Anda di halaman 1dari 71

K3

LINGKUNGA
N KERJA
AFRA ANINDYTA (K3-PPNS)

LINGKUNGAN KERJA
MENURUT ILO

(international labour

organization)

Lingkungan kerja adalah faktorfaktor lingkungan yang memberikan


dampak pada kesehatan tenaga kerja

Faktor-faktor yg
mempengaruhi
kesehatan tenaga kerja
Beban
kerja
-Fisik

Lingkunga
n kerja
-Fisik

-Mental

-Kimia
-Biologi
-Ergonomi

Kapasitas
kerja
-Ketrampilan
-Kesegaran jasmani & rohani
-Status kesehatan/gizi
-Usia
-Jenis kelamin
-Ukuran tubuh

-Psikologi

ktor-Faktor Lingkungan Kerja :

akibat suatu proses

Faktor Fisika
bising, getaran, radiasi,
Penerangan kurang
baik, IKLIM KERJA

Faktor Kimia

Faktor Biologi
virus, bakteri, jamur,
parasites, insects, dll

debu, gas, uap,


asap, kabut, dll.
Faktor Ergonomi
Tenaga terlalu diporsir, berdiri
lama/berlebihan, salah gerakan, angkat
beban terlalu berat, job monotony, dll

Faktor Psikologi
Hub dg : orang, pekerjaan, dan lingk.
kerja

IKLIM KERJA
PENGERTIAN
Iklim Kerja adalah hasil perpaduan antara suhu ruang
kerja, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara dan
panas radiasi, dimana pengeluaran panas tubuh merupakan
akibat dari pekerjaanya. (Permenakertrans No.
PER.13/MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Kimia di
tempat kerja)
Pengurus / pengusaha wajib melakukan pengendalian
faktor fisika dan kimia di tempat kerja sehingga di bawah
NAB (BAB 1, PASAL 2, AYAT 2 Permenakertrans No.
PER.13/MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Kimia di
tempat kerja)
Jika melebihi NAB, maka perlu melakukan upaya untuk
menurunkan agar dibawah NAB. (Bab 1, pasal 2, ayat 2
Permenakertrans No. PER.13/MEN/X/2011 tentang NAB
Faktor Fisika dan Kimia di tempat kerja)

1. Perhitungan Beban Kerja:


jum.kalori (kkal/jam.bb.kg)x BB(kg) x lama
aktivitas(jam)
Catatan :
Kkal/jam

- Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100 - 200

- Beban kerja sedang membutuhkan kalori < 200 - 350 Kkal/jam


Kkal/jam

- Beban kerja berat membutuhkan kalori < 350 - 500

2. Perhitungan ISBB (indeks suhu bola basah) /WBGT :


Indoor :
0,7 WT + 0,3 GT
Outdoor :
0,7 WT + 0,2 GT + 0,1 DT
3. Rata-rata ISBB :
TOTAL ISBB / JUM. JAM

Sumber : Sumamur (1982) dikutip dari Sherman, H.C. Chemistry of Food and

Nutrition

NAB Iklim Kerja


Permenakertrans No. PER.13/MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika
dan Kimia di tempat kerja. Lampiran 1. (terbaru)
Kemenaker No.51/MEN/1999 tentang NAB Faktor Fisika di Tempat Kerja

Pengaturan waktu kerja


setiap jam

ISBB (0C)
Beban kerja

Waktu kerja

Waktu
istirahat

Ringan

seda
ng

berat

Kerja terus
menerus
(8 jam sehari)

30.0

26.7

25.0

75%

25%

30.6

28.0

25.9

50%

50%

31.4

29.4

27.9

25%

75%

32.2

31.1

30.0

PENGARUH IKLIM KERJA TERHADAP PEKERJA


Heat cramp
Gejala : rasa nyeri dan kejang pada kaki, tangan dan banyak
mengeluarkan keringat.
Disebabkan : ketidak seimbangan cairan dan garam selama
melakukan kerja fisik yang berat di lingkungan yang panas
Heat exhaustion
Gejalanya : keringat sangat banyak, kulit pucat, lemah, pening,
mual, pernapasan pendek dan cepat, pusing dan pingsan.
Disebabkan : berkurangnya cairan tubuh / jika jumlah air yang
dikeluarkan melebihi dari air yang diminum selama terkena
panas.
Heat stroke
Gejalanya : detak jantung cepat, suhu tubuh tinggi 40o C atau
lebih, panas, kulit kering dan tampak kebiruan atau kemerahan,
tidak ada keringat di tubuh korban, pening, menggigil, muak,
pusing, kebingungan mental dan pingsan. penyakit gangguan
panas yang mengancam nyawa, penyakit ini dapat menyebabkan
koma dan kematian.
Disebabkan : pekerjaan pada kondisi sangat panas dan lembab.

