Anda di halaman 1dari 35

SANTY OVRIANY,M.

Si
Nip. 197903092005022006

LABORATORIUM FISIKA
SMA NEGERI 1 LEBONG
GELOMBANG CAHAYA
Gelombang elektromagnetik adalah suatu
gelombang yang dapat merambat tanpa
membutuhkan medium dan merupakan
gelombang transversal.

Contohnya seperti: sinar ultraviolet, peralatan


elektronik, radioaktif, satelit, televisi, pemancar
radio dan lain sebagainya.
Cahaya Sebagai Gelombang Elektromagnetik

Cahaya adalah energi berbentuk g


elombang elektromagnetik yang
kasat mata dengan panjang
gelombang sekitar 380–750
nm. Pada bidang fisika, cahaya
adalah radiasi elektromagnetik, Cepat rambat gelombang
baik dengan panjang gelombang cahaya:
kasat mata maupun yang tidak. v  3 108 m / s

Ayo cari tahu!!!


Apa bedanya cahaya dan
sinar?
Interaksi Cahaya dengan Bahan
Bahan tembus cahaya adalah bahan yang
memungkinkan untuk dilewati cahaya sehingga
benda pada sisi lain dapat terlihat jelas

Bahan tak tembus cahaya adalah bahan yang


dapat memantulkan dan menyerap cahaya tanpa
meneruskannya
Bahan buram merupakan bahan yang
memungkinkan untuk dilewati cahaya tetapi
menyebar sehingga benda-benda pada sisi lain tidak
terlihat jelas
Sifat-Sifat Gelombang Cahaya

Intererensi

Difraksi

Polarisasi

Dispersi
Interferensi

Interferensi adalah sebuah peristiwa yang terjadi


ketika dua buah gelombang bertemu pada saat
bergerak melalui medium yang sama.
Syarat terjadinya interferensi:
1. Koheren (beda fase selalu tetap)
2. Frekuensi sama
3. Amplitudo hampir sama
Apabila kedua gelombang cahaya berinteferensi
saling memperkuat (bersifat konstruktif), maka
akan menghasilkan garis terang yang teramati pada
layar.

Apabila kedua gelombang cahaya berinterferensi


saling memperlemah (bersifat destruktif), maka
akan menghasilkan garis gelap yang teramati pada
layar.
• Paduan Gelombang  Paduan Gelombang Saling
Melemahkan
Saling Menguatkan
INTERFERENSI KONSTRUKTIF
• Beda Fase

• Beda Lintasan

• Pita Terang
INTERFERENSI DESTRUKTIF
• Beda Fase

• Beda Lintasan

• Pita Terang
• Jarak antara pita terang dan gelap berdekatan
DIFRAKSI

• Gelombang cahaya mengalami pembelokan


karena adanya penghalang berupa celah.
DIFRAKSI CELAH TUNGGAL
• Pita gelap ke-n

• Letak garis gelap ke-n dari terang pusat


KISI DIFRAKSI
• Garis terang ke-n

• Tetapan kisi
Polarisasi
Polarisasi adalah terserapnya sebagian arah getar
gelombang transversal sehingga gelombang hanya
memiliki satu arah getar saja.
Jika sinar datang pada cermin datar dengan sudut
57°, maka sinar ini merupakan sinar terpolarisasi.
Perhatikan gambar berikut
DISPERSI CAHAYA

Dispersi adalah gejala peruraian cahaya


putih (polikromatik) menjadi cahaya berwarna-
warni (monokromatik).

