Anda di halaman 1dari 147

PEMERIKSAAN TELINGA

Dr. Steward Mengko, Sp.THT-KL

BAGIAN/ SMF THT-KL


FK UNSRAT BLU RSU Prof. Dr. R D Kandou Manado
KETRAMPILAN MEDIK PEMERIKSAAN THT

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah melakukan latihan pemeriksaan THT mahasiswa
diharapkan mampu melakukan pemeriksaan Telinga
Hidung dan Tenggorok secara benar.

PEMERIKSAAN TELINGA

TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS


1. Mengetahui bagian - bagian telinga luar
2. Mengetahui alat alat yang diperlukan
3. Mengetahui tehnik pemeriksaan telinga
PEMERIKSAAN TELINGA

Yang diperiksa adalah telinga bagian luar :


I. Aurikulum
II. Meatus akustikus eksternus
III.Membrana timpani
ANATOMI
I. AURIKULUM
Terdiri dari: a. bagian yang bertulang rawan:
- Heliks
- antiheliks
- Tragus
- Anti tragus
- Konka

b. bagian yang tidak bertulang rawan:


Lobulus
B. MEATUS AKUSTIKUS EKSTERNUS
Berbentuk lumen yang terdiri dari 2 bagian :
a. Bagian lateral: Pars kartilagenus
- merupakan lanjutan dari aurikulum
- berambut
- mempunyai kelenjar-kelenjar sebacea
dan kelenjar serumenalis
b. Bagian medial: Pars osseus
- merupakan bagian dari os temporale
- tidak berambut
- pada bagian ini ada penyempitan:
Ismus m.a.e.
- tidak mobil terhadap sekitarnya
C. MEMBRANA TIMPANI

HISTOLOGI
a. Pars tensa :pars tensa terdiri dari 3 lapisan
1. Lapisan luar : kulit tipis dari kulit m.a.e
2. Lapisan medial: mukosa, lanjutan dari mukosa
yang melapisi kavum timpani
3. Lapisan tengah: membrana propia terdiri dari 2
lapisan:
- Lateral dengan serat-serat radier
- Medial dengan serat sirkuler, ini yang
menyebabkan tensi pada pars tensa

b. Pars flaksida : tidak mempunyai membrana propia


Bagian bagian membrana timpani
a. Pars tensa : Manubrium mallei

Umbo
Prosesus brevis
Refleks cahaya (karena membrana timpani
ditempat itu tegak lurus pada cahaya).
b. Pars flaksida : membrana Schrapnelli.
ALAT ALAT YANG DIPERLUKAN
1. Lampu Van Hassle
Menggunakan lampu Van Hassel dipakai di kepala
Tabung lampu yang ideal mempunyai penampang 12 mm.
Lensa berkekuatan 58 u (minimal 55 u).
Posisi lampu medial dari mata yang dipakai dan sedekat
mungkin pada pupil.
2. Spekulum telinga:
Untuk menyingkirkan rambut-rambut dan melebarkan
m.a.e. Spekulum ini waktu memasukkan harus digerakkan
secara memutar kemudian digerakkan keatas, kebawah,
kemuka dan kebelakang supaya seluruh membrana timpani
dapat dilihat.
3. Loupe : berkekuatan 10 D
4. Watten drager, kapas, lampu spiritus
Untuk Pemeriksaan THT
TEHNIK PEMERIKSAAN TELINGA