PENCEGAHAN PENYAKIT AKIBAT SUHU TINGGI


o Ventilasi ruang kerja yang memadai sesuai dengan NAB
iklim kerja yang ditetapkan
oMemasang local exhauster pada sumber panas
oMengisolasi pekerja dari sumber panas
oAklimatisasi yang cukup
oSediakan air minum yang cukup dan tablet-tablet garam
dapur pada tempat-tempat kerja yang bersuhu tinggi
oPekerja-pekerja yang mempunyai penyakit ginjal dan jantung
tidak boleh bekerja pada tempa-tempat yang bersuhu tinggi
oLakukan pemeriksaan kesehatan berkala minimal 6 bulan
sekali
oTingkatkan dan pelihara kesegaran jasmani TK
oLakukan selalu koordinasi antara bag teknik dan medis

FAKTOR FISIKA
KEBISINGAN
Kebisingan kontinyu
Kebisingan Intermiten (terputus-putus)
Kebisingan Impulsif (impact)
EFEK KEBISINGAN TERHADAP PEKERJAAN DAN
LINGKUNGAN
Gangguan komunikasi
Gangguan konsentrasi
Gangguan pada masyarakat

DAMPAK KEBISINGAN TERHADAP


KESEHATAN
Trauma Akustik
Adalah kerusakan gendang telinga secara mendadak
karena intensitas suara yang tinggi sekali

Ketulian sementara

Terjadi akibat pemeparan suara dengan intensitas yang


tinggi dalam waktu yang tidak lama
Ketulian dapat pulih kembali jika pemaparan dihentika

Ketulian Permanen
Ketulian dipengaruhi oleh beberapa faktor :
- Lamanya pemeparan
- Spektrum suara
- Kepekaan individu

- Pengaruh obat-obatan
- Status kesehatan

DAMPAK KEBISINGAN TERHADAP KESEHATAN


Gangguan Fisiologis
- Percepatan denyut jantung
- Meningkatnya ketegangan otot
Gangguan Psikologis
- Meninmbulkan rasa takut dan nervous
- Tergantung pada pengalaman masa lalu
Alat untukmengukur kebisingan bernama Sound Level Meter

PENGENDALIAN KEBISINGAN
MENURUNKAN INTENSITAS KEBISINGAN PADA
SUMBERNYA DENGAN MENEMPATKAN ALAT
PEREDAM PADA SUMBER GETARAN
MEMBERIKAN PENGHALANG / BARIER PADA JALAN
TRANSMISI DENGAN CARA MENGISOLASI MESIN
ATAU TENAGA KERJA (CONTROL ROOM), MEMASANG
MUFFLE
MERAWAT MESIN SECARA TERATUR
MENGGUNAKAN APD
MENGATUR WAKTU KERJA
MEMANTAU INTENSITAS KEBISINGAN SECARA
TERATUR
NAB KEBISINGAN MENURUT KEPMENAKER NO.
51/MEN/1999 ADALAH 85 DB(A)

PENCAHAYAAN/ PENERANGAN (PMP No. 7


Tahun 1964)
1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penglihatan adalah :


- Ukuran obyek

Derajat kontras antara obyek dan

Brightness dari lapangan penglihatan yang tergantung


pada :
- Sumber cahaya
- Daya pantul permukaan
- Lamanya melihat

sekelilingnya

PENCAHAYAAN
2. Penerangan Ruangan
Penarangan yang baik jika seorang pekerja dapat
melihat obyek dengan cepat, jelas dan teliti,
serta mampu menciptakan lingkungan yang
nyaman bagi penglihatan.
Penerangan yang buruk akan mengakibatkan :
- sakit kepala
- penurunan daya pikir dan konsentrasi
- Penglihatan menjadi kabur
- Meningkatnya angka kecelakaan

PENCAHAYAAN
Penerangan di tempat kerja dikatakan baik bila :
1. Tidak menyilaukan
2. Tidak menimbulkan panas yang berlabihan
3. Tidak menghasilkan gas
4. Tidak menimbulkan bayangan
5. Tidak berkedip-kedip
6. Pencahayaanya merata
7. Intensitasnya cukup

CARA MEMPERBAIKI KONDISI


PENERANGAN
1. Manfaatkan sinar matahari dan pantulannya

2.
3.
4.
5.
6.

