Anda di halaman 1dari 16

PERCOBAAN 1 PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORBSI OBAT

I. TUJUAN Mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan cara-cara pemberian obat terhadap kecepatan absorbsinya menggunakan data farmakologi sebagai tolak ukurnya.

II. DASAR TEORI Obat adalah semua zat baik kimiawi, hewani maupun nabati, yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejala-gejalanya ( anonim, 2003 ). Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan efek terapi obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jka obat beredar keseluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal adalah efek obat yang hanya bekerja setempat. Efek sistemis meliputi : Oral, pemberiannya melalui mulut. Oral mukosa, pemberian melalui mukosa di rongga mulut, ada dua macam cara, yaitu : a. b. Sublingual : obat ditaruh di bawah lidah. Bucal : obat diletakkan diantara pipi dan gusi.

Injeksi adalah pemberian obat secara parenteral atau dibawah atau menebus selaput lendir. Suntikan atau injeksi digunakan untuk memberikan efek dengan cepat. Macam-macam jenis suntikkan : a. b. c. Subkutan ( s.c ) : penyuntikkan dibawah kulit. Intramuscular ( i.m ) : penyuntikkan dilakukan kedalam otot. Intra vena ( i.a ) : penyuntikan ke dalam nadi ( dilakukan untuk membanjir suatu organ misalnya pada penderita kanker hati ). d. e. Intra cutan ( i.c ) : penyuntikan dilakukan didalam kulit. Intra pleural : penyuntikan ke dalam rongga pleura.

f. g.

Intra articuler : penyuntikan ke dalam celah celah sendi. Intra lumbal : penyuntikan dilakukan ke dalam ruas tulang belakang (sumsum tulang belakang ).

h.

Intra peritoneal : penyuntikan ke dalam ruang selaput ( rongga ) perut.

i.

Intra cardial : penyuntikan ke dalam jantung. Efek lokal dapat diperoleh dengan cara : Intraokular, intranasal, aural dengan jalan diteteskan pada mata,

hidung, telinga. Intra respiratoral, berupa gas masuk paru-paru Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukan ke dalam dubur, saluran kencing dan kemaluan wanita, obat meleleh atau larut dalam keringat badan atau larut dalam cairan badan. Farmakokinetika meneliti perjalanan obat mulai dari saat pemberiannya, bagaimana absorbsi dari usus, transport dalam darah, dan distribusinya ke tempat kerjanya dan jaringan lain. Begitu pula bagaimana perombakannya (biotransformasi) dan akhirnya ekskresinya oleh ginjal. Farmakokinetika mempelajari segala sesuatu tindakan yang dilakukan oleh tubuh terhadap obat. Farmakodinamika mempelajari kegiatan obat terhadap organisme hidup terutama cara dan mekanisme kerjanya, reaksi fisiologi, serta efek terapi yang ditimbulkannya. Farmakodinamika mencakup semua efek yang dilakukan oleh obat terhadap tubuh. Penggunaan obat umumnya diberikan secara peroral. Kerugian pemberian sediaan secara peroral antara lain : Memberi respon yang lambat dibanding per injeksi. Tidak memungkinkan diberikan pada pasien yang tidak sadar, mudah muntah dan pingsan. Namun sediaan per-oral mempunyai beberapa keuntungan antara lain, harga obat relatif murah, mudah dan nyaman dalam penggunaan, dan paling aman.

Istilah parenteral yang lain adalah injeksi. Keuntungan menggunakan rute parenteral ialah : Menghindari obat dirusak atau menjadi in-aktif dalam saluran gastrointestinal. Bila obat sedikit diabsorbsi dalam saluran gastrointestinal hingga obat tidak cukup untuk menimbulkan respon. Dikehendaki efek obat yang cepat dalam keadaan gawat. Diperoleh kadar obat yang ditentukan karena tidak ada obat atau sedikit sekali dosis obat yang berkurang secara intramuskular atau subkutan apabila secara intravena. Dapat diberikan pada pasien yang sulit menelan atau tidak suka diberi obat melalui mulut. Selain mempunyai kelebihan, sediaan parenteral juga memiliki kerugian : Efek toksisnya sulit sekali dinetralkan bila terjadi kesalahan pemberian obat. Karena dikehendaki steril maka sediaan injeksi lebih mahal dari pada obat yang diberikan melalui mulut. Absorbsi obat juga dipengaruhi oleh cara pemberian sediaan tersebut ke dalam tubuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat antara lain : a. b. c. d. e. f. Kelarutan obat. Kemampuan obat difusi melewati membran. Sirkulasi darah pada tempat absorbsi. Luas permukaan kontak obat. Bentuk sediaan obat. Rute penggunaan obat. ( Anief, 1995 )

