Anda di halaman 1dari 6

MINYAK ATSIRI SEBAGAI SUPLEMEN DAN ALTERNATIF ANTIBIOTIK

(( Minyak esensial telah digunakan manusia sejak zaman purbakala, baik untuk meningkatkan cita rasa makanan maupun sebagai obat tradisional akibat antibakteri, antioksidatif, dan fungisida yang dihasilkannya. ))

Ditemukannya resistensi mikroba dan residu pada produk ternak akibat penggunaan antibiotik telah mengilhami pencarian produk alternatif pengganti antibiotika. Demikian Maria Ulfah Dosen Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang seraya melanjutkan, resistensi mikroba dapat ditransfer dari ternak ke tubuh manusia, melalui kontak langsung manusia dengan ternak maupun secara tidak langsung melalui konsumsi produk hewani (termasuk hewan laut) dan bahan-bahan makanan yang diawetkan dengan antibiotika. Menurut Maria Ulfah, di dalam tubuh manusia, bakteri akan berkoloni dan dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan, bahkan dapat menimbulkan kematian. Minyak esensial disebut juga minyak atsiri (essential oils) atau minyak yang menguap (volatile oils) yang terbentuk di dalam retikulum endoplasma sel tanaman dan diperoleh dengan penyulingan dengan uap atau ekstraksi bagian buah, bunga, kayu, akar, daun, dan biji tanaman. Umumnya minyak esensial dianalisa dengan gas-chromatography. Dituturkan, minyak esensial merupakan campuran kompleks dari komponen aktif yang berbeda yang masing-masing mempunyai ciri khas sendiri, misalnya, rasa pedas (pungent taste) dan berbau wangi sesuai dengan tanaman penghasilnya. Spesies tanaman yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae yang pada umumnya tumbuh di daerah tropis, diketahui sebagai penghasil minyak esensial. Minyak esensial telah digunakan manusia sejak zaman purbakala, baik untuk meningkatkan cita rasa makanan maupun sebagai obat tradisional akibat antibakteri, antioksidatif, dan fungisida yang dihasilkannya. Saat ini minyak esensial secara luas telah digunakan di dunia kecantikan dan untuk tujuan medis. Teh hijau dapat mengurangi berat badan, mengatasi kolesterol, kanker, mutasi sel, bakteri, memperlancar peredaran darah, mengurangi kadar gula, dan memperbaiki fungsi lever. Allicin dari bawang putih dapat menurunkan kolesterol, tekanan darah dan antitrombosit. Clary sage, Geranium, Lavender, dan bunga mawar dapat mengatasi gejala menopause. Minyak esensial dari Spike lavender (Lavandula latifolia), California lemon (Citrus limonum), Tea tree (Melaleuca alternifolia),

Helichrysum (Helichrysum italicum) dan Oregano (Origanum vulgare) telah sukses digunakan dalam terapi AIDS dan HIV.

Minyak esensial sebagai "feed additive" Sesuatu yang baik untuk manusia tidak akan berakibat buruk jika diberikan pada hewan ternak. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak menggunakan minyak esensial pada hewan ternak. Pada ternak, pentingnya penggunaan komponen aktif minyak esensial, baru diketahui dan diteliti beberapa tahun terakhir ini. Terlalu banyak waktu dikonsentrasikan pada antibiotik untuk meningkatkan penampilan ternak. Saat ini minyak esensial lebih dari hanya sekadar alternatif pengganti antibiotika. Mereka tidak hanya mempengaruhi populasi mikroba, tetapi pada saat yang sama berpengaruh positif terhadap aktivitas enzim pencernaan dan intermediate metabolisme. Produksi ternak tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan penampilan ternak, tetapi juga nutrisi dan kesehatan ternak dan manusia. Saat ini minyak esensial menjadi populer dalam dunia pertanian dan peternakan sebagai pemacu metabolisme dan pencernaan (digestion and metabolism promoters). Minyak esensial dapat digunakan sebagai pakan tambahan (feed additive) di setiap jenis ransum ternak tanpa merubah sistem pemakanan yang digunakan pada suatu peternakan, baik peternakan tradisional maupun industri peternakan besar. Kombinasi beberapa jenis minyak esensial meningkatkan keefektifan kerja minyak tersebut (bekerja secara sinergis). Walaupun diberikan dalam dosis rendah (g/ton pakan basal), mereka menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda, baik segi fisiologi ternak maupun sosial ekonomi. Minyak esensial secara luas telah digunakan di negara-negara maju dan sebagian negara berkembang, terutama di negara-negara di mana terdapat undang-undang yang melarang penggunaan antibiotik tertentu, misalnya, larangan penggunaan avoparcin pertama kali di Denmark pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 di Jerman. Kemudian pada tahun 1997, avoparcin dilarang sama sekali penggunaannya di Eropa. Antibiotik seperti streptogramin, virginiamycin, tylosin dan Zn-bacitracin juga diketahui sebagai antibiotik, yang menimbulkan masalah kesehatan manusia dan dilarang penggunaannya.