Jendela dan atap transparan


Cahaya yang dipantulkan
Permukaan langit-langit, dinding dan lantai
Tata ruang dan konstruksi
Menghindari kesilauan
Kesilauan langsung
Kesilauan tidak langsung
Pilih latar belakang yang baik
Memperbaiki arah penerangan
Menghindari bayang- bayang
Pemeliharaan yang teratur

Intensitas pencahayaan yang dianjurkan


untuk sektor perkantoran
Kasifikasi /
jenis
pekerjaan

Intensitas
Kegiatan dan
cahaya yang
Sifat kegiatan dan interior interior yang
dianjurkan
mewakili
(Lux)

Intermitten /
tidak terus
menerus

80

Untuk pergerakan dan


orientasi secara visual

Ruang ganti
karyawan

Sederhana

160

Membaca dokumen dalam


waktu singkat

Ruang tunggu

240

Ruang yang ditempati terus


dimana tugas agak mudah
dilakukan dengan kontras
tinggi dan detail besar

Ruang
komputer

Agak mudah

Kasifikasi /
jenis
pekerjaan

Agak sulit

Sulit

Intensitas
cahaya
yang
dianjurkan
(Lux)

Sifat kegiatan dan


interior

Kegiatan
dan interior
yang
mewakili

400

Daerah dimana tugas


yang dihadapi agak
sulit dan kontras
rendah

Ruang
kerja rutin

600

Area dimana tugas


sulit dilaksanakan
dengan kontras
rendah

Ruang
gambar

GETARAN MEKANIS

Getaran mekanis adalah gerakan yang teratur dari suatu


mesin atau alat dengan arah bolak balik dari kedudukan
atau titik kesetimbangan

Getaran dibagi 2 macam, yaitu

1. Getaran seluruh badan (Whole Body Vibration )


2. Getaran terhadap lengan (Tool Hand Vibration)

GETARAN MEKANIS

Getaran Seluruh Badan

- Biasanya terjadi pada alat-alat angkut dan alat-alat berat


- Getaran pada mesin produksi diteruskan oleh lantai ke
seluruh badan
-

Frekuansi getaran antara 1 20 Hz, dengan percepatan


getaran antara 0,2 0,3 g dimana 1 g = 9,81 m/det2

Dampak getaran ini terhadap tubuh adalah terutama pada


mata

GETARAN MEKANIS

Pencegahan
- Isolasi sumber getaran
- Isolasi operator/pekerja
- Mengurangi waktu pemaparan
- Mesin/peralatan mekanis harus diberi peredam geteran

- Mesin harus dirawat secara teratur


- Lakukan pemeriksaan kesehatan secara

berkala

GETARAN MEKANIS

Getaran Pada Lengan

Teradapat pada alat-alat mekanis yang yang


pengoperasiannya menggunakan tangan

Frekuensi pada getaran ini biasanya di atas 20 Hz, dengan


percepatan antara 0,4 1 g

Dampak getaran pada lengan/tangan


adalah :
a. Kelainan pada peredaran darah dan syaraf
b. Kerusakan pada sendi dan tulang
c. Suhu badan turun/kedinginan

GETARAN MEKANIS

UPAYA PENCEGAHAN

lakukan pemeriksaan awal dan berkala

Peralatan harus dirawat dengan sebaik-baiknya


Pekerja harus memakai pakaian yang cukup tebal
untuk mempertahankan suhu badan
Pekerja harus memakai sarung tangan
Jangan memegang peralatan yang bergetar terlalu
erat
Sedapat mungkin alat jangan dioperasikan dengan
kecepatan penuh
Bila timbul tanda-tanda kesemutan, kaku, dan jari
tangan putih atau membiru segera dibawa ke
dokter

RADIASI TIDAK MENGION

RADIASI GELOMBANG MIKRO

Panjang gel. Mikro adalah 1 mm 300cm


Termasuk gel. Mikro adalah : gel. Radio, televisi, telepon dan
radar
Dampak radiasi gel. Mikro pada manusia :
-

Gel.mikro dengan panjang gelombang < 1 cm akan diserap oleh


kulit dan membuat kulit terbakar

Gel. mikro dengan panjang gelombang > 1 cm dapat


menembus jaringan dan merusak/mengganggu faal tubuh

Pencegahan dilakukan dengan :


menutup/mengisolir sumber radiasi
Memakai shielding atau barier yang terbuat dari timbal
menggunakan pakaian pelindung
Memperkecil waktu pemaparan

RADIASI .