Fenobarbital berupa hablur kecil atau serbuk, hablur putih berkilat ; tidak berbau; tidak berasa ; dapat terjadi polimorfisma. Stabil di udara ; pH larutan jenuh 5. Kelarutan fenobarbital sangat sukar larut dalam air ; larut dalam etanol, dalam eter, dan dalam larutan alkali hidroksida dan dalam alkali karbonat ; agak sukar larut dalam kloroform ( anonim, 1995 ). Fenobarbital dapat memberikan efek sedatif dan efektif untuk penggunaan kejang demam ( Batram,Katzug, 2001 ).

III.

ALAT dan BAHAN Alat : Spuit injeksi dan jarum (1-2 ml) Jarum per oral Stop watch

Bahan : Natrium phenobarbital dengan stock 1 % Alkohol 70%

IV.

PROSEDUR KERJA Bagi menjadi 5 kelompok

Masing-masing kelompok diberi 4 mencit Timbang masing-masing mencit dan hitung volume sodium phenobarbital yang diberikan

Mencit 1

Mencit 2

Mencit 3

Mencit 4

Diberikan secara peroral

Diinjeksikan secara subkutan

Diinjeksikan secara intramuskular

Diinjeksikan secara intraperitonial

Catat onset dan durasi waktu tidur

Bandingkan dengan analisa statistik oneWAY ANOVA kepercayaan 95%

Kesimpulan

V.

HASIL PERCOBAAN

Mencit 1. 2. 3. 4.

Berat ( gram ) 17,8 17,6 23,3 26,3

Dosis individu ( mg ) 2,22 2,20 2,91 3,28

Volume pemberian ( ml ) 0,22 0,22 0,29 0,33

Perhitungan dosis individu mencit : Stok sodium fenobarbital 1% ( )

Mencit 1 = = 2,22 mg

x 17,8 gram

Maka volume pemberian 0,22 ml

Mencit 2 = = 2,20 mg

x 17,6 gram

Maka volume pemberian 0,22 ml

Mencit 3 = = 2,91 mg

x 23,3 gram

Maka volume pemberian 0,29 ml

Mencit 4 = = 3,28 mg

x 26,3 gram

Maka volume pemberian 0,33 ml

Rute pemberian obat per-oral

Rep

Onset ( menit )

Durasi ( menit )

1. 2. 3. 4. 5. x

115 83 46 109 99 90.4 80 18 21 14 15 29.6 29 44 18 16 36 28,6 24 32 15 18 22,5

35 70 136 42 116 88.8 110 70 178 151 142 130,2 78 56 161 157 87 106,8 118 86 160 122 121,55

subcutan

1. 2. 3. 4. 5. x

intramuscular

1. 2. 3. 4. 5. x

intraperitonial

1. 2. 3. 4. x

VI.

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan cara-cara pemberian obat terhadap kecepatan absorbsinya menggunakan data farmakologi sebagai tolak ukurnya. Obat akan masuk melalui rute enteral dan parenteral. Proses absorbsi terjadi bila obat melintasi paling tidak satu membran sel dan kemudian absorbsi obat akan memberi gambaran kadar obat yang mencapai pada jaringan dan cairan tubuh. Untuk mencapai efek farmakologi atau efek terapi, obat harus mencapai tempat aksi dalam konsentrasi yang cukup agar dapat menimbulkan respon. Proses absorbsi dibedakan menjadi dua, yatu proses fisika dan proses aktif. Proses fisika dibedakan menjadi difusi, osmose dan filtrasi. Sedangkan proses aktif dibedakan menjadi transpor aktif, pinositosis dan fagositosis. Proses absorbsi ini melintasi membran sel. Membran sel terdiri dari tiga elemen yang kemungkinan saling berhubungan yaitu membran plasma, retikulum endoplasma, dan membran inti. Perjalanan obat melintasi ketiga tipe membran sel ini adalah sama. Sehingga kemampuan obat menembus permeabilitas membran akan mempengaruhi efek terapi yang diharapkan. Cara pemberian obat dapat mempengaruhi proses absorbsi obat, dikarenakan : - Efek pH pada absorbsi obat. Obat yang lebih mudah larut dalam lipid,akan lebih mudah melintasi sel membran dan sering memasuki jaringan dengan kecepatan yang ditentukan oleh aliran darah. Fenobarbital mempunyai pH kisaran 7,4 maka fenobarbital akan optimal diabsorbsi pada pH tersebut. - Aliran darah ke tempat absorbsi. Absorbsi paling baik di usus karena aliran darah lebih tercurah banyak ke usus daripada ke lambung. Jika pasien dalam keadaan syok, maka pemberian secara subcutan akan mengurangi absorbsi obat. - Jumlah luas permukaan absorbsi. Makin luas permukaan,maka absorbsinya makin cepat. - Waktu kontak dengan permukaan absorbsi.

