TINEA CRURIS
Oleh :
Ripal Alphali Gustion (1410070100017)
Fallgyo Pramana Effendi (1410070100163)
Olyvia Marantika Sari (1410070100040)
Preseptor : dr. H. Yosse Rizal, Sp.KK
Defenisi
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan
yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum
korneum pada epidermis, rambut dan kuku, yang
disebabkan golongan jamur dermatofita. Jamur ini
dapat menginvasi seluruh lapisan stratum korneum
dan menghasilkan gejala melalui aktivitas respon
imun pejamu.
Definisi
Tinea kruris adalah mikosis superfisial atau
disebut juga Eczema marginatum, Dobie itch,
Jockey itch, Ringworm of the groin. yang
termasuk golongan dermatofitosis pada lipat
paha, daerah perineum, dan sekitar anus. . Lesi
kulit dapat terbatas pada daerah genito krural
saja, atau meluas ke daerah sekitar anus, daerah
gluteus dan perut bagian bawah, atau bagian
tubuh yang lain.
Epidemiologi
Tinea Cruris
Banyak terjadi pada daerah tropis dan ketika musim
panas dimana tingkat kelembapannya cukup tinggi.
Penyakit ini lebih sering mengenai laki-laki, terutama
pada individu dengan obesitas atau pada individu
yang sering menggunakan pakaian ketat. Penyakit ini
lebih banyak ditemukan pada orang dewasa
dibandingkan dengan anak-anak.
Etiologi
Trichophyton
Microsporum Epidermophyton
Dermatofitosis
Klasifikasi
Tinea capitis dermatofitosis pada kulit dan
rambut kepala
Tinea barbae dermatofitosis pada dagu dan
jenggot
Tinea kruris dermatofitosis pada daerah
genitokrural, sekitar anus, bokong, dan kadang
kadang sampai perut bagian bawah
Tinea pedis at manum dermatofitosis pada
kaki dan tangan
Tinea unguium dermatofitosis pada
kuku jari, tangan dan kaki
Tinea korporis dermatofitosis pada
kulit glabrosa pada bagian lain yang tidak
termasuk bentuk lima tinea diatas.
Selain enam bentuk tinea masih di kenal istilah yang punya arti
khusus yaitu :
Tinea favosa (favus )
Tiniea imbrikata
dermatofitosis yang terutama
dermatofitosis dengan susunan
disebabakan Trichophyton
skuama yang konsentris dan
schoenleni: secara klinis antara
disebabkan Trichophyton
lain terbentuk skutula dan berbau
concentricum
seperti tikus (maousy odor).
Tinea fasialis, tinea aksilaris, Tinea sirsinata, arkuata yang
yang juga menunjukkan daerah merupakan penamaan deskriptif
kelainan. morfologis.
Patogenesa
Penularan dermatofita berdasarkan tempat
hidupnya:
1. Antrofilik
2. Zoofilik
3. Geogilik
Dermatofitosis
Patogenesa Dipengaruhi oleh :
Perlengketan pada
sel keratinosit • kedekatan antara
kedua sel
•Pengaruh sebum
Dermatofit •Pengaruh suhu
memproduksi Aktifitas
keratinase proteolitik lipolitik
(keratolitik)
Mengeluarkan
Hidrolisis keratin
serin proteinase
Pertumbuhan
Katabolisme
jamur pd sel
protein pd sel
keratinosit
Mempermudah
perlengketan
Sel menjadi lisis
Penetrasi
dermatofit
kedalam sel
- Poteinase
- Lipase
- Enzim musinolitik
penyamaran pengendalian penyerangan
- Pembentukan kapsul polisakarida Mengahambat Sekresi toksin
- Memicu pertumbuhan filamen hifa sistem imun host (protease)
Resistensi
Merusak sistem
terhadap Fagositosis ↓
imun
fagositosis
me↑ invasi
kedalam sel
Respon imun
Non spesifik spesifik
Struktur kulit,
keratinisasi & proliferasi Substansi anti Imunitas
Rx. inflamasi
epidermis yang jamur humoral
bertindak sbg barier
Proliferasi / 2 makro
Akumulasi
penebalan Unsaturated globulin
keratinisasi netrofil di CMI
lapisan str transferin keratinase
epidermis
korneum inhibitor
Mengahambat Mengahambat
Mengahambat
deskuamasi pertumbuhan invasi Sel T
penetrasi
dermatofit dermatofit
Merangsang
lisis dermatofit proliferasi sel B
mjd sel plasma
Antibodi (Ig G,
Ig A, Ig M, Ig E)
Gambaran Klinis
Keluhan • GATAL
Gambaran klinis
Tinea cruris pada lipat paha
• lesi berbatas tegas
• sifat akut atau menahun.
• bercak eritema yang gatal, lama kelamaan meluas
secara sentrifugal skrotum, pubis, gluteal, bahkan
sampai paha, bokong dan perut bawah.
