Anda di halaman 1dari 35

DERMATOLOGI

Reaksi Alergi Obat dan Kondisi


Umum Pada Kulit
DERMATOLOGI
• Bahasa Yunani: derma yang berarti kulit

• Adalah cabang kedokteran yang mempelajari


kulit dan bagian-bagian yang berhubungan
dengan kulit seperti rambut, kuku, kelenjar
keringat, dan lain sebagainya.
KULIT
• organ tubuh yang terletak paling luar pada
tubuh manusia
• mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk
memperbaiki diri sendiri ketika terluka
• organ terbesar dalam tubuh dengan luas sekitar
2 m2
• ketebalan pada setiap bagian tubuh berbeda-
beda (0,5-5 mm) dan rata-rata ketebalannya 1-2
mm
JENIS-JENIS KULIT
1. Kulit normal
2. Kulit kombinasi
3. Kulit berminyak
4. Kulit kering
5. Kulit sensitif
FUNGSI KULIT

1. Fungsi Proteksi
melindungi dari gangguan fisik, gangguan
yang bersifat panas dan gangguan infeksi luar.

2. Fungsi absorbsi
kulit sehat tidak mudah menyerap air, larutan
dan benda padat.
3. Fungsi Ekskresi
Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang
tidak berguna atau sisa metabolisme dalam tubuh
berupa NaCl, urea, asam urat dan ammonia.

4. Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung syaraf sensorik di
dermis dan subkutis.

5. Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh


Kulit, jaringan sub kutan dan lemak merupakan
penyekat panas dari tubuh.
6. Fungsi Pembentukan Primer
Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di
lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi syaraf.

7. Fungsi Keratinisasi
Lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis
sel utama yaitu keratinosit, sel langerhans dan
melanosit.
STRUKTUR KULIT
1. Epidermis
terdiri dari 4 lapisan:
 Sel epitel
 Sel superficial
 Sel yang mengandung granula
 Sel yang memproduksi melanin
2. Dermis
terdiri dari jaringan fibrosa yang lebih padat
pada bagian superficial dibandingkan bagian
dalamnya.
3. Hipodermis
 merupakan zona transisional di antara kulit
dan jaringanan diposa dibawahnya.
 Organ ini memberikan respon sensasi panas,
dingin, nyeri, gatal, dan raba ringan.
4. Kelenjar keringat
Terdiri dari glomerolus atau bagian sekresi
dan duktus.

