Skenario 4
Skenario 4
MODUL INTEGRATIF
“SKENARIO 4”
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK E
PEMBIMBING :
Renny Novi Puspitasari, dr., M.Si.
2
LEMBAR PENGESAHAN DAN PENILAIAN
Pembimbing
3
DAFTAR ISI
KELOMPOK PENYUSUN........................................................................................................2
LEMBAR PENGESAHAN DAN PENILAIAN........................................................................ 3
DAFTAR ISI...............................................................................................................................4
SKENARIO 4............................................................................................................................. 4
A. Kata Kunci............................................................................................................................. 5
B. Diagnosis Banding................................................................................................................. 5
C. Anamnesis & Pemeriksaan.................................................................................................... 5
E. Problem Oriented Medical Record.........................................................................................9
F. Learning Objective................................................................................................................11
G. Jawaban Learning Objective................................................................................................12
H. Kesimpulan.......................................................................................................................... 42
I. Peta Konsep...........................................................................................................................43
J. Daftar Pustaka....................................................................................................................... 44
4
SKENARIO 4
Seorang Pasien Perempuan, 28 tahun datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan
keluar cairan dari kemaluan sejak 2 jam yang lalu.
5
2. Belum pernah keguguran
Riwayat Pribadi
1. Tidak ada data.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada data.
Riwayat Sosial & Ekonomi
1. Bekerja sebagai pegawai admin di sebuah kantor
● Pemeriksaan Fisik
1. Kondisi umum: Stabil
2. Glasgow Coma Scale: 4-5-6
3. Tanda-tanda vital:
a. Tekanan darah: 120/70 mmHg
b. Nadi: 86x/menit
c. RR: 22x/menit
d. Suhu: 36,7 C
e. Saturasi 02: -
4. Kepala leher: Dalam batas normal
5. Thorax: Dalam batas normal
6. Abdomen: Dalam batas normal
7. Ekstremitas: Hangat kering merah
8. Status Obstetri Ginekologi:
- Belum ada pembukaan
- UK 35 Minggu
- Leopold 1 TFU 40 cm
- Leopold 2 teraba punggung
- Leopold 3 teraba keras dan bundar
- Leopold 4 belum masuk PAP
- Denyut jantung janin 130x/mnt
- Data HIS tidak ada
● Pemeriksaan Penunjang
1. Tes Lakmus (+)
2. Tidak ada USG
6
D. Temporary Problem List & Permanent Problem List
TPL PPL
Pemeriksaan Fisik
17)Kondisi umum: Stabil
18)GCS: 4-5-6
19)Vital sign:
- Tekanan darah: 120/70 mmHg
- Nadi: 86x/menit
- RR: 22x/menit
- Suhu: 36,7 C
- Saturasi O2: -
20)Kepala & leher: Dalam Batas Normal
21)Thorax: Dalam Batas Normal
22)Abdomen: Dalam Batas Normal
23)Extremitas: Hangat kering merah
7
24)Status obstetri ginekologi:
- Belum ada pembukaan
- UK 35
- Leopold 1 TFU 40 cm
- Leopold 2 teraba punggung
- Leopold 3 teraba keras dan bundar
- Leopold 4 belum masuk PAP
- Denyut jantung janin 130x/mnt
- Data HIS tidak ada
Pemeriksaan Penunjang
25)Tes Lakmus (+)
26)Tidak ada USG
8
E. Problem Oriented Medical Record
1) Perempuan 28 tahun 1. Premature Rupture G1P0A0+UK 35 1. Fetal Terapi Non Farmakologi : 1. Keluhan pasien 1. Menjelaskan kepada
2) Datang ke IGD rumah sakit of Membranes MGG+Letak Fibronectin test 1. MRS 2. Tanda vital ibu pasien dan suami,
3) Keluhan keluar cairan dari kemaluan (PROM) Kepala +KPD 2. Nitrazine Test 2. Oksigenasi nasal 3. Evaluasi bahwasanya keadaan
4) Sejak 2 jam yang lalu 2. Primigravida (Ketuban Pecah 3. Urin Lengkap cannula 2-4 lpm Perdarahan dan pasien saat ini
Dini
3. Preterm (35 minggu) 4. Kultur cairan 3. Persiapkan untuk tanda syok disebut sebagai
Anamnesis 4. Status obginekologi: ketuban bersalin 4. Kemajuan persalinan preterm,
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) - Leopold 1 TFU persalinan atau persalinan yang
5) Tidak ada nyeri 40cm Terapi Farmakologi : 5. NST ulang lebih cepat dari
6) Cairan yang keluar bening cenderung - Leopold 2 Tocolytic : persalinan normal,
tidak berbau dan tidak keluar banyak punggung 1. Bricasma inj. 1 sehingga meminta
7) Pasien dalam kondisi hamil anak - Leopold 3 teraba ampul keluarga untuk
pertama keras dan bundar 2. Kortikosteroid : memberikan bantuan
8) Usia kehamilan 35 minggu - Leopold 4 belum Dexamethasone inj. support kepada ibu
9) Tidak ada data trauma masuk PAP 1 amp untuk meringankan
10) Tidak ada data gatal 5. Denyut jantung Antibiotik : psikologis ibu
11) Tidak ada keluhan apapun sebelumnya. janin : 130x /mnt 1. Ampicillin IV 2 2. Menjelaskan kepada
12) Tidak ada perdarahan dari jalan lahir 6. Pemeriksaan kertas gram ibu bahwasanya akan
13) Tidak ada keluhan lain lakmus + 2. Metronidazole dilakukan pemberian
Riwayat Penyakit Terdahulu (RPD) obat yang
14) Belum pernah hamil dan belum pernah diantaranya adalah
mengalami hal yang serupa. untuk menunda
15) Belum pernah keguguran sementara waktu
Riwayat Pribadi (RP) persalinan ibu
-
Riwayat Penyakit Keluarga (RPK)
-
Riwayat Sosial Ekonomi (RSE)
16) Bekerja sebagai pegawai admin di
sebuah kantor
Anamnesis Gizi
-
9
Pemeriksaan Fisik
17) Kondisi umum: Stabil
18) GCS: 4-5-6
19) Vital sign:
- Tekanan darah: 120/70 mmHg
- Nadi: 86x/menit
- RR: 22x/menit
- Suhu: 36,7 C
- Saturasi O2: -
20) Kepala & leher: Dalam Batas Normal
21) Thorax: Dalam Batas Normal
22) Abdomen: Dalam Batas Normal
23) Extremitas: Hangat kering merah
24) Status obstetri ginekologi:
-Belum ada pembukaan
-UK 35
-Leopold 1 TFU 40 cm
-Leopold 2 teraba punggung
-Leopold 3 teraba keras dan bundar
-Leopold 4 belum masuk PAP
-Denyut jantung janin 130x/mnt
-Data HIS tidak ada
Pemeriksaan Penunjang
25) Tes Lakmus (+)
26) Tidak ada USG
10
F. Learning Objective
1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami anatomi dari organ reproduksi
wanita.
