PENALARAN
KLINIS PADA
GANGGUAN
MAKAN DAN
MENELAN
MATA KULIAH PENALARAN KLINIS
DOSEN PENGAMPU: ANISYAH DEWI SYAH FITRI., [Link]
ANGGOTA
KELOMPOK
1. Alfi Khoiriyah ZahraP27229022094
2. Amelia Wijayanti P27229022096
3. Atikah Zulfa Aisyarah P27229022099
4. Intan Permata Okta A. P27229022110
5. Luluk Nasihah P27229022113
6. Rifda Na'il Nasywa P27229022125
Penalaran klinis pada gangguan
makan dan menelan adalah
proses berpikir sistematis yang
digunakan oleh tenaga medis, Penalaran klinis
terutama dokter dan terapis pada gangguan
wicara, untuk mengevaluasi, makan dan
mendiagnosis, dan menelan
merencanakan intervensi bagi
pasien dengan gangguan
menelan (disfagia).
PENGERTIA
N
Disfagia adalah kesulitan memindahkan
makanan dari mulut ke perut
(Logemann,1998).
Secara terminologi, kata disfagia berasal
dari bahasa Yunani, yaitu dys- yang
berarti "kesulitan" atau "gangguan," dan
phagia yang berarti "menelan."
ANATOMI
FISIOLOGI MENELAN NORMAL
MENELAN
Untuk dapat melakukan evaluasi dan intervensi
pada gangguan menelan maka harus memahami
terlebih dahulu tentang anatomi fisiologi menelan
normal. Diagnosis disfagia dibuat untuk
mengidentifikasi elemen abnormal pada setiap
anatomi dan fisiologi pasien. Treatment dibuat
untuk memberikan kompensasi atau
meningkatkan fungsi dari elemen abnormal
PROSES MENELAN
[Link] Preparatori Oral
Meliputi :
✓Kemampuan bibir untuk menahan makanan di dalam
mulut
✓Penempatan makanan di antara lidah dan langit-langit
keras
✓Penempatan makanan solid di antara gigi atas dan bawah
✓Pergerakkan mandibular dan lidah (proses mengunyah)
✓Kontraksi otot-otot pipi untuk menjaga agar makanan
tidak
jatuh ke daerah antara gigi dan bibir
✓Gerakan lidah untuk mengumpulkan bolus setelah
mengunyah atau memisahkan bolus besar menjadi ukuran
3. FASE FARINGEAL
2. FASE ORAL
FASE DIMANA INISIASI
MELIPUTI :
REFLEKS MENELAN FARINGEAL
✓KEMAMPUAN LIDAH UNTUK
TERJADI DAN BOLUS
MENDORONG MAKANAN
BERGERAK MELALUI FARING.
DARI BAGIAN BELAKANG MULUT
• MELIPUTI :
HINGGA KE ARAH
• ELEVASI DAN RETRAKSI
FARING
VELUM UNTUK MENCEGAH
✓TEKANAN LIDAH YANG
MATERIAL
DIPERINTAHKAN UNTUK
MEMASUKI RONGGA HIDUNG
MENDORONG MAKANAN
• ELEVASI DAN GERAKAN KE
✓BERLANGSUNG KURANG DARI
DEPAN TULANG HYOID DAN
1 – 1.5 DETIK
LARING
• PENUTUPAN JALAN UDARA
OLEH PITA SUARA
4. FASE ESOFAGEAL
DIMANA GERAKAN PERISTALTIK ESOFAGUS MEMBAWA
BOLUS KE LAMBUNG.
• MELIPUTI :
✓MASUKNYA BOLUS MELALUI OTOT CRICOPHARYNGEUS
✓MEMBUTUHKAN WAKTU ANTARA 8 – 20 DETIK UNTUK
BOLUS DAPAT SAMPAI DI LAMBUNG
• Kelainan
PENYEBA Kongenital
B • Kerusakan
Struktur
DISFAGIA • Kondisi Medis
Tertentu
[Link] • Kongenital : bawaan (sejak
Kongenital lahir)
• Kondisi tersebut dapat
mempengaruhi
perkembangan selanjutnya
• Contoh : Cerebral Palsy,
Cleft Lip and Palate
2. Kerusakan • Kerusakan Pada Otak Atau Saraf
struktur Meliputi :
• Stroke
• Brain Injury
• Spinal Cord Injury
• Parkinson's Disease
• Multiple Sclerosis
• Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)
• Muscular Dystrophy
3. Kondisi • Kanker pada rongga oral, faring,
medis nasofaring, dan esofagus
tertentu • Radiasi kemoterapi untuk pada pasien
yang menjalani pengobatan kanker pada
kepala dan leher
• Trauma atau pembedahan/operasi yang
melibatkan kepala dan leher
• Gigi yang rusak atau hilang
• Kondisi kritis yang melibatkan intubasi
oral dan atau trakeostomi
• Pengobatan medis tertentu
• Pada pasien dengan gangguan metabolis tertentu
• Pada pasien dengan penyakit infeksius (misal
epsis, Acquired Immune Deficiency Syndrome
[AIDS]);
• Pada pasien dengan berbagai macam variasi
penyakit paru-paru (misal, Cardiac Obstructive
Pulmonary Disease [COPD]);
• Pada pasien dengan Gastroesophageal Reflux
Disease (GERD);
• Pada pasien pasca menjalani cardiothoracic
surgery;
• Bisa terjadi pada pasien pada usia yang lebih tua
ASSESSMENT
DISFAGIA
Assessment dan Evaluasi untuk disfagi dapat
dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:
