Anda di halaman 1dari 125

PERENCANAAN DAN TROUBLE SHOOTING

ELECTRIC SUBMERSIBLE PUMP


(ESP)

Outline

Komponen ESP
Karakteristik Kerja ESP
Desain ESP
Troubleshooting ESP
Analisa Biaya

ESP UNIT

ESP
Bisa memproduksi minyak dengan rate besar :
150 sd 60.000 bbl/d (pada 10 OD Casing)
Kedalaman bisa mencapai 15.000 ft.
Kekuatan motor paling besar dibanding pompa
manapun; Bisa mencapai 700 HP.
Offshore tepat menggunakan ESP.
Temperatur sumur bisa hingga 400 F.
Baik untuk sumur miring.

Produsen ESP
Reda (menguasai 70% pasaran dunia)
Centrilift (25% pasaran dunia)
Oil Line, ODI, Trico, Baker, dll.
Pada prinsipnya semua ESP dari berbagai
perusahaan adalah sama yang membedakan hanya
pada bentuk atau desain impeller, diffuser, gas
separator, seal section, putaran dan arah
putarannya.

Komponen ESP
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pompa.
Seal section.
Electric motor.
Kabel.
Switchboard.
Transformator.
Alat tambahan :
-

Vent box
Check valve
Bleeder valve
Tubing head
dll

a. Pompa

Impeller dan Difuser

b. Seal Section
Digunakan untuk menyamakan tekanan
dalam motor dengan tekanan
tenggelamnya pompa (submergence) di
lubang sumur.
Mencegah rusaknya dinding motor
terhadap runtuh (collapse, yang terjadi
dengan differential 20 psi).
Mencegah masuknya fluida ke motor.
Seal section terletak di antara pompa dan
motor

c. Electric Motor

d.Kabel
Kabel di desain menurut no urut seperti 1/0,2/0,
dst.
Terbuat dari tembaga (Cu) atau alumunium (Al)
Berbentuk bulat untuk dilekatkan di tubing dan
berbentuk pipih untuk di sekitar pompa dan
protector ke arah motor.
Standard tahanan Cu = 10.37 ohm dan Al = 17
Ohm (20 oC).
Kabel Al lebih murah dan tahan korosi tetapi
mudah patah dan sukar disambung lagi.

Kapasitas aliran arus maksimum :


1
2
4
6

Cu
Cu
Cu
Cu

dan
dan
dan
dan

2/0 Al maksimum 110 Ampere


1/0 Al maksimum 95 Ampere
2 Al maksimum 70 Ampere
4 Al maksimum 55 Ampere

e.Switchboard
Tersedia dengan range 440 V 2400 V.
Ditempatkan pada kotak yang tahan cuaca.
Terdiri dari : sekering (fuse), alat untuk otomatis
mematikan (overload/underload protection),
tombol sakelar atau switch, start-stop otomatis,
anti petir dan pencatat ampere (recording
ammeter)
Kadang dipasang lampu tanda bahaya, timers
untuk pompa intermittent dan alat-alat kontrol
otomatis.

f.Well Head
Kepala sumur yang harus dilengkapi
dengan Seal agar tidak bocor pada
lubang untuk kabel dan tubing.
Didesain untuk tahan terhadap
tekanan 500-3000 psi.

g.Check Valve
Dipasang 2-3 joint di atas pompa.
Untuk menahan cairan agar tidak
turun ke bawah saat pompa
dimatikan. (Jika check Valve tidak
ada maka untuk start up diperlukan
waktu tambahan 30 menit)

h.Drain Valve
Untuk mengeringkan fluida di dalam
tubing yang jatuh di anulus selama
mengangkat tubing.

i.Centralizers
Berfungsi untuk pendinginan sempurna untuk
motor
Agar kabel pada tubing tidak mudah lecet.