1. Menggunakan lampu Van Hassle


a. Pada telapak tangan kanan yang diacungkan
pada jarak 30 cm dari mata kanan, mata kiri
dipicingkan maka proyeksi tabung harus terletak
medial dari proyeksi cahaya.
b. Proyeksi cahaya berdiameter 1 cm.
Proyeksi tabung lampu dan cahaya harus
singgung menyinggung.
1.Cara duduk:
a. Penderita duduk dimuka
pemeriksa, lutut kiri masing-
masing berdempetan
b.Kepala dipegang dengan ujung
jari
c. Waktu memeriksa telinga yang
kontra lateral, hanya posisi
kepala penderita yang diubah
d.Kaki, lutut penderita dan
pemeriksa tetap pada keadaan
semula
RUANGAN DM UNTUK PEMERIKSAAN PASIEN
1. Cara memegang telinga:
Kanan : Aurikulum dipegang dengan
jari I dan II, jari III, IV, V pada planum
mastoid.
Aurikulum ditarik ke arah postero
superior (untuk meluruskan m.e)
Kiri : Aurikulum dipegang dengan jari
dan II.
Jari III, IV dan V didepan aurikulum
Aurikulum ditarik kearah postero
superior
1. Alat pembantu:
a. Spekulum telinga:
Untuk menyingkirkan rambut-rambut dan
melebarkan m.a.e. Spekulum ini waktu
memasukkan harus digerakkan secara memutar
kemudian digerakkan keatas, kebawah, kemuka
dan kebelakang supaya seluruh membrana
timpani dapat dilihat.
b. Loupe: berkekuatan 10 D
c. Watten drager, kapas, lampu spiritus
PEMERIKSAAN FUNGSI TELINGA

PENDENGARAN
TES SUARA BISIK KONVERSASI
TES GARPU SUARA
TES AUDIOMETER

KESEIMBANGAN
TES KALORI
Kegunaan tes pendengaran :
- Seleksi penerimaan pegawai / murid
- Kesehatan industri pd paparan bising
- Pembuatan visum kecelakaan kerja / KLL
- Mencari penyebab penurunan pendengaran
anak sekolah
- Mencari penyebab gangguan perkembangan
bicara (pd balita)
- Membantu menentukan diagnosis dan terapi
penyakit telinga
TES PENDENGARAN

Tujuan untuk mengetahui :


1. Adanya ketulian / tidak
2. Derajat ketulian
3. Jenis dan Lokasi ketulian

Macam tes pendengaran :


1. Tes Bisik
2. Tes Garpu Tala / Garpu Suara
3. Audiometri
MACAM MACAM AUDIOMETRI

1. Audiometri subjektif perlu kerjasama dg penderita

Nada murni (pure tone) :


- Liminal (pada nilai ambang pendengaran)
- Supraliminal (diatas n.amb pendengaran),
misal : tes SISI dan Tone decay

Nada Bicara / tutur / speech

2. Audiometri objektif tidak perlu kerjasama dg penderita


- Impedance Audiometry ( Timpanometri )
- Otoacoustic Emission (OAE)
- Auditory Brainstem Response (ABR ) / BERA
- Auditory Steady State Response (ASSR) / SSEP
Pemeriksaan Audiometri
Pemeriksaan Timpanometri
Pemeriksaan OAE & ABR
TES BISIK

Tes Bisik :
- Untuk mengetahui kemampuan mengerti
kata-kata, telinga yang tidak diperiksa
dapat di masking
- Menentukan ketulian secara kasar/perkiraan
- Ruangan harus tenang
- Seseorang dg pendengaran normal dapat
mendengar pada jarak 6 10 meter pada
tempat yang sunyi
YANG DIPERIKSA PEMERIKSA

NASI
SAPI
MEJA
PAKU
MATA

Terdengar 80 %
( 4 dari 5 kata )

Tajam Pendengaran ??? m

0m 1m 2m 6m
HASIL TES

- Kuantitatif ( tajam pendengaran )


6 m : normal
> 4 m - < 6 m : tuli ringan
< 4 m - > 1 m : tuli sedang
< 1 m : tuli berat
Teriak depan telinga tdk dengar : t.total
Tes Bisik Modifikasi :

