Anda di halaman 1dari 13

SEDIAAN KRIM

Berdasarkan Jurnal
Artikel: STUDI FORMULASI DAN EVALUASI
FISIK SEDIAAN KRIM
ANTISKABIES DARI MINYAK MIMBA
(Azadirachta Indica A.Juss)

Nama anggota kelompok 3 :


1. Oktaviani Setiya Prastiwi
2. Adilya Hakim Hakiki
3. Amallia Anggatha p
4. Tutik Damayanti
5. Daniatul Maulina
6. Hany Nur D
7. Armalia Rizti A
 Menurut Farmakope Indonesia Edisi III
krim adalah bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air
tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.
 Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV
krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
 Menurut Formularian Nasional
krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung air
tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.
 Menurut buku The Pharmaceutical Codex 1994, hal 134
Krim adalah sediaan semi solid kental, umumnya berupa emulsi m/a (krim
berair) atau emulsi a/m (krim berminyak).

DEFINISI
1. Mudah menyebar rata.
2. Praktis.
3. Lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe M/A (minyak dalam air).
4. Cara kerja langsung pada jaringan setempat.
5. Tidak lengket, terutama pada tipe M/A (minyak dalam air).
6. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun, sehingga
pengaruh absorpsi biasanya tidak diketahui pasien.
7. Aman digunakan dewasa maupun anak-anak.
8. Memberikan rasa dingin, terutama pada tipe A/M (air dalam minyak).
9. Bisa digunakan untuk mencegah lecet pada lipatan kulit terutama pada bayi, pada fase
A/M (air dalam minyak) karena kadar lemaknya cukup tinggi.
10. Bisa digunakan untuk kosmetik, misalnya mascara, krim mata, krim kuku, dan deodorant.
11. Bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit, tetapi tidak menyebabkan kulit
berminyak.

KELEBIHAN
1. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe A/M (air dalam
minyak) karena terganggu sistem campuran terutama disebabkan
karena perubahan suhu dan perubahan komposisi
2. Susah dalam pembuatannya, karena pembuatan kirim harus
dalam keadaan panas.
3. Mudah lengket, terutama tipe A/M (air dalam minyak).
4. Mudah pecah, disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak
pas.
5. Pembuatannya harus secara aseptis

KEKURANGAN
• Ada 2 tipe krim yaitu krim tipe minyak dalam air (M/A)
dan krim tipe air dalam minyak (A/M). Pemilihan zat
pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim
yang dikehendaki. Untuk krim tipe A/M digunakan sabun
polivalen, span, adeps lanae, kolsterol dan cera.
• Sedangkan untuk krim tipe M/A digunakan sabun
monovalen, seperti trietanolamin, natrium stearat, kalium
stearat dan ammonium stearat. Selain itu juga dipakai
tween, natrium lauryl sulfat, kuning telur, gelatinum,
caseinum, cmc dan emulygidum.

PENGGOLONGAN
Macam-Macam basis krim seperti emolient cream
yang mengandung minyak mimba 10% b/b
dan emulsifier nonionic arachidyl
glucosidase (APG), Poly Herbal Cream
yang mengandung minyak mimba 0,5%
b/b dengan menggabungkan berbagai
konsentrasi asam stearat dan setil alcohol
serta basis Vanishing Cream dengan
variasi konsentrasi minyak mimba 0% b/b
– 10% b/b.

BASIS
 Masing-masing formula
dievaluasi untuk mendapatkan formula
yang memiliki karakteristik fisikokimia
paling stabil dalam waktu penyimpanan
yang lama.
• Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan
proses emulsifikasi. Biasanya komponen yang tidak
bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan
bersama sama di penangas air pada suhu 70-75°C,
sementara itu semua larutan berair yang tahan panas,
komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu
yang sama dengan komponen lemak.

Permasalahan dalam
pembuatan krim
Dalam pembuatan krim berlaku
juga peraturan-peraturan untuk membuat
salep dimana bahan-bahan yang larut
dalam fase minyak dilarutkan dalam
minyak dan dipanaskan pada suhu 70o
80oC di atas tangas air. Untuk bahan-bahan
yang dapat larut air dilarutkan dalam fase
air kemudian dipanaskan pada suhu 70oc

CARA PEMBUATAN
80oC di atas tangas air. Pencampuran
kedua fase ini dilakukan pada suhu yang
sama. Kemudian diaduk sampai terbentuk
krim. Bila ada bahan-bahan yang tidak
tahan terhadap pemanasan maka bahan
tersebut ditambahkan langsung pada masa
krim yang telah jadi.
1. Pemeriksaan organoleptis17
Meliputi pemeriksaan konsistensi, bau dan warna yang dilakukan secara visual.
Pemeriksaan pH Sediaan18
Sediaan ditimbang sebanyak 5 g dan dilarutkan dalam 45 ml aquadest. Penentuan nilai pH dilakukan pada suhu 270C
menggunakan pH meter.
a. Pemeriksaan Homogenitas17
Hasil sediaan diuji homogenitasnya secara penampilan visual dan dengan sentuhan.
b. Pemeriksaan Viskositas18
Pemeriksaan nilai viskositas menggunakan viskometer brookfield (DVII + Pro Model) menggunakan spindle S-64
pada 20 rpm dengan suhu 250C. Pemeriksaan dilakukan secaraberulang (triplo) dan hasil yang diambil merupakan
rata rata nilai tersebut.
c. Pemeriksaan Tipe Krim18
Pengujian ini dengan melarutkan sediaan krim dengan salah satu pelarut yaitu air atau minyak. Jika krim merupakan
tipe M/A dan dilarutkan dengan air, maka akan stabil dimana air akan terdispersi dalam media, tetapi jika dilarutkan
dengan minyak, krim akan pecah dimana air dan minyak tidak akan tercampur satu sama lain. Minyak dalam air dapat
dengan mudah dilarutkan menggunakan pelarut air, sebaliknya tipe krim air dalam minyak dapat dilarutkan dengan
cairan minyak.

EVALUASI FISIK
Komponen Formulasi
Emolient krim 10% b/b
Poly herba krim 0.5% b/b
Vanishing krim 0% b/b - 10% b/b

FORMULASI