Cara kerja minyak esensial Karena bau dan rasa yang dihasilkannya, konsumsi per oral minyak esensial yang dicampurkan dalam pakan basal ternak menstimulasi sistem saraf pusat, yang akhirnya menghasilkan peningkatan nafsu makan dan konsumsi zat-zat makanan. Keberadaan minyak esensial menstimulasi produksi cairan

pencernaan yang menghasilkan pH yang sesuai untuk enzim pencernaan, seperti peptinase. Pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan aktivitas enzim pencernaan dan pengaturan aktivitas mikroba. Kestabilan mikroflora di dalam saluran pencernaan menurunkan kasus diare dan penyakit pencernaan lain. Pengaruh nyata dari mekanisme ini adalah perbaikan konversi energi dan pencernaan zat-zat makanan dan pengaruh positif terhadap metabolisme nitrogen, asam amino, dan glukosa. Aplikasi lapang campuran minyak esensial dari Oregano (Oreganum vulgare), Cinnanom (Cinnamon annum), Thyme (Thymus vulgaris) dan Eucalyptus pada ayam pedaging di daerah Jawa Timur, telah terbukti memperbaiki konversi pakan, meningkatkan pertambahan berat badan, menurunkan angka kematian, dan meningkatkan keuntungan usaha peternakan. Pengaruh positif penggunaan minyak esensial juga terlihat di negara Eropa, Ameriak Serikat, dan sebagian negara Asia seperti Thailand, Israel, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan India baik pada ayam pedaging, ayam petelur, babi, maupun ternak ruminansia. Kemampuan minyak esensial untuk menstimulasi sistem saraf pusat mengakibatkan ternak lebih toleran terhadap stres (meningkatkan kekebalan), baik stres akibat pemisahan dengan induknya (terutama pada babi) maupun stres akibat kondisi lingkungan. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa minyak esensial dari berbagai macam tanaman mempunyai antimicroba dan antifungisida yang dapat menghambat dan membunuh bakteri, virus, dan jamur, maupun bakteri patogen lain di dalam saluran pencernaan. Zat aktif carvacrol dan thymol dari oregano dan thyme dapat menurunkan kejadian Proline proliferative enteropathy (PE) pada babi yang disebabkan Lawsonia intracellulari dan coccidiosis pada ayam. Kedua jenis penyakit ini dikenal di seluruh dunia sebagai penyebab kerugian ekonomi. Ekstrak teh hijau tidak hanya dapat memperbaiki kondisi mikroflora dalam saluran pencernaan manusia, tetapi juga menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen pada sapi, babi, dan ayam. Minyak esensial dari kayu manis, cengkeh, pala, bawang putih, rosemary, teh, adas, jinten hitam, blackberry, peppermint, kemiri, bunga turi, dan daun salam juga diketahui dapat menurunkan kejadian diare pada babi dan ayam dan menurunkan angka kematian pada ayam. Lebih lanjut oregano meningkatkan warna kulit telur ayam dan memperbaiki kondisi kotoran ayam (kotoran tidak basah). Aplikasi thymol dan carvacrol dapat menghentikan fermentasi pada kotoran ternak, menghambat pembentukan rantai pendek lemak terbang, dan menurunkan bau kotoran. Analisa laboratorium menunjukkan, tidak ada residu yang tersisa akibat penggunaan minyak esensial dan terjadi peningkatan kualitas karkas. Dari segi ekonomi, minyak esensial dapat menurunkan biaya produksi peternakan dan diyakini dapat menstimulasi penurunan harga daging, sehingga lebih banyak masyarakat miskin di Indonesia yang mampu membeli dan dapat mengonsumsi daging. Dan tanpa