- U/ skrining pendengaran menapis /


memisahkan kelompok pendengaran normal &
tdk normal pd sejumlah populasi,
mis pd uji kesehatan penerimaan mhs/pegawai
- Cara :
* diruang kedap suara
* dibisikkan 10 kata2,intensitas lbh rendah
dari tes bisik konvensional k/ jarak lebih
dekat
* mulut pemeriksa dijauhkan dr telinga pend
menoleh/duduk dibel pend,masking
* menirukan 80% kt2 dg betul normal
TES GARPU TALA / GARPU SUARA /
PENALA / TUNING FORK

Tes Garpu Tala menentukan jenis ketulian


- Kwalitatif
- Perlu kooperatif (anak2 kd sulit)
- Alat sedehana & mudah dibawa
- Murah,mudah,cepat.
- Dapat digunakan u/ skrining awal,
memprediksi jenis gangguan pend
Dasar Fisiologi tes GT :

1. Sensitivitas telinga dlm (koklea) 2x lbh


baik dalam menerima rangsang bunyi mel
hantaran udara dibdg hantaran tulang k/
mel hant udara getaran bunyi diperkuat
20-30x shg hant udara lbh kuat & lama
dibdg tulang

2. Telinga dg t konduksi menerima rangs


bunyi lbh baik mel tulang dibdg udara k/
pd t kond mt & osikule yg rusak tdk dpt
berfungsi u/ memperkuat getaran bunyi
mel udara
Ada beberapa macam garputala :
128 Hz, 256 Hz, 512 Hz, 1024 Hz dan
2048 Hz.

Untuk melakukan tes pendengaran digunakan


GT : 512 Hz, 1024 Hz dan 2048 Hz (frek
bicara)

Jika hanya menggunakan 1 garputala : 512 Hz


Cara menggetarkan garpu tala

- Arah getaran kedua kaki garpu tala searah


dg kedua kaki garpu tala
- Getarkan kedua kaki garpu tala dg jari
telunjuk dan ibu jari
- Atau ketukkan ke lutut atau benda keras yg
dilapisi bantalan lunak agar vibrasi tidak
berlebihan.
Posisi/letak garpu tala

- Penting : kacamata, giwang dilepas


- Hantaran udara (AC) : arah kedua kaki
G.T sejajar dg arah liang telinga
- Hantaran tulang : pada prosesus mastoid,
tidak boleh menyinggung daun telinga.
Tes Garpu Tala :

1. Tes batas atas batas bawah


2. Tes Weber
3. Tes Rinne
4. Tes Schwabach
5. Tes Bing

Tes ini mempunyai tujuan khusus yg


berbeda-beda dan saling melengkapi
TES BATAS ATAS-BATAS BAWAH

Tujuan : Mencari frekuensi yang dapat didengar


penderita lewat Air Conduction bila GT
dibunyikan pada intensitas ambang
normal ( +25 dB )

Dasar :
- T Konduksi penurunan pd frek rendah
- T SNHL penurunan pd frek tinggi
Cara :

Semua GT (mulai frek rendah sp tinggi/


sebaliknya) dibunyikan satu persatu,
didengarkan dulu o/ pemeriksa sp bunyi
hampir hilang, kmd diperdengarkan pd
penderita dg meletakkan GT dekat mae pd
jarak 1-2 cm.
Interpretasi :

- Batas bawah naik (frek rendah tdk dengar)


T Konduksi
- Batas atas turun (frek tinggi tdk dengar )
T SNHL

Pd bbrp penyakit tdk megikuti aturan tsb,


mis Penyakit Meniere

Kesalahan tes :
GT dibunyikan terlalu keras shg tdk dpt
mendeteksi frek mana penderita tdk mendengar
Intensitas terendah
yang masih terdengar
pemeriksa
D S
- 4096 +
- 2048 +
- 1024 +
+ 512 +
+ 256 -
+ 128 -
+ 64 -
Batas atas turun Batas bawah naik
Tuli Sensorineural Tuli Konduksi
TES WEBER