Telah dibahas di atas bahwa proses absorbsi meliputi proses penetrasi ke dalam sel membran. Kecepatan penetrasi ini dipengaruhi oleh bagaimana suatu sediaan itu diberikan. Dilakukan percobaan tentang pengaruh cara pemberian terhadap kecepatan absorbsi obat. Cara pemberian yang dilakukan dalam praktikum antara lain melalui per-oral, subkutan, intramuskular, dan intraperitonial. Sebelum menginjeksikan sodium phenobarbital terlebih menghitung volume yang akan diinjeksikan pada masing-masing tikus. Dosis sodium fenobarbital setelah dikonversi untuk dosis mencit yaitu 125mg/kg BB. Maka dapat dihitung dosis individu untuk masing-masing mencit yaitu dengan mengalikan dosis konversi dengan berat masing-masing mencit. Volume yang diberikan untuk sekali penyuntikan diperoleh dengan membagi dosis individu dengan stok fenobarbital yang ada. Stok fenobarbital yang tersedia adalah 1%. Hal ini berarti bahwa dalam 100 ml larutan terdapat 1 gram sodium fenobarbital. Untuk mencit pertama dengan berat badan 17,8 gram mempunyai dosis individu 2,22 mg dan volume yang disuntikkan sebanyak 0,22 ml. Mencit kedua dengan berat 17,6 gram mempunyai dosis individu 2,20 mg dan volume yang disuntikkan sebanyak 0,22 ml. Mencit ketiga dengan berat 23,3 gram mempunyai dosis individu 2,91 mg dan volume yang disuntikkan adalah 0,29 ml. Mencit keempat dengan berat 26,3 gram mempunyai dosis individu 3,28 mg dan volume yang disuntikkan 0,33 ml. Setiap mencit diberi perlakuan berbeda cara pemberian sodium fenobarbital. Untuk mencit pertama, pemberian obat dilakukan secara peroral, sedangkan untuk mencit kedua diberikan secara subkutan. Mencit ketiga diberikan secara intramuskular dan mencit keempat secara intraperitonial. Pemberian secara per-oral merupakan cara pemberian yang umum digunakan. Namun pemberian per-oral mempunyai efek yang lebih lama dibandingkan dengan sediaan parenteral. Pemberian per-oral pada mencit dilakukan melalui mulut dengan spuit jarum oral. Spuit dimasukkan ke dalam mulut mencit sampai ke bagian dalam untuk mencegah mencit memuntahkan kembali obat yang telah diinjeksikan per-oral.