I.Junction Box
Digunakan untuk melepaskan gas
yang ikut meresap di kabel agar
tidak menimbulkan kebakaran di
switchboard.

j.lain-lain
Cable Guard : pelindung kabel flat di pompa
ke motor.
Swaged nipple : penyambung kepala pompa
atau drain valve ke tubing.
Service cable : kabel dari trafo ke
switchboard
Cable Guide wheel : untuk pemasangan
kabel.
Cable Reels : gulungan kabel dan
penahannya (reel support).

Karakteristik Kerja ESP

a.Dasar Kerja
Total Dynamic Head
Horse Power
Effisiensi

Total Dynamic Head (TDH)


TDH adalah total pressure yang bisa diberikan oleh
pompa ke luar pompa.
TDH dinyatakan dalam HEAD (ketinggian kolom cairan)
Faktor TDH :
Pressure Head : head yang berhubungan dengan
tekanan di suatu titik tertentu.
Elevation Head : ketinggian di atas suatu datum
(dasar) yang ditentukan.
Velocity Head : Head ekivalent saat cairan akan jatuh
pada kecepatan yang sama.

Pt

Hf

Producing
Fluid Level

Z
s

Faktor-faktor pada TDH

Z
fl
Z

Pump
Pump Inlet

Seal Section
Electric Motor
Perforasi

Pt 2.31
TDH Z fl
Hf
SG

Horse Power
Dengan mengetahui TDH dan laju produksi,
maka Hydraulic Horse Poer dapat dituliskan
sebagai berikut :
Q TDH SG
HHP
C

HHP = Hydraulic Horse Power, HP


Q
= Laju produksi, B/D atam m3/hari
TDH = Total Dynamic Head, ft atau meter
C
= 135770 kalau B/D dan Ft
= 6580 kalau m3/hari dan meter

Efisiensi
Input brake horsepower dari permukaan ke
pompa harus dikoreksi dulu dengan Efisiensi
ESP.
Efisiensi ESP = Effisiensi motor x Effisiensi
Pompa x Effisiensi kabel.
BHP

HHP
Eff.pompa x Eff.motor x Eff.kabel

Effisiensi menggambarkan terjadinya


kehilangan friksi fluida pada impeller/diffuser,
lubang masuk, pusaran (eddy current),
belokan, separasi dan kombinasinya

b.Kinerja Pompa
Head Capacity
Horsepower Curves
Grafik Efisiensi

Head Capacity

Plot grafik Head menunjukkan hubungan


TDH dengan laju produksi pada kecepatan
(rpm) konstan.
Head Caapacity pompa digunakan untuk
menghitung jumlah stage pompa terhadap
rasio TDH.
Pompa dengan head lebih curam lebih
disukai karena lebih toleran terhdap keslahan
data-data sumur (API, GOR, SG, dll)

Horsepower Curves

Menunjukkan BHP input yang diperlukan


per stage pada test pabrik.

Grafik Efisiensi
Merupakan ratio dari output HP dibagi input
braake HP.
efisiensi pompa =

Qoutput hp pompa Q TDH SG

Input Brake HP
135770.Pt

Downthrust : saat impeller menggesek ke


bawah/rpm tinggi.
Upthrust : saat gerak impeller mengesek ke
atas/rpm rendah.
Range Efisiensi terbesar terjadi saat seakanakan impeller melayang bebas.

Desain ESP
Dengan memakai contoh soal (kasus sumur vertikal)
Casing

7 inchi, 26 #, 6000 TD (ID : 6.276 inchi)

Tubing

3.5 inchi OD

Listrik

60 cycle

Perforasi

5800 5850 ft

PI

5 STB/hari/psi

Ps

1800 @5800 feet

WOR

50 %

THP

100 psi

GOR

100 SCF/STB

SG water

1.02

SG oil

0.86

BHT

160 oF

BPP

600 psi

Langkah
1) Isi data yang diperlukan (data
sumur, reservoir, dan fluida) dalam
kolom-kolom data pada Tabel 1
berikut :

2) Hitung berat jenis rata-rata dan


gradien tekanan fluida produksi
menurut:
Gradien Fluida (GF) = 0.433 SG
Bila mengandung gas, kurangi GF
sekitar 10%.