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami histologi dari organ reproduksi
wanita.
3. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami fisiologi dari proses kehamilan.
4. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami fisiologi persalinan normal.
5. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami alur diagnosis dan pemeriksaan
penunjang dari kasus di atas.
6. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami diagnosis banding dari kasus di atas.
7. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami definisi dan klasifikasi dari KPD.
8. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami etiologi dan faktor risiko dari KPD.
9. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami patogenesis dan patofisiologi dari
KPD.
10.Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tatalaksana holistik dari KPD.
11.Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami prognosis dan komplikasi dari KPD
12.Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami manifestasi klinis dari KPD.
13.Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami prinsip dasar hubungan emosional
pada pasien (terkait dengan aspek keislaman dan psikologis ibu yang hendak
melahirkan).
11
G. Jawaban Learning Objective
1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami anatomi dari organ reproduksi
wanita.
A. Bagian luar
1. Vulva (Pukas) / Pudenda: Vulva merupakan organ yang tampak dari luar
dan berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari muka ke belakang.
Vulva terdiri atas mons pubis, labia mayora, labia minora, klitoris,
vestibulum, dan hymen.
12
3. Labia Mayora: terdiri atas dua bagian yaitu kanan dan kiri, lonjong
mengecil ke bawah, terisi oleh jaringan lemak yang serupa dengan yang ada
di mons veneris. Bagian luar labia mayora terdiri dari kulit berambut,
kelenjar lemak, dan kelenjar keringat, bagian dalamnya tidak berambut dan
mengandung banyak ujung saraf sehingga sensitif saat hubungan seks.
Kedua labia bertemu kebawah dan kebelakang membentuk komisura
posterior.
4. Labia Minora (Bibir kecil / Nymphaea): adalah suatu lapisan tipis dari kulit
sebelah dalam bibir besar. Kedua bibir bertemu kedepan yang di atas klitoris
membentuk preputium klitoridis dan yang di bawah klitoris membentuk
frenulum klitoridis kedua bibir kecil kebelakang dan membentuk fossa
navikulare. Fossa navikulare ini pada perempuan yang belum melahirkan
tampak utuh, cekung seperti perahu, pada perempuan yang pernah
melahirkan kelihatan tebal dan tidak rata.
13
6. Vestibulum: adalah area berbentuk lonjong di bagian luar organ intim
wanita, membentang dari depan klitoris hingga belakang perineum
(fourchette), dan dibatasi oleh bibir kecil di sisi kanan dan kiri. Sekitar 1-1,5
cm di bawah klitoris terdapat lubang uretra eksternum yang kecil dan
terkadang sulit ditemukan. Di dekat lubang kemih, terdapat dua muara
kelenjar Skene yang analog dengan kelenjar prostat pada pria. Di sisi kiri
dan kanan bawah, dekat fossa navikulare, terletak kelenjar Bartholin
berukuran sekitar 1 cm dengan saluran kecil yang bermuara di vestibulum.
14
ovarium. Tuba falopi digambarkan memiliki empat bagian (lateral ke
medial);
- Fimbriae-tonjolan bersilia seperti jari yang menangkap ovum dari
permukaan ovarium.
- Infundibulum-bukaan berbentuk corong di dekat ovarium tempat
melekatnya fimbriae.
- Ampula-bagian terluas dari saluran rahim. Pemupukan biasanya terjadi
di sini.
- Isthmus-bagian sempit dari tabung rahim yang menghubungkan
ampula ke rongga rahim.
5. Ovarium adalah gonad wanita yang menghasilkan sel telur dan hormon,
melekat pada ligamentum latum uterus (Ernawati et al., 2023).
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami histologi dari organ reproduksi
wanita.
Menurut buku Junqueira histologi dasar edisi 14, sistem reproduksi wanita
terdiri dari organ-organ, sebagai berikut :
a. Ovarium
b. Saluran genetalia wanita : tuba uterina (tuba falopi), uterus (placenta dan vagina)
c. Genetalia eksterna (vulva) : clitoris, labia minora, labia mayora
d. Kelenjar mammae
15
a. OVARIUM
Permukaan ovarium diliputi oleh epitel selapis kubis yang disebut
dengan germinal epithelium (epitel germinal), bagian bawah terdapat jaringan
ikat padat disebut dengan tunika albugenia. Secara histologi ovarium terdiri dari
2 bagian, yaitu :
1) Cortex Terdiri dari 3 lapisan : germinal epithelium, tunika Albuginea
(jar.ikat padat tak teratur) dan stroma ovarii . Pada saat dewasa, lapisan
stroma mengandung folikel-folikel ovarium (folikel primordial, folikel
primer, growing folikel, folikel de graff), corpus luteum dan corpus
albicans
2) Medula Terdiri dari jar.ikat kendor fibro-elastik dan banyak terdapat
pembuluh darah, limfe, saraf dan otot polos.
16
3. Lapisan serosa/adventitia terdiri dari jaringan ikat kendor.
17
- Floating villus merupakan cabang villi chorealis yang
terapung dalam lakuna (spatium intervilli)
- Anchoring villus merupakan lanjutan stem villus yang
kemudian tertanam pada desidua basalis.
b) Plasenta pars maternalis
Berasal dari jaringan endometrium ibu, terdiri dari sel decidua,
secara histologi terdiri dari 2 bentuk :
● Decidua basalis tersusun dari sel desidua, merupakan tempat
melekatnya Anchoring villus
● Septum placenta merupakan sisa decidua basalis yang tidak
terkikis pada saat pertumbbhan villi chorealis berupa bentukan
yg menonjol kedalam intervillous space (spatium intervilli).
18
- Lapisan adventitia terdiri dari lapisan tipis jaringan ikat padat.
19
membesar menjadi alveoli terdiri dari epitel selapis silindris. Jaringan
ikat lemak dan jaringan ikat intralobuler dan interlobuler mulai
menipis.
b) Kelenjar mammae laktasi pada saat masa menyusui, terjadi sekresi aktif
ASI sehingga alveoli membesar menjadi sacculi epitel selapis kubus.
3. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami fisiologi dari proses kehamilan.
