Anda di halaman 1dari 46

Hukum Perjanjian

M. HAWIN Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

CONTRACT LAW
Contract is a legally binding and legally enforceable agreement Understanding contracts is fundamental to understanding the whole business law because without agreements which are legally binding and enforceable there could almost be no business. (Paul Latimer, Australian Business Law, 2001 at 250)

Perjanjian dan Perikatan


Perjanjian (kontrak) melahirkan perikatan. Perikatan juga bisa lahir karena undang undang/peraturan.

Pengaturan

Diatur dalam Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerd)

Syarat sahnya perjanjian


1. 2. 3. 4. Kesepakatan para pihak; Kecakapan para pihak; Objek tertentu; Sebab/kausa yang halal.

1. Kesepakatan (Consent)
Para pihak harus bersepakat terhadap isi perjanjian. Kesepakatan harus bebas dari paksaan, kekeliruan, dan penipuan. Perjanjian yang timbul dari kesepakatan yang dipengaruhi oleh paksaan, kekeliruan dan penipuan dapat dibatalkan (voidable).

Paksaan: setiap intimidasi mental. Misalnya: ancaman kekerasan fisik. Paksaan tidak termasuk setiap tindakan yang dibenarkan oleh hukum, misalnya: tuntutan ke pengadilan

Kekeliruan (Mistakes): 1. Kekeliruan identitas objek perjanjian. 2. Kekeliruan identitas orang dengan siapa perjanjian dibuat.

Penipuan: suatu tindakan yang terangterangan sebelum dibuatnya perjanjian dengan tujuan untuk mengelabuhi pihak lain dan mendorong pihak tersebut untuk menyetujui perjanjian yang sebenarnya dia tidak mau. Kelalaian bukan penipuan. Misal: lalai untuk memberitahukan cacat tersembunyi.

2. Kecakapan (Capacity)
Para pihak harus cakap secara hukum untuk membuat perjanjian. Orang-orang yang dianggap tidak cakap membuat perjanjian adalah: 1. Orang dibawah umur (dia bawah umur 21 tahun), sekarang dibawah 17 tahun; 2. Orang-orang di bawah pengampuan. Perjanjian yang dibuar orang-orang tersebut dapat dibatalkan (voidable).

Pasal 108 KUHPerd: seorang wanita yang bersuami dianggap tidak cakap untuk membuat perjanjian.. Namun, Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 , 15 September 1963 menganggap bahwa Pasal 108 tidak berlaku lagi.

3. Objek Pasti (tertentu)


Misalnya : 1. Barang yang diperjual belikan. 2. Pengiriman barang tersebut. Objek perjanjian harus pasti, artinya tertentu atau dapat ditentukan. Perjanjian yang objeknya tidak pasti adalah batal demi hukum (void)

Objek perjanjian bisa sesuatu yang sudah ada atau yang akan ada. Perjanjian untuk menjual potret walaupun belum dicetak boleh. Perjanjian yang mustahil untuk dilaksanakan adalah batal demi hukum (void).

4. Kausa yang halal (Lawful Purpose)


Perjanjian yang kausanya tidak halal, yakni yang bertentangan dengan moral, atau ketertiban umum (public policy) adalah batal demi hukum. Misalnya: Yani Haryanto v. MAN Sugar Ltd. Kontrak jual beli gula antara Yani dan Man adalah batal demi hukum karena kontrak tersebut bertentangan dengan Peraturan Pemerintah yang memberikan monopoli impor gula kepada BULOG.

Terjadinya Perjanjian
Kapan perjanjian terbentuk? Ketika keinginan para pihak bertemu. Dkl: Ketika terjadi kesepakatan. Yakni: ketika penawaran (offer) yang sah diterima (disetujui) oleh yang menerima tawaran.. The receipt rule: suatu perjanjian terbentuk ketika penerimaan (acceptance) terhadap suatu penawaran (offer) sampai ke pemberi tawaran (offeror).

Apakah iklan di koran merupakan suatu penawaran?

Bentuk perjanjian
Pada dasarnya, tidak ada syarat formal (misalnya harus tertulis atau didaftarkan). Jadi, bisa lisan atau tertulis. Namun, perjanjian-perjanjian tertentu harus tertulis, misalnya Akta Pendirian Perseroan Terbatas (PT).

