Anda di halaman 1dari 17

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS

Nama : Ny. JS
Umur : 35 tahun
Pekerjaan : PNS
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Halong RT 006/000
Tanggal masuk : 14 Agustus 2018
Tanggal Keluar : 18 Agustus 2018

B. ANAMNESA

Keluhan Utama :
Keluar cairan dari jalan lahir
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh keluar cairan dari jalan lahir kurang lebih 2 jam sebelum masuk rumah
sakit. Cairan yang keluar cukup banyak dan berwarna jernih. Keluhan juga disertai nyeri
pada perut bagian bawah menjalar ke panggul belakang. Nyeri dirasakan hilang timbul.
Keluar cairan ketuban (berwarna jernih/ kuning/ putih keruh/ kehijauan/ kemerahan)
sedikit demi sedikit atau sekaligus banyak disangkal. Bau cairan ketuban yang khas juga
disangkal. Keluhan keputihan selama kehamilan disangkal, tidak ada riwayat demam
sebelumnya. Keluhan perdarahan selama kehamilan disangkal, riwayat jatuh atau
kecelakaan disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat hipertensi selama kehamilan disangkal, hepatitis disangkal, riwayat asma
disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada riwayat penyakit hipertensi, DM, dan asma.
Riwayat Obstetri :
Riwayat menarke : usia 12 tahun, durasi haid teratur 5 hari, volume ± 30 cc/24 jam
siklus 28-32 hari
Riwayat persalinan : -

1
HPHT : 19 November 2017
Tafsiran persalinan : 19 Agustus 2018
Riwayat ANC : 3 kali di dr Neina Maricar, SpOG
Riwayat Alergi
Tidak memiliki alergi terhadap suhu, makanan, minuman, obat, dll.

C. PEMERIKSAAN FISIK
KEADAAN UMUM : Baik
KESADARAN : Compos Mentis
TANDA VITAL : Suhu : 36,00C
Pernapasan : 20 kali/menit, regular
Nadi : 80 kali/menit, regular, kuat angkat
Tekanan darah : 120/90 mmHg
STATUS GENERALIS
 Mata : Ikterik (-/-), anemis (-/-)
 Hidung : Napas cuping hidung (-), epistaksis(-), deviasi septum(-)
 Mulut : Kering (+), sianosis (-)
 Leher : Pembesaran KGB submandibula (-)
 Telinga : Sekret (-/-)
 Thorax : I: Retraksi intercosta (-)
P: Focal fremitus simetris
P: Sonor
A: Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
 Jantung : BJ I-II reguler, murni tanpa gallop dan murmur
 Extremitas : Atas : Akral hangat, CRT < 2detik,
Bawah : Akral hangat, CRT < 2detik, edema (-)
STATUS OBSTETRI dan GINEKOLOGI
 Abdomen :
- Inspeksi : tampak cembung, striae (+)
- Palpasi : - Leopold I : fundus uteri teraba 3 jari dibawah proc.
xyphoideus, teraba bokong
- Leopold II : teraba punggung di sebelah kanan ibu
- Leopold III : teraba kepala

2
- Leopold IV : belum masuk PAP
- His jarang
- Auskultasi : DJJ (+) 148x/menit, reguler
 Genitalia eksterna :
- Inspeksi : vagina bersih, terdapat rambut pubis, ulkus (-)
pembengkakan vulva (-), klitoris (-), keluar cairan jernih yg mengalir (+),
pus (-), lendir (-), darah (-)
- Vagina toucher : Dinding vagina teraba licin, pembukaan seujung jari,
ostium tebal, kepala letak tinggi, ketuban (+) merembes warna putih jernih.
 Genitalia Interna (inspekulo) : Tidak dilakukan

D. PEMERIKSAAN TAMBAHAN :
1. LABORATORIUM
Tanggal 14 Agustus 2018

Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Satuan


Hematologi Lengkap
Hemoglobin 12,6 12 – 16 g/dl

Leukosit 7,6 4,4 – 11,5 10^3/µl


Eritrosit 4,43 4,1 – 5,1 10^6/µl
Hematokrit 38,4 35 – 47 %
Trombosit 296 170 – 394 10^3/µl