- Tujuan :
Membandingkan daya tangkap kedua telinga
penderita thd rangsang bunyi melalui hantaran
tulang (membandingkan hantaran tulang antara
kedua telinga penderita)

- Prinsip tes Weber :


Untuk mengetahui arah lateralisasi bunyi
terdengar dimana :
* ditengah kepala
* sama keras di kedua telinga
* terdengar lebih keras di salah satu telinga
Cara :
- GT 512 Hz digetarkan kmd tangkainya
dipancangkan tegak lurus di garis median dg
kedua kaki pd grs horizontal, penempatan dpt
pd dahi, dagu atau pd gigi insisivus atas
(hati2 bl ada gigi palsu).

Penilaian tes Weber :


- Tidak ada lateralisasi, suara ditengah atau
sama kanan & kiri
- Lateralisasi ke sisi sehat SNHL
- Lateralisasi ki sisi sakit Konduktif
Interpretasi :
Tdp bbrp kemungkinan bl ada lateralisasi, misal
lateralisasi kekanan

1. T Konduksi kanan, kiri normal


2. T Konduksi kanan kiri, kanan lbh berat
3. T SNHL kiri, kanan normal
4. T SNHL kanan kiri, kiri lbh berat
5. T Konduksi kanan, SNHL kiri
Kesalahan tes :

Bl GT digetarkan terlalu keras (overtones),


mungkin didengar melalui hantaran udara, shg
tujuan membandingkan hantaran melalui tulang
tidak tercapai

Kadang2 seorang penderita tdk mau mengakui


apbl lateralisasi kesisi telinga yg dirasanya sdh
lama tuli
TES RINNE

- Tujuan :
Membandingkan daya tangkap telinga thd
rangsang bunyi melalui hantaran tulang &
hantaran udara (membandingkan hantaran
tulang & hantaran udara pada satu telinga
penderita)
Cara :

1. Getarkan GT 512 Hz, pancangkan tangkainya


tegak lurus pd mastoid px (posterior mae) sp
px tdk mendengar, kmd secepatnya pindahkan
didepan mae px, bl masih mendengar disbt
Rinne positif,bl tdk mendengar disbt Rinne
negatif
2. Getarkan GT 512 Hz, pancangkan pd planum
mastoid,kmd segera dipindah didepan mae,
ditanya mana lbh keras.
Bl lbh keras didepan disbt Rinne positif,
bl lbh keras dibelakang disbt Rinne negatif
Interpretasi :
- Rinne positif : Normal atau SNHL
- Rinne negatif : T Konduksi
- Tuli campuran : sulit
- Kd2 tjd false Rinne (pseudo positif atau
pseudo negatif, tjd bl bunyi GT ditangkap
o/ telinga kontralateral yg pendengarannya
jauh lbh baik
- Rinne negatif bl T konduksi > 15 dB
Kesalahan tes :

- GT tdk terpancang dg baik pd mast k/


miring, kena rambut,jar lemak tebal shg
px tdk mendengar / getaran terhenti k/
kaki GT tersentuh aurikulum.

- Px terlambat mengisyaratkan wkt GT sdh


tdk terdengar lagi shg wkt dipindah
didepan mae getaran sdh berhenti
TES SCHWABACH

- Tujuan :
Membandingkan hantaran tulang antara
penderita dengan pemeriksa

- Cara :
GT 512 Hz digetarkan kmd tangkainya
dipancangkan tegak lurus pd pln mastoid
pemeriksa,apbl pemeriksa sdh tidak
mendengar, secepatnya GT dipindahkan ke
planum mastoid penderita
Apabila :

1. Penderita masih mendengar Schwabach


memanjang

2. Penderita tdk mendengar ada 2


kemungkinan, yaitu Schwabach memendek
atau normal. Tes dibalik penderita dulu
baru pemeriksa dg cara sama bila
pemeriksa tdk mendengar berarti sama2
normal, bila pemeriksa masih mendengar
berarti Schwabach penderita memendek
- Interpretasi :
Schwabach memanjang T Konduksi
Schwabach memendek T SNHL
Schwabach normal Normal