Pemberian secara subkutan yaitu pemberian di bawah kulit. Suntikan secara subkutan hanya boleh diberikan jika tidak memberikan iritasi jaringan. Absorbsinya biasanya lambat dan konstan sehingga berefek lama. Penyuntikan secara subkutan pada mencit dilakukan dengan menyuntikkan sodium fenobarbital pada tengkuk mencit. Penyuntikan secara subkutan yang benar yaitu dengan sudut penyuntikan 45 dari permukaan kulit. Penyuntikan intramuskular adalah penyuntikan yang dilakukan pada jaringan otot. Sudut penyuntikan lebih tegak yaitu 90. Respon penyuntikan secara intamuskular dipengaruhi oleh kelarutan obat dalam air. Untuk obat yang sukar larut, seperti fenobarbital akan mengendap di tempat suntikan dan absorbsinya berjalan lambat, tidak lengkap, dan tidak teratur. Penyuntikan di deltoid atau vastus lateralis memberikan absorbsi lebih cepat daripada di gluteus makimus. Pada percobaan sodium fenobarbital disuntikkan pada paha mencit. Penyuntikan secara intraperitonial merupakan penyuntikan langsung ke dalam rongga perut. Penyuntikan jenis ini sudah tidak digunakan pada manusia. Pada mencit, penyuntikan dilakukan dengan membalikbadankan tubuh mencit,lalu disuntikkan lurus mendatar ke dalam rongga perut. Penyuntikan harus dilakukan hati-hati karena dimungkinkan jarum dapat menusuk usus mencit. Setelah semua cara pemberian dilakukan maka dapat mulai dihitung onset dari sodium fenobrbital pada masing-masing perlakuan. Onset adalah waktu yang diperlukan obat untuk berefek. Makin cepat onset suatu sediaan maka semakin cepat obat memberikan efek terapi. Onset dimulai saat sediaan diberikan ke mencit hingga mencit memberikan respon tidur. Dari onset dapat dihitung durasi obat tersebut. Durasi adalah waktu lamanya obat tersebut berefek. Durasi dihitung dari mulai mencit tidur sampai mencit bangun dan aktif kembali. Hasil percobaan untuk sediaan per-oral dilakukan replikasi sebanyak 5 kali, diperoleh onset sodium fenobarbital yaitu 115 menit, 83 menit, 46 menit, 109 menit dan 99 menit. Diperoleh onset rata-rata pemberian per-oral yaitu 90,4 menit.

Dari onset diperoleh durasi sodium fenobarbital. Replikasi dilakukan 5 kali, diperoleh durasi 35 menit, 76 menit, 136 menit, 42 menit dan 161 menit. Durasi rata-rata pemberian per-oral yaitu 88,8 menit. Pemberian secara subkutan dilakukan replikasi sebanyak 5 kali, diperoleh onset sodium fenobarbital yaitu 80 menit, 18 menit, 21 menit, 14 menit dan 15 menit dengan onset rata-rata 29,6 menit. Durasi pemberian subkutan diperoleh yaitu 110 menit, 70 menit, 178 menit, 151 menit dan 142 menit. Durasi ratarata yaitu 142 menit. Pemberian secara intamuskular dilakukan replikasi sebanyak 5 kali, diperoleh onset sodium fenobarbital yaitu 29 menit, 44 menit, 18 menit, 16 menit dan 36 menit dengan onset rata-rata 28,6 menit. Durasi pemberian subkutan diperoleh yaitu 78 menit, 56 menit, 161 menit, 152 menit dan 87 menit. Durasi rata-rata yaitu 106,8 menit. Pemberian keempat dilakukan secara intraperitonial. Replikasi hanya dilakukan 4 kali karena satu data merupakan data yang tidak valid. Diperoleh hasil onset fenobarbital yaitu 24 menit, 32 menit, 15 menit dan 18 menit dengan onset rata-rata 22,5 menit. Durasi pemberian intraperitonial diperoleh yaitu 118 menit, 8 menit, 160 menit dan 122 menit dengan durasi rata-rata 121,55 menit. Dari data percobaan di atas, dapat dilihat perbandingan onset terhadap berbagai cara pemberian. Onset yang paling cepat yaitu pemberian melalui intraperitonial ( onset 22,5 menit ), secara intramuskular ( onset 28,6 menit ), secara subkutan ( onset 29,6 menit ) dan paling akhir secara peroral ( onset 90,4 menit ). Sediaan peroral mempunyai onset yang paling besar, hal ini berarti bahwa sediaan peroral memberikan respon efek sedasi paling lama dibandingkan dengan sediaan parenteral. Pengaruh cara pemberian terhadap absorbsi obat Dari data percobaan dapat diperoleh simpulan sementara bahwa urutan kecepatan absorbsi dari yang paling cepat hingga paling lambat adalah : intraperitoneal intramuscular subcutan peroral. Intraperitonial mempunyai kemampuan absorbsi paling cepat diantara cara pemberian secara parenteral yang lain namun masih dibawah pemberian