Radiasi Sinar Ultra Violet

Panjang gel. Sinar ultra violet 1 nm 40 nm


Sumber : sianar matahari; las listrik,
spectrophotometer, AAS
Dampak pada manusia adalah bercak-bercak
merah pada kulit dan kerato conjungtivitis pada
mata
Pencegahan dilakukan dengan :
Menggunakan pakaian pelindung
Memakai alat pelindung muka yang tepat
Mengurangi waktu pemaparan

RADIASI ..
Radiasi Sinar Infra Merah
Panjang gel. Sinar infra merah adalah 700 nm 1 m
Sumber : benda-benda yang berpijar
Dampak terhadap kesehatan : menyebabkan katarak pada
mata
Pencegahan : gunakan kacamata yang terbuat dari cobalt
blue; lakukan pemeriksaan awal dan berkala

FAKTOR KIMIA
I. BAHAN KIMIA

1. BAHAN KIMIA ANORGANIK


a. Logam-logam berat

: Cu, Pb, Cr, Zn, Hg , dll

b. Logam alkali dan alkali tanah : Na, K, Mg, Ca,


dll
c. Oksida Logam

: CaO, MgO, Al2O3, CrO3, dll

d. Basa

: KOH, NaOH, NH4OH, dll

e. Asam

: HCN, HCl, H2SO4, HNO3, dll

f. Unsur non logam

: S, P, F, Cl, Cl 2, N2, O2, dll

g. Oksida non logam : NO, NO 2, CO, SO2, dll


h. Garam : KCN, NaCN, KNO3, dll

2. SENYAWA ORGANIK
a. HK. Jenis Alkana : metana, butana, dll.
b. HK. Aromatik
: benzene, toluene, propene,
asetilene, dll.
c. Eter : etil asetat, butil asetat, dll.
d. Keton atau Alkanon : Aseton, metil isobutil keton
(MIBK), metil etil keton (MEK), dll.
e. HK terhalogenasi : kloroform, karbon tetraklorida,
diklorometana, dll.
f. Alkohol atau alkanol
g. Aldehid : formaldehida (formalin), asetaldehide, dll.
h. Asam Karboksilat : asam asetat, asam oksalat, dll.
i. Amina : dietil amina, etil aminclorida, dll.

II. REAKSI KIMIA BERBAHAYA


1.

REAKSI ASAM BASA


2 NaOH + H2SO4
Na2SO4 + 2 H2O + panas
CaO + 2 HCl
CaCl2 + H2O + panas
2 NaOH + SO2
Na2SO3 + H2O + panas

2.

REAKSI REDOKS
H2O2 + Na2SO3

3.

Na2SO4 + panas

REAKSI KEBAKARAN/PEMBAKARAN
- Pada hakekatnya adalah reaksi redoks
- Panas yang timbul menyebabkan kebakaran atau
peledakan
- Reaksi pembakaran yang tidak sempurna akan
menghasilkan gas CO yang sangat beracun
C + O2
CO2 + panas
2 C + O2
2 CO + panas

4. REAKSI HIDROLISA

- Reaksi senyawa kimia dengan air


- Bersifat eksotermis
- Kadang mengeluarkan gas yang bersifat eksplosif
- Senyawa-senyawa yang reaktif dengan air dan
bersifat
higroskopis : asam-asam kuat pekat , basa-basa kuat
- Senyawa-senyawa yang reaktif dengan air dan
menghasilkan panas yang sangat tinggi dan
gas yang
mudah meledak : CaO, CaC2, logam
alkali (Na. K, Li)
- Reaksi dehidrolisa juga bersifat eksotermis
Contoh :
C6H12O6 (gula) + H2SO4
panas

6 C + H2SO4 (6 H2O) +

7. REAKSI POLIMERISASI

> Penggabungan molekul-molekul dari senyawa


yang sama menjadi molekul yang lebih besar
> Merupakan reaksi yang eksotermis
> Terjadi karena adanya katalisator
Contoh :
n C2H2

(C2H2)n + panas

n C3H6

(C3H5)n + panas

IV. KLASIFIKASI BAHAN KIMIA BERBAHAYA


( Kepmenaker No. 187 /Men/1999 )
1.

BAHAN BERACUN
a.

Bahan Beracun
- Melalui mulut : LD 50 (> 25 atau < 200) mg/kg brt badan
- Melalui Kulit

b.

: LD 50 (> 25 atau < 400) mg/kg brt badan

Bahan Sangat Beracun


- Melalui mulut : LD 50 25 mg/kg brt badan
- Melalui Kulit

2.

: LD 50 25 mg/kg brt badan

BAHAN MUDAH TERBAKAR


a.

Bahan mudah terbakar (flammable)


- Mudah terbakar pada suhu kamar
- Mempunyai titik nyala di bawah suhu kamar

b.

