Anda di halaman 1dari 43

KERANGKA KONTROL

HORIZONTAL (KKH)
KERANGKA KONTROL HORIZONTAL
(KKH)

Anggota Kelompok :
• M. AFRIAN Y. V. M
• AGUS DARMAWAN
• EKO PURWOKO SUCAHYO

Jurusan Teknik Sipil – Fakultas Teknik


Universitas 17 Agustus 1945
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya Telp (031) 5925289
PENGERTIAN
• Kerangka Kontrol Horizontal (KKH)
merupakan kerangka dasar
pemetaan yang memperlihatkan
posisi horizontal (X,Y) antara satu
titik relatif terhadap titik yang lain
di permukaan bumi pada bidang
datar.
KERANGKA KONTROL HORIZONTAL
(KKH)

• Digunakan Untuk memindahkan bayangan dari


sebagian atau seluruh permukaan bumi yang tidak
teratur ke atas suatu bidang datar yang biasa
disebut “peta”
• Dan Untuk menggambarkan peta tersebut perlu
dibuat terlebih dahulu suatu kerangka yang
mempunyai posisi lokal atau posisi tetap yang akan
melingkupi wilayah yang akan dipetakan untuk
menentukan posisi horizontal relatif titik-titik dalam
satu sistem “ koordinat ”
METODE KKH

• Poligon
• Perpotongan ke muka
• Perpotongan ke belakang
• Triangulasi
• Trilaterasi
• Triangulaterasi
POLIGON

Menentukan posisi titik yang belum diketahui


koordinatnya dari titik yang sudah diketahui
koordinatnya, semua jarak dan sudut dalam
polygon di ukur.
PERPOTONGAN KEMUKA

koordinat suatu titik dicari dari 2 buah titik


tetap yang telah diketahui, kemudian diukur
sudut dan jarak dari titik tetap kearah titik yang
akan dicari koordinatnya.
PERPOTONGAN KEBELAKANG

• Minimum dibutuhkan 3 (tiga) buah titik tetap, alat


ukur sudut diletakkan pada titik yang akan dicari
koordinatnya. Dari titik tersebut diukur masing-
masing sudut dan jarak antar titik, sehingga
koordinat titik akan didapatkan
TRIAGULASI

• Untuk menentukan posisi horizontal dari suatu titik


dengan metode triangulasi, semua sudut dalam
segitiga harus diukur dan satu basis/ sisi segitiga
harus diketahui.
TRILATERASI

• Pada metode trilaterasi semua sisi dari segitiga


harus diukur jaraknya untuk mendapatkan posisi
horizontal dari suatu titik. Jadi jarak setiap sisi
segitiga diukur sehingga membentuk rangkaian
segitiga-segitiga
TRIANGULATERASI

• Pada metode triangulaterasi semua sisi dan jarak


dari segitiga harus diukur untuk mendapatkan posisi
horizontal suatu titik
POLIGON
(TRAVERS)

• Poligon adalah serangkaian garis lurus yang


menghubungkan titik-titik yang terletak di
permukaan bumi.
• Dibutuhkan jarak mendatar dan sudut mendatar
yang digunakan untuk menentukan posisi relatif
titik-titik poligon dalam satu sistem koordinat.
MACAM-MACAM POLIGON

Poligon dapat dibedakan berdasarkan dari [1] bentuk


dan [2] titik ikatnya.

1. Poligon Menurut Bentuknya


2. Poligon Menurut Titik Ikatnya
1. POLIGON MENURUT BENTUKNYA

Berdasarkan bentuknya poligon dapat dibagi


menjadi empat macam, yaitu :

a) poligon terbuka
b) tertututup
c) bercabang
d) kombinasi
A) POLIGON TERBUKA

Poligon terbuka adalah poligon yang titik awal dan


titik akhirnya merupakan titik yang berlainan (tidak
bertemu pada satu titik).
B) POLIGON TERTUTUP

Poligon tertutup atau kring adalah poligon yang titik


awal dan titik akhirnya bertemu pada satu titik yang
sama. Pada poligon tertutup, koreksi sudut dan koreksi
koordinat tetap dapat dilakukan walaupun tanpa titik
ikat.
C) POLIGON BERCABANG

Poligon cabang adalah suatu poligon yang dapat


mempunyai satu atau lebih titik simpul, yaitu titik
dimana cabang itu terjadi.
D) POLIGON KOMBINASI

Bentuk poligon kombinasi merupakan gabungan dua


atau tiga dari bentuk poligon yang ada.
2. POLIGON MENURUT TITIK
IKATNYA
a) Poligon Terikat Sempurna
 Poligon tertutup terikat sempurna
 Poligon terbuka terikat sempurna
b) Poligon Terikat Tidak Sempurna
 Poligon tertutup tidak terikat sempurna
 Poligon terbuka tidak terikat sempurna
c) Poligon Tidak Terikat/Bebas
A) POLIGON TERIKAT SEMPURNA

• Suatu poligon yang terikat sempurna dapat terjadi


pada polygon tertutup atau terbuka, suatu titik
dikatakan sempurna sebagai titik ikat apabila
diketahui koordinat dan jurusannya/ azimuthnya
minimum 2 buah titik ikat dan tingkatnya berada di
atas titik yang dihasilkan
 Poligon tertutup terikat sempurna, apabila yang terikat oleh
azimuth dan koordinat
 Poligon terbuka terikat sempurna, apabila masing-masing
ujungnya terikat azimuth dan koordinat
B) POLIGON TERIKAT TIDAK
SEMPURNA