secara intravena. Hal ini dikarenakan obat akan langsung terdistribusi pada aliran darah yang ada dalam jumlah banyak pada rongga perut. Perfusi darah melalui jaringan pada rongga perut lebih cepat dibandingkan pada otot, kulit ataupun lemak. Intramuskular mempunyai kecepatan absorbsi di bawah intraperitonial namun di atas subkutan. Pemberian secara intra muskular yaitu melalui otot. Pada otot terdapat pembuluh-pembuluh darah. Ketika diinjeksikan, obat akan terpenetrasi pada aliran darah yang ada di otot. Ini yang menyebabkan injeksi secara intramuskular mempunyai onset lebih lama dibandingkan secara intraperitonial. Subkutan mempunyai onset paling besar dibanding cara pemberian parenteral yang lain. Penyuntikan dengan subkutan yaitu penyuntikan pada lapisan di bawah kulit dimana lapisan ini berisi banyak lemak. Pelepasan obat ke dalam kulit dan lemak adalah lambat dan mencapai kesetimbangan setelah beberapa jam. Letak pembuluh darah pada kulit berada pada lapisan di bawah lemak sehingga ketika obat disuntikkan secara subkutan obat akan terpenetrasi terlebih dulu pada jaringan lemak baru kemudian masuk ke dalam aliran pembuluh darah. Untuk obat-obat yang sukar larut umumnya akan lebih lama terabsorbsi pada jaringan pembuluh. Pemberian secara per-oral memberikan onset paling lama. Hal ini dikarenakan obat yang diberikan secara peroral harus mengalami proses metabolisme di dalam hati. Obat pecah di dalam lambung, menjadi zat aktif terlarut lalu dibawa ke hati untuk mengalami proses metabolisme terlebih dulu, baru diedarkan ke seluruh tubuh. Hal ini membutuhkan waktu lebih lama mencapai tempat aksi dibanding dengan sediaan parenteral yang langsung terdistribusi ke aliran darah. Kadar zat aktif dengan pemberian secara peroral juga dimungkinkan berkurang karena proses farmakokinetika yang ada di dalam tubuh. Nilai pKa phenobarbital 7,3 7,9. Mekanisme kerja phenobarbital yaitu penguatan proses inhibisi dan pengurangan transmisi eksitatorik kemungkinan yang paling besar berperan penting. Data terbaru menunjukkan bahwa phenobarbital secara selektif menekan neuro abnormal, menghambat

penyebaran, dan menekan firing ( rangsangan depolasrisasi ) dari neuron fokus. Seperti fenitoin, fenobarbital menekan high frecuency repetitif firing pada neuron yang dikultur melalui kerjanya pada konduktan natrium, tetapi hanya pada konsentrasi tinggi. Juga pada konsentrasi tinggi, barbiturat menyakat beberapa arus Ca2+ ( tipe N dan tipe L ). Phenobarbital terikat pada suatu situs pengatur alosterik pada reseptor GABA benzodiazepin, dan memperkuat arus masuk yang diprakarsai oleh reseptor GABA dengan memperlama pembukaan kanal ion Cl-. Phenobarbital juga menyekat respon eksitatorik yang diinduksi oleh glutamate, terutama yang diprakarsai oleh aktivasi reseptor AMPA. Baik penguatan inhibisi yang diprakarsai oleh GABA, maupun pengurangan eksitasi yang diprakarsai oleh glutamate adalah dilihat pada konsentrasi phenobarbital yang mempunyai relevansi terapeutik. Fenobarbital menempel pada reseptor GABA, kanal ion Cl- membuka menyebabkan ion klorida masuk ke sel. Proses ini akan menyebabkan hiperpolarisasi dan akan menimbulkan efek sedasi.

Analisis ANOVA Analisis ANOVA adalah suatu metode untuk menguraikan keragaman total data menjadi komponen-komponen yang mengukur berbagai sumber keragaman. ANOVA digunakan apabila terdapat lebih dari dua variabel. Hasil akhir analisis ANOVA digunakan sebagai penentu terhadap hipotesis yang signifikan atau tidak signifikan. Hasil ANOVA signifikan jika memberikan hasil kurang dari 0,005 atau taraf kepercayaannya 95%. Jika memberikan hasil > 0,05 maka hubungan antar data adalah tidak signifikan, namun jika hasil < 0,05 hubungan antar data adalah signifikan ( memberikan perbedaan nyata ). Onset yang diperoleh dari hasil percobaan digunakan sebagai data analisis ANOVA. Tabel yang disajikan pada analisis ANOVA berupa tabel deskriptif, tabel ANOVA, post hoc tests. Dari tabel deskriptif dapat diketahui jumlah replikasi dan rata-rata onset yang diperoleh dari masing-masing cara