Bahan dapat terbakar (combustible)


- Dapat terbakar bila dipanaskan
- Mempunyai titik nyala di atas suhu kamar

3. BAHAN MUDAH MELEDAK


> Menghasilkan gas dalam jml yang besar dan tekanan
yang tinggi dalam reaksinya
> Sensitif terhadap panas, dan goncangan
> Sifatnya tidak stabil
> Contoh : amonium nitrat, nitro gliserin, TNT, campuran
antara oksidator dan reduktor
4.

BAHAN REAKTIF
Apabila :
a. Bereaksi dengan air, mengeluarkan panas dan gas
yang
mudah terbakar, atau
b. Bereaksi dengan asam, mengeluarkan panas dan gas
yang mudah terbakar, beracun, atau korosif
contoh : Logam alkali dan alkali tanah, CaO, CaC 2,
oksida- oksida logam dan lain-lain

5. BAHAN OKSIDATOR
Bahan kimia dikatagorikan oksidator apabila apabila
dalam reaksi kimia atau penguraiannya menghasilkan
oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran
Contoh :
H2O2

H 2 O + O2

KMnO7

KMnO4 + O2

III. EFEK BAHAN TERHADAP KESEHATAN


1. Bahan kimia berbentuk partikel (asap,
kabut, fume, awan dan debu )
Perangsang pada hidung ( sabun, bubuk beras
, dll)
Toksik ( Pb, As, Mn, dll )
Fibrosis/pneumokoniosis ( debu asbes, quartz,
silika, kapas, arang batu, dll )
Penyebab demam ( uap logam, ZnO, dll )
Dermatosis dan alergi ( debu kayu )
Inert (Al, kapur, debu )

EFEK BAHAN KIMIA


2. Bahan-bahan non partikel

Aspiksian ( N2, CO2 )


Korosif ( uap-uap dari H2SO4, HCl, HNO )
Racun (metanol, alkohol, ester, eter, aldehid,
keton, HCN, dll )
3. Bahan-bahan yang mudah menguap :
Bersifat aspiksian mis, CHCl3
Merusak alat-alat dalam tubuh, mis, CCl4
Merusak susunan darah mis, Benzen
Merusak susunan saraf mis, parathion

PENGENDALIAN ( Kepmenakertrans
187/Men/1999)
1. Pengendalian administrasi
- Dokumen pengendalian bahaya besar/menengah
- LDKB/MSDS
- AK3/AK3 Kimia dan petugas K3 Kimia
- Diklat dan pembinaan K3
- Good House Keeping

2. Pengendalian secara teknis


- Sub stitusi
- Eliminasi
- Perubahan proses
- Lokalisasi
- Local Exhauster
- APD

No.

PENETAPAN POTENSI BAHAYA INDUSTRI


I.

Potensi Bahaya Besar


Suatu industri dikatakan mempunyai bahaya besar jika kuantitas B3
> NAK

Industri dengan potensi bahaya besar wajib :


Membuat dokumen pengendalian bahaya

besar

Membuat LDKB dan Label


Mempekerjakan AK3 Kimia
Mempekerjakan Petugas K3 Kimia
- Non Shift 2 (dua) orang
- Shift 5 (lima) orang
Melaporkan setiap penggunaan/perubahan bahan
kimia , proses dan modifikasi instalasi yang digunakan
Melakiukan pemeriksaan dan pengujian faktor kimia
6
bln sekali)
Melakukan pemeriksaan dan pengujian instalasi (=< 6
sekali)

(=<
bln

II.

Potensi Bahaya Menengah


Suatu industri dikatakan mempunyai bahaya besar jika
kuantitas B3 =< NAK

Industri dengan potensi bahaya menengah wajib :


Membuat dokumen pengendalian bahaya menengah
Membuat LDKB dan Label
Mempekerjakan Petugas K3 Kimia
- Non Shift 1 (satu) orang
- Shift 3 (tiga) orang
Melaporkan setiap penggunaan/perubahan bahan
kimia , proses dan modifikasi instalasi yang digunakan
Melakiukan pemeriksaan dan pengujian faktor kimia
(=< 6 bln sekali)
Melakukan pemeriksaan dan pengujian instalasi (=< 6
bln sekali)

FAKTOR BIOLOGI
Faktor-faktor biologi penyebab PAK adalah :
Virus
Bakteri
Jamur
Cacing
Tumbuhan

Jenis industri yang banyak terjadi PAK akibat faktor


biologi adalah :
Industri pertanian
Industri perikanan
Industri peternakan

FAKTOR BIOLOGI

Pencegahan dan Pengendalian

Lakukan penyemprotan dengan pestisida pada tempattempat yang diduga banyak terdapat mikroba dan cacing
dan jamur yang merugikan kesehatan
Usahakan sanitasi lingkungan yang baik
Lakukan imunisasi dan vaksinasi baik pada manusia
maupun hewan ternak
Lakukan pemeriksaan kesehatan awal maupun berkala
Gunakan APD dengan baik dan benar

