yang tepat namun penanganan yang salah juga dapat berimbas buruk. Perlu dirumuskan suatu langkah-langkah atau prosedur penatalaksanaan terhadap para lansia yang didiagnosis gagal pulih sehingga fungsi tubuh saat ini dapat dipertahankan dan kesakitan dapat diminimalisir sekecil mungkin. Tentunya penatalaksanaan tiap orang tidak harus sama dan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, fasilitas dan tenaga kesehatan yang ada. Berdasarkan berbagai latar belakang di atas, referat ini saya susun untuk mengetahui cara mendiagnosis gagal pulih pada lansia dan penatalaksanaannya. Tentunya tidak lepas dari arahan dan bimbingan oleh pembimbing referat. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara mendiagnosis gagal pulih pada pasien lanjut usia ? 2. Bagaimana penatalaksanaan gagal pulih pada pasien lanjut usia ?

1.3 Tujuan Referat 1. 2. Referat ini bertujuan untuk mengetahui cara mendiagnosis gagal pulih pada pasien lanjut usia Referat ini bertujuan untuk merumuskan penatalaksanaan gagal pulih pada pasien lanjut usia. 1.4 Manfaat Referat 1.4.1 Aspek Ilmiah a. Dengan mengetahui cara mendiagnosis gagal pulih pada lansia yang sedang digunakan saat ini, diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan cara mendiagnosis gagal pulih yang lebih spesifik dan akurat di masa yang akan datang. b. Dengan mengetahui rumusan penatalaksanaan gagal pulih pada lansia yang diterapkan saat ini, diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan penatalaksanaan gagal pulih pada lansia yang lebih komprehensif dan holistik di masa yang akan datang. c. Hasil referat ini dapat menjadi referensi bagi referat atau penelitian serupa di masa yang akan datang 1.4.2 Aspek Praktis a. Dengan mengetahui cara mendiagnosis gagal pulih pada lansia, diharapkan tenaga kesehatan dapat terhindar dari suatu miss diagnosis atau kesalahan dalam mendiagnosis gagal pulih pada lansia. b. Dengan mengetahui rumusan penatalaksanaan gagal pulih pada lansia, tenaga kesehatan atau institusi kesehatan dapat terhindar dari kesalahan dalam menatalaksana gagal pulih yang dapat merugikan pasien. 1.4.3 Aspek Institusi a. Dengan mengetahui cara mendiagnosis gagal pulih pada lansia, maka dapat dinilai sejauh mana metode tersebut telah digunakan oleh tenaga kesehatan dan atau institusi kesehatan sesuai dengan maksud dan tujuannya. b. Dengan mengetahui rumusan penatalaksanaan gagal pulih pada lansia, maka dapat diketahui apakah rumusan tersebut telah diterapkan secara benar dan sistematik oleh institusi kesehatan yang bersangkutan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Gagal Pulih Istilah gagal pulih merupakan bagian penting dalam ilmu kedokteran geriatri dalam satu dasawarsa terakhir. Namun, penelitian tentang gagal pulih masih dalam perkembangan dan belum satu pun pengertian yang diakui sebagai suatu standar yang dapat diterima secara universal. Salah satu pengertian yang paling diterima dan setujui oleh banyak pihak adalah pengertian yang dibangun oleh konsensus studi kesehatan kardiovaskular yang menyatakan bahwa gagal pulih adalah gejala-gejala biologis dari penurunan cadangan dan ketahanan terhadap stres sehingga dari penurunan kumulatif di beberapa sistem menyebabkan kerentanan yang merugikan. Lebih dalam lagi, sindroma gagal pulih adalah suatu kondisi tubuh sebagai akibat dari menurunnya kapasitas multisistem yang berisiko tinggi terhadap timbulnya berbagai penyakit, trauma atau kondisi kesehatan negatif lainnya.3 Namun kondisi tersebut dapat dicegah melalui intervensi tertentu. Contoh bentuk gagal pulih antara lain: perawatan diri yang tidak terpelihara karena kelemahan dan keletihan (fatigue) atau seseorang yang sering jatuh karena gaya berjalan yang tidak seimbang atau kelemahan. Gejala-gejala gagal pulih antara lain: penurunan berat badan secara progresif, kecepatan berjalan melambat, kekuatan cengkeraman tangan menurun, keletihan atau daya tahan menurun, dan tingkat aktivitas fisik yang rendah. Apabila seseorang menunjukkan tiga gejala atau lebih, maka disebut gagal pulih. Jika hanya menunjukkan satu atau dua gejala disebut pregagal pulih, sedangkan tidak menujukkan gejala apapun disebut tidak gagal pulih.4 Ketiga level tersebut tergantung pada usia, kondisi penyakit kronis, fungsi kognitif, dan gejala depresif.