pemberian. Tabel ANOVA diketahui hasil yang didapatkan 0,001 yang bermakna signifikan ( perbedaan yang nyata untuk setiap variabel ) cara pemberian baik secara intraperitonial, subkutan, intramuskular dan peroral. Hasil perbedaan yang signifikan dari tabel ANOVA, dipertegas dengan hasil post hoc tests. Dari hasil tersebut diketahui pada cara pemberian yang mana yang mampu memberikan hasil yang signifikan dalam proses absorbsi sodium fenobarbital. Analisis post hoc tests yang digunakan adalah Tukey HSD dan LSD. Dari hasil Tukey HSD, pemberian secara peroral dengan subkutan dan intramuskular memberikan hasil signifikan dengan nilai 0,002. Pemberian secara peroral dengan intraperitonial memberikan hasil signifikan dengan nilai 0,001. Pemberian secara subkutan dengan peroral memberikan hasil signifikan dengan nilai 0,002. Pemberian secara subkutan dengan intramuskular dan intraperitonial memberikan hasil yang tidak signifikan dengan nilai > 0,005. Pemberian secara intramuskular dengan peroral memberikan hasil signifikan dengan nilai 0,002. Pemberian intramuskular dengan subkutan dan intraperitonial memberikan hasil yang tidak signifikan dengan nilai > 0,005 berturut-turut 1,000 dan 0,971. Pemberian secara intraperitonial dengan peroral memberikan hasil signifikan dengan nilai 0,001. Pemberian intraperitonial dengan subkutan dan intramuskular memberikan hasil yang tidak signifikan dengan nilai > 0,005 yaitu 0,956 dan 0,971. Hasil secara LSD juga memberikan hasil yang tidak jauh berbeda dengan analisis Tukey HSD. Hasil ANOVA ini mempertegas bahwa urutan kecepatan absorbsi dari yang paling cepat hingga paling lambat adalah intraperitonial > intramuskular > subkutan > peroral.

Pemberian secara injeksi memberikan hasil yang signifikan dengan pemberian secara peroral. Namun pemberian antar injeksi ( im, ip atau sc ) memberikan hasil yang tidak begitu signifikan, hal ini disebabkan untuk pemberian secara injeksi tidak mengalami metabolisme di hati sehingga bioavaibilitasnya mendekati 100 %. Untuk intraperitonial memberikan onset lebih cepat karena pada rongga perut terdapat banyak pembuluh darah sehingga obat langsung masuk ke peredaran sistemik. Berbeda dengan secara peroral yang harus diabsorbsi masuk ke dalam saluran cerna kemudian di metabolisme di hati menyebabkan sebagian dari zat aktif berkurang sehingga mmberikan durasi yang lebih singkat dengan onset yang lebih lama dibanding pemberian secara parenteral. Sediaan parenteral memberikan onset lebih singkat dengan durasi lebih lama karena obat berdifusi pada saluran peredaran darah.

VII.

KESIMPULAN

Kesimpulan percobaan ini diperoleh hasil : Cara pemberian obat mempengaruhi kecepatan absorbsinya. Urutan kecepatan absorbsi dari yang paling cepat hingga paling lambat adalah cara pemberian dengan : intraperitoneal intramuscular subcutan peroral. Hasil ini dipertegas dengan analisis oneWAY ANOVA bahwa hasil signifikan ditunjukkan antara pemberian secara peroral dengan parenteral dan pemberian antar sediaan parenteral tidak menunjukkan hasil yang begitu signfikan. Onset menunjukkan kemampuan absorbsi masing-masing

pemberian, rata-rata pemberian per-oral yaitu 90,4 menit, durasi rata-rata yaitu 88,8 menit. Onset rata-rata pemberian subkutan yaitu 29,6 menit. Durasi rata-rata yaitu 142 menit. Onset rata-rata pemberian intramuskular yaitu 28,6 menit. Durasi rata-rata yaitu 106,8 menit. Onset rata-rata pemberian intraperitonial yaitu 22,5 menit. Durasi rata-rata yaitu 121,55 menit.

VIII. DAFTAR PUSTAKA Anief,Moh. 1995. Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan. Yogyakarta : UGM Press Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : DepKes RI Anonim. 2003. Farmakologi Jilid I. Jakarta : DepKes RI Katzug,Batram. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta. Salemba Merdeka

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

PERCOBAAN 1 PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORBSI OBAT

Di susun oleh :

Ari Desi Astuti Bujaningrum Ega Agustina Didit Prasetyoningsih Bunga Tri Novika

10247 FA 10252 FA 10256 FA 08166 F

AKADEMI FARMASI NASIONAL SURAKARTA 2012