FAKTOR FISIOLOGI
Fisiologi adalah ilmu tentang faal manusia pada saat
melakukan pekerjaan atau disbut juga sebagai faal kerja
Pada saat melakukan pekerjaan terjadi koordinasi antara
indera, otak, syaraf dan otot
Ketrampilan seseorang sangat dipengaruhi oleh
kecepatan koordinasi dari, indera, otak, syaraf dan otot
Kelelahan pada otot akan menyebabkan terhambatnya
koordinasi yang berakibat pada turunya kemapuan
seseorang dalam melaksanakan pekerjaan
Otot dan tulang sebagai faktor penting dalam bekerja
perlu dijaga fleksibilitas dan posisinya agar tidak cepat
lelah dan terhindar dari rasa pegal dan nyeri

ANTROPOMETRI
Antropometri adalah ilmu yang mempelajari tentang ukuran
tubuh, baik dalam keadaan statis maupun dinamis yang
dihubungkan dengan alat-alat kerja agar diperoleh efisiensi
kerja yang setinggi-tingginya
Di dalam antropometri, yang sangat penting dalam pekerjaan
adalah sikap tubuh dalam bekerja dimana alat-alat kerja harus
disesuaikan dengan ukuran-ukuran tubuh pada saat melakukan
kerja

ANTROPOMETRI DAN SIKAP TUBUH DALAM


BEKERJA
Sikap tubuh dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh bentuk,
ukuran dan penempatan mesin, alat-alat petunjuk, dan cara-cara
pengoperasian mesin
Mesin/alat-alat kerja ukurannya harus dapat diubah-ubah
disesuaikan dengan ukuran tenaga kerja
Ukuran-ukuran antropometri terpenting sebagai dasar
penempatan/desain alat-alat kerja :
Berdiri : a. Tinggi badan berdiri
b. Tinggi bahu

Duduk : a. Tinggi duduk

b. Panj lengan atas

c. Tinggi siku c. Panj lengan bawah


d. Tinggi pinggul
e. Panjang jangkauan
f. Panjang lengan
telapak kaki

d. Jarak lekuk lutut garis punggung


e. Jarak lekuk lutut

ANTROPOMETRI
Ukuran-ukuran kerja

a. Pada pekerjaan tangan yang dilakukan berdiri, tinggi


kerja sebaiknya (5 10) cm di bawah tinggi siku
b. Apabila bekerja berdiri dg pekerjaan di atas meja dan
tinggi siku disebut O, maka dataran kerja hendaknya :
- Untuk pekerjaan memerlukan ketelitian O + (5 10) cm
- Untuk pekerjaan ringan

O - (5 10) cm

- Untuk pekerjaan berat atau mengangkat barang berat


yang memerlukan otot punggung
O (10 20) cm
Untuk sikap kerja duduk dianjurkan memilih sikap tegak
dengan diselingi istirihat sedikit membungkuk
Tempat duduk yang baik ..

Antropmetri.
Tempat duduk yang baik harus memenuhi syarat-syarat :
1. Tinggi dataran duduk dapat diatur dengan papan kaki
sesuai dengan tinggi lutut sedangkan paha dalam
keadaan datar
2. Sandaran punggung tingginya dapat diatur dan harus
menekan punggung
3. Lebar papan duduk tidak kurang dari 35 cm
Pekerjaan berdiri sebaiknya dirubah menjadi pekerjaan
duduk, bila tidak mungkin kepada pekerja diberi
kesempatan duduk
Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri 23 27

bawah

sedang untuk pekerjaan duduk 32 44 o ke bawah

ke

FAKTOR PSIKOLOGIS
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan
mental TK di tempat kerja :
1. Beban kerja
2. Jenis pekerjaan
3. Kapasitas Kerja
4. Lingkungan kerja
5. Hubungan Sosial

Pengendalian
a) Pemeriksaan kesehatan awal dan berkala
b) Peningkatan ketrampialan
c) Perbaikan lingkungan kerja
d) Peningkatan motivasi kerja

FAKTOR
FAKTORYANG
YANGMEMPENGARUHI
MEMPENGARUHI
KESEHATAN
KESEHATAN TENAGA
TENAGAKERJA
KERJA

HUBUNGAN
SOSIAL

JENIS PEKERJAAN

KAPASITAS
KAPASITAS
KERJA
KERJA: :
Keterampilan
Keterampilan
Kesegaran
Kesegaran
Jasmani
Jasmani
Gizi
Gizi
Kelamin
Kelamin
Usia
Usia
Ukuran
UkuranTubuh
Tubuh
Motivasi
Motivasi

