Anda di halaman 1dari 35

CA LARING

Kelompok D:
1. Siti Halimatus Sa’diyah 162310101118
2. Nurul Hidayah 162310101144
3. Mila Khanifa 162310101145
4. Siti Raudatul Jannah 162310101145
5. Dwi Linda Aprilia A 162310101150
6. Alvinda Apriatul J 162310101153
7. Cirila Aripratiwi 162310101161
Definisi
 Kanker laring adalah karsinoma sel skuamosa yang merupakan malignansi
paling umum terjadi. Perubahan pada mukosa laring terjadi setiap waktu
terpajan akibat iritan beracun seperti merokok. Lesi putih, berbercak,
prakanker dikenal sebagai leukoplia. Bercak merah beludru, disebut
eritroplakia, dianggap mewakili tahap akhir perkembangan karsinoma in
situ(CIS), adalah superfisial. Sel malignan mengganti lapisan pelapis, tetapi
tidak menginvasi hingga jaringan yang lebih dalam. Jika tidak ditangani,
sebagian besar lesi CIS terjadi menjadi kanker sel skuamosa. (NCI,2009)

 Karsinoma laring merupakan keganasan yang sering terjadi pada usia


pertengahan dan usia tua dengan puncak insiden terjadi pada dekade
keenam sampai dekade kedelapan (Ratiola, 2000)
 Kanker laring adalah tumor yang tumbuh pada jaringan kotak suara (laring).
Laring merupakan bagian dari tenggorokan yang memiliki fungsi penting
dalam membantu proses bernapas dan bicara kita. Bagian tubuh ini juga
akan melindungi paru-paru dari masuknya makanan pada saat menelan
(Soepardi, 2000).
Etiologi
Penyebab karsinoma laring belum sepenuhnya
diketahui secara pasti, namun diperkirakan
karsinoma laring ini berkaitan erat dengan
kebiasaan merokok, konsumsi alkohol
berlebihan, paparan radiasi serta infeksi HPV(
Human Papiloma Virus) pada sebagian kasus kecil
( Maitra dan Kumar,2007). Menurut Ramroth et
al (2011) terdapat etiologi lain terjadinya
karsinoma laring yaitu karena terpapar bahan
atau substansi berbahaya misalnya asbes dan
Polycyclic Aromatic Hydrocarbons.
Faktor risiko
Pria terkena lebih banyak daripada wanita. Kanker laring
biasanya terjadi pada usia antara 50 tahun hingga 70
tahun. Penggunaan tembakau merupakan faktor risiko
utama untuk kanker laring. Risiko terjadinya kanker
laring sangat besar pada perokok aktif daripada perokok
pasif. Konsumsi alkohol adalah kofaktor penting pada
peningkatan risiko. Ketika mengkonsumsi alkohol
bersamaan dengan merokok, risiko meningkat secara
sinergis dan signifikan kemungkinan sebanyak 100kali
(NCI, 2009). Faktor risiko lain yaitu nutrisi yang buruk,
infeksi human papilovirus(HPV), pajanan terhadap
asbestos dan polutan, ras (kanker laring lebih umum pada
orang Amerika Afrika daripada orang berkulit putih).
(Hurst, Marlene 2016)
Epidemiologi
Karsinoma laring adalah urutan kedua terbanyak kegansan kepala dan
leher di seluruh dunia, dengan kejadian diperkirakan lebih dari 151.000
kasus yang mengakibatkan sekitar 82.000 kematian setiap tahun. Di
FKUI/RSCM selama periode 2000-2005 ditemukan 3.344 kasus tumor
ganas di daerah kepala dan leher, dimana karsinoma laring menempati
urutan kedua yaitu sekitar 213 kasus (6,73%). Di RS. M. Djamil Padang
periode Januari 2011- Desember 2012 tercatat 13 kasus, di Manado
angka kejadian karsinoma laring sebanyak 26,9%. Di Bandung sebanyak
100 kasus (6,95%) penderita karsinoma laring dari 1.439 keganasan
kepala dan leher. (Cahyadi, dkk., 2015)
Di bagian THT-KL Rs Cipto Mangunkusumo, Jakarta, karsinoma laring
menduduki urutan ketiga setelah karsinoma nasofaring dan tumor
ganas hidung dan sinus paranasal (Hermani dan Abdurrachman,2011).