– Skrining gangguan menelan
– Pengkajian Klinis Menelan (BED)
– Oropharyngeal Videofluoroscopy
Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES)
– Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallowing with
Sensory Testing (FEESST)
PENGKAJIAN KLINIS
MENELAN (BED)
Pemeriksaan berikut ini dapat dilakukan
untuk
memberikan informasi tambahan pada
saat
dilakukan pengkajian klinis menelan:
– Repetitive Saliva Swallowing Test
– Water Swalow Test
– 3oz water test
– Blue dye test
– Cervical Ausculation
OROPHARYNGEAL
VIDEOFLUOROSCOPY
Dilakukan untuk menilai kemampuan menelan pada
fase preparasi oral, oral, pharyngeal, dan esophageal
• Tujuan:
– Untuk menentukan abnormalitas anatomi dan fisiologi
yang menyebabkan adanya gejala-gejala tertentu pada
pasien
– Untuk menentukan strategi terapi yang paling efisien
untuk kondisi pasien
FIBEROPTIC ENDOSCOPIC
EVALUATION OF
Swallowing
Pemeriksaan penunjang
(FEES)
Oropharyngeal
Videofluoroscopy
• Merupakan prosedur endoscopy
untuk
melihat fungsi menelan
• Dapat digunakan sebagai bagian
dari terapi
Bersifat Pasif, Dilakukan untuk
meningkatkan respon/refleks.
INTERVENSI
Macam-macam teknik stimulasi:
• Sensory Enhancement Techniques [Link]
• Thermal Tactile Oral Stimulation
• Deep Pharyngeal Neuromuscular
Stimulation
• Neuromuscular Electrical
Stimulation (contoh: Vital Stim)
NTERVENSI Bersifat aktif. Latihan-latihan meliputi:
2. EXERCISE – Peningkatan Kemampuan Kontrol Oral
motor)
– Vocal fold exercises
– Laryngeal muscle exercises
– Respiratory exercises (breathing exercises)
– Shaker exercise
– Effortful swallow
Dilakukan dengan memanipulasi perilaku-perilaku INTERVENSI
tertentu ketika menelan, dengan harapan menghasilkan
perubahan yang permanen pada fisiologi dari 3.
mekanisme menelan pasien.
MANUVER
Macam-macam teknik manuver:
• Masako maneuver
• Mendelsohn maneuver
• Supraglotik swallow
• Super-supraglottic swallow
• Valsalva maneuver
Dilakukan dengan memanipulasi posisi/postur tertentu
NTERVENSI ketika menelan. Teknik ini dapat membantu mengubah
alur bolus dan dimensi daerah pharyngeal secara
4. POSTURAL sistematis. Teknik-teknik postural meliputi:
• Chin-Down/Chin-Tuck Posture (Menyentuhkan dagu
ke leher)
• Chin-Up/Head-Back Posture (menengadahkan kepala
kebelakang)
• Head Rotation/Head-Turn Posture (Memutar kepala ke
arah sisi yang lemah)
• Head Tilt Posture (memiringkan kepala ke sisi yang
terganggu)
Pemberian jenis nutrisi didasarkan pada INTERVENSI
keamanan dan efisiensi menelan pasien.
Modifikasi diet dibagi menjadi dua 5.
kategori: MODIFIKASI
DIET
– Diet cair/liquid: Thin liquids, Nectar-
thick liquids, Honey-thick liquids, dan
pudding.
– Diet padat/solid: Puree (NDD #1),
Mechanical soft (NDD #2), Chopped
(NDD #3), dan Regular (NDD #4).
INTERVENSI Rekomendasi yang dilakukan untuk memodifikasi cara
makan pasien, meliputi:
6. FEEDING – Level supervisi yang dibutuhkan (Independen,
Intermittent, dan One-on-one supervision).
SUPERVISION
– Jumlah volume per suapan.
– Frekuensi menelan per suapan.
– Interval per suapan.
– Alat makan untuk makanan padat dan cair.
– Penempatan bolus makanan di dalam mulut.
– Bantuan fisik.
– Postur saat makan dan sesudah makan.
– Edukasi dan melatih caregiver dalam tata cara
pemberian makan pasien.
CONTOH
KASUS
pada kasus disfagia, dapat
terjadi karena adanya gangguan DISFAGIA PEDIATRIC
neurologis, psikis, ataupun bayi AN lahir prematur dan
abnormalitas struktur anatomi. memiliki riwayat penyakit
jantung bawaan, mengalami
kesulitan menghisap ASI dan
seringkali terjadi regurgitasi
(muntah setelah minum).
DISFAGIA
REMAJA
Seorang pasien AN D
mengalami disfagia
pada fase oral dan
faringeal karena adanya
permasalahan
neurologis berupa
suspek ALS.
DISFAGIA
GERIATRIC
seorang nenek usia 80
tahun dengan riwayat stroke
mengeluhkan durasi saat
makan sangat lama,
didapati bahwa adanya
kelemahan pada oral motor
saat menguyah sehingga
pergerakkannya lambat
THANK
YOU