LAPORAN PENDAHULUAN
PADA KEGAWATDARURATAN SISTEM KARDOVASKULER HIPERTENSI
OLEH
NAMA : YESTER SUSANTI SADUNG
NIM : PO 530320917173
TINGKAT : TINGKAT 4 PPN A
SEMESTER : VIII
RUANGAN : ICCU RS NAIBONAT
PEMBIMBING INSITUSI PEMBIMBING KLINIK/CI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KUPANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SARJANA TERAPAN
TAHUN 2021
HIPERTENSI
A. KONSEP PENYAKIT
1 .Pengertian
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik setidaknya 140
mmHg atau tekanan diastolic setidaknya 90 mmHg. hipertensi tidak hanya berisiko
tinggi menderita penyakit jantung tetapi juga menderita penyakit lain seperti penyakit
saraf, ginjal, dan pembuluh darah, dan makin tinggi tekanan darah maka makin besar
resikonya (Nurarif & Kusuma, 2016).
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi
lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg (Sheps, 2005)
2. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu (Nurarif &
Kusuma, 2016):
1. Hipertensi primer (esensial)
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor yang
mempengaruhinya yaitu faktor genetic, lingkungan, hiperaktifitas saraf simpatis,
system renin, angiontensin dan peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktor-faktor
yang meningkatkan risiko seperti obesitas, merokok, alcohol, dan polisitemia.
2. Hipertensi sekunder
Penyebabnya yaitu: penggunaan estrogen, penyakit ginjal, sindrom cushing, dan
hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Terdapat jenis hipertensi yang lain (Kementrian Kesehatan RI, 2014)
1. Hipertensi Pulmonal
Suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah pada
pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan sesak nafas, pusing dan pingsan
pada saat melakukan aktivitas. Berdasar penyebabnya hipertensi pulmonal dapat
menjadi penyakit berat yang ditandai dengan penurunan toleransi dalam melakukan
aktivitas dan gagal jantung kanan. Hipertensi pulmonal primer sering didapatkan
pada usia muda dan usia pertengahan, lebih sering didapatkan pada perempuan
dengan perbandingan 2:1, angka kejadian pertahun sekitar 2-3 kasus per 1 juta
penduduk, dengan mean survival / sampai timbulnya gejala penyakit sekitar 2-3
tahun. Kriteria diagnosis untuk hipertensi pulmonal merujuk pada National Institute
of Health; bila tekanan sistolik arteri pulmonalis lebih dari 35 mmHg atau
"mean"tekanan arteri pulmonalis lebih dari 25 mmHg pada saat istirahat atau lebih
30 mmHg pada aktifitas dan tidak didapatkan adanya kelainan katup pada jantung
kiri, penyakit myokardium, penyakit jantung kongenital dan tidak adanya kelainan
paru.
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas:
1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan atau
tekanan diastolic sama atau lebih besar dari 90 mmHg.
2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan
tekanan diastolic lebih rendah dari 90 mmHg (Nurarif & Kusuma, 2016).
Penyebab hipertensi pada orang lanjut usia adalah terjadinya perubahan-perubahan
pada:
1. Elastisitas dinding aorta menurun
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur
20 tahun. Kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini disebabkan karena kurangnya
efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
5. Meningkatnya resistensi pembuluh daraf perifer
Secara klinis derajat hipertensi dapat dikelompokan menjadi:
No Kategori Sistolik (mmHg) Diastolic (mmHg)
1. Optimal <120 <120
2. Normal 120-129 80-84
3. High Normal 130-139 85-89
4. Hipertensi
5. Grade 1 (ringan) 140-159 90-99
6. Grade 2 (sedang) 160-179 100-109
7. Grade 3 (berat) 180-209 110-119
8. Grade 4 (sangat berat) >210 >120
3. Manifestasi Klinis
Menurut (Price 2005), gejala hipertensi antara lain:
1. Sakit kepala bagian belakang.
2. Kaku kuduk.
3. Sulit tidur.
4. Gelisah.
5. Kepala pusing.
6. Dada berdebar-debar.
7. Lemas.
8. Sesak nafas.
9. Berkeringat dan pusing
10.Jantung berdebar.
11.Telinga berdenging.
4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
dipusat vasomotor pada medulla diotak.Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut kebawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula
spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen.Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk implus yang bergerak kebawah melalui system saraf
simpatis ke ganglia simpatis.Pada titik ini, neuron pre-18 ganglion melepaskan
asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana
dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah.Berbagai factor, seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respons
pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriktor.Klien dengan hipertensi sangat
sensitive terhadap norepineprin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut dapat terjadi.
Pada saat bersamaan ketika system saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokontriksi.Medula adrenal menyekresi epineprin, yang
menyebabkan vasokonstriksi.Korteks adrenal menyekresi kortisol dan steroid lainnya,
yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin.
