2.
1 Definisi dan Prevalensi Disfagia
Disfagia atau gangguan menelan merupakan kelainan yang umum terjadi,
disfagia bukan suatu penyakit tetapi gejala atau kumpulan gejala yang berhubungan
dengan kesulitan menelan.1 Disfagia merupakan gejala kegagalan memindahkan bolus
makanan dari rongga mulut sampai ke lambung atau proses penelanan, dimana proses
ini membutuhkan aktivitas neuromuskuler yang kompleks dan koordinasi yang cepat
dari struktur dalam cavum oris, faring, laring dan esofagus. Disfagia terbagi menjadi
terjadi pada semua fase menelan dimana terjadi gangguannya. 1 Disfagia dapat dibagi
menjadi fase oral, faringeal, orofaringeal, faringoesofageal dan esofageal. Prevalensi
disfagia pada dewasa paling banyak diatas 50 tahun yakni sekitar 7 – 22 % populasi.
Disfagia berhubungan dengan penuaan dan semakin meningkatnya umur harapan
hidup maka pasien usia tua dengan disfagia akan makin meningkat.1,2
2.2 Faktor Resiko Disfagia
Faktor resiko kejadian disfagia sangat banyak antara lain peningkatan usia,
refluks asam, stroke, kanker kepala dan leher, trauma kepala, sklerosis lateral
amyotropik, palsy pseudobulbar, penyakit alzheimer dan myastenia gravis. Etiologi
paling banyak adalah stroke yaitu sekitar 81 %, kanker kepala leher 45 %.
Berdasarkan penyebabnya, disfagia dibagi atas disfagia mekanik, motorik dan oleh
karena gangguan emosi.1
2.3 Patofisiologi Disfagia
Disfagia berasal dari bahasa Yunani yaitu dys yang artinya sulit dan phagein
yang artinya memakan. Disfagia memiliki banyak definisi tetapi yang sering
digunakan adalah kesulitan dalam menggerakan makanan dari mulut ke dalam
lambung.3
Penyebab Disfagia antara lain dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 4
Oropharyngeal disfagia
Neurologic Myopathic Structural disease: Poor dentition
disease: disease : Congenital webs Iatrogenic disease:
Cerebrovascular Myositis Plummer-Vinson syndrome Medication side
accident Myasthenia Neoplasma effect
Parkinson disease gravis Cricopharyngeal bar Surgical
Multiple Zenkerdivertikulum resection
sclerosis Extrinsic compression Radiation
Brain neoplasma induced
Alzheimer’s
disease
Esofageal Dysphagia:
Neuromuscular disorders: Structural lesion (intrinsic):
Achalasia Benign peptic stricture
Diffuse esophageal spasm Esophageal rings and webs
Esophageal diverticula
Esophageal carcinoma
Medication induced stricture
Eosinophilic esophagitis
Structural lesion (extrinsic):
Vascular compression
Mediastinal lesion
Cervical osteoarthritis
Disfagia diklasifikasikan dalam dua kelompok besar berdasarkan patofisioginya
yaitu:
Disfagia orofaring (atau transfer dysphagia)
Disfagia orofaring timbul dari kelainan di rongga mulut, faring, dan
esofagus, dapat disebabkan oleh stroke, penyakit Parkinson, kelainan
neurologis, oculopharyngeal muscular dystrophy, menurunnya aliran air liur,
xerostomia, masalah gigi, kelainan mukosa oral, obstruksi mekanik
(keganasan, osteofi, meningkatnya tonus sfingter esophagus bagian atas,
radioterapi, infeksi, dan obat-obatan (sedatif, antikejang, antihistamin). 4
Gejala disfagia orofaring yaitu kesulitan menelan , termasuk
ketidakmampuan untuk mengenali makanan, kesukaran meletakkan makanan
di dalam mulut, ketidakmampuan untuk mengontrol makanan dan air liur di
dalam mulut, kesukaran untuk mulai menelan, batuk dan tersedak saat
menelan, penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, perubahan
kebiasaan makan, pneumonia berulang, perubahan suara (suara basah),
regurgitasi nasal.5
Disfagia esofagus
