KECELAKAAN LALU LINTAS (KLL)
.
TRANSISI EPIDEMIOLOGI
• Kematian akibat penyakit tidak menular semakin meningkat
• Tren ini kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup
(pola makan dengan gizi tidak seimbang, kurang aktifitas fisik, merokok, dll)
Penyebab Utama dari Beban Penyakit, 1990-2015
1990 2000 2010 2015
Cedera Penyakit Cedera
Cedera Cedera
13%
7% Menulr 8% 9%
43%Penyakit
Tidak Penyakit Penyakit
Menular Menular Menular
49% 33% 30%
Penyakit Penyakit Penyakit
Tidak Tidak Tidak
Penyakit Menular Menular
Menular Menular
37% 58% 57%
56%
Sumber : Double Burden of Diseases & WHO NCD Country Profiles (2014)
Keterangan: Pengukuran beban penyakit dengan Disability-adjusted Life Years (DALYs) 🡪 hilangnya hidup
dalam tahun akibat kesakitan dan kematian prematur
2
PERUBAHAN BEBAN PENYAKIT 1990 – 2010 DAN 2015 DI INDONESIA
Sumber: Global Burden of Disease, 2010 dan Health Sector Review (2014)
3
Kecelakaan Lalu Lintas (KLL)
Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
DEFINISI KECELAKAAN
LALU LINTAS
Kejadian pada lalu lintas jalan yang Suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan
sedikitnya melibatkan satu tidak disengaja yang melibatkan kendaraan
kendaraan yang menyebabkan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang
cedera atau kerusakan atau kerugian mengakibatkan korban manusia dan/atau
pada pemiliknya (korban) (WHO, kerugian harta benda. (UU No. 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan)
1984)
PERKEMBANGAN KLL
Data Korlantas Polri
PERKEMBANGAN KLL
PERKEMBANGAN KLL
PERKEMBANGAN KLL
FAKTOR RISIKO
• .
Pengendara /
Pengemudi
Kendaraan Lingkungan
Bermotor (Jalanan)
Faktor Risiko KLL
Faktor Lingkungan Faktor Manusia
Karakteristik dari
• pengendara
Cuaca yang berpengaruh terhadap Faktor psikologis
terjadinya kecelakaan lalu lintas • Mental
• Kondisi jalan Umur • Sikap
Jenis Kelamin
Jalan berlubang, Jalan rusak , Jalan • Emosi
Perilaku
licin/basah, Jalan gelap, Tingkungan • Kedewasaan
tajam Kepemilikan SIM • Pengalaman
• Lingkungan Jalan : Faktor – faktor
Faktor(median,
desain jalan Kendaraangradien, • Lengah
alinyemen,
kondisi jenislampu,
mesin, rem, permukaan, dsb),
ban, muatan, • Mengantuk
dll.(marka, rambu,
kontrol lalu lintas • Mabuk
lampu lalu lintas), dll. • Tidak tertib
• Tidak terampil
• Kecepatan tinggi
Presentase Besarnya Faktor Resiko KLL
Klasifikasi KLL korban kecelakaan
Kecelakaan fatal
Kecelakaan luka berat
Kecelakaan luka
ringan
Berdasarkan posisi kecelakaan
Tabrakan secara menyudut (Angle)
Menabrak bagian belakang (Rear
End)
Menabrak bagian
samping/menyerempet (Side Swipe)
Menabrak bagian depan (Head On)
Menabrak secara mundur (Backing)
Berdasarkan cara terjadinya kecelakaan
Hilang kendali/selip (Running off road)
Tabrakan di jalan (Collision On Road)
• Dengan pejalan kaki
• Dengan kendaraan lain yang sedang berjalan
• Dengan kendaraan yang sedang berhenti
• Dengan kereta, binatang, dll.
Diagnosis Pemeriksaan
(Standar Diagnosis)
Pemeriksaan administrasi oleh
Polisi pada kegiatan ini tidak
memberikan sangsi hukum bagi
pengemudi tetapi hanya
pendekatan edukatif.
Metode pemeriksaan: Selama dilakukan
pemeriksaan oleh petugas kesehatan,
petugas dari kepolisian memeriksa
kelengkapan administrasi kendaraan seperti
SIM, STNK, dll. Setelah selesai pemeriksaan
diserahkan kembali pada pengemudi.
Diagnosis Pemeriksaan
(Standar Diagnosis)
Wawancara : Nomor identitas
(KTP/SIM), Nama responden,
Tanggal Lahir/Umur, Jenis
kelamin
Pemeriksaan Faktor Risiko KLL
• Pemeriksaan tekanan darah
• Pemeriksaan alkohol pernapasan
• Pemeriksaan amphetamin urin
• Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu
(GDS)
Penangganan
Pengobatan / pemulihan
trauma pasca kecelakaan. Pengobatan oleh tim Medis.
Pencegahan KLL
Primodial Prevention ( pencegahan Primary Prevention ( pencegahan
tingkat awal ) tingkat pertama )
• Pemantapan Status Kesehatan (Underlying • Promosi kesehatan, misalnya:
Condition) misalnya: pelarangan orang sakit pendidikan dan penyebaran informasi
dalam mengendara. mengenai lalu lintas.
• Pencegahan Khusus, misalnya: perlindungan
pengendara terhadap bahaya (memakai
helmet, sarung tangan, dsb).
Pencegahan KLL
Secondary Prevention ( pencegahan tingkat kedua )
• Diagnosis awal dan pengobatan tepat, misalnya: penjajakan kasus
( case finding ), dan pemberian obat yang rational dan efektif pada
pengendara yang mengalami kecelakaan.
• Pembatasan Kecacatan (Disability Limitation) misalnya:
pemasangan pin pada tungkai yang patah pada anggota tubuh
pengendara yang mengalami kecelakaan.
Tertiary Prevention (Pencegahan tingkat Ketiga)
• Rehabilitasi, misalnya: rehabilitasi cacat tubuh dengan pemberian
alat bantu/protese pada pengendara yang kecelakaan (cacat).
PENGALAMAN PROGAM
PENANGGULANGAN
• GETAS (Gerakan Tertib Lalu-lintas)
Merupakan program gerakan peduli tertib lalu lintas di
Kota Surabaya yang bertujuan untuk menanamkan nilai
pentingnya keselamatan berlalu lintas siswa SMP Kota Surabaya
sebagai solusi mencegah kecelakaan lalu lintas sejak dini.
Smart Safety Komunitas
Pre Test Sosialisasi FDG Post Test
Award GETAS
Referensi
• http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34939/4/Cha
pter%20II.pdf
• https://polmas.wordpress.com/2014/10/21/
• http://referensikedokteran.blogspot.co.id/2010/07/epidemiolo
gi-kecelakaan-lalu-lintas.html
• http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs358/en/