Anda di halaman 1dari 14

Nuclear Magnetic Resonance (NMR)

NMR atau RMI adalah studi struktur molekul melalui pengukuran hasil interaksi medan elektromagnetik pada daerah frekuensi radio dengan sejumlah inti yang diletakkan di dalam medan magnet eksternal yang kuat. Inti-inti ini merupakan bagian dari atom yang menyusun molekul. Suatu spektrum NMR dapat menyediakan informasi mengenai struktur molekul yang mungkin mustahil ditentukan dengan metode lain.

A. Pendahuluan
Sebelum era 1950 para ilmuwan khususnya yang berkecimpung dalam bidang kimia organik mersakan kurang puas terhadap apa yang telah dicapai dalam analisis instrumental. Kekurangpuasan mereka terutama dari segi analisis kuantitatif, penentuan struktur dan gugus hidrokarbon yang dirasa banyak memberikan informasi. Pada waktu itu dirasa perlu menambah anggota teknik spektroskopi untuk tujuan lebih banyak memberikan informasi gugus hidrokarbon dalam molekul. Dua orang ilmuwan dari USA pada tahun 1951 yaitu Felix Bloch dan Edwardo M. Purcell (dari Harvard university) menemukan bahwa inti atom terorientasi terhadap medan magnet.

Selanjutnya menurut Bloch dan Purcell setiap proton di dalam molekul yang sifat kimianya berbeda akan memberikan garis-garis resonansi orientasi magnet yang diberikan berbeda. Bertolak dari penemuan ini lahirlah metode baru sebagai anggota baru teknik soektroskopi yang diberi nama Nuclear Magnetic Resonance (NMR). Para ilmuwan di Indonesia mempopulerkan metode ini dengan nama spektrofotometer Resonansi Magnet Inti (RMI). Spektrofotometri RMI sangat penting artinya dalam analisis kualitatif, khususnya dalam

penentuan struktur molekul zat organik. Spektrum RMI akan mampu menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan inti atom yang spesifik seperti:

Gugus apa yang dihadapi? Di mana lokasinya gugus tersebut dalam molekul? Beberapa jumlah gugus tersebut dalam molekul? Siapa dan dimana gugus tetangganya? Bagaimana hubungan gugus tersebut dengan tetangganya?

Hasil spektoskopi RMI seringkali merupakan penegasan urutan gugus atau susunan atom dalam satu molekul yang menyeluruh. Nuclear Magnetic Resonance (NMR) adalah salah satu metode analisis yang paling mudah digunakan pada kimia modern. NMR digunakan untuk menentukan struktur dari komponen alami dan sintetik yang baru, kemurnian dari komponen, dan arah reaksi kimia sebagaimana hubungan komponen dalam larutan yang dapat mengalami reaksi kimia. Meskipun banyak jenis nuclei yang berbeda akan menghasilkan spektrum, nuclei hidrogen (H) secara histori adalah salah satu yang paling sering diamati. Spektrokopi NMR khususnya digunakan pada studi molekul organik karena biasanya membentuk atom hidrogen dengan jumlah yang sangat besar.

Pada spektrum hidrogen NMR menghadirkan beberapa resonansi yang menjelaskan pertama bahwa molekul yang dipelajari mengandung hidrogen. Kedua, jumlah pita dalam spektrum menunjukkan bagaimana beberapa posisi yang berbeda pada molekul dimana hidrogen melekat/menempel. Frekuensi dari beberapa resonansi utama pada spektrum NMR menunjukkan perubahan kimia. Ini sangat penting untuk menduga bagian dari spektrum NMR yang mengandung informasi tentang lingkungan masing-masing atom hidrogen dan struktur dari

komponen yang dipelajari. Informasi ketiga bahwa sebuah spektrum NMR menentukan perbandingan luas/daerah pita yang berbeda, ini menjelaskan jumlah atom hidrogen yang relatif yang keluar pada masing-masing posisi pada molekul yang diperoleh. Struktur kompleks pita-pita dapat mengandung informasi tentang jarak yang memisahkan beberapa atom hidrogen yang melewati ikatan kovalen dan penyusun spasial atom hidrogen yang melekat pada molekul, termasuk struktur dasarnya. Struktur dasar menunjukkan pembungkusan atau penggabungan molekul yang memiliki ikatan yang panjang, seperti struktur spiral DNA. Struktur kompleks pita NMR pada mulanya spin coupling diantara beberapa atom hidrogen. Penggabungan ini merupakan perputaran fungsi jarak melintasi ikatan dan geometri molekul. Dalam kasus molekul kecil, pita yang kompleks mungkin disimulasikan tepat dengan perhitungan mekanika kuantum atau didekati menggunakan mekanika kuantum yang sesuai dengan aturan.