Cahaya putih merupakan cahaya


polikromatik, artinya cahaya yang terdiri atas
banyak warna dan panjang gelombang.
Ketika cahaya putih (polikromatik)
dilewatkan pada prisma, ternyata sinar
biasnya akan terurai menjadi beberapa
cahaya yang dikenal dengan warna pelangi.
Warna pelangi yang terbentuk
membentuk deretan warna kontinu.
Hasil pengamatan menunjukkan ada
tujuh warna cahaya yang diuraikan, yaitu
merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan
ungu.
Dalam pengukuran panjang gelombang untuk
beberapa warna digunakan alat spektroskop atau
spectrometer. Panjang gelombnag cahaya akan
berbeda untuk setiap warna yang berbeda. Panjang
gelombang terbesar untuk warna merah dan yang
terkecil untuk warna ungu, sedangkan warna lain
terletak diantara kedua nilai itu.
Panjang gelombang cahaya
Panjang gelombang cahaya ini membentuk
pita garis-garis paralel, tiap warna bernuansa
dengan warna di sebelahnya. Pita ini disebut
spektrum. Di dalam spektrum, garis merah selalu
berada pada salah satu sisi dan biru serta ungu di
sisi lain, dan ini ditentukan oleh perbedaan panjang
gelombang.
Cepat rambat cahaya menjadi berkurang bila
memasuki media bening yang lebih rapat daripada
udara. Hal ini berakibat ikut berkurangnya panjang
gelombang cahaya dari masing-masing sinar
monokhromatik itu, sehingga masing-masing warna
mengalami pembiasan yang arahnya berbeda satu
dengan yang lain.
Setiap panjang gelombang memiliki indeks
bias yang berbeda. Semakin kecil panjang
gelombangnya semakin besar indeks biasnya.
Hubungan indeks bias medium n, dan
panjang gelombang dalam medium λn yang
dinyatakan oleh persamaan :
Prisma adalah benda bening (transparan)
terbuat dari gelas yang dibatasi oleh dua bidang
permukaan yang membentuk sudut tertentu yang
berfungsi menguraikan (sebagai pembias) sinar
yang mengenainya. Permukaan ini disebut bidang
pembias, dan sudut yang dibentuk oleh kedua
bidang pembias disebut sudut pembias (β).
Pada segiempat ABCE berlaku hubungan:
β + ABC = 1800
Pada segitiga ABC berlaku hubungan:
r1 + i2 + ABC = 1800
sehingga diperoleh hubungan:
β + ABC = r1 + i2 + ABC
Sudut pembiasnya:

dengan:
β =sudut pembias prisma
i2 =sudut datang pada permukaan 2
r1 =sudut bias pada permukaan 1
Sudut deviasi (δ) adalah sudut yang
dibentuk oleh perpanjangan sinar datang mula-
mula dengan sinar yang meniggalkan bidang
pembias atau pemantul.
Lebar spectrum yang ditimbulkan oleh prisma bergantung pada
selisih deviasi warna ungu dan warna merah. Selisih sudut antara
deviasi warna ungu dnegan sudut deviasi warna merah disebut sudut
dispersi φ. Secara sistematis :

Dengan :
φ = sudut deviasi
δu = sudut deviasi sinar ungu
δm = sudut deviasi sinar merah
nu = indeks bias prisma untuk sinar ungu
nm = indeks bias prisma untuk sinar merah
β = sudut pembias
Contoh Soal

Seberkas cahaya putih menembus


sebuah prisma tipis dengan sudut
pembias 10°, jika indeks bias untuk
cahaya merah dan ungu masing-masing
1,49 dan 1,52, tentukanlah besar sudut
dispersinya?
Penyelesaian

1. Diketahui: β = 10°
nm = 1,49
nu = 1,52
Ditanyakan: φ = . . .?
Jawab:
φ = (nu – nm) β
φ = (1,52 – 1,49)10°
φ = (0,03)10°
φ = 0,3°
Contoh Soal
Sebuah prisma kaca flinta mempunyai sudut
puncak 10 derajat. Diketahui indeks bias
kaca flinta untuk kedua sinar tersebut nm =
1,644 dan nb = 1,664. Dalam keadaan
deviasi minimum, besar sudut dispersi
antara sinar inframerah dengan sinar ungu
adalah...
Penyelesaian

1. Diketahui: β = 10°
nm = 1,644
nb = 1,664
Ditanyakan: φ = . . .?
Jawab:
φ = (nb – nm) β
φ = (1,664 – 1,644)10°
φ = (0,02)10°
φ = 0,2°