Kehamilan merupakan proses biologis yang melibatkan serangkaian perubahan
fisiologis, hormonal, dan imunologis yang kompleks untuk mendukung
perkembangan janin hingga persalinan. Proses ini dimulai dengan fertilisasi, di mana
sel sperma dan ovum bersatu di ampula tuba falopi. Sperma harus melalui proses
kapasitasi—pematangan di saluran reproduksi wanita yang dipicu oleh lingkungan
kaya progesteron—untuk menembus lapisan pelindung ovum. Lapisan ini terdiri dari
korona radiata (sel granulosa) dan zona pellucida (lapisan glikoprotein). Sperma
pertama yang berhasil menembus ovum memicu reaksi akrosom, di mana enzim
seperti hialuronidase mencerna lapisan tersebut. Setelah sperma masuk, eksositosis
granula kortikal terjadi, mengeraskan zona pellucida untuk mencegah polispermi.
Penyatuan inti sperma dan ovum membentuk zigot (sel diploid dengan 46
kromosom).
Paparan estrogen lingkungan—seperti BPA, ftalat, atau pestisida—dapat
mengganggu kualitas sperma. Studi menunjukkan penurunan jumlah sperma dari 113
juta/mL (1940-an) menjadi 60 juta/mL saat ini, yang dikaitkan dengan peningkatan
kasus kanker testis, hipospadia, dan kriptorkidisme pada bayi laki-laki. Zat-zat ini
bertindak sebagai pengganggu endokrin, meniru atau menghambat aksi hormon
alami, sehingga mengacaukan proses fertilisasi.
20
Setelah fertilisasi, zigot mengalami pembelahan mitosis membentuk morula (massa
sel padat) dalam 3 hari, lalu berkembang menjadi blastokista (kantong berisi cairan)
pada hari ke-5. Blastokista terdiri dari trofoblas (lapisan luar yang menyerang
endometrium) dan massa sel dalam (calon embrio). Progesteron dari korpus luteum
mengubah endometrium menjadi desidua—jaringan kaya pembuluh darah dan
nutrisi. Trofoblas mengeluarkan enzim proteolitik (misalnya metaloproteinase) yang
mengikis pembuluh darah maternal, membentuk ruang intervilus terisi darah.
Plasenta kemudian berkembang dari vili korionik (jaringan janin) dan desidua
(jaringan ibu). Pada minggu ke-12, plasenta menjadi organ endokrin utama yang
memproduksi hormon seperti hCG, estrogen, dan progesteron.
Plasenta berperan dalam pertukaran nutrisi, gas, dan limbah antara ibu dan
janin melalui difusi dan transport aktif. Zat seperti obat, alkohol, atau polutan dapat
melintasi plasenta dan memengaruhi janin (misalnya, sindrom alkohol janin). Fungsi
endokrin plasenta melibatkan hCG yang menjaga korpus luteum hingga plasenta
matang, serta estrogen dan progesteron yang mempertahankan kehamilan. Estrogen
disintesis dari DHEA (dari kelenjar adrenal janin) oleh enzim aromatase plasenta,
sementara progesteron diproduksi langsung oleh plasenta. Hormon-hormon ini juga
mempersiapkan payudara untuk laktasi dan menekan kontraksi uterus.
Adaptasi maternal selama kehamilan mencakup peningkatan volume darah
30–50%, cardiac output, dan aliran darah uterus dari 50 mL/menit menjadi 500–800
mL/menit. Sistem pernapasan menyesuaikan dengan peningkatan kebutuhan oksigen
20%, sementara ginjal meningkatkan laju filtrasi glomerulus (GFR) 50% untuk
membuang limbah janin. Metabolisme ibu berubah dengan munculnya resistensi
insulin akibat hCS dan kortisol, mengalihkan glukosa ke janin. Lemak maternal
dipecah menjadi asam lemak dan keton sebagai sumber energi alternatif.
Proses persalinan dipicu oleh interaksi hormon janin dan ibu. CRH plasenta
meningkatkan sintesis estrogen dan prostaglandin, yang merangsang reseptor
oksitosin dan pelunakan serviks. Dominasi estrogen memicu pembentukan gap
junction pada miometrium untuk kontraksi terkoordinasi. Oksitosin dari hipotalamus
dan prostaglandin dari plasenta memperkuat kontraksi uterus melalui umpan balik
positif. Persalinan terdiri dari tiga tahap: dilatasi serviks (hingga 10 cm), ekspulsi
janin, dan pengeluaran plasenta.
21
Janin sebagai allograft semi-asing dipertahankan melalui mekanisme toleransi
imun seperti sel NK desidua (dNK) yang menekan sel T sitotoksik, ligan Fas yang
menginduksi apoptosis sel imun maternal, dan enzim IDO yang menghambat
aktivasi sel T. Gangguan toleransi ini dapat menyebabkan keguguran berulang atau
preeklampsia.
Kondisi klinis seperti kehamilan ektopik (implantasi di luar uterus),
insufisiensi plasenta (penurunan aliran darah), dan preeklampsia (hipertensi dan
proteinuria) merupakan resiko selama kehamilan. Preeklampsia terjadi akibat
disfungsi endotel plasenta yang menyebabkan stres oksidatif dan peradangan
sistemik.
Perubahan hormonal pasca persalinan menyebabkan penurunan drastis
estrogen dan progesteron, memicu laktasi dan involusi uterus. Menopause, yang
terjadi sekitar usia 45–55 tahun, ditandai dengan penghentian siklus menstruasi
akibat penipisan folikel ovarium. Penurunan estrogen pascamenopause
meningkatkan risiko osteoporosis dan gangguan kardiovaskuler.(Sherwood, 2014)
22
Mekanisme diperankan oleh retraksi otot uterus dalam mengurangi volume rongga
rahim secara bertahap. (Zakiyah, et al. 2020)
Kontraksi uterus bersifat fundal dominan (yang menyebabkan seolah-olah
serviks tertarik ke atas dan lama kelamaan menjadi tipis), dimulai dari bagian atas
rahim (segmen atas rahim/SAR) dan menyebar ke bawah. Segmen bawah rahim
(SBR) dan serviks mengalami relaksasi akibat peningkatan reseptor prostaglandin,
memungkinkan peregangan. Tekanan kepala janin pada serviks memicu refleks
Ferguson, di mana impuls saraf dari serviks dikirim ke hipotalamus untuk
melepaskan lebih banyak oksitosin, membentuk umpan balik positif yang
memperkuat kontraksi. Selama fase ini, terjadi peningkatan curah jantung ibu hingga
50% akibat peningkatan volume darah yang dipompa ke plasenta dan jaringan
perifer. (Zakiyah et al., 2020).