Hitung Jenis Leukosit


Basofil 0,3 0–1 %
Eosinofil 4,1 2–4 %
Neutrofil 65,2 50 – 70 %
Limfosit 23,7 25 – 40 %
Monosit 6,7 2–8 %
Gol. Darah ABO B
Gol. Darah Rhesus Positif
MCV (VER) 86,7 80 – 96 fl
MCH (HER) 28,4 28 – 33 pg
MCHC (KHER) 32,8 33 – 36 g/dL

RDW 15,1 11,5 – 14,5 %

3
Serologi Hepatitis
HbsAg (Rapid) Non Reaktif Non reaktif

2. ELEKTROKARDIOGRAM

Kesan : sinus rythm, heart rate 96x/menit, tidak ditemukan elevasi/depresi segmen
ST maupun Q patologis.

E. DIAGNOSIS
 Wanita 34 tahun G1P0A0, Gravid aterm dengan ketuban pecah dini (KPD)

F. TERAPI
 Konsul dr. Neina Maricar, Sp. OG
 Instruksi :
o Pantau DJJ, his, dan kemajuan partus
o Observasi partus normal
o Jika tidak maju, anjurkan sectio caesaria (SC)

4
G. FOLLOW UP

Tgl Subjektif Objektif Assessment Planning


15/8/ Nyeri perut TD : 120/80 mmHg - G1P0A0 - Observasi, TTV DJJ
18 bagian bawah (+), N: 80x/menit gravid dan His
keluar cairan S : 36,2oC aterm+ - Rencana besok SC
jernih dari jalan RR : 20x ketuban tanggal 16/8/2018
lahir (+), mules Mata : CA -/- pecah dini
(+), lemas (+). Bibir : (KPD)
BAB/BAK baik. Pucat & kering (-)
Thorax :
Retraksi intercostae(-),
vesicular, rh-/-, wh-/-
Abdomen :
Nyeri tekan suprapubik (+)
Ekstremitas :
Akral hangat(+)
VT kontrol :
pembukaan 1 jari, ostium
tebal, DJJ (+) 144-
149x/menit, ketuban
merembes jernih, his
jarang
16/8/ Nyeri perut TD : 120/80 mmHg - G1P0A0 - Ivfd Rl 20 tpm
18 bagian bawah (+), N: 80x/menit gravid - Injeksi Cefotaxim 1 gr/
keluar cairan S : 36,2oC aterm+ 12 jam/iv (1)
jernih dari jalan RR : 20x ketuban - Rencana operasi SC
lahir (+), lemas Mata : CA -/- pecah dini jam 24.00 WIT
(+), mules (+), Bibir : (KPD)
BAB/BAK baik. Pucat & kering (-)
Thorax :
Retraksi intercostae(-),
vesicular, rh-/-, wh-/-
Abdomen :
Nyeri tekan suprapubik (+)
Ekstremitas :
Akral hangat(+)
VT kontrol :
pembukaan 3 jari, ostium
lunak tebal, DJJ (+)
149x/menit, penurunan
kepala Hodge II, ketuban
merembes jernih, his
jarang

5
17/8/ Nyeri perut post TD : 120/80 mmHg - P1A0 post - Ivfd Rl 20 tpm
18 operasi (+) N: 78x/menit SC a/i KPD - Injeksi Cefotaxim 1 gr/
S : 36,2oC 12 jam/iv (2)
RR : 20x - Metronidazole 1
Mata : CA -/- flakon/12 jam IV (1)
Bibir : - Observasi TTV
Pucat & kering (-) - Tampung urine 24 jam
Thorax : - Kontrol Hb
Retraksi intercostae(-),
vesicular, rh-/-, wh-/-
Abdomen :
Nyeri lokasi op (+)
Ekstremitas :
Akral hangat(+)

18/8/ Nyeri perut post TD : 120/80 mmHg - P1A0 post - Ivfd Rl 20 tpm
18 operasi (+) N: 80x/menit SC a/i KPD - Injeksi Cefotaxim 1 gr/
S : 36,2oC 12 jam/iv (3)
Lab : RR : 20x - Metronidazole 1
HB: 13,7 gr/dl Mata : CA -/- flakon/12 jam IV (2)
Bibir : - Observasi TTV
Pucat & kering (-) - Besok BLPL
Thorax :
Retraksi intercostae(-),
vesicular, rh-/-, wh-/-
Abdomen :
Nyeri lokasi op (+)
Ekstremitas :
Akral hangat(+)