5. Appendises (rambut)
merupakan epitel dan terbentuk dari sel
tanduk yang mengalami modifikasi yang
timbul dalam struktur yang kompleks.
ALERGI
• kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh
seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi
secara imunologi terhadap bahan-bahan yang
umumnya imunogenik (antigenik) atau
dikatakan orang yang bersangkutan bersifat
atopik.
GEJALA UMUM ALERGI:
1. gatal
2. mata berair
3. bersin
4. gatal
5. hidung beringus
6. ruam
7. merasa lelah atau sakit
8. Hives (gatal-gatal dengan bercak merah
dibangkitkan)
Alergi Obat
• adalah suatu reaksi imun yang timbul karena
obat.
• Reaksi ini terdiri dari dua fase, yaitu:
1) fase pertama induksi dari respon imun
spesifik terhadap paparan alergen yang
pertama,
2) fase kedua reaksi alergi (eksitasi), timbulnya
gejala karena terpapar lagi dengan obat
tersebut.
• Hiperpigmentasi di induksi obat : Meningkatkan
melanin (Hidantoin), deposit langsung (Silver,
merkuri, tetrasiklin, antimalarial) atau
mekanisme lain (Fluorourasil).
• Reaksi fotosensitif diinduksi obat, dapat terjadi
fototoksik (reaksi non imunologik), atau reaksi
photoalergi (reaksi imunologi), pengobatan
terkait Phototoksik termasuk amiodaron,
tetrasiklin, sulfonnaid., psoralen, dan coal tar.
Penyebab umum photoalergik adalah
REAKSI KULIT TERHADAP PEMBERIAN
OBAT
PATOFISIOLOGI
1. Exanthematus
 Reaksi obat exanthematus meliputi luka pada maculopapular dan
sindrom hipersensitifitas obat.
 Reaksi urticarial meliputi urticaria, angioedema, dan reaksi serum
sickness-like.
 Reaksi pelepuhan meliputi erupsi obat tertentu, sindrom steven Johnson
dan keracunan syaraf epidermal.
 Erupsi pustular meliputi reaksi pembentukan jerawat, dan
exanthematus pustule akut
2. Hiperpigmentasi
TTerjadi karena berkurangnya jumlah melanin (hidantoin), paparan
langsung (perak, merkuri, tetrasiklin dan antimalaria) atau karena
mekanisme lain (fluorouracil).
Gambar exanthematus
3. Reaksi fotosensitifitas
 Dapat berupa fototoksik (reaksi nonimmunologi) atau fotoalergi (reaksi
immunologi).
 Preaksi fotoalergi ini biasanya disebabkan oleh pemberian obat
sulfonamide, sulfonylurea, thiazid, obat antiinflamasi
nonsteroid(NSAIDs), kloroquin dan karbamazepin.
4. Dermatitis kontak
 Pembengkakan kulit yang disebabkan oleh iritasi dan alergi
sensitive.
 antigenic menyerang imunologi dan rekasinya kadang-kadang
terjadi beberapa hari kemudian.
 Iritasi dermatitis kontak disebabkan oleh bahan organic yang
reaksinya terjadi dalam bebrapa am setelah pemberian obat.
5. Dermatitis popok
 Merupakan rekasi alergi akut, pembengkakan pada pantat , genital dan
daerah perineal.
 Reaksi ini terjadi karena pengaruh fecal langsung dan kelembaban dari
kulit.
6. Atopic dermatitis
 kondisi pembengkakan karena genetic, pengaruh lingkungan dan
mekanisme imunologi.
GEJALA KLINIS
Gejala klinis yang terjadi akibat reaksi obat
diantaranya :
1. Rekasi Kulit Maculopapular
 Sejenis gangguan kulit berupa cacar karena adanya luka maculopapular dan
sindrom hipersensitifitas obat.
 Reaksi alergi kulit yang paling sering terjadi.
 Beberapa obat yang sering menimbulkan reaksi alergi ini diantaranya penisilin,
sefalosporin, sulfonamide dan beberapa obat antikonvulsan.
2. Sindrom Hipersensitifitas Obat
 Letusan exanthematous disertai demam, limfadenopati, dan gangguan organ
(ginjal, hati, paru-paru, sumsum tulang, jantung dan otak).