B. ISI
Sesuai dengan namanya, NMR berhubungan dengan sifat magnet dari inti atom. Spektroskopi NMR pada dasarnya merupakan spektroskopi absorbsi, apabila UV mengabsorbsi energi pada panjang gelombang UV-VIS sehingga terjadi transisi elektron, IR adanya transisi vibrasional, maka dalam NMR, sampel pada kondisi tertentu akan mengabsorbsi radiasi elektromagnetik daerah radio, pada frekuensi frekuensi yang tergantung sifat sifat sampel. Jadi pada sampel yang diberi radiasi elektromangetik daerah radio tersebutlah yang akan muncul berbagai frekuensi puncak absorbsi yang apabila di plot versus intensitas puncak akan memberikan suatu spektrum NMR. dengan catatan sampel pada kondisi tertentu. 1) Pengertian NMR Spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonance) merupakan salah satu jenis spektroskopi frekuensi radio yang didasarkan pada medan magnet yang berasal dari spin inti atom yang bermuatan listrik. Spektroskopi NMR adalah salah satu cabang dari spektroskopi absorbsi yang menggunakan radiasi frekuensi gelombang radio untuk menginduksi terjadinya transisi antara dua tingkat energi spin suatu inti yang mempunyai momen magnetik inti bukan nol. Spektroskopi NMR adalah teknik penelitian yang memanfaatkan sifat magnetik inti atom tertentu untuk menentukan sifat fisik dan kimia dari atom atau molekul di mana mereka yang terkandung. Hal ini bergantung pada fenomena resonansi magnetik nuklir dan dapat memberikan informasi rinci tentang struktur, dinamika, negara reaksi, dan lingkungan kimia dari molekul. 2) Prinsip Banyak inti (atau lebih tepat, inti dengan paling tidak jumlah proton atau neutronnya ganjil) dapat dianggap sebagai magnet kecil. Inti seperti proton (1H atau H-1) dan inti karbon-

13 (13C atau C-13, kelimpahan alaminya sekitar 1%). Karbon -12 (12C), yang dijadikan standar penentuan massa, tidak bersifat magnet. Bila sampel yang mengandung 1H atau 13C atau bahkan semua senyawa organik, ditempatkan dalam medan magnet, akan timbul interaksi antara medan magnet luar dengan magnet kecil (inti). Karena adanya interaksi ini, magnet kecil akan terbagi atas dua tingkat energi, yaitu: tingkat yang sedikit agak lebih stabil (+) dan keadaan yang kurang stabil (-) yang energinya berbeda. Karena dunia inti adalah dunia mikroskopik, energi yang berkaitan dengan inti ini terkuantisasi, artinya tidak kontinyu. Perbedaan energi antara dua keadaan diberikan oleh persamaan sebagai berikut: E = hH/2

Keterangan: H : Kuat medan magnet luar (yakni magnet spektrometer) h : Tetapan Planck : Tetapn khas bagi jenis inti tertentu, disebut dengan rasio giromagnetik dan untuk proton nilainya 2,6752 x 108 kg-1 s A (A= amper) Bila sampel disinari dengan gelombang elektromagnetik yang berkaitan dengan perbedaan energi E, yakni: E = h inti dalam keadaan (+) mengabsorbsi energi ini dan tereksitasi ke tingkat energi (-). Proses mengeksitasi inti dalam medan magnetik akan mengabsorbsi energi (resonansi) disebut nuclear magnetic resonance (NMR). Frekuensi gelombang elektromagnetik yang diabsorbsi diungkapkan sebagai fungsi H. = H/2 Bila kekuatan medan magnet luar, yakni magnet spektrometer, adalah 2,3490 T (tesla, 1 T = 23490 Gauss), yang diamati sekitar 1 x 108 Hz = 100 MHz. Nilai frekuensi ini di daerah gelombang mikro. Secara prinsip, frekuensi gelombang elektromagnetik yang diserap ditentukan oleh kekuatan magnet dan jenis inti yang diamati. Namun, perubahan kecil dalam frekuensi diinduksi oleh perbedaan lingkungan kimia tempat inti tersebut berada. Perubahan ini disebut pergeseran kimia.