• Tepi lesi aktif bentuk polimorf, ditutupi skuama
dan papul maupun vesikel di sekelilingnya
Pemeriksaan Fisik
Lesi khas: plak eritematosa
berbatas tegas. Tepi lesi
meninggi dapat disertai
vesikel, dan papul
Distribusi lesi seringkali
bilateral.
Bagian tengah menyembuh
(Central healing).
15
Lesi kronis: Likenifikasi
disertai skuama dan
hiperpigmentasi.
Garukan >> erosi
16
Pemeriksaan Penunjang
Kerokan kulit dengan larutan KOH 10% atau 20%
Bila positif memperlihatkan elemen jamur berupa hifa
panjang dan artrosfora
Pemeriksaan dengan pembiakan dilakukan dengan
menanamkan bahan klinis pada media buatan (agar
Sabouraud)
Diagnosis
PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
ANAMNESIS
FISIK PENUNJANG
Diagnosa Banding
1. Dermatitis Seboroik
2. Psoriasis
3. Pitiriasis rosea
Penatalaksanaan
1.Topical azol terdiri atas :
a. Econazol 1 %
b. Ketoconazol 2 %
c. Clotrinazol 1%
d. Miconazol 2% dll.
Penatalaksanaan
Terapi Sistemik:
- Antifungi
1. Griseofulvin
2. Ketokonazol
3. Flukonazol
4. Itrakonazol
- Anti histamin
Prognosis
Untuk tinea yang bersifat lokal, prognosisnya akan
baik dengan tingkat kesembuhan 70-100% setelah
pengobatan dengan azol topikal atau allilamin atau dengan
menggunakan anti jamur sistemik.
Laporan Kasus
Nama : Tn. A
Umur : 35 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Bukittinggi
Pekerjaan : Petani
Anamnesa
Keluhan Utama
Timbul bercak kemerahan gatal disela paha sejak 2 minggu
yang lalu
Anamnesa
Riwayat Penyakit Sekarang
Awalnya berupa bintik merah dipaha bagian dalam
kemudian meluas ke arah paha bagian luar, gatal
dirasakan pada waktu siang berkeringat dan malam
mau tidur.
Pasien bekerja di ladang dari jam 9 pagi sampai 4 sore,
pasien mengeluhkan banyak keringat, pasien mandi
2x/hari tetapi pakaian kerja diganti 1x /2hari.
Anamnesa
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sudah pernah sakit seperti ini 6 bulan yang lalu
Riwayat penyakit keluarga
Ada anggota keluarga yang juga mengulahkan bercak
merah gatal disela paha
Riwayat Pengobatan
Pasien pernah mengeluhkan sakit seperti ini 6 bulan
yang lalu berobat ke puskesmas dapat tablet dan
cream keluhannya membaik
Riwayat Kebiasaan
Pasien bekerja di ladang setiap hari dari jam 8 pagi sampai
jam 4 sore
Pasien mandi 2x sehari tapi pakaian kerjanya tidak diganti
tiap hari
Handuk pasien pernah dipakai bergantian dengan
temannya.
Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata
Keadaan Umum : Sakit Sedang
Kesadaran : Compos Mentis Cooperatif
Pemeriksaan Thoraks : Diharapkan dalam batas
normal
Pemeriksaan Abdomen : Diharapkan dalam batas
normal
Pemeriksaan Fisik
Status Dermatologikus
Lokasi : Paha dalam dan paha luar sebelah kiri
Distribusi : Regional
Bentuk : Khas
Susunan : Polisiklik
Batas : Tegas
Ukuran : Plakat
Efloresensi : Makula eritema, skuama halus, papul
eritema
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan KOH
Diagnosis
Tinea cruris
Diagnosis Banding
Pitiarisis Rosea
Penatalaksanaan
Edukasi
Memberikan edukasi tentang penyakit pasien, penyebab,
cara penularan dan terapi.
Menjaga daerah yang terinfeksi agar tetap kering.
Tidak menggunakan peralatan mandi bersama.
Jangan menggaruk daerah yang terkena jamur.
Mengurangi keringat dan penguapan dari daerah lipat
paha seperti penggunaan pakaian yang menyerap keringat
dan longgar agar daerah lipat paha tetap kering.
Daerah lipat paha harus benar benar dikeringkan setelah
mandi dan diberikan bedak.
Pencucian rutin pakaian, sprei, handuk yang
terkontaminasi.
Penatalaksanaan
Medikamentosa
Obat sistemik :
Loratadin tablet 1 x 10 mg
Topikal :
Ketokonazol salp 2%
Prognosa
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Bonam
Quo sanationam : Bonam
Quo ad cosmetikum : Bonam
Kesimpulan
Pasien di diagnosa dengan tinea cruris karena dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik mendukung kearah
diagnosis tersebut. Penyebab terjadinya tinea cruris
tersering adalah Trichophyton. Faktor predisposisi
terutama lingkungan dengan kelembaban yang tinggi dan
cuaca panas sangat berperan memudahkan timbulnya
penyakit ini.