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN
KERJA
KERJA

BEBAN
BEBAN
KERJA
KERJA
Fisik
Fisik
Mental
Mental
Sosial
Sosial

Fisik
Fisik
Kimia
Kimia
Biologi
Biologi
Fisiologi
Fisiologi
Psikologi
Psikologi

HYGIENE PERUSAHAAN
Hygiene Perusahaan adalah seni pengenalan,
penilaian dan pengendalian faktor-faktor bahaya
lingkungan kerja sehingga TK dan masyarakat
sekitar terhindar dari efek sampingan kemajuan
teknologi
Konsep Hygiene perusahaan
a. Pengenalan lingkungan
b. Penilaian lingkungan
c. Pengendalian lingkungan

Hygiene Perusahaan
A.

Pengenalan Lingkungan

Diagram alir, proses, mesin-mesin, bahanbahan,produk


Potensi bahaya
Sumber-sumber bahaya
Keluhan-keluhan
Informasi dan peraturan pemerintah

B. Penilaian Lingkungan
Monitoring/pengukuran
Membandingkan dengan standar yang ada
Hasil penilaian

HYGIENE..
C.

Pengendalian lingkungan

1. Pengendalian administrasi
-

Dokumen pengendalian bahaya besar

LDKB/MSDS

AK3/AK3 Kimia dan petugas K3 Kimia

Diklat dan pembinaan K3

Good House Keeping

2. Pengendalian secara teknis


-

Substitusi

Eliminasi

Perubahan proses

Lokalisasi

Local Exhauster

APD

PENGENDALIAN BAHAYA BESAR


Tujuan : mencegah dan meminimalisir akibat
kecelakaan besar
Kecelakaan Besar

Kecelakaan akibat kekuatan alam


Kecelakaan karena ulah manusia
Kecelakaan industri
Akibat kecelakaan
Meninggal dunia, cedera, trauma
Kerusakan hebat instalasi dan bangunan
Reaksi masyarakat
Konsekuensi serius terhadap perusahaan dan
karyawan/pekerja
Kerusakan lingkungan

dari

PENGENDALIAN BAHAYA.

Faktor-faktor spesifik penyebab kec. besar

1. Poor management
2. Tekanan target produksi
3. SMK3 yang tidak jalan
4. Komonikasi yang tidak jalan
5. Laporan yang tidak lengkap
6. Pengabaian ensiden
7. Inadequate Training
8. Lack of competency
9. Jam kerja yang terlalu panjang
10. Kesealahan prosedur
11. Kurang perawatan

PENGENDALIAN BAHAYA

Sistem Pengendalian Bahaya Besar

Komitmen dan tanggung jawab manajemen


Penetapan potensi bahaya
Pelaporan potensi bahaya kepada pihak yang berwenang
Unit sentral pengawasan bahaya besar
Pengawas pabrik yang terlatih
Syarat-syarat perundangan
- Kepmenaker No. 187/Men/1999
- Permenaker No. 05/Men/1996

Nilai Ambang Kuantitas


Penentu : Tingkat bahaya & Jumlah Bahan
Keputusan Menteri : No.Kep.187/Men/1999-Pasal14

No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Jenis Bahan
Bahan Kimia Beracun
Bahan Kimia Sangat Beracun
Bahan Kimia Reaktif
Bahan Kimia Mudah Meledak
Bahan Kimia Oksidator
Bahan Kimia Cairan Mudah Terbakar
Bahan Kimia Sangat Mudah Terbakar
Bahan Gas Mudah Terbakar

Contoh : Peledakan LPG (Mexico City)

NAK
10 ton
5 ton
50 ton
10 ton
10 ton
200 ton
100 ton
50 ton

PENGENDALIAN BAHAYA
Kecelakaan besar dapat dicegah dan diminimalisir
dengan :
- Desain proses yang benar
- Desain tata letak perusahaan yang tepat
- Desain instalasi yang benar
- Desain konstruksi bangunan yang benar
- Perawatan yang kontinu
- Manajemen yang baik

RENCANA TANGGAP DARURAT

Tujuan : mengatasi resiko yang masih ada


setelah semua tindakan pencegahan

dilakukan

Rencana Darurat Didalam Perusahaan

1. Peringatan kepada yang bersangkutan


2. Tindakan yang harus dilakukan
-

Mengatasi kebocoran gas beracun, pemadaman api,


tumpahan bahan kimia beracun

Mencegah bagian lain terlibat keadaan darurat

Melakukan evakuasi

RENCANA TANGGAP

Rencana Darurat Diluar Perusahaan

1. Menghubungi instansi terkait


2. Menghubungi RS terdekat
3. Memberitahu perusahaan lain dan masyarakat sekitar
perusahaan
4. Memberikan informasi kepada regu penolong dari luar