 Tanda-tanda dan gejala dimulai 1 sampai 4 minggu setelah paparan obat dimulai.
 Beberapa obat yang menyebabkan hal ini diantaranya allopurinol, sulfonamide,
beberapa antikonvulsan, (barbiturate, fenitoin, carbamazepine, dan lamotigrin),
dan dapsone.
Gambar reaksi kulit maculopapular
3. Urtikaria dan angiodema
 Contoh erupsi yang disebabkan oleh obat, kira-kira 5% sampai 10% kasus.
Kasus lain contohnya dari makanan faktor fisik seperti udara dingin,
tekanan, infeksi dan paparan lateks.
 Urtikaria biasanya menjadi tanda (gejala) utama dari serangan reaksi
anafilaksis dikarakteriksi oleh gatal-gatal, pruritis, dan kemerahan disertai
bentol-bentol, angiodema, dan pembengkakan membran mukosa yang
biasnya terjadi dalam beberapa menit sampai satu jam.
 Paparan obat termasuk penisiline dan golongannya, aspirin,
sulfonamide,media radiografi, dan opoid.
4. Penyakit Serum
 Seperti reaksi kompleks erupsi urtikaria disertai demam, ruam (biasanya
urtikaria), dan arthralgia dalam 1 sampai 3 minggu setelah paparan obat
dimulai.
5. Erupsi obat tetap
 Ditandai dengan pruritis, kemerahan, lesi yang menyebabkan lecet.
Gejala ditandai dengan rasa terbakar dan menyengat.
 Beberapa obat yang menyebabkan hal ini tetrasiklin, barbiturate,
sulfonamide, kodein, phenolpanteline, dan NSIADs.
Gambar Urticaria dan Angioderma
6.Sindrom Stevens Johnson (SJS) dan toxic
epidermal necrolysis (TEN)
 Letusan yang jarang namun parah dan mengancam kondisi jiwa. Pasien
menderita pembentukan bolus yang menyakitkan disertai demam, sakit
kepala, dan gejala pernapasan yang menyebabkan gangguan klinis yang
cepat.
 Dapat menyebabkan hilangnya cairan yang ditandai dengan hipotensi,
ketidakseimbangan elektrolit, dan infeksi sekunder.
 Obat yang menyebabkan hal ini diantaranya sulfonamide, penisline,
beberapa antikonvulsan (hydantoin, carbamazepine, barbiturate, dan
lamotrigine), NSAIDs, dan allopurinol.
7. Reaksi obat akneformis
 Reaksi pustular yang disebabkan oleh pengobatan yang menimbulkan
jerawat.
 Penyebab umum melingkupi kortikosteroid, hormon adrogenik, beberapa
antikonvulsan, isoniazid, dan lithium.
Gambar Sindrom Stevens Johnson
8. Acute generalized exanthematous pustulosis
(AGEP)
 Ditandai dengan demam, eritema difus, dan pustule.
 Obat-obatan yang menyebabkan hal ini diantaranya antibiotic β-laktam,
makrolida, dan kalsoim channel blockers.
9. Reaksi kulit yang ditimbulkan oleh matahari
Ditandai dengan eritema, papula, edema, dan beberapa vesikel.
 Timbul pada area yang terpapar sinar matahari (seperti telinga, hidung,
leher, lengan, dan tangan).
10. Dermatitis Diaper
 Menyebabkan ruam eritema,ruam yang disebakan infeksi oleh spesies
Candida dan timbul dengan ditandai palk merah, papula, dan pustule.
11. Dermatitis Atopic
 Timbul secara berbeda, tergantung pada usia.
 Ditandai dengan eritema, belang-belang, pruritis, papular, ruam,
 Biasanya muncul pada leher, dagu,dahi,kulit kepala, dagu, dan belakang
telinga, wilayah hidung dan lipatan paranasal.
DIANOSIS
 Riwayat pasien sangat penting untuk memperoleh
informasi berikut :
 Tanda dan gejala (sedang berlangsung ,peningkatan , waktu , lokasi lesi dan
deskripsi , gejala yang muncul , dan kejadian sebelumnya .
 Urgensi ( keparahan , daerah dan tingkat keterlibatan kulit , tanda-tanda
tanda reaksi sistemik / umum atau kondisi penyakit )
 Riwayat Obat
 Hasil diagnosa

 Penilaian Lesi mencakup identifikasi makula, papula,


nodul, lecet, plak, dan lichenifikasi .

 Lesi harus diperiksa untuk warna , tekstur, ukuran dan


suhu
PENGOBATAN

Tujuan Pengobatan
Tujuan Pengobatan pada pasien dengan
gangguan kulit yaitu untuk meredakan
gejala, menghapus faktor pencetus, mencegah
kekambuhan, menghindari efek samping
pengobatan, dan meningkatkan kualitas
hidup pasien.
PENGOBATAN
1. Jika reaksi kulit terhadap induksi obat dicurigai, langkah penting
adalah menghentikan pemakaian obat.
2. Langkah berikutnya mengendalikan gejala. Untuk demam tinggi,
acetaminophen antipiretik lebih tepat daripada aspirin atau
NSAID lain, yang dapat memperburuk beberapa lesi kulit.
3. Terapi lainnya termasuk kortikosteroid topikal, antihistamin oral
untuk meredakan gatal, dan kompres air dingin pada daerah yang
terkena.
4. Reaksi Fotosensitifitas biasanya selesai dengan penghentian obat.
5. Untuk SJS/TEN yang mengancam jiwa, langkah-langkah yang
dilakukan adalah pemeliharaan tekanan darah , cairan yang
cukup dan keseimbangan elektrolit , antibiotik spektrum luas dan
vankomisin untuk infeksi sekunder , dan IV immunoglobulin (
IVIG ), dan penggunaan kortikosteroid.
PENGOBATAN PADA KONTAK DERMATITIS
1. Pertama meliputi identifikasi, menghindarkan
dari gangguan agen.
2. Kompres dengan air dingin membantu
membersihkan kulit,digunakan untuk
membrsihkan luka, dan di gunakan setiap
selang 20-30 menit.
3. Kortikosteroid topical membantu mencegah
proses yang menyebabkan radang dan
perlakuan aliran.
4. Makanan gandum atau generasi pertama
antihistamin memberikan pertolongan untuk
penyakit gatal yang berlebihan.
PENGOBATAN PADA DERMATITIS DIAPER

1. Bersihkan luka dengan lembut (lebih baik dengan


bahan pembersih nonsabun dan air hangat kuku),
Zink oxide berkhasiat sebagai astringent dan
absorben.
2. Cardida (Ragi) diobati dengan agen anti funsi topical.
Imidazol adalah pilihan pengobatan agen anti fungsi.
3. Pada beberapa orang yang terkena radang ruam
diaper, potensi topical kortikosteroidnya sangat
rendah (hydrokortison 0,5-1%) digunakan untuk
periode yang singkat (1-2 minggu).
PENGOBATAN PADA DERMATITIS ATOPIC
1. Pengobatan Non Farmakologi (Pada anak-anak)
• Mandi pakai air hangat kuku
• Pakai moisturizer setelah mandi
• Pelihara kuku agar tetap pendek
• Pilih kain dari katun halus
• Pemberian obat antihistamin oral dapat mengurangi gatal pada
malam hari.
• Jaga anak agar suhu lingkungan tetap dingin, hindari situasi yang
menyebabkan terlalu panas
• Identifikasi derajat iritasi dan alergi

2. Kortikosteroid topikal adalah obat pilihan . Agen potensi rendah (


misalnya hidrokortison 1 % ) cocok untuk wajah , dan produk-produk
potensi menengah ( misalnya betametason valerat 0,1 % ) dapat
digunakan untuk tubuh.
3. Topikal tacrolimus imunomodulator (Protopic ) dan
pimecrolimus (Elidel) dapat menghambat kalsineurin,
Kedua agen tersebut disetujui untuk dermatitis atopik
pada orang dewasa dan anak-anak dari usia.

4.Preparasi batubara mengurangi litching dan peradangan


kulit.

5. Terapi sistemik yang telah digunakan ( tapi tidak


memperoleh persetujuan FDA ) contohnya
kortikosteroid, siklosporin, interferon - y, azathioprine,
methotrexate, mycophenolate mefetil, IVIG, dan
pengubah respon biologis.
EVALUASI HASIL TERAPEUTIK
1. Informasi mengenai faktor penyebab ,
menghindari zat yang memicu reaksi kulit ,
potensi manfaat dan terapi obat harus
disampaikan kepada pasien.
2. Penderita kondisi kulit kronis harus dievaluasi
secara berkala untuk menilai pengendalian
penyakit, kemanjuran terapi saat ini, dan
adanya kemungkinan efek samping.