- Kesalahan tes :
GT tdk terpancang dg baik, kakinya
tersentuh hingga bunyi menghilang atau
isyarat menghilangnya bunyi tdk segera
diberitahukan o/ penderita
TES BING

Cara :
- GT digetarkan di prosesus mastoid
- Tragus ditekan menutupi liang telinga
sehingga tdp tuli konduksi

Penilaian :
- Kekerasan bunyi sebelum dan sesudah
ditekan menutupi liang telinga
- untuk mengetahui jenis gangguan pendengaran
- Bing positif : bunyi terdengar lebih keras
setelah liang telinga ditutup

- Bing negatif : tidak ada perbedaan


kekerasan setelah liang telinga ditutup
WEBER RINNE SCHWABACH BING DIAGNOSA

Tdk ada lateralisasi Positif (AC>BC) Sama dengan pemeriksa Bertambah Normal
Keras

Ada lateralisasi Negatif (AC<BC) Memanjang Tidak Konduktif


Ke telinga yang bertambah
Sakit Keras

Ada lateralisasi Positif (AC>BC) Memendek Bertambah Sensorineural


Ke telinga yang Keras
sehat
TULI KONDUKSI TULI PERSEPSI
- HURUF LUNAK SUARA HURUF LUNAK +
+ HURUF DESIS BISIK HURUF DESIS -

Normal Batas atas Turun

Naik Batas bawah Normal

Memanjang Schwabach Menurun

Lateralisasi ke sakit Lateralisasi ke sehat


Weber

- RINNE +

Pseudonegatif
TULI KONDUKSI KANAN

KANAN KIRI
3m 6m

- RINNE +

Ke kanan WEBER

(Memanjang) SCHWABACH Normal

+ 4096 +
+ 2048 +
+ 1024 +
+ 512 +
- 256 +
- 128 +
- 64 +
KESIMPULAN

- Tes Bisik dan GT cukup sederhana


- Tdk perlu alat mahal
- Dapat dikerjakan ditempat praktek/ klinik
dmn belum tersedia audiometer
- Dipakai u/ konfirm hasil audiogram
- Validitas tes dpt dicapai bl pemeriksa
sering melakukan/ berlatih pemeriksaan.
AUDIOMETRI
AUDIOLOGY = AUDIOLOGI

AUDIOMETRY = AUDIOMETRI

AUDIOMETER
ELEKTRO AKUSTIK ?
AUDIOGRAM

ACOUMETRI

ELECTR0 - COCHLEOGRAM
SUBYEKTIF

I. Pure Tone Audiometry


- Liminal
- Supra Liminal

II. Speech Audiometry

KOMPONEN BUNYI
1. Frekwensi
2. Intensitet
3. Waktu
SUPRA LIMINAL
Pure Tone Audiometry

1. Displacusis - Distorsi Frekwensi

2. Recurement - Intensitas Sisi Test

3. Remanence - Waktu Tone


Decay Test
LIMINAL PURETONE AUDIOMETRY
I. Air Conduction
- Ear Phones
II. Bone Conduction
- Vibrator (Oscilator)
Planum Mastoideum
- Masking ?
- Weber Test ?
- White Noise ?
- Air Bone Gap ?
BACAAN AUDIOGRAM SEBAGAI
BERIKUT :
1. Normal
2. Tuli Konduksi
3. Tuli Persepsi
4. Tuli Campuran
TES KESEIMBANGAN

Dr. Steward Mengko, Sp.THT-KL

BAGIAN/ SMF THT-KL


FK UNSRAT BLU RSU Prof. Dr. R D Kandou Manado
footsole pressure SOMATOSENSORI

reseptor VISUAL
gravitasi CNS
INTERPRETASI
VESTIBULER BELAJAR
pendengaran
ADAPTASI
proses KOMPENSASI ritme
autonom sirkadian

stabilitasi image
orientasi ruangan
kontrol keseimbangan
ETIOLOGI GANGGUAN KESEIMBANGAN