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ketuban Pecah Dini

Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput janin sebelum proses persalinan dimulai.
Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm maupun kehamilan aterm,
yang dibagi menjadi dua, yaitu :

- PROM (premature rupture of membrane), pecahnya selaput ketuban pada usia


kehamilan > 37 minggu.
- PPROM (preterm premature ruptur of membrane), pecahnya selaput ketuban pada
kehamilan < 37 minggu. PPROM dibagi lagi atas :
 Ketuban pecah dini pada usia kehamilan 32-36 minggu (preterm PROM near
term)
 Ketuban pecah dini pada usia kehamilan 23-31 minggu ( preterm PROM
remote from term)
 Ketuban pecah pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu (previable
PROM). Bila proses persalinan segera berlangsung sesudahnya maka akan
terjadi kematian neonatus.
Terjadinya ketuban pecah biasanya diikuti oleh proses persalinan. Periode laten ada interval
saat ketuban pecah sampai dimulainya persalinan. Periode laten dari pecahnya selaput
ketuban hingga persalinan berkurang secara berlawanan dengan bertambahnya usia gestasi.
Penyebab dari KPD masih belum jelas, bisa dikarenakan menjelang usia kehamilan cukup
bulan, terjadi kelemahan fokal pada selaput janin di atas os serviks internal yang memicu
robekan di lokasi ini. Beberapa proses patologis (termasuk pendarahan dan infeksi) dapat
menyebabkan terjadinya KPD. Menurut Taylor dkk., patofisiologi KPD berhubungan dengan
adanya faktor predisposisi :

a. Faktor infeksi
Pada infeksi, terjadi peningkatan aktifitas interleukin–1 (IL-1) dan
prostaglandin. Peningkatan ini menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga
terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/ amnion, yang menyebabkan
selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
b. Faktor trauma dan tekanan intra abdominal

7
Adanya stress maternal dan fetal, menyebabkan peningkatan pelepasan kadar
CRH (corticotropin releasing hormon), sehingga terjadi pembentukan enzim
matriks metalloproteinase (MMP), yang menyebabkan ketuban pecah.
c. Faktor selaput ketuban
Membran ketuban memiliki kemampuan material viscoelastis, dimana jika ada
tekanan internal saat persalinan dan juga adanya infeksi membuat membran
menjadi lemah dan rentan sehingga membran pecah

Faktor resiko

 Kehamilan multipel : kembar dua (50%) ; kembar tiga (90%)


 Riwayat persalinan preterm sebelumnya : resiko 2-4 kalinya
 Tindakan senggama : tidak berpengaruh kepada resiko , kecuali jika higiene buruk,
presdiposisi terhadap infeksi
 Perdarahan pervaginam : trimester pertama (resiko 2x), trimester kedua / ketiga (20x)
 Bakteriuria : resiko 2x
 pH vagina diatas 4,5
 serviks tipis (kurang dari 39 mm)
 flora vagina abnormal
 kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress
psikologik , dan sebagainya, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm

Pendekatan diagnosis

1. Anamnesis
Keluar cairan ketuban (berwarna jernih/ kuning/ putih keruh/ kehijauan/ kemerahan)
sedikit demi sedikit atau sekaligus banyak. Bau cairan ketuban yang khas (terutama
jika sudah terjadi infeksi)
2. Pemeriksaan status generalis
Suhu normal bila tidak terjadi infeksi
3. Pemeriksaan status obstetri
Pemeriksaan luar :
- Nilai denyut jantung janin dengan stetoskop laenec, fetal phone, doppler, atau
dengan cardiotokografi (CTG)
- Janin mudah dipalpasi karena air ketuban sedikit.