2.2 Prevalensi Gagal Pulih Tennstedt, Sullivan dan McKinlay5 mendefinisikan gagal pulih sebagai penggunaan perawatan dan ketergantungan pada satu aspek dari kegiatan hidup seharihari atau ketergantungan dalam dua aspek dari aktivitas hidup sehari-hari atau kemunduran mental atau kemampuan mobilitas yang menurun. Dengan definisi tersebut, didapat 18,9% penduduk Massachusetts (Amerika Serikat) yang berusia 70 tahun atau lebih tergolong gagal pulih. Selanjutnya, Abernathy dan Lentjes7 melaporkan 14,2% hingga 15,2% dari populasi usia lanjut (65 tahun atau lebih) penduduk Calgary (Provinsi Alberta, Kanada) bergantung kepada layanan perawatan rumah dan kesehatan

resmi. Angka ini cenderung bertambah karena masih terdapat sejumlah lansia yang tidak menggunanakan layanan perawatan rumah dan kesehatan resmi. Dari estimasi di atas, 17% dari mereka (lansia) berada pada risiko tinggi. Jika menilik prevalensi lansia dengan gagal pulih berdasarkan tempat perawatan, Robertson, et al menyatakan bahwa sebanyak 5-35% dirawat di rumah, 2540 dirawat di panti jompo dan 50-60% dirawat di rumah sakit. Hal ini akan sangat menarik jika dapat diteliti lebih lanjut. Untuk cerminan prevalensi gagal pulih pada lansia di benua asia , pemerintah Jepang merilis bahwa 6,1% penduduk lansia di negaranya termasuk dalam kriteria gagal pulih. Penelitian ini dilakukan oleh Department of public Health, Yamagata University, School of Medicine. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa gagal pulih pada lansia berhubungan erat dengan masalah psikososial. Sehingga, variable psikososial juga harus dinilai selain variable fisik dalam menentukan frailty status pada lansia. Untuk Indonesia, belum didapat data yag dapat dipublikasikan. 2.3 Penyebab Gagal Pulih Penyebab gagal pulih pada lansia mencakup dimensi yang cukup luas.Menurut Medical Council of Canada, beberapa diantaranya adalah : 2.3.1 Ekstrinsik a. Lingkungan Sosial : Lansia yang diisolasi, miskin, penelantaran, penganiayaan dan tinggal sendiri. b. Psikologis : Lansia dengan depresi c. Fungsional : Lansia dengan dementia 2.3.2 Intrinsik a. Penurunan energi yang diperoleh tubuh : gangguan pencernaan (kondisi gigi geligi yang sudah ompong), malabsorpsi dan disfagia. b. Peningkatan kebutuhan energi : Status katabolik c. Efek samping obat : Obat dengan efek samping mual dan muntah. d. Penyakit kronis : PPOK, kanker, penurunan penglihatan dan pendengaran

2.4 Gejala dan Dasar Diagnosis6 Gagal pulih ditandai dengan empat gejala (Sarkisian, CA, 1996). Berikut gejalagejala tersebut dan cara mendiagnosisnya :