Renin yang dilepaskan merangsang pembentukan angiotensin I yang
kemudian diubah menjadi angiotensin II, vasokontriktor kuat, yang pada akhirnya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.Hormon ini menyebabkan retensi
natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
instravaskuler.Semua faktor tersebut cenderung menyebabkan hipertensi.
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium dan diagnostik
1. Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti: hipokoaguabilitas,
anemia.
2. BUN/Kreatinin: memberika informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
3. Glukosa: hiperglikemi (DM adalah pencetur hipertensi) dapat diakibatkan oleh
perngeluaran kadar ketokolamin.
4. Urinalisa: darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
5. CT Scan: mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
6. EKG: dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, penninggian gelombang P
adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
7. IUP: mengidentifikasikan pennyebab hipertensi seperti: batu ginjal, perbaikan
ginjal.
8. Photo dada: menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran
jantung
6. Komplikasi
Menurut (Corwin, 2005) komplikasi hipertensi terdiri dari stroke, infark
miokard, gagal ginjal, ensefalopati (kerusakan otak) dan pregnancy- included
hypertension (PIH).
1. Stroke
Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, lebih dari
24 jam yang berasal dari gangguan aliran darah otak dan bukan disebabkan oleh
gangguan peredaran darah.
Stroke dengan defisit neurologik yang terjadi tiba-tiba dapat disebabkan oleh
iskemia atau perdarahan otak. Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi 24 fokal
pembuluh darah yang menyebabkan turunnya suplai oksigen dan glukosa ke bagian
otak yang mengalami oklusi (Hacke, 2003). Stroke dapat timbul akibat pendarahan
tekanan tinggi di otak atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh otak yang
terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-
arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga aliran
darah ke daerah-daerah yang diperdarahi berkurang. Arteri-arteri otak yang
mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan
terbentuknya anurisma (Corwin, 2005).
2. Infark miokardium.
Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerotik tidak
dapat mensuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang
menyumbat aliran darah melalui pembuluh tersebut. Akibat hipertensi kronik dan
hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat
dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian
juga, hipertrofi dapat menimbulkan perubahaan-perubahan waktu hantaran listrik
melintasi ventrikel sehingga terjadi distritmia, hipoksia jantung dan peningkatan
risiko pembentukan bekuan (Corwin, 2005).
3. Gagal ginjal.
Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif
dan irreversible dari berbagai penyebab, salah satunya adalah akibat dari hipertensi.
Mekanisme terjadinya hipertensi pada gagal ginjal kronik oleh karena penimbunan
garam dan air atau sistem renin angiotensin aldosteron (RAA) (Chung, 1995).
Menurut Arief mansjoer (2001) hipertensi berisiko 4 kali lebih besar terhadap
kejadian gagal ginjal bila dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami
hipertensi (Mansjoer, 2001).
4. Ensefalopati (kerusakan otak)
Ensefalopati (Kerusakan otak) dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna
(hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini
menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong ke dalam ruang
intersitium diseluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitarnya kolaps yang
dapat menyebabkan ketulian, kebutaan dan tak jarang juga koma serta kematian
mendadak. Keterikatan antara kerusakan otak dengan hipertensi, bahwa hipertensi
berisiko 4 kali terhadap kerusakan otak dibandingkan dengan orang yang tidak
menderita hipertensi (Corwin, 2005).
7. Penatalaksanaan
Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko
penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan.Tujuan terapi
adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan
tekanan distolik dibawah 90 mmHg dan mengontrol factor risiko. Hal ini dapat
dicapai melalui modifikasi gaya hidup saja, atau dengan obat antihipertensi.
Penatalaksanaan faktor risiko dilakukan dengan cara pengobatan setara non-
farmakologis, antara lain:
a. Pengaturan diet
Berbagai studi menunjukan bahwa diet dan pola hidup sehat atau dengan obat-
obatan yang menurunkan gejala gagal jantung dan dapat memperbaiki keadaan
hipertrofi ventrikel kiri. Beberapa diet yang dianjurkan:
1) Rendah garam, diet rendah garam dapat menurunkan tekanan darah pada klien
hipertensi. Dengan pengurangan konsumsi garam dapat mengurangi stimulasi
system renin-angiotensin sehingga sangat berpotensi sebagai anti
hipertensi.Jumlah asupan natrium yang dianjurkan 50-100 mmol atau setara
dengan 3-6 gram garam per hari.
2) Diet tinggi kalium , dapat menurunkan tekanan darah tetapi mekanismenya
belum jelas. Pemberian kalium secara intravena dapat menyebabkan
vasodilatasi, yang dipercaya dimediasi oleh oksidanitrat pada dinding vascular.