Dari penelitian Ernawati (2012), insiden karsinoma laring ditemukan
sebanyak 36 penderita di bagian THT-KL RSUP Haji Adam Malik Medan
selama periode Januari 2010- Desember 2011.
Klasifikasi Kanker Laring menurut Haryuna,
(2004) ialah:
Manifestasi Klinis Ca Laring
 Suara serak, tercatat lebih awal terjadi pada
kanker di area glotis, suara kasar, serak, dengan
puncak suara rendah.
 Batuk Persisten, nyeri dan rasa terbakar di
tenggorokan ketika meminum cairan panas dan
jeruk
 Benjolan teraba di leher
 Gejala akhir, disfagia,dispnea, obstruksi nasal
unilateral atau rabas, serak peristen atau ulserasi,
dan nafas berbau tidak sedap
 Perbesaran nodus serviks, penurunan berat badan,
kelemahan umum, dan nyeri yang menyebar ke
telinga dapat terjadi disertai dengan metastasis.
Patofisiologi
Karsinoma laring dapat diakibatkan karena kebiasaan
merokok, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik atau serbuk,
dan logam berat. Kanker kepala dan leher menyebabkan 5,5% dari
semua penyakit keganasan. Terutama neoplasma laringeal 95% adalah
karsinoma sel skuamosa. Bila kanker terbatas pada pita suara
(intrinsik) menyebar dengan lambat. Pita suara miskin akan pembuluh
limfe sehingga tidak terjadi metastase kearah kelenjar limfe. Bila
kanker melibatkan epiglotis (ekstrinsik) metastase lebih umum terjadi.
(Long, 1996).
Kanker laring yang terbatas pada pita suara tumbuh perlahan
karena suplai limfatik yang jarang. Di tempat manapun yang kering
(epiglotis, pita suara palsu, dan sinus-sinus piriformis). Pada bagian ini
banyak mengandung pembuluh limfe, oleh karena itu kanker pada
jaringan ini biasanya meluas dengan cepat dan segera bermetastase ke
kelenjar limfe leher bagian dalam. Suara serak merupakan tanda awal
kanker pita suara (Long, 1996).
Pathway
Pemeriksaan Penunjang
1. Laringoskopi
Laringoskopi indirect.
Pemeriksaan ini bertujuan melihat laring secara tidak
langsung dengan caramenempatkan cermin didalam faring dan
cermin tersebut disinari oleh cahaya. Bayanganlaring pada
cermin terlihat dari sinar yang dipantulkan
Laringoskop Direkta
Bertujuan melihat laring secara langsung tanpa
menggunakan cermin tetapi menggunakan alat yang disebut
laringoskop berupa:
 Laringoskop kaku
 Laringoskop fiberc.
 Mikrolaringoskop dengan pemakaian mikroskop
2. Biposi insisional
Tindakan ini dilakukan bila terdapat kecurigaan
pada massa atau jaringan tubuh kearah keganasan
atau kanker, yaitu dengan pengambilan sampel
jaringan melalui pemotongan dengan pisau bedah.
3. Pemeriksaan Sinar x jaringan lunak
Pancaran sinar-X anteroposterior tenggorokan
dan radiografi lateral dapat secara jelas
menunjukan lesi laring, ukuran dan bentuk, Dan
trakea tulang rawan atau perubahan jaringan
lunak dari tulang belakang leher.