2.4.1 Kelemahan fisik (Impaired Physical Function)

Kelemahan fisik pada lansia dapat dicetuskan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah gangguan neurologis, gangguan penglihatan, gangguan muskuloskletal, kondisi lingkungan yang tidak kondusif, kemampuan pemberi perawatan, penyakit komorbid dan obat-obatan. Pasien gagal pulih pada lansia dapat didiagnosis dengan indeks Katz. Indeks katz merupakan instrument sederhana yang digunakan untuk menilai kemampuan fungsional AKS (Aktivitas Kehidupan Sehari-hari). Indeks ini dapat juga digunakan untuk meramalkan prognosis dari berbagai macam penyakit pada lansia. Adapun aktivitas yang dinilai adalah bathing, dressing, toileting, transferring, continence dan feeding dengan penilaian sbb: 2.4.1.1 Bathing Mandiri : memerlukan bantuan untuk mandi hanya pada satu bagian tubuh atau dapat melakukan seluruhnya sendiri. b. Tergantung : memerlukan bantuan mandi lebih dari satu bagian tubuh atau tidak dapat mandi sendiri
a.

2..4.1.2 Dressing a. Mandiri : menaruh, mengambil, memakai dan menanggalkan pakaian sendiri serta mengikat tali sepatu sendiri. b. Tergantung 2.4.1.3 Toileting Mandiri : pergi ke toilet, duduk sendiri di kloset, memakai pakaian dalam dan membersihkan kotoran sendiri. b. Tergantung : mendapat bantuan orang lain
a.

: tidak dapat berpakaian sebagian.

2.4.1.4 Transferring Mandiri : berpindah dari dan ke tempat tidur, dari dan ke tempat duduk (memakai/tidak memakai alat bantu) tanpa dibantu. b. Tergantung : tidak dapat melakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain
a.

2.4.1.5 Continence
a. b.

Mandiri : dapat mengontrol BAB/BAK Tergantung : tidak dapat mengontrol sebagian atau seluruhnya dengan bantuan manual atau kateter

2.4.1.6 Feeding

Mandiri : mengambil makanan dari piring atau yang lainnya dan memasukkan ke dalam mulut (tidak termasuk kemampuan memotong daging dan menyiapkan makanan seperti mengoleskan mentega pada roti) b. Tergantung : memelukan bantuan untuk makan atau tidak dapat makan sendiri secara parenteral.
a.

Dari kemampuan melaksanakan 6 aktivitas dasar tersebut, kemudian di klasifikasikan menjadi 7 tahapan, dan disebut sesuai dengan aktivitas yang bisa dikerjakan sendiri. Tahapan aktivitas di atas kemudian disebut dengan Indeks Katz secara berurutan sebagai berikut: Indeks Katz A Indeks Katz B Indeks Katz C Indeks Katz D Indeks Katz E : mandiri untuk 6 aktivitas : mandiri untuk 5 aktivitas : mandiri, kecuali bathing dan satu fungsi lain : mandiri, kecuali bathing, dressing dan 1 fungsi lain : mandiri, kecuali bathing, dressing, toileting dan satu fungsi lain Indeks Katz F : mandiri, kecuali bathing, dressing, toileting, transferring dan satu fungsi lain Indeks Katz G : tergantung pada orang lain untuk 6 aktivitas

2.4.2 Malnutrisi Malnutrisi pada lansia dapat diakibatkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah hiposmia (penurunan penciuman aroma makanan), hipogeusia (penurunan kemampuan mengecap rasa makanan), gangguan pada gigi dan mulut, gangguan menelan dan berbicara, penurunan compliance lambung, waktu pengosonga lambung yang lama, cholesterophobia (takut kolesterol), masalah ekonomi dan efek samping obat. Keadaan malnutrisi pada lansia dapat dinilai melalui beberapa indikator berikut : 2.4.2.1 Antropometri Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri adalah rasio dari suatu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran. Untuk mengkaji status gizi secara akurat, beberapa pengukuran spesifik diperlukan. Pengukuran tersebut mencakup umur, berat badan (BB), tinggi badan (TB), Lingkar

kepala, Indeks massa tubuh (IMT), berat badan relatif, rasio lingkar perut-lingkar panggul, lingkar lengan atas (LLA), lingkar otot lengan atas (LOLA) dan lipatan trisep. 2.4.2.2 Biokimia Gizi Jika antropometri digunakan untuk melihat kekurangan status gizi makro, maka pemeriksaan biokimia digunakan untuk menilai status gizi mikro yang lebih tepat, obyektif, dan hanya dilakukan orang yang terlatih. Pada umumnya yang dinilai yaitu: zat besi, vitamin, protein, dan mineral. Contoh sampel berupa serum darah, urine, rambut (untuk melihat Zn), feces, maupun biopsi jaringan. Plasma darah dapat menghasilkan komponen darah (didapatkan dari darah yang disentrifugasi menjadi serum yang lebih sensitif dibanding plasma dan sel-sel darah) yang bisa dihitung. 2.4.2.3 Tanda Klinis Metode ini biasa digunakan untuk mendeteksi kumpulan gejala dan tanda-tanda klinis yang berhubungan dengan kekurangan atau kelebihan gizi. Metode ini biasa menggunakan pendekatan riwayat medis dan pemeriksaan fisik. Beberapa tanda klinis yang berhubungan dengan malnutrisi seperti pucat pada konjungtiva mata yang anemis karena kurang asupan besi (anemia defisiensi besi), edema dikarenakan rendahnya asupan protein dan densitas tulang yang sangat rendah dikarenakan kurangnya asupan kalsium. 2.4.2.4 Riwayat Diet Metode ini dapat digunakkann untuk mendeteksi tahap awal terjadinya masalah gizi. Jika seseorang memiliki riwayat asupan makanan atau zat gizi yang kurang maka secara langsung akan berdampak negatif terhadap status gizinya, begitu pula sebaliknya. Dalam metode ini perlu digali kebiasaan lansia dalam keteraturan makan, porsi makanan dan jenis makanan (kandungan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan lainnya)

2.4.3 Depresi Depresi pada lansia dapat dicetuskan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah duka cita (kebanyakan dikarenakan kematian orang terdekat), penurunan hubungan dan jaringan sosial, riwayat depresi sebelumnya, respon terhadap penyakit kronis serta pengobatan dalam waktu yang lama. Dalam mendiagnosis depresi pada lansia, perlu dinilai dengan cara-cara sebagai berikut : 2.4.3.1 Yesavage Depression Scale (GDS) Skala Depresi Geriatri (GDS) merupakan skala yang pertama kali diciptakan oleh Yesavage. Skala ini telah diuji dan digunakan secara luas untuk mendiagnosis

depresi pada lansia. Skala ini terdiri atas kuesioner singkat di mana peserta diminta untuk menanggapi 30 pertanyaan dengan menjawab Ya atau Tidak mengacu pada bagaimana perasaan mereka pada hari pemeriksaan. Skor dari 0 - 9 dianggap normal, 10 - 19 menunjukkan depresi ringan dan 20 - 30 menunjukkan depresi berat. Pemeriksaan. (Terlampir) 2.4.3.2 APGAR Keluarga (Smilkstein et al, 1982) APGAR keluarga merupakan suatu alat skrining singkat yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia dalam keluarga. Terdiri atas 5 pertanyaan yang apabila dijawab Ya bernilai 2. Interpretasi skala ini adalah apabila skor 8-10 berarti fungsi keluarga sehat, 4-7 berarti fungsi keluarga kurang sehat dan 0-3 berarti fungsi keluarga sakit. (Terlampir) 2.4.3.3 Inventaris Depresi Beck Metode ini berupa instruksi untuk memilih satu di antara pernyataan-pernyataan yang paling menggambarkan perasaan pasien. Metode ini terdiri dari kelompok kategori perasaan yang diwakili oleh tiap pernyataan dengan nilainya masing-masing. Apabila total skor 0-4 berarti tidak ada depresi atau minimal, 5-7 berarti depresi ringan, 8-15 depresi sedang dan lebih dari 16 berarti depresi berat. Hasil dari penggunaan skala di atas untuk mengukur status fungsional dan psikososial harus diintepretasikan dengan memandang semua data yang diperoleh dari pasien. Suatu gambaran lengkap pada pasien dapat ditentukan hanya setelah menganalisa semua sumber data dengan hati-hati.

2.4.4 Penurunan Fungsi Kognitif Penyebab-penyebab fisiologis, psikologis, dan multiple dari kerusakan kognitif pada lansia selalu disertai dengan pandangan bahwa kerusakan mental adalah normal. Standardisasi tes pemeriksaan suatu variasi tentang fungsi kognitif membantu mengidentifikasi defisit-defisit yang berdampak pada seluruh kemampuan fungsi. Tes formal dan sistemik dari status mental dapat membantu tenaga kesehatan menentukan kemampuan mana yang terganggu dan memerlukan intervensi. Beberapa tes yang digunakan untuk menilai tingkat kemapuan kognitif pada lansia diantaranya adalah : 2.4.4.1 Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ) Terdiri atas 10 pertanyaan umum, singkat dan dapat dipahami oleh pasien. Jika terdapat jawaban yang salah berarti bernilai satu. Pertanyaan bisa berkisar tentang tanggal berapa hari ini?, dimana alamat anda? atau Berapa umur anda?.

2.4.4.2 Mini-mental state exam(MMSE) Tes ini menguji aspek kognitif dari fungsi mental berupa orientasi, regristrasi, perhatian, kalkulasi, mengingat kembali, dan bahasa. Nilai kemungkinan sebesar 30, dengan nilai 21 atau kurang merupakan indikasi adanya kerusakan kognitif yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Pemeriksaan hanya memerlukan waktu beberapa menit. Pemeriksaan mini mental state exam mengukur beratnya kerusakan kognitif dan mendemonstrasikan perubahan kognitif.

2.5 Penatalaksanaan Gagal Pulih Pada Lansia Penatalaksanaan gagal pulih pada lansia tentunya mengacu pada gejala-gejala yang menandakan seorang lansia tergolong dalam diagnosis gagal pulih. Beberapa penatalaksanaan saling berhubungan dan menguatkan satu sama lain. Penatalaksanaan tersebut terdiri dari : 2.5.1 Latihan Fisik Latihan fisik pada lansia bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup yang tidak hanya terpaku pada kesegaran jasmani saja, tetapi juga aspek rohani. Pemeriksaan diri sebelum latihan perlu dilakukan untuk memastikan lansia sedang tidak sakit serta menghindari timbulnya gangguan kesehatan pada saat latihan dan setelah latihan. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain : memperhitungkan kemampuan fisik, melakukan pemanasan sebelum latihan inti, memperhatikan kemampuan awal sebelum program latihan, menghindari beban latihan yang berlebihan serta tidak melakukan hiperekstensi dan gerakan latihan yang terlalu cepat. Latihan fisik untuk lansia dapat berupa aktifitas aerobik (jogging, senam, bersepeda dan berenang), melatih kelenturan (strecthing) serta latihan menggunakan beban untuk melatih kekuatan otot dan tulang. Untuk lansia yang lumpuh dapat melakukan latihan aktif, latihan melakukan tahanan dan latihan pasif. Beberapa aktifitas lain yang dapat tergolong latihan fisik yaitu berkebun, beternak, olahraga dan rekreasi. Tujuan latihan fisik ini adalah untuk meningkatkan kekuatan otot jantung, menjaga keseimbangan tubuh, menjaga berat badan ideal, mencegah kontraktur dan kekakuan sendi, mempertahankan fungsi tulang dan mengurangi resiko kanker. Tentunya semuanya di dasari pada daya tahan, kelenturan dan kekuatan otot. 2.5.2 Terapi Okupasi Terapi okupasi merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang terpadu dengan pendekatan medik, psikososial, edukasional dan vokasional untuk mencapai kemampuan fungsional yang optimal. Terapi okupasi terdiri dari :

1. Program fisioterapi : Dalam penanganan terapi latihan untuk lansia dimulai dari aktivitas fisik yang paling ringan kemudian bertahap hingga maksimal yang bisa dicapai oleh individu tersebut, misalnya : a. Aktivitas di tempat tidur : Positioning, alih baring, latihan pasif & aktif lingkup gerak sendi b. Mobilisasi : Latihan bangun sendiri, duduk, transfer dari tempat tidur ke kursi, berdiri, jalan dan melakukan aktifitas sehari-hari (mandi, makan, berpakaian dan lain-lain) 2. Program Okupasiterapi : Latihan ditujukan untuk mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari, dengan memberikan latihan dalam bentuk aktivitas, permainan, atau langsung pada aktiviats yang diinginkan. Misalnya latihan jongkok-berdiri di WC, yang dilatih adalah harus jongkok. Namun, bila tidak memungkinkan maka dibuat modifikasi. 3. Program Ortotik-prostetik : Bila diperlukan alat bantu dalam mendukung aktivitas pada lansia maka seorang ortotis-prostetis akan membuat alat penopang atau alat pengganti bagian tubuh yang diperlukan sesuai dengan kondisi penderita. Dan untuk lansia hal ini perlu dipikirkan pertimbangan lebih khusus, misalnya pembuatan alat diusahakan dari bahan yang ringan, model alat yang lebih sederhana sehingga mudah dipakai dan lain-lain. 4. Program Terapi Wicara : Program ini kadang-kadang tidak selalu ditujukan untuk latihan wicara saja, tetapi perlu diperlukan untuk memberi latihan pada penderita dengan gangguan fungsi menelan apabila ditemukan adanya kelemahan pada otot-otot sekitar tenggorokan. Hal ini sering terjadi pada penderita stroke, dimana terjadi kelumpuhan saraf vagus, saraf lidah dan lain-lain. 2.5.3 Modifikasi Lingkungan Modifikasi lingkungan merupakan usaha untuk merubah lingkungan dan keadaan sekitar subjek (lansia) agar mempermudah mobilitas sekaligus menjadikannya lebih aman, nyaman dan jauh dari bahaya. Beberapa contoh modifikasi lingkungan yang dapat dilakukan untuk lansia adalah : a. Gunakan karpet antislip di kamar mandi. b. Taruhlah barang-barang yang memang seringkali diperlukan berada dalam jangkauan tanpa harus berjalan dulu. c. Perhatikan kualitas penerangan di rumah.

d. Pasang pegangan tangan pada tangga, bila perlu pasang lampu tambahan untuk daerah tangga e. Gunakan lantai yang tidak licin. f. Singkirkan barang-barang yang bisa membuat terpeleset dari jalan yang biasa dilewati untuk melintas. g. Hindari penggunaan furnitur yang beroda.

2.5.4 Pemenuhan Nutrisi7 Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahanperubahan yang dialaminya. Selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. 2.5.4.1 Pengelompokan Jenis Makanan Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu : kelompok zat energi (bahan makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak), kelompok zat pembangun (kelompok ini meliputi makanan-makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati) dan kelompok zat pengatur (bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral). 2.5.4.2 Perhatian Terhadap Upaya Pemenuhan Nutrisi Lansia Ketika seorang petugas kesehatan telah memahami pengelompokan jenis nutrisi, maka terdapat beberapa kendala yang perlu diperhatikan dalam usaha memenuhi nutrisi pada lansia yang harus diminimalisir. Di antaranya adalah : a. berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong, b. berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit. c. Esophagus (kerongkongan) mengalami pelebaran. d. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun. e. Gerakan usus atau gerak peristaltik lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. f. Penyerapan makanan di usus menurun. 2.5.4.3 Perencanaan Diet Untuk Lansia Perencanaan makanan untuk lansia dapat dilakukan sebagai berikut : a. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

b. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu besar. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. c. Banyak minum dan kurangi garam (tanpa gangguan gagal jantung). Dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya hipertensi. d. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dan lain-lain. e. Bagi pasien lansia dengan proses penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan agar diberikan makanan yang mudah dicerna. Hindari makanan yang terlalu manis, gurih dan goreng-gorengan. Bila kesulitan mengunyah karena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak atau lembek atau dicincang.

2.5.5 Terapi Psikologi dan Depresi8 Dalam menghadapi lansia, petugas medis harus memperhatikan keadaan emosional lansia yang mempunyai ciri-ciri yang khas. Misalnya, apakah lansia tersebut seorang yang tipe agresif atau konstruktif. Tidak lupa juga untuk memberikan motivasi agar lansia mau melakukan latihan, mau berkomunikasi, bersosialisasi dan sebagainya. Hal ini diperlukan pula dalam pelaksanaan program lain sehingga hasilnya bisa lebih baik. Terapi psikososial dapat dilakukan untuk mengatasi masalah psikoedukatif, yaitu mengatasi kepribadian maladaptif, distorsi pola berpikir, mekanisme koping yang tidak efektif dan hambatan relasi interpersonal. Terapi ini juga dilakukan untuk mengatasi masalah sosiokultural seperti keterbatasan dukungan dari keluarga , kendala terkait faktor kultural dan perubahan peran sosial. Untuk terapi biologik lain dengan pemberian obat antidepresan, terapi kejang listrik (ECT), terapi sulih hormon dan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) harus dilakukan sesuai dengan indikasi.

2.5.6 Mempertahankan Fungsi Kognitif Pada Lansia9 Proses penuaan menyebabkan kemunduran kemampuan otak. Diantara kemampuan yang menurun secara linier atau seiring dengan proses penuaan dapat berupa penurunan daya Ingat (memori), penurunan kemampuan penamaan (naming) dan kecepatan mencari kembali informasi yang telah tersimpan dalam pusat memori (speed of information retrieval from memory). Penurunan kemapuan kognitif pada

lansia dapat juga berupa penurunan intelegensia dasar (fluid intelligence) yang berarti penurunan fungsi otak bagian kanan seperti kesulitan dalam komunikasi non-verbal, pemecahan masalah, mengenal wajah orang, kesulitan dalam pemusatan perhatian dan konsentrasi. 2.5.6.1 Gejala Penurunan Kemampuan Kognitif pada Lansia Gejala-gejala penurunan tersebut ditandai dengan sering lupa, sering mengulang kata-kata, cepat marah dan sulit di atur, kurang konsentrasi, tidak mengenal dimensi waktu, kurang koordinasi gerakan dan rentan terhadap kecelakaan (jatuh). 2.5.6.2 Strategi Melatih Kognitif Dalam melatih fungsi kognitif lansia guna mencegah terjadinya penurunan yang lebih lanjut perlu dilakukan hal-hal berikut : a. Menurunkan rasa cemas b. Melatih teknik relaksasi c. Biofeedback : menggunakan alat untuk menurunkan cemas dan memodifikasi respon perilaku. d. Systematic desenzatization : Dirancang untuk menurunkan perilaku yang berhubungan dengan stimulus spesifik misalnya karena ketinggian atau perjalanan melalui pesawat. Tehnik ini meliputi relaksasi otot dengan membayangkan situasi yang menyebabkan cemas. e. Flooding : pasien segera diekspose pada stimuli yang paling memicu cemas (tidak dilakukan secara berangsur angsur) dengan menggunakan bayangan/imajinasi f. Pencegahan respon pasien : Pasien didukung untuk menghadapi situasi tanpa melakukan respon yang biasanya dilakukan. 2.5.6.3 Terapi Kognitif a. Latihan kemampuan sosial meliputi : menanyakan pertanyaan, memberikan salam, berbicara dengan suara jelas, menghindari kiritik terhadap diri sendiri atau orang lain. b. Aversion therapy : terapi ini menolong menurunkan perilaku yang tidak diinginkan tapi terus dilakukan. Terapi ini memberikan stimulasi yang membuat cemas atau penolakan pada saat tingkah laku maladaptif dilakukan klien. c. Contingency therapy: Meliputi kontrak formal antara klien dan terapis tentang apa definisi perilaku yang akan dirubah atau konsekuensi terhadap perilaku itu jika dilakukan. Meliputi konsekuensi positif untuk perilaku yang

diinginkan dan konsekuensi negatif untuk perilaku yang tidak diinginkan.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Gagal pulih adalah Suatu sindroma yang berhubungan dengan menurunnya fungsi organ tubuh, kerusakan sistem fisiologis secara multipel dan berkurangnya kemampuan untuk memulihkan kembali keseimbangan tubuh. Gejala-gejala sindroma gagal pulih ditandai dengan kelemahan fisik (impaired physical function), malnutrisi, depresi dan gangguan kognitif. Namun, progresivitas kondisi tersebut dapat dicegah

melalui diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat. Diperlukan beberapa instrument untuk mendiagnosis gagal pulih pada lansia. Untuk menilai kelemahan fisik yang terjadi digunakan indeks Katz. Untuk menilai malnutrisi pada lansia digunakan antropometri, biochemistry gizi, tanda klinis dan riwayat diet. Untuk menilai tingkat depresi digunakan Yesavage Depression Scale (GDS), APGAR keluarga dan inventaris depresi Beck. Sedangkan untuk menilai penurunan fungsi kognitif digunakan Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ) dan Mini-mental state exam (MMSE). Penatalaksanaan untuk gagal pulih pada lansia harus dilakukan secara komprehensif dan holistik mencakup keempat kriteria diagnosis di atas. Beberapa penatalaksanaan dan intervensi yang dapat dilakukan berupa latihan fisik, terapi okupasi, modifikasi lingkungan, pemenuhan nutrisi, terapi psikologi dan depresi serta mempertahankan fungsi kognitif pada lansia. 3.2 Saran Diperlukan tahapan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat bagi lansia yang jatuh ke dalam kondisi gagal pulih. Untuk melakukan hal tersebut maka diperlukan tenaga medis yang ahli dan kompeten, serta saling berkolaborasi satu sama lain. Intervensi hanya pada satu gejala saja tidak akan menghilangkan keluhan secara keseluruhan. Ketika penerapan diagnosis dan tatalaksana telah dilaksanakan secara sistematis maka tingkat kesakitan akan berkurang dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Badan Pusat Statistik (2011). Sensus Penduduk 2010 [online]. From (http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php? tabel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=1, diakses tanggal 25 Juli 2011 ) Bappenas. 2010. Indonesia menuju MDGs. Balai Pustaka. Jakarta Darmojo-Boedi, Martono Hadi (editor). 2006. Buku Ajar Geriatri. Balai

2. 3.

Penerbit Fakultas Kedokteran UI. Jakarta 4. 5. Supariasa, 2001. Penilaian Status Kesehatan. EGC. Jakarta Tennstedt, Sullivan and McKinlay. 2002. Managemnet in Elderly. UCLA, Los Angeles, CA Sarkisian, CA. 1996. Diagnose and Illness in Elderly. Toronto, Canada Siregar Arifin, 2000. Upaya Perbaikan Gizi Lansia. Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Bagian Gizi Masyarakat. Medan. Clark, D.G and Cummings, J.L. 2007. Diagnosis and management of dementia. Departments of neurology, psychiatry and bio-behavioral sciences. UCLA, Los Angeles, CA. 2004.

6. 7

8.

Agate, 1999. Buku Ajar Geriatri. FK UI, Jakarta