Anda di halaman 1dari 10

INOVASI

KELEMBAGAAN
Disusun Oleh :
Kelompok : 7
• Aliyatul Marzuqoh
• Nurwidi Astuti
• Wulan Marlina
Inovasi Kelembagaan
Sekolah/Madrasah Unggulan/Model

Istilah sekolah unggul pertama kali diperkenalkan pada


tahun 1994 oleh mantan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud), Wardiman Djojonegoro.
Istilah sekolah unggul lahir dari satu visi yang jauh
menjangkau ke depan, wawasan keunggulan.
Permasalahan penyebab :
• Masalah kurikulum madrasah yang masih belum “fokus”
• kebijakan pengembangan madrasah yang masih
bersifat “tambal sulam”
• Belum adanya blue print (cetak biru) pengembangan
madrasah
Tipe-tipe :
Karakteristik :
 berbasis pada anak  Prestasi akademis dan
cerdas nonakademis di atas rata-
rata sekolah yang ada di
 berbasis pada fasilitas daerahnya.
 Sarana dan prasarana dan
 berbasis pada iklim layanan yang lebih lengkap.
belajar  Sistem pembelajaran lebih
baik dan waktu belajar lebih
panjang.
 Melakukan seleksi yang
Perencanaan : cukup ketat terhadap
 Reformulasi visi-misi
pendaftar.
 Mendapat animo yang besar
dan tujuan dari masyarakat, yang
kelembagaan dibuktikan dengan
banyaknya jumlah pendaftar
 Analisis kebutuhan dibandingkan dengan
kapasitas kelas.
sistem akademis dan  Biaya sekolah lebih tinggi dari
kelembagaan sekolah di sekitarnya.
Visi : terwujudnya individu yang memiliki sikap
agamis, berkemampuan ilmiahdiniah,
terampil dan profesional, sesuai dengan
tatanan kehidupan.
Misi : Menciptakan calon agamawan yang
berilmu, Menciptakan calon ilmuwan
yang beragama, dan Menciptakan calon
tenaga terampil yang profesional dan agamis
Tujuan : menghasilkan kurikulum pendidikan yang
memiliki keunggulan dalam hal keimanan dan
ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
nasionalisme dan patriotisme yang tinggi,
wawasan iptek yang mendalam dan luas,
motivasi dan komitmen yang tinggi untuk
mencapai prestasi dan keunggulan, kepekaan
sosial dan kepemimpinan disipin tinggi
ditunjang dengan kondisi fisik yang prima
Profil :
 Aspek manajemen Performa madrasah model :
 Aspek ketenagaan  Memiliki kultur yang kuat.
 Aspek kesiswaan  Kepemimpinan
 Aspek kultur belajar kolaboratif dan belajar
 Aspek sarana dan kolektif
prasarana
 Pembiasaan siswa

Persyaratan :
menghadapi perubahan
 Memiliki manajemen
madrasah yang baik Desain pengembangan :
 SDM yang berkualitas
 Kepala madrasah
 Kelengkapan sarana
dan prasarana  Guru
pendidikan  Kurikulum
 Bantuan pendidikan
 Pembelajaran
yang memadai
 Keunggulan kualitas  penilaian
lulusan
Inovasi Kelembagaan Universitas Islam Negeri
1. Rasionalitas
Setidaknya terdapat lima alasan yang melatar belakangi perlunya
inovasi kelembagaan yaitu konversi IAIN menjadi UIN, sebagaimana
dijelaskan Nata (2003:64) sebagai berikut:
a) Adanya perubahan jenis pendidikan pada madrasah Aliyah (MA)
merupakan sekolah agama, maka sekarang MA sudah menjadi sekolah
umum yang bernuansa agama.
b) Adanya dikhotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.
c) Perubahan IAIN menjadi UIN akan memberikan peluang yang lebih luas
kepada para lulusannya untuk dapat memasuki lapangan kerja yang
lebih luas.
d) Perubahan IAIN menjadi UIN dipelrukan dalam rangka memberikan
peluang kepada lulusan IAIN untuk melakukan mobilitas vertikal yakni
kesempatan dan peran untuk memasuki medan gerak yang lebih luas.
e) Perubahan IAIN menjadi UIN juga sejalan dengan tuntutan umat Islam
yang selain menghendaki adanya pelayanan penyelenggaraan
pendidikan yang profesional dan berkualitas tinggi juga lebih
menawarkan banyaknya pilihan.
2. Pengembangan Fakultas dan Program
Studi

Dalam hal ini pengembangan


fakultas dan program studi di lingkungan
UIN setidaknya mengacu kepada 3 (tiga)
dimensi yaitu:
 Dimensi universalitas Islam.
 Dimensi kebutuhan masyarakat masa
depan.
 Dimensi regulasi.
3. Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum di
lingkungan UIN mengacu kepada 4
(empat) faktor yaitu:
Perubahan pandangan filosofis.
Perubahan kemasyarakatan.
Perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Perubahan kebijakan dalam
bidang pendidikan.
4. Pengembangan Bidang Penelitian
Penyelenggaraan penelitian di UIN
diarahkan untuk mencapai tiga tujuan secara
simultan yaitu:
(1) untuk meningkatkan mutu penelitian,
mencakup proses dan hasil yang diperoleh,
(2) untuk meningkatkan diversifikasi penelitian
mencakup penelitian akademik, penelitian
pengembangan, penelitian kebijakan dan
penelitian aksi, dan
(3) untuk meningkatkan manfaat hasil penelitian,
mencakup pengembangan ilmu dan
penunjang kemajuan masyarakat Indonesia.
5. Pengembangan Bidang Pengabdian Masyarakat
Pengabdian kepada masyarakat (PKM) memiliki banyak fungsi bagi
civitas akademika UIN, beberapa hal yang dapat diidentifikasi sebagai
berikut:
 PKM merupakan corong civitas akademikan untuk memperkenalkan UIN
kepada masyarakat.
 PKM merupakan media bagi UIN dalam transfer pengetahuan kepada
masyarakat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan.
 PKM berfungsi sebagai laboratorium bagi mahasiswa untuk melatih diri dan
memantapkan pengetahuan dan keahliannya agar benar-benar berguna
bagi kehidupan mereka ke depan.
 PKM menjadi wadah pembinaan karakter mahasiswa agar terbiasa
beradaptasi dengan masyarakat dalam interaksi yang wajar dalam proses
transfer pengetahuan dan teknologi.
 PKM menjadi media pematangan teori-teori dan metode-metode
pemberdayaan masyarakat yang telah dirancang secara akademis, agar
dapat dipublikasikan untuk dimanfaatkan oleh pihak lain yang berminat.
 PKM merupakan cara alternatif untuk memperoleh umpan balik dan
masukan bagi UIN dalam rangka peningkatan mutu akademik dan
perbaikan pola pelaksanaan pengabdian pada masyarakat sesuai
dengan kebutuhan masyarakat dalam pembangunan.

Anda mungkin juga menyukai