SGrata rata

1 x SG oil + 0.5 x SG water 1 x 0.86 + 0.5 x 1.02

0.913
1.5
1.5

Gradien fluida (GF) = 0.433 Sg rata-rata =


0.433 0.913 = 0.395 psi/ft
Karena terdapat gas maka GF di turunkan
sekitar 10%, sehingga harga GF menjadi =
0.35 psi/ft (kalau tidak ada gas, gunakan
gradien statik 0.395 psi di atas)

3) Tentukan kedudukan pompa (HPIP) kurang


lebih 100 ft di atas lubang perforasi teratas.
Jarak antara motor dan lubang perforasi teratas
(HS) kurang lebih 50 ft.
Perforasi terdapat pada kedalaman 5800-5850
ft maka ESP dipasang pada 5700 feet, yang
berarti jarak motor dengan perforasi 50 ft
atau jarak perforasi dengan pompa 100 ft.

4) Tentukan laju produksi diinginkan dengan cara


memilih kemudian mencoba harga Pwf untuk
menghitung harga laju total menurut
persamaan : Qtot = (Ps-Pwf) x PI
Hitung laju yang diinginkan (Qo) menurut
1
x Qtot
persamaan: Qo
1 WOR

Apabila harga tersebut belum sesuai, ulangi


memilih harga Pwf dengan trial error

Ambil Pwf = 700 psi, dengan


mempertimbangkan BPP = 600 psi dan besar
Qo yang dinginkan.
Qtot =(Ps-Pwf) PI = (1800 - 700) x 5 = 5500
bbl/d
1
1
Qo
x Qtot
3670 bbl/d
1 WOR
1 5500

Atur kembali Pwf, bila Qo yang dihasilkan


kurang sesuai dengan yang diharapkan.

5) Hitung pump intake pressure (PIP)


menurut persamaan : PIP = Pwf - GF
(HS-HPIP)
Harga PIP harus lebih besar dari BPP
(tekanan jenuh); bila tidak
terpenuhi, ulangi langkah 4 dan 5
dengan laju produksi yang lebih
rendah

Pump Intake Pressure (PIP)


PIP = Pwf - GF (HS - HPIP)
= 700 0.35 (5800 - 5700) = 665 psi.
Ternyata 665 psi lebih besar dari BPP (600 psi),
berbagai syarat terpenuhi.

6) Hitung kedalaman fluid level (Zfl) menurut


persamaan:
Z fl HS

Pwf
GF

700
Z fl 5800
3800 ft
0.35

7) Tentukan kehilangan tekanan sepanjang


tubing (Hf) dengan menggunakan
Gambar 14.

Tentukan hilang tekanan sepanjang


tubing. Dengan menggunakan
Gambar 14, pada Qtot = 5500 BPD
dan ukuran tubing = 3.5 inci dengan
kondisi tubing old, diperoleh hilang
tekanan 85 ft/1000 ft sehingga :
Hf = 85/1000 ft x panjang tubing =
85/1000 x 5700 ft= 485.5 ft

8) Hitung total dynamic head (TDH)


menurut persamaan:
THP
TDH
Z fl H f
GF

100
TDH
3800 485.5 4572 ft
0.35

9) Pilih jenis dan ukuran pompa dengan


menggunakan Gambar 4 s.d 13 (hanya
sebagian dari gambar yang tersedia dari
katalog pabrik). Ambil gambar yang dapat
memberikan efisiensi maksimum untuk laju
produksi yang ditentukan pada langkah 4.

Dalam seal ini untuk Qtot = 5500 BPD,


maka gambar yang memberikan efisiensi
maksimum adalah Gambar 4. (Tabel 2
dapat digunakan untuk memilih jenis
pompanya). Tentukan dari Gambar 4
tersebut:
Head capacity (HC) = 2950 ft untuk tiap
100 stages
Horse power motor, HPmotor = 184 HP untuk
tiap 100 stages.

10)Hitung jumlah stages (tingkat):


TDH 4572
Jumlah Stage =

154 stage
HC
2950

11)Hitung daya kuda yang diperlukan.