8
Inspekulo :

- Nilai apakah cairan keluar melalui ostium uteri eksternum atau terkumpul di
forniks posterior.
- Tes lakmus (nitrazin). Jika kertas lakmus berubah menjadi biru, menunjukan
adanya cairan ketuban. Jika kertas tetap merah, menunjukan bukan air ketuban
(mungkin urin)
Pemeriksaan dalam :

- Selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering. Jika ketuban pecah, jangan
sering periksa dalam, awasi terjadinya tanda-tanda infeksi

Tanda-tanda terjadinya infeksi intra uterin :


- Suhu ibu > 380 C
- Takikardi ibu (> 100 denyut permenit)
- Takikardi janin (> 160 detak permenit)
- Air ketuban yang keruh/ hijau/ berbau
- Leukositosis pada pemeriksaan darah (>15.000 /mm3 )
- Pemeriksaan penunjang lain :
 Leukosit esterase (LEA) + 3
 CRP meningkat / > 2 mg menunjukan infeksi chorioamnionitis.
- Nyeri abdomen, nyeri tekan uterus
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Ultrasonografi : untuk mengkonfirmasi jumlah cairan amnion yang berkurang
dengan menggunakan USG
b. Uji pakis positif
Pemakisan (ferning), juga disebut percabangan halus (arborization), pada kaca
objek (slide) mikroskop yang disebabkan keberadaan natrium klorida dan
protein dalam cairan amnion. Selama pemeriksaan speculum steril, gunakan
lidi kapas steril untuk mengumpulkan specimen, baik cairan dari forniks
vagina posterior maupun cairan yang keluar dari orifisium karena lendir
serviks juga sedikit berbeda. Apus specimen pada kaca objek dan biarkan
seluruhnya kering minimal selama 10 menit. Inspeksi kaca objek di bawah
mikrokop untuk memeriksa pola pakis. Uji pakis lebih dapat dipercaya
daripada uji kertas nitrazin. Ini karena sejumlah bahan selain cairan amnion

9
memiliki pH yang lebih alkali, termasuk lendir serviks, infeksi trikomonas,
darah, urine, semen ,dan bubuk sarung tangan.
c. Uji kertas nitrazin positif
Kertas berwarna mustard-emas yang sensitive terhadap pH ini akan berubah
warna menjadi biru gelap jika kontak dengan bahan bersifat basa. Nilai pH
vagina normal adalah < 4,5. Selama kehamilan, terjadi peningkatan jumlah
sekresi vagina akibat eksofoliasi epitalium dan bakteri, sebagian lactobacillus,
yang menyebabkan pH vagina lebih asam. Cairan amnion memiliki pH 7,0-
7,5.
Penatalaksanaan
 Pastikan diagnosis
 Tentukan umur kehamilan
 Evaluasi ada tidaknya infeksi maternal ataupun infeksi janin
 Apakah dalam keadaan inpartu atau terdapat kegawatan janin

Riwayat keluarnya air ketuban berupa cairan jernih keluar dari vagina yang kadang-
kadang disertai tanda-tanda lain dari persalinan. Diagnosis ketuban pecah dini dengan
inspekulo dilihat adanya cairan ketuban keluar dari kavum uteri. Pemeriksaan pH vagina
perempuan hamil sekitar 4,5; bila ada cairan ketuban pHnya sekitar 7,1-7,3. Antiseptik yang
alkalin akan menaikkan pH vagina. Dengan pemeriksaan ultrasound adanya ketuban pecah
dini dapat dikonfirmasikan dengan adanya oligohidramnion. Bila air ketuban normal agaknya
ketuban pecah dapat diragukan. Pasien dengan kemungkinan ketuban pecah dini harus masuk
rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Jika pada perawatan air ketuban berhenti keluar,
pasien dapat pulang untuk rawat jalan. Bila terdapat persalinan dalam kala aktif,
korioamnionionitis, gawat janin, persalinan diterminasi. Bila ketuban pecah dini pada
kehamilan prematur, diperlukan penatalaksanaan yang komprehensif. Secara umum
penatalaksanaan pasien ketuban pecah dini yang tidak dalam persalinan serta tidak ada
infeksi dan gawat janin, penatalaksanaannya bergantung pada usia kehamilan.