4. Ultrasonic tomography
Tanpa kerusakan, tomografi ultrasonik dapat
digunakan untuk yang sudah menyebar ke
Kelenjar getah bening untuk menentukan jumlah,
lokasi, dan hubungan dengan jaringan sekitarnya,
yang juga merupakan metode pemeriksaan
setelah radioterapi
5. CT scan dan resonansi magnetik (MRI)
Pemeriksaan CT dan MRI dapat secara jelas
menunjukan luas penyebaran kanker laring.
Pemeriksaan ini cocok untuk pasien yang sudah
menyebar ke kelenjar getah bening dan stadium
lanjut
6. Radiologi
Peralatan pencitraan radiologi penting untuk mengamati dan
menentukan ukuran atau dimensi dari sebuah kelainan pada
laring.
7. Xeroradiography
Meskipun kapasitasnyaadalah sebagai pelengkap, akan tetapi
peralatan ini dapat membedakan dengan jelas mana yang
jaringan lunak, stenosa, dan terkadang dapat mengenali
adanyakeganjilan pada tulang lunak (Noyek MA, ect. 1998)..
8. Foto toraks
Diperlukan untuk menilai keadaan paru, ada atau tidaknya
proses spesifik dan metastasis diparu. Foto jaringan lunak
(soft tissue) leher dari lateral kadang–kadang dapat menilai
besarnya dan letak tumor, bila tumornya cukup besar.
Penatalaksanaan Non Medis Kanker
Laring
1. Penyuluhan
Jika dilakukan laringektomi komplit,
pasien harus mengetahui bahwa suaranya akan
hilang, tetapi pelatihan khusus akan
memberikan suatau cara untuk melakukan
percakapan yang cukup normal. Namun
kemampuan untuk bernyanyi, tertawa atau
bersiul akan hilang. Sampai tiba waktunya
pelatihan ini pasien harus mengetahua bahwa
komunikasi masih memungkinkan melalui
lampu pemanggil dan dengan tulisan.
a. Menurunkan ansietas dan depresi
 Berikan kesempatan pada pasien untuk
mengungkapkan perasaa dan berbagi
persepsi
 Jawab pertanyaan seringkas dan selengkap
mungkin
 Datangkan orang yang pernah menjalani
laringektomi selama pra and pasca operasi
yang dapat membantu untuk menyampaikan
bahwa ada oarng- orang yang dapat dan
mau membantu pasien dan rehabbilitasi yang
berhasil merupakan hal yang tidak mustahihl
b. Mempertahankan jalan nafas yang paten
 Posisikan pasien dalam posisi fowler/ ½ fowler setelah
pemulihan dari ansestesi
 Amati pasien terhadap kegelisahan pernafasan labored,
aprehensi, dan peningkatan frekuensi nadi. Rasional : tanda-
tanda ini menunjukan masalah pernafasan atau sirkulasi
 Ambulasi dini jika dianjurkan.rasional : mencegah atelektasis
dan pulmoni
 Jika dilakukan laringektomi total, perawatan untuk selanng ini
sama dengan perawatan untukj selang trakheostomi. Bersihkan
stoma setiap hari dengan larutan salin atau larutan lain yang
diresepkan, oleskan salep antibiotic yang mungkin diresepkan
dsekitar stoma dan garis jahitan
 Amati drainase ukur dan catat. Jika drainase kurang dari 50-60
mml/hari, dokter biasanya melepaskan drain
 Lepaskan selang laringektomi jika stoma telah sembuh dengan
baik, biasanya dalam 3-6 minggu setelah pembedahan
 Ajarkan pasien cara membersihkan dan mengganti selang
laringektomi
 Ajarkan bagaimana cara membersihkan sekresi jalan nafas
c. Meningkatkan komunikasi dan rehabilitasi bicara
 Berikan penyuluhan pada pasien dan keluarga tentang bentuk
alternative komunikasi meliputi : magic slet, bel pemanggil
 Anjurkan klien untuk bicara melalui esophagus (trakheoesofagal
pungtur )

d. Meningkatkan nutrisi yang adekuat


 Pada pascaoperatif pasien tidak diizinkan makan dan minum
selama 10-14 hari
 Berikan nutrisi dan hidrasi yang cukup melalui intravena, NGT,
dan nutrisi parenteral total.