Serviks akan berubah menjadi lembut panjang serviks akan berkurang seiring
dengan penipisan serviks. Selanjutnya akan mengalami dilatasi seiring dengan
pembukaan progresif dari serviks. Serviks dianggap membuka lengkap setelah
mencapai diameter 10 cm. Pada umumnya ibu akan mengeluarkan darah sedikit atau
sedang dari serviks. (Zakiyah et al., 2020).
Tahap II: Pengeluaran Janin (Kala II)
Setelah serviks membuka lengkap, tahap ini ditandai oleh dorongan aktif ibu
untuk mengeluarkan janin. Kontraksi uterus menjadi lebih intens. Proses ini
berlangsung 2 jam pada primigravida (pertama kali melahirkan) dan 1 jam pada
multigravida (pernah melahirkan), dipicu oleh peningkatan kadar katekolamin
(adrenalin dan noradrenalin) yang memperkuat refleks mengejan (Zakiyah, et al.
2020). Tanda dan gejala Kala II:
a) Ibu ingin meneran.
b) Perineum menonjol.
c) Vulva vagina dan sphincter anus membuka.
d) Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat.
e) His/kontraksi otot rahim menjadi lebih kuat dan lebih cepat 2-3 menit sekali.
f) Pembukaan lengkap (10 cm).
g) Primigravida berlangsung rata-rata 1,5 jam dan multipara rata-rata 0,5 jam.
(Zakiyah, et al. 2020)
Selain itu, Janin melakukan serangkaian gerakan kardinal untuk menyesuaikan
diri dengan bentuk panggul ibu:
23
1) Engagement: Penurunan kepala janin ke rongga panggul/PAP/Pintu atas
panggul. Penurunan ini biasanya dengan sutura sagitalis yang melintang
menyesuaikan dengan letak punggung dan pada saat ini kepala dalam posisi
fleksi ringan.
2) Descensus: Turunnya janin akibat kombinasi kontraksi dan tekanan
intra-abdomen setelah kepala masuk ke dalam PAP.
3) Fleksi: Dagu menempel ke dada untuk mengurangi diameter kepala
(suboccipitobregmatic: 9.5 cm). Atau mengalami fleksi maksimal akibat
memasuki PAP dengan ukuran paling kecil dan adanya dorongan di atas
kepala janin. (Zakiyah, et al. 2020)
24
5) Ekstensi: Kepala melintasi vulva dengan dagu mengarah ke perineum. Hal ini
disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke
depan di atas, sehingga kepala harus mengadakan ekstensi.
6) Restitusi: Kepala kembali ke posisi semula setelah lahir. Restitusi atau putaran
paksi luar adalah gerakan kembali sebelum terjadi putaran paksi yang
dilakukan untuk menyesuaikan kedudukan kepala dengan punggung janin.
7) Ekspulsi: Bahu dan tubuh janin dikeluarkan. dimana sebelumnya bahu akan
menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang akan di dalalyinya hingg dasar
panggul, setelah kepala lahir, bahu akan berada dalam posisi depan belakang.
Yang mana bahu depan terlebih dahulu yang keluar baru bahu belakang.
(Zakiyah, et al. 2020)
Gambar 4.3. Gerakan Kepala Janin Pada Defleksi & Putaran Paksi Luar. Zakiyah, et al. 2020
Gambar 4.4. Kelahiran Bahu Depan Kemudian Bahu Belakang . Zakiyah, et al. 2020
Tahap III: Pengeluaran Plasenta (Kala III)
Tahap ini dimulai setelah kelahiran janin dan berakhir dengan pelepasan
plasenta dan selaput ketuban. Berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Kala III ini juga
25
bisa disebut dengan Kala Uri atau Kala Pengeluaran Plasenta. Peregangan tali pusat
terkendali (PTT) dilanjutkan pemberian oksitosin untuk kontraksi uterus dan
mengurangi perdarahan. (Zakiyah, et al. 2020)
Tanda-tanda pelepasan plasenta:
● Perubahan ukuran, bentuk, dan posisi uterus.
● Uterus menjadi bundar dan uterus terdorong ke atas karena plasenta sudah
terlepas dari segmen bawah Rahim.
● Tali pusat memanjang.
● Semburan darah tiba-tiba.
Kontraksi uterus terus berlanjut, menyebabkan penyempitan pembuluh darah
di lokasi implantasi plasenta. Pelepasan plasenta terjadi melalui dua mekanisme:
a) Schultze: Pelepasan sentral dengan perdarahan minimal.
b) Duncan: Pelepasan marginal dengan risiko perdarahan lebih tinggi.
Setelah plasenta terlepas, uterus berkontraksi kuat untuk menekan pembuluh
darah (ligamentum latum dan arteri uterina) melalui living ligature mechanism,
mengurangi perdarahan dari tempat melekatnya plasenta. Oksitosin tetap berperan
penting untuk mempertahankan kontraksi dan mencegah atonia uteri. Hal ini
disebabkan karena uterus tidak dapat sepenuhnya berkontraksi hingga plasenta lahir
dahulu seluruhnya.
26
b) Menilai apakah bayi baru lahir dalam keadaan stabil, jika tidak rawat bayi
segera. (Zakiyah, et al. 2020)
Tahap IV: Pasca Persalinan (Kala IV)
Tahap ini dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah itu.
Tahap ini berperan dalam proses pemantauan dan observasi pasca persalinan. Paling
kritis karena proses perdarahan yang berlangsung. Pemantauan 15 menit pada jam
pertama setelah kelahiran plasenta dan 30 menit pada jam kedua setelah persalinan.
Jika kondisi ibu belum stabil, maa perlu dipantau lebih sering. Setelah plasenta lahir
tinggi fundus uteri kurang lebih 2 jari dibawah pusat. Otot-otot uterus berkontraksi,
pembuluh darah yang ada diantara anyaman-anyaman otot uterus akan terjepit.
Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. (Zakiyah, et al.
2020)
Observasi yang dilakukan diantaranya adalah: Tingkat kesadaran pasien,
pemeriksaan tanda vital, kontraksi uterus, perdarahan (dianggap masih normal bila
jumlahnya tak melebihi 400-500 ml). Adapun 7 langkah pemantauan yang dilakukan
di Kala IV ini adalah:
1) Kontraksi rahim: dengan palpasi untuk menilai kontraksi dan konsistensi uterus.
Kontraksi uterus yang normal adalah pada perabaan fundus uteri akan teraba
keras. Jika tidak terjadi kontraksi dalam waktu 15 menit setelah dilakukan
pemijatan uterus akan terjadi atonia uteri
2) Perdarahan: Ada atau tidak. Bilamana ada apakah banyak atau sedikit.
3) Kandung kemih: Harus kosong. Karena kalau penuh, itu akan membuat uterus
terdorong ke atas dan menghalangi uterus berkontraksi sepenuhnya.