Penanganan Konservatif
Pasien dirawat di rumah sakit, berikan antibiotik (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin bila
alergi ampisilin dan metronidazol 2x500 mgg selama 7 hari). Jika umur kehamilan < 32-34
minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar. Jika
usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi dan janin dalam keadaan baik,
terminasi pada usia kehamilan 37 minggu. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu,

10
tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi, nilai
tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin). Pada usia kehamilan 32-
37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin, dan bila memungkinkan
periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis
tunggal selama 2 hari, deksametason 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
Penanganan Aktif
Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin. Bila gagal seksio sesaria. Dapat pula
diberikan misoprostol 25 g - 50g intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali. Bila ada tanda-
tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan persalinan diakhiri.

- Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. Jika tidak
berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesaria.
- Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan

Tabel 1. Skor Pelvic

Prognosis

Prognosis ditentukan dari cara penatalaksanaan dan komplikasi-komplikasinya yang timbul,


serta umur dari kehamilan.

Komplikasi

Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini bergantung pada usia kehamilan. Dapat
terjadi infeksi maternal ataupun neonatal, persalinan premature, hipoksia karena kompresi tali

11
pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden seksio sesarea, atau gagalnya persalinan
normal.

 Persalinan prematur
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten
tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90 % terjadi dalam 24 jam setelah
ketuban pecah. Pada kehamilan anatar 28 – 34 minggu 50 % persalinan dalam 24 jam.
Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
 Infeksi
Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada KPD. Pada ibu terjadi konrioamnionitis.
Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi
korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada KPD prematur, infeksi lebih sering
daripada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat
sebanding dengan lamanya periode laten.
 Hipoksia dan asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga
asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat
oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat. \
 Sindrom deformitas janin
KPD yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan
disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmolnar.

12
BAB III

ANALISA KASUS

A. DIAGNOSIS
Seorang wanita berusia 35 tahun dengan keluhan keluar cairan jernih dari jalan lahir
sejak 2 jam SMRS. Cairan yang keluar berwarna jernih, tidak berbau, tidak disertai
perdarahan dari jalan lahir. Keluhan demam, riwayat trauma juga disangkal. Ini merupakan
kehamilan pertama pasien, tidak ada riwayat kehamilan maupun persalinan sebelumnya.
Diketahui HPHT tanggal 19 November 2017, dengan demikian ketika pasien masuk RS usia
kehamilan kurang lebih 39-40 minggu/ hamil aterm. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
tanda-tanda vital dalam batas normal, pada pemeriksaan vaginal toucher (VT) didapatkan
pembukaan seujung jari, ostium tebal, kepala letak tinggi dan ketuban merembes (+)
berwarna jernih, tidak berbau, tidak ada darah, his sering dan DJJ 148x/menit. Namun pada
kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan kertas lakmus untuk mengkonfirmasi benar cairan
ketuban atau cairan vagina. Pada pemeriksaan penunjang berupa darah lengkap dan EKG,
ditemukan dalam batas normal namun terjadi peningkatan eosinofil pada hitung jenis
leukosit.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat ditegakan
diagnosa seorang wanita usia 35 tahun G1P0A0 hamil 39-40 minggu dengan KPD/ Premature
Rupture of Membrane. Jika dilihat faktor risiko pada kasus yang dapat mencetuskan
terjadinya pecah ketuban antara lain :
- Kehamilan multipel, riwayat persalinan preterm sebelumnya : tidak ditemukan pada
pasien ini
- Tindakan senggama dengan higiene buruk, perdarahan pervaginam, bakteriuria, flora
vagina abnormal : pada kasus ini tidak ditemukan karena tidak ada riwayat keputihan,
cairan ketuban yang keluar juga tidak berwarna keruh, kehijauan atau disertai darah
dan tidak berbau khas.
- PH vagina diatas 4,5 : tidak dilakukan pemeriksaan untuk menguji PH vagina,
minimal dilakukan pemeriksaan kertas lakmus untuk mengetahui pH cairan vagina
- Serviks tipis (kurang dari 39 mm) : tidak diketahui pada kasus ini karena tidak
dilakukan pemeriksaan

13
- Kadar CRH maternal tinggi :level CRH meningkat progresif selama kehamilan, dan
berkaitan dengan baik ACTH dan cortisol pada kasus sebelum, selama partus dan
sesudah partus. Namun pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan sehingga tidak
diketahui.

