0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan4 halaman

Wa0000

Dokumen ini membahas pemeriksaan penunjang untuk gangguan menelan, termasuk endoskopi dan videofluoroskopi, serta komplikasi seperti aspirasi, pneumonia, malnutrisi, dan dehidrasi. Penatalaksanaan meliputi pengobatan medis dan keperawatan, dengan fokus pada modifikasi diet dan suplai nutrisi. Pengkajian keperawatan yang diperlukan mencakup riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik untuk menilai fungsi menelan.

Diunggah oleh

Janson
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan4 halaman

Wa0000

Dokumen ini membahas pemeriksaan penunjang untuk gangguan menelan, termasuk endoskopi dan videofluoroskopi, serta komplikasi seperti aspirasi, pneumonia, malnutrisi, dan dehidrasi. Penatalaksanaan meliputi pengobatan medis dan keperawatan, dengan fokus pada modifikasi diet dan suplai nutrisi. Pengkajian keperawatan yang diperlukan mencakup riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik untuk menilai fungsi menelan.

Diunggah oleh

Janson
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Untuk pemastian diagnosa medis pada gangguan menelan ada 2 (dua) tindakan yang
direkomendasikan oleh World Stroke Organization (WSO):13

A. Endoskopi
Untuk pemeriksaan fungsi menelan menggunakan Fiberoptic Endoscopy evaluation of
Swallowing (FEES), merupakan prosedur standar yang dipertimbangkan dengan cara
memasukkan alat endoskopi (alat teropong) melalui hidung sampai dengan faring atau
laring. Efek yang terjadi adalah kerusakan mukusa, perdarahan, ketidaknyamanan, dan
dapat juga terjadi aspirasi (ludah atau mukosa masuk saluran nafas).
B. Videofluroskopi
Pencitraan dengan layar video menggunakan alat x-ray, tindakan untuk menganalisa
gangguan menelan dengan metoda modifikasi teksture barium (cair,pasta, atau padat
berupa cockies) : Videofluoroscopy modified barium swallow test (VMBS).

KOMPLIKASI

Ada tiga komplikasi mayor pada gangguan menelan,13 yaitu :