Disfagia esofagus timbul dari kelainan di korpus esofagus, sfingter esofagus
bagian bawah, atau kardia gaster. Biasanya disebabkan oleh striktur esofagus,
keganasan esofagus, esophageal rings and webs, akhalasia, skleroderma,
kelainan motilitas spastik termasuk spasme esofagus difus dan kelainan
motilitas esofagus nonspesifik. Makanan biasanya tertahan beberapa saat
setelah ditelan, dan akan berada setinggi suprasternal notch atau di belakang
sternum sebagai lokasi obstruksi, regurgitasi oral atau faringeal, perubahan
kebiasaan makan, dan pneumonia berulang. Bila terdapat disfagia makanan
padat dan cair, kemungkinan besar merupakan suatu masalah motilitas. Bila
pada awalnya pasien mengalami disfagia makanan padat, tetapi selanjutnya
disertai disfagia makanan cair, maka kemungkinan besar merupakan suatu
obstruksi mekanik. Setelah dapat dibedakan antara masalah motilitas dan
obstruksi mekanik, penting untuk memperhatikan apakah disfagianya
sementara atau progresif. Disfagia motilitas sementara dapat disebabkan
spasme esofagus difus atau kelainan motilitas esofagus nonspesifik. Disfagia
motilitas progresif dapat disebabkan skleroderma atau akhalasia dengan rasa
panas di daerah ulu hati yang kronis, regurgitasi, masalah respirasi, atau
penurunan berat badan. Disfagia mekanik sementara dapat disebabkan
esophageal ring. Dan disfagia mekanik progresif dapat disebabkan oleh
striktur esofagus atau keganasan esofagus.4,6
2.4 Volvulus dan Disfagia
Volvulus adalah terpuntirnya lengkung usus di sekitar perlekatan mesenterika,
yang mengakibatkan obstruksi usus lengkung tertutup. Usus yang terkena dapat
menjadi iskemik karena suplai darah yang terganggu, dengan cepat menyebabkan
nekrosis dan perforasi usus.7
Kebanyakan volvulus terjadi pada kolon sigmoid dan merupakan penyebab
umum dari obstruksi usus besar di banyak negara (setelah keganasan dan
penyakit divertikular). Mereka juga dapat terjadi di lambung, sekum, usus kecil
dan usus besar Pada case report yang ditulis oleh John dkk disfagia dilaporkan
pada pasien dengan volvulus lambung tetapi biasanya gejalanya terabaikan oleh
manifestasi klinis yang lain, pada kasus ini ditemukan pasien mengalami disfagia
intermitten untuk makanan padat, setelah dilakukan pemeriksaan pasien
mempunyai volvulus lambung kronis.7,8
2.5 Anamnesis dan Pemeriksaan fisik pada disfagia
Pemeriksaan fisik umum sangat penting dilakukan untuk melihat adanya
penyakit kardiopulmoner, gastrointestinal, atau neurologik yang dapat
memengaruhi fungsi menelan. kranialis harus dinilai secara [Link]
terhadap fungsi pernapasan meliputi tanda-tanda obstruksi atau restriksi seperti
takipnea, stridor, penggunaan otot pernapasan tambahan, dan pergerakan dinding
dada yang [Link] dan palpasi terhadap kelainan struktur pada kepala
dan leher perlu dilakukan.9 Sensasi pada wajah diperiksa secara bilateral; juga
kekuatan otot-otot wajah. Otot maseter dan temporalis dipalpasi saat penderita
diminta menggigit atau mengunyah. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada saat
pemeriksaan saraf kranialis Pemeriksaan intraoral dilakukan dengan inspeksi
intraoral untuk melihat lesi, sisa makanan, atau kelainan struktural. Palpasi
dengan sarung tangan pada dasar mulut, gusi, fosa tonsiler, bahkan lidah, untuk
menyingkirkan adanya tumor. Adanya atrofi, kelemahan, dan fasikulasi lidah
dicatat. Kekuatan lidah bisa diukur dengan menempatkan jari pada pipi bagian
luar dan menahan lidah penderita yang diminta untuk menekan pipi dari dalam.