HP = HP motor Jumlah stages
= 184/100) 154 = 284 HP

12)Tentukan Jenis motor pada Tabel 3


yang memenuhi HP tersebut.
Misalnya type 540 series (5.43 inci
OD), maka didapat jenis motor 300
HP, 2150 Volts, 87A.

13)Untuk masing-masing jenis motor,


hitung kecepatan aliran di anulus
motor
(FV)
0.0119
xQ
FV
tot

IDcasing ODmotor
2

Jenis motor dan OD motor terkecil


yang memberikan FV > l ft/detik
adalah pasangan yang harus dipilih.

FV

ID

0.0119 x Qtot

casing

OD
2

motor

0.0119 x Q tot

6.276

5.43

6.6 ft/detik

Karena FV > 1 ft/detik maka jenis motor dan


OD tersebut yang kita pilih.

14)Baca harga arus listrik (A) dan tegangan


listrik (Vmotor) yang dibutuhkan untuk
jenis motor yang bersangkutan.

Pilih jenis kabel dari Gambar 15 sedemikian


sehingga pada arus yang dipakai (87A)
memberikan kehilangan tegangan sekitar 30
volt per 1000 ft (umumnya setengah dari
maksimum). Dalam hal ini didapat jenis kabel
# 1/0 AL dengan kehilangan tegangan 27 volt
per 1000 ft.

15)Dari harga arus listrik tersebut pilih


jenis kabel pada Gambar 15
(dianjurkan memilih jenis kabel yang
mempunyai kehilangan tegangan
dibawah atau sekitar 30 volt tiap
1000
Vkabel ft).
HS 50 V /1000 ft
Kehilangan tegangan di kabel = (5750
27/1000) = 155 volt.

16)Pilih transformator dan switch board


a. Total tegangan yang diperlukan = 2150 +
155 = 2305 volt.
total a 1.73 2305 87
b. KVA 1.73 tegangan

347
1000
1000
c. Tentukan ukuran transformator. Dengan
menggunakan Tabel 4 dipakai tranformator
dari 1/3 hasil hitungan (1/3 x 347 KVA) sekitar
150 KVA.

d. Tentukan switchboard. Dengan menggunakan


Tabel 5 dipilih RPR-2, yaitu 2400 volt, 700 HP,
360 A. Switchboard yang dipilih harus
mempunyai kapasitas lebih besar dari
kebutuhan (2306 volt, 285 HP, 87A).

17)Lakukan perhitungan total tegangan


pada waktu start sebagai berikut :
a. Kebutuhan tegangan untuk start =
0.35 voltage rating
b. Kehilangan tegangan selama start =
3 kehilangan tegangan biasa.

Lakukan perhitungan untuk membuktikan bahwa


motor dapat dihidupkan (distart) dengan
transformator, kabel, switch board yang dipilih.
Kebutuhan tegangan untuk start = 0.35
voltage rating = 0.35 2150 = 752.5 Volt.
Kehilangan tegangan selama start = 3 156
volt = 468 volt
Ternyata tegangan yang tersedia 2400 > (752 +
468). Kesimpulan semua peralatan yang telah
dipilih dapat berjalan.

Selesai

TROBLESHOUTING ESP
1. METODE API RP 11S
2. METODE GRAFIK

METODE API RP 11S


1.Lakukan pengamatan langsung kelakuan pompa
sebagai berikut:
- Teliti apakah alat masih bekerja pada besarnya
arus listrik yang didisain. (Cara yang umum
adalah dengan melihat voltmeternya).
- Amati karat pada perangkat pompa di
permukaan.
- Teliti apakah laju produksi nyata masih tercakup
dalam "range" kemampuan laju produksi pompa.

Teliti apakah alat masih bekerja pada kondisi


kerja.
Teliti apakah head discharge pompa
bervariasi tidak lebih dari 5%, serta daya
kuda bervariasi tidak lebih dari 15%.
Lakukan shut-off head, yaitu pompa
dijalankan dengan wing-valve ditutup
sebentar, kemudian amati tekanan kepala
sumur.
Teliti apakah total dynamic head (TDH) dan
laju produksi turun.