Prinsip kerja spektroskopi NMR Metode spektroskopi jenis ini didasarkan pada penyerapan energi oleh partikel yang sedang berputar di dalam medan magnet yang kuat. Pada umumnya metode ini berguna sekali untuk mengidentifikasi struktur senyawa / rumus bangun molekul senyawa organik.. Jumlah dan tempat proton dalam molekul senyawa organik menentukan bentuk spektrum yang dihasilkan. Energi yang dipakai dalam pengukuran dengan metode ini berada pada daerah gelombang radio 75-0,5 m atau pada frekuensi 4-600 MHz, yang bergantung pada jenis inti yang diukurnya, NMR bermacam-macam ragamnya, misalnya NMR 1H, 13C, 19F. Inti yang dapat diukur dengan NMR yaitu : a. Bentuk bulat b. Berputar c. Bilangan kuantum spin = d. Jumlah proton dan netron ganjil, contoh : 1H, 19F, 31P, 11B, 13C. Instrumen NMR terdiri atas komponen-komponen utama berikut: a). Magnet b). Generator medan magnet untuk sweeping c). Sumber frekuensi radio d). Detektor sinyal e). Perekaman f). Tempat sampel dan kelengkapannya

Gambar alat NMR

Cara kerja dari masing-masing komponen peralatannya: Magnit: akurasi dan kualitas suatu alat NMR yang tergantung pada kekuatan magnitnya. Resolusi akan bertambah dengan kenaikkan kekuatan medannnya, bila medan magnitnya homogen elektromagnit dan kumpaaran superkonduktor (selenoids). Magnit permanen mempunyai kuat medan 7046-14002 G, ini sesuai dengan frekuensi oskilator antara 30-60 MHz. Termostat yang baik diperlukan karena magnit bersifat peka terhadap temperatur. Elektromagnit memerlukan sistem pendingin, elektromagnit yang banyak di pasaran mempunyai frekuensi 60, 90 dan 100 MHz untuk proton. NMR bersolusi tinggi dan bermagnit superkonduktor dengan frekuensi proton beresolusi tinggi dan bermagnit superkonduktor dengan frekuensi proton 470 MHz. Pengaruh fluktuasi medan dapat diatasi dengan sistem pengunci frekuensi, dapat berupa tipe pengunci eksternal atau internal. Pada tipe eksternal wadah senyawa pembanding dengan senyawa sampel berada pada tempat terpisah, sedang pada tipe internal senyawa pembanding larut bersama-sama sampel. Senyawa pembanding biasanya tetrametilsilan (TMS). Generator Medan magnet penyapu : suatu pasangan kumparan terletak sejajar terhadap permukaan magnet, digunakan untuk mengubah medan magnit pada suatu range yang sempit. Dengan memvariasikan arus searah melalui kumparan ini, medan efektif dapat diubah-ubah dengan perbedaan sekitar 10-3 gauss. Perubahan medan ini disinkronisasikan secara linier dengan perubahan waktu. 46 Untuk alat 60 MHz (proton), range sapuannya adalah 235 10-3 gauss. Untuk F19, C13, diperlukan sapuan frekuensi sebesar 10 KHz. Sumber frekuensi radio : sinyal frekuensi oskilasi radio (transmiter) disalurkan pada sepasang kumparan yang possinya 90 terhadap jalar dan magnit. Suatu oskilator yang tetap sebesar 60, 90 atau 100 MHz digunakan dalam NMR beresolusi tinggi. Detektor sinyal : sinyal frekuensi radio yang dihasilkan oleh inti yang beresolusi dideteksi dengan kumparan yang mengitari sampel dan tegak lurus terhadap sumber. Sinyal listrik yang dihasilkan lemah dan biasanya dikuatkan dulu sebelum dicatat. Rekorder: pencatat sinyal NMR disinkronisasikan dengan sapuan medan, rekorder mengendalikan laju sapuan spektrum. Luas puncak dapat digunakan untuk menentukan jumlah relatif inti yang mengabsorpsi. Tempat sampel dan probe: tempat sampel merupakan tabung gelas berdiameter 5mm dan dapat diisi cairan sampai 0,4 ml. Probe sampel terdiri atas tempat kedudukan sampel, sumber frekuensi penyapu dan kumparan detector dengna sel pembanding. Detector dan kumparan penerima diorientasikan pada 90. Probe sampel menggelilingi tabung sampel pada ratusan rpm dengan sumbu longitudinal. Untuk NMR beresolusi tinggi, sampel tidak boleh terlalu kental. Biasanya digunakan konsentrasi larutan 2-15%. Pelarut yang baik unutk NMR sebaiknya tidak mengandung proton seperti CS2, CCl4 . Pelarut pelarut berdeuterium juga sering digunakan seperti CDCl3 atau C6D6.