 Bila pasien telah siap untuk makan peroral, jelaskan pada pasien
bahwa cairan kental seperti ensure dan gelatin akan digunakan
pertama kali karena cairan ini mudah ditelan.
 Instruksikan pasien untuk menghindari makanan yang
manis.Rasional : makanan yang dapat meningkatkan saliva dan
menekan nafsu makan
 Berikan makanan padat sesuai toleransi pasien
 Instruksikan pasien untuk membilas mulut dengan cairan hangat
atau mouth wash dan menyikat gigi dengan tratur.
Penatalaksanaan Medis Kanker
Laring
1. Pembedahan
Ahli bedah biasanya akan mengangkat lesi ditambah batas-batas
jaringan normal sekitarnya untuk mencegah berkembangnya kembali
tumor tersebut.
2. Kemoterapi
Kemoterapi dapat diberikan dengan berbagai cara salah satunya adalah
secara topical, dimana agen-agen tersebut diberikan secara langsung
pada lesi. Agen-agen yang digunakan meliputi 5 flourourasil atau
psorelen.
3.Terapi biologis
Terapi biologis juga disebut bioterapi atau immunoterapi, bekerja baik
secara langsung ataupun tidak langsung melawan kanker dengan
mengubah cara-cara tubuh untuk bereaksi terhadap kanker.
4.Terapi radiasi
Dengan penggunaan energy sinar X dosis tinggi, kobalt, electron, atau
sumber-sumber radiasi lainnya untuk menghancurkan atau membunuh
sel-sel melanoma
1.2 Konsep Asuhan Keperawatan Kanker Laring
1.2.1 Pengkajian
- Identitas Klien
Nama :-
Umur : kebanyakan terjadi pada pria diatas 50 tahun.
Jenis Kelamin : perbandingan kanker laring antara laki-laki dan perempuan yaitu yaitu 10:1.
Faktor resiko tertinggi yaitu merokok.
No. RM : XXX
Suku :-
Alamat :
- Riwayah Kesehatan
Keluhan Utama
Klien datang dengan keluhan serak dan sakit tenggorokan, pasien berkata ada pembengkakan pada
tenggorokanya.
Riwayat Penyakit Sekarang
Klien dengan kanker laring memiliki gejala serak, nyeri dan rasa terbakar pada tenggorokan ketika
meminum cairan yang panas, kemungkinan teraba benjolan pada leher, terdapat dipsnea serak dan
nafas bau.
Riwayat Penyakit dahulu
Tanyakan kepada pasien apakah ada riwayat laryngitis, epiglottis dan riwayat sakit tenggorokan lainya.
Riwayat penyakit keluarga
 Pemeriksaan Fisik
1. Suhu : Mungkin menetap pada suhu normal 36,5-37,5
2. Nadi : rentang nadi 60x-100x/ menit
3. Tekanan darah : tekanan darah normal 90/60-120/80 mmhg
4. Respirasi :Respirasi pada klien ca laring bisa saja terganggu ketidak
efektifan jalan nafas akibat pembesaran ca laring, respirssi normal
16x-20x/menit
5. Berat Badan :Berat badan klien yang terkena kanker laring bisa saja
kurang dari batas normal BMI akibat kanker laring mengganngu
jalan masuk nutrisi akibat pembenggkakan. sangat kurus < 16,00,
kurus < 18,50, normal 18,50-24,99, kegemukan > = 25,00,
obesitas >= 30,00
6. Leher : Kaji keadaan mulut klien serta mukosa mulut dan leher.
Gejala yang muncul misalnya perubahan suara, misalnya menjadi
serak, ada benjolan atau pembekakan di leher, adanya sakit
tenggorokan, adanya batuk yang tidak kunjung sembuh, terasa ada
yang mengganjal di tenggorokan, nafas tidak sedap serta sulit untuk
menelan.
Pemeriksaan Pola
1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Kaji definisi sehat menurut pasien, kebiasaan diet, olahraga,
riwayat penyakit keluarga, data genogram, persepsi tentang sehat
dan sakit, screening penyakit, pelayanan kesehatan/pertolongan yang
digunakan jika sakit, konsumsi obat-obatan modern maupun
konvensional, riwayat kesehatan dahulu.
2. Pola nutrisi dan metabolism
Kaji kebiasaan makan dan minum sebelum MRS, diet RS, intake
makanan, adanya mual, muntah, kesulitan menelan, keadaan yang
mengganggu nutrisi, status gizi yang berhubungan dengan keadaan
tubuh: postur tubuh, BB, TB, IMT, pengetahuan tentang nutrisi terkait
penyakitnya, intake cairan, tanda-tanda kelebihan cairan, perubahan
intake makanan terkait penyakit, budaya, stress, adanya kelainan
psikologis terkait makan.
3. Pola eliminasi
Kaji kebiasaan BAB/BAK sebelum masuk RS. Keluhan terkait
BAB/BAK, urin output, karakteristik BAB dan BAK, pengggunaan
obat -obatan untuk melancarkan BAB.
4. Pola aktivitas dan latihan
Kaji aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan, olahraga yang
disenangi, aktivitas rekreasi, kemampuan perawatan diri, hygiene,
makan, mandi, toileting, dressing, penggunaan alat bantu mobilitas,
ROM, oksigenasi, alat bantu nafas, gangguan aktivitas yang dialami.
5. Pola tidur dan istirahat
Kebiasaan tidur sebelum MRS, penggunaan obat tidur, faktor
budaya, kebiasaan minum kopi, apakah ada masalah dengan tidur saat
ini, gangguan tidur, lama tidur, keluhan penyakit yang mengganggu
tidur, masalah fisik dan psikologi yang mempengaruhi tidur.
6. Pola persepsi dan kognitif
Tingkat kesadaran, orientasi, daya penciuman, daya rasa, daya
raba, daya pendengaran, daya penglihatan, nyeri (PQRST), faktor
budaya yang mempengaruhi nyeri, cara-cara yang dilakukan pasien
untuk mengurangi nyeri, pemakaian alat bantu lihat atau dengar,
proses berfikir, isi pikiran, daya ingat, dan waham, kemampuan
mengambil keputusan, kemampuan komunkasi, tingkat pendidikan,
luka.
7. Pola persepsi diri dan konsep diri
Pekerjaan, situasi keluarga, kelompok dukungan sosial, persepsi diri, kelemahan
dan kekuatan diri pasien, bagian tubuh yang disukai atau tidak disukai, ancaman
terhadap konsep diri.
8. Pola peran dan hubungan
Peran pasien dalam keluarga, pekerjaan dan sosial, kepuasan peran, pengaruh
status kesehatan terhadap peran, pentingnya keluarga, pengambil keputusan dalam
keluarga, orang-orang terdekat pasien, pola hubungan orang tua anak.
9. Pola seksualitas dan reproduksi
Masalah seksual, dekripsi prilaku seksual, pengetahuan terkait seksualitas dan
reproduksi, efek status kesehatan terhadap seksualitas, penggunaan alat kontrasepsi.
Masalah menstruasi, riwayat gangguan fisik dan psikologis terkait seksualitas.
10. Pola toleransi coping- stress
Apakah memiliki stressor selama ini, sifat stressor, apa yang dilakukan untuk
mengatasi, strategi koping yang dipakai dan efektivitasnya, kehilangan dan perubahan
hidup yang pernah atau sedang dialami, kaitan stress dengan dinamika keluarga,
pengetahuan tentang strategi koping.
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Kaji latar belakang etnik dan budaya pasien, status ekonomi, prilaku kesehatan
terkait nilai atau kepercayaan, tujuan hidup pasien, pentingnya agama bagi pasien,
akibat penyakit terhadap aktivitas keagamaan.
Diagnosa Keperawatan
 Defisit pengetahuan tentang prosedur pembedahan dan perjalanan
pascaoperasi
 Ansietas yang berhubungan dengan diagnosa kanker dan
pembedahan yang akan dijalani
 Inefektif bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan perubahan
dalam jalan nafas
 Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan
pengangkatan laring dan terhadap edema
 Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh, yang berhubungan
dengan kesulitan menelan
 Gangguan citra tubuh, konsep diri, dan harga diri yang berhubungan
dengan operasi leher mayor
 Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan perawatan
pascaoperatif
 Potensi ketidakpatuhan terhadap program rehabilitatif dan
pelaksanaan pemeliharaan di rumah
Perencanaan dan Implementasi
Tujuan utama pasien dapat mencakup
pencapaian tingkat pengetahuan yang cukup,
reduksi, ansietas, pemeliharan patensi jalan
napas (pasien mampu mengatasi sekresi
sendiri), perbaikan dalam komunitas dengan
menggunakan metode alternatif, pencapaian
tingkat kompetisi nutrisi dan hidrasi yang
optimal, perbaikan citra tubuh dan harga diri,
patuh terhadap program rehabilitasi, penata
plaksanaan peliharaan di rumah, dan menjegah
komplikasi
Intervensi Keperawatan
 Intervensi Keperawatan Pra operatif
1. Penyuluhan Pasien.
Perawat harus menjelaskan misalnya tentang letak
laring, apa fungsinya, apa prosedur utama akan
dilakukan, dan apa efek pembedahan yang akan
didapat pada kemampuan bicara pasien.
2. Menurunkan ansietas dan depresi.
Pembedahan laring dilakukan paling sering untuk
tumor malignan, Karenanya, persiapan psikologois
sama pentingnya seperti persiapan fisik. Pasien
diberikan perasaan dan berbagi persepsi dengan
pernyataan seringkas dan selengkap mungkin.
 Intervensi Keperawatan Pascaoperatif
1. Mempertahankan jalan nafas yang paten.
Jalan nafas yang paten ditingkatkan dengan pasien dalam posisi semi
flowler. Setelah pemulihan dari anestisia. Pasien diamati terhadap
kegelisahan, pernapasan laboret, aprehensi, dan peningkatan frekuensi
nadi, karena tanda tanda ini masalah pernapasan atau sirkulasi. Medikasi
yang menekankan pernapasan dihindari.
2. Meningkatkan Komunikasi dan Rehabilitasi wicara.
Pasien dan keluarga diberikan penyuluhan tentang bentuk alternatif
komonikasi, dan rencana rehabilitasi pascaoperatif.
3. Peningkatan Nutrisi yang Adekuat.
Pada pascaoperatif, pasien mungkin tidak diizinkan untuk makan atau
minum selama 10 sampai 14 hari. Sumber alternatif nutrisi dan hidrasi
mencakup cairan intravena, pemberian makan enteral melalui selang
gastrik, dan nutrisi parenteral total.
 Peningkatan harga diri
Pembedahan yang mengakibatkan perubahan penampilan tubuh
dan perubahan pola komunikasi dapat memberikan ancaman
pada konsep diri, harga diri, dan citra tubuh pasien. Perawat
memperhatikan selang, balutan, dan drein yang terpasang setelah
pembedahan. Pasien didorong untuk mengekspresikan setiap
perasaan negatif tentang perubahan yang disebabkan oleh
pendarahan.
 Penyuluhan pasien dan pertimbangan perawatan dirumah.
Perawat mempunyai peranan penting dalam rehabilitasi pasien
laringektomi. Pasien akan mengalami banyak perubahan emosi,
fisik dan gaya hidup. Instruksi pemulangan dimulai secepat
mungkin pasien mampu. Pasien akan belajar berbagai prilaku ini
diberikan.
Evaluasi
 Penyuluhan pasien dan pertimbangan perawatan dirumah.
 Perawat mempunyai peranan penting dalam rehabilitasi pasien
laringektomi. Pasien akan mengalami banyak perubahan
emosi, fisik dan gaya hidup. Instruksi pemulangan dimulai
secepat mungkin pasien mampu. Pasien akan belajar berbagai
prilaku ini diberikan.
 Mendapatkan tingkat pengetahuan yang memadai
 Menunjukkan penurunan ansietas dan depresi
 Mempertahankan jalan napas yang bersih dan dapat mengatasi
sekresi sendiri
 Mendapatkan teknik komunikasi yang efektif
 Mempertahankan masukan nutrisi yang seimbang dan adekuat
 Menunjukkan perbaikan citra diri, harga diri, dan konsep diri
 Patuh terhadap program rehabilitasi dan perawatan di rumah
 Menunjukkan tidak terjadi komplikasi
DAFTAR PUSTAKA
 Adams, Boies Higler. 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta : EGC
 al, 2008. Laboratory of Biochemistry, Department of Chemistry, University of
 Bosman FT. 1999. Aspek-aspek Fundamental Kanker, Onkologi. Universitas Gajah
Mada : Yogyakarta
 Brunner & Suddart. 2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
 Brunner.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol 2.Edisi 8.Jakarta : EGC
 Cahyadi,dkk. 2015. Karakteristik Penderita Karsinoma Laring di Departemen Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit dr Hasan
Sadikin Bandung Periode Januari 2013 – Juli 2015. Fakultas Kedokteran
Universitas Padjajaran/ RSUP dr Hasan Sadikin Bandung. Bandung.
http://jurnal.unswagati.ac.id/index.php/tumed/article/download/268/160 [Diakses
pada 10 April 2018]
 Ernawati I. 2012. Karakteristik Penderita Tumor Ganas Laring di RSUP H. Adam
Malik Medan Tahun 2010-2011. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara
 Haryuna, T.S.H, 2004. TUMOR GANAS LARING, dilihat 3 April 2018,
[http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-siti%20hajar.pdf]
 Hermani, B.,Kartosudiro, S.& Abdurrahman,B.2003. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, edisi ke 5, Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
 Hurst, Marlene. 2016. Keperawatan Medikal Bedah Volum 1. Jakarta. EGC
 LeMone, Priscilla. 2015. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
 Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Vol 2. Bandung:Yayasan
Alumni Pendidikan Keperawatan
 Maitra A, dan Kumar V, 2007. Paru dan Saluran Napas Atas. Dalam buku ajar
patologi Robbins.
 Mastronikolis NS, Papadas TA, Goumas PD, Triantaphyllidou IE, Theocharis
DA, et
 NCI. 2009 dalam Hurst, Marlene. 2016. Keperawatan Medikal Bedah Volum
1. Jakarta. EGC
 Patras, Patras, Greece.
 Pracy R., Dkk., 1989,Pelajaran Ringkas Telinga Hidung Dan
Tenggorok,Jakarta:Gramedia
 Ramroth H, Dietz A, and Becher, H, 2011. Intensity and Inhalation of
Smoking in the Aetiology of Laryngeal Cancer. International Journal of
Environmental Research and Public Health.;8(4):976-984
 Ratiola, H, 2000. Epidemiology, Clinnical Characteristic and Treatment
outcome of Laryngeal Cancer
 Rukmini, Sri dan Sri Herawati.. 2000. Teknik pemeriksaan Telinga
HidungTenggorokan. Jakarta: EGC
 Sjamsuhidayat. 2005.Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC
 Smeltzer & Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC
 Volume 2. Edk 7, Jakarta : EGC