Pada kasus ini kemungkinan ruptur disebabkan oleh kelemahan fokal pada membran amnion
yang menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini, sedangkan faktor risiko yang lain tidak
ditemukan. Pada studi kasus kontrol premature rupture of membrane (PROM) pada 220 ibu
hamil aterm yang dilakukan di India melalui mekanisme simple random sampling, dan
diagnosis PROM ditentukan melalui anamnesis, tes ferning serta pH ditemukan bahwa faktor
risiko yang signifikan adalah adanya riwayat PROM pada kehamilan sebelumnya dan BMI
kurang dari 20. BMI ibu diketahui berdasarkan pengukuran tinggi badan (TB) dan berat
badan (BB) ibu dimana pada kasus ini BB ibu 75 kg dan TB 145 cm, sehingga didapatkan
BMI 35,67 yang termasuk dalam obesitas kelas II. Namun tidak diketahui BB yang dipakai
untuk mengukur BMI adalah BB sebelum hamil atau BB aktual saat dilakukan penimbangan.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan ketuban yang mengalir keluar dari jalan lahir
berwarna jernih dan tidak berbau. Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa diperlukan tes untuk
membedakan apakah cairan ketuban atau cairan vagina/urin yang keluar, dengan tes lakmus
atau nitrazin. Jika kertas lakmus berubah menjadi biru, menunjukan adanya cairan ketuban.
Jika kertas tetap merah, menunjukan bukan air ketuban. Dapat juga dilakukan pemeriksaan
inspekulo dan dilakukan tes pemakisan (ferning). Pemeriksaan USG juga dapat dilakukan
untuk menilai kadar amnion, apakah kadar amnion masih cukup atau berkurang
(oligohidramnion). Namun karena pada kasus ini cairan ketuban masih mengalir selama
dilakukan pemeriksaan dalam (VT) maka disimpulkan cairan ketuban masih cukup sehingga
tidak dilakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan dalam dihindari dilakukan berkali-kali untuk
mencegah terjadinya infeksi. Kondisi ibu dan janin dimonitor, dimana ibu tidak menunjukan
tanda-tanda infeksi berupa demam dan DJJ masih dalam batas normal (143-148). Hal ini
yang menjadi pertimbangan tatalaksana yaitu ibu tetap diobservasi baik tanda-tanda vital dan
his dan DJJ serta diobservasi kemajuan partus.

B. PENATALAKSANAAN
a. Observasi TTV, DJJ dan kemajuan partus
Instruksi awal dilakukan observasi terhadap tanda-tanda vital, denyut jantung
janin dan kemajuan partus. Selama observasi ibu tidak menunjukan adanya

14
perubahan signifikan tanda-tanda vital terutama suhu. Denyut jantung janin
masih dalam batas normal yaitu 143-148 kali per menit dan tidak menunjukan
adanya peningkatan denyut jantung (takikardi). Namun selama pemeriksaan
dalam, evaluasi terhadap pembukaan tidak menunjukan adanya kemajuan.
Selain itu, his yang awalnya sering menjadi jarang, hal ini yang menjadi
pertimbangan dilakukannya tindakan operatif (sectio caesaria) segera untuk
terminasi kehamilan.
b. Cairan intravena
Cairan intravena yang diberikan berupa ringer laktat (RL) sebanyak 20 tetes
per menit sebagai kebutuhan cairan sebelum dan selama tindakan operatif
serta mencegah ibu jatuh dalam kondisi dehidrasi atau syok. Cairan ringer
laktat merupakan salah satu jenis kristaloid isotonis sebagai cairan buffer
untuk pengganti cairan tubuh. Komposisi RL terutama sodium, klorida,
potasium, kalsium dan laktat. RL digunakan sebagai cairan resusitasi pada
kasus kehilangan darah dimana dalam kasus ini terjadi dalam tindakan
operatif.
c. Antibiotik
i. Cefotaxime
Berdasarkan review terhadap ceftazidime dan cefotaxime yang
merupakan generasi ketiga, yang sering digunakan sebagai single agent
menunjukan aktivitas tinggi terhadap Pseudomonas sp. Antibiotik ini
terbukti efektif sebagai monoterapi pada terapi peritonitis, infeksi
ginekologi, bronkitis kronis dan infeksi pada pasien leukemia dan
granulositopenia. Hal yang sama juga ditunjukan oleh cefotaxime
dengan kombinasi aminoglikosida. Cefotaxime menunjukan efektivitas
yang baik terutama terhadap bakteri aerob gram negatif dan golongan
staphylococcus. Golongan antibiotik ini juga dapat menembus sawar
otak dan digunakan terutama pada kasus meningitis.
ii. Metronidazole
Metronidazole efektif digunakan dalam kehamilan terutama untuk
pengobatan vaginosis bakterial dan trikomoniasis. Metronidazole dapat
mengurangi kehamilan prematur jika dikombinasi dengan antibiotik
lainnya. Metronidazole bersifat amebisid, bakterisid dan trikomonisidal
dengan menghambat sintesis asam nukleat.