4) Luka-luka: Jahitannya, baik atau tidak, ada perdarahan atau tidak. Evaluasi
laserasi dan perdarahan aktif pada perineum dan vagina. Derajat laserasi
perineum terbagi atas:
- Derajat 1: Meliputi mukosa vagina, fourchette posterior dan kulit perineum.
Pada derajat ini tidak perlu dilakukan penjahitan jika tidak ada perdarahan.
- Derajat 2: Meliputi mukosa vagina, fourchette posterior, kulit perineum, dan
otot perineum. Pada derajat ini perlu dilakukan penjahitan dengan teknik
jelujur.
- Derajat 3: Meliputi mukosa vagina, fourchette posterior, kulit perineum,
otot perineum dan otot sfingter ani external.
- Derajat 4: Derajat 3 ditambah dengan dinding rectum anterior.
27
- Pada derajat 3 dan 4, segera dilakukan rujukan karena laserasi ini
memerlukan teknik dan prosedur khusus. (Zakiyah, et al. 2020)
5) Uri dan selaput ketuban harus lengkap
6) Keadaan umum ibu (TTV)
- Keadaan umum ibu: Periksa setiap 15 menit, apakah memerlukan minum,
apakah merasa lemas, apakah ingin memegang bayinya.
- Pemeriksaan tanda vital.
- Kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri: Merasakan apakah fundus uteri
berkontraksi kuat dan berada di bawah umbilicus. Periksa fundus: 2-3 kali
dalam 10 menit pertama, setiap 15 menit pada jam pertama persalinan,
setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan, dan massage fundus jika
diperlukan untuk menimbulkan kontraksi. (Zakiyah, et al. 2020)
28
● Kepala, leher, toraks, abdomen: Dalam batas normal
Pemeriksaan Obstetri
● TFU: 40 cm (sesuai 35 minggu)
● Leopold I: TFU sesuai usia kehamilan
● Leopold II: Teraba punggung di salah satu sisi
● Leopold III: Teraba bagian keras dan bulat (kepala)
● Leopold IV: Kepala belum masuk PAP
● DJJ: 130x/menit, reguler
● Belum ada kontraksi
● Belum ada pembukaan serviks
Pemeriksaan Penunjang
● Tes lakmus positif → Menunjukkan pH cairan vagina > 6 (basa) → Mengarah
pada cairan ketuban
● Belum dilakukan USG, amniosentesis, atau pemeriksaan speculum
Diagnosis
Ketuban Pecah Dini (KPD)
Ditegakkan berdasarkan:
● Cairan bening keluar spontan dari vagina
● Tidak ada kontraksi (bukan persalinan aktif)
● Tes lakmus (+) mendukung adanya cairan ketuban
● Usia kehamilan < 37 minggu
6. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami diagnosis banding dari kasus
di atas.
Ketuban Pecah Dini (KPD)
Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah kondisi ketika ketuban pecah sebelum
timbulnya kontraksi atau pembukaan serviks, yang bisa terjadi sebelum usia
kehamilan mencapai 37 minggu atau setelahnya. KPD dapat menyebabkan infeksi
atau kelahiran prematur.
Gejala Khas:
● Keluar cairan bening dari vagina yang tidak berbau, sering kali tanpa disertai
rasa nyeri atau kontraksi.
● Pasien mungkin tidak merasakan tanda-tanda persalinan, seperti nyeri perut
atau pembukaan serviks.
29
Pemeriksaan:
● Tes Lakmus (+): Pemeriksaan pH cairan menunjukkan nilai lebih tinggi dari
pH normal vagina (pH 6-7), yang menunjukkan adanya cairan ketuban.
● Spekulum: Pada pemeriksaan menggunakan spekulum, dapat dilihat adanya
cairan yang keluar dari serviks tanpa adanya tanda perdarahan.
● USG: pemeriksaan ultrasonografi bisa menunjukkan adanya cairan ketuban
yang sedikit atau menipis, yang menjadi indikasi pecahnya ketuban.
(Prawirohardjo, 2016)
Bacterial Vaginosis (BV)
Bacterial Vaginosis adalah infeksi vagina yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan mikroflora normal vagina, dengan peningkatan bakteri anaerob
dan penurunan jumlah lactobacillus yang sehat.
Gejala Khas:
● Keputihan berwarna kelabu atau putih yang tidak berbau tajam, meskipun
terkadang dapat menimbulkan bau amis.
● Tidak ada rasa gatal atau iritasi pada vagina yang biasanya muncul pada
infeksi jamur.
Pemeriksaan:
● Tes Amina (Whiff Test): Pengujian dengan penambahan KOH pada cairan
vagina yang akan menghasilkan bau amis khas jika BV ada.
● Mikroskopi: Ditemukan "clue cells," yaitu sel epitel yang dikelilingi oleh
bakteri yang menyelubungi sel-sel tersebut.
● pH Vagina: pH cairan vagina lebih dari 4,5, yang mengindikasikan infeksi
bakteri. (Budiarso, 2017)
Trichomoniasis
Trichomoniasis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit protozoa
Trichomonas vaginalis, yang menyebabkan peradangan pada vagina dan uretra.
Gejala Khas:
● Keputihan berwarna hijau kekuningan dengan bau busuk.
● Gatal atau iritasi pada vagina, dan terkadang nyeri saat berhubungan seksual.
Pemeriksaan:
● Mikroskopi: Menunjukkan adanya Trichomonas vaginalis dalam preparat
basah cairan vagina.
30
● pH Vagina: pH cairan vagina biasanya lebih dari 5, mengindikasikan infeksi
parasit.
● Cultur atau PCR: Kultur cairan vagina untuk mendeteksi Trichomonas
vaginalis secara lebih sensitif. (Suwarsa, 2015)
Candidiasis Vaginalis
Candidiasis vaginalis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh Candida
albicans, yang biasanya terjadi setelah perubahan keseimbangan flora vagina.
Gejala Khas:
● Keputihan kental, berwarna putih seperti susu, disertai rasa gatal dan iritasi
pada vulva dan vagina.
● Terkadang disertai rasa terbakar saat buang air kecil atau saat berhubungan
seksual.
Pemeriksaan:
● Mikroskopi: Menunjukkan sel-sel jamur Candida yang tampak seperti hifa
atau spora pada preparat basah cairan vagina.
● Kultur: Kultur cairan vagina untuk menumbuhkan Candida yang lebih
spesifik.
● pH Vagina: pH vagina tetap normal (sekitar 4-4,5), berbeda dengan infeksi
bakteri.(Soejoeti, 2016)
Gonorrhea (Gonore)
Gonorrhea adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri
Neisseria gonorrhoeae, yang dapat menyebabkan peradangan pada saluran
reproduksi, rektum, tenggorokan, dan mata.