adanya pengaruh politik tertentu, peningkatan konsumsi protein dapat menurunkan kasus malnutrition. Konsep produksi ternak tanpa menggunakan antibiotik adalah hal yang baru dan dapat diterapkan di negara tropis, seperti Indonesia, meskipun pada kondisi stres lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan penyakit. Penggunaan minyak esensial di Indonesia menjadi penting artinya dalam peningkatan kualitas produk asal ternak yang semakin dituntut untuk bisa bersaing dengan produk dari luar. Apalagi, persyaratan negara-negara pengimpor produk asal ternak semakin ketat, seperti bebas dari berbagai penyakit dan persyaratan standar residu antibiotik. Akhirnya peneliti dari Universitas Brawijaya Malang itu mengungkapkan, hal tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya perusahaan peternakan dan juga industri pakan ternak dalam penyediaan bahan pakan yang berkualitas, aman dikonsumsi, dan tidak menimbulkan dampak negatif lain terhadap manusia. Maka, mari terus meneliti dan membandingkan dengan bantuan ahlinya, soal minyak atsiri dan fungsi sebagai antibiotik ini. Tak ada salahnya mencoba dan berusaha.

01 September 2010 Ekstrak Tumbuhan Pengganti Antibiotik Pakan


Minyak esensial dari ekstrak tumbuhan (phytogenic) mampu meningkatkan performa unggas. Penggunaan antibiotik pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promoters AGP) telah menjadi bagian integral dari industri pakan unggas selama lebih dari 50 tahun. Faktanya pemakaian AGP secara terus-menerus dapat menyebabkan resistensi (kekebalan) pada beberapa strain (jenis) bakteri pathogen (bakteri yang merugikan). Ujung-ujungya berpotensi merusak simbiosis mikroba dengan saluran pencernaan unggas. Oleh karena itu, pencarian produk alternatif alami yang ekonomis untuk mengganti AGP terus dilakukan. Salah satu kandidat produk alternatif tersebut adalah phytogenic. Menurut Technical Sales Manager PT Biomin Indonesia, Yatie Setiarsih, phytogenic adalah feed additive (pakan imbuhan) yang berasal dari tumbuhan dan digunakan untuk memperbaiki asupan pakan, serta mencapai performa ternak yang lebih baik. Lebih lanjut ia menjelaskan, phytogenic mengandung ekstrak tumbuhan dan rempah-rempah yang berupa minyak esensial. Berbagai tumbuhan yang digunakan adalah jahe, jinten, oregano, thyme, rosemary, dan bawang putih. Dari semua jenis tumbuhan itu, oregano adalah yang paling banyak digunakan, papar Yatie. Kepada TROBOS baru-baru ini di Jakarta. Pemakaian phytogenic biasanya dicampur pada pakan. Masih kata Yatie, minyak esensial (murni) yang terkandung dalam phytogenic bersifat volatil (mudah menguap). Minyak esensial tersebut harus diproteksi agar tingkat evaporasinya dapat ditekan. Teknologi yang digunakan untuk memproteksi minyak esensial tersebut adalah microencapsulation (mikroenkapsulasi), ungkapnya. Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Marco Aurelio dari Biomin Austria, mikroenkapsulasi merupakan suatu teknologi pembungkusan substansi cair, gas, dan padatan dengan menggunakan kapsul milimetrik yang kecil. Pada phytogenic, teknologi ini digunakan untuk menghindari rusaknya minyak esensial

