Anda di halaman 1dari 17

Kewajiban Beribadah dan

Bersyukur Kepada ALLAH


Swt.
KeLOMPOK 3 :
1. M. ADITIA PRASETYO
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu
2. DESI MAHARANI N. dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
3. ALIF FALDO P.Y. menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang
4. M. ALDO WIJAYA yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
5. DITA PUJI K. orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
6. LAKSAMANA S.M. Mengenal”.
(Qs. al-Hujurat: 13)
7. M. GHANY ISKANDAR
8. DONA PUTRI
9. M. FARIZ RAMADHAN
Kewajiban Beribadah & Bersyukur
Kepada Allah SWT
Allah Swt. berfirman:
"Dan, Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku"
(QS Adz-Dzaariyaat[51]:(56)
Kata ibadah adalah bentuk dasar (isim masdar) dari kata ‘abada – ya’budu [‫]ع يب يد ي – ييي يعع ب دد د‬yang secara bahasa
artinya merendahkan diri dan ketundukan (al-khudhu’ wa tadzallul).
Allah SWT tidak menciptakan jin dan manusia sebagai sesuatu yang sia-sia dan tidak berguna. Dia juga tidak
menciptakan mereka untuk makan, minum, senda gurau, bermain dan tertawa. Dia menciptakan mereka untuk
suatu perkara yang besar, yakni menyembah-NYA, mengesakan-NYA, mengagungkan-NYA, membesarkan-NYA
dengan melakukan segala perintah-NYA dan menjauhi semua larangan-NYA.
Allah SWT telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-NYA. Bahkan, kegiatan ibadah ini tidak
saja dilakukan oleh manusia saai ini (setelah Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam), melainkan sebelum
beliau ada. Oleh karena itu, manusia hidup untuk ibadah, bukan selainnya. Setiap gerak dan langkah manusia
adalah ibadah; baik saat bekerja di kantor, istirahat di rumah, menuntut ilmu di sekolah, dan dimana pun.
Dengan demikian, ibadah adalah tugas manusia yang perlu dihayati dan diamalkan tanpa terkecuali.
Menurut Kamus Arab - Indonesia, kata syukur diambil dari katasyakara, yaskuru, syukran dan tasyakkara yang
berarti mensyukuri-Nya, memuji-Nya.
Syukur berasal dari kata syukuran yang berarti mengingat akan segala nikmat-Nya. Menurut bahasa adalah
suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmat-Nya, baik
diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati maupun dilaksanakan melalui perbuatan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa syukur menurut istilah adalah bersyukur dan
berterima kasih kepada Allah, lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya dimana rasa senang,
lega itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.
Untuk itu seorang mukmin, di tuntut ia menyikapi nikmat-nikmat Allah Swt tersebut dengan bersyukur. Ia sadar
bahwa nikmat tersebut adalah pemberian dari yang Maha Kuasa, dipergunakan dalam rangka ketaatan kapada
Allah Swt dan tidak menyebabkan mereka sombong dan lupa kepada yang memberikan nikmat tersebut. Dan
barang siapa yang mensyukuri nikmat-Nya, maka Allah pun akan membalasnya. Sebagaimana firman Allah Swt:
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7)
Ibnu `Abbas menceritakan, Rasulullah bersabda,
"Orang pertama yang akan dipanggil untuk masuk surga adalah orang-orang yang senantiasa memanjatkan puji
syukur kepada Allah,yaitu orang- orang yang senantiasa memuji Allah dalam keadaan lapang dan dalam keadaan
sempit"
(Tanbihul Ghafilin 197)
Surat yang berkaitan dengan kewajiban beribadah dan bersyukur
kepada Allah Swt.
Kosakata :
Hukum Bacaan Tajwid :
Hadis yang berkaitan tentang masalah tersebut :
Hadis tentang kewajiban bersyukur :

‫ف ي‬
 ‫ل‬ ‫س ي‬ ‫ ا دنظ دروا إيلى م ي‬: ‫ل الله صللى الله ع يل ييه وسل لم‬ ‫د‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ع ين أ ي‬
‫نأ ع‬
‫ع‬ ‫ي‬ ‫د ع إ‬ ‫ع‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫إ‬ ‫ع‬ ‫د‬ ‫ي‬ ‫إ‬ ‫و‬‫س‬
‫ي ع‬‫د‬ ‫ر‬ ‫ل‬ ‫قا‬ : ‫ل‬ ‫قا‬ ‫ه‬
‫د‬ ‫ع‬ ‫ن‬‫ي‬ ‫ع‬ ‫ه‬
‫د‬ ‫الل‬ ‫ي‬
‫ي‬ ‫ض‬
‫إ‬ ‫ر‬ ‫ي‬ ‫ة‬‫ر‬‫ع‬
‫ع ي ي ي‬ ‫ي‬ ‫ر‬ ‫د‬ ‫ه‬ ‫ي‬ ‫إ‬ ‫ب‬ ‫ع‬
‫ي‬ ‫ي‬
‫ة اللهإ ع يل يي عك د ع‬
‫م‬ ‫م ي‬‫ن ل ي ت يعزد يدرعوا ن إعع ي‬ ‫ فيهدوي أ ع‬،‫م‬
‫جد يدر أ ع‬ ‫ن فيوعقيك د ع‬‫م ع‬‫ ويل ي ت ين عظ ددرعوا إ إيلى ي‬،‫م‬ ‫من عك د ع‬
‫ إ‬.
Artinya: “Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian
melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi
kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allâh yang telah dianugerahkan kepada kalian.”
(HR. Al-Bukhari, No. 6490)