Gangguan Vestibuler atau Non Vestibuler

Gangguan keseimbangan Sentral (daerah otak) atau


perifer (terdapat pada daerah telinga dalam)

80% ggn keseimbangan disebabkan oleh kelainan


yang terdapat pada daerah telinga dalam (Organ
Vestibuler)
Ggn keseimbangan postural

Ggn vestibuler Ggn non vestibuler


Rasa berputar Bersifat rasa goyang, melayang,
Serangan episodik kepala ringan
Gej. Mual/ muntah Serangan konstan
Ggn dengar +/- Tanpa mual/muntah
Dicetus gerak kepala Tanpa ggn dengar
Tanpa situasi pencetus Dicetus gerak object visual
Situasi ramai orang atau
lalulintas yg sibuk
GEJALA & TANDA
SENTRAL PERIFER
Sifat serangan Bertahap Sifat serangan mendadak
Intensitas ringan/bertingkat Intensitas berat
Gerak kepala (-) Pengaruh gerak kepala(+)
Gej. Otonom (+) Gej . Otonom dominan
Ggn. Dengar/tinitus(-) Ggn. Dengar & Tinitus (+)
Gej. Fokal di otak(+) Gej. Fokal di otak (-)
GEJALA & TANDA
VESTIBULER
Rasa berputar
Episodik
Gej. Otonom positip
Ggn dengar YES/NO
Pencetus gerak an kepala
Tidak ada situasi pencetus

Kualitas hidup
GEJALA OTONOM

Berdebar-debar

Berkeringat dingin

Mual sampai muntah

Cemas sampai timbul rasa takut


Observasi dan Anamnesis

Sebab dan akibat pada gangguan keseimbangan :


. Riwayat keluhan
. Riwayat penyakit sebelumnya
. Hal yang mencetus serangan
. Hal yang meringankan
. Keluhan yang menyertai
. Obat yang pernah dikonsumsi
VESTIBULER / LABIRIN :
Memberitahu otak tentang bgmn posisi kepala kita
berorientasi terhadap ruangan di sekitarnya
KEDUDUKAN ANATOMIS RESEPTOR
DALAM SISTEM ORGAN VESTIBULER
AMPULOPETAL DAN AMPULOFUGAL
PERANAN VESTIBULER TERHADAP
KONTROL POSTURAL

- Mengatur tonus otot


terhadap gravitasi

- Mengatur keseimbangan Centre Of Mass


COM base of support

- Mengatur keseimbangan
pada kecepatan rendah
(slow tandem walk test)

base of suppor
VISUAL atau MATA

Memberi informasi
kepada otak tentang
posisi tubuh terhadap
lingkungan berdasarkan
sudut dan jarak dengan
obyek sekitarnya
PROPIOSEPTIK / SOMATOSENSORIK

Memiliki 2 fungsi utama :


1. Sebagai mekanoreseptor,
memberi informasi posisi
tubuh sepanjang waktu

2. Memberi informasi tentang


titik tumpu beban tubuh
NISTAGMUS

SENTRAL : PERIFER :
Murni Horizontal rotatoar
vertikal/torsional Berkurang pada fiksasi visual
Tidak dipengaruhi Meningkat pada gaze sisi
fiksasi visual sehat (arah fase cepat),
Change directional menurun pada gaze sisi sakit
One directional
GANGGUAN KESEIMBANGAN

VESTIBULER NON VESTIBULER

PERIFER SENTRAL VISUAL PROPIOSEPTIK

BPPV NON BPPV


TES VESTIBULER
Refleks Vestibulo-spinal
Romberg
Posturografi, dsb.
Refleks Vestibulo-okuler
Tes Kalori
Tes kursi putar Barany
Elektronistagmografi (ENG), dsb.
Romberg Test