2.Dari gejala yang telah dideteksi pada


point 1 klasifikasikan dan tentukan
tindakan yang harus dilakukan.
Gejala

Tindakan

Produksi diatas
kapasitas
pompa

Teliti aras cairan dan tekanan alir dasar sumur Pwf.


Bila aras cairan cukup, perkecil jepitan agar tekanan
kepala sumur naik dan laju produksi sesuai dengan
kapasitas pompa.
Atau ganti pompa dengan ukuran yang lebih besar.

Gejala

Tindakan

Tak berproduksi atau


produksi dibawah
kapasitas pompa

Lihat tindakan seperti analisa pertama

Teliti desain TDH nya


Pertukaran kedudukan 2 kabel di switchboard agar arah
perputaran pompa benar. (Lakukan tindakan ini setelah
pompa berhenti berputar terbalik atau fluida di sumur
telah kembali stabil).
Lakukan kebocoran tubing. Apabila tubing terbukti
bocor, ganti tubing.
kadang dari tinggi atau rendahnya ampere bisa dihitung
bocornya aras fluida dan ukuran pompa (dibandingkan
desainnya)
Teliti plug bila dipakai -tool.
Teliti tekanan di pipa permukaan dan kepala sumur.
Apabila terlalu tinggi, cari dan tanggulangi
penyebabnya agar tekanan turun.

lanjutan
Bersihkan sumur.
Kotoran yang menyumbat lubang masuk pompa
kadangkadang dapat dibersihkan dengan aliran
pompa balik (berputar terbalik) yaitu apabila tidak
dipakai check valve.
Ganti, betulkan as/pompa.
Bila saja relay arus rendah dipakai hal ini dapat
menghentikan pompa karena rendahnya arus.
Tentukan arus fluida dan Pwf serta teliti tekanan
pompa (discharge pressure) dengan jalan
menutup tubing. Apabila menunjukkan turunnya
head atau kapasitas pompa, ganti pompa.
Teliti dan ganti bila bocor.
Teliti dan perbaiki.
Teliti TDH dan aras fluida, sesuaikan tekanan
kepala
sumur (rubah jepitan)

Metode Grafik
1) Rekam arus dengan amperemeter.
2) Lakukan analisa terhadap grafik
tersebut sebagai berikut:
a. Pompa berjalan normal.
Grafik rata dan simetris, harga
ampere lebih
kurang sama dengan yang tertera di
nameplate (contoh Gambar 19).

b. Fluktuasi Daya Listrik (VA)

Grafik menunjukkan seperti pada Gambar


20. Fluktuasi daya listrik dapat terjadi
karena adanya pembebanan listrik pada
pompa lain yang sedang distart. Gejala
serupa juga dapat terjadi karena adanya
petir.

c. Gas Lock
Keadaan gas lock ditandai oleh adanya harga
ampere yang rendah. Bila harga ampere
merosot hingga di bawah underload (batas
bawah harga ampere) maka pompa otomatis
berhenti. Contoh pada Gambar 21.
Titik A merupakan saat start pompa,
biasanya harga ampere naik 3-8 kali harga
ampere pada keadaan pompa berjalan
normal.

Titik B menunjukkan operasi normal.


Titik C memperlihatkan berkurangnya harga
ampere dan terjadinya fluktuasi akibat
masuknya gas ke dalam pompa.
Titik D menunjukkan kenaikan mendadak
harga ampere, ini menandakan arus cairan
masuk pompa. Selanjutnya terjadi gas lock
yang diikuti oleh turunnya harga Ampere di
E, pada saat ini tidak ada cairan yang
diproduksikan.