Pelaksanaan perjanjian
Asas pacta sun servanda : semua perjanjian yang dibuat secara sah mengikat seperti undang-undang kepada para pihak. Perjanjianperjanjian tersebut hanya dapat dibatalkan dengan kesepakatan para pihak atau karena alasan yang dibenarkan oleh hukum (Pasal 1338 KUHPerd). Para pihak harus mematuhi asas kelayakan (reasonableness), kebiasaan dan undangundang (Pasal 1339 KUHPerd).

Kebiasaan v. Undang-Undang
a. Undang-undang menang. Misalnya: Dalam perjanjian sewa menyewa: biasanya pemberi sewa mengambil uang sewa di tempat penyewa. Namun, apabila terjadi sengketa mengenai tempat pembayaran, Pasal 1393 KUHPerd (pembayaran harus di tempat kreditur) akan berlaku. b. Kebiasaan menang. Misalnya: Pasal 1460 KUHPerd: seorang pembeli menanggung risiko mulai saat perjanjian jual beli terbentuk. Namun, dalam perjanjian jual beli binatang ternak, kebiasaannya adalah penjual menanggung kerugian sampai waktu penyerahan dilakukan. Kebiasaan yang menang.

Pelaksanaan Perjanjian
The good faith principle The reasonableness and justice principle.

Perjanjian untuk kepentingan pihak ketiga


Pasal 1317: dimungkinkan untuk membuat perjanjian untuk kepentingan pihak ketiga. Pihak ketiga memperoleh hak-hak atau dapat terikat kepada kewajiban-kewajiban menurut perjanjian tersebut. Misalnya: Reksa Dana KIK.

Wanprestasi (Default)
Apabila pihak yang mempunyai kewajiban menurut perjanjian tidak melaksanakannya, menundanya atau melaksanakannya dengan cara yang bertentangan dgn isi perjanjian, dia dapat menjadi wanprestasi. Sebelum menjadi wanprestasi, pihak yang lain harus memberikan peringatan: - peringatan dari pengadilan atau - pernyataan tertulis atau - peringatan lisan.

Pihak yang wanprestasi bertanggung jawab untuk memberi ganti rugi atau cara penyelesaian lainnya kepada pihak yang lain.

Penyelesaian akibat wanprestasi


Perbuatan tertentu Ganti rugi: - uang kompensasi, ganti untuk pengeluaran-pengeluaran, kerugian dan bunga dan keuntungan yang hilang.

Pembatasan ganti rugi


Ganti rugi hanya untuk kerugian-kerugian yang bisa diduga sebelumnya (foreseeable) ketika perjanjian terbentuk (Pasal 1247) Hanya untuk kerugian yang merupakan akibat langsung dari pelanggaran perjanjian (Pasal 1248). Bunga keterlambatan atau non pembayaran tidak boleh melebihi 6 % pertahun (Pasal 1250).

Beralihnya risiko (Assignment of Risk)


Pasal 1460: risiko perjanjian jual beli untuk barang tertentu harus ditanggung oleh pembeli sejak saat perjanjian dibuat walaupun barang tersebut belum diserahkan kepada pembeli.. Penafsiran pengadilan: Barang artinya sesuatu yang secara khusus ditetapkan oleh pembeli.. Pasal 1460 hanya berlaku untuk barang-barang yang rusak sebelum penyerahan. Pasal 1460 sudah dicabut oleh Surat Edaran MA no.3 tahun 1963.

INTERNATIONAL SALES TRANSACTIONS


Contracts for the international sale of goods Kontrak Asuransi Kontrak Letter of Credit Kontrak Pengangkutan (Transportation /shipping contracts), dsb.

CONTRACTS FOR THE INTERNATIONAL SALE OF GOODS


Hukum yang mengatur: 1. Internasional: Convention on the International Sale of Goods 1980 (CISG). 2. Nasional: - Buku III of KUHPerd; - KUHD.

Perdagangan Jasa
Hukum yang mengatur: 1. Internasional: The General Agreement on Trade in Services (GATS) 2. Nasional: Misal: -Peraturan Perbankan; - Peraturan Pasar Modal; - Peraturan Asuransi; dll.