3) Diet kaya buah dan sayur
4) Diet rendah kolestrol sebagai pencegah terjadinya jantung koroner.
b. Penurunan berat badan
Mengatasi obesitas pada sebagian orang, dengan cara menurunkan berat badan
mengurangi tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi beban kerja jantung
dan volume sekuncup. Pada beberapa studi menunjukan bahwa obesitas
berhubungan dengan kejadian hipertensi dan hipertrofi ventrikel kiri.Jadi,
penurunan berat badan adalah hal yang sangat efektif untuk menurunkan tekanan
darah.
a. Olahraga
Olahraga teratur seperti berjalan, lari,berenang, bersepeda bermanfaat untuk
menurunkan tekanan darah dan memperbaiki keadaan jantung.
b. Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat
Berhenti merokok dan tidak mengonsumsi alcohol, penting untuk mengurangi
efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran
darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung.
8. Pathway
Umur Jenis Kelamin Gaya Hidup Obesitas
Hipertensi
Kerusakan Vakskuler Pembuluh Darah
Perubahan struktur
Penyumbatan pembuluh darah
Vasokosntriksi
Gangguan sirkulasi
Otak Pembuluh darah Ginjal
Resistensi Suplai O2 otak Sistemik Vasokontriksi
pembuluh menurun
darah otak pembuluh darah
Vasokontriksi ginjal
TIK Sinkop Afterload meningkat Blood Flow
COP Respon RAA
Nyeri Resiko Penurunan
ketidakefektifan curah
Fatique Rangsangan aldosteron
perfusi jaringan jantung
serebral
Retensi Na
Intoleransi
aktivitas Edema
B. KONSEP ASKEP
1. Pengkajian keperawatan
a. Identitas klien
1) Identitas klien:
Nama, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pekerjaan,
suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit (MRS),
nomor register dan diagnosa medik.
2) Identitas Penanggung Jawab :
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, serta status hubungan dengan
pasien.
b. Keluhan utama
Keluhan yang dapat muncul antara lain: nyeri kepala, gelisah, palpitasi, pusing,
leher kaku, penglihatan kabur, nyeri dada, mudah lelah, dan impotensi.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pengkajian yang mendukung keluhan utama dengan memberikan pertanyaan
tentang kronologi keluhan utama. Keluhan lain yang menyerta biasanya : sakit
kepala , pusing, penglihatan buram, mual ,detak jantung tak teratur, nyeri dada.
d. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji adanya riwayat penyakit hipertensi , penyakit jantung, penyakit ginjal,
stroke. Penting untuk mengkaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa
lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji didalam keluarga adanya riwayat penyakit hipertensi , penyakit metabolik,
penyakit menular seperi TBC, HIV, infeksi saluran kemih, dan penyakit
menurun seperti diabetes militus, asma, dan lain-lain
f. Aktivitas / Istirahat
1) Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
2) Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
g. Sirkulasi
1) Gejala :
a) Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/ katup dan
penyakit serebrovaskuler
b) Episode palpitasi
2) Tanda :
a) Peningkatan tekanan darah
b) Nadi denyutan jelas dari karotis,ugularis,radialis, takikardia
c) Murmur stenosis vulvular
d) Distensi vena jugularis
e) Kulit pucat,sianosis ,suhu dingin (vasokontriksi perifer)
f) Pengisian kapiler mungkin lambat / tertunda
h. Integritas ego
1) Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple
(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).
2) Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan perhatian, tangisan
meledak, otot uka tegang, menghela nafas, peningkatan pola bicara.
i. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini (seperti obstruksi) atau riwayat penyakit ginjal
pada masa yang lalu.
j. Makanan / cairan
1) Gejala :
a)Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta
kolesterol
b) Mual, muntah dan perubahan berat badan saat ini (meningkat/turun)
c) Riwayat penggunaan diuretic
2) Tanda :
a) Berat badan normal atau obesitas
b) Adanya edema
c) Glikosuria
d) Neurosensori
3) Gejala :
a) Keluhan pening / pusing, berdenyut, sakit kepala, suboksipital (terjadi saat
bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam)
b) Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan abur, epistakis)
4) Tanda :
a) Status mental, perubahan keterjagaan orientasi, pola/ isi bicara, efek, proses
pikir
b) Penurunan kekuatan genggaman tangan
k. Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : angina ( penyakit arteri koroner / keterlibatan jantung), sakit kepala
l. Pernapasan
1) Gejala :
a) Disnea yang berkaitan dari aktivitas/ kerja, takipnea, ortopnea. Dispnea
b) Batuk dengan / tanpa pembentukan sputum
c) Riwayat merokok
2) Tanda :
a) Distress pernapasan / penggunaan otot aksesori pernapasan
b) Bunyi napas tambahan (crakles/mengi)
c) Sianosis
m. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi/ cara berjalan, hipotensi postural.
n. Pembelajaran / penyuluhan
Gejala :
1) Factor risiko keluarga: hipertensi,aterosklerosis, penyakit jantung, diabetes
mellitus.