21

Penanggulangan Gas Lock:


Matikan pompa agak lama agar gas lock hilang.
Turunkan pompa sehingga lebih tenggelam.
Bila pompa di rat hole gunakan jaket.
Turunkan produksi dengan mengecilkan choke,
sepanjang memungkinkan.
Apabila dengan cara-cara tersebut di atas tetap tak
tertanggulangi, maka pompa harus diganti dengan yang
lebih kecil atau produksikan secara intermittent dengan
menggunakan (cycle controller) meskipun cara ini
sebenarnya dapat merusak pompa.

d. Pompa mati karena terjadi interferensi gas atau air


Grafik pada Gambar 22 menandakan keadaan
pompa mati (pump-off) dan interferensi gas atau
air terjadi berkali-kali, hal ini terdeteksi karena
adanya starter otomatis.
Pada Gambar 23, titik A adalah saat start
pompa, titik B pompa berjalan normal, titik C gas
mulai masuk pompa, dan titik D arus cairan
mendekati pompa dan selanjutnya diiringi
dengan matinya pompa karena ampere terlalu
rendah (under current shut-down).

e. False Starts
Grafik pada Gambar 24 yaitu menunjukkan
seolah-olah pump off dengan restart yang
gagal. Kejadian ini adalah sebagai akibat
panjang cycle waktu tak cukup untuk
menghasilkan arus cairan yang cukup tinggi.
Unit ini harus diganti dengan yang lebih kecil.

f. Selang-seling start dan mati.


Grafik pada Gambar 25, yaitu menunjukkan selangseling kejadian start dan mati, yang berlangsung dalam
waktu singkat. Kejadian ini adalah akibat ukuran pompa
terlalu besar atau pompa bekerja dengan TDH (head)
yang kurang besar. Cara penanggulangan adalah:
- cek TDH dengan cara menutup wing-valve sesaat.
- cek kemungkinan kebuntuan aliran di pipa atau
tertutupnya katup dipermukaan.
- hentikan pompa dan cek arus cairan.
Pompa dengan grafik ampere demikian harus segera
dihentikan karena kejadian tersebut akan sangat
merusak pompa.

g. Produksi dengan GOR tinggi.


Cara penanggulangan GOR tinggi
adalah dengan pengaturan tekanan
selubung dan penggunaan separator
gas. Grafik serupa juga dapat terjadi
karena adanya emulsi, sehingga
harga ampere biasanya menurun
sesaat. Penanggulangannya adalah
dengan penggunaan deemulsifier
(pemecah emulsi). Lihat Gambar 26.

h. Harga Ampere terlalu kecil.


Grafik pada Gambar 27, yaitu menunjukkan pompa yang
distart berkali-kali, tetapi tidak berhasil hidup. Hal ini
biasanya terjadi karena harga ampere yang diberikan
terlalu rendah, sehingga tidak cukup memberi tenaga ke
motor untuk mengangkat fluida dengan berat jenis dan
volume tertentu. Bila dari test terlihat adanya produksi,
maka penanggulangan-nya adalah dengan melakukan
penyetelan under-current (ampere rendah). Gambar 27
mungkin pula disebabkan oleh gagalnya relay ketika
menghentikan batas ampere rendah dari kontrolnya,
sewaktu pompa distart secara otomatis. Gambar 27 juga
bisa terjadi karena patahnya pompa.

i. Beban Rendah.
Grafik pada Gambar 28, yaitu menunjukkan
pompa dijalankan (distart) dengan normal tetapi
diikuti dengan penurunan harga ampere secara
bertahap, selanjutnya terjadi keadaan tanpa
beban untuk beberapa saat dan akhirnya terjadi
kerusakan pada unitnya dan pompa berhenti
karena overload (beban berlebih).

Grafik ini menandakan pompa yang salah disain


(ukurannya), atau salah melakukan penyetelan
pelindung beban rendahnya (underload
protection relay), kesalahan tersebut
mengakibatkan tertahannya fluida produksi,
sehingga motor bekerja pada keadaan tanpa
beban. Selanjutnya karena tidak ada aliran
maka tidak terjadi pendinginan motor sehingga
timbul panas dan ini menyebabkan overload
(beban berlebih) dan akhirnya motor mati.

j. Pengontrolan Pompa oleh tangki pengumpul.