• Dapat terjadi pada poligon tertutup ataupun


terbuka, dikatakan titik ikat sempurna apabila titik
ikat tersebut diketahui koordinatnya atau hanya
jurusannya/ azimutnya
 Poligon tertutup tidak terikat sempurna, yang terikat pada
koordinat atau azimuthnya saja
 Poligon terbuka tidak terikat sempurna, dikarenakan tidak
adanya sebuah koreksi sudut dalam penghitungannya
C) POLIGON TIDAK TERIKAT/BEBAS

• Poligon tertutup tanpa ikatan sama sekali (poligon


lepas)
• Poligon terbuka tanpa ikatan sama sekali (poligon
lepas), pengukuran seperti ini akan terjadi pada
daerah-daerah yang tidak ada titik tetapnya dan
sulit melakukan pengukuran baik dengan cara
astronomis maupun dengan satelit. Poligon
semacam ini dihitung dengan orientasi lokal artinya
koordinat dan azimuth awalnya dimisalkan
sembarang.
UNSUR DALAM MENGHITUNG
POLIGON

SUDUT

AZIMUTH JARAK
CONTOH POLIGON
RUMUS UMUM PERHITUNGAN
POLIGON

Untuk mendapatkan koordinat titik 1, 2, 3 dan 4, maka


diadakan pengukuran sudut ( β1 ; β2 ; β3 ; β4 ) dan
pengukuran jarak ( dB1; d12; d34; d4c).
Rumus koordinat secara umum :
Xn+1 = Xn + dn,(n+1) Sin α n,n+1
Yn+1 = Yn + dn,(n+1) Cos α n,n+1
Xn+1 = Xn + dn,(n+1) Sin α n,n+1
Yn+1 = Yn + dn,(n+1) Cos α n,n+1

Catatan:
• Xn+1 = absis yang dicari
• Yn+1 = ordinat yang dicari
• Xn = absis yang diketahui
• Yn = ordinat yang diketahui
• d n, n+1 = jarak antara titik yg diketahui dan titik yg
dicari
• α n, n+1 = azimuth antara titik yg diketahui dan titik
yg dicari
SPESIFIKASI PENGUKURAN &
HITUNGAN SUDUT :
SUDUT HORIZONTAL (DATAR) DIUKUR SEBANYAK 2 SERI
GANDA
TOLERANSI PERBEDAAN SERI I & II HARUS
=I√(N/n)
i = BACAAN TERKECIL
N = JUMLAH TITIK
n = JUMLAH SERI
TOLERANSI SALAH PENUTUP SUDUT UKURAN
=I√(N)
SPESIFIKASI PENGUKURAN &
HITUNGAN JARAK
TOLERANSI PERBEDAAN UKURAN PERGI PULANG
=(1/2500)
TOLERANSI SALAH PENUTUP KOORDINAT ATAU
KETELITIAN RELATIFNYA=( 1/2500).

KETELITIAN RELATIF =

DIMANA : √ (fx2 + fy 2) = SALAH LINIER


Σ D = JUMLAH JARAK SISI
SYARAT GEOMETRIS HITUNGAN
KOORDINAT :

1. SYARAT SUDUT : αak - α aw = Σ β - n. 1800 ± f β


2. SYARAT ABSIS : Xak - X aw = ΣΔ X ± f X
3. SYARAT ORDINAT : Yak - Y aw = Σ ΔY ± f Y
4. POLIGON TERTUTUP
 n = n + 2 (SUDUT LUAR)
 n = n – 2 (SUDUT DALAM)
Xak - X aw = 0 = ΣΔ X ± f X
Yak - Y aw = 0 = Σ ΔY ± f Y
• Untuk poligon tertutup yang diukur sudut dalamnya,
maka :
• Syarat sudut : 0 = Σβ - ( n - 2 )x 180⁰ + fβ
• Syarat absis : 0 = Σ ΔX + fx
• Syarat ordinat: : 0 = ΣΔY + fy

• Untuk poligon yang diukur sudut luarnya, maka :


• Syarat sudut : 0 = Σβ - ( n + 2 )x 180⁰ + fβ
• Syarat absis : 0 = Σ ΔX + fx
• Syarat ordinat: 0 = ΣΔY + fy
CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN
CONTOH SOAL

• Soal 1
CONTOH SOAL

• Soal 2
• Suatu poligon tertutup yang diikatkan pada suatu
koordinat awal dimana X1 = 10 m dan Y1 = -5
meter sedangkan azimuth awalnya 145o maka
apabila didapatkan hasil pengukuran sudut sbb : β1
= 92o30’20“ ; β2 = 89o20’10“ ; β3 = 91o10’10“ ; β4 =
86o59’10“ dan d1-2 = 52 meter , d2-3 = 50 meter , d3-4
= 58 meter , d4-1 = 50 meter. Maka hitunglah
koordinat titik-titik yang lain.
CONTOH SOAL

• Soal 3
• Suatu poligon terbuka yang diikatkan pada titik
awal A (60.115 ; 90,227) dan titik akhir B (-8,145 ;
207,991) , sedangkan φawal =
359o18’06“ dan φakhir = 183o28’56“ apabila
didapatkan data : β1 = 207o47’13“ ; β2
= 145o35’22“ ; β3 = 143o29’37“ ; β4 = 88o55’09“ ; β5 =
138o23’20“ dan dA-1 = 63 meter, d1-2 = 60 meter ,
d2-3 = 62 meter , d3-4 = 58 meter , d4-5 = 61 meter , d5-
B = 59 meter.
• Hitunglah koordinat titik 1, 2, 3, 4 dan 5.