Hadis tentang kewajiban beribadah :

‫ع‬ ‫ي‬ ‫ أ ي ع‬،‫فرغ ع ل إعإيباد يت إي‬ ‫ه ت ييعايلى ي ي د‬


‫ت‬‫مل د‬‫ل ي‬ ‫ن ل يت ي ع‬
‫فع ي ع‬ ‫قير ي‬
‫ ويإ إ ع‬،‫ك‬ ‫سد ل في ع‬ ‫صد ع ير ي‬
‫ ويأ د‬،‫ك إغننى‬ ‫مل ي‬‫ع ع‬ ‫م! ت ي ي ل‬‫ن آد ي ي‬ ‫قو ع د‬
‫ ييا اب ع ي‬: ‫ل‬ ‫ن الل ل ي‬
‫إإ ل‬
‫قير ع‬ ‫ ول ي ي‬،‫ل‬
‫ك‬ ‫سد ل في ع‬‫م أس د‬ ‫شغع ن ي ع‬ ‫ك د‬‫ي يد ي ي‬         
Artinya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya
kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi
kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan
tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)” (HR. At-Tirmidzi)
Tafsir Q.S. Luqman ayat 13 :
Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya) Lukman menyampaikan kepada anaknya nasehat-nasehat yang mengajak
kepada ketauhidan, adab-adab yang baik, dan melarangnya dari kesyirikan. (“Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”) Bahkan itu adalah kezaliman yang
paling besar, sebab kezaliman adalah menyelewengkan suatu hak dari pemiliknya, dan
hak ibadah adalah milik Allah semata, tidak ada yang berhak selain-Nya, sebab semua
makhluk adalah makhluk-Nya dan segala urusan adalah urusan-Nya, sehingga
menjadikan ibadah untuk selainnya merupakan pemberian hak kepada yang tidak
berhak, maka itu menjadi kezaliman yang paling besar, meski tidak ada orang yang
mampu memberi-Nya mudharat sedikitpun dan Dia Maha Kaya dan Maha Terpuji.
(Zubdatut Tafsir)

Referensi: https://tafsirweb.com/37664-surat-luqman-ayat-13-14.html
Tafsir Q.S. Luqman ayat 14 :
Dan Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar menaati kedua orang
tuanya dan berbakti kepada keduanya dalam urusan yang bukan maksiat
terhadap Allah. Ibunya telah mengandungnya di dalam perutnya dengan
berbagai kesusahan yang terus menerus, kemudian menyapihnya dari
penyusuan setelah dua tahun. Dan Kami katakan kepadanya, “Bersyukurlah
kepada Allah atas kenikmatan yang telah Dia berikan kepadamu, kemudian
berterima kasihlah kepada kedua orang tuamu atas pendidikan dan perhatian
yang telah mereka berikan kepadamu, hanya kepada-Ku sajalah tempat kembali
kalian, kemudian masing-masing Aku beri balasan sesuai dengan haknya.
(Tafsir al-Mukhtashar)

Referensi: https://tafsirweb.com/37664-surat-luqman-ayat-13-14.html
Pengamalan Surah Luqman Ayat 13
- 14
a) Bersyukur kepada Allah Swt.
b) Meyakini bahwa segala yang dimiliki merupakan karunia Allah Swt.
c) Memperbanyak membaca Tahmid
“Barang siapa menyucikan Allah dengan (bertasbih) 33x setelah selesai sholat,
memuji Allah (bertahmid) 33x, dan mengagungkan kebesaran Allah (bertakbir) 33x, yang
mana hal itu menjadi 99 bilangan, lalu menyempurnakannya menjadi 100 dengan bacaan
laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walalhul hamdu wahuwa ‘alaa kulli
syai-in qodiir, maka diampuni kesalahannya meskipun menyerupai buih di lautan.”
(HR. Muslim no. 597).
a) Menjadikan segala karunia Allah Swt. Sebagai sarana beribadah kepada-Nya.
b) Memperbanyak sedekah
c) Beribadah dengan niat memperoleh rida Allah Swt. semata
d) Berbakti kepada orang tua