CISG berlaku bagi:


1. Perjanjian jual beli barang antara Pihak A dan B yang tempat bisnisnya merupakan Contracting States dari CISG. CISG berlaku secara otomatis kecuali jika A dan B menyatakan secara tegas tidak memberlakukannya. Bagaimana kalau hanya salah satu yang merupakan Contracting State CISG? Perjanjian jual beli barang antara pihak-pihak yang tempat bisnisnya bukan merupakan Contracting State dari CISG apabila Hukum Perdata Internasionalnya memberlakukan hukum Contracting State CISG. Beberapa negara tidak memberlakukan ketentuan ini (berdasarkan Pasal 95 CISG). Perjanjian jual beli barang antara pihak-pihak yang tempat bisnisnya bukan merupakan Contracting State dari CISG apabila para pihak memberlakukannya.

2.

3.

CISG tidak berlaku bagi perdagangan:


- Barang yang dibeli untuk keperluan pribadi, keluarga atau untuk keperluan rumah tangga, kecuali apabila penjual, pada setiap saat sebelum atau pada saat pengakhiran kontrak, tidak mengetahui atau belum mengetahui bahwa barang tersebut dibeli untuk setiap keperluan tersebut; - Melalui lelang; - Atas dasar eksekusi atau dengan cara lain berdasarkan wewenang hukum; - Saham, efek, surat-surat berharga atau uang; - Kapal, hovercraft atau pesawat terbang; - Tenaga listrik. (Pasal 2 of CISG)

Kontrak perdagangan barang dibedakan dengan kontrak jasa


Pasal 3 CISG: (1) Kontrak untuk penyediaan barang yang akan dibuat atau diproduksi dianggap sebagai penjualan kecuali apabila pihak yang memesan barang tersebut mengupayakan bagian penting dari bahan-bahan yang diperlukan untuk melaksanakan pembuatan atau produksi tersebut. (2) Konvensi ini tidak berlaku untuk kontrakkontrak di mana bagian utama dari kewajiban pihak yang menyediakan barang adalah penyedia tenaga kerja atau jasa lainnya.

Hubungan antara CISG dan Hukum Nasional


Pasal 7(2) CISG: Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang diatur dalam Konvensi ini yang tidak dengan tegas ditetapkan di dalamnya akan ditetapkan sesuai dengan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya atau, dalam hal tidak adanya prinsip-prinsip tersebut, sesuai dengan hukum yang berlaku berdasarkan peraturan-peraturan hukum perdata internasional. Misalnya: - hal yang berkaitan dengan penentuan harga barang yang dijual; - Syarat-syarat penyerahan; - Perpindahan hak milik atas barang.

CISG hanya mengatur pembuatan kontrak dan hak & kewajiban para pihak
Konvensi ini hanya mengatur pembuatan kontrak perdagangan serta hak dan kewajiban dari penjual dan pembeli yang timbul dari kontrak tersebut. Secara khusus, kecuali sebagaimana dengan tegas dinyatakan lain dalam Konvensi ini, Konvensi tidak mengatur hal-hal berikut ini: (a) keabsahan kontrak; (b) dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kontrak terhadap hak milik atas barang yang dijual. (Lihat Pasal 4 CISG)

(c). tanggung jawab penjual atas kematian atau cidera badan yang disebabkan oleh barang yang dijual. (lihat Pasal 5).

Kebebasan para pihak


Para pihak boleh mengenyampingkan berlakunya CISG dalam kontraknya. Tapi harus tegas.

Ketentuan dalam kontrak dan kebiasaan & praktek berlaku


Kebiasaan dan praktek dianggap berlaku asal diketahui oleh para pihak atau seharusnya diketahui oleh para pihak atau diketahui secara luas (internasional). Ketentuan dalam kontrak mengalahkan kebiasaan dan praktek tersebut.

Bentuk kontrak menurut CISG


Tidak harus tertulis (lihat Pasal 11 Tetapi, Kontrak tertulis yang memuat ketentuan yang mensyaratkan setiap perubahan atau pengakhiran dilakukan melalui perjanjian tertulis, tidak dapat diubah atau diakhiri melalui perjanjian yang tidak tertulis. Negara peserta pada waktu ratifikasi boleh mengenyampingkan Pasal 11.