 Aspirasi dan Pnemonia


 Malnutrisi
 Dehidrasi
A. Aspirasi
Aspirasi terjadi ketika makanan atau cairan atau saliva masuk kedalam saluran
pernafasan setelah level pita [Link] klinisnya berupa batuk, perasaan seperti
tercekik (choking), dan kesulitan bernafas.
Pada penderita stroke kadang keadaan aspirasi tidak tampak menunjukkan tanda dan
gejala (Silent Aspirasi),
B. Pnemonia Aspirasi
Keadaan infeksi paru-paru oleh karena aspirasi. Kejadian kebanyakan pada usia diatas
65 tahun, stroke dengan gangguan bicara, kelumpuhan yang parah, gangguan kognitif,
dan gangguan menelan.17 Manifestasi klinisnya berupa : Panas, produksi secret yang
berlebihan atau suara ronchi, sesak nafas sampai dengan gangguan irama nafas, Kualitas
Analisa Gas Darah yang jelek, penurunan kesadaran. Diagnosa dapat ditegakkan dengan
x-ray pada thorax dan sputum kultur untuk penentuan antibiotic yang tepat.
C. Malnutrisi
Keadaan terganggunya kualitas status gizi pasien karena kurangnya asupan nutrisi.
Tingkat insidensi pada pasien stroke yang dirawat di Rumah Sakit kisaran 8,2 – 49%.1
Manifestasi Klinis : kehilangan berat badan dan indeks masa tubuh, nilai abnormal hasil
laborat yang menggambarkan biokimia tubuh (: albumin, elektrolit, dll), lithargi, dan
kesulitan konsentrasi.
D. Dehidrasi
Keadaan kurangnya volume cairan tubuh secara keseluruhan.
Penatalaksanaan.
1. Penatalaksanaan Medis.
Terdapat pengobatan yang berbeda untuk berbagai jenis dysphagia. Pertama dokter dan
speech-language pathologists yang menguji dan menangani gangguan menelan menggunakan
berbagai pengujian yang memungkinkan untuk melihat bergagai fungsi menelan. Salah satu
pengujian disebut dengan laryngoscopy serat optik, yang memungkinkan dokter untuk
melihat kedalam tenggorokan. Pemeriksaan lain termasuk video fluoroscopy, yang
mengambil video rekaman pasien dalam menelan dan ultrasound, yang menghasikan
gambaran organ dalam tubuh dapat secara bebas nyeri memperlihakan tahapan-tahapan
dalam menelan.
Setelah penyebab disfagia ditemukan, pembedahan atau obat-obatan dapat diberikan.
Jika dengan mengobati penyebab dysphagia tidak membantu, dokter mungkin akan mengirim
pasien kepada ahli patologi hologist yang terlatih dalam mengatasi dan mengobati masalah
gangguan menelan.
Pengobatan dapat melibatkan latihan otot untuk memperkuat otot-otot facial atau untuk
meningkatkan koordinasi. Untuk lainnya, pengobatan dapat melibatkan pelatihan menelan
dengan cara khusus. Sebagai contoh, beberapa orang harus makan dengan posisi kepala
menengok ke salah satu sisi atau melihat lurus ke depan. Menyiapkan makanan sedemikian
rupa atau menghindari makanan tertentu dapat menolong orang lain. Sebagai contoh, mereka
yang tidak dapat menelan minuman mungkin memerlukan pengental khusus untuk
minumannya. Orang lain mungkin harus menghindari makanan atau minuman yang panas
ataupun dingin untuk beberapa orang.
Namun demikian, mengkonsumsi makanan dan minuman lewat mulut sudah tidak
mungkin lagi. Mereka harus menggunakan metode lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
Biasanya ini memerlukan suatu system pemberian makanan, seperti suatu selang makanan
(NGT), yang memotong bagian menelan yang tidak mampu bekerja normal.
Berbagai pengobatan telah diajukan untuk pengobatan disfagia orofaringeal pada
dewasa. Pendekatan langsung dan tidak langsung disfagia telah digambarkan. Pendekatan
langsung biasanya melibatkan makanan, pendekatan tidak langsung biasanya tanpa bolus
makanan.
Pembedahan meliputi :
a. Pembedahan gastrostomy.
Pemasangan secara operasi suatu selang gastrostomy memerlukan laparotomy dengan
anestesi umum ataupun lokal.
b. Cricofaringeal myotomy.
Cricofaringeal myotomy (CPM) adalah prosedur yang dilakukan untuk mengurangi
tekanan pada sphicter faringoesophageal (PES) dengan mengincisi komponen otot utama dari
PES. Injeksi botulinum toxin kedalam PES telah diperkenalkan sebagai ganti dari CPM.
2. Penatalaksanaan Keperawatan.
a. Modifikasi diet.
Merupakan komponen kunci dalam program pengobatan umum disfagia. Suatu diet
makanan yang berupa bubur direkomendasikan pada pasien dengan kesulitan pada fase oral,
atau bagi mereka yang memiliki retensi faringeal untuk mengunyah makanan padat. Jika
fungsi menelan sudah membaik, diet dapat diubah menjadi makanan lunak atau semi-padat
sampai konsistensi normal.
b. Suplai Nutrisi.
Efek disfagia pada status gizi pasien adalah buruk. Disfagia dapat menyebabkan
malnutrisi.
Banyak produk komersial yang tersedia untuk memberikan bantuan nutrisi. Bahan-
bahan pengental, minuman yang diperkuat, bubur instan yang diperkuat, suplemen cair oral.
Jika asupan nutrisi oral tidak adekuat, pikirkan pemberian parenteral.
c. Hidrasi.
Disfagia dapat menyebabkan dehidrasi. Pemeriksaan berkala keadaan hidrasi pasien
sangat penting dan cairan intravena diberikan jika terdapat dehidrasi (Subroto.2005).
I. Pengkajian.
Pengkajian keperawatan yang perlu dilakukan pada pasien yang mengalami gangguan
menelan atau disphagya meliputi :
1. Riwayat penyakit, meliputi :
a. Riwayat stroke.
b. Riwayat pemakaian alat medik : trakeostomi, NGT, mayo tube, ETT, post pemeriksaan
endoscopy.
c. Riwayat pembedahan darah laryx, pharynx, esophagus, tiroid.
d. Post operasi daerah mulut.
2. Pemeriksaan fisik.
Pada pemeriksaan fisik selain yang secara umum dilakukan, yaitu tingkat kesadaran
kualitatif atau kuantitatif (GCS), vital sign, dan appometri: secara khusus untuk gangguan
menelan adalah pada daerah rongga mulut dan leher :
a. Pemeriksaan inspeksi pada daerah mulut :
1) Amati kesimetrisan bibir, dalam posisi tertutup, menyeringai (mringis), dan posisi mulut
terbuka kemudian amati keadaan gigi.
2) Amati posisi ovula (anak langitan) apakah simetris.
3) Amati gerakan lidah sesuai intruksi : dijulurkan, digerakakan ke kiri dan kanan, atas dan
bawah dan suruh klien untuk bicara kata yang mengandung huruf “r”.
4) Amati adakah lesi pada rongga mulut, sisa-sisa makanan yang tidak menempel pada gigi
yang tertinggal, atau dahak.
5) Lakukan esesmen menelan sederhana dengan memberikan air dengan sendok teh, apakah
batuk? Kalo tidak minta klien untuk untuk bicara “aaaah”, amati adakah batuk, apakah suara
menjadi parau atau beriak (gurgling). Ulangi 3-4 kali. Jika tidak ditemukan gangguan
menelan, minta klien untuk minum dengan gelas 50-150 cc, amati adakah batuk (kesedak),
suara menjadi parau atau beriak.
b. Inspeksi dan palpasi pada daerah leher: kesimetrisan, pergerakan glotis saat menelan ludah
(Marilynn.2002)
DAFUS
[Link] Stroke Academy. WSA_Dyspagia_learning_module. 2012. Accessed: Friday, Agustus
17, 2017, [Link] PM.
2. Bambang,Subroto sr (2005). Good Corporate Governance. Jakarta:Elekmedia.
3. Doenges, Marilynn E. [Link] Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien / Marilynn E. Doenges, Mary Frances Moorhouse,
Alice C. Geossler; alih bahasa, I Made Kariasa, Yasmin Asih – Ed. 3 –Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai