LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS NAIONI KELURAHAN NAIONI KOTA KUPANG
OLEH
NAMA : YEYEN ALFIANI FAKU
NIM : PO530321121566
KELAS : NERS ANGKATAN 03
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KUPANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan lansia apabila usianya 60
tahun ke atas,baik pria maupun wanita. Sedangkan Departeman kesehatan RI
menyebutkan seseorang dikatakan berusia lanjut usia dimulai dari usia 55 tahun keatas.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) usia lanjut dimulai dari usia 60 tahun (Indriana,
2012; Kushariyadi, 2010; Wallace, 2007). Proses penuaan berdampak pada berbagai
aspek kehidupan, baik secara sosial, ekonomi, dan terutama kesehatan. Hal ini disebabkan
karena dengan semangkin bertambahnya usia, fungsi organ tubuh akan semakin menurun
baik karena faktor proses alami yang dapat menyebabkan perubahan anatomi, fisiologis,
dan biokimia pada jaringan tubuh yang dapat mempengaruhi fungsi, kemampuan badan
dan jiwa (Perry & Potter, 2005).
Hipertensi adalah apabila tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan
diastolik diatas 90 mmHg.Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke,
dan gagal ginjal. Disebut sebagai “pembunuh diam-diam“ karena penderita hipertensi
sering tidak menampakan gejala (Brunner & Suddarth, 2002). Penyakit ini menjadi salah
satu masalah kesehatan utama di Indonesia maupun dunia sebab diperkirakan sekitar 80%
kenaikan kasus hipertensi terutama terjadi di Negara berkembang.pada tahun 2000
terdapat 639 kasus hipertensi diperkirakan meningkat menjadi 1,15 miliar kasus di tahun
2025. Sedangkan hipertensi di Indonesia menunjukan bahwa di daerah pedesaan masih
banyak penderita hipertensi yang belum terjangkau oleh layanan kesehatan dikarenakan
tidak adanya keluhan dari sebagian besar penderita hipertensi (Adriansyah,
2012).Ironinya, diperkirakan ada 76% kasus hipertensi di masyarakat yang belum
terdiagnosis, artinya penderitanya tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit ini.
Dari 31,7% prevalensi hipertensi, diketahui yang sudah memiliki tekanan darah tinggi
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7,2% dan kasus yang minum obat
hipertensi 0,4%. Hal ini menunjukkan bahwa 76% masyarakat belum mengetahui telah
menderita hipertensi Artinya banyak sekali kasus hipertensi tetapi sedikit sekali yang
terkontrol (Adib, 2012).
Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan prevelensi hipertensi sebanyak 31,7%.
Hipertensi menjadi salah satu penyebab kematian utama di perkotaan maupun perdesaan
pada usia 55-64 tahun (Rosid, 2012). Data statistik WHO (word Hearld Organization)
melaporkan hingga tahun 2018 terdapat satu milyar orang di dunia menderita hipertensi
dan diperkirakan sekitar 7,5 juta orang atau 12,8% kematian dari seluruh total kematian
yang disebabkan oleh penyakit ini, tercatat 45% kematian akibat jantung koroner dan
51% akibat stroke yang juga disebabkan oleh hopertensi. Menurut American Haert
Association (2018) tercatat sekitar 77,9 juta orang di amerika serikat dengan
perbandingan 1 dari 3 orang dewasa menderita hipertensi. Jumlah ini diperkirakan akan
meningkat pada tahun 2030 sekitar 83,2 juta orang atau 7,2% . Sementara itu menurut
National Health Nutrition Examination Survey (NHNES), di amerika orang dewasa
denganhipertensi pada tahun 2016-2018 tercatat sekitar 39-51% hal ini menunjukan
terjadinya peningkatan sekitar 15 juta orang dari total 58-65 juga menderita hipertensi
(Triyanto, 2014).
Angka kejadian hipertensi di indonesia menurut riset Kesehatan Dasar Tahun 2017
menunjukan bahwa prevalensi hipertensi di indonesia berdasarkan pengukuran tekanan
darah mengalami peningkatan 5,9%, dari 25,8% menjadi 31,7% dari total penduduk
dewasa. Berdasarkan pengukuran sampel umur lebih dari 18 tahun prevelansi hipertensi
mengalami peningkatan yakni 7,6% pada tahun 2015 dan 9,5% tahun 2017 dengan total
presentase sebesar 25,8%. Prevelansi hipertensi tertinggi di Bangka Belitung dengan
presentase 25,8%, kalimantan selatan 30,8%, kalimantan timur 29,6%, jawa barat 29,5%
(Riskesdas, 2018).
1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengaplikasikan konsep dasar keperawatan gerontik dan juga
asuhan keperawatan lansia secara holistic dan komprehensif yang berfokus pada
pelayanan pada anggota keluarga yang mempunyai masalah penyakit menua secara
langsung pada keluarga di tempat tinggal masing-masing.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian keperawatan gerontik pada lansia dengan masalah
hipertensi
b. Mampu merumuskan diagnose keperawatan gerontik pada lansia dengan masalah
hipertensi
c. Mampu menyusun rencana intervensi keperawatan gerontik pada lansia dengan
masalah hipertensi
d. Mampu melaksanakan implementasi keperawatan gerontik pada lansia dengan
masalah hipertensi
e. Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan gerontik pada lansia dengan masalah
hipertensi
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Konsep Dasar Proses Menua
A. Definisi
Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi penurunan fungsi tubuh.
Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh,
jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional.Pada manusia,
penuaan dihubungkan dengan perubahan degeneratif pada kulit, tulang jantung,
pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh lainya.Kemampuan regeneratif
pada lansia terbatas, mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit.
Ada beberapa teori tentang penuaan, sebagaimana dikemukakan oleh
(Maryam, 2008), yaitu teori biologi, teori psikologi, teori kultural, teori sosial, teori
genitika, teori rusaknya sistem imun tubuh, teori menua akibat metabolisme dan teori
kejiwaan sosial. Berdasarkan pengetahuan yang berkembang dalam pembahasan
tentang teori proses menjadi tua (menua) yang hingga saat ini di anut oleh
gerontologis, maka dalam tingkatan kompetensinya, perawat perlu mengembangkan
konsep dan teori keperawatan sekaligus praktik keperawatan yang didasarkan atas
teori proses menjadi tua (menua) tersebut. PostulZat yang selama ini di yakini oleh
para ilmuan perlu implikasikan dalam tataran nyata praktik keperawatan, sehingga
praktik keperawatan benar-benar mampu memberi manfaat bagi kehidupan
masyarakat.Perkembangan ilmu keperawatan perlu diikutip dengan pengembangan
praktik keperawatan, yang pada akhirnya mampu memberikan kontribusi terhadap
masalah masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat. Secara umum, implikasi/
praktik keperawatan yang dapat dikembangkan dengan proses menua dapat
didasarkan dapat teori menua/secara biologis, psikologis, dan sosial. Berkut adalah
uraian bentuk-bentuk aplikasi asuhan keperawatan yang diberikan kepada individu
yang negalami proses penuaan, dengan didasarkan pada teori yang mendasari prose
menua itu sendiri. Iplikasi keperawatan yang diberikan di dasarkan atau asumsi
bahwa tindkan keperawatan yang diberikan lebih di tekankan pada upaya untuk
memodifikasi fakotr-faktor secara teoritis di anggap dapat mempercepat prose
penuaan. Istilah lain yang digunakan untuk menunjukkan teori menua adalah
senescence. Menurut Sunaryo (2016), senescence diartikan sebagai perubahan
perilaku sesuai usia akibat penurunan kekuatan dan kemampuan adaptasi.
B. Teori proses menua
Teori-teori biologi :
1. Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory) Menurut teori ini menua telah
terprogram secara genetik untuk spesies – spesies tertentu. Menua terjadi sebagai
akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul – molekul / DNA
dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas
adalah mutasi dari sel – sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional
sel)
2. Pemakaian dan rusak Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel – sel tubuh
lelah (rusak)
3. Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory) Di dalam proses
metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh
tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi
lemah dan sakit.
4. Teori “immunology slow virus” (immunology slow virus theory) Sistem immune
menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh
dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
5. Teori stres Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh.
Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal,
kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
6. Teori radikal bebas Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya
radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan
organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat menyebabkan
sel-sel tidak dapat regenerasi
7. Teori rantai silang Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan
ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan
kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
8. Teori program Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang
membelah setelah sel-sel tersebut mati.
Teori kejiwaan social :
1. Aktivitas atau kegiatan (activity theory) Lansia mengalami penurunan jumlah
kegiatan yang dapat dilakukannya. Teori ini menyatakan bahwa lansia yang
sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
2. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lansia.
Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari
usia pertengahan ke lanjut usia.
3. Kepribadian berlanjut (continuity theory) Dasar kepribadian atau tingkah laku
tidak berubah pada lansia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada
teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lansia
sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
4. Teori pembebasan (disengagement theory) Teori ini menyatakan bahwa dengan
bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari
kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia
menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi
kehilangan ganda (triple loss), yakni : a) Kehilangan peran b) Hambatan kontak
sosial c) Berkurangnya kontak komitmen.
Sedangkan Teori penuaan secara umum menurut Ma’rifatul (2011) dapat
dibedakan menjadi dua yaitu teori biologi dan teori penuaan psikososial:
a. Teori biologi
1. Teori seluler Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan
kebanyakan sel–sel tubuh “diprogram” untuk membelah 50 kali. Jika seldari
tubuh lansia dibiakkanlalu diobrservasi di laboratorium terlihat jumlah sel–sel
yang akan membelah sedikit. Pada beberapa sistem, seperti sistem saraf, sistem
musculoskeletal dan jantung, sel pada jaringan dan organ dalam sistem itu tidak
dapat diganti jika sel tersebut dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu,
sistem tersebut beresiko akan mengalami proses penuaan dan
mempunyaikemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali untuk tumbuh dan
memperbaiki diri (Azizah, 2011)
2. Sintesis Protein (Kolagen dan Elastis) Jaringan seperti kulit dan kartilago
kehilangan elastisitasnya pada lansia. Proses kehilangan elastisitas ini
dihubungkan dengan adanya perubahan kimia pada komponen protein dalam
jaringan tertentu. Pada lansia beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan elastin
pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan struktur yang berbeda dari
protein yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen pada kartilago dan elastin
pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta menjadi lebih tebal, seiring
dengan bertambahnya usia. Hal ini dapat lebih mudah dihubungkan dengan
perubahan permukaan kulit yang kehilangan elastisitanya dan cenderung
berkerut, juga terjadinya penurunan mobilitas dan kecepatan pada system
musculoskeletal (Azizah dan Lilik, 2011).
3. Keracunan Oksigen Teori ini tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel
di dalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat
racun dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme pertahanan diri tertentu.
Ketidakmampuan mempertahankan diri dari toksin tersebut membuat struktur
membran sel mengalami perubahan serta terjadi kesalahan genetik. Membran sel
tersebut merupakan alat sel supaya dapat berkomunikasi dengan lingkungannya
dan berfungsi juga untuk mengontrol proses pengambilan nutrisi dengan proses
ekskresi zat toksik di dalam tubuh. Fungsi komponen protein pada membran sel
yang sangat penting bagi proses tersebut, dipengaruhi oleh rigiditas membran.
Konsekuensi dari kesalahan genetik adalah adanya penurunan reproduksi sel oleh
mitosis yang mengakibatkan jumlah sel anak di semua jaringan dan organ
berkurang. Hal ini akan menyebabkan peningkatan kerusakan sistem tubuh
(Azizah dan Lilik, 2011).
4. Sistem Imun Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa
penuaan. Walaupun demikian, kemunduran kemampuan sistem yang terdiri dari
sistem limfatik dan khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang
berkontribusi dalam proses penuaan. Mutasi yang berulang atau perubahan
protein pasca tranlasi, dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem
imun tubuh mengenali dirinya sendiri. Jika mutasi isomatik menyebabkan
terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan dapat
menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan
tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi
dasar terjadinya peristiwa autoimun. Disisi lain sistem imun tubuh sendiri daya
pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya
terhadap sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-
belah (Azizah dan Ma’rifatul L., 2011).
5. Teori Menua Akibat Metabolisme Menurut Mc. Kay et all., (1935) yang dikutip
Darmojo dan Martono (2004), pengurangan “intake” kalori pada rodentia muda
akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur. Perpanjangan umur
karena jumlah kalori tersebut antara lain disebabkan karena menurunnya salah
satu atau beberapa proses metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon
yang merangsang pruferasi sel misalnya insulin dan hormon pertumbuhan.
b. Teori psikologis
1. Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory) Seseorang yang dimasa mudanya
aktif dan terus memelihara keaktifannya setelah menua. Sense of integrity
yang dibangun dimasa mudanya tetap terpelihara sampai tua. Teori ini
menyatakan bahwa pada lansia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut
banyak dalam kegiatan sosial (Azizah dan Ma’rifatul, L., 2011).
2. Kepribadian berlanjut (Continuity Theory) Dasar kepribadian atau tingkah
laku tidak berubah pada lansia. Identity pada lansia yang sudah mantap
memudahkan dalam memelihara hubungan dengan masyarakat, melibatkan
diri dengan masalah di masyarakat, kelurga dan hubungan interpersonal
(Azizah dan Lilik M, 2011).
3. Teori Pembebasan (Disengagement Theory) Teori ini menyatakan bahwa
dengan bertambahnya usia, seseorang secara pelan tetapi pasti mulai
melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan
sekitarnya (Azizah dan Lilik M, 2011).
c. Factor-faktor yang mempengaruhi ketuaan
1. Hereditas atau ketuaan genetik
2. Nutrisi atau makanan
3. Status kesehatan
4. Pengalaman hidup
5. Lingkungan
6. Stres
C. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara degeneratif
yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia, tidak hanya
perubahan fisik, tetapi juga kognitif, perasaan, sosial dan sexual (Azizah dan Lilik M,
2011, 2011).
a. Perubahan fisik
1. Sistem Indra Sistem pendengaran; Prebiakusis (gangguan pada pendengaran)
oleh karena hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam,
terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak
jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas 60 tahun.
2. Sistem Intergumen: Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis
kering dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan
berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atropi glandula sebasea dan glandula
sudoritera, timbul pigmen berwarna coklat pada kulit dikenal dengan liver
spot.
3. Sistem Muskuloskeletal Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia:
Jaaringan penghubung (kolagen dan elastin), kartilago, tulang, otot dan sendi..
Kolagen sebagai pendukung utama kulit, tendon, tulang, kartilago dan
jaringan pengikat mengalami perubahan menjadi bentangan yang tidak
teratur. Kartilago: jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan
mengalami granulasi, sehingga permukaan sendi menjadi rata. Kemampuan
kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi yang terjadi cenderung
kearah progresif, konsekuensinya kartilago pada persendiaan menjadi rentan
terhadap gesekan. Tulang: berkurangnya kepadatan tulang setelah diamati
adalah bagian dari penuaan fisiologi, sehingga akan mengakibatkan
osteoporosis dan lebih lanjut akan mengakibatkan nyeri, deformitas dan
fraktur
4. Sistem kardiovaskuler Perubahan pada sistem kardiovaskuler pada lansia
adalah massa jantung bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertropi
sehingga peregangan jantung berkurang, kondisi ini terjadi karena perubahan
jaringan ikat. Perubahan ini disebabkan oleh penumpukan lipofusin,
klasifikasi SA Node dan jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat.
5. Sistem respirasi Pada proses penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru,
kapasitas total paru tetap tetapi volume cadangan paru bertambah untuk
mengkompensasi kenaikan ruang paru, udara yang mengalir ke paru
berkurang. Perubahan pada otot, kartilago dan sendi torak mengakibatkan
gerakan pernapasan terganggu dan kemampuan peregangan toraks berkurang.
6. Pencernaan dan Metabolisme Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan,
seperti penurunan produksi sebagai kemunduran fungsi yang nyata karena
kehilangan gigi, indra pengecapmenurun, rasa lapar menurun (kepekaan rasa
lapar menurun), liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat
penyimpanan, dan berkurangnya aliran darah.
7. Sistem perkemihan Pada sistem perkemihan terjadi perubahan yang
signifikan. Banyak fungsi yang mengalami kemunduran, contohnya laju
filtrasi, ekskresi, dan reabsorpsi oleh ginjal.
8. Sistem saraf Sistem susunan saraf mengalami perubahan anatomi dan atropi
yang progresif pada serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan
koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
9. Sistem reproduksi Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan
menciutnya ovary dan uterus. Terjadi atropi payudara. Pada laki-laki testis
masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara
berangsur-angsur.
b. Perubahan psikososial
1. Kesepian Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat meninggal terutama
jika lansia mengalami penurunan kesehatan, seperti menderita penyakit fisik berat,
gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama pendengaran.
2. Duka cita (Bereavement) Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau
bahkan hewan kesayangan dapat meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh
pada lansia. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatan.
3. Depresi Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong, lalu diikuti
dengan keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi suatu episode depresi.
Depresi juga dapat disebabkan karena stres lingkungan dan menurunnya
kemampuan adaptasi.
4. Gangguan cemas Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik, gangguan cemas
umum, gangguan stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif,
gangguangangguan tersebut merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan
berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis, depresi, efek samping obat,
atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat.
5. Parafrenia Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan waham (curiga),
lansia sering merasa tetangganya mencuri barang-barangnya atau berniat
membunuhnya. Biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi/diisolasi atau menarik
diri dari kegiatan sosial.
6. Sindroma Diogenes Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan
perilaku sangat mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia
bermain-main dengan feses dan urin nya, sering menumpuk barang dengan tidak
teratur. Walaupun telah dibersihkan, keadaan tersebut dapat terulang kembali.
Adapun perubahan psikososial lainnya, meliputi :
1. Penurunan Kondisi Fisik Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai
dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple
pathology), misalnya tenaga berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi
makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang
sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini
semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik
maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain. Seorang lansia ansia agar dapat menjaga
kondisi fisik yang sehat, perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan
kondisi psikologik maupun sosial, dengan cara mengurangi kegiatan yang bersifat
melelahkan secara fisik. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya
dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual Penurunan fungsi dan potensi seksual pada
lansia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti: Gangguan
jantung, gangguan metabolism (diabetes millitus, vaginitis), baru selesai operasi:
prostatektomi), kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu
makan sangat kurang, penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi,
golongan steroid, tranquilizer.
3. Perubahan Aspek Psikososial Pada umumnya setelah seorang lansia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi
psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan
kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia
menjadi kurang cekatan.Penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami
perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.
Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian
lansia sebagai berikut :
a) Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personality), biasanya tipe ini
tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
b) Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada
kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa
lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada
dirinya.
c) Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personality), pada tipe ini
biasanya sangat dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi
jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan
menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
d) Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini
setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya,
banyak keinginan yang kadangkadang tidak diperhitungkan secara
seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-
marit.
e) Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self hate personality), pada lansia tipe ini
umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang
lain atau cenderung membuat susah dirinya.
4. Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun.Meskipun tujuan ideal
pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua,
namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering
diartikan sebagaikehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan,
status dan harga diri.Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih
tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga
di atas.Kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa
senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap
pensiun (pasrah).Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi
masing-masing individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih
menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan
hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan
pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan
diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh
gaji penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan
terarah bagi masingmasing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan
assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang
jelas dan positif.Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki
masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah minatnya
masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang
sangat banyak jenis dan macamnya.
5. Perubahan dalam peran social di masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada
lansia.Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang,
penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan.Hal
itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas,
selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau
diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk
berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku
regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang
tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga
perilakunya seperti anak kecil. Menghadapi berbagai permasalahan di atas pada
umumnya lansia yang memiliki keluarga masih sangat beruntung karena anggota
keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut
membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan pengorbanan.Namun
bagi lansia yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup
membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan
pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup sendiri di perantauan, seringkali
menjadi terlantar.
D. Masalah Yang Sering Terjadi Pada Lansia
Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia,
antara lain:
a. Permasalahan umum :
1) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.
2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia
lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati.
3) Lahirnya kelompok masyarakat industry.
4) Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut
usia.
5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan
lansia.
b. Permasalahan khusus :
1) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik,
mental maupun sosial.
2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.
3) Rendahnya produktivitas kerja lansia.
4) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.
5) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat
individualistik.
6) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu
kesehatan fisik lansia.
2.2 Konsep Dasar Penyakit (Hipertensi Pada Lansia)
A. Definisi
Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik
yang intermiten atau menetap.Pengukuran tekanan darah serial 150/95 mmHg atau
lebih tinggi pada orang yang berusia diatas 50 tahun memastikan hipertensi. Insiden
hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Hipertensi atau darah tinggi adalah
penyakit kelainan jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan
tekanan darah. WHO (World Health Organization) memberikan batasan tekanan
darah normal adalah 140/90 mmHg, dan tekanan darah sama atau diatas 160/95
mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Batasan ini tidak membedakan antara usiadan
jenis kelamin. Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.Pada populasi
lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg (Gardner Samuel, 20018).
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2
golongan besar yaitu: hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang
tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di
sebabkan oleh penyakit lain.
B. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut antara lainterjadinya perubahan-
perubahan pada:
1. Elastisitas dinding aorta menurun
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur
20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya,
datadata penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :Faktor keturunan Dari
data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi dan ciri
perseorangan.
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah penyakit-penyakit seperti
Ginjal, Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor, Vascular,
Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol, Vaskulitis,
Kelainan endokrin, DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme, Saraf, Stroke, Ensepalitis.
Selain itu dapat juga diakibatkan karena Obat– obatan Kontrasepsi oral
Kortikosteroid.
C. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
dipusat vasomotor, pada medulla diotak.Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla
spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf
simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
dimana dengan dilepaskannya nonepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon
pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.Individu dengan hipertensi sangat
sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut bisa terjadi.Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.Medulla adrenal
mensekresiepinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi.Korteks adrenal mensekresi
kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor
pembuluh darah.Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin.Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang
kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada
gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan
volume intra vaskuler.Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan
darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,
hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos
pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya
regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang
kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung
(volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan
tahanan perifer (Smeltzer & Bare, 2018). Pada usia lanjut perlu diperhatikan
kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis
sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer.
Pathway Hipertensi
D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. hal
ini berarti hipertensi arterial tidak akan perna terdiagnosa jika tekanan arteri
tidakterukur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan, dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebayakan pasien yang mencari pertolongan medis. Beberapa keluhan-
keluhan yang tidak spesifik pada penderita hipertensi antara lain: Sakit kepala,
Perasaan gelisa, Jantung berdebar-debar, Pusing, Pengliatan kabur, Rasa sakit di
dada, Leher terasa tegang, Mudah Lelah, dan Mual muntah (Nurarif, 2015).
E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan
menentukan adanya kerusakan organ dan faktor resiko lain atau mencari penyebab
hipertensi. Biasanya dari pemeriksaan urinalisa, darah perifer lengkap, kimia darah
(K, Na, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol, HDI) dapat dilakukan pemeriksaan
lain seperti Klirens kreatinin, protein urin 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH
dan EKG.
F. Penatalaksanaan
Didasarkan pada program perawatan bertahap
Langkah I. Tindakan-tindakan konservatif :
a. Modifikasi diet
- Pembatasan natrium
- Penurunan masukan kolesterol dan lemak jenuh
- Penurunan masukan kalori untuk mengontrol berat badan
- Menurunkan masukan minuman beralkohol
b. Menghentikan merokok
c. Penatalaksanaan stres
d. Program latihan regular untuk menurunkan berat badan
Langkah II. Farmakoterapi bila tindakan-tindakan konservatif gagal untuk
mengontrol TD sercara adekuat. Salah satu dari berikut ini dapat digunakan.
- diuretik
- penyekat beta adrenergik
- penyekat saluran kalsium
- penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE)
Langkah III Dosis obat dapat dikurangi, obat kedua dari kelas yang berbeda dapat
ditambahkan atau penggantian obat lainnya dari kelas yang berbeda.
Langkah IV. Obat ketiga dapat ditambah atau obat kedua digantikan yang lain dari
kelas yang berbeda.
Langkah V. Evaluasi lanjut atau rujukan pada spesialis atamu keempat dapat
ditambahkan masing-masing dari kelas yang berbeda.
Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian keperawatan
a. Identitas klien
1) Identitas klien:
Nama, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pekerjaan,
suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit (MRS),
nomor register dan diagnosa medik.
2) Identitas Penanggung Jawab :
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, serta status hubungan dengan
pasien.
a. Keluhan utama
Keluhan yang dapat muncul antara lain: nyeri kepala, gelisah, palpitasi, pusing,
leher kaku, penglihatan kabur, nyeri dada, mudah lelah, dan impotensi.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pengkajian yang mendukung keluhan utama dengan memberikan pertanyaan
tentang kronologi keluhan utama. Keluhan lain yang menyerta biasanya : sakit
kepala , pusing, penglihatan buram, mual ,detak jantung tak teratur, nyeri dada.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji adanya riwayat penyakit hipertensi , penyakit jantung, penyakit ginjal,
stroke. Penting untuk mengkaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa
lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji didalam keluarga adanya riwayat penyakit hipertensi , penyakit metabolik,
penyakit menular seperi TBC, HIV, infeksi saluran kemih, dan penyakit
menurun seperti diabetes militus, asma, dan lain-lain
f. Aktivitas / Istirahat
1) Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
2) Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
g. Sirkulasi
1) Gejala :
a) Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/ katup dan
penyakit serebrovaskuler
b) Episode palpitasi
2) Tanda :
a) Peningkatan tekanan darah
b) Nadi denyutan jelas dari karotis,ugularis,radialis, takikardia
c) Murmur stenosis vulvular
d) Distensi vena jugularis
e) Kulit pucat,sianosis ,suhu dingin (vasokontriksi perifer)
f) Pengisian kapiler mungkin lambat / tertunda
h. Integritas ego
1) Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple
(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).
2) Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan perhatian, tangisan
meledak, otot uka tegang, menghela nafas, peningkatan pola bicara.
i. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini (seperti obstruksi) atau riwayat penyakit ginjal
pada masa yang lalu.
j. Makanan / cairan
1) Gejala :
a)Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta
kolesterol
b) Mual, muntah dan perubahan berat badan saat ini (meningkat/turun)
c) Riwayat penggunaan diuretic
2) Tanda :
a) Berat badan normal atau obesitas
b) Adanya edema
c) Glikosuria
d) Neurosensori
3) Gejala :
a) Keluhan pening / pusing, berdenyut, sakit kepala, suboksipital (terjadi saat
bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam)
b) Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan abur, epistakis)
4) Tanda :
a) Status mental, perubahan keterjagaan orientasi, pola/ isi bicara, efek, proses
pikir
b) Penurunan kekuatan genggaman tangan
k. Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : angina ( penyakit arteri koroner / keterlibatan jantung), sakit kepala
l. Pernapasan
1) Gejala :
a) Disnea yang berkaitan dari aktivitas/ kerja, takipnea, ortopnea. Dispnea
b) Batuk dengan / tanpa pembentukan sputum
c) Riwayat merokok
2) Tanda :
a) Distress pernapasan / penggunaan otot aksesori pernapasan
b) Bunyi napas tambahan (crakles/mengi)
c) Sianosis
m. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi/ cara berjalan, hipotensi postural.
n. Pembelajaran / penyuluhan
Gejala :
1) Factor risiko keluarga: hipertensi,aterosklerosis, penyakit jantung, diabetes
mellitus.
2) Factor lain, seperti orang afrika-amerika, asia tenggara, penggunaan pil KB
atau hormone lain, penggunaan alcohol/obat. Rencana pemulangan Bantuan
dengan pemantau diri tekanan darah/ perubahan dalam terapi obat.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung actual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk
mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap
situasi yang berkaitan dengan kesehatan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
Berikut adalah uraian dari masalah yang timbul bagi klien menurut (Nurarif,
2015) dengan hipertensi :
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (iskemia)
b. Gangguan pola tidur b.d hambatan lingkungan
3. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh
perawat didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai
luaran (outcome) yang diharapkan.Sedangkan tindakan keperawatan adalah
perilaku atau aktivitas spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk
mengimplementasikan intervensi keperawatan.Tindakan pada intervensi
keperawatan terdiri atas observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi (PPNI,
2018) Menurut Nurarif & Kusuma (2015) dan Tim pokja SDKI PPNI (2017)
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (mis:iskemia)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat nyeri
menurun
Kriteria hasil : Tingkat nyeri ( L.08066)
1) Pasien mengatakan nyeri berkurang dari skala 5 menjadi 2
2) Pasien menunjukan ekspresi wajah tenang
3) Pasien dapat beristirahat dengan nyaman
Rencana tindakan : (Manajemen nyeri I.08238)
1) Identifikasi lokasi, karakteristik nyeri, durasi, frekuensi, intensitas nyeri
2) Identifikasi skala nyeri
3) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
4) Berikan terapi non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis:
akupuntur,terapi musik hopnosis, biofeedback, teknik imajinasi
terbimbing,kompres hangat/dingin)
5) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu ruangan,
pencahayaan,kebisingan)
6) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
7) Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri
8) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
b. Gangguan pola tidur b.d hambatan lingkungan
Tujuan: setelah dilakukan tindakan pasien diharapkan pola tidurnya membaik
Kriteria hasil:
1) Keluhan sulit tidur menurun
2) Keluhan sering terjaga menurun
3) Keluhan tidak puas tidur menurun
4) Keluhan pola tidur berubah
5) Keluhan istirahat tidak cukup menurun
Rencana tindakan: Dukungan tidur (I.05174)
1) Identifikasi pola aktivitas dan tidur, faktor pengganggu tidur (fisik dan
atau psikologis), makanan dan minuman yang mengganggu tidur
(mis.kopi,teh,alkohol,makan mendekati waktu tidur,minum banyak air
sebelum tidur)
2) Modifikasi lingkungan (mis.pencahayaan, kebisingan,suhu,matras,dan
tempat tidur) batasi waktu tidur siang,jika perlu
3) Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis.pijat,
pengaturan posisi, terapi akupresur)
4) Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
5) Anjurkan menempati kebiasaan waktu tidur
6) Anjurkan makanan dan minuman yang mengganggu tidur
7) Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologi lainnya
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana
keperawatan.Tindakan mencakup tindakan mandiri dan tindakan
kolaborasi.Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu pasien dari masalah status kesehatan
yang dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil
yang diharapkan. Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada
kebutuhan klien, faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan,
strategi implementasi keperawatan, dan kegiatan komunikasi
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi Keperawatan evaluasi adalah proses keberhasilan tindakan
keperawatan yang membandingkan antara proses dengan tujuan yang telah
ditetapkan, dan menilai efektif tidaknya dari proses keperawatan yang
dilaksanakan serta hasil dari penilaian keperawatan tersebut digunakan untuk
bahan perencanaan selanjutnya apabila masalah belum teratasi.
BAB III
TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN
Ny. NK usia 57 tahun dengan diagnosa medis hipertensi kurang lebih 1 tahun yang lalu
mengatakan sering merasa sakit kepala dan tegang kaku di leher bagian belakang dan tidur di
malam hari tidak nyenyak, pasien tidak mengkonsumsi rutin obat hipertensi. Hasil pengkajian
didapatkan TTV: TD: 160/90 mmHg, N: 76 x/mnt, S: 36,9ºC, RR: 20 x/menit
1. Analisa data
Data-data Etiologi Problem
DS: Pasien mengatakan Agen pencedera fisiologis Nyeri akut
tegang kaku di leher bagian
belakang
DO: P: peningkatan tekanan
darah, Q: nyeri menusuk, R:
nyeri kepala dan leher
bagian belakang, S: 5 (nyeri
sedang), T: sewaktu-waktu,
TTV: TD: 160/90 mmHg,
N: 76 x/mnt, S: 36,9ºC, RR:
20 x/menit
DS: Pasien mengatakan saat Hambatan lingkungan Gangguan pola tidur
tidur di malam hari di
sekitar jam 3 malam akan
terbangun tanpa alasan dan
akan sulit untuk tidur
kembali
DO: konjungtiva pucat dan
bicara lemah
2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (iskemia)
b. Gangguan pola tidur b.d hambatan lingkungan
3. Intervensi keperawatan
No Dx SLKI SIKI
1 Setelah dilakukan tindakan 1) Identifikasi lokasi, karakteristik
keperawatan diharapkan tingkat nyeri, durasi, frekuensi, intensitas
nyeri menurun nyeri
Kriteria hasil : Tingkat nyeri 2) Identifikasi skala nyeri
(L.08066) 3) Identifikasi faktor yang
1) Pasien mengatakan nyeri memperberat dan memperingan nyeri
berkurang dari skala 5 menjadi 2 4) Berikan terapi non farmakologis
2) Pasien menunjukan ekspresi untuk mengurangi rasa nyeri (mis:
wajah tenang akupuntur,terapi musik hopnosis,
3) Pasien dapat beristirahat dengan biofeedback, teknik imajinasi
nyaman terbimbing,kompres hangat/dingin)
5) Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis: suhu
ruangan, pencahayaan,kebisingan)
6) Anjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
7) Ajarkan teknik non farmakologis
untuk mengurangi nyeri
8) Kolaborasi pemberian analgetik,
jika perlu
2 Setelah dilakukan tindakan pasien 1) Identifikasi pola aktivitas dan
diharapkan pola tidurnya membaik tidur, faktor pengganggu tidur
Kriteria hasil: (fisik dan atau psikologis),
1) Keluhan sulit tidur menurun makanan dan minuman yang
2) Keluhan sering terjaga mengganggu tidur
menurun (mis.kopi,teh,alkohol,makan
3) Keluhan tidak puas tidur mendekati waktu tidur,minum
menurun banyak air sebelum tidur)
4) Keluhan pola tidur berubah 2) Modifikasi lingkungan
5) Keluhan istirahat tidak (mis.pencahayaan,
cukup menurun kebisingan,suhu,matras,dan tempat
tidur) batasi waktu tidur siang,jika
perlu
3) Lakukan prosedur untuk
meningkatkan kenyamanan
(mis.pijat, pengaturan posisi,
terapi akupresur)
4) Jelaskan pentingnya tidur cukup
selama sakit
5) Anjurkan menempati kebiasaan
waktu tidur
6) Anjurkan makanan dan minuman
yang mengganggu tidur
7) Ajarkan relaksasi otot autogenik
atau cara nonfarmakologi lainnya
4. Implementasi dan evaluasi
Hari/Tgl Jam Dx Implementasi Evaluasi
Senin 22, 09.00 1 1) mengidentifikasi lokasi, S: Pasien mengatakan
11-2021 karakteristik nyeri, durasi, tegang kaku di leher bagian
frekuensi, intensitas nyeri belakang
2) mengidentifikasi skala O: P: peningkatan tekanan
nyeri darah, Q: nyeri menusuk,
3) mengidentifikasi faktor R: nyeri kepala dan leher
yang memperberat dan bagian belakang, S: 5
memperingan nyeri (nyeri sedang), T: sewaktu-
waktu, TTV: TD: 160/90
mmHg, N: 76 x/mnt, S:
36,9ºC, RR: 20 x/menit
A: masalah belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan
2 1) mengidentifikasi pola S: Pasien mengatakan saat
aktivitas dan tidur, faktor tidur di malam hari di
pengganggu tidur (fisik dan sekitar jam 3 malam akan
atau psikologis), makanan dan terbangun tanpa alasan dan
minuman yang mengganggu akan sulit untuk tidur
tidur(mis.kopi, teh, alkohol, kembali
makan mendekati waktu tidur, O: konjungtiva pucat dan
minum banyak air sebelum bicara lemah
tidur) A: masalah belum teratasi
2) menjelaskan pentingnya P: intervensi dilanjutkan
tidur cukup selama sakit
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan
Indikator Diagnosis. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan
Tindakan Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Piusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.