Terbentuknya (lahirnya) Kontrak menurut CISG


- Ketika suatu tawaran (offer) diterima. - Kapan suatu offer dianggap diterima? a- ketika penerimaan (acceptance) diterima oleh orang yang memberi tawaran (offeror). Disebut the Receipt Rule. b- Apabila offeror membolehkan acceptance dengan suatu tindakan tertentu, maka kontrak dianggap lahir ketika tindakan tersebut dilakukan. - Diam/tidak bertindak tidak bisa dikatakan sebagai acceptance.

A Counter-offer
Balasan terhadap penawaran yang memuat tambahan-tambahan, batasan-batasan, atau perubahan lain adalah suatu penolakan terhadap penawaran tersebut dan merupakan kontra penawaran. Namun, balasan terhadap penawaran yang memuat ketentuanketentuan tambahan atau ketentuan-ketentuan yang berbeda yang secara materiil tidak mengubah ketentuan-ketentuan penawaran dianggap sebagai penerimaan, kecuali apabila pihak yang menawarkan, tanpa penundaan yang tidak semestinya, menyampaiakn keberatannya.

(Lihat Pasal 19 CISG).

A Counter-offer
For example:
Buyer Offer to buy Rojolele rice Rp.5,000 per kg. To be delivered on 20 Nov 2003 Seller

Buyer

The Rojolele rice is delivered on 20 Nov 2003 with Rp.5,300 per kg.

Seller

Kontroversi tentang penetapan harga di dalam suatu Offer


Terjadi karena ada dua Pasal yang nampak bertentangan, yakni Pasal 14(1) dan Pasal 55. Pasal 14(1): Proposal untuk menyepakati sebuah kontrak merupakan penawaran apabila hal tersebut cukup jelas ... Proposal dianggap cukup jelas apabila menunjukkan barang dan secara tegas atau tersirat mengatur atau membuat ketentuan untuk menentukan kuantitas dan harga.

Pasal 55: Apabila kontrak telah secara sah diakhiri tetapi tidak ditetapkan atau dibuat secara tegas atau tersirat ketentuan untuk menentukan harga, maka dalam hal tidak adanya indikasi yang berlawanan, para pihak dianggap telah secara tersirat membuat referensi harga yang secara umum dikenakan pada saat pembuatan kontrak untuk barang seperti tersebut yang dijual dalam keadaan yang dapat dibandingkan dalam perdagangan terkait.

Apa akibatnya apabila offer dalam kontrak tidak menetapkan harga?


Apakah kontraknya sah? Apakah kontraknya batal?

Ada dua pendapat


Pendapat 1 -Kontraknya berlaku (sah). -Mungkin, harga barang tidak dapat ditentukan pada waktu kontrak dibuat. -Pasal 55 memberikan suatu mekanisme untuk menetapkan harga. Pendapat 2 -Kontraknya tidak berlaku (tidak sah). -Pasal 14(1) dan Pasal 55 adalah terpisah. -Pasal 55 hanya dapat digunakan oleh negara yang menyatakan bahwa dia tidak terikat oleh Pasal 14(1).

Apakah offer bisa ditarik kembali?


Bisa, asalkan penarikan kembali tersebut sampai kepada pihak penerima tawaran (offeree) sebelum offeree mengirimkan acceptance. Tidak bisa apabila ditentukan demikian. Tidak bisa, apabila wajar bagi offeree untuk mempercayai bahwa penawaran tersebut tidak dapat ditarik kembali dan offeree telah bertindak sesuai dengan kepercayaan tersebut.

INCOTERMS
Misal: EXW (ex works) at a named point of origin (e.g., ex factory, ex mill, ex warehouse). Under this term, the price quoted applies only at the point of origin and the seller agrees to place the goods at the disposal of the buyer at the specified place on the date or within the period fixed. All other charges, including placement of the goods on the transport, are for the account of the buyer.

FOB (free on board) at a named port of export. The seller quotes the buyer a price that covers all costs up to and including delivery of goods aboard an overseas vessel.

INCOTERMS (Continued)
CFR (cost and freight) to a named overseas port of import. Under this term, the seller quotes a price for the goods that includes the cost of transportation to the named point of debarkation. The cost of insurance is left to the buyer's account. (Typically used for ocean shipments only.) CIF (cost, insurance, freight) to a named overseas port of import. Under this term, the seller quotes a price for the goods (including insurance), all transportation, and miscellaneous charges to the point of debarkation from the vessel. (Typically used for ocean shipments only.)