15
d. Tindakan operatif
Tindakan operatif yaitu sectio caesaria dilakukan atas indikasi partus yang
tidak maju (partus macet) dimana pembukaan yang tidak maju selama evaluasi
pemeriksaan dalam. Namun tidak selamanya kehamilan diterminasi dengan
tindakan operatif. Pada penelitian yang dilakukan oleh Sven Kehl dkk,
dampak KPD terhadap SC tidak signifikan dalam analisis multivariat,
sedangkan PROM ditemukan sebagai efek mayor pada interval induksi
persalinan. Pada tabel dibawah ditemukan sectio caesaria dilakukan untuk
terminasi kehamilan primipara dengan PROM sebanyak 28,5% dan pada
multipara sebanyak 4,1%.

C. PROGNOSIS
Prognosis pada kasus ini adalah bonam karena tidak ditemukan adanya distress baik
pada ibu maupun janin. Terminasi kehamilan dengan sectio caesaria memberikan output yang
baik karena usia kehamilan yang cukup (aterm) dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda
infeksi baik pada ibu maupun bayi, serta tidak ditemukan komplikasi lainnya pada bayi
misalnya asfiksia.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Soewarto S. Ketuban pecah dini. Dalam: Saifuddin AB, Rachimhadhi T, Wiknjosastro


GH, penyunting. Ilmu kebidanan. Edisi ke-4. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo;2008.h.677-80.
2. Wardhani DP, Kayika IPG. Ketuban pecah dini. Dalam: Tanto C, Liwang F, Hanifanti S,
Pradipta EA, penyunting. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke-4. Jakarta: Media
Aesculapius; 2014.h.422-3.
3. Stevens H, Allen K, Thornton JG. Management of premature prelabor rupture of the
membranes. Ann N Y Acad Sci. 2010 Sep; 1205:123-9.
4. Royal College of Obstetricians and Gynaecologyst (RCOG). Preterm prelabour rupture
of membranes. Green-top guideline N0.44.London: RCOG; 2006.
5. Taylor M. Pre-labour rupture of the membranes. Dalam: Luesley DM, Baker PN,
penyunting. Obstetrics and gynaecology evidence-based text for MRCOG. Edisi ke—2.
London: Hodder Arnold; 2010.h.309-24.
6. Jazayeri A. Premature rupture of membrane. Updated December 2017. Cited from
http://www.emedicine.medscape.com, Aug 1st 2018.
7. Kovavisarach E, Sermsak P. Risk factors related to preamture rupture of membranes in
term pregnant women: a case-control study. Aust N Z J Obstet Gynaecol.2000;40(1):30-
2.
8. Singh H, Davis D. Ringer’s lactate. Updated May 9th 2018. Cited from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK500033/, Aug 1st 2018.
9. Puthucheary SD, Goldsworthy PJ. Ceftazidime and cefotaxime – the clinician’s choice.
Clin Ther. 1989 Mar-Apr; 11(2):186-204.
10. Sheehy O, Santos F, Ferreira E, Berard A. The use of metronidazole during pregnancy: a
review of evidence. Curr Drug Saf. 2015;10(2):170-9.
11. Kehl S, Weiss C, Dammer U, Baier F, Faschingbauer F, Beckmann MW, et all. Effect of
premature rupture of membranes on induction of labor: a historical cohort study.
Geburtshilfe Frauenheilkd. 2017;77(11):1174-81.

17