K3 RUANG TERBATAS

TUJUAN

Untuk menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja yg


bekerja dalam ruang terbatas dari bahaya yg ada/timbul
Untuk meyakinkan bahwa semua peralatan perlindungan
keselamatan dan keadaan darurat disediakan secara baik
dan benar
Untuk melakukan pengendalian yang benar terhadap
kemungkinan terjadinya kecelakaan

K3 RUANG ..
RUANG LINGKUP
Semua kegiatan pada ruang terbatas untuk
kegiatan membersihkan, memelihara, memperbaiki,
menguji dll.
Ruang terbatas adalah suatu ruang atau area kerja
yang memiliki jalan masuk dan keluar yang terbatas,
ventilasi dan ruangan yang terbatas, dan tidak
dirancang untuk tempat kerja yang kontinyu dan
rutin
Termasuk ruang terbatas adalah :
Tangki, saluran pipa, menara destilasi, boiler, bak
penampung, silo, gua pertambangan, dll.

K3 RUANG.

PROSEDUR KERJA

1. Dilakukan oleh pemelik area kerja (pemberi ijin kerja)

Melakukan identifikasi sumber bahaya

Mengisolasi ruang terbatas dengan memasang Lock dan


Tag
Melakukan pengetesan konsentrasi gas dan uap bahan
kimia yang toksik, bahan mudah meledak, dan kadar
oksigen
Melakukan pembersihan bahan kimia cair, uap dan gas

K3 RUANG..
2. Dilakukan oleh Ahli K3
Mempersiapkan/menyediakan APD, peralatan untuk
keadaan darurat, petugas dan peralatan P3K
Mempersiapkan peralatan komunikasi
3. Dilakukan oleh pekerja
Bersama-sama dengan pemilik area kerja memasang
Lock dan Tag untuk mengisolasi ruang terbatas
Mempersiapkan dan memakai APD yang dibutuhkan
Mempersiapkan peralatan kerja
Mempersiapkan alat komunikasi
Melakukan pengetesan aliran yang telah diputus dan
dipasang Lock dan Tag

K3 RUANG ..
4. Mengisi Formulir Kerja
Pengisian formulir ijin kerja dilakukan bersamasama oleh pemilik area kerja dan pekerja
Pengisian formulir pada hari yang sama sebelum
pekerjaan dimulai
Jika kondisi ruang terbatas berubah, maka
formulir ijian kerja harus dibatalkan

5. Tanda Tangan Formulir Ijin Kerja


Formulir ijin kerja harus ditanda tangani oleh
pemilik area kerja dan pekerja
Ahli K3 harus melakukan klarifikasi isi formulir ijin
kerja sebelum menandatangani formulir jin kerja

K3 RUANG
6. Pekerjaan dalam Ruang Terbatas
Sebaiknya dilakukan oleh minimal oleh 2 orang
pekerja bersama-sama
Ahli K3 harus selalu berada di area kerja ruang
terbatas dan harus selalu dapat melihat dan
memonitor pekerja yang berada dalam ruang
terbatas
Ahli K3 harus selalu memonitor kondisi ruang
terbatas
Jika kondisi ruang terbatas tidak sesuai dengan
formulir ijin kerja maka Ahli K3 harus segera
menghentikan pekerjaan
Jika terjadi keadaan darurat maka Ahli K3 harus
mencari bantuan sebelum pertolongan diberikan
Peringatan : Pekerjaan dalam ruang terbatas tidak
bisa dimulai jika Ahli K3 tidak ada

K3 RUANG ..
7. Pekerjaan Ruang Terbatas Selesai, maka :

Pekerja melapor kepada pemelik area kerja

Pekerja dan pemilik area kerja secara bersama-sama


memeriksa dan mengetes pekerjaan tersebut

Pekerja dan pemilik area kerja secara bersama-sama


melepas Lock dan Tag yang terpasang

Pekerja dan pemilik area kerja secara bersama-sama


menutup formulir ijin kerja dengan membubuhkan
tanda tangan

K3 RUANG

PELATIHAN

Pekerja dan Ahli K3 harus mempunyai


sertifikat pelatihan pekerjaan pada ruang
terbatas
Ahli K3 harus mendapatkan pelatihan P3K
pada kecelakaan ruang terbatas dan
mendapatkan peletihan ulangan (refreshing)
secara berkala
Pekerja, pemilik area kerja dan Ahli K3 harus
menguasai dan paham tentang ijin kerja dan
pengisian formulir ijin kerja ruang terbatas

SEKIAN