Palatum diinspeksi untuk melihat posisi simetris pada saat istirahat dan saat
fonasi. Setiap sisi palatum distimulasi untuk menimbulkan refleks muntah, sambil
memperhatikan apakah palatum mole dan dinding faring berkontraksi secara
simetris. Adanya refleks primitif (sucking, biting, dan snout) perlu dicatat.
Terdapatnya refleks-refleks ini pada orang dewasa mengindikasikan adanya
kerusakan pada kedua hemisfer atau lobus frontalis yang menyebabkan
kelemahan oral motor control.10
2.6 Menegakkan diagnosis pada penderita Disfagia
Pemeriksaan penunjang yang bisa digunakan untuk mendiagnosis gangguan menelan
ialah: videofluorographic swal-lowing study (VFSS), fiberoptic endoscopic
evaluation of swallowing (FEES), dan ultrasonografi.11
Videofluorographic swallowing study (VFSS)
Videofluorographic swallowing study merupakan baku emas untuk mengevaluasi
proses menelan. Pada pemeriksaan ini penderita diminta untuk duduk dengan
nyaman dan diberikan makanan yang dicampur barium agar tampak radiopak.
Saat penderita sedang makan dan minum dilakukan observasi gambaran
radiologik pada monitor video dan direkam. 11
Fiberoptic endoscopic evaluation of swallowing (FEES)
FEES merupakan suatu laringoskop transnasal yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi fungsi laring, menilai jumlah residu hipofaringeal, dan
mengobservasi ada tidaknya aspirasi. Endoskop dimasukan melalui hidung
melewati nasofaring dan ditempatkan di dalam laringofaring di atas pita suara
palsu. Bolus berbentuk cair dan padat diberi warna hijau sehingga mudah dilihat. 11
Ultrasonografi
Ultrasonografi digunakan untuk menilai fungsi oral saja, yaitu fungsi lidah dan
oral transit time; juga gerakan tulang hioid. Metode ini merupakan suatu
pemeriksaan yang noninvasif dan hanya menggunakan cairan dan makanan
biasa.11
Disfagia merupakan suatu gejala klinis dan bukan diagnosis, oleh karena itu kita
harus mencari penyebabnya sehingga terapi yang diberikan dapat sesuai, berikut
beberapa cara untuk menegakkan diagnosis pada penderita disfagia:
1. Barium Meal
Pemeriksaan barium meal memegang peranan penting dalam mendeteksi
adanya striktur esofagus. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi
mengenai lokasi striktur, panjang dan diameternya serta keadaan dinding
esofagus. Disamping itu pemeriksaan ini juga dapat menunjukan adanya
kelainan-kelainan pada esofagus seperti divertikulum dan hernia esofagus.
Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 100% pada striktur dengan diameter
kurang dari 9 mm dan 90% pada striktur yang lebih dari 10 mm. Pemeriksaan
barium meal menggunakan kontras barium sulfat yang dapat berupa cairan
atau tablet. Tablet barium berukuran 12 mm, bila terjadi retensi tablet barium
di atas lokasi striktur dapat menunjukan bahwa striktur tersebut berukuran
kurang dari 12 mm.12 Untuk mendeteksi adanya striktur esofagus digunakan
biphasic esophagography yang terdiri dari double-contrast dan single-
contrast. Single-contrast bertujuan mengoptimalkan peregangan esofagus
sehingga dapat dengan mudah mendeteksi striktur, sedangkan double-contrast
dapat mengoptimalkan visualisasi mukosa esofagus terhadap adanya kelainan-
kelainan seperti nodul, ulkus dan kelainan lain yang berhubungan dengan
striktur. Pemeriksaan ini dapat juga dilakukan dengan bantuan digital
fluoroskopi terutama striktur yang terdapat pada segmen servikal atau torakal
atas esofagus yang sulit dilihat dengan teknik radiologi biasa karena sangat
cepatnya pasase bolus makanan di daerah tersebut.12
2. Esofagoskopi
Pemeriksaan ini penting untuk mendiagnosis striktur esofagus. Pada
pemeriksaan ini, mukosa lumen dapat diobati secara seksama dan bila ada
kecurigaan keganasan dapat dilakukan biopsi untuk pemeriksaan
[Link] literatur gastroenterologi dikatakan bahwa striktur
esofagus sebaiknya didiagnosis dengan pemeriksaan endoskopi dan biopsi,
karena sulitnya membedakan striktur benigna dan maligna melalui
pemeriksaan radiologi saja sedangkan menurut literatur radiologi mengatakan
bahwa striktur esofagus yang hanya memperlihatkan lesi jinak pada
pemeriksaan esofagografi, hampir tidak pernah menunjukan adanya tumor
ganas, oleh karena itu pemeriksaan endoskopi dan biopsi sebaiknya hanya
dilakukan pada gambaran lesi yang kurang jelas atau dicurigai ganas. Untuk
mendapatkan hasil pemeriksaan esofagoskopi yang baik sebelum dilakukan
pemeriksaan, pasien tidak hanya dipuasakan minimal 6 jam tetapi juga
dilakukan bilasan esofagus dengan air putih atau NaCl fisiologis melalui
selang nasogastrik (NGT). Bila pada pemeriksaan esofagoskopi ditemukan
lumen yang menyempit dengan mukosa yang tidak rata dan hiperemis,
menandakan suatu esofagitis, sedangkan bila mukosanya irregular atau
berbenjol-benjol disebabkan oleh keganasan.12
3. Tomografi Komputer
Baru-baru ini pemeriksaan tomografi komputer juga dipilih untuk
mengevaluasi traktus gastrointestinal bagian atas karena bersifat noninvasif,
cepat, akurat dan aman. Modalitas ini umumnya digunakan untuk menentukan
ukuran dan metastasis dari tumor ganas esofagus. Ryu HH dkk dalam studinya
menggunakan tomografi komputer torakoabdominal pada kasus caustic
stricture, untuk menilai derajat kerusakan esofagus dengan CT grading System
dan menghubungkannya dengan striktur. CT grading system ini dapat dibagi
menjadi 4 kelompok berdasarkan ketebalan dinding esofagus dan invasinya ke
organ-organ yang berdekatan. Derajat kerusakan esofagus yang berhubungan
dengan striktur adalah derajat III dan IV. Klasifikasinya dapat dilihat pada
tabel berikut.12
Tabel 212
Deraja Penemuan TK
t
I Penebalan dinding esofagus yg tidak pasti ( < 3
mm)
II Edema pada dinding esofagus (>3 mm) tanpa infiltrasi
jaringan lunak periesophageal.
III Edema dinding esofagus dengan infiltrasi jaringan
lunak periesophageal dan batas-batas jaringan masih
jelas
IV Edema pada dinding esofagus dgn infiltrasi jaringan
periesofagus, batas-batas jaringan tidak jelas serta
terkumpulnya cairan di sekitar esofagus dan aorta
desenden
4. Rongent Toraks PA dan Lateral
Pemeriksaan ini digunakan sebagai tambahan pada kasus striktur esofagus
yang kita curigai akibat adanya penekanan massa dari luar esofagus.12
2.7 Tatalaksana Disfagia
Tujuan dari tatalaksana disfagia adalah mengurangi aspirasi, meningkatkan
kemampuan pasien untuk mengunyah dan menelan dan mengoptimalkan status
nutrisi pasien.13 Penatalaksanaan disfagia tergantung pada masing-masing
diagnosis penyakit penyebab keluhan disfagia tersebut, karena disfagia hanya
suatu gejala yang dikeluhkan dari salah satu manifestasi klinis dari suatu penyakit
(underlying disease). Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengobati
disfagia:
1. Terapi nutrisi dan makanan.
Perubahan diet, yaitu dengan memberikan makanan yang lebih lembut.
Selama masih memungkinkan, pemberian makanan oral sangat dianjurkan.
Pasien harus selalu dimonitor untuk mendapatkan cairan dan nutrisi yang
cukup untuk mencegah malnutrisi dan dehidrasi. Apabila makanan tidak
dapat diberikan secara oral dapat digunakan bantuan dengan pemasangan
dari NGT.13
2. Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan biasanya bertujuan untuk mengurangi disfagia akibat
spastik contohnya pada cricopharyngeal myotomy, dengan tingkat
keberhasilan sekitar 60%. 13
3. Terapi Rehabilitatif
Tujuannya adalah untuk keamanan dari proses menelan (misalnya
mencegah aspirasi dan efektivitas (misalnya meningkatkan kecepatan
menelan dan mengurangi residu makanan di rongga mulut dan faring).13
Compensatory Treatment Procedures
Teknik terapi ini dirancang untuk melancarkan aliran bolus melewati
rongga mulut dan faring. Terdiri atas:
postur (chin tuck, head back, head rotation).13
peningkatan input sensoris (bolus dengan rasa berbeda, suhu dan
tekstur yang berbeda).
modifikasi volume bolus dan kecepatan makan (Volume kecil dan
kecepatan yang perlahan).13
modifikasi viskositas/tekstur makanan (konsistensi cair atau lunak)
intraoral prosthetics (Palatal lift, obturator dan augmentation).13
Prosedur Terapi Langsung
Prosedur Terapi Langsung dirancang untuk mengubah fisiologi
menelan
dengan cara mengubah komponen spesifik dari fase oral maupun
[Link] lain dengan latihan untuk memperbaiki kekuatan,
gerakan, kemampuan kontrol otot-otot menelan, dan memperbaiki
integrasi sensorimotor.13
Referensi
1. Liwikasari N, Antono D. Gambaran pasien dengan Disfagia di RSUP Dr. Kariadi
Semarang Periode 1 Januari-31 Desember 2014. Medica Hosp. 2017;4(3):146–8.
2. Bayu Fandhi Achmad AAI. disfagia post stroke dan penatalaksanaannya. BIMIKI.
2015;3(2).
3. Paper O, Coutts KA, Africa S, Coutts K. Dysphagia services in the era of COVID-19 :
Are speech-language therapists essential ? Dysphagia and COVID-19 : A brief
overview. 2020;1–6.
4. Rofes L, Arreola V, Almirall J, Cabr M, Garc P, Clav P. Diagnosis and Management
of Oropharyngeal Dysphagia and Its Nutritional and Respiratory Complications in the
Elderly. 2011;2011.
5. Thomas R, Panackal C, John M, Joshi H, Mathai S, Kattickaran J, et al.
Gastrointestinal complications in patients with chronic kidney disease-A 5-year
retrospective study from a tertiary referral center. Ren Fail. 2013;35(1):49–55.
6. Iqbal M, Akil A, Djamin R, Kedokteran F, Hasanuddin U. Laporan penelitian Evaluasi
proses menelan disfagia orofaring dengan Fiberoptic Endoscopic Examination of
Swallowing ( FEES ). 2014;44(2):137–45.
7. Art JCCOZ, Use RAYECLO. Gastric Volvulus as a Cause of Intermittent Dysphagia.
1998;43(5):1057–60.
8. Road LP, Street LH. Improving care for patients with dysphagia. 2003;587–93.
9. Dawson C, Capewell R, Ellis S, Matthews S, Adamson S, Wood M, et al. Dysphagia
presentation and management following coronavirus disease 2019 : an acute care
tertiary centre experience. 2021;4–9.
10. Koidou I, Kollias N, Sdravou K. Dysphagia : A Short Review of the Current State
Dysphagia : A Short Review of the Current State. 2013;(January 2015).
11. Philipsen BB. Otolaryngology and Rhinology Dysphagia - Pathophysiology of
Swallowing Dysfunction , Symptoms , Diagnosis and Treatment. 2019;1–4.
12. Murano A, Fernandes F, Duprat ADC, Eckley CA. Oropharyngeal dysphagia in
patients with multiple sclerosis: do the disease classification scales reflect dysphagia
severity? 2013;79(4):460–5.
13. Pandaleke JJC, Sengkey LS. Rehabilitasi medik pada penderita disfagia.