Anda di halaman 1dari 6

Krim Kloramfenikol

I.

Pengertian atau penjelasan sediaan Krim didefinisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik beertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim biasanya digunakan sebagai emolienatau pemakaian obat pada kulit. Istilah krim secara luas digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik, dan banyak produk dalam perdagangan disebut sebagau krim tetapi tidak sesuai dengan definisi di atas. Banyak hasil produksi yang nampaknya seperti krim tetapi tidak mempunyai dasar dengan jenis emulsi, biasanya disebut krim Apa yang disebut vanishing cream umumnya emulsi minyak dalam air, mengandung air dalam persentase yang besar dan asam stearat. Setelah pemakian krim, air akan menguap meninggalkan selaput asam stearat yang tipis Banyak dokter dan pasien lebih suka pada krim daripada salep, untuk satu hal, umumnya mudah menyebar rata dan dakam hal krim dari emulsi jenis minyak dalam air lebih mudah dibersihkan daripada kebanyakan salep. Pabrik farmasi sering memasarkan preparat topikalnya dalam bentuk dasr krim maupun salep, keduaduanya untuk memuaskan kesukaan dokter dan pasien. (Ansel, 2008)

Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakian luar. Tipe kriom ada yaitu: krim tipe air minyak (A/M) dan krim minyak air (M/A). Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktan-surfaktan anionik, kationik, atau nonionik. Untuk krim tipe air minyak (A/M) digunakan: Sabun polivalen, span, adeps lanae, cholesterol, cera Untuk krim tipe minyak air (M/A)dugunakan: Sabun Monovalen: Triethanolaminum Stearat. Natrium Stearat, Kalium Stearat, Ammonium Stearat. Tween Natrium Laurylsulfat Kuning telur, Gelatinum, Caseium

CMC Pectinum Emulgidum

Untuk penstabilan krim ditambahkan zat antioksidan dan zat pengawet. Zat pengawet yang sering digunakan ialah nipagin 0,12-0,18%, nipasol 0,02-0,05%. (Anief,1990)

Menurut FI. IV, krim adalah bentuk sediaan setengah padat , mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relative cair diformulasikan sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam ai. Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal asamasam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakian kosmetikdan estetika. Krim dapat juga digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal. Kestabilan krim akan terganggu/ rusak jika sistem campurannya terganggu, terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi yang disebabkan perubahan salah satu fase secara berlebihan atau zat pengemulsinya tidak bercampur satu sama lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok dan dilakukan dengan teknik aseptic. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam jangka waktu 1 bulan. Sebagai pengawet pada krim umunya digunakan metal paraben (nipagin) dengan kadar 0,12% hingga 0,18% atau propel paraben (nipasol) 0,02% hingga 0,05%. Penyimpanan krim dilakukan dalam wadah tertutup baik atau tube ditempat sejuk, penanda pada etiket harus juga tertera obat luar Pembuatan krim adalah dengan melebur bagian berlemak diatas tangas air, kemudian tambahkan air dan zat pengemulsi dalam keadaan sama-sama panas, aduk smapai terjadi suatu campuran yang berbentuk krim.(DepKes,2005) ilmu resep teori

HAL-HAL PENTING

A. Aturan umum salep 1. Zat yang dapat larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan pemanasan rendah. Umumnya kelarutan obat yang ditambahkan dalam salep lebih besar dalam minyak lemak daripada dalam vaselin. 2. ZA mudah larut dalam air dan stabil-----dilarutkan dalam air, ditambahkan bagian dasar salep yang lain. 3. ZA tidak cukup larut dalam air------diserbuk dan diayak dengan derajat ayakan 100. 4. Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebut harus diaduk sampai dingin. (Van Duin hal 115-122, Ilmu Meracik Obat hal. 55)

C. Teknik pembuatan : 1. Pencampuran dengan peleburan (metode fusion)----zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama (harus diperhatikan stabilitas zat aktif terhadap suhu) 2. Pencampuran dengan triturasi (metode triturasi)----ZA tidak larut dicampur sedikit basis dilanjutkan dengan penambahan sisa basis. Atau ZA dilarutkan dalam pelarut organik terlebih dahulu kemudian dicampur basis yang digunakan. (Ansel, Pengantar Bentuk Sediaan farmasi, hal.506-510)

Krim merupakan istilah yang digunakan dalam dunia farmasi, kedokteran dan kosmetik, sebagai sediaan berbentuk emulsi, dan bersifat semi solid. Krim biasanya digunakan untuk pemakaian pada kulit atau membran mukosa. Krim adalah sediaan yang diformulasi misibel dengan sekret kulit, dimaksudkan untuk digunakan di kulit atau membran mukosa tertentu dengan tujuan protektif, terapeutik, atau profilaktik, terutama yang tidak memerlukan efek oklussif (BP 2002, hal 1905). Pada umumnya sediaan krim lebih disenangi karena mudah dioleskan, mudah dibersihkan, daya penetrasi tinggi dan memberikan rasa sejuk pada kulit. Kloramfenikol merupakan salah satu golongan antibiotika yang dapat digunakan pada pengobatan penyakit infeksi pada kulit. Krim ada dua tipe, yaitu krim tipe minyak dalam air (M/A) dan tipe air dalam minyak (A/M). Tipe krim minyak dalam air ditujukan untuk penggunaan kosmetik dan estetika dibandingkan dengan krim tipe air dalam minyak karena tipe M/A dapat dicuci dengan air, tidak berminyak, dapat diencerkan dengan air serta tidak oklusif. Keuntungan dalam membuat sediaan krim : 1. Mudah dicuci dan dihilangkan dari kulit dan pakaian 2. Tidak berminyak

3. Basis krim mengandung air dalam jumlah banyak sedangkan sel hidup biasanya lembab. Hal ini akan mempercepat pelepasan obat. Selain itu, tegangan permukaan kulit akan diturunkan oleh emulgator dan bahan pembantu lain yang terdapat dalam basis krim sehingga absorbsi lebih cepat. Basis krim yang berair juga dapat memelihara kelembaban sel kulit yang rusak. 4. Krim mudah dipakai, memberikan dispersi obat yang baik pada permukaan kulit dan mudah dicuci dengan air. 5. Absorbsi obat yang optimal adalah pada obat yang larut air dan larut minyak, maka bentuk pembawa yang cocok untuk memperoleh absorbsi yang optimal adalah krim atau basis salep emulsi (RPS, Hal 413). Untuk membuat sediaan krim, dibutuhkan beberapa bahan pembantu zat tambahan. Beberapa zat tambahan pada pembuatan krim antara lain pengawet, pendapar, humektan atau pembasah, antioksidan, pengompleks serta zat pengemulsi atau emulgator. Pemilihan bahan pembantu didasarkan pada kesesuaian dan bentuk fisik jenis campuran serbuk yang dibutuhkan. Bahan pembantu yang digunakan sebaiknya seminimal mungkin. Semakin banyak bahan yang digunakan, semakin banyak pula masalah yang timbul, seperti masalah inkompatibilitas. Karena itu, sedapat mungkin eksipien yang digunakan benar-benar dibutuhkan dalam formulasi. Akan lebih baik jika menggunakan eksipien yang dapat berfungsi lebih dari satu macam. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang sediaan krim adalah : 1. Pemilihan zat aktif untuk sediaan krim harus dalam bentuk aktifnya. 2. Pemilihan basis krim harus disesuaikan dengan sifat atau kestabilan zat aktif yang digunakan. a. Bila zat aktif larut lemak, maka sebaiknya tipe emulsi A/M dan demikian pula sebaiknya. b. pH stabilitas zat aktif harus diperhatikan. c. OTT zat aktif dengan bahan tambahan maupun basis dalam sediaan harus diperhatikan. d. Sifat termolabil zat aktif mempengaruhi proses pencampuran zat aktif ke dalam basis. Konsistensi sediaan krim yang diinginkan adalah konsistensi yang cukup kental, untuk menjamin stabilitas dispersi, tetapi cukup lunak sehingga mudah dioleskan.

3. Pada pembuatan krim perlu ditambahkan pengawet, karena : a. Krim mengandung banyak air yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. b. Dapat terjadi kontaminasi mikroorganisme yang berasal dari bahan baku, alat maupun selama penggunaan sediaan. 4. Karena krim mengandung minyak, maka perlu ditambahkan anti oksidan untuk mencegah terjadinya ketengikan. 5. Penggunaan emulgator harus disesuaikan dengan jenis krim yang dikehendaki dan tersatukan dengan zat aktif. 6. Penambahan fasa air dalam krim tidak boleh dilakukan secara biasa, tapi dilakukan secara hati-hati dan secara partikular untuk mencegah kontaminasi mikroba. Penambahan dilakukan secara tepat dan terhindar dari efek panas selama pencampuran. Penambahan air secara berlebihan dapat mempengaruhi stabilitas dari beberapa krim. If diluted, krim seharusnya digunakan dalam 2 minggu setelah pembuatan. 7. Pembuatan krim sebaiknya dilakukan secara aseptik, semua alat yang dibutuhkan harus direbus dalam air dan kemudian didinginkan dan dikeringkan (Fornas, Hal 313). 8. Bila sediaan terutama ditujukan untuk penggunaan pada luka terbuka yang besar atau kulit yang parah, maka krim harus steril (BP 93, Hal 756). 9. Jika krim diwadahkan dalam tube aluminium, maka tidak boleh digunakan pengawet senyawa raksa organik karena akan terbentuk kompleks pengawet aluminium dan untuk mengatasinya tube harus dilapisi dengan bahan yang inert (Fornas, Hal 313). Untuk itu, saat memasukkan krim ke dalam tube, krim dimasukkan beserta kertas perkamennya, untuk melindungi dari dinding tube, dan juga bisa ditambahkan zat pengkhelat. 10. Untuk tube yang mudah berkarat, maka bagian tube sebelah dalam harus dilapisi dengan larutan dammar dalam pelarut mudah menguap (Fornas, Hal 313). 11. Pengetiketan : a. Pada etiket harus tertera Obat Luar, dan untuk antibiotika harus tercantum daluarsanya (FI III) b. Pada etiket tercantum : (BP 88, Hal 650) Bila perlu, bahwa krim tersebut steril.

Tanggal kadaluarsa, dimana krim tidak boleh digunakan lagi. Kondisi penyimpanan.

c. Pada label dicantumkan nama dan konsentrasi antimikroba sebagai pengawet yang ditambahkan. 12. Penyimpanan : Krim sebaiknya disimpan pada suhu tidak leih dari 25oC, kecuali dinyatakan lain oleh produsen. Krim tidak boleh didinginkan (BP 2002, Hal 1905). 13. Wadah : Wadah tertutup rapat, sehingga mencegah penguapan dan kontaminasi dari isinya. Bahan dan konstruksinya harus tahan terhadap sorpsi atau difusi isinya.

II.

Formula a. Formula Utama (Pustaka) Kloramfenikol Asam stearat Gliserin Na-biborat Triaethanolamin Aquadest 2 gram 14,2 gram 10 gram 0,250 gram 1 gram ad 100 mL

b. Formula Alternatif

III. IV. V.

Bahan dan Alat Cara Kerja Evaluasi Sediaan

VI. VII. VIII.

Kemasan dan Etiket Lembar Pengamatan Daftar Pustaka