Gejala Khas:
● Keputihan berwarna kuning kehijauan dengan bau yang tidak sedap.
● Nyeri saat buang air kecil, atau rasa sakit pada daerah genital.
Pemeriksaan Khas:
● Mikroskopi: Menunjukkan adanya diplokokus gram negatif di dalam cairan
vagina atau uretra.
● Kultur atau PCR: Kultur untuk mendeteksi Neisseria gonorrhoeae atau
pemeriksaan PCR untuk memastikan diagnosis.
● pH Vagina: pH lebih dari 4,5, mengindikasikan infeksi gonore. (Wiknjosastro,
2017)
31
Fistula Vesikovaginalis
Fistula vesikovaginalis adalah kebocoran urin dari kandung kemih ke dalam
vagina, yang biasanya terjadi akibat persalinan traumatik, namun juga bisa
disebabkan oleh prosedur medis atau infeksi.
Gejala Khas:
● Kebocoran urin secara tidak terkendali melalui vagina, sering kali saat batuk,
tertawa, atau aktivitas fisik.
● Pasien sering kali tidak merasakan nyeri atau gejala lain selain keluarnya urin
dari vagina.
Pemeriksaan:
● Pemeriksaan Fisik: Pemeriksaan spekulum menunjukkan adanya kebocoran
urin dari vagina tanpa tanda infeksi atau perdarahan.
● Cystography atau Cystourethrography: Pemeriksaan radiologi untuk
memastikan adanya fistula urin yang mengalir ke vagina.
● Pemeriksaan Urin: Dapat ditemukan urin dalam cairan yang keluar dari vagina
saat dilakukan pengujian. (Suyono, 2018)
7. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami definisi dan klasifikasi dari
KPD.
DEFINISI
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya selaput ketuban
sebelum terjadinya persalinan (Nasional and Kedokteran, 2016). Ketuban pecah dini
dapat terjadi pada atau setelah usia gestasi 37 minggu dan disebut KPD aterm atau
premature rupture of membranes (PROM) dan sebelum usia gestasi 37 minggu atau
KPD preterm atau preterm premature rupture of membranes (PPROM) (Nasional
and Kedokteran, 2016), (Ketut, Mulyana & Pangkahila, 2017).
KLASIFIKASI
● Ketuban Pecah Dini (KPD) Preterm
Ketuban pecah dini preterm adalah pecah ketuban yang terbukti dengan
vaginal pooling, tes nitrazin dan, tes fern atau IGFBP-1 (+) pada usia <37
minggu sebelum onset persalinan.
KPD preterm dibagi menjadi dua yaitu:
a) KPD sangat preterm adalah pecah ketuban saat umur kehamilan ibu
antara 24 sampai kurang dari 34 minggu,
32
b) KPD preterm saat umur kehamilan ibu antara 34 minggu sampai kurang
37 minggu (Nasional and Kedokteran, 2016).
● Ketuban Pecah Dini (KPD) Aterm
Ketuban pecah dini/ Premature rupture of membranes (PROM) adalah
pecah ketuban yang terbukti dengan vaginal pooling, tes nitrazin dan, tes fern
atau IGFBP-1 (+) pada usia kehamilan ≥37 minggu (Nasional and Kedokteran,
2016).
8. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami etiologi dan faktor risiko dari
KPD.
ETIOLOGI
Etiologi terjadinya ketuban pecah dini tidak jelas dan tidak dapat ditentukan
secara pasti (Ketut, Mulyana & Pangkahila, 2017). Tidak ada etiologi tunggal yang
menyebabkan KPD. Infeksi atau inflamasi koriodesidua juga dapat menyebabkan
KPD preterm (Nasional and Kedokteran, 2016). Penurunan jumlah kolagen dari
membran amnion juga diduga merupakan faktor predisposisi KPD preterm (Nasional
and Kedokteran, 2016). Kejadian KPD berhubungan dengan peningkatan morbiditas
dan mortalitas maternal maupun perinatal.
FAKTOR RESIKO
Berbagai faktor risiko berhubungan dengan KPD, khususnya pada kehamilan
preterm. Pasien berkulit hitam memiliki risiko yang lebih tinggi bila dibandingkan
dengan pasien kulit putih (Nasional and Kedokteran, 2016). Pasien lain yang juga
berisiko adalah pasien dengan status sosioekonomi rendah, perokok, mempunyai
riwayat infeksi menular seksual, memiliki riwayat persalinan prematur, riwayat
ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya, perdarahan pervaginam, atau
distensi uterus (misalnya pasien dengan kehamilan multipel dan polihidramnion)
(Nasional and Kedokteran, 2016). Prosedur yang dapat berakibat pada kejadian KPD
aterm antara lain sirklase dan amniosentesis (Nasional and Kedokteran, 2016).
Faktor resiko terjadinya KPD diantaranya (Ketut, Mulyana & Pangkahila,
2017) :
1) Infeksi saat kehamilan
Mikroorganisme dapat mencapai kavum amniotic secara; ascending
dari vagina dan serviks; penyebaran secara hematogen melalui plasenta;
keterpaparan secara tidak sengaja saat dilakukan operasi/tindakan dan melalui
33
penyebaran retrograde melalui tuba fallopi (Ketut, Mulyana & Pangkahila,
2017). Mikroorganisme memproduksi enzim dan produk lainnya sehingga
merangsang produksi sitokin dan systemic fetal inflammatory response
syndrome (FIRS). Enzim yang dihasilkan oleh bakteri secara signifikan
mengurangi kekuatan tegangan dan elastisitas selaput ketuban, yang mana
secara dose-dependent mengarah ke robekan dari selaput ketuban tersebut
(Ketut, Mulyana & Pangkahila, 2017).
2) Macrosomia
3) KPD pada kehamilan sebelumnya
4) Trauma
5) Kelainan letak
6) Malnutrisi termasuk zat besi dan asam askorbik
Kekurangan gizi merupakan salah satu faktor predisposisi untuk
terjadinya gangguan dari struktur kolagen, yang dikaitkan dengan peningkatan
resiko pecahnya selaput ketuban (Ketut, Mulyana & Pangkahila, 2017).
Vitamin c merupakan kofaktor untuk lisil hidroksilase, enzim penting yang
terlibat dalam sintesis kolagen dan defisiensi vitamin c mempengaruhi
produksi matrik ekstraseluler, menyebabkan struktur kolagen yang terbentuk
tidak sempurna (Ketut, Mulyana & Pangkahila, 2017). Asam α-lipolic,
antioksidan yang ditemukan dalam makanan manusia, menghambat
proinflamasi yang diinduksi sitokin dan diinduksi thrombin melemahkan
persiapan membrane janin dalam system in vitro (Ketut, Mulyana &
Pangkahila, 2017). Komponen asap rokok seperti superoxide, hydrogen
peroxide, hydroxyl ions dan nitrit oxide dapat menginduksi stress oksidatif dan
kematian sel apoptosis mengakibatkan peningkatan proteolysis, merusak
kolagen dan melemahnya membran (Ketut, Mulyana & Pangkahila, 2017).
7) Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus)
misalnya tumor, hidromnion, gemelli (Nasional and Kedokteran, 2016), (Ketut,
Mulyana & Pangkahila, 2017).
8) Perdarahan pada vagina pada trimester 2 atau 3.
34
9. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami patogenesis dan patofisiologi
dari KPD.
a. Patogenesis Ketuban Pecah Dini
35
memperparah inflamasi. Infeksi intrauterin (bakteri masuk ke korion
dan amnion) → Memicu reaksi imun dan degradasi lebih lanjut.
Akhirnya terjadi ruptur (pecahnya) membran amnion → Ketuban
pecah sebelum waktunya.
2) Setelah ketuban pecah, terjadi kebocoran cairan ketuban melalui serviks,
yang ditandai dengan:
Gush of fluid → Keluarnya cairan ketuban dalam jumlah
banyak dari vagina.
Oligohidramnion → USG menunjukkan Indeks Cairan
Amnion (AFI) <5 mm. Pooling of fluid → Genangan cairan ketuban di
forniks posterior (dapat diperiksa dengan spekulum). Tes Nitrazine
positif → Jika pH cairan vagina >6.0 (lebih basa dari biasanya). Tes
Ferning positif → Cairan ketuban membentuk pola fern leaf (daun
pakis) pada kaca objek.
3) PPROM dapat menyebabkan infeksi serius dan gangguan perkembangan
janin, seperti:
- Infeksi Intrauterin
Kolonisasi bakteri di endometrium → Bisa berkembang
menjadi endometritis (infeksi lapisan rahim). Infeksi pada chorion
dan amnion (chorioamnionitis) → Risiko infeksi janin dan sepsis
neonatal. Neutrofil menyerang plasenta → Menyebabkan abruptio
plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya).
- Gangguan Akibat Kekurangan Cairan Ketuban
Kurangnya cairan ketuban (oligohidramnion) → Janin
kehilangan pelindung alami. Hipoplasia paru-paru → Cairan
ketuban diperlukan untuk perkembangan paru-paru janin. Kelainan
wajah janin → Akibat tekanan langsung pada wajah janin tanpa
bantalan cairan ketuban. Prolaps tali pusat → Tali pusat keluar
lebih dulu melalui serviks, yang bisa menyebabkan gangguan suplai
oksigen ke janin.
4) Ketuban yang pecah sebelum waktunya memicu aktivasi sistem
hormonal dan inflamasi, yang mempercepat persalinan prematur:
Stres akibat komplikasi → Mengaktifkan poros
hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA axis) pada ibu dan janin.
36
Peningkatan prostaglandin → Memicu kontraksi uterus sebelum 37
minggu. Serviks mulai mengalami perubahan → Terjadi pelebaran
serviks dan persalinan prematur (<37 minggu).
5) Persalinan Prematur (<37 Minggu)
Dampak PPROM tidak tertangani dengan baik, ibu akan
mengalami persalinan prematur dengan risiko:
- Gangguan pernapasan pada bayi (karena paru-paru belum matang).
- Infeksi neonatal (karena bayi terpapar bakteri intrauterin).
- Komplikasi neurologis (karena perkembangan otak bayi belum
optimal).
b. Patofisiologi Ketuban Pecah Dini
37
1) Promotif
● Edukasi ibu hamil tentang faktor resiko dari KPD seperti menghindari
rokok, menjaga kebersihan area genital,menghindari berganti ganti
pasangan dan juga pola makan bergizi
● Edukasi masyarakat terutama ibu hamil tentang pemeriksaan rutin janin,
tanda tanda terjadinya KPD dan resikonya, sehingga ibu hamil bisa mencari
pertolongan medis apabila sewaktu waktu terjadi KPD (Siregar,2023)
2) Preventif
● Pemberian antibiotik profilaksis pada pasien dengan risiko tinggi infeksi
bertujuan untuk mencegah infeksi asenden yang dapat melemahkan
membran ketuban.
● Pemeriksaan prenatal secara rutin, termasuk evaluasi fisik dan tes
laboratorium berkala, dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko seperti
infeksi genital atau kelemahan serviks yang berpotensi menyebabkan
Ketuban Pecah Dini (KPD) (Siregar,2023)
3) Kuratif
Tabel Medikamentosa (Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Ketuban
Pecah Dini, 2016)
Kortikosteroid Betamethasone
Untuk menurunkan resiko 12 mg IM setiap 24 jam dikali 2 dosis
sindrom distress pernapasan, Jika betamethasone tidak tersedia, gunakan
untuk merangsang maturasi dexamethason 6 mg IM setiap 12 jam
paru
Antibiotik Ampicillin
Untuk memperlama masa 2 gram IV setiap 6 jam dan
laten Erythromycin
250 mg IV setiap 6 jam selama 48 jam,
dikali 4 dosis diikuti dengan
Amoxicillin
250 mg PO setiap 8 jam selama 5 hari dan
Erythromycin
333 mg PO setiap 8 jam setiap 5 hari, jika
alergi ringan dengan penisilin, dapat
digunakan:
38
Cefazolin
1 gram IV setiap 8 jam selama 48 jam dan
Erythromycin
250 mg IV setiap 6 jam selama 48 jam
diikuti dengan:
Cephalexin
500 mg PO setiap 6 jam selama 5 hari dan
Erythromycin
333 mg PO setiap 8 jam selama 5 hari, jika
alergi berat penisilin, dapat diberikan
Vancomycin
1 gram IV setiap 12 jam selama 48 jam dan
Erythromycin
250 mg IV setiap 6 jam selama 48 jam
diikuti dengan
Clindamycin
300 mg PO setiap 8 jam selama 5 hari
4) Rehabilitatif
a) KPD pada Kehamilan Aterm:
● Dilakukan pemantauan suhu rektal setiap 3 jam. Jika terdeteksi adanya
peningkatan suhu atau suhu mencapai ≥37,6°C, kehamilan segera
diakhiri.
● Jika tidak terjadi peningkatan suhu, pasien diobservasi selama 12 jam.
Bila setelah 12 jam belum terjadi tanda persalinan, maka terminasi
kehamilan perlu dilakukan.
b) KPD pada Kehamilan Preterm:
● Pasien dianjurkan untuk tirah baring selama 24 jam dan suhu rektal
dipantau tiap 3 jam.