2) Factor lain, seperti orang afrika-amerika, asia tenggara, penggunaan pil KB
atau hormone lain, penggunaan alcohol/obat. Rencana pemulangan Bantuan
dengan pemantau diri tekanan darah/ perubahan dalam terapi obat.
2. Diagnosa keperawatan
Berikut adalah uraian dari masalah yang timbul bagi klien dengan hipertensi :
1. Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler selebral dan iskemia
2. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan
3. Penurunan Curah Jantung
4. Resiko Perfusi Serebral tidak efektif
3. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh
perawat didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai
luaran (outcome) yang diharapkan.Sedangkan tindakan keperawatan adalah
perilaku atau aktivitas spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk
mengimplementasikan intervensi keperawatan.Tindakan pada intervensi
keperawatan terdiri atas observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi (PPNI,
2018) Menurut Nurarif & Kusuma (2015) dan Tim pokja SDKI PPNI (2017)
Diagnosa
Keperawatan
((PPNI),
Standar Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi ((PPNI), Standar
Diagnosa ((PPNI), Standar Luaran
Intervensi Keperawatan
No. Keperawatan Keperawatan Indonesia:
Indonesia: Defenisi dan Tindakan
Indonesia: Defenisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan Edisi 1, 2018)
Defenisi dan Keperawatan, Edisi 1, 2018)
Indikator
Diagnostik
Edisi 1, 2016)
1. Nyeri akut b.d Tingkat nyeri (L.08066) Manajemen Nyeri (I.08238)
agen pencedera Tujuan Tindakan:
fisiologi Setelah dilakukan asuhan Observasi
selama 15 menit, tindakan Identifikasi lokasi,
pribadi untuk mengontrol karakteristik, durasi,
nyeri ditingkatkan dengan frekuensi, kualitas, intensitas
kriteria hasil: nyeri
1. Keluhan nyeri Identifikasi skala nyeri
menurun (5) Identifikasi respons nyeri
2. Meringis menurun non verbal
(5) Identifikasi faktor yang
3. Sikap protektif memperberat dan
menurun (5) memperingan nyeri
4. Gelisah menurun (5) Identifikasi pengetahuan dan
5. Frekuensi nadi keyaninan tentang nyeri
membaik (5) Identifikasi pengaruh
budaya terhadap respon
nyeri
Identifikasi pengaruh nyeri
pada kualitas hidup
Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah
diberikan
Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik
Berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, hipnosis, akupresur,
terapi musik, biofeedback,
terapi pijat, aromaterapi,
teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
Kontrol ingkungan yang
memperberat rasa nyeri
(mis. suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan)
Fasilitasi istirahat dan tidur
Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemiihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi
Jelaskan penyeb, periode,
dan pemicu nyeri
Jelaskan strategi meredakan
nyeri
Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik
jika perlu
2. Intoleransi Toleransi Aktivtas (L.05047) Manajemen Nyeri (I.05178)
aktivitas Kritera Hasil; Observasi
1. Frekuensi nadi Identifkasi gangguan
meningkat(5) fungsi tubuh yang
2. Keluhan Lelah emngakibatkan kelelahan
menurun (5) Monitor kelelahan fisik
3. Dispnea saat aktivtas Monitor pola jam tidur
menurun (5) Monitor lokasi dan
4. Dispnea setelah ketidaknyamanan selama
aktivitas menurun (5) melakukan aktivitas
Terapeutik
Sediakan lingkungan
nyaman dan rendah
stimulus
Lakuakan latihan rentang
gerak
Berikan aktivitas distraksi
Faslitasi duduk di sisi
tempat tidur
Edukasi
Anjurkan tirah baring
Anjurkan melakukan
aktivitas ssecara bertahap
Ajarkan strategi koping
untuk mengurangi
kelelahan
Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli
gizi tentang cara
meningkatkan asupan
makanan
3. Resiko perfusi Perfusi Serebral (L.02014) Pemantauan TTV dan TIK
jaringan Kriteria Hasil: Observasi
serebral tidak 1. Tingkat kesadaran Monitor TTV
efektif meningkat (5) (TD,N,S,RR)
2. TIK Menurun (5) Monitor peningkatan TD
3. Sakik Kepala
menurun (5) Terapeutik
4. Gelisah menurun (5) Atur interval sesuai
5. Nilai rata-rata TD pemantauan kondisi
membaik (5) pasien
6. TDs membaik (5) Dokumentasikan hasil
7. TDD membaik (5) pemantauan
Edukasi
Jelaskan tujuan dan
prosedur pemamntauan
Informasikan hasil
pemantauan jika perlu
DAFTAR PUSTAKA
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2016). ASUHAN KEPERAWATAN PRAKTIS. Jogjakarta.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan
Indikator Diagnosis. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan
Tindakan Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Piusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.