Grafik pada Gambar 29, yaitu menunjukkan harga
ampere motor pompa (berhenti dan bekerjanya
pompa) dikontrol oleh arus cairan tangki pengumpul.
Gambar 29 menunjukkan tenggang waktu (delay)
antara saat pompa berhenti dan start kembali terlalu
singkat. Bila pompa tak dilengkapi check valve (katup
penahan aliran balik) yang baik, maka setiap pompa
berhenti fluida akan turun kembali sehingga pompa
akan berputar kearah sebaliknya. Menjalankan kembali
pompa yang sedang berputar terbalik mengakibatkan
kerusakan pompa. Biasanya as pompa terpuntir atau
as patah. Tenggang waktu (delay) antara saat pompa
berhenti dan start kembali adalah minimal kurang
lebih 30 menit, yaitu agar fluida dapat stabil kembali.

k. Beban berlebih
Grafik pada Gambar 30. Titik A pada
gambar adalah saat dijalankan;
biasanya menunjukkan harga ampere
yang meningkat, B adalah pada
keadaan pompa bekerja normal, C
menunjukkan kenaikan beban hingga
mencapai batas tertinggi (overload)
dan akhirnya pompa mati.

Gejala peningkatan beban yang diikuti dengan


matinya pompa tersebut disebabkan oleh hal-hal
sebagai berikut :
1.Naiknya berat jenis fluida (misalnya karena
terproduksinya lumpur atau fluida komplesi).
2.Terjadinya emulsi atau kenaikan viskositas.
3.Terjadinya problem mekanis atau listrik (misal
motor panas atau terjadi keausan alat).
4.Problem daya listrik.

l. Beban karena kotoran padat.


Grafik pada Gambar 31, yaitu mula-mula
berfluktuasi tak teratur, selanjutnya normal.
Gejala ini disebabkan terikutnya scale, pasir
atau partikel lumpur waktu sumur mulamula
diproduksikan. Walaupun hal ini umum terjadi,
sebaiknya dihindari dengan terlebih dahulu
melakukan pembersihan sumur sebelum pompa
distart. Untuk mematikan sumur sebaiknya
digunakan fluida yang ringan atau hampir sama
dengan fluida yang akan dipompa.

Dalam hal tertentu perlu pemberian tekanan


balik (menggunakan jepitan), guna menahan
naiknya harga ampere secara berlebihan. Untuk
sumur yang menjumpai problem pasir, start
harus lambat dengan laju produksi kecil (jepitan
dipermukaan diperkecil).

m. Start berulang-ulang.
Grafik pada Gambar 32, yaitu menunjukkan start
normal yang lalu mati karena beban berlebinan.
Garis-garis naik setelah itu menunjukkan usaha
menstart kembali berkalikali.
Usaha ini bisa merusak pompa. Dianjurkan
pompa di tes terlebih dahulu sebelum menstart
kembali.

m. Beban berfluktuasi tak beraturan.


Grafik pada Gambar 33 harga ampere yang
turun naik tak beraturan. Umumnya disebabkan
adanya fluktuasi pada berat jenis fluida atau
adanya variasi tekanan permukaan. Akhirannya
dapat berakibat pompa mati karena beban
berlebihan (overload). Grafik serupa bisa juga
disebabkan karena pompa tersumbat, motor
atau kabel terbakar atau sekering putus ( primer
atau sekunder).

Analisa Biaya
Ada 3 Faktor biaya utama pemasangan ESP :
Biaya Instalasi
- Tergantung biaya sistem pompa, produksi,
kedalaman, service, problem sumur, tempat
(offshore/onshore.
- Jumlah pompa yang akan dipasang.

Biaya perbaikan
- Umumnya ESP perlu diservice
setiap 450 hari
- Biaya kerusakan dapat diambil dari
statistik,
rata-ratanya sekitar 1,33
kerusakan/tahun

Biaya listrik
- Dari brake input motor sd transformator
dapat ditentukan KW input dan biayanya :
(Volt Ampere Power Faktor 1,73)
KWinput =
1000

Power faktor diambil 80% bila tidak tahu.


Misal biaya 1 KWH = Rp 200,00 maka
biaya /hari = Kw input x 200 x 24

Selesai