A B
Manoeuvre designed to elicit both
positioning and positional nystagmus
TES KALORI
TES KALORI

TES KALORI 2 SUHU (Hallpike & Fitzgerald)


Tujuan :
Merangsang kupula krista ampula kanalis
semisirkularis horizontalis
Aliran endolimf ditimbulkan dengan pemanasan
/ pendinginan
Lama nistagmus kalorigram
Tes Kalori 2 suhu (lanjutan)
Dasar Teori :
Pemanasan (44oC) pada telinga kanan
Aliran endolimf ke arah ampula (ampulopetal)
Kontraksi m.rektus lateralis mata kiri
(gerak bola mata lambat ke kiri)
Segera dikoreksi otak
(gerak bola mata cepat ke kanan)
Nistagmus ke kanan
Pendinginan (30oC/0oC) pada telinga kanan
Nistagmus ke kiri

Ingat COWS
Cold Opposite side Warm Same side
MEKANISME TES KALORI
Tes kalori 2 suhu (lanjutan)

Alat :
Air (udara) 44oC, 30oC, 0oC (air es)
Pompa (spuit) 50 100 cc
Stop Watch
Kaca mata Frenzell (lensa 15 D)
Tes kalori 2 suhu (lanjutan)
Cara :
Penderita bebas obat (anti vertigo) 3-5 hr
tidur terlentang
kepala fleksi 30oC
Kanalis semisirkularis horizontal (tegak lurus)
Pompa MAE kanan dgn air panas (44oC) 50 cc,
selama 30 detik
Catat mulai pompa sampai nistagmus berhenti
Lakukan pada MAE kiri 5 menit kemudian
Ulangi dengan air dingin (30oC)
0oC bila 44oC dan 30oC tdk ada reaksi
Tes kalori 2 suhu (lanjutan)

Pencatatan kalori garam

kanan
44oC
kiri

kanan
30oC
kiri
Tes kalori 2 suhu (lanjutan)
Hasil Penilaian
Normal : Frenzell (+) 160-210 detik
(rata-rata 3 menit)
Hipofungsi : Frenzell (+) < 160 detik
(canal parese) Frenzell (-) < 90 detik
Hiperfungsi : Frenzell (+) > 210 detik
Frenzell (-) > 140 detik
Labirin mati : Reaksi (-)
TES ROMBERG
STEPPING TEST
TES POST POINTING DAN
FINGER TO NOSE
TES DISDIADOKOKINESIS

Ketidakmampuan dalam melakukan


gerakan koordinasi yang berlawanan
Lesi di serebelum
HEADSHAKE NYSTAGMUS
(HSN)
Pasien diminta menundukkan 300
Goyangkan kepala ke ka/ki secepat mungkin selama
30 dtk (mata terbuka)

HASIL :
Pertama Nistagmus horizontal arah ke sisi sehat pd
bbrp detik
Kemudian Nistagmus horizontal arah ke sisi lesi
terjadi +20 dtk setelah headshake
HSN berkorelasi baik dng kelainan vestib. perifer
Head Impulse Test = Head Thrust Test
TES DYNAMIC
VISUAL ACUITY
Pasien diminta membaca huruf pd Snellen eye chart
(seperti memeriksa visus mata), tandai pd garis
kemampuan membaca maksimal

Goyangkan kepala ke ka & ki pd kecepatan 2 Hz (spt


tes headshake) sambil pasien diminta membaca
chart tadi

Kehilangan kemampuan membaca lebih dari 2 garis


menandakan adanya hipofungsi vestibuler bilateral
Perasat Dix-Hallpike
Perasat Dix-Hallpike
Perasat Sidelying
Riwayat gangguan
peredaran darah
otak

Riwayat trauma
leher, panggul dll

Riwayat trauma
tulang belakang
Perasat Roll
KESIMPULAN
KESIMPULAN