selama proses pembuatan pellet dan ekstrusi (pembuatan pakan dengan temperatur tinggi) dari pengolahan pakan juga selama penyimpanan. Manfaat Phytogenic Dijelaskan oleh Yatie, berbagai penelitian phytogenic pada unggas baik di tingkat farm (kandang ternak) penelitian dan kandang komersial yang telah dilakukan di Malaysia dan Thailand menunjukkan bahwa phytogenic dapat memperbaiki konversi pakan sehingga performa unggas pun menjadi lebih baik. Mekanismenya adalah minyak esensial yang terkandung dalam phytogenic menekan tingkat pertumbuhan bakteri pathogen dan meningkatkan mikroflora yang menguntungkan sehingga kesehatan usus unggas lebih baik. Pada akhirnya akan meningkatkan performa unggas, jelas Yatie. Selain itu, menurut Yatie, phytogenic juga dapat mengurangi bau ekskreta (kotoran/feses) unggas di kandang. Hal ini karena minyak esensial yang terkandung dalam phytogenic menstimulasi produksi pepsin sehingga pencernaan protein jauh lebih efisien. Bila pencernaan protein efisien, maka kandungan ammonia dalam ekskreta akan berkurang. Alhasil bau pun akan berkurang, ia menjelaskan mekanismenya. Dalam artikel yang ditulis oleh Marco Aurelio dari Biomin Austria, phytogenic juga mengandung bahan-bahan yang bersifat aromatik sehingga dapat mempengaruhi karakteristik sensori dari pakan unggas. Alhasil, bahan-bahan yang bersifat aromatik tersebut berdampak langsung pada palatabilitas (kemampuan merasa) dan asupan pakan. Selain itu, pada phytogenic yang terbuat dari ekstrak bawang putih memiliki pengaruh positif pada saluran pencernaan unggas. Ini karena ekstrak tersebut mengandung bahan aktif yaitu allicin dan allylisothiocyanate yang dapat meningkatkan produksi asam lambung dan saliva (ludah) dan melepas enzim pencernaan tertentu. Berdasarkan penelitian Mc Reynolds pada 2009, phytogenic dapat digunakan untuk mengontrol penyakit necrotic enteritis pada unggas. Dari penelitiannya, ayam yang pakannya disuplementasi dengan phytogenic lalu diuji tantang dengan bakteri Clostridium perfringens menunjukkan bahwa suplementasi phytogenic membuat saluran pencernaan ayam lebih resisten terhadap bakteri pathogen tersebut. Faktanya, Phytogenic mampu meningkatkan kinerja mikroflora usus dan penyerapan nutrisi. Selain itu, phytogenic juga terbukti dapat mengurangi jumlah bakteri pathogen tersebut, menurunkan skor lesi (luka) saluran pencernaan, serta menurunkan tingkat kematian ayam uji yang terinfeksi. Begitu pula halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sudipto Haldar di India, dimuat dalam majalah Asian Poultry pada Juni 2009, terkait pengaruh phytogenic terhadap jumlah bakteri pathogen. Dalam penelitiannya, Sudipto membandingkan phytogenic dengan AGP yaitu Bacitracin Methylene Disalicylate (BMD) 10%. Broiler (ayam pedaging) komersial sebanyak 400 ekor dengan rataan bobot badan sebesar 44 gram dipelihara selama 39 hari. Lalu pakan yang merupakan perlakuan penelitian ada 3 macam yaitu, pertama, pakan tanpa penambahan AGP dan phytogenic sebagai kontrol. Kedua, pakan yang dicampur dengan AGP (250 gram per ton) dan terakhir pakan yang dicampur dengan phytogenic (150 gram per ton). Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi September 2010

http://www.trobos.com/show_article.php?rid=29&aid=2426
Phytogenic atau Phytobiotik adalah imbuhan pakan yang berasal dari produk turunan tanaman yang digunakan dalam pakan ternak yang bertujuan untuk meningkatkan performa dari ternak tersebut (Windisch et al., 2008). Zat aktif yang berasal dari tanaman obat pada umumnya ditemukan dalam bentuk metabolit sekunder. Satu tanaman obat biasanya menghasilkan lebih dari satu jenis metabolit sekunder (phytoalexins, asam organik, minyak atsiri dan antioksidan)

sehingga dalam satu tanaman obat memungkinkan untuk memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Kombinasi beberapa jenis bahan aktif menunjukan efektifitas kerja yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan bahan aktif tunggal (Ulfah, 2006). Efek farmakologi yang dimiliki masing-masing komponen senyawa kimia dapat saling mendukung satu sama lain (sinergis) untuk mencapai efektifitas pengobatan tetapi juga dapat berlawanan (kontradiksi). Dalam formulasi ramuan untuk tujuan tertentu harus dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan kontra indikasi bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap efek yang dikehendaki. Suatu formulasi ramuan seharusnya terdiri dari 1) komponen utama sebagai unsur pokok dalam tujuan pengobatan, 2) unsur pendukung, 3) unsur yang membantu menguatkan efek, dan 4) unsur pelengkap atau penyeimbang dalam formulasi (Ulfah, 2006).

Beberapa tumbuhan herbal yang telah diuji terbukti dapat memperbaiki kualitas dari ternak yang dibudidayakan. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan herbal sebagai supplement pakan yaitu kualitas dari herbal yang digunakan (umur, waktu panen, penanganan pasca panen), cara ekstraksi yang digunakan, efektivitas bahan aktif dan zat antinutrisi yang terdapat dalam bahan herbal tersebut.

Ulfah, M. 2006. Potensi Tumbuhan Obat Sebagai Fitobiotik Multi Fungsi Untuk Meningkatkan Penampilan dan Kesehatan Satwa di Penangkaran. Med. Kons. 11: 109-114. Windisch, W., Schedle, K., Plitzner C. & Kroismayr, A. 2008. Use of phytogenic products as feed additives for swine and poultry. J. Anim. Sci. 86:E140-E148.