‫ع ين أ ي‬
‫سو ي‬
‫ل‬ ‫ل ييا ير د‬‫قا ي‬ ‫سل ل ي‬
‫م في ي‬ ‫ه ع يل يي عهإ وي ي‬
‫صللى الل ل د‬‫ل الل لهإ ي‬
‫إ‬ ‫سو‬
‫د‬ ‫ر‬
‫ي‬ ‫ي‬
‫لى‬ ‫إ‬ ‫إ‬ ‫ل‬
‫ل‬ ‫ج‬
‫د‬ ‫ر‬
‫ي‬ ‫ي‬ ‫ء‬‫جا‬‫ي‬ ‫ي‬
‫ل‬ ‫ي‬
‫قا‬ ‫ه‬
‫د‬ ‫ع‬ ‫ن‬‫ي‬ ‫ع‬ ‫ه‬
‫د‬ ‫ل‬ ‫ل‬‫ال‬ ‫ي‬
‫ي‬ ‫ض‬
‫إ‬ ‫ر‬ ‫ي‬ ‫ة‬
‫ي ي ي‬ ‫ر‬‫ع‬ ‫ي‬ ‫ر‬ ‫د‬ ‫ه‬ ‫بي‬‫إ‬ ‫ع‬
‫ي‬
‫حق ق‬ ‫نأ ي‬ ‫م ع‬‫الل لهإ ي‬
‫ن يقا ي‬ ‫ك يقا ي‬ ‫م ي‬ ‫ل ثد د‬ ‫م ي‬ ‫ل ثد د‬ ‫م ي‬ ‫الناس بحسن صحابإتي يقا ي د‬
‫ل‬ ‫م ع‬‫م ي‬ ‫ل ثد ل‬ ‫مأ ق‬‫ن يقا ي ل‬ ‫م ع‬
‫م ي‬ ‫ك يقا ي‬
‫ل ثد ل‬ ‫مأ ق‬ ‫ن يقا ي ل‬ ‫م ع‬‫م ي‬ ‫ل ثد ل‬ ‫ك يقا ي‬ ‫لأ ق‬ ‫ل إ إ د ع إ ي ي ي‬
‫م أ يدبو ي‬
‫ك‬ ‫ثد ل‬

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling
berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian
siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab:
“Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.”
(H.R. Bukhori No. 5971)
Hikmah Beribadah dan Bersyukur Kepada Allah Swt.

1.Ditambahkan Nikmat
Seseorang yang selalu senantiasa mengucap syukur dengan kondisi apapun, maka Allah akan
menambahkan nikmatnya. Sebaliknya orang yang banyak mengeluh dan selalu iri dengan
kehidupan orang lain maka ia hidupnya akan semakin menderita.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)

2.Diampuni dosa-dosanya
Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Allah SWT tidak memberi suatu nikmat
kepada seorang hamba kemudian ia mengucapkan Alhamdulillah, kecuali Allah SWT menilai
ia telah mensyukuri nikmat itu. Apabila dia mengucapkan Alhamdulillah yang kedua, maka
Allah SWT akan memberinya pahala yang baru lagi. Apabila dia mengucapkan Alhamdulillah
untuk yang ketiga kalinya, maka Allah SWT mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Hakim dan
Baihaqi)
3.Bersyukur adalah Hal Utama di sisi Allah Ta’ala
Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Allah SWT tidak memberikan nikmat kepada seorang hamba, kemudian ia memuji Allah SWT
atas nikmat-Nya,kecuali pujiannya itu lebih utama dari nikmat itu, meskipun kenikmatan itu
besar.” (HR. Tabrani)

4.Disayang Allah Ta’ala


“Jika engkau tidak mampu membalasnya maka doakan dia hingga engkau merasa bahwa
engkau telah mensyukuri kebaikan tersebut, karena sesungguhnya Allah SWT sangat cinta
kepada orang-orang yang bersyukur”. (HR. Abu Dawud).

5.Dilipatgandakan Pahalanya
Dari Abu Abdillah a.s, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Orang yang menyantap makanan dengan rasa syukur, maka dia diberi pahala, seperti orang
yang berpuasa menjaga dirinya. Orang yang sehat yang mensyukuri kesehatannya, maka dia
diberi pahala, orang yang menanggung penderitaan (jasmani)-nya dengan sabar. Dan orang
yang memberikan dengan rasa syukur, maka dia mendapat pahala yang sama dengan orang
yang menanggung kerugian dari menjaga diri”. (H.R Abu Hurairah dan al-Qudha’i)
6.Dihindarkan dari Cobaan
“Apabila seorang melihat orang cacat lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi)
:“Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah
kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan
makhlukNya”, maka dia tidak akan terkena ujian seperti itu betapapun
keadaannya.” (HR. Abu Dawud)

7.Meningkatkan Iman
Bersyukur juga bisa menjadi cara meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah
Swt. . Kita ridha dengan pemberian Allah Ta’ala. Dalam urusan dunia, kita
memandang orang-orang yang berada di bawah kita sehingga bisa meningkatkan
rasa syukur.
“Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang
bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada
yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat
kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi
kelebihan.” (HR. Tirmidzi)
Terima Kasih
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang
berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”.