3) Pergeseran Kimia Pergeseran kimia adalah pemisahan frekuensi resonansi suatu inti dari frekuensi resonansi suatu standar, biasanya TMS (Tetra Metil Silan) (CH3)4Si.

Pergeseran kimia memiliki simbol , yang dinyatakan sebagai bagian tiap juta (ppm) dari frekuensi radio yang digunakan. TMS dipilih sebagai standar karena beberapa alasan, diantaranya:

TMS mempunyai 12 atom hidrogen yang semuanya memiliki lingkungan kimia yang sama. Mereka terikat oleh atom yang sama dengan cara yang sama sehingga tidak hanya menghasilkan puncak tunggal tetapi juga puncak yang kuat karena adanya banyak atom hidrogen. Hidrogen pada senyawa ini lebih terlindungi dibandingkan pada senyawa lain karena adanya elektron-elektron ikatan C-H. Ini artinya inti hidrogen lebih terlindungi dari medan magnet luar, dan untuk membawa hidrogen ini kembali ke kondisi resonansinya, medan magnetnya harus ditingkatkan Dalam spektroskopi 1H NMR, pergeseran kimia diungkapkan sebagai nilai relatif terhadap frekuensi absorpsi Tetra Metil Silan standar (CH3)4Si. Pergeseran kimia tiga jenis proton dalam etanol CH3CH2OH adalah sekitar 105.25 dan 490 Hz bila direkam dengan spektrometer dengan magnet 2 1140 T (90 MHz) (Gambar 1(a)). Karena frekuensi absorpsi proton adalah 0,9 x 108Hz (90 MHz), pergeseran kimia yang terlibat hanya bervariasi sangat kecil.

Gambar 1. 1H spektra NMR etanol CH3CH2OH (a) spektrum resolusi rendah, (b) resolusi tinggi. Garis bertangga adalah integral intensitas absorpsi. Frekuensi resonansi (frekuensi absorpsi) proton (atau inti lain) sebanding dengan kekuatan magnet spektrometer. Perbandingan data spektrum akan sulit jika spektrum yang didapat dengan magnet berbeda kekuatannya. Untuk mencegah hal ini, skala yang tidak bergantung pada kekuatan medan magnet, dikenalkan. Nilai didefinisikan sebagai berikut: = (/) x 106 (ppm) perbedaan frekuensi resonansi (dalam Hz) inti yang diselidiki dari frekuensi standar Tetra Metil Silan dan frekuensi (dalam Hz) proton ditentukan oleh spektrometer yang sama. Kita harus sadar bahwa Hz yang muncul dipembilang dan penyebut persamaan di atas dan oleh karena itu saling meniadakan. Karena nilai / tersebut kecil, maka nilainya dikalikan dengan 106. Jadi nilai diungkapkan dalam satuan ppm. Untuk sebagian besar senyawa, nilai proton dalam rentang 0-10 ppm. Nilai tiga puncak etanol pada gambar 1 adalah 1,15, 3,6 dan 5,4. Penemuan pergeseran kimia memberikan berbagai kemajuan dalam kimia. Sejak itu spektroskopi NMR telah menjadi alat yang paling efektif untuk menentukan struktur semua jenis senyawa. Pergeseran kimia dapat dianggap sebagai ciri bagian tertentu struktur. Misalnya, pergeseran kimia proton dalam gugus metil sekitar 1 ppm ataupun struktur bagian lainnya. Untuk lebih lanjut, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, dalam hal spektra 1H NMR, intensitas signal terintegrasi sebanding dengan jumlah inti yang relevan dengan signalnya. Hal ini akan sangat membantu dalam penentuan struktur senyawa organik. Tergantung pada lingkungan kimia lokal, proton yang berbeda dalam molekul beresonansi pada frekuensi yang sedikit berbeda. Karena kedua hal ini pergeseran frekuensi dan frekuensi resonansi dasar secara langsung proporsional dengan kekuatan medan

magnet, pergeseran ini dikonversi menjadi nilai bidang independen berdimensi yang dikenal sebagai pergeseran kimia. Pergeseran kimia dilaporkan sebagai ukuran relatif dari beberapa frekuensi resonansi referensi. (Untuk, inti 1H 13C, dan 29Si, TMS (Tetra Metil Silan) umumnya digunakan sebagai referensi.) Perbedaan antara frekuensi sinyal dan frekuensi referensi dibagi oleh frekuensi dari sinyal referensi untuk memberikan pergeseran kimia . Pergeseran frekuensi sangat kecil dibandingkan dengan frekuensi NMR mendasar. Sebuah pergeseran frekuensi mungkin khas 100 Hz, dibandingkan dengan frekuensi fundamental NMR 100 MHz, sehingga pergeseran kimia umumnya dinyatakan dalam bagian per juta (ppm) [1]. Untuk mendeteksi perbedaan frekuensi kecil seperti medan magnet yang diterapkan harus konstan seluruh volume sampel. Resolusi tinggi spektrometer NMR menggunakan shims untuk menyesuaikan homogenitas medan magnet untuk bagian per miliar (ppb) dalam volume dari beberapa sentimeter kubik. Contoh pergeseran kimia: spektrum NMR menunjukkan puncak hexaborane B6H10 bergeser dalam frekuensi, yang memberikan petunjuk dengan struktur molekul. Dengan memahami lingkungan kimia yang berbeda, pergeseran kimia dapat digunakan untuk mendapatkan beberapa informasi tentang struktur molekul dalam sampel. Konversi dari data mentah untuk informasi ini disebut menetapkan spektrum. Misalnya, untuk spektrum 1H-NMR untuk etanol (CH3CH2OH), orang akan berharap tiga sinyal tertentu pada tiga shift kimia tertentu: satu untuk kelompok CH3, satu untuk kelompok CH2 dan satu untuk gugus OH. Sebuah kelompok CH3 khas memiliki pergeseran sekitar 1 ppm, sebuah CH2 dilampirkan ke OH memiliki pergeseran sekitar 4 ppm dan OH memiliki pergeseran sekitar 23 ppm tergantung pada pelarut yang digunakan. Contoh pelarut untuk spektroskopi RMI: Pelarut yang digunakan tidak boleh mengandung atom hidrogen, karena adanya atom hidrogen pada pelarut akan mengganggu puncak-puncak spektrum. Ada dua cara untuk mencegah gangguan oleh pelarut. Anda dapat menggunakan pelarut seperti tetraklorometana, CCl4, yang tidak mengandung hidrogen, atau anda dapat menggunakan pelarut yang atom-atom hidrogennya telah diganti dengan isotopnya, deuterium, sebagai contoh CDCl3 sebagai ganti CHCl3. Semua spektrum RMI pada bagian ini menggunakan CDCl3 sebagai pelarut. Atom-atom deuterium mempunyai sifat-sifat magnetik yang sedikit berbeda dari hidrogen, sehingga mereka akan menghasilkan puncak pada area spektrum yang berbeda. 4) Kopling Spin-spin Tingkat energi inti atau magnet-magnet sangat kecil yakni proton, terbelah menjadi keadaan berenergi tinggi dan rendah. Selain itu, tingkat-tingkat energi ini membelah lebih lanjut karena interaksi dengan inti tetangganya. Pembelahan ini sangat kecil tetapi akan memiliki akibat yang penting. Pada Pembelahan ini hanya tergantung pada interaksi inti-inti. Bila spektrum 1H NMR etanol diukur dengan kondisi lebih baik, signal CH3- dan CH2tebelah menjadi multiplet (Gambar 1(b). Pembelahan ini karena adanya kopling spin-spin antar proton. Spektra yang menunjukkan pembelahan kopling spin-spin ini disebut spektra

resolusi tinggi. Sedang spektra yang tidak menunjukkan pembelahan ini disebut spektra resolusi rendah. Beberapa informasi yang paling berguna untuk penentuan struktur dalam spektrum NMR satu dimensi berasal dari kopling J-kopling atau skalar (kasus khusus kopling spin-spin) antara inti NMR aktif. Kopling ini muncul dari interaksi spin negara yang berbeda melalui ikatan kimia dari molekul dan hasil pemisahan signal NMR. Kopling ini memberikan wawasan yang rinci ke dalam konektivitas atom dalam molekul. Kopling untuk setara n (spin ) inti membagi signal ke dalam multiplet n +1 dengan rasio intensitas berikut segitiga Pascal. Kopling untuk berputar tambahan akan menyebabkan belahannya lebih lanjut dari masing-masing komponen, misalnya multiplet kopling spin yang berbeda untuk dua inti dengan konstanta kopling secara signifikan berbeda akan menyebabkan doublet dari doublet. Perhatikan bahwa kopling antara inti yang secara kimiawi sama yaitu, memiliki pergeseran kimia yang sama tidak memiliki efek spektrum NMR dan kopling antara inti yang jauh, biasanya lebih dari 3 obligasi terpisah untuk proton dalam molekul fleksibel, biasanya terlalu kecil menyebabkan belahannya diamati. Long-range kopling selama lebih dari tiga obligasi sering dapat diamati dalam siklik dan senyawa aromatik, yang mengarah ke pola membelah lebih kompleks. Misalnya, dalam spektrum proton untuk etanol, kelompok CH3 dibagi menjadi triplet dengan rasio intensitas 01:02:01 oleh dua proton CH2 tetangga. Demikian pula, CH2 dibagi menjadi kuartet dengan rasio intensitas 1:3:3:1 oleh tiga tetangga CH3 proton. Pada prinsipnya, dua proton CH2 juga akan dibagi lagi menjadi doublet untuk membentuk doublet dari kuartet oleh proton hidroksil, tetapi pertukaran antarmolekul proton hidroksil asam sering menghasilkan hilangnya informasi kopling. Kopling dikombinasikan dengan pergeseran kimia dan integrasi untuk proton memberitahu kita tidak hanya tentang lingkungan kimia inti, tetapi juga jumlah inti NMR tetangga aktif dalam molekul. Dalam spektrum yang lebih kompleks dengan beberapa puncak di pergeseran kimia yang sama atau dalam spektrum inti selain hidrogen.

Contoh Gambar Spektrum NMR

KIMIA ANALITIK LANJUT

Nuclear Magnetic Resonance (NMR)

Oleh :

Zefania N. Mamahit 09 302 347 Ilmu Kimia Semester VI

Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNIVERSITAS NEGERI MANADO 2012

DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, Ralph J., and Joan S. Fessenden. 2010. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa Aksara, Tangerang

Sumber dari Internet : http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/struktur-material/spektroskopi-nmr/ http://www2.chemistry.msu.edu/faculty/reusch/VirtTxtJml/Spectrpy/nmr/nmr1.htm http://teaching.shu.ac.uk/hwb/chemistry/tutorials/molspec/nmr1.htm http://www.chemguide.co.uk/analysis/nmrmenu.html http://ebenbohr.wordpress.com/38-resonansi-magnetik/ http://itheng.blogspot.com/2011/09/nuclear-magnetic-resonance-nmr_20.html http://www.scribd.com/doc/73537042/Modul-Kuliah-Fakultas-Farmasi-Universitas-Sanata-DharmaYogyakarta-Spektroskopi-Uv-Vis-Spektro-Fluorometri-Nmr-Ms-Dan-Elusidasi-Struktur#download http://chicamayonnaise.blogspot.com/2010/03/spektrometer-resonansi-magnetik-inti.html http://wanibesak.wordpress.com/2011/07/12/pinsip-dasar-spektroskopi-nmr/ http://www.babehedi.com/2012/02/magnetic-resonance-imaging-mri-apa-arti.html http://belajarkimia11.blogspot.com/2012/01/spektroskopi-resonansi-magnet-inti-rmi.html http://berburudengangema.blogspot.com/2012/01/spektroskopi-nuklear-magnetic-resonance.html http://www.scribd.com/doc/57577962/46032623-SPEKTROSKOPI-NMR diakses pada Sabtu, 7 April 2012