● Apabila suhu menunjukkan kecenderungan naik atau mencapai 37,6°C,
terminasi kehamilan harus segera dilakukan. (Pedoman Nasional
Pelayanan Kedokteran Ketuban Pecah Dini, 2016)
39
beragam dari 1,6 persen sampai 29 persen, bergantung pada ras, faktor sosial
ekonomi, asuhan pranatal yang diterima dan usia gestasi. Pada usia kehamilan cukup
bulan, terjadi peningkatan insiden intrapartum jika periode laten sejak pecah ketuban
sampai awitan persalinan lebih dari 24 jam. Jika periode laten ini lebih dari 72 jam,
terdapat peningkatan mortalitas perinatal yang signifikan. Namun, pada kehamilan
yang kurang dari minggu ke-37 gestasi, angka itu bervariasi sesuai dengan usia
gestasi dan resiko terkait prematuritas lebih besar daripada resiko infeksi setelah
ketuban pecah dini. (Sutarni et al, 2020)
Komplikasi KPD
1) Bagi Ibu
a) Korioamnionitis (infeksi selaput ketuban)
b) Endometritis post partum
c) Sepsis
d) Persalinan prematur
e) Abruptio plasenta (lepasnya plasenta sebelum waktunya)
2) Bagi Janin/Bayi
a) Prematuritas dan segala komplikasinya:
- Gangguan pernapasan (RDS)
- Perdarahan intraventrikular
- Necrotizing enterocolitis (NEC)
- Infeksi neonatal
- Gangguan tumbuh kembang jangka panjang
b) Oligohidramnion (jumlah air ketuban sedikit)
- Hipoplasia paru (paru-paru tidak berkembang sempurna)
- Kompresi tali pusat → gawat janin
c) Stillbirth (kematian janin dalam kandungan) jika tidak tertangani. (Sutarni
et al, 2020)
40
berwarna, jernih, dan tidak berbau, meskipun pada beberapa kasus bisa disertai bau
khas atau perubahan warna jika terjadi infeksi. Selain itu, ibu hamil mungkin
mengeluhkan rasa lembab yang terus-menerus di area genital. Pada pemeriksaan
fisik, dapat ditemukan cairan ketuban pada spekulum vaginal, serta hasil
pemeriksaan laboratorium seperti tes lakmus yang menunjukkan pH basa, dan
adanya pola ferning (daun pakis) pada pemeriksaan mikroskopis. Jika KPD terjadi
sebelum usia kehamilan cukup bulan, gejalanya bisa disertai tanda-tanda infeksi
intrauterin seperti demam, nyeri perut, takikardia ibu atau janin, dan bau cairan
ketuban yang menyengat. Deteksi dini dan penanganan yang cepat sangat penting
untuk mencegah komplikasi pada ibu dan janin. (Blkis et al, 2023)
41
Selain itu, Rasulullah SAW bersabda: *"Tidak ada seorang muslim yang
tertimpa musibah lalu ia mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah,
berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantikanlah untukku yang lebih baik
darinya,’ kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”* (HR.
Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa dalam situasi sulit, seperti KPD, umat Islam
dianjurkan untuk menyerahkan urusannya kepada Allah dengan harapan diberi
ketenangan dan solusi terbaik.
Dengan demikian, peran tenaga kesehatan muslim tidak hanya terbatas pada
aspek medis, tetapi juga mencakup pendampingan rohani. Melalui pendekatan yang
menggabungkan sisi psikologis dan spiritual, diharapkan ibu hamil yang mengalami
ketuban pecah dini dapat melewati masa kritis tersebut dengan lebih tenang, sabar,
dan penuh harapan. (Ayu,2023)
H. Kesimpulan
Kesimpulan dari skenario diatas berdasarkan hasil evaluasi, pasien sedang
mengalami ketuban pecah dini atau KPD. Hal ini dapat dilihat dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik seperti, keluar cairan dari kemaluan sejak 2 jam yang lalu, cairan
berwarna bening dan tidak berbau. Juga didukung dari pemeriksaan penunjang yang telah
dilakukan yaitu hasil tes lakmus (+) hal ini menunjukkan bahwa pH cairan vagina > 6
(basa) yang mengarah pada cairan ketuban. Untuk itu perlu dilakukan penanganan
dengan pemberian antibiotik yang sesuai dan segera dirujuk ke dokter kandungan karena
KPD termasuk kondisi gawat darurat obstetri agar tidak terjadi komplikasi kepada ibu
dan juga janin.
42
I. Peta Konsep
43
J. Daftar Pustaka
American College of Surgeons (2022). Advanced Trauma Life Support (ATLS) Student
Manual. 11th ed. Chicago: American College of Surgeons.
Anthony, l mescher, Tambayong, jan. (2017). HISTOLOGI DASAR : JUNQUEIRA TEKS
& ATLAS EDISI 14 . Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Ayu Anulus (2023) KORELASI FAKTOR PSIKOLOGI DAN GAYA HIDUP DENGAN
KETUBAN PECAH DIN
Cunningham, F.G., Leveno, K.J., Bloom, S.L., et al. (2018). Williams Obstetrics. 25th ed.
New York: McGraw-Hill Education.
Edgar, K. (2015). Preterm Prelabor Rupture of Membranes (PPROM): Pathogenesis and
Clinical Findings. The Calgary Guide. Available at:
http://calgaryguide.ucalgary.ca/preterm-prelabor-rupture-of-membranes-pprom-pa
thogenesis-and-clinical-findings/ [Accessed 4 Apr. 2025].
Sherwood, L. (2014) Human physiology: From cells to systems. 9th ed. Florence, AL:
Cengage Learning.
Nasional, P. and Kedokteran, P. (2016) ‘KETUBAN PECAH DINI Perkumpulan Obstetri
dan Ginekologi Indonesia’.
Negara. Ketut, Mulyana. Ryan, Pangkahila. Evert. 2017. Buku Ajar Ketuban Pecah Dini.
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/ RSUP Sanglah
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. 2016. Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran Ketuban Pecah Dini.
Sutarni Djufri, S., Mahmudah, N., ST, S., & Keb, M. (2020). STUDY LITERATURE
REVIEW GAMBARAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI PADA IBU
BERSALIN (Doctoral dissertation, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta).
Siregar, E., Kusumawardani, D., & Wirawan, H. (2023). Penanganan pada Ibu Ketuban
Pecah Dini.
Zakiyah, Z., Palifiana, D. A., Ratnaningsih, E. 2020. Buku Ajar Fisiologi Kehamilan,
Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Respati Press